Selasa, 31 Juli 2012

Sejenak menghela nafas

Suatu ketika ada seorang
anak dan ayahnya yang
mengelola sebuah lahan
pertanian kecil. Beberapa kali
dalam setahun mereka
mengangkut hasil pertaniannya ke kota untuk
dijual. Ayah dan anak itu
berbeda, sang ayah biasa
bekerja tenang sedangkan
sang anak selalu tergesa-gesa. Suatu pagi mereka
menyiapkan pedatinya untuk
membawa hasil pertaniannya
ke kota.Anak itu berpikir jika
ia memacu lembu penarik
pedatiya dengan lebih cepat serta berjalan siang-malam,
tentu ia akan sampai esok hari
pagi-pagi benar.Tenanglah
Nak, biar lambat asal selamat”
Kata si ayah “Tapi kalau kita tiba lebih dulu
dari yang lain, kesempatan
kita untuk menjual dengan
harga yang baik akan lebih
terbuka” Jawab sang anak. Ayahnya diam saja, lalu
menarik topinya dan tidur
diatas pedati yang
dikemudikan sang anak.
Setelah empat jam mereka
melalui sebuah dusun dimana pamannya tinggal. “Berhentilah dulu disini nak,
sudah lama aku tidak bertemu
pamanmu” pinta sang ayah “Tapi yah,…” sang anak coba
menolak, namun sang ayah
terlanjur turun menyapa
pamannya. Satu jam berlalu. Ayahnya
dan pemannya selesai
mengobrol dan tertawa
bersama, sedang si Anak
mukanya masam. Perjalanan
kembali dilanjutkan kali ini giliran sang ayah yang
menuntun lembu sedangkan
sang anak naik diatas pedati.
Hingga kemudian mereka
bertemu sebuah
persimpangan, sang ayah menuntun lembunya ke arah
kanan. “Lewat kiri lebih cepat yah”
sela sang anak “Tapi lewat kanan
pemandangannya lebih indah”
Jawab sang ayah “Tidakkah ayah menghargai
waktu” sang anak bicara kesal “Oh tentu saja, justru karena
aku sangat menghargai
waktu maka tiap detik harus
bisa kunikmati
keindahannya” Jalur itu memang sangat
indah, apalagi tampak jelas
pesona terbenamnya
matahari. Tapi tentu saja sang
anak tak bisa menikmatinya.
Hati dan mulutnya terus mengomel, Ketika malam tiba,
di dekat sebuah sungai yang
mengalir jernih sang ayah
menghentikan lembunya. “Mari kita beristirahat disini
nak” “Ini perjalanan terakhirku
denganmu yah, kau lebih
mementingkan menikmati
keindahan alam daripada
mencari uang Yah” “Itu kata-katamu yang paling
indah dari tadi pagi Nak”
Jawab sang ayah sambil
memejamkan mata Malam berlalu, bintang dan
bulan bersinar indah. Tapi
tetap sang anak tak bisa
memejamkan matanya
dengan tenang. Hari itu dia
sangat kesal pada ayahnya. Pagi-pagi sekali sebelum
matahari terbit sang anak
segera membangunkan
ayahnya, dan kemudian
melanjutkan perjalanan. Di tengah jalan mereka
melihat seorang petani yang
tak mereka kenal sedang
berusaha menarik pedatinya
yang terperosok ke parit. “Mari kita bantu dia” Kata
sang ayah “Dan kembali kehilangan
waktu?” tanya sang anak “santai nak, suatu waktu bisa
jadi kau yang terperosok
dalam parit.” Hampir jam delapan pagi saat
mereka selesai menarik pedati
itu kembali kejalan. Dan langit berwana gelap. “Kelihatannya hujan di kota”
kata sang ayah “Kalau saja tadi kita buru-
buru pasti kita telah menjual
dagangan kita” gerutu sang
anak” Tenang saja nak, kau
pasti akan bertahan lebih lama
dan menikmati hidup lebih banyak lagi” nasihat sang
ayah Hari menjelang saat mereka
mencapai bukit dan
memandang kota yang
mereka tuju dibawah bukit
itu. Mereka terdiam, hingga
sang anak berkata “Aku mengerti apa maksud ayah”. Merekapun memutar pedati
dari kota tujuan mereka
semula, Hiroshima,15 Agustus
1945 …………………………………………
……… Sahabat terkadang rutinitas
kita bekerja, berumah tangga.
bermasyarakat membuat kita
tak mampu menikmati proses
yang terjadi pada diri dan
sekitar kita. Padatnya kesibukan, membuat seakan
waktu terasa tak cukup.
Bahkan sepertinya kita perlu
meminta tambahan satu hari
lagi dalam sepekan untuk
menampung seluruh aktivitas kita. Bertindak cepat untuk
semua persoalan seolah-olah
menjadi satu-satunya solusi
dari padatnya aktivitas kita.
Bukan hanya itu kita juga
dituntut untuk mampu berfikir lebih cepat bahkan
bernafas dengan detakkan
lebih cepat. Itu semua tak salah, tapi
tanpa disadari itu semua
membuat Anda kesal , tak
mampu merasakan
keindahan, tak sabar. Cobalah sejenak menghela
nafas Anda, hingga kemudian
detak nafas Anda melambat.
Dan rasakanlah saat nafas
Anda lebih tenang, Anda
dapat fokus kembali terhadap masalah Anda. Bahkan luar
biasanya Anda akan rasakan
kedamaian dihati Anda
seberat apapun masalah Anda.
Helalah nafas sekali lagi.
Kemudian helalah sekali lagi dan rasakan sensasi nafas
yang Anda hirup pada tubuh
Anda. Dan lama kelamaan
Anda akan menjadi hening
Belajarlah untuk sering
menghela nafas maka Anda akan selalu belajar tentang
keheningan. Blaise Pascal
bilang “Masalah pada manusia
muncul karena manusia tak
pernah bisa sejenak untuk
hening”. Rosul pernah berkata”
Istirahatlah kamu dengan
sholat” Dalam tuntunan sholat
khusyuk ada yang disebut
dengan tumaninah yang
mudahnya diartikan dengan tenang, maka gerakannya
tenang tidak terburu-buru,
bacaannya tenang, pikirannya
tenang, hatinya tenang,
bahkan tatapannya tenang.
Saat inilah khusyuk terjadi sebuah proes keheningan
menghadap Pencipta. Anda
masih bisa mendengar,anda
masih bisa merasa, tapi Anda
tetap dalam keheningan
bersama Rabbnya. Maka dalam hal apapun
bahkan ibadah Anda tak akan
bisa mendapatkan makna,
keselamatan, kebahagiaan.
Jika Anda tak memiliki
ketenangan dan keheningan. Lihatlah Aktivitas Anda hari
ini, sholat Dzuhur Anda
misalnya. Apakah Anda
lakukan tenang atau terburu-
buru? Rapat-rapat organisasi
Anda, tenang atau terburu- buru? Dan percayalah yang
terburu-buru hasilnya lebih
buruk dari yang tenang. Modal untuk itu ternyata
hanyalah sederhana; cobalah
menghela nafas Anda, dan
buat semua bergerak lebih
lambat. Ada orang bijak yang
berkata;Hidup Anda hanyalah
kumpulan nafas. Belasan atau
puluhan tahun Anda hidup
hanyalah kumpulan dari
tarikan dan buangan nafas kita. Maka siapa yang mampu
mengendalikan nafasnya, dia
pasti bisa mengendalikan
hidupnya. Siapa yang mampu
mengatur nafasnya, dia
mampu mengatur hidupnya dan siapa mampu
menenangkan nafasnya, dia
juga akan mampu
menenangkan hidupnya.
Hmmm,..sederhana hanya
menghela nafas,…. “Hidup bukanlah untuk
selalu merasa istimewa di
mata orang, hidup
hanyalah tarikan dan
buangan nafas dan apa
yang kita lakukan diantara keduannya”

Setan pun takut dengan orang yang meninggalkan shalat

Dengan menyebut nama Allah
Yang Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang. Tazkirah buat semua…. Ada seorang manusia yang
bertemu dengan setan di
waktu subuh. Entah

bagaimana awalnya, akhirnya
mereka berdua sepakat
mengikat tali persahabatan. Ketika waktu subuh berakhir
dan orang itu tidak
mengerjakan solat, maka
setan pun sambil tersenyum
bergumam, “Orang ini
memang boleh menjadi sahabatku..!” Begitu juga ketika waktu
Zuhur orang ini tidak
mengerjakan shalat, setan
tersenyum lebar sambil
membatin, ” Rupanya inilah
bakal teman sejatiku di akhirat nanti..!” Ketika waktu ashar hampir
habis tetapi temannya itu
dilihatnya masih juga asik
dengan kegiatannya, setan
mulai terdiam…… Kemudian ketika datang
waktunya magrib, temannya
itu ternyata tidak shalat juga,
maka setan nampak mulai
gelisah, senyumnya sudah
berubah menjadi kecut. Dari wajahnya nampak bahwa ia
seolah-olah sedang
mengingat-ngingat sesuatu. Dan akhirnya ketika
dilihatnya sahabatnya itu
tidak juga mengerjakan shalat
Isya, maka setan itu sangat
panik. Ia rupanya tidak bisa
menahan diri lagi, dihampirinya sahabatnya
yang manusia itu sambil
berkata dengan penuh
ketakutan, “Wahai sobat, aku
terpaksa memutuskan
persahabatan kita !” Dengan keheranan manusia ini
bertanya, “Kenapa engkau
ingkar janji bukankah baru
tadi pagi kita berjanji akan
menjadi sahabat ?”. “Aku takut !”, jawab setan
dengan suara gemetar. “Nenek moyangku saja yang
dulu hanya sekali
membangkang pada perintah-
Nya, yaitu ketika menolak
disuruh sujud pada “Adam”,
telah dilaknat-Nya; apalagi engkau yang hari ini saja
kusaksikan telah lima kali
membangkang untuk
bersujud pada-Nya (Sujud
pada Allah). Tidak
terbayangkan olehku bagaimana besarnya murka
Allah kepadamu !”, kata setan
sambil beredar pergi.

Antara aku,Tuhanku,dan istriku

Seorang lelaki berdoa: “Oh
Tuhan, saya tidak terima. Saya
bekerja begitu keras di
kantor, sementara istri saya
enak-enakan di rumah. Saya

ingin memberinya pelajaran, tolonglah ubahlah saya
menjadi istri dan ia menjadi
suami.” Tuhan merasa simpati dan
mengabulkan doanya.
Keesokan paginya, lelaki yang
telah berubah wujud menjadi
istri tersebut, terbangun dan
cepat-cepat ke dapur menyiapkan sarapan.
Kemudian membangunkan
kedua anaknya untuk
bersiap-siap ke sekolah. Kemudian ia mengumpulkan
dan memasukkan baju-baju
kotor ke dalam mesin cuci.
Setelah suami dan anak
pertamanya berangkat, ia
mengantar anaknya yang kecil ke sekolah taman kanak-
kanak. Pulang dari sekolah TK, ia
mampir ke pasar untuk
belanja. Sesampainya di
rumah, setelah menolong
anaknya ganti baju, ia
menjemur pakaian dan kemudian memasak untuk
makan siang. Selesai memasak, ia mencuci
piring-piring bekas makan
pagi dan peralatan yang telah
dipakai memasak. Begitu
anaknya yang pertama
pulang, ia makan siang bersama kedua anaknya. Tiba-tiba ia teringat ini hari
terakhir membayar listrik dan
telepon.
Disuruhnya kedua anaknya
untuk tidur siang dan cepat-
cepat ia pergi ke bank terdekat untuk membayar
tagihan tersebut. Pulang dari bank ia
menyetrika baju sambil
nonton televisi. Sore harinya
ia menyiram tanaman di
halaman, kemudian
memandikan anak-anak. Setelah itu membantu mereka
belajar dan mengerjakan PR.
Jam sembilan malam ia sangat
kelelahan dan tidur terlelap.
Tentu masih ada’pekerjaan-
pekerjaan kecil lainnya’ yang harus dikerjakan. Dua hari menjalani peran
sebagai istri ia tak tahan lagi.
Sekali lagi ia berdoa, “Ya
Tuhan, ampuni aku. Ternyata
aku salah. Aku tak kuat lagi
menjalani peran sebagai istri. Tolong kembalikan aku
menjadi suami lagi.” Tuhan menjawab: “Bisa saja. Tapi kamu harus
menunggu sembilan bulan,
karena saat ini kamu sedang
hamil.”

Budak yang dimerdekakan karena kesalahannya sendiri

SUATU hari, Imam Husain
bersantap makan malam
dan seorang budak wanita
berdiri di samping membawa
segelas air hampir tepat di atas

kepala Husain. Namun malang nasib si budak,
gelas tersebut jatuh
dari tangannya hingga pecah
berkeping-keping dan
membasahi
tubuh tuannya. Sang Imam menatap tajam wajah
budaknya.
Budak yang banyak akal itu
mengutip salah satu ayat
al-Qur’an yang bunyinya
“(Allah mencintai) orang- orang
yang menahan diri dari
amarahnya dan orang-orang
yang suka
memaafkan orang lain.”
Dengan kalem Husain menjawab, “Aku
memaafkanmu.”
Si budak membaca ayat
berikutnya, “Dan Allah
mencintai orang-orang yang
berbuat baik (kepada sesama) .”
Saat itu juga sang Imam
berteriak, “Aku bebaskan
kamu dari perbudakan yang
membuatmu terbelenggu
olehku.”

