Sabtu, 15 Maret 2014

Istriku Tidak Cantik


Istriku tidak cantik, standar dan biasa saja. Aku juga sadar bahwa dia tidak cantik tapi tidak buruk dan kalau bersanding denganku maka aku nampak lebih rupawan dari dia. Badannya kecil ada dibawah dadaku, juga kulitnya agak hitam, lebih putih kulitku, satu lagi kakinya agak pincang, yang kanan lebih kecil sedikit daripada yang kiri.

Aku menyadarinya ketika aku sudah menikahinya, namun aku sadar bahwa aku telah memilih dia dengan