Selasa, 29 Oktober 2013

Dua remaja yang cantik hatinya

Ada dua kakak-adik perempuan, satu namanya Puteri (usia 13 tahun, SMP), satu lagi namanya Ais (usia 16 tahun, SMA). Mereka tidak beda dengan jutaan remaja lainnya, meski tidak berlebihan, juga ikutan gelombang remaja yang menyukai budaya populer saat ini, seperti lagu-lagu, boyband, film-film, dsb. Kabar baiknya, dua anak ini memiliki pemahaman yang baik, berbeda, dan itu akan menjadi bagian penting dalam cerita ini.
Suatu hari, guru agama di sekolah Puteri menyuruh murid-muridnya untuk membuat karangan tentang berqurban. Ini jadi muasal cerita, jika murid-murid lain hanya sibuk membaca sejarah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, lantas menulis karangan, Puteri, entah apa pasal, memasukkan cerita hebat itu sungguh-sungguh dalam hatinya. Tercengang. Dia bahkan bertanya pada orang tuanya, di meja makan, apakah keluarga mereka pernah berqurban. Setelah saling tatap sejenak, orang tua mereka menggeleng, tidak pernah. Ayah mereka buruh pabrik, Ibu mereka karyawan honorer, ibarat gentong air, jumlah rezeki yang masuk ke dalam gentong, dengan jumlah yang keluar, kurang lebih sama, jadi mana kepikiran untuk berqurban.