Kisah anak durhaka di Singapura

Sebuah Kisah Nyata Inspiratif
dari Negeri tetangga Singapura
beberapa dekade lalu yang
cukup menghebohkan hingga
Perdana Menteri saat itu, Lee

Kwan Yew senior turun tangan dan mengeluarkan
dekrit tentang orang lansia di
Singapura. Dikisahkan ada orang kaya
raya di sana mantan Pengusaha
sukses yang mengundurkan
diri dari dinia bisnis ketika
istrinya meninggal dunia.
Jadilah ia single parent yang berusaha membesarkan dan
mendidik dengan baik anak
laki-laki satu-satunya hingga
mampu mandiri dan menjadi
seorang Sarjana. Kemudian setelah anak
tunggalnya tersebut menikah,
ia minta ijin kepada ayahnya
untuk tinggal bersama di
Apartemen Ayahnya yang
mewah dan besar. Dan ayahnya pun dengan senang
hati mengijinkan anak
menantunya tinggal bersama-
sama dengannya. Terbayang
dibenak orangtua tersebut
bahwa apartemen nya yang luas dan mewah tersebut tidak
akan sepi, terlebih jika ia
mempunya cucu. Betapa
bahagianya hati bapak
tersebut bisa berkumpul dan
membagi kebahagiaan dengan anak dan menantunya. Pada mulanya terjadi
komunikasi yang sangat baik
antara Ayah-Anak-Menantu
yang membuat Ayahnya yang
sangat mencintai anak
tunggalnya itu tersebut tanpa sedikitpun ragu-ragu
mewariskankan seluruh harta
kekayaan termasuk
apartment yang mereka
tinggali, dibaliknamakan ke
anaknya itu melalui Notaris terkenal di sana. Tahun-tahun berlalu, seperti
biasa, masalah klasik dalam
rumah tangga, jika anak
menantu tinggal seatap
dengan orang tua, entah sebab
mengapa akhirnya pada suatu hari mereka bertengkar hebat
yang pada akhirnya, anaknya
tega mengusir sang Ayah
keluar dari apartment mereka
yang ia warisi dari Ayahnya. Karena seluruh hartanya,
Apartemen, Saham, Deposito,
Emas dan uang tunai sudah
diberikan kepada anaknya,
maka mulai hari itu dia
menjadi pengemis di Orchard Rd. Bayangkan, orang kaya
mantan pebisnis yang cukup
terkenal di Singapura tersebut,
tiba-tiba menjadi pengemis! Suatu hari, tanpa disengaja
melintas mantan teman
bisnisnya dulu dan
memberikan sedekah, dia
langsung mengenali si ayah ini
dan menanyakan kepadanya, apakah ia teman bisnisnya
dulu. Tentu saja, si ayah malu
danmenjawab bukan,
mungkin Anda salah orang,
katanya. Akan tetapi
temannya curiga dan yakin, bahwa orang tua yang
mengemis di Orchad Road itu
adalah temannya yang sudah
beberapa lama tidak ada kabar
beritanya. Kemudian,
temannya ini mengabarkan hal ini kepada teman-temannya
yang lain, dan mereka
akhirnya bersama-sama
mendatangi orang tersebut.
Semua mantan sahabat
karibnya tersebut langsung yakin bahwa pengemis tua itu
adalah Mantan pebisnis kaya
yang dulu mereka kenal. Dihadapan para sahabatnya, si
ayah dengan menangis
tersedu-sedu, menceritakan
semua kejadian yang sudah
dialaminya. Maka, terjadilah
kegemparan di sana, karena semua orangtua di sana merasa
sangat marah terhadap anak
yang sangat tidak bermoral
itu. Kegemparan berita tersebut
akhirnya terdengar sampai ke
telinga PM Lee Kwan Yew
Senior. PM Lee sangat marah
dan langsung memanggil anak
dan menantu durhaka tersebut. Mereka dimaki-maki
dan dimarahi habis-habisan
oleh PM Lee dan PM Lee
mengatakan “Sungguh sangat
memalukan bahwa di
Singapura ada anak durhaka seperti kalian” . Lalu PM Lee memanggil sang
Notaris dan saat itu juga surat
warisan itu dibatalkan demi
hukum! Dan surat warisan
yang sudah baliknama ke atas
nama anaknya tersebut disobek-sobek oleh PM Lee.
Sehingga semua harta milik
yang sudah diwariskan
tersebut kembali ke atas nama
Ayahnya, bahkan sejal saat itu
anak menantu itu dilarang masuk ke Apartment
ayahnya. Mr Lee Kwan Yew ini ternyata
terkenal sebagai orang yang
sangat berbakti kepada
orangtuanya dan menghargai
para lanjut usia (lansia).
Sehingga, agar kejadian serupa tidak terulang lagi, Mr Lee
mengeluarkan Kebijakan /
Dekrit yaitu “Larangan kepada
para orangtua untuk tidak
mengwariskan harta
bendanya kepada siapapun sebelum mereka meninggal.
Kemudian, agar para lansia itu
tetap dihormati dan dihargai
hingga akhir hayatnya, maka
dia buat Kebijakan berupa
Dekrit lagi, yaitu agar semua Perusahaan Negara dan swasta
di Singapura memberi
pekerjaan kepada para lansia.
Agar para lansia ini tidak
tergantung kepada anak
menantunya dan mempunyai penghasilan sendiri dan
mereka sangat bangga bisa
memberi angpao kepada cucu-
cucunya dari hasil keringat
mereka sendiri selama 1 tahun
bekerja. Anda tidak perlu heran jika
Anda pergi ke Toilet di Changi
Airport, Mall, Restaurant,
Petugas cleaning service adalah
para lansia. Jadi selain para
lansia itu juga bahagia karena di usia tua mereka masih bisa
bekerja, juga mereka bisa
bersosialisasi dan sehat karena
banyak bergerak. Satu lagi
sebagaimana di negeri maju
lainnya, PM Lee juga memberikan pendidikan sosial
yang sangat bagus buat anak-
anak dan remaja di sana,
bahwa pekerjaan
membersihkan toilet, meja
makan diresto dsbnya itu bukan pekerjaan hina,
sehingga anak-anak tsb dari
kecil diajarkan untuk tahu
menghargai orang yang lebih
tua, siapapun mereka dan
apapun profesinya. Sebaliknya, Anak di sana
dididik menjadi bijak dan terus
memelihara rasa hormat dan
sayang kepada orangtuanya,
apapun kondisi orangtuanya. Meskipun orangtua mereka
sudah tidak sanggup duduk
atau berdiri,atau mungkin
sudah selamanya terbaring
diatas tempat tidur, mereka
harus tetap menghormatinya dengan cara merawatnya. Mereka, warganegara
Singapura seolah diingatkan
oleh PM Lee agar selalu
mengenang saat mereka masih
balita, orangtua merekalah
yang membersihkan tubuh mereka dari semua bentuk
kotoran, juga yang memberi
makan dan kadang
menyuapinya dengan tangan
mereka sendiri, dan
menggendongnya kala mereka menangis meski dini
hari dan merawatnya ketika
mereka sakit. Bagaimana dengan Indonesia?
Mohon share ini kepada teman-
teman Anda agar menjadi
pengingat kepada kita semua.
Kisah ini di berasal dari
facebook Assyifa salah seorang sobat dari Medan. Banyak cerita bijak tentang
hidup, kata mutiara dan
motivasi serta kumpulan cerita
inspiratif lainya di
CeritaBijakMotivasi.Com yang
bisa Anda baca dilain waktu seperti halnya cerita bijak
Kisah Nyata Anak Durhaka
Singapura diatas Kawan!. Oh
ya perlu di ketahui cerita
inspirasi dan motivasi disitus
ini merupakan sumbangan pengunjung serta dari banyak
sumber, dan hak milik dari
pengarang, pencipta serta
penulis aslinya. Setelah membaca cerita bijak
Kisah Nyata Anak Durhaka
Singapura diatas, tentunya ada
hikmah yang bisa kita ambil
sebagai media pembelajaran
dan membuat hidup kita lebih baik bukan?

Hikmah ketekunan

Suatu hari di sebuah desa, ada
dua orang pengrajin yang
tinggal bersebelahan. Seorang
diantaranya, adalah pengrajin
emas, sedang yang lainnya

pengrajin kuningan. Keduanya telah lama
menjalani pekerjaan ini, sebab,
ini adalah pekerjaan yang
diwariskan secara turun-
temurun. Telah banyak pula
barang yang dihasilkan dari pekerjaan ini. Cincin, kalung,
gelang, dan untaian rantai
penghias, adalah beberapa dari
hasil kerajinan mereka. Setiap akhir bulan, mereka
membawa hasil pekerjaan ke
kota. Hari pasar, demikian
mereka biasa menyebut hari
itu. Mereka akan berdagang
barang-barang logam itu, sekaligus membeli barang-
barang keperluan lain selama
sebulan. Beruntunglah, pekan
depan, akan ada tetamu
agung yang datang
mengunjungi kota, dan bermaksud memborong
barang-barang yang ada
disana. Kabar ini tentu
membuat mereka senang.
Tentu, berita ini akan
membuat semua pedagang membuat lebih banyak
barang yang akan dijajakan. Siang-malam, terdengar suara
logam yang ditempa. Setiap
dentingnya, layaknya nafas
hidup bagi mereka. Tungku-
tungku api, seakan tak pernah
padam. Kayu bakar yang tampak membara, seakan
menjadi penyulut semangat
keduanya. Percik-percik api
yang timbul tak pernah di
hiraukan mereka. Keduanya
sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Sudah
puluhan cincin, kalung, dan
untaian rantai penghias yang
siap dijual. Hari pasar makin
dekat. Dan lusa, adalah waktu
yang tepat untuk berangkat ke kota. Hari pasar telah tiba, dan
keduanya pun sampai di kota.
Hamparan terpal telah digelar,
tanda barang dagangan siap
dijajakan. Keduanya pun
berjejer berdampingan. Tampaklah, barang-barang
logam yang telah dihasilkan.
Namun, ah sayang, ada
kontras yang mencolok
diantara keduanya. Walaupun
terbuat dari logam mulia, barang-barang yang dibuat
oleh pengrajin emas tampak
kusam. Warnanya tak
berkilau. Ulir-ulirnya kasar,
dengan pokok-pokok simpul
rantai yang tak rapi. Seakan, sang pembuatnya adalah
seorang yang tergesa-gesa. “Ah, biar saja,” demikian
ucapan yang terlontar saat
pengrajin kuningan
menanyakan kenapa
perhiasaannya kawannya itu
tampak kusam. “Setiap orang akan memilih daganganku,
sebab, emas selalu lebih baik
dari kuningan,” ujar pengrajin
emas lagi, “Apalah artinya
loyang buatanmu dibanding
logam mulia yang kupunya, aku akan membawa uang
lebih banyak darimu.”
Pengrajin kuningan, hanya
tersenyum. Ketekunannya
mengasah logam, membuat
semuanya tampak lebih bersinar. Ulir-ulirnya halus.
Lekuk-lekuk cincin dan gelang
buatannya terlihat seperli
lingkaran yang tak putus.
Liku-liku rantai penghiasnya
pun lebih sedap di pandang mata. Ketekunan, memang sesuatu
yang mahal. Hampir semua
orang yang lewat, tak
menaruh perhatian kepada
pengrajin emas. Mereka lebih
suka mendatangi, dan melihat-melihat cincin dan
kalung kuningan. Begitupun
tetamu agung yang berkenan
datang. Mereka pun lebih
menyukai benda-benda
kuningan itu dibandingkan dengan logam mulia/emas.
Sebab, emas itu tidaklah
cukup mereka tertarik, dan
mau membelinya. Sekali lagi,
terpampang kekontrasan di
hari pasar itu. Pengrajin emas yang tertegun diam, dan
pengrajin kuningan yang
tersenyum senang. Hari pasar telah usai, dan para
tetamu telah kembali pulang.
Kedua pengrajin itu pun telah
selesai membereskan
dagangan. Dan agaknya,
keduanya mendapat pelajaran dari apa yang telah mereka
lakukan hari itu.

Petani dan tukang roti

Seorang tukang roti di sebuah
desa kecil membeli satu
kilogram mentega dari
seorang petani. Ia curiga
bahwa mentega yang

dibelinya tidak benar-benar seberat satu kilogram.
Beberapa kali ia menimbang
mentega itu, dan benar, berat
mentega itu tidak penuh satu
kilogram. Yakinlah ia, bahwa
petani itu telah melakukan kecurangan. Ia melaporkan
pada hakim, dan petani itu
dimajukan ke sidang
pengadilan. Pada saat sidang, hakim
berkata pada petani, “Tentu
kau mempunyai timbangan?”
“Tidak, tuan hakim,” jawab
petani.
“Lalu, bagaimana kau bisa menimbang mentega yang
kau jual itu?” tanya hakim.
Petani itu menjawab, “Ah, itu
mudah sekali dijelaskan, tuan
hakim. Untuk menimbang
mentega seberat satu kilogram itu, sebagai
penyeimbang, aku gunakan
saja roti seberat satu kilogram
yang aku beli dari tukang roti
itu.” **Cukup banyak contoh,
kekesalan kita pada orang lain
berasal dari sikap kita sendiri
pada orang lain.

Ada tetesan setelah tetesan terakhir

Pasar malam dibuka di
sebuah kota . Penduduk
menyambutnya dengan
gembira. Berbagai macam
permainan, stand makanan

dan pertunjukan diadakan. Salah satu yang paling
istimewa adalah atraksi
manusia kuat. Begitu
banyak orang setiap malam
menyaksikan unjuk
kekuatan otot manusia kuat ini. Manusia kuat ini mampu
melengkungkan baja tebal
hanya dengan tangan
telanjang. Tinjunya dapat
menghancurkan batu bata
tebal hingga berkeping- keping. Ia mengalahkan
semua pria di kota itu dalam
lomba panco. Namun setiap
kali menutup
pertunjukkannya ia hanya
memeras sebuah jeruk dengan genggamannya. Ia
memeras jeruk tersebut
hingga ke tetes terakhir.
‘Hingga tetes terakhir’,
pikirnya. Manusia kuat lalu menantang
para penonton : “Hadiah
yang besar kami sediakan
kepada barang siapa yang
bisa memeras hingga keluar
satu tetes saja air jeruk dari buah jeruk ini!” Kemudian naiklah seorang
lelaki, seorang yang atletis,
ke atas panggung.
Tangannya kekar. Ia
memeras dan memeras… dan
menekan sisa jeruk… tapi tak setetespun air jeruk
keluar. Sepertinya seluruh isi
jeruk itu sudah terperas
habis. Ia gagal. Beberapa pria
kuat lainnya turut mencoba,
tapi tak ada yang berhasil. Manusia kuat itu tersenyum-
senyum sambil berkata :
“Aku berikan satu
kesempatan terakhir, siapa
yang mau mencoba?” Seorang wanita kurus
setengah baya
mengacungkan tangan dan
meminta agar ia boleh
mencoba. “Tentu saja boleh
nyonya. Mari naik ke panggung.” Walau dibayangi
kegelian di hatinya, manusia
kuat itu membimbing
wanita itu naik ke atas
pentas. Beberapa orang
tergelak-gelak mengolok- olok wanita itu. Pria kuat
lainnya saja gagal
meneteskan setetes air dari
potongan jeruk itu apalagi
ibu kurus tua ini. Itulah yang
ada di pikiran penonton. Wanita itu lalu mengambil
jeruk dan
menggenggamnya. Semakin
banyak penonton yang
menertawakannya. Lalu
wanita itu mencoba memegang sisa jeruk itu
dengan penuh konsentrasi.
Ia memegang sebelah
pinggirnya, mengarahkan
ampas jeruk ke arah tengah,
demikian terus ia ulangi dengan sisi jeruk yang lain.
Ia terus menekan serta
memijit jeruk itu, hingga
akhirnya memeras… dan
“ting!” setetes air jeruk
muncul terperas dan jatuh di atas meja panggung.
Penonton terdiam
terperangah. Lalu cemoohan
segera berubah menjadi
tepuk tangan riuh. Manusia kuat lalu memeluk
wanita kurus itu, katanya,
“Nyonya, aku sudah
melakukan pertunjukkan
semacam ini ratusan kali.
Dan, banyak orang pernah mencobanya agar bisa
membawa pulang hadiah
uang yang aku tawarkan,
tapi mereka semua gagal.
Hanya Anda satu-satunya
yang berhasil memenangkan hadiah itu. Boleh aku tahu,
bagaimana Anda bisa
melakukan hal itu?” “Begini,” jawab wanita itu,
“Aku adalah seorang janda
yang ditinggal mati
suamiku. Aku harus bekerja
keras untuk mencari nafkah
bagi hidup kelima anakku. Jika engkau memiliki
tanggungan beban seperti
itu, engkau akan
mengetahui bahwa selalu
ada tetesan air walau itu di
padang gurun sekalipun. Engkau juga akan
mengetahui jalan untuk
menemukan tetesan itu. Jika
hanya memeras setetes air
jeruk dari ampas yang
engkau buat, bukanlah hal yang sulit bagiku”. Selalu ada tetesan setelah
tetesan terakhir. Aku telah
ratusan kali mengalami jalan
buntu untuk semua masalah
serta kebutuhan yang
keluargaku perlukan. Namun hingga saat ini aku
selalu menerima tetes berkat
untuk hidup keluargaku.
Aku percaya Tuhanku hidup
dan aku percaya tetesan
berkat-Nya tidak pernah kering, walau mata
jasmaniku melihat
semuanya telah kering. Aku
punya alasan untuk
menerima jalan keluar dari
masalahku. Saat aku mencari, aku menerimanya
karena ada pribadi yang
mengasihiku. “Bila Anda memiliki alasan
yang cukup kuat, Anda
akan menemukan jalannya”,
demikian kata seorang bijak.
Seringkali kita tak kuat
melakukan sesuatu karena tak memiliki alasan yang
cukup kuat untuk menerima
hal tersebut.

Sebatang bambu

Sebatang bambu yang indah
tumbuh di halaman rumah
seorang petani. Batang bambu
ini tumbuh tinggi menjulang
di antara batang-batang
bambu lainnya. Suatu hari datanglah sang petani yang
empunya pohon bambu itu. Dia berkata kepada batang
bambu,” Wahai bambu,
maukah engkau kupakai
untuk menjadi pipa saluran air
yg sangat berguna untuk
mengairi sawahku?” Batang bambu menjawabnya,
“Oh tentu aku mau bila dapat
berguna bagi engkau,Tuan.
Tapi ceritakan apa yang akan
kau lakukan untuk
membuatku menjadi pipa saluran air itu.” Sang petani menjawab,
“Pertama, aku akan
menebangmu untuk
memisahkan engkau dari
rumpunmu yang indah itu.
Lalu aku akan membuang cabang-cabangmu yang dapat
melukai orang yang
memegangmu. Setelah itu aku
akan membelah-belah engkau
sesuai dengan keperluanku.
Terakhir aku akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam
batangmu, supaya air dapat
mengalir dengan lancar.
Apabila aku sudah selesai
dengan pekerjaanku, engkau
akan menjadi pipa yang akan mengalirkan air untuk
mengairi sawah sehingga padi
yang ditanam dapat tumbuh
dengan subur.” Mendengar hal ini, batang
bambu lama terdiam…
kemudian dia berkata kpd
petani, “Tuan, tentu aku akan
merasa sangat sakit ketika
engkau menebangku. Juga pasti akan sakit ketika
engkau membuang cabang-
cabangku, bahkan lebih sakit
lagi ketika engkau membelah-
belah batangku yang indah ini
dan pasti tak tertahankan ketika engkau mengorek-
ngorek bagian dalam tubuhku
untuk membuang sekat-sekat
penghalang itu. Apakah aku
akan kuat melalui semua
proses itu, Tuan?” Petani menjawab, ” Wahai
bambu, engkau pasti kuat
melalui semua ini karena aku
memilihmu justru karena
engkau yang paling kuat dari
semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah.” Akhirnya batang bambu itu
menyerah, “Baiklah, Tuan.
Aku ingin sekali berguna
ketimbang batang bambu yg
lain. Inilah aku, tebanglah aku,
perbuatlah sesuai dengan yang kau kehendaki.” Setelah petani selesai dengan
pekerjaannya, batang bambu
indah yang dulu hanya
menjadi penghias halaman
rumah petani, kini telah
berubah menjadi pipa saluran air yang mengairi sawah
sehingga padi dapat tumbuh
dengan subur dan berbuah
banyak. Pernahkah kita berpikir
bahwa dengan tanggung
jawab dan persoalan yg sarat,
mungkin Tuhan sedang
memproses kita untuk
menjadi indah di hadapan- Nya? Sama seperti batang
bambu itu, kita sedang
ditempa. Tapi jangan kuatir, kita pasti
kuat karena Tuhan tak akan
memberikan beban yang tak
mampu kita pikul. Jadi
maukah kita berserah pada
kehendak Tuhan, membiarkan Dia bebas berkarya di dalam
diri kita untuk menjadikan
kita alat yang berguna bagi-
Nya? Seperti batang bambu itu,
mari kita berkata, ” Inilah
aku, Tuhan…perbuatlah sesuai
dengan yang Kau kehendaki.”

Minggu, 29 Juli 2012

Hati yang mati

Persepsi tentang mati
memang berbeda pada setiap
orang. Ada yang merasa
sudah mati ketika kehilangan
kekasihnya. Ada yang merasa

mati ketika ludes harta bendanya. Dan, ada yang
menganggap hidupnya tak
berarti saat dirundung
kegagalan dan kedukaan
akibat musibah. Mati bukan hanya ketika
seseorang telah
mengembuskan napas
terakhir, matanya terpejam,
detak jantung terhenti, dan
jasad tak bergerak. Itu semua hanya mati biologis.
Kematiannya masih
bermanfaat karena menjadi
pelajaran bagi yang hidup.
Rasulullah SAW bersabda,
“Cukuplah kematian menjadi pelajaran, dan cukuplah
keyakinan sebagai
kekayaan.” (HR At-Thabrani
dari Ammar RA).
Alangkah banyak manusia
sudah mati, tapi masih memberikan manfaat bagi
yang hidup, yakni masjid atau
madrasah yang mereka
bangun, buku yang mereka
tulis, anak saleh yang
ditinggalkan, dan ilmu bermanfaat yang telah
diajarkan. Meraka mati jasad,
tapi pahala terus hidup (lihat
QS al-Baqarah [2]: 154). Sesungguhnya yang perlu
diwaspadai adalah mati
hakiki, yakni matinya hati
pada orang yang masih hidup.
Tak ada yang bisa diharapkan
dari manusia yang hatinya telah mati. Boleh jadi dia
hanya menambah jumlah
bilangan penduduk dalam
sensus. Hanya ikut membuat
macet jalanan dan mengurangi
jatah hidup manusia lain. Itu pun kalau tak merugikan
orang lain. Bagaimana halnya
dengan koruptor, orang yang
merusak, dan menebar
kejahatan di muka bumi? Tanda manusia yang hatinya
telah mati, antara lain, kurang
berinteraksi dengan kebaikan,
kurang kasih sayang kepada
orang lain, mendahulukan
dunia daripada akhirat, tak mengingkari kemungkaran,
menuruti syahwat, lalai, dan
senang berbuat maksiat. Ada tiga hal yang bila kita
tinggalkan akan
menyebabkan kematian hati.
Pertama, bila shalat
ditinggalkan, itu akan
membuat jiwa kalut. Kita akan terjerumus ke dalam
perbuatan keji, terseret ke
lembah kemungkaran dan
kesesatan (QS al-Ankabut [29]:
45 dan QS Maryam [19]: 59),
dan bisa menyusahkan serta merugikan orang lain. Kedua, meninggalkan
sedekah. Itu berarti kita egois,
individualis, dan enggan
berbuat baik. Kepedulian
sosial seperti sedekah adalah
bukti keimanan. Orang yang suka bersedekah hatinya
lapang dan dijauhkan dari
penyakit, khususnya
kekikiran, sedangkan para
dermawan selalu menebar
kebajikan sehingga dekat dengan manusia, Allah, dan
surga. Ketiga, meninggalkan
zikrullah adalah awal
kematian hati. Hatinya akan
membatu sehingga tak bisa
menerima nasihat dan ajaran
agama. Zikir akan menimbulkan ketenangan
hati (QS Ar-Ra’d [13]: 28).
Orang yang tenang hatinya
akan berperilaku positif dan
tak mau berbuat jahat. Mukmin yang selalu shalat,
senang bersedekah, dan
memperbanyak zikrullah
akan menjadi orang yang
paling baik, memiliki hati
yang hidup, dan menebar kebaikan kepada sesama. Bila
kita merasa rajin shalat,
sedekah, dan zikir, tetapi
hatinya mati, kemungkinan
besar shalat, sedekah, dan
zikirnya cenderung formalitas tanpa jiwa

Kisah sedih seorang kakek

Berikut adalah kisah kakek
tua/orang tua yang
menyedihkan dengan
keadaan nya yang sudah
tua dan tak mampu lagi

untuk menjadi seperti halnya kita yang bisa
mengerjakan sesuatunya
dengan sendiri. Mungkin
cerita ini telah lama
meskipun dengan kata-kata
yang berbeda saya akan coba bagikan kesahabat
motivasi untuk di jadikan
motivasi dan bahan
renungan bagi kita. Suatu hari seorang kakek
tua yang tinggal bersama
anak , menantu, dan
seorang cucu laki-lakinya.
Penglihatan si kakek sudah
tidak begitu jelas lagi. Dan Ia sudah tidak dapat
mendengar dengan baik.
Juga lututnya sudah mulai
bergetar. Terkadang jika ia
duduk di meja makan, ia
tidak dapat lagi memegang sendok dengan erat. Dan
tampa sengaja seringkali Ia
menumpahkan makanan di
atas meja makan, Bahkan
makanan yang keluar dari
mulutnya. Melihat hal itu anak dan menantunya
merasa jijik saat makan
bersamanya. Oleh sebab itu
mereka memutuskan untuk
tidak memperbolehkan
kakek tersebut untuk makan bersama mereka.
Mereka menempatkan sang
kakek ditempat khusus,
makan hanya dengan
mangkok yang kecil. Ia
sering tidak mendapat makan dan minum yang
cukup dan tentu saja ia
tetap lapar dan haus.
Terkadang sesekali ia
mencoba melihat-lihat
makanan yang ada di meja makan mencoba untuk
hilangkan laparnya. Suatu ketika disaat
jemarinya yang sudah tua
tidak dapat lagi memegang
mangkuk. Mangkuk itu
jatuh dan pecah. Menantu
perempuannya mencaci- makinya habis-habisan. Tapi,
kakek tua itu hanya bisa
diam dan pasrah. Ia
membiarkan semuanya
terjadi. Lalu Menantunnya
tidak ingin lagi ada mangkuk yang pecah
dirumahnya maka ia
membelikan sebuah piring
yang terbuat dari kayu
dengan harga yang tidak
terlalu mahal. Kini dengan piring kayu itu kakek tua
itu harus makan. Dengan
begitu Ia lebih tenang
karena sangat mustahil
untuk pecah di buat si
kakek. Suatu hari anaknya yang
masih berumur 5 tahun
sedang belajar menggambar
dan hasilnya seperti sebuah
piring. “Apa yang sedang
kamu buat, Nak ?” tanya ayahnya. “Saya sedang
membuat sebuah piring
kayu ,” jawab anaknya
polos, “dengan piring ini
ayah dan ibu akan makan,
jika nanti saya sudah besar.” Ayah dan ibunya saling
bertatapan teringat
perlakuan mereka yang
selama ini memberikan
makan orang tuanya
dengan piring kayu. Mereka mulai membayangkan hal
tersebut terjadi kepada
mereka. Tampa sengaja sang
ibu menangis dan langsung
memeluk anaknya. Sejak
kejadian itu mereka selalu memapah sang kakek ke
meja makan, untuk makan
bersama. Jika ia lapar atau
haus, mereka segera
membawakan makanan
dan minuman untuknya. Mereka tidak lagi
mempersalahkan perlakuan
sang kakek, meski harus
selalu membersihkan sisa
makan sang kakek yang
selalu tumpah di meja makan. ***
Semoga cerita ini bisa
menjadi pengingat bagi kita
yang masih muda, bahwa
kita juga akan menjadi
seperti mereka yang sudah tua yang selalu
membutuhkan pertolongan
orang lain. Bahkan bisa jadi
nantinya kita akan lebih
menyusahkan anak-anak
kita. Jadi tanamkan sifat kesabaran dan keikhlasan
menerima semuanya , saling
mengerti dan menyadari
keadaan orang tua kita,
agar nantinya anak-anak
kita dapat memperlakukan kita dengan baik(Sekecil
apapun hal yang kita
lakukan hari ini akan
berdampak di kemudian
hari).