Puteri memikirkan fakta itu semalaman, dia menatap kertas karangannya, bahwa keluarga mereka tidak pernah berkorban, padahal dulu, Nabi Ibrahim taat dan patuh mengorbankan anaknya. Bagaimana mungkin? Tidakkah pernah orang tua mereka terpikirkan untuk berkorban sekali saja di keluarga mereka? Puteri mengajak bicara kakaknya Ais. Dan seperti yang saya bilang sebelumnya, dua anak ini spesial, mereka memiliki pemahaman yang baik, bahkan lebih matang dibanding orang-orang dewasa.
Maka, mereka bersepakat, mereka akan melakukan sesuatu. Uang jajan Puteri sehari 8.000 perak, dikurangi untuk naik angkot, bersisa 4.000 untuk jajan dan keperluan lain.
Uang jajan Ais, 10.000 perak, dikurangi untuk naik angkot, bersisa 6.000, juga untuk jajan dan keperluan lain. Mereka bersepakat selama enam bulan ke depan hingga hari raya qurban, akan menyisihkan uang jajan mereka. Puteri memberikan 2.000, Ais memberikan 3.000 per hari.
Enam bulan berlalu, mereka berhasil mengumpulkan uang 1,1 juta rupiah. Menakjubkan. Sebenarnya dari uang jajan, mereka hanya berhasil menabung 600.000, mereka juga harus mengorbankan banyak kesenangan lain. Membeli buku bacaan misalnya, seingin apapun mereka memiliki novel-novel baru, jatah bulanan untuk membeli buku mereka sisihkan, mending pinjam, atau baca gratisan di page/blog, sama saja. Mereka juga memotong besar-besaran jatah pulsa dari orang tua, itu juga menambah tabungan. Juga uang hadiah ulang tahun dari tante/om/pakde/bude.
Alhasil, enam bulan berlalu, dua minggu sebelum hari raya qurban, mereka punya uang 1,1 juta. Aduh, ternyata, saat mereka mulai nanya-nanya, harga kambing di tempat penjualan-penjualan kambing itu minimal 1,3 juta. Puteri sedih sekali, uang mereka kurang 200rb. Menunduk di depan barisan kambing yang mengembik, dan Mamang penjualnya sibuk melayani orang lain.
Tapi kakaknya, Ais, yang tidak kalah semangat, berbisik dia punya ide bagus, menarik tangan adiknya untuk pulang. Mereka survei, cari di internet. Tidak semua harga kambing itu 1,3 juta. Di lembaga amil zakat terpercaya, dengan aliansi bersama peternakan besar, harga kambing lebih murah, persis hanya 1.099.000. Dan itu lebih praktis, tdk perlu dipotong di rumah. Dan tentu saja boleh-boleh saja nyari harga kambing yang lebih murah sepanjang memenuhi syarat qurban.
Senang sekali Puteri dan Ais akhirnya membawa uang tabungan mereka ke counter tebar hewan qurban tsb. Uang lembaran ribuan itu menumpuk, lusuh, kusam, tapi tetap saja uang, bahkan aromanya begitu wangi jika kita bisa mencium ketulusan dua kakak-adik tsb.
Mereka berdua tdk pernah bercerita ke orang tua soal qurban itu. Mereka sepakat melupakannya, hanya tertawa setelah pulang, saling berpelukan bahagia. Dua bulan kemudian, saat laporan qurban itu dikirim lembaga amil zakat tersebut ke rumah, Ibunya yang menerima, membukanya—kedua anak mereka lagi main ke rumah tetangga, numpang menonton dvd film, Ibunya berlinang air mata, foto2, tempat berqurban, dan plang nama di leher kambing terpampang jelas, nama Ibunya.
Itu benar, dua kakak-adik itu sengaja menulis nama ibunya. Itu benar, dua kakak-adik itu ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Tapi di atas segalanya, dua kakak-adik itu secara kongkret menunjukkan betapa cintanya mereka terhadap agama ini. Mereka bukan memberikan sisa-sisa untuk berqurban, mereka menyisihkannya dengan niat, selama enam bulan. Itulah qurban pertama dr keluarga mereka. Sesuatu yang terlihat mustahil, bisa diatasi oleh dua remaja yang masih belia sekali. Besok lusa, jika ada tugas mengarang lagi dari gurunya, Puteri tdk akan pernah kesulitan, karena sejak tahun itu, Ibu dan Ayah mereka meletakkan kaleng di dapur, diberi label besar-besar: ‘Kaleng Qurban’ keluarga mereka.
**Jika kita menghabiskan uang 100rb lebih setiap bulan untuk pulsa internetan, dll, maka tidak masuk akal kita tidak punya uang untuk berqurban. Belum lagi ratusan ribu buat makan di luar, nonton, jutaan rupiah buat beli gagdet, pakaian, dll. Begitu banyak rezeki, nikmat dari Tuhan, jangan sampai seumur hidup kita tdk pernah berqurban. Beli pulsa itu setelah menabung untuk qurban, bukan sebaliknya berqurban datang dari sisa2 beli pulsa.
Maka buat yang tidak mampu uangnya, ayo mari menabung sejak sekarang, sisihkan. Buat yang tidak mampu niatnya—padahal uangnya banyak, ayo mari ditabung juga niatnya, dicicil, semoga saat tiba hari raya qurban, niatnya sudah utuh.
Journal of Ghazi: Jangan pernah bilang (dont even dare to think) kalau kamu gak mampu buat qurban. Atau berqurban cukup sekali seumur hidup. Okelah sekali atas nama sendiri. Besok-besok terus qurban lagi atas nama orang lain. Atas nama orangtua misalnya, atau qurban buat yang benar-benar gak mampu.
Buat berqurban juga mudah kok. Bisa melalui masjid-masjid terdekat atau bisa lewat Badan atau Lembaga Amil Zakat khusus yang menangani qurban juga bisa. Jadi gak ada alasan ribet lah.
Malu lah kalo udah punya penghasilan tapi tiap tahun cuma bisa nadah jatah bon qurban dari RT (protes lagi kalo cuma dapet dikit ckck). Malu lah buat qurban yang sekali setahun aja bilang gak mampu tapi di tahun yang sama udah ganti-ganti gadget 
Buat teman-teman, sodara, sahabat yang belum / akan / sudah berpenghasilan, yuk qurban yuk, masih ada waktu.