Tidak penting berapa lama kita hidup

Suatu hari ada pasangan
suami isteri yang sudah
lama menikah tetapi belum
mepunyai keturunan.
Setelah 10 tahun berumah-

tangga, akhirnya sang istri hamil, sehingga pasangan
tersebut sangat bahagia.
Mereka menyebarkan kabar
baik ini kepada famili,
teman dan sahabat-
sahabatnya. Semua orang ikut bersukacita dengan
mereka. Dokter menemukan bayi
perempuan di
kandungannya.Tetapi
setelah beberapa bulan,
sesuatu yang buruk terjadi.
Bayi tersebut mengalami kelainan, dan ia mungkin
tidak bisa hidup sampai
masa kelahiran tiba. Jadi
dokter menyarankan untuk
dilakukan aborsi, demi
menyelamatkan sang ibu. Fakta ini membuat keadaan
menjadi terbalik. Baik sang
suami maupun sang istri
mengalami depressi.
Pasangan ini bersikeras
untuk tidak menggugurkan bayinya (membunuh bayi
tsb), tetapi juga kuatir
terhadap kesehatan
bayinya. “Saya bisa
merasakan keberadaannya,
dia sedang tidur yenyak”, kata sang ibu di sela
tangisannya. Lingkungan
sekitarnya memberikan
dukungan moral kepada
pasangan tersebut,dengan
mengatakan bahwa ini adalah kehendak Tuhan. Ketika sang istri semakin
mendekatkan diri dengan
Tuhan, tiba-tiba dia tersadar
bahwa Alloh pasti memiliki
rencanaNya dibalik semua
ini. Hal ini membuatnya lebih tabah.Pasangan ini
berusaha keras untuk
menerima fakta ini.. Mereka
mencari informasi kesana
kemari untuk mempelajari
lebih banyak tentang masalah bayi mereka. Satu
hal yang mereka temukan
adalah bahwa mereka tidak
sendirian. Banyak pasangan
lainnya yang juga
mengalami situasi yang sama, dimana bayi mereka
tidak dapat hidup lama.
Mereka juga menemukan
bahwa beberapa bayi akan
mampu bertahan hidup, bila
mereka mampu memperoleh donor organ
dari bayi lain. Sebuah
peluang yang sangat langka.
Siapa yang mau
mendonorkan organ
bayinya ke orang lain ? Jauh sebelum bayi mereka
lahir, pasangan ini
menamakan bayinya,
yuliana. Mereka terus berdoa. Pada
awalnya,mereka memohon
keajaiban supaya bayinya
sembuh. Kemudian mereka
tahu, bahwa mereka
seharusnya memohon kepada Alloh agar diberikan
kekuatan untuk
menghadapi apapun yang
terjadi, karena mereka
yakin Alloh punya
rencanaNya sendiri. Keajaiban terjadi, dokter
mengatakan bahwa Yuli
cukup sehat untuk
dilahirkan, tetapi ia tidak
akan bertahan hidup lebih
dari 2 jam. Sang istri kemudian berdiskusi
dengan suaminya, bahwa
jika sesuatu yang buruk
terjadi pada Yuli , mereka
akan mendonorkan
organnya. Ada dua bayi yang sedang berjuang hidup
dan sekarat, yang sedang
menunggu donor organ
bayi.
Sekali lagi, pasangan ini
berlinangan air mata. Mereka menangis dalam
posisi sebagai orang tua,
dimana mereka tidak
mampu menyelamatkan
Yuli. Pasangan ini bertekad
untuk tabah menghadapi kenyataan yg akan terjadi. Hari kelahiran tiba. Sang istri
berhasil melahirkan bayinya
dengan selamat. Pada momen yang sangat
berharga tersebut, sang
suami menggendong Yuli
dengan sangat hati-hati, Yuli
menatap ayahnya, dan
tersenyum dengan manis. Senyuman Yuli yang imut
tak akan pernah terlupakan
dalam hidupnya. Tidak ada
kata2 di dunia ini yang
mampu menggambarkan
perasaan pasangan tersebut pada saat itu. Mereka sangat
bangga bahwa mereka
sudah melakukan pilihan
yang tepat (dengan tidak
mengaborsi Yuli ),mereka
sangat bahagia melihat Yuli yang begitu mungil
tersenyum pada mereka,
mereka sangat sedih karena
kebahagiaan ini akan
berakhir dalam beberapa
jam saja. Sungguh tidak ada kata-
kata yang dapat mewakili
perasaan pasangan tersebut. Mungkin hanya dengan air
mata yang terus jatuh
mengalir, air mata yang
berasal dari jiwa mereka
yang terluka. Para tetangga maupun
kerabat famili memiliki
kesempatan untuk melihat
Yuli . Keajaiban terjadi lagi, Yuli
tetap bertahan hidup setelah
lewat 2 jam. Memberikan
kesempatan yang lebih
banyak bagi keluarga
tersebut untuk saling berbagi kebahagiaan. Tetapi
Yuli tidak mampu bertahan
setelah enam jam….. Para dokter bekerja cepat
untuk melakukan prosedur
pendonoran organ. Setelah beberapa minggu,
dokter menghubungi
pasangan tsb bahwa donor
tsb berhasil. Dua bayi
berhasil diselamatkan dari
kematian. Pasangan tersebut sekarang
sadar akan kehendak Alloh.
Walaupun Yuli hanya hidup
selama 6 jam, tetapi dia
berhasil menyelamatkan
dua nyawa. Bagi pasangan tersebut, Yuli
adalah pahlawan mereka,
dan Yuli yang mungil akan
hidup dalam hati mereka
selamanya… Renungan:
–Tidaklah penting berapa
lama kita hidup, satu hari
ataupun bahkan seratus
tahun. Hal yang benar2
penting adalah apa yang telah kita lakukan selama
hidup kita, yang
bermanfaat bagi orang lain. –Tidaklah penting berapa
lama perusahaan kita telah
berdiri, satu tahun ataupun
bahkan dua ratus tahun. Hal
yang benar2 penting adalah
apa yang dilakukan perusahaan kita selama ini,
yang bermanfaat bagi orang
lain. –Tidaklah
pentingbagaimana karier
seorang anak di masa
mendatang, dimana mereka
tinggal, maupun berapa
banyak uang yang mampu mereka hasilkan. Tetapi hal
terpenting bagi orang tua
adalah untuk memastikan
bahwa anak-anak nya
melakukan hal-hal terpuji
selama hidupnya, sehingga ketika kematian
menjemput mereka,
mereka akan menuju
surga”. –Berhenti Untuk Selalu
Memikirkan Kepentingan
Diri Sendiri, Jadikan
Kehadiran kita Di Dunia Ini
Sebagai RAHMAT Bagi Orang
Banyak dan Bagi Orang- orang Yang kita Cintai
(Ayah, Ibu, Saudara/
i,Suami/ Istri, dst)
Share on Facebook

Menikah bukan sekedar mendapatkan keturunan

Suatu hari di sebuah rumah
mewah di pinggiran desa, ada
sepasang suami istri, Rudi dan
sang istri bernama yuli. Rudi
adalah anak tunggal

keturunan orang terpandang di desa itu, sedangkan Yuli
adalah anak orang biasa.
Namun kedua orang tua Rudi,
sangat menyayangi menantu
satu-satunya itu. Karena selain
rajin, patuh dan taat beribadah, Yuli juga sudah
tidak punya saudara dan
orang tua lagi. Karna
meninggal saat ia masih kecil.
Orang memandang, mereka
adalah pasangan yg sangat harmonis. Para tetangganya
pun tahu bagaimana mereka
dulu merintis usaha dari kecil
untuk mencapai kehidupan
mapan seperti sekarang ini.
Sayangnya, pasangan itu belum lengkap. Dalam kurun waktu sepuluh
tahun usia pernikahannya,
mereka belum juga dikaruniai
seorang anak. Akibatnya Rudi
putus asa hingga walau masih
sangat cinta, dia berniat untuk menceraikan sang istri, yg
dianggap tidak mampu
memberikan keturunan
sebagai penerus generasi.
Setelah melalui perdebatan,
dengan sedih dan duka yg mendalam, akhirnya Yuli pun
menyerah pada keputusan
suaminya untuk tetap
bercerai. Sambil menahan perasaan yg
tidak menentu, suami istri
itupun menyampaikan
rencana perceraian tersebut
kepada orang tuanya. Orang
tuanya pun menentang keras, sangat tidak setuju, tapi
tampaknya keputusan Rudi
sudah bulat. Dia tetap akan
menceraikan Yuli. Setelah berdebat cukup lama,
akhirnya dengan berat hati
kedua orang tua itu
menyetujui perceraian
tersebut dengan satu syarat,
yaitu agar perceraian itu juga diselenggarakan dalam sebuah
pesta yg sama besar seperti
besarnya pesta saat mereka
menikah dulu. Karena tak
ingin mengecewakan kedua
orang tuanya, maka persyaratan itu pun disetujui. Beberapa hari kemudian, pesta
diselenggarakan. Saya berani
sumpah bahwa itu adalah
sebuah pesta yg sangat tidak
membahagiakan bagi
siapapun yg hadir. Pak Rudi nampak tertekan, stres dan
terus menenggak minuman
beralkohol sampai mabuk dan
sempoyongan. Sementara Yuli
tampak terus melamun dan
sesekali mengusap air mata di pipinya. Di sela mabuknya itu
tiba-tiba Rudi berdiri tegap
dan berkata lantang, “Istriku, saat kamu pergi
nanti… ambil saja dan bawalah
serta semua barang berharga
atau apapun itu yg kamu suka
dan kamu sayangi..!”
Setelah berkata demikian, tak lama kemudian ia semakin
mabuk dan akhirnya tak
sadarkan diri. Keesokan harinya, seusai
pesta, Rudi terbangun dengan
kepala yg masih berdenyut-
denyut berat. Dia merasa asing
dengan keadaan
disekelilingnya, tak banyak yg dikenalnya kecuali satu.
Yuli istrinya, yg masih sangat
ia cintai, sosok yg selama
bertahun-tahun ini menemani
hidupnya.
Maka, dia pun lalu bertanya, “Ada dimana aku..?
Sepertinya ini bukan kamar
kita..? Apakah aku masih
mabuk dan bermimpi..?
Tolong jelaskan…” Yuli pun lalu menatap
suaminya penuh cinta, dan
dengan mata berkaca dia
menjawab,
“Suamiku… ini dirumah
peninggalan orang tuaku, dan orang-orang ini para tetangga.
Kemaren kamu bilang di
depan semua orang bahwa
aku boleh membawa apa saja
yg aku mau dan aku sayangi.
Dan perlu kamu tahu, di dunia ini tidak ada satu barangpun
yg berharga dan aku cintai
dengan sepenuh hati kecuali
kamu. Karena itulah kamu
sekarang kubawa serta
kemanapun aku pergi…!” Dengan perasaan terkejut
setelah tertegun sejenak dan
sesaat tersadar, Rudi lalu
bangun dan kemudian
memeluk istrinya erat dan
cukup lama sambil terdiam. Yuli hanya bisa pasrah tanpa
mampu membalas
pelukannya. Ia biarkan kedua
tangannya tetap lemas, lurus
sejajar dengan tubuh
kurusnya. “Maafkan aku istriku, aku
sungguh bodoh dan tidak
menyadari bahwa ternyata
sebegitu dalamnya cintamu
buat aku. Sehingga walau aku
telah menyakitimu dan berniat menceraikanmu
sekalipun, kamu masih tetap
mau membawa serta diriku
bersamamu dalam keadaan
apapun…” Kedua suami istri itupun
akhirnya ikhlas berpelukan
dan saling bertangisan
melampiaskan penyesalannya
masing-masing. Mereka
akhirnya mengikat janji (lagi) berdua untuk tetap saling
mencintai hingga ajal
memisahkannya.. ‘’ketahuilah sobat bahwa
tujuan utama dalam
pernikahan bukanlah hanya
untuk mendapatkan
keturunan, memang diakui
keturunan sangatlah di harapkan dalam pernikahan,
tapi masih banyak hal-hal
yang perlu di selami dalam
hidup berumah tangga. Untuk itu kita perlu
meluruskan kembali tujuan
kita dalam menikah, yaitu
peneguhan janji sepasang
suami istri untuk saling
mencintai, saling menjaga baik dalam keadaan suka maupun
duka. Melalui kesadaran
tersebut, apapun kondisi
rumah tangga yang kita jalani
akan menemukan suatu
solusi. Sebab proses menemukan solusi dengan
berlandaskan kasih sayang
ketika menghadapi sebuah
masalah, sebenarnya
merupakan salah satu kunci
keharmonisan rumah tangga kita.’’ “Harta dalam rumah tangga
itu bukanlah terletak dari
banyaknya tumpukan materi
yg dimiliki, namun dari rasa
kasih sayang dan cinta
pasangan suami istri yg terdapat dalam keluarga
tersebut. Maka jagalah harta
keluarga yg sangat berharga
itu..!”

Racun penyembuh ibuku

Seorang gadis bernama
Marsya tinggal bersama
Ayah dan Ibu tirinya. Karna
Ibunya telah lama
meninggal oleh karna itu

Ayahnya memutuskan untuk menikah lagi. Marsya
yang saat itu masih remaja
mau tidak mau mengikuti
permohonan ayahnya
untuk menikah. Dalam waktu singkat,
marsya menyadari bahwa ia
tidak cocok dengan Ibu
tirinya dalam segala hal.
Kepribadian mereka
berbeda, dan Marsya sangat marah dengan banyak
kebiasaan Ibu tirinya itu.
Marsya juga dikritik terus-
menerus. Hari demi hari,
minggu demi minggu,
Marsya dan ibu tirinya tidak pernah berhenti konflik dan
bertengkar. Keadaan jadi
tambah buruk, karena
Ayahnya selalu menyuruh
marsya untuk menurut apa
kata ibu tirinya, Marsya harus taat kepada setiap
permintaan sang Ibu. Semua keributan dan
pertengkaran di rumah itu
mengakibatkan ayahnya
selalu memarahinya.
Akhirnya, Marsya tidak
tahan lagi dengan temperamen buruk dan
dominasi ibu tirinya, dan dia
memutuskan untuk
melakukan sesuatu.
Marsya pergi menemui
teman baik Ayahnya, Ustad Ali, pengurus masjid dekat
rumahnya. Marsya
menceritakan apa yang
dialaminya dan meminta
kalau-kalau Ustad Ali dapat
memberinya sejumlah racun supaya semua kesulitannya
selesai. Ustad Ali berpikir sejenak
dan tersenyum dan
akhirnya berkata, Marsya,
saya akan menolongmu,
tapi kamu harus
mendengarkan dan melakukan semua yang
saya minta. Marsya menjawab,”Baik,
saya akan melakukan apa
saja yang ustad minta.”
Ustad Ali masuk kedalam
ruangan dan kembali
beberapa menit kemudian dengan sebotol air. Dia memberitahu Marsya,
“Kamu tidak boleh
menggunakan racun yang
be-reaksi cepat untuk
menyingkirkan ibu tirimu,
karena nanti orang-orang akan curiga. Karena itu saya
memberimu sebotol air
yang secara perlahan akan
meracuni tubuh Ibu tirimu.
Setiap hari masaklah
untuknya dan kemudian campurkan sedikit air ini.
Nah, untuk memastikan
bahwa tidak ada orang
yang mencurigaimu pada
waktu ia meninggal, kamu
harus berhati-hati dan bertindak dangan sangat
baik dan bersahabat. Jangan
berdebat dengannya, taati
dia, dan perlakukan dia
seperti ibu kandungmu.” Marsya sangat senang. Dia
kembali ke rumah dan
memulai rencana
pembunuhan terhadap ibu
tirinya. Minggu demi minggu
berlalu, dan berbulan bulan
berlalu, dan setiap hari,
Marsya melayani ibu tirinya
dengan masakan yang
dibuat secara khusus. Marsya ingat apa yang
dikatakan Ustad Ali tentang
menghindari kecurigaan,
jadi Marsya mengendalikan
emosinya, mentaati ibu
tirinya, memperlakukan ibu tirinya seperti ibu-nya
sendiri dengan sangat baik
dan bersahabat. Setelah eman bulan, seluruh
rumah berubah. marsya
telah belajar mengendalikan
emosi-nya begitu rupa
sehingga hampir-hampir ia
tidak pernah meledak dalam amarah atau kekecewaan.
Dia tidak berdebat sekalipun
dengan ibu tiri-nya, yang
sekarang kelihatan jauh
lebih baik dan mudah
ditemani. Sikap ibu tirinya juga
berubah, dan dia mulai
menyayangi marsya seperti
anaknya sendiri. Dia terus
memberitahu teman-teman
dan kenalannya bahwa marsya adalah anak baik
yang pernah dimilikinya.
Marsya dan ibu tirinya
sekarang berlaku seperti ibu
dan anak sungguhan. Ayah
marsya sangat senang melihat apa yang telah
terjadi. Satu hari, Marsya datang
menemui Ustad Ali dan
minta pertolongan lagi. Dia
berkata, “Ustad, tolonglah
saya untuk mencegah racun
itu membunuh ibu saya. Dia telah berubah menjadi
wanita yang sangat baik
dan saya mengasihinya
seperti ibu saya sendiri. Saya
tidak ingin dia mati karena
racun yang saya berikan.” Ustad Ali tersenyum dan
mengangkat kepalanya.
“Marsya, tidak usah
khawatir. Saya tidak
pernah memberimu racun.
Air yang saya berikan dulu adalah Air Zam-Zam untuk
meningkatkan
kesehatannya. Satu-satunya
racun yang pernah ada ialah
didalam pikiran dan
sikapmu terhadapnya, tapi semua sudah lenyap oleh
kasih yang engkau berikan
padanya.”

Sebelum menceraikanku,gendonglah aku

Pada hari pernikahanku,aku
membopong istriku. Mobil
pengantin berhenti didepan
flat kami yang cuma
berkamar satu.
Sahabat-
sahabatku menyuruhku untuk membopongnya begitu
keluar dari mobil. Jadi
kubopong ia memasuki
rumah kami. Ia kelihatan malu-malu. Aku
adalah seorang pengantin pria
yang sangat bahagia. Ini
adalah kejadian 10 tahun yang
lalu.
Hari-hari selanjutnya berlalu demikian simpel seperti
secangkir air bening. Kami
mempunyai seorang anak,
saya terjun ke dunia usaha
dan berusaha untuk
menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran
meningkat, jalinan kasih
diantara kami pun semakin
surut. Ia adalah pegawai sipil.
Setiap pagi kami berangkat
kerja bersama-sama dan sampai dirumah juga pada
waktu yang bersamaan. Anak kami sedang belajar di
luar negeri. Perkimpoian kami
kelihatan bahagia. Tapi
ketenangan hidup berubah
dipengaruhi oleh perubahan
yang tidak kusangka-sangka. Dew hadir dalam
kehidupanku. Waktu itu
adalah hari yang cerah. Aku
berdiri di balkon dengan Dew
yang sedang merangkulku.
Hatiku sekali lagi terbenam dalam aliran cintanya. Ini adalah apartment yang
kubelikan untuknya. Dew
berkata , “Kamu adalah jenis
pria terbaik yang menarik
para gadis.” Kata-katanya
tiba-tiba mengingatkanku pada istriku. Ketika kami baru
menikah,istriku pernah
berkata, “Pria
sepertimu,begitu sukses, akan
menjadi sangat menarik bagi
para gadis.” Berpikir tentang ini, Aku menjadi ragu-ragu.
Aku tahu kalo aku telah
menghianati istriku. Tapi aku
tidak sanggup
menghentikannya. Aku
melepaskan tangan Dew dan berkata, “Kamu harus pergi
membeli beberapa perabot,
O.K.?.Aku ada sedikit urusan
dikantor” Kelihatan ia jadi tidak senang
karena aku telah berjanji
menemaninya. Pada saat
tersebut, ide perceraian
menjadi semakin jelas
dipikiranku walaupun kelihatan tidak mungkin.
Bagaimanapun,aku merasa
sangat sulit untuk
membicarakan hal ini pada
istriku. Walau
bagaimanapun ku jelaskan, ia pasti akan sangat terluka.
Sejujurnya,ia adalah seorang
istri yang baik. Setiap malam
ia sibuk menyiapkan makan
malam. Aku duduk santai
didepan TV. Makan malam segera tersedia. Lalu kami
akan menonton TV sama-
sama. Atau aku akan
menghidupkan
komputer,membayangkan
tubuh Dew. Ini adalah hiburan bagiku. Suatu hari aku berbicara
dalam guyon, “Seandainya
kita bercerai, apa
yang akan kau lakukan? ” Ia
menatap padaku selama
beberapa detik tanpa bersuara. Kenyataannya ia
percaya bahwa perceraian
adalah sesuatu yang sangat
jauh dari ia. Aku tidak bisa
membayangkan bagaimana ia
akan menghadapi kenyataan jika tahu bahwa aku serius.
Ketika istriku mengunjungi
kantorku, Dew baru saja
keluar dari ruanganku. Hampir
seluruh staff menatap istriku
dengan mata penuh simpati dan berusaha untuk
menyembunyikan segala
sesuatu selama berbicara
dengan ia. Ia kelihatan sedikit
kecurigaan. Ia berusaha
tersenyum pada bawahan- bawahanku. Tapi aku
membaca ada kelukaan di
matanya. Sekali lagi, Dew
berkata padaku,” He Ning,
ceraikan ia, O.K.? Lalu kita
akan hidup bersama.” Aku mengangguk. Aku tahu aku
tidak boleh ragu-ragu lagi. Ketika malam itu istriku
menyiapkan makan malam,
ku pegang
tangannya,”Ada sesuatu yang
harus kukatakan” Ia duduk
diam dan makan tanpa bersuara. Sekali lagi aku
melihat ada luka dimatanya.
Tiba-tiba aku tidak tahu harus
berkata
apa. Tapi ia tahu kalo aku
terus berpikir. “Aku ingin bercerai”, ku ungkapkan
topik ini dengan serius tapi
tenang. Ia seperti tidak
terpengaruh oleh kata-
kataku, tapi ia
bertanya secara lembut,”kenapa?” “Aku
serius.” Aku menghindari
pertanyaannya. Jawaban ini
membuat ia sangat marah. Ia
melemparkan sumpit dan
berteriak kepadaku,”Kamu bukan laki-laki!”. Pada malam itu, kami sekali
saling membisu. Ia sedang
menangis. Aku tahu kalau ia
ingin tahu apa yang telah
terjadi dengan perkimpoian
kami. Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yang
memuaskan sebab hatiku
telah dibawa pergi oleh Dew.
Dengan perasaan yang amat
bersalah, Aku menuliskan
surai perceraian dimana istriku memperoleh rumah, mobil
dan 30% saham dari
perusahaanku. Ia
memandangnya sekilas dan
mengoyaknya jadi beberapa
bagian.. Aku merasakan sakit dalam hati. Wanita yang telah
10 tahun hidup bersamaku
sekarang menjadi seorang
yang asing dalam hidupku.
Tapi aku tidak bisa
mengembalikan apa yang telah kuucapkan. Akhirnya ia menangis dengan
keras didepanku, dimana hal
tersebut tidak pernah kulihat
sebelumnya. Bagiku,
tangisannya merupakan suatu
pembebasan untukku. Ide perceraian telah
menghantuiku dalam
beberapa minggu ini dan
sekarang sungguh-sungguh
telah terjadi. Pada larut malam,aku kembali
ke rumah setelah menemui
klienku. Aku melihat ia
sedang menulis sesuatu.
Karena capek aku segera
ketiduran. Ketika aku terbangun tengah malam aku
melihat ia masih menulis. Aku
tertidur kembali. Ia
menuliskan syarat-syarat dari
perceraiannya. Ia tidak
menginginkan apapun dariku,tapi aku harus
memberikan waktu sebulan
sebelum menceraikannya,dan
dalam waktu sebulan itu kami
harus hidup bersama seperti
biasanya. Alasannya sangat sederhana:
Anak kami akan segera
menyelesaikkan
pendidikannya dan liburannya
adalah sebulan lagi dan ia
tidak ingin anak kami melihat kehancuran rumah tangga
kami. Ia menyerahkan
persyaratan tersebut dan
bertanya,” He Ning, apakah
kamu masih ingat bagaimana
aku memasuki rumah kita ketika pada hari pernikahan
kita?” Pertanyaan ini tiba-tiba
mengembalikan beberapa
kenangan indah kepadaku.
Aku mengangguk dan
mengiyakan. “Kamu
membopongku dilenganmu”, katanya, “Jadi aku punya
sebuah permintaan, yaitu
kamu akan tetap
membopongku pada waktu
perceraian kita. Dari sekarang
sampai akhir bulan ini, setiap pagi kamu harus
membopongku keluar dari
kamar tidur ke pintu.” Aku
menerima dengan senyum.
Aku tahu ia merindukan
beberapa kenangan indah yang telah berlalu dan
berharap perkimpoiannya
diakhiri dengan suasana
romantis. Aku
memberitahukan Dew soal
syarat-syarat perceraian dari istriku. Ia tertawa keras dan
berpikir itu tidak ada
gunanya. “Bagaimanapun trik
yang ia lakukan, ia harus
menghadapi hasil dari
perceraian ini,” ia mencemooh. Kata-katanya membuatku
merasa tidak enak. Istriku dan aku tidak
mengadakan kontak badan
lagi sejak kukatakan
perceraian itu. Kami saling
menganggap orang asing. Jadi
ketika aku membopongnya dihari pertama, kami
kelihatan salah tingkah. Anak
kami menepuk punggung
kami,”Wah, papa membopong
mama, mesra sekali” Kata-
katanya membuatku merasa sakit.. Dari kamar tidur ke
ruang duduk, lalu ke pintu,
aku berjalan 10 meter dengan
ia dalam lenganku. Ia
memejamkan mata dan
berkata dengan lembut,” Mari kita mulai hari ini,jangan
memberitahukan pada anak
kita.” Aku mengangguk, merasa
sedikit bimbang.Aku
melepaskan ia di pintu. Ia
pergi menunggu bus, dan aku
pergi ke kantor. Pada hari
kedua, bagi kami terasa lebih mudah. Ia merebah di
dadaku,kami begitu dekat
sampai-sampai aku bisa
mencium wangi dibajunya.
Aku menyadari bahwa aku
telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita
ini. Aku melihat bahwa ia
tidak muda lagi, beberapa
kerut tampak di wajahnya.
Pada hari ketiga, ia berbisik
padaku, “Kebun diluar sedang dibongkar, hati-hati kalau
kamu lewat sana.” Hari
keempat,ketika aku
membangunkannya,aku
merasa kalau kami masih
mesra seperti sepasang suami istri dan aku masih
membopong kekasihku
dilenganku. Bayangan Dew
menjadi samar. Pada hari
kelima dan enam, ia masih
mengingatkan aku beberapa hal, seperti, dimana ia telah
menyimpan baju-bajuku yang
telah ia setrika, aku harus
hati-hati saat memasak,dll.
Aku mengangguk. Perasaan
kedekatan terasa semakin erat. Aku tidak memberitahu
Dew tentang ini. Aku merasa begitu ringan
membopongnya.Berharap
setiap hari pergi ke kantor
bisa membuatku semakin
kuat. Aku berkata
padanya,”Kelihatannya tidaklah sulit membopongmu
sekarang” Ia sedang mencoba
pakaiannya, aku sedang
menunggu untuk
membopongnya keluar. Ia
berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa menemukan
yang cocok. Lalu ia
melihat,”Semua pakaianku
kebesaran”. Aku
tersenyum.Tapi tiba-tiba aku
menyadarinya sebab ia semakin kurus itu sebabnya
aku bisa membopongnya
dengan ringan bukan
disebabkan aku semakin kuat.
Aku tahu ia mengubur semua
kesedihannya dalam hati. Sekali lagi , aku merasakan
perasaan sakit Tanpa sadar ku
sentuh kepalanya. Anak kami
masuk pada saat tersebut.
“Pa,sudah waktunya
membopong mama keluar” Baginya,melihat papanya
sedang membopong
mamanya keluar menjadi
bagian yang penting. Ia
memberikan isyarat agar
anak kami mendekatinya dan merangkulnya dengan erat.
Aku membalikkan wajah
sebab aku takut aku akan
berubah pikiran pada detik
terakhir. Aku menyanggah ia
dilenganku, berjalan dari kamar tidur, melewati ruang
duduk ke teras. Tangannya
memegangku secara lembut
dan alami. Aku menyanggah
badannya dengan kuat seperti
kami kembali ke hari pernikahan kami. Tapi ia
kelihatan agak pucat dan
kurus, membuatku sedih.
Pada hari terakhir,ketika aku
membopongnya
dilenganku, aku melangkah dengan berat. Anak kami
telah kembali ke sekolah. Ia
berkata, “Sesungguhnya aku
berharap kamu akan
membopongku sampaikita
tua”. Aku memeluknya dengan kuat dan berkata
“Antara kita saling tidak
menyadari bahwa kehidupan
kita begitu mesra”. Aku
melompat turun dari mobil
tanpa sempat menguncinya. Aku takut keterlambatan
akan membuat pikiranku
berubah. Aku menaiki tangga.
Dew membuka pintu. Aku
berkata padanya,” Maaf Dew,
Aku tidak ingin bercerai. Aku serius”. Ia melihat kepadaku,
kaget. Ia menyentuh dahiku.
“Kamu tidak demam”. Kutepiskan tanganya dari
dahiku “Maaf, Dew,Aku cuma
bisa bilang maaf padamu,Aku
tidak ingin bercerai.
Kehidupan rumah tanggaku
membosankan disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan
nilai-nilai dari kehidupan,
bukan disebabkan kami tidak
saling mencintai lagi. Sekarang
aku mengerti sejak aku
membopongnya masuk ke rumahku, ia telah melahirkan
anakku. Aku akan
menjaganya sampai tua. Jadi
aku minta maaf padamu” Dew tiba-tiba seperti tersadar.
Ia memberikan tamparan
keras kepadaku dan menutup
pintu dengan kencang dan
tangisannya meledak. Aku
menuruni tangga dan pergi ke kantor. Dalam perjalanan aku
melewati sebuah toko bunga,
ku pesan sebuah buket bunga
kesayangan istriku. Penjual
bertanya apa yang mesti ia
tulis dalam kartu ucapan? Aku tersenyum, dan menulis ”
Aku akan membopongmu
setiap pagi sampai kita tua..”

Belajar hidup dari tukang krupuk

Siapakah Pak Mansyur?
Dia bukan seorang pemegang
rekor dunia, bukan juga
seorang inspirator hebat yang
biasa didaulat sebagai

pembicara di hotel-hotel mewah, apalagi salah seorang
anggota DPRyang belakangan
santer dengan alamat email
palsunya. Pak Mansyur hanyalah
seorang penjual kerupuk
keliling, dia juga seorang ayah
dari anak-anaknya dan suami
dari istrinya. Lalu apa hebatnya seorang
Mansyur, sehingga saya
menyempatkan untuk
menulis di blog pribadi? Dia adalah seorang manusia
yang kuat & berani menjalani
hidup, padahal matanya tidak
bisa melihat secara permanen.
Kekuatan dan kelebihannya
melebihi para pemegang rekor dunia, bagaimana tidak,
dengan kebutaannya dia kuat
menjalani hidup ditengah-
tengah cercaan, hinaan orang-
orang disekitarnya, dia berani
membina rumah tangga dengan berjualan kerupuk
untuk menafkahi
keluarganya. Setiap hari Pak Mansyur
berkeliling jualan kerupuk
dari rumahnya ke daerah
Ciputat-Bintaro sampai ke
Pamulang. Saya sendiri tidak habis pikir.
Sebetulnya dengan
keterbatasannya itu, Pak
Mansyur bisa saja menjadi
pengemis, cukup duduk di
perempatan, simpan topi di depan, lalu menunggu uang
dari orang-orang lewat yang
kasihan dengan dia.
Namun apa yang dia katakan,
tak sedikitpun ada keinginan
menjadi pengemis. Wow luar biasa. Ah sayang, saya hanya bisa
menonton “Ketemu Pepeng”
tidak lebih dari sepuluh menit,
padahal ada beberapa orang
inspiratif seperti Pak Mansyur
yang ditampilkan disana. *** Ternyata orang-orang seperti
Pak Mansyur ini ada di
sekeliling kita, dan jumlahnya
cukup banyak. Setiap hari saya melewati
gerobak seorang nenek
penjual kupat sayur, dia
berjualan ditemani salah
seorang sanak keluarganya.
Wajahnya yang sudah keriput dan agak bongkok tetap mau
berjualan dan enggan untuk
menggantungkan hidupnya
kepada orang lain. Hampir setiap hari saya
dihadapkan pada orang-orang
tua yang hidupnya penuh
perjuangan, bisa jadi mereka
memiliki fisik yang lemah,
namun tidak dengan mentalnya. Mereka bukan orang-orang
terhormat yang duduk manis
di Gedung DPR, namun mereka
mengajarkan kita untuk
menjadi orang terhormat di
mata Allah SWT. Mereka bukan penulis hebat
yang mampu membawa
suasana pembacanya, namun
mereka orang-orang yang
mampu memberikan teladan
untuk mensyukuri hidup. Jika Anda tersentuh dengan
cerita di atas, tolong “share”
cerita ini ke teman-teman
yang lain agar mereka juga
dapat memetik hikmah yang
ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat
bagi kehidupan kita,
terimakasih.

Dongeng 3 orang kakek

Minggu pagi ini, cuaca sangat
cerah. Ella sekeluarga juga
berkumpul sambil menunggu
ibu selesai memasak. Ayah
yang sedang membaca koran,

tiba-tiba merasakan Ella terdiam lama sambil
memandang ke luar jendela,
Sayang kamu memandang
apa di luar sana? Ella
mendekati ayahnya sambil
menunjuk ke luar jendela, Ayah, ada 3 orang kakek
aneh berjenggot putih yang
telah lama duduk di luar sana.
Benarkah? sahut ayah sambil
melihat ke luar jendela
sebentar, kemudian berjalan keluar rumah. Tak lama ibu
dan Ella juga mengikuti. Ayah lalu bertanya kepada
ketiga kakek tua itu, Kakek-
kakek, mengapa kalian duduk
di sini begitu lama? Apakah
sedang menunggu seseorang?
Salah satu kakek menjawab, Kami sedang melakukan
perjalanan dan merasa sedikit
lelah, oleh karena itu ingin
beristirahat di sini sejenak.
Kemuadian ibu yang merasa
iba terhadap para kakek tua itu, dengan senang hati
mengundang mereka, Mari
silakan masuk ke dalam
rumah kami. Istirahatlah
sebentar sambil mencicipi
makanan kecil yang baru saya buat. Salah satu kakek itu
menjawab, Terima kasih
banyak, akan tetapi kami
tidak bisa bersamaan masuk
ke dalam rumah kalian.Lho,
mengapa? tanya mereka bertiga serentak. Kakek tertua menjelaskan,
Karena saya bernama Kasih
Sayang, disamping saya
bernama Kesuksesan dan
Kekayaan, hanya salah satu
dari kami yang bisa masuk ke dalam rumah kalian. Maka
akhirnya terjadi perbedaan
pendapat diantara ayah, ibu
dan Ella. Ibu memilih duluan,
meminta kakek kekayaan
untuk masuk ke rumah, karena dia berdiri disamping
ibu. Sedangkan ayah
cenderung memilih kakek
kesuksesan, Menurut saya,
lebih baik kakek kesuksesan
yang masuk ke dalam rumah kita. Akan tetapi si Ella lebih
suka memilih kakek yang
tertua, Ayah ibu, saya ingin
kakek Kasih Sayang saja yang
masuk ke rumah kita. Akhirnya mereka
memutuskan mengikuti
keinginan Ella. Ayah
mempersilakan kakek Kasih
Sayang untuk masuk ke
rumah. Ketika kakek Kasih Sayang masuk kedalam
rumah, kedua kakek lainnya
juga ikut masuk. Ibu pun
bertanya keheranan, Lho,
mengapa kalian bertiga jadi
masuk bersamaan? Kakek Kekayaan berkata,
Jika kalian mengundang
Kekayaan atau Kesuksesan,
yang lainnya tentu tidak akan
ikut masuk. Si kakek
Kesuksesan menyambung, Akan tetapi kalau kalian
mengundang Kasih Sayang,
kemanapun dia pergi, kami
selalu akan mengikutinya. Si
kakek Kasih Sayang dengan
bijak mengakhiri, Karena dimana ada Kasih Sayang
maka disana pasti ada
Kekayaan dan Keberhasilan

Beda nasib

Konon, uang seribu dan
seratus ribu memiliki asal-usul
yang sama tapi mengalami
nasib yang berbeda. Keduanya
sama-sama dicetak di PERURI

dengan bahan dan alat-alat yang oke. Pertama kali keluar dari
PERURI, uang seribu dan
seratus ribu sama-sama bagus,
berkilau, bersih, harum dan
menarik. Namun tiga bulan
setelah keluar dari PERURI, uang seribu dan seratus ribu
bertemu kembali di dompet
seseorang dalam kondisi yang
berbeda. Uang seratus ribu berkata
pada uang seribu :”Ya,
ampiiiuunnnn. ………. darimana
saja kamu, kawan? Baru tiga
bulan kita berpisah, koq kamu
udah lusuh banget? Kumal, kotor, lecet dan…… bau!
Padahal waktu kita sama-
sama keluar dari PERURI, kita
sama-sama keren kan ….. Ada
apa denganmu?” Uang seribu
menatap uang seratus ribu yang masih keren dengan
perasaan nelangsa. Sambil
mengenang perjalanannya,
uang seribu berkata : “Ya, beginilah nasibku ,
kawan. Sejak kita keluar dari
PERURI, hanya tiga hari saya
berada di dompet yang bersih
dan bagus. Hari berikutnya
saya sudah pindah ke dompet tukang sayur yang kumal.
Dari dompet tukang sayur,
saya beralih ke kantong
plastik tukang ayam.
Plastiknya basah, penuh
dengan darah dan taik ayam. Besoknya lagi, aku dilempar
ke plastik seorang pengamen,
dari pengamen sebentar aku
nyaman di laci tukang
warteg. Dari laci tukang
warteg saya berpindah ke kantong tukang nasi uduk,
dari sana saya hijrah ke
‘baluang’ (pren : tau kan
baluang…?) Inang-inang. Begitulah perjalananku dari
hari ke hari. Itu makanya
saya bau, kumal, lusuh,
karena sering dilipat-lipat,
digulung-gulung, diremas-
remas. ……” Uang seratus ribu
mendengarkan dengan
prihatin.: “Wah, sedih sekali
perjalananmu, kawan!
Berbeda sekali dengan
pengalamanku. Kalau aku ya, sejak kita keluar dari PERURI
itu, aku disimpan di dompet
kulit yang bagus dan harum. Setelah itu aku pindah ke
dompet seorang wanita
cantik. Hmmm…dompetnya
harum sekali. Setelah dari
sana , aku lalu berpindah-
pindah, kadang-kadang aku ada di hotel berbintang 5,
masuk ke restoran mewah,
ke showroom mobil mewah,
di tempat arisan Ibu-ibu
pejabat, dan di tas selebritis.
Pokoknya aku selalu berada di tempat yang bagus. Jarang deh aku di tempat
yang kamu ceritakan itu.
Dan…… aku jarang lho ketemu
sama teman-temanmu. “ Uang seribu terdiam sejenak.
Dia menarik nafas lega,
katanya : “Ya. Nasib kita memang
berbeda. Kamu selalu
berada di tempat yang
nyaman. Tapi ada satu hal
yang selalu membuat saya
senang dan bangga daripada kamu!” “Apa itu?” uang seratus
ribu penasaran.
“Aku sering bertemu
teman-temanku di kotak-
kotak amal di mesjid atau
di tempat-tempat ibadah lain. Hampir setiap minggu
aku mampir di tempat-
tempat itu. Jarang banget
tuh aku melihat kamu
disana…..”

Sabtu, 28 Juli 2012

Cerpen: Selalu dan selamanya

Waktu Terasa semakin berlalu… Tinggalkan Cerita tentang kita Akan tiada lagi kini tawamu Tuk Hapuskan semua sepi dihati… Ada cerita tentang Aku dan Dia Dan kita bersama saat dulu kala Ada cerita masa yang indah Saat kita berduka saat kita tertawa ( Peterpan )
Ku masih dan selalu saja meratapi diriku. Entah sampai kapan ku akan terus seperti ini. Pekerjaanku sepulang sekolah adalah melamun dan selalu melamun. Sambil mendengarkan lagu cinta sejatiku Peter Pan. ku sudah hafal lagu itu, sebab hanya satu lagu itulah yang menjadi temanku sehari-hari. Lagu itu menyimpan kenangan atau seakan lagu itu adalah harapan. Sambil terus mendengarkan Peterpan yang diputar beberapa kali, ku memandangi foto lama di HP- ku. Gambar itu adalah seorang Gadis remaja kecil dan Lelaki remaja kecil berseragam biru- putih. Dua anak itu bergaya. Berpegangan tangan dengan wajahnya seperti menarik senyuman. Ku tertawa sendiri teringat dengan semua kisah masa laluku. “ D’, a cakep nggak gini?” ku meminta pendapat Anis. Saat itu, Aku baru saja mencukur rambut. “ Idih, Cakep ko.. daripada botak kaya kemaren!” ujar Anis kecil sambil tertawa. “ Hmm.. masa sih d, kamu juga cakep d” “ He” narsis banget sih kamu a” “ kenapa ? ko Narsis!” “ Ia, ini foto-foto aja” “ Buat kenang-kenangan d’, kita kan mau lulus! Gimana- gimana juga, jelek-jelek juga, ni sekolah kan yang mempertemukan kita d”. . Ku tertawa lagi, tapi ia sadar bahwa semuanya adalah hanya kenangan masa lalu ketika ku bersekolah Menengah Pertama. “ Dimana Hati kamu sekarang, d? Apa ku gak bias nemuinnya lagi?” Ku lelah. ku mematikan Audio
Playern. Dan Peterpen pun berhenti menyanyi. *** Nun jauh disana, entah Anis sedang melakukan apa. Apakah sama juga sedang teringat pada masa laluanya bersamaku. “ A… kamu dimana? D’ takut a’ kenapa-napa…!” a’ kemana teriak anis penuh kekhawatiran ketika ku Pergi Kabur Meninggalkan Rumah . Dan ku memang sedang terombang-ambing diantara hidup dan mati ditengah masalah Hidupku itu. Aku pergi pergi meninggalkan Pulau Jawa. Pesan terakhirku saat itu ku bilang “ d’, kamu baik-baik ya dsini, insya allah nanti kita ktemu lagi, jaga diri baik-baik d’ ”. Anis tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menangis. “ Aaaaaaaaaaaaaaaaa…!” teriaknya saat disekolah dan mencertakan kepergiaanku kepada teman-teman yang lain. Segera Anis bersama teman- teman yang lain mencoba mencariku. HP ku lobet, ia tak bias Kontek denganku, dan akupun tak bicara jika ku pergi kemana? Tapi ku juga merasa gelisah, hingga akhirnya ku Sempat SMS dia menggunakan HP orang lain. Hingga aku berulang-ulang di- Telponnya, Hingga akhirnya ku Terayu olehnya tuk Pulang. 3 hari Kepergiaanku ternyata membuatku mengetahui berapa besar Sayang Anis untukku. Hari-hari kita memang selalu berdua tak pernah terpisahkan. Berangkat dan pulang sekolah, selalu berdua. Mendapat Peran Teater pun menjadi pasangan Raja dan Ratu. Cinta sudah terpatri dihatiku dengannya meski tak terucap kata cinta itu. Cinta itu tumbuh dengan sendirinya. Padahal, orang tua ia tak setuju dengan ke akraban aku dengannya. Tapi,
biar orang tua tak setuju. Kita berikrar tak akan pernah terpisah untuk selama- lamanya. “ KR-EHB IS TRUE LOVE, AND ALWAYS TOGETHER FOREVER!” begitu janji ku pada Anis. Dan kenyataan kita terpisah. Ternyata Aku tak seperti dulu dan Anispun bukan anis yang ku kenal dulu. Tapi sungguh ku masih sangat mencintainya. *** Tiga tahun tentu bukanlah waktu yang sebentar, itu adalah waktu yang sangat lama untuk membangun sebuah Bangunan Cinta nan amat Kokoh . Selama sekian tahun itu, aku dan Anis bersama. Namun itu tak meluluhkan kerasnya Hati Anis sekarang, ia seakan tak acuh lagi denganku, dan sampai aku memutuskan tuk memcoba Membencinya. “ D’… kenapa kamu sekarang? Tahukah kamu, aku sangat mencintaimu?” ku coba menitipkan kata pada angin yang bersiyur. Mudah- mudahan saja Anis mendengarnya disana. Tiga tahun runtuh seperti ini. Tak ka nada lagi lika-liku Cinta antara ku dengannya,, Jika ada sebuah Penghargaan munkin aku dengannya adalah Pasangan yang sangat banyak mendapatkan penghargaan, Pasangan Putus- Nyambung, Pasangan ter- unik, Ter-Aneh, Ter-, Ter- dech.
Tapi kini hanya Harapan, seketika Hati Anis Membeku sekeras batu nana mat besar yang tak bisah terluluhkan lagi. Hancurlah harapanku untuk bisa slalu dengan cintanya itu. “ Bagaimana jika ternyata Anis mengkhianatiku, lalu ia kini bersanding dengan orang lain” . Hati ku mulai berprasangka yang tidak- tidak, karena ku paling tak terima jika ia dekat dengan orang lain”. “ Ah, tapi buat apa, aku tak terima! Itu Haknya, dia mau punya Pacar baru tah, balikan ma pacar lamanya tah,, aku tak punya hak ngurusin dia lagi” Gertak hatiku, memarahi diriku yang Egois ini. Ah, hatiku berperang, bergejolak pertarungan kata- kata antara Ego dan Hatinya. “ Sekali lagi, aku yakinkan padamu, Mi. Anis bukan Siapa- siapa lagi untukmu. kamu tak punya hak lagi ngurusin dia..” bisik hati Ku. Disini kumelihat atap dinding yang bolong. ku seperti melihat bayangan masa lalunya ketikaku Kabur dan Anis menangis khawatir. Huh! *** Di kamar ini ku Sejenak Terdiam, mencoba Menerima semuanya yang telah terjadi. Yang Sudah, YA SUDAHLAH!! Mungkin ini adalah akhir dari Perjalananku dengannya,, dan langkah awal tuk melangkah kembali mencari Cinta sejatiku. Kucoba hapus Kesedihannku, Menutup Cerita bersamanya dan membuka Cerita baru. Aku sejenak Tenang, hatiku dan Egoku mulai Selaras, beberapa menit itu telah membuatku melupakan Kepedihanku. Saat ku berpaling ke dinding kumelihat Boneka itu, boneka pemberiaan dari Anis. Huh, kembali Hatiku di Ingatkan kembali oleh Cerita lamaku bersama Anis. “Ya allah kapan ini semua akan berakhir, aku sudah tak tahan atas semua ini. Ya aku mencintainya, aku menyayanginya.. tapi ini semua tak bisa dipaksakan lagi” gemuruh Jiwaku bertanya kepada sang Ilahi. Lagi-lagi aku harus berperang dengan Hatiku, entah sampai kapan ini semuanya berakhir… tapi ku tak mau begini, mungkin butuh waktu tuk hapus semuanya. Pesanku untuknya ” Cinta ini memang tak Bisa karena Terpaksa, harus keTulusanlah yang bisa membuat Cinta Abadi, tapi bukan inilah Jalan terbaik yang kau Pilih. Tapi ya sudahlah ini semua telah Menjadi Keputusanmu” dan Permintaanku kepadanya ” Be the first woman I knew, my very dear. and looks beautiful and Sholeha always wherever you stepped your steps.

Cerita : Seorang laki laki tentang kejujuran

Ia terkenang sepuluh tahun
yang lalu. Pertama kalinya ia
harus berjanji dengan dirinya
untuk tidak pernah jujur.
Betapa ia ringis

mengenangnya. Tapi ia sadar harus melakukannya. Sejak
itu ia tidak pernah berkata
jujur kepada siapapun. Ia masih anak-anak 7 tahun
dari keluarga tidak berada.
Anak-anak sebesarnya sedang
sibuk mendaftar sekolah
pertengahan bulan Juli, ia
masih ingat betul tanggal 10. Teman-temannya pada sibuk
pergi ke pasar membeli buku,
baju sekolah, dan pensil.
Hanya ia yang tidak peduli
dengan kesibukan itu karena
ia tahu tidak akan sekolah. Tetangganya, Anto bertanya,
”Kamu tidak daftar Di?” Ia
menggeleng. Tepat hari pertama sekolah,
Anto terkejut melihat Budi
hadir di sekolah lengkap
dengan pakaian seragam. ”Kamu bohong, Di. Katanya
kamu tidak sekolah.” Itu pertama kalinya ia kenal
dengan kata bohong. Ia tidak
mampu menjelaskan kepada
Anto kenapa ia bisa hadir di
sekolah itu dan mengenakan
seragam pula. Ia masih ingat, ketika itu dikatakannya
kepada Anto, Mamaknya
mengirimkan uang untuk
biaya sekolahnya. Tapi Anto
tetap mengatakan bahwa ia
telah berbohong awalnya. Di musim layangan, teman-
temannya sibuk membuat
layangan dari bambu dengan
berbagai macam bentuk.
Berbeda dengan yang lainnya,
hanya ia tidak datang ke lapangan sekolah karena ia
tidak suka bermain layangan.
Namun, pada suatu siang, ia
datang membawa layang-
layang berbentuk kupu-kupu
ke lapangan sekolah. Teman- temannya bilang, ”Katanya
tidak mau main layangan.” Sejak itu tidak ada orang
yang percaya dengan
omongannya. Di sekolah, ia
lebih dikenal dengan nama
Panduto. Lebih akrab dengan
nama Pandu. ”Oh, Pandu,” begitu kata teman-temannya. Bila teman-temannya bermain
dadu atau gambar, Budi tidak
pernah diajak. Berenang ke
sungai juga tidak. Tapi Budi
selalu datang sendiri. Ia tidak pernah senang
dengan panggilan Pandu yang
diberikan teman-teman
kepadanya. Ingin
dijelaskannya kenapa ia tidak
senang bermain layangan. Ia harus membantu ibunya ke
sawah untuk menanam padi.
Daripada teman-temannya
kecewa, ia bilang saja tidak
suka main layangan. Tapi,
pada hari kedatangannya ke lapangan sekolah, ibunya
menyuruh bahkan memaksa. ”Hari ini kamu tidak usah
bantu ibu ke sawah. Main
layanganlah dengan teman-
temanmu,” begitu kata ibu. ”Tapi saya sudah mengatakan
kepada mereka bahwa saya
tidak suka main layangan.
Saya bantu ibu saja di sawah.” Ibu terus memaksa dan
memberikannya sedikit uang
untuk membeli layangan
yang dijual di kedai Pak Amin.
Ia terpaksa melakukannya. Ada yang tidak bisa diterima
teman-temannya, pada hari
Jumat, sebelum mengaji di
surau. Mereka bersama telah
sepakat untuk tidak datang
mengaji. Tos-tosan tanda kesepakatan. Hari itu, mereka
akan main kelereng. Dari
rumah masing-masing,
semuanya tetap membawa
kain sarung dan AlQuran. Di
suatu lapangan yang jauh dari rumah, rencananya mereka
akan berkumpul. Tidak lupa,
dalam kesepakatan,
semuanya harus membawa
kelereng yang banyak. Siapa
yang kalah mesti memberikan kelerengnya kepada
temannya yang menang. Pertama yang datang ke
lapangan Soni. Ia duduk di
rumput sambil menunggu
kedatangan temannya yang
lain. Datang Anto, Pardi,
Ilham, Aldo, dan Gilang. Sebelum memulai permainan,
mereka bercakap-cakap
tentang hukuman yang akan
diterima dari guru mengaji
yang terkenal dengan
hukuman berdiri dengan kaki sebelah itu. ”Kalau bersama tidak terasa
hukuman itu,” kata Anto
membuka suara. ”Biasa saja.” ”Atau, karena kita ramai-
ramai, kita dikeluarkan
mengaji,” Ilham sedikit takut. ”Mana mungkin Guru Bidin
akan mengeluarkan kita
mengaji. Dengan apa ia akan
makan? Bukankah hanya ini
pekerjaannya?” Gilang
mematahkan pernyataan Ilham Lama mereka berbincang,
mereka ingat seorang
temannya lagi, Budi. ”Pandu kemana? Kenapa ia
belum datang?” ”Tunggu saja. Barangkali
sebentar lagi ia akan datang.” Setengah jam mereka
menunggu, Budi tidak juga
datang. ”Dasar Pandu. Ia pasti
berbohong lagi. Kita mulai saja
permainan,” ajak Aldo yang
dari tadi hanya diam
mendengarkan teman-
temannya berbicara. Keesokan harinya, ketika
istirahat siang, Budi
dikerumuni teman-temannya
dan dibawa ke suatu tempat
yang lengang. ”Kamu berbohong lagi.” ”Maaf,” kata Budi singkat. Ia lalu bercerita tentang
ibunya. Tidak ada niat untuk
melanggar kesepakatan itu.
Saya pun suka bermain
kelereng. Tapi entah mengapa,
ketika akan pergi mengaji, saya iba melihat ibu yang baru
saja pulang dari sawah. Ia
berkeringat dan jelas
kelelahan seharian
membanting tulang di sawah.
”Kamu tidak ke surau, Nak?” kata ibu. Saya tidak akan
membohongi ibu, makanya
saya pergi mengaji. Teman-temannya melongo
mendengar Budi bercerita.
Tapi mereka tetap tidak
terima karena nanti sore
mereka semua akan dihukum
berdiri dengan kaki sebelah di tepi sawah dekat surau
sebelum bisa mengaji lagi.
Yang paling ditakutkan, andai
Guru Bidin melaporkan
kepada orang tua masing-
masing. *** Ia pergi dari kampungnya
setamat sekolah dasar.
Membantu ibunya yang sudah
semakin tua. Terlebih, ia tidak
ingin dipanggil Pandu. Di
tempatnya yang baru, ia berjanji pada diri sendiri
untuk tidak pernah lagi
berbohong, dalam keadaan
apapun. Ia tidak akan banyak
berbicara karena semakin
banyak berkata-kata semakin banyak pula omongan itu
yang tidak bisa
dipertangungjawabkan. Garis nasib membawanya
kepada keberuntungan.
Sifatnya yang luwes dalam
bergaul mengantarkan ia
berkenalan dengan Kusniadi,
kepala instasi di bidang pendidikan. Ia dibawanya
berkeja di kantornya sebagai
tenaga honorer. Kusniadi
bahkan menjanjikan suatu
hari nanti ia akan menjadi
pegawai tetap dan di SK-kan. Sampai pada suatu hari ia
mendengar kabar dari
kampung, ibunya sakit keras.
Ketika itu ia baru bekerja
selama dua bulan. Ia lalu minta
libur dan mengatakan alasannya kepada Kusniadi.
Kusniadi mengizinkannya
pulang dan memberikan
waktu libur selama seminggu. Belum sampai sebulan setelah
ia kembali bekerja, ibunya
kembali sakit. Kali ini lebih
parah dari dua bulan yang lalu.
Ditemuinya Kusniadi dengan
alasan yang sama. Tapi jawaban Kusniadi tidak bisa
diterimanya. ”Kamu berbohong. Dua bulan
lalu kamu katakan ibu kamu
sakit. Sekarang sakit lagi.
Saya tidak percaya.” ”Benar, Pak. Kalau Bapak tidak
percaya, silahkan ikut saya ke
kampung.” ”Alasan kamu saja. Kalau
kamu pulang, kamu tidak
akan saya perbolehkan lagi
masuk kantor.” Ia tidak mendengarkan
Kusniadi. Ia pulang ke
kampung melihat ibunya
yang sakit, walau tidak tahu
lagi harus bekerja apa
sekembali dari kampung. Ibunya harus dirawat di
rumah sakit, ia terserang
tumor ganas dan harus
dioperasi. Tapi ia tidak cukup
punya uang untuk merawat
ibunya di rumah sakit, apalagi untuk biaya operasi. Askes
yang diurusnya di kantor Wali
Nagari tidak dapat
menanggung biaya operasi.
Hanya cukup penyediaan
tempat saja, itu pun di kamar yang tidak layak huni.
Untunglah, seorang rentenir
mau meminjamkannya uang
sebesar sepuluh juta dan
dibayar 20% bunganya. Ia
tidak peduli asalkan ibunya sembuh. Dokter berhasil mengangkat
tumor ganas yang bersarang
di kepala ibunya. Alangkah
senangnya Budi, tapi ia harus
berpikir lagi untuk menulasi
hutangnya kepada rentenir yang dijanjikannya lima
tahun dengan bunga hampir
sama dengan yang dipinjam. Ia pergi ke Pekanbaru. Di sana,
banyak orang kampungnya
yang bekerja. Kota itu begitu
terbuka bagi siapa saja yang
mau berusaha. Kebanyakan
orang-orang kampungnya yang merantau ke Pekanbaru
menjadi kaya ketika pulang
kampung waktu lebaran. Ia diterima Soni di Pekanbaru.
Soni berkerja sebagai
pedagang mainan anak-anak.
Memasuki pasar-pasar yang
dihuni oleh orang-orang
transmigrasi. Soni menggajinya cukup besar,
untuk ukurannya. Lagi pula,
laba yang diperoleh dari
berdagang cukup besar. Di
daerah transmigrasi, harga
bisa dilambungkan daripada dijual di pasar Pekanbaru. Satu
jenis pistol anak-anak yang
dibeli dengan harga 15.000,
bisa dijual di daerah
transmigrasi tersebut 25.000.
Mereka tidak protes karena memang tidak tahu harga dan
jarang pergi ke kota. Lagi-lagi,
ia bernasib mujur. Setelah
uangnya banyak terkumpul,
ia bisa berdagang sendiri. Dagangannya tetap mainan
anak-anak. Tapi, ia berdagang
tidak seperti Soni. Soni
menjual satu pistol anak-anak
seharga 25.000 dengan modal
15.000, ia menjual 50.000. Entah berapa kali lipat dari
modal yang ia beli. Bukan
tanpa perkiraan, tapi ia
percaya, ada orang-orang
yang tetap akan membeli
karena ia punya cara lain: berdagang dengan mulut. ”Pistol-pistolan ini saya
dapatkan dari seorang anak
pejabat di Pekanbaru. Tentu
ibu tahu, mana ada pistol-
pistolan anak orang kaya
yang jelek? Ini tahan lama. Lebih penting, anak ibu punya
mainan anak orang kaya.” ”Berapa harganya?” ”Lima puluh ribu saja, Bu.” Ibu itu kaget dan sepertinya
hendak beranjak dari situ. ”Tidak akan ibu temui di
manapun pistol semacam ini.
Lihat mereknya, Bu. Made in
Amerika. Saya yakin, ini
pistol dibeli di sana.” Anaknya merengek dan
menunjuk-nunjuk ke arah
pistol-pistolan yang
ditawarkan Budi. Ia mampu meyakinkan ibu
itu, dan ibu-ibu yang lain
dengan caranya masing-
masing. Berkat caranya
berdagang, dalam waktu tiga
tahun, ia mampu membayar hutangnya kepada rentenir di
kampungnya. Bunganya,
rencananya dalam tenggang
waktu setahun lagi ia janjikan
akan dibayar. *** Budi mampu membayar
hutangnya kepada rentenir
tepat pada waktu yang ia
janjikan. Ia kini telah
mengirimkan uang belanja
tiap bulan kepada ibunya di kampung. Membuatkan
ibunya tempat tinggal yang
layak dan mengembalikan
sawahnya yang tergadai dulu. ”Pandu telah kaya sekarang,”
kata orang-orang kampung. ”Saya yakin kerjanya menipu
orang. Ia kan paling lihai
dalam hal itu,” timpal warga
yang sepertinya tidak senang
dengan keberhasilan Budi. Ia pulang ke kampungnya
tiga hari menjelang lebaran.
Warga kampungnya terkejut,
Budi pulang tidak naik bus,
tapi mobil sedan, untuk
ukuran kampung sudah dianggap wah. Di hari lebaran, ia
menyumbang untuk
pembangunan masjid
sebanyak satu juta rupiah.
Dari mikropon masjid
diumumkan keras-keras. ”Bagi saudara-saudara yang
balik dari rantau, silahkan
sumbangkan jerih payah itu
untuk pembangunan masjid
kita yang masih terbengkalai.
Bidin satu juta rupiah. Ayo, siapa lagi?” Anto, temannya waktu SD
datang ke rumahnya
bersilaturrahmi. Ketika datang
ke rumah Budi, ia telah lupa
dengan Pandu. Yang ada di
depannya sekarang adalah Budi, sahabatnya sewaktu SD
dulu. ”Sudah kaya kau sekarang, Di.
Apa pekerjaanmu?” Ditatapnya sahabat lamanya
itu. Dengan pasti
dijawabnya,”Berbohong.”