Kehilangan

Rencana Tuhan selalu berakhir dengan kebaikan. Jika kamu merasa rencanaNya belum baik, maka sesungguhnya rencana Tuhan itu belum berakhir.
Setiap kejadian selalu menghadirkan banyak persepsi. Tergantung dari bagaimana cara kita memahami dan memandang kejadian tersebut. Bisa hitam atau putih. Baik atau buruk. Senang atau susah. Lapang atau sempit. Dan lain sebagainya. Bagi manusia, setiap kejadian adalah relatif; bergantung pada cara ia memandang kejadian tersebut.
Tapi sesungguhnya setiap apa yang terjadi adalah selalu berakhir dengan kebaikan. Bagi kita yang memiliki iman kepadaNya, Dia Yang Maha Pengatur, setiap kejadian adalah sesuai dengan rencanaNya. Dan setiap rencanaNya selalu berakhir dengan kebaikan. Jika pun manusia merasa rencanaNya tidak baik: periksalah kembali iman kepadaNya. Dan tahukah kamu bahwa saat kita merasa rencanaNya “tidak baik” maka sesungguhnya rencanaNya hanya belum berakhir saja.
Manusia harus mau mengerti bahwa semua yang sudah ditetapkanNya tidak ada yang salah, tidak ada yang memberatkan, tidak ada yang membebani. Hanya saja, manusia sering terburu-buru mengartikan segala sesuatu, setiap kejadian langsung menyalahkan pihak lain. Mencari “kambing hitam” atas segala kejadian yang dianggap tidak baik. Bahkan hingga menyalahkan Tuhan untuk sesuatu yang dirasa menyedihkan.
Mudah saja sebenarnya, berprasangka-baiklah terhadap hal apapun yang terjadi menimpa kita. Berfikir bahwa semua akan baik-baik saja, maka Tuhan akan membuatnya baik. Allah itu sebagaimana prasangka hambaNya.
Berfikirlah tenang dan mendalam dalam menghadapi masalah. Masalah ada sebagai ujian bagi kita untuk menjadi manusia yang lebih baik. Jangan pernah menyerah, kembangkan terus harapan padaNya. Memang, ini terdengar hanya sebatas teori saja. Pada prakteknya akan menjadi tidak mudah. Tidak masalah! Meski tidak mudah, pada kenyataannya pun sudah banyak orang yang bisa mengatasi masalahnya. Bahkan masalah yang lebih besar dari apa yang kita hadapi.
Baiklah, saya juga manusia biasa, dan saya juga pernah “terjatuh” dalam berbagai hal atau kejadian yang menyakitkan. Kalau pun ditanya apakah saya pernah bersedih, pastinya saya akan jawab: sangat pernah.
Memang tidak selalu menangis jika saya bersedih. Terlahir sebagai laki-laki akan ada aturan tidak tertulis untuk tidak menangisi suatu hal yang tidak patut ditangisi, meski itu menyedihkan. Tapi yang pasti tidak ada yang salah dengan menangis. Manusiawi kok! Selain karena Tuhan sudah menciptakan air mata; maka sayang sekali jika tidak dimanfaatkan untuk membersihkan mata. Juga, konon menangis adalah tanda bahwa hati kita masih hidup. Asal tak berlebihan saja. Toh, setiap yang berlebihan kan tidak baik, ya?
Masalah yang menimpa, ujian yang datang, kesulitan yang menghadang janganlah terlalu dirisaukan. Allah tidak akan menguji hambaNya melebihi kemampuan si hamba tersebut.
Ambil pelajaran dari setiap kejadian yang hadir dalam hidup kita. Saya sendiri adalah manusia yang masih belajar untuk itu. Saya hanya bisa memohon ampunan padaNya lalu sebisa mungkin merenungkan masalah yang hadir pada diri ini jika masalah hadir. Mungkin saja Tuhan sedang memberikan pelajaran bersabar secara private dan eksklusif pada saya untuk menjadikan saya manusia yang lebih kuat. Juga, menurut para alim ulama bahwa setiap masalah yang menimpa adalah salah satu bentuk kasih sayang Tuhan pula pada saya, kamu, dan kita semua.