Cerpen: Mata yang berlabuh

Matahari kelabu. Udara
bisu.Tak ada suara lengkingan
renyai yang menyeruak
seperti biasanya setiap kali ia
jejakkan kaki di daratan yang

berpasir. Tidak pula suara perempuan yang lantang,
yang dengan lari-lari kecilnya,
menghalau anak yang
berlarian di depannya itu dari
air laut yang merambati kaki
mereka. semuanya telah menghilang. Tapi masih ada yang belum
ditemukan. Karena itu,
Abdullah, laki-laki yang
berjalan terseok itu, terus
mencari-cari. Tangannya telah
lelah, hampir tak sisakan tenaga. Tapi gelombang di
dadanya lebih besar daripada
kehendak tubuhnya. Ia
paksakan kakinya melangkah
meski nyeri mulai menusuk
pada memar kakinya. Abdullah hentikan langkah.
Layangkan matanya pada
langit. Ia tidak tahu lagi
apakah ini siang atau malam.
Waktu telah berhenti sejak
peristiwa itu. Tapi ia butuh waktu untuk mengais sisa
tenaganya. Lalu apa yang
masih menggerakkannya?
Tubuh? Tidak. Tubuh itu sudah
tidak berfungsi lagi. Namun,
kalau pun kaki itu harus dicabut dari tungkainya,
Abdullah akan terus berjalan.
Semuanya memang telah
sirna. Tapi masih ada yang
tertinggal. Karena itu, ia masih
mencari. Sepanjang beberapa depa, Abdullah kembali
menghentikan langkah.
Kakinya dilanda nyeri. Seribu
semut merah seperti
menggigiti urat kakinya.
Abdullah Memijit-mijitnya dengan perlahan. Hanya
istirahat sejenak. Sebab
sesudahnya, dengan rasa sakit
yang masih menyisa,
Abdullah berjalan kembali. Mungkin rasa sakit itu sudah
hilang. Bersama tumpahan air
mata yang membanjir
berhari-hari sebelumnya
hingga tak menyisa. Meskipun
ia minum seluruh air laut di Pantai Ulee Lheu, itu takkan
bisa menggantinya. Abdullah
pun telah menghapus air mata
itu dalam catatan di darahnya.
Seperti beku telah
membungkus hatinya. Hanya dengan mata ia berjalan. Mata
yang gelap.Berhari-hari yang
lalu, Abdullah telah jelajahi
seluruh tempat. Puing-puing
yang luruh. Mayat-mayat
yang serak. Ada tetangganya, teman melaut, teman
anaknya yang sering
menunggui kapal ikan datang,
penjaga surau kampung.
Namun ia tak ada di sana.
Karena itu, Abdullah terus mencari.”Sudahlah, Abdullah.
Istirahatlah sejenak. Badanmu
sudah letih.” Ia tidak begitu awas, apakah
itu suara istrinya atau
tetangganya. ”Nanti saja. Aku selesaikan dulu
pekerjaan ini. Nanti aku
kembali.”
Tidak. Ia telah berbohong
pada istrinya. Kembali? Aku
belum menemukan yang kucari, maka aku tidak akan
kembali. Lagipula kemana aku
akan kembali? Abdullah
menggeleng-gelengkan
kepalanya. Tak kan ada
langkah surut, suara hati Abdullah kuatkan
langkahnya.Istrinya memang
memahami sikapnya. Batu
yang keras itu tak akan
mudah dilebur dalam satu
pukulan kampak.”Anakmu sudah menanti. Mengapa
engkau masih tak tahu juga,
Abdullah. Bukankah engkau
tahu mereka sudah
menantimu untuk makan
siang.”Sedetik tubuh Abdullah mengeras. Matanya tajam
menentang ke atas. Ada yang
dicarinya di sana. Tapi tak ada
apa-apa. Langit tak biru. Merah memantul dari lensa
matanya. Hanya angin yang
berkesiur. Selebihnya tak ada. ”Nantilah. Nanti saja. Aku
belum ingin pulang.” ”Apa yang kau cari, wahai
Abdullah? Kau tak turuti
anjuran istrimu. Mengapa engkau masih bengal
juga, Abdullah! ”Itu suara ayahnya. Suaranya
keras, seperti dirinya.
Abdullah tak peduli.
”Kemana engkau akan pergi,
anakku?” perempuan yang
matanya kelabu memanggilnya serupa
angin.”Tak usah hiraukan aku,
Bu.”Abdullah terus berjalan.
Kakinya yang menyusut dari
waktu ke waktu dan makin
kehilangan daya tak mampu kalahkan kehendaknya. Mayat-mayat bergelimpangan
seperti rongsokan. Bau sengat
yang mengundang
kerumunan lalat menggunduk
di setiap setiap tempat. Tapi
Abdullah tak hiraukan itu. Matanya yang berpijar merah
melata, susuri setiap mayat
yang bergelimpangann itu.
Tangannya mengorek satu
demi satu mayat yang
terhampar di kakinya. ”Ia tak ada di sana !” Ibunya berseru. Rambut
peraknya berkeriyap
dihembus angin. Abdullah
tidak ingin mendengar.
Kakinya terus ia seret.
”Pulanglah, Abdullah. Maka kau akan menemukannya,”
suara ibunya memanggil lagi.
Langkahnya makin melata.
Seluruh sendi-sendi kakinya
bergetar, merambat ke engsel
tubuhnya. Tapi Abdullah tak mau mengalah pada keadaan
tubuhnya. Ia seret kakinya
dengan sisa tenaga. Jalan
ibarat pasir yang menusuk
luka di tubuhnya. Serakan
mayat itu masih bergelimpangan di kanan-kiri.
Halangi langkah tubuhnya
yang makin ringkih. Mata-
mata mereka membuka.
Seperti hendak
menyampaikan pesan pada Abdullah. ‘Sudahlah, Abdullah. Pulanglah
ke rumah.” Abdullah singkirkan suara-
suara itu dari udara. Langit
menjadi-jadi bekunya. Hanya
ada suaranya yang mengapai-
gapai udara. Ia hampir
kehilangan keseimbangan ketika kaki kanannya
menabrak tubuh yang
membujur. Tubuhnya
mencoba menahan lengkung
badannya yang hampir jatuh
ke tanah. Tapi bumi seperti ingin memeluknya dan
merengkuhnya. Berat
badannya condong ke tanah. Bunyi berdebam memecah
sunyi ketika tubuhnya yang
labil menimpa mayat itu. Mata
yang putih. Seperti daun
jendela yang membuka lebar.
Menyeret Abdullah masuk dan terhisap ke dalamnya.
Mata yang berkata. Mengapa
kau tak yakin ini semua,
Abdullah. Kemana kau
campakkan imanmu itu.
Pulanglah. Kembalilah ke rumahmu. Abdullah menggeram.
Diamlah. Semuanya sudah
kosong. Hambur oleh angin
yang membawa pergi. Hanya
satu yang masih tersisa. Aku
sedang mencarinya dan ingin membuktikan keberadaan-
Nya. Jadi singkirkan kakimu,
hai mayat yang tak punya
rasa. Tak ada yang dapat
menghalangi langkahku. Dengan menahan sakit pada
tangan kirinya yang menimpa
aspal kasar, tangan Abdullah
menjangkau tongkat kayu
dengan tangan kanannya.
Ketika tumpuannya telah kukuh, Abdullah menaikkan
tubuhnya ke atas. Begitu
susah payah ia menegakkan
tubuh. Tapi siapakah yang bisa
mengalahkan kekerasan
hatinya? Setelah tubuhnya tegak
seimbang, Abdullah
menendang mayat itu. Ia
injak dengan kaki kanannya
yang masih menyimpan
tenaga. Lalu mendengus. Jalan yang ditempuh Abdullah
makin menyempit dalam
pandangan matanya yang
kelabu. Tapi ia terus berjalan.
Beberapa depa di depannya,
Abdullah tersentak. Masjid Baiturrahman masih berdiri
tegak. Seperti mercusuar
tinggi di tengah lautan puing-
puing yang menyerak.
Warnanya yang putih
pantulkan kilau matahari ke seluruh padang yang luas.
Padang mahsyar. Abdullah semakin kebut
langkahnya. Seperti roda,
kakinya yang pincang
bergerak cepat. Ia berlari.
Seperti kuda sembrani yang
melintas di permukaan laut yang tenang. ”Mau kemana engkau,
Abdullah?” Abdullah tak menjawab. Ia
terus seret langkahnya.
Menekan gemuruh yang
berputar dahsyat di
kepalanya. Adakah Engkau di
sana? Dadanya bergetar hebat. Sudah habis air matanya sejak
berhari-hari lalu. Tapi apa yang
ada di dadanya ini? Begitu
hebat guncangannya, begitu
keras gemuruhnya. Ketika
tak ada lagi yang bisa menahannya, Abdullah
meraung hebat. Seluruh
persendiannya patah dan
lunglai. Ia terjerambab dengan
tubuh kehilangan daya. Dan
terduduk di teras masjid dengan mata yang buta.
Dengan tubuh yang tergugu.
Adakah badai yang lebih
besar dari ini, Ya Allah?
Abdullah menangis. Hatinya
basah. ”Apakah engkau
menemukannya, Abdullah?”
Suara yang jauh meruapi
telinganya. Dagu Abdullah mengangguk
makin hebat. Air mata
menggenang di wajahnya.
Membasah di janggutnya
yang tipis. Seperti kilau
minyak zaitun. Tak sanggup gelombang suara keluar dari
kerongkongannya yang
tercekat. Hanya lirih yang
mengisi udara. ”Bagaimana mungkin,
bukankah matamu telah buta,
Abdullah?” Suara yang lembut
menghunjam dadanya.
Air mata Abdullah makin
menderas. Tubuhnya lumpuh. Tak kuat menahan guncangan
yang kuat dalam dadanya.
Matanya memang telah buta.
Sejak gelombang pasang itu
meraup seluruh hidupnya. Ia
tak melihat apa-apa lagi. Tapi air mata yang membasuh
hatinya membukakan semua
pintu yang terkatup. Ia seakan melihat istrinya,
ibunya, bapaknya, dan
Ibrahim anaknya
melambaikan tangan ke
arahnya. Lalu di sebelah-
sebelahnya, tetangga rumah, teman sesama nelayan.
Senyum mereka merekah.
Ikhlas. Seperti kuntum-
kuntum embun yang
membeningkan pagi. Lalu
perlahan semuanya mengabur serupa kabut yang membias
di fajar subuh.
Suara adzan menyayat
telinganya. Abdullah merasa
tubuhnya melayang dalam
udara. Menyatu dalam ruang hampa. Ketika tersadar, ia
melihat tubuhnya bersimpuh
di depan mihrab masjid.
Begitu kecil. Dan tanpa
daya.