Saya ambil contoh pelajaran tentang sebuah kehilangan. Kehilangan apapun atau siapapun seringkali menyakitkan. Apalagi jika itu semua adalah hal-hal yang kita cintai. Semua datang dan pergi sesuai kehendakNya. Di satu sisi kehilangan memberikan rasa sakit yang tiada terperi, tapi di sisi lain juga sebaliknya. Ada kebaikan, kebahagiaan, atau kebenaran lain yang seringkali terlepaskan dalam sisi pandangan manusia. Takdir indah!
Saya membaca sebuah buku “Dunia Tanpa Kacamata”. Dan didalamnya mengutip pula hikmah dari novel penuh hikmah berjudul “Rembulan Tenggelam Di Wajahmu” karya Tere Liye.
Ada seseorang yang mempertanyakan lima pertanyaan besar dalam hidupnya yang membuat orang ini jauh dari rasa syukur. Sebelum kematiannya, saat dia terbaring koma, dia diberi kesempatan untuk bertemu seseorang berbaju putih yang akan menjawab lima pertanyaan besar tersebut. Salah satu pertanyaan besarnya adalah, “Kenapa langit begitu tega mengambil istrinya yang sangat dicintai? Kenapa takdir menyakitkan itu harus terjadi?”
Pertanyaan itu adalah pertanyaan ketiga saat dia mendapati istrinya tidak terselamatkan saat melahirkan bayi yang juga tidak selamat.
Lalu orang berbaju putih itu menjawab, “Apapun bentuk kehilangan itu, ketahuilah, cara terbaik untuk memahaminya adalah selalu dari sisi yang pergi, bukan dari sisi yang ditinggalkan. Dalam kasusmu, penjelasan ini amatlah rumit kalau kau memaksakan diri memahaminya dari sisi kau sendiri, yang ditinggalkan. Kau harus memahami dari sisi istrimu yang pergi...”
“Kalau kau memaksakan diri memahaminya dari sisimu, maka kau akan mengutuk Tuhan, hanya mengembalikan kenangan masa-masa gelap itu, bertanya apakah belum cukup penderitaan yang kau alami. Bertanya kenapa Tuhan tega mengambil kebahagiaan orang-orang baik, dan sebaliknya memudahkan orang-orang jahat. Kau tidak pernah berdamai dengan kematiaan istrimu.”
“Malam itu, Tuhan tidak sedang menghukummu, malam itu saat rembulan bersinar terang, saat gemintang tumpah ruah di angkasa menjelang subuh, saat itu Tuhan sedang mengirimkan seribu malaikat untuk menjemput istrimu. Subuh itu dia menjemput takdir terbaiknya, takdir langit yang hebat. Istrimu pergi setelah mendapatkan tujuan hidupnya...”
Dari sana saya belajar, Allah (lebih) tahu waktu terbaik, kapan dia harus memanggil hambaNya “kembali”. Dan dari sana saya memahami kenapa ada kejadian yang namanya “perpisahan”. Bahwa tidak selamanya kita selalu bersama dengan orang-orang yang kita kasihi, sayangi dan cintai. Orangtua, istri atau suami, anak-anak, keluarga, teman-teman, bahkan benda-benda, harta, jabatan atau binatang peliharaan kita pun akan ada masanya kita merasa kehilangan pada mereka semua.
Manusia harus cerdas secara emosional dalam menyikapi kehilangan. Tidak ada yang abadi, semua datang dan pergi. Tetapi yang perlu diingat, Tuhan tidak pernah bermaksud sedikit pun menyusahkan. Kepada yang sedang bersedih karena kehilangan, serahkan semua kepadaNya dan kamu akan baik-baik saja.
... dan saya pun baik-baik saja ...

Jumat, 25 Oktober 2013

Pak Tua Dan Kereta Api

Pernahkah anda mendengar cerita Pak Tua dan kereta api? Makna yang terkandung dalam cerita ini melekat dengan kehidupan kita sehari-hari, akan tetapi sering kali kita lupakan begitu saja. Jika anda belum pernah mendengarnya, maka inilah ceritanya… Suatu ketika, seorang pak tua dengan penampilan yang cukup berwibawa masuk ke gerabak sebuah kereta api.
Pak tua tersebut terlihat cukup tua dan berwibawa hingga siapa saja yang melihatnya pasti menaruh hormat kepadanya. Seperti penumpang lainnya, pak tua tentu mencari tempat duduk yang sesuai untuknya kerana kereta api akan bergerak sebentar lagi. Dia telusuri deretan bangku demi bangku untuk mencari tempat duduk yang kosong.
Pertama kali dia melalui bangku yang diduduki anak-anak yang asyik bermain-main
"Assalamu’alaikum?", sapanya.
"Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh, Selamat datang atuk…", jawab mereka.
"Maaf anak-anak, adakah tempat duduk yang kosong untuk atuk?" tanya pak tua tersebut.
"Oh… sayang sekali tuk, sebenarnya kami nak membantu atuk dengan senang hati kerana atuk adalah orang yang kami patut hormati. Akan tetapi kami ni anak-anak yang gemar bermain, kami khuatir jika atuk akan terganggu dengan kegaduhan kami di dalam perjalanan, atuk cari tempat duduk lain la ye…", jawab mereka.
Maka pak tua pun pindah ke deretan bangku berikutnya… di situ dia mendapati muda-mudi yang sedang asyik berpacaran. Mereka duduk berduaan dengan mesra sambil sesekali melantunkan bait-bait puisi yang romantis…
"Assalaamu’alaikum?", sapanya.
"Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh, selamat datang atuk, ada yang boleh kami bantu?" kata mereka.
"Hmm… maaf adik-adik, adakah tempat kosong untuk atuk?" tanya pak tua.
"Ohh, tentu ada… akan tetapi sebagaimana yang atuk lihat, kami adalah anak-anak muda yang sedang asyik memadu cinta… kami khuatir atuk akan merasa risih melihat kami bermesraan di dalam perjalanan. Rasanya, lebih baik atuk mencari tempat duduk lain saja…" jawab mereka.
Pak tua pun melanjutkan perjalanannya menyusuri gerabak kereta api tersebut hingga dia sampai di deretan kerusi yang ditempati oleh para pengusaha. Mereka sedang asyik membicarakan projek-projek besar yang sedang atau akan mereka laksanakan. Sambil membentangkan kertas kerja mereka terlibat dalam pembicaraan serius…
"Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh!" kata pak tua.
"Oh.. Wa’alaikumussalaam warahmatullaahi wa barakaatuh… Ada apa Pakcik?" jawab mereka.
"Maaf, bolehkah encik2 beranjak sedikit untuk memberiku tempat duduk?" pinta pak tua tersebut.
"Pakcik, sebenarnya kami berbesar hati menerima pakcik di sini… akan tetapi pakcik lihat sendiri kami sibuk membicarakan bisnes dan usaha kami. Kami khuatir pakcik akan terganggu dengan kesibukan kami selama di perjalanan nanti… jadi, sebaiknya pakcik cari tempat lain saja", jawab mereka.
Demikianlah, pak tua terus berjalan terhuyung-huyung di tengah gerabak kereta api untuk mencari tempat duduk. Demikian seterusnya, tiap kali dia melewati sederetan tempat duduk selalu ada saja alasan mereka untuk menolaknya. Mereka memang menghargai pak tua itu mengingatkan usianya yang telah lanjut dan pancaran wibawanya, akan tetapi di hujung-hujungnya mereka tidak juga memberinya tempat.
Akhirnya, setelah menyusuri gerabak dari hujung, tibalah pak tua di deretan kerusi terakhir… Nampak di situ sebuah keluarga duduk bersama. Seorang ayah dengan baju jubah dan kopiahnya, si ibu dengan tudung labuh dan busana muslimahnya dan dua orang anak mereka yang masih kecil namun sopan-sopan.
Melihat pak tua yang nampak agak kepenatan itu, spontan si ayah berkata:
"Assalaamu’alaikum pakcik, ada yang boleh kami bantu?"
"Wa’alaikumussalaam warahmatullahi wa barakaatuh, oh terima kasih banyak…", sahut pak tua.
(Belum lagi pak tua mengutarakan hajatnya, lelaki tersebut telah pun menegur):
"Muhammad, mari kamu duduk sama abi di sini, dan Ahmad, kamu beranjak ke sebelah sana… biar pak tua duduk di sampingmu", kata Sang Ayah kepada kedua anaknya. Mereka pun segera menuruti perintah ayahnya dan memberikan tempat duduk kepada pak tua.
Alangkah bahagianya pak tua menerima budi baik seperti itu. Bukan saja senang mendapat tempat duduk, akan tetapi dia lebih bahagia kerana merasa dihormati dan dihargai oleh mereka. Kepenatannya mencari tempat duduk selama ini hilang begitu saja kerana mendapat tempat selesa tersebut.
Priiiit!!! Bunyi wisel tanda kereta api segera berangkat terdengar, dan perjalanan pun dimulakan. Seperti biasa, dalam perjalanan kereta tersebut singgah di beberapa stesen sebelum berhenti di tempat tujuan. Dan tiap kali kereta tersebut berhenti, selalu ada penjual makanan yang menawarkan dagangannya kepada para penumpang. ketika berhenti di stesen pertama, terdengar suara seorang penjual yang menawarkan berbagai makanan ringan, maka pak tua memanggilnya. Ketika orang tersebut datang, pak tua berkata kepada keluarga yang duduk bersamanya: "Ayuh, ambil apa saja yang kalian inginkan.. jangan malu-malu".
Maka mereka pun memesan semua makanan yang mereka suka.. lalu pak tua mengeluarkan dompetnya dan membayar semuanya. Seluruh penumpang terpana melihat kejadian tersebut. Mereka berbisik: "Wah, kaya juga orang tua itu.."
Tak lama kemudian, penjual bahagian makan2 pula melewati.. seperti biasa, mereka menawarkan menu-menu spesial seperti nasi dagang, nasi goreng, ayam goreng dan sebagainya. Pak tua memanggilnya dan menawarkan kepada keluarga tadi untuk memesan apa saja yang mereka inginkan.. lalu membayar seluruhnya. Maka para penumpang lainnya makin hairan dengan pemandangan tersebut, dan mereka mulai menyesali perbuatan mereka yang menolak pak tua untuk duduk bersama mereka sebelumnya.
Beberapa jam kemudian, kereta api tadi singgah di stesen berikutnya. Maka terdengarlah suara penjaja coklat yang menawarkan jualannnya. Maka dia pun dipanggil oleh pak tua dan untuk kali ketiganya dia menawarkan kepada keluarga tersebut untuk memilih coklat apa yang mereka inginkan. Setelah masing-masing mengambilnya, pak tua mengeluarkan dompetnya dan membayar seluruhnya. Para penumpang hairan dengan pemandangan tersebut dan makin menyesal.
Akhirnya, setelah menempuh beberapa jam perjalanan, tibalah kereta api di stesen tujuan.. namun, ada suatu hal yang tidak biasanya terjadi di sana. Para penumpang menyaksikan ada konvoi besar yang menyambut kedatangan kereta tersebut. Mereka melihat para pejabat dan sejumlah pasukan siap siaga di kanan dan kiri gerabak kereta api. Lalu ketika kereta api berhenti, masuklah seorang lelaki dengan pakaian kebesaran dengan dikawal oleh beberapa orang memeriksa bangku kereta api satu persatu. Betapa terkejutnya para penumpang ketika mendapati bahawa orang itu adalah orang kenamaan yang khusus datang untuk menjemput tetamu kehormatnya.
Namun, mereka lebih terkejut lagi ketika tahu bahawa tetamu kehormat tersebut adalah pak tua yang duduk di akhir gerabak, yang awalnya mereka tolak untuk duduk bersama mereka.
Seelah menghampiri pak tua, lelaki kenamaan itu terus memeluknya erat-erat dan menyalaminya dengan hangat. Dia pun menawarkan agar pak tua dijemput dengan kereta peribadinya untuk dihantar ke istana dan mendapat jamuan spesial!!
Pak tua menerimanya dengan senang hati, namun dengan syarat keluarga yang duduk bersamanya juga mendapat layanan yang sama. lelaki kenamaan itu pun menerima permintaan pak tua dengan senang hati, dan saat itulah para penumpang yang ada di gerabak tadi menyesal yang amat sangat atas penolakan mereka.. mereka berharap andai saja mereka membiarkan pak tua tersebut duduk bersama mereka dan menghentikan sejenak kesibukan mereka untuk memberinya perhatian, atau meluangkan sedikit waktu dan tempat agar pak tua tadi dapat duduk bersama mereka… tapi sayang, semuanya telah terlambat dan perjalanan telah berakhir.. yang tersisa hanyalah penyesalan demi penyesalan.
_______________________________________________
Jadi, kalian pasti boleh meneka siapa pak tua tersebut?
Benar.. dialah AGAMA ISLAM.. yang selama ini kita hargai dan kita hormati akan tetapi sering kali kita kesampingkan dalam hidup ini. Ketika nilai-nilai agama hendak ditanamkan ke dalam diri anak-anak, kita menolaknya dengan alasan: "Kan mereka masih kecil.. biarlah mereka bebas bermain, bebas berpakaian, dan lain-lain.. belum saatnya mereka disuruh menjadi orang ‘alim". Dan akhirnya masa kanak-kanak terlewatkan begitu saja.
Kemudian ketika mereka beranjak dewasa kita pun menolaknya dengan alasan: "Kasihan kalau remaja harus dikekang dengan aturan agama, tidak boleh bebas bergaul dan berteman.. atau,, biarlah mereka menikmati masa muda terlebih dahulu.. dan semisalnya", maka masa remaja itu pun terlewatkan juga.
Kemudian ketika mereka telah beranjak dewasa dan mulai tersibukkan dengan berbagai pekerjaan, lalu datang ‘tawaran’ untuk menerapkan agama dalam kehidupan mereka, suara sumbang tersebut kembali terdengar.. "amboi, kami sekarang tengah sibuk mengurus perusahaan, projek, bisnes dan lain2.. kami tidak ada waktu untuk mempelajari Islam dan menerapkannya…nanti2lah".
Akhirnya umur pun berlalu dengan cepat tanpa mereka sedari dan tibalah masing-masing di stesen akhir.. tempat mereka menuai hasil dari yang selama ini mereka usahakan.. ajal mereka telah habis dan kesempatan itu telah berlalu. Mereka hanya boleh menyesal dan menyesal menyaksikan orang-orang yang selama ini mereka anggap ‘kolot’, ‘bajet alim’ dan sebagainya yang menerapkan ajaran agama, mereka hanya boleh iri hati menyaksikan besarnya penghargaan yang diberikan atas kesediaan mereka untuk bersama pak tua (baca: Islam) ketika orang-orang menolaknya.. dan ternyata itu semua membuahkan hasil yang tak diduga. Kenikmatan selama perjalanan (baca : dunia) dan kebahagiaan di stesen akhir tujuan (baca: akhirat)..

Papan dan rayap

Dikisahkan dua orang laki-laki bekerja keras membuat sebuah perahu. Ketika sedang sibuk bekerja mereka berdua menemukan rayap disebuah papan. Salah seorang dari mereka kemudian ingin membuang papan itu tapi temannya melarang. Dia berkata, ”kenapa papan ini dibuang? Kan sayang. Lagipula tidak ada masalah. Cuma kena rayap sedikit saja.”


Karena tidak ingin mengecewakan temannya, papan yang ada rayapnya pun digunakan untuk membuat perahu. Selang beberapa hari, perahu pun selesai dan sudah bisa digunakan untuk melayari lautan.

Tapi beberapa tahun kemudian, rayap-rayap itu ternyata bertelur dan menetas. Rayap-rayap itu kemudian menggerogoti kayu kapal. Bahkan rayap-rayap itu menyebar kemana-mana hingga memakan kayu yang ada di lambung kapal.

Kapal terus digunakan dan tak seorang pun sadar hingga akhirnya, kayu-kayu perahu itu pun mulai keropos. Dan, ketika dihantam oleh ombak besar, air berhasil menembus masuk dari celah-celah dan lubang-lubang kayu.

Karena hujan juga sering turun dengan deras, para awak perahu tidak mampu lagi menguras air yang masuk ke dalam perahu sehingga akhirnya perahu itu karam. Di dalamnya terdapat barang-barang berharga dan nyawa manusia.

....

Sahabatku, Kalau saja kita sadar bahwa malapetaka besar ini sebenarnya berasal dari hal yang remeh dan tidak berharga seperti papan yang sudah kena rayap. Kalau saja ketika membuat perahu dahulu papan itu dibuang, tentu saja malapetaka ini bisa dicegah.

Dan, begitulah kalau pada kenyataannya kita sering tidak sadar kalau perbuatan-perbuatan kesalahan kecil dan remeh yang kita lakukan kadang-kadang justru malah menimbulkan malapetaka besar.


orang arif bijak pernah berkata :"Berhati-hatilah dan berhematlah atas pengeluaran-pengeluaran kecil. kebocoran kecil bisa mengaramkan kapal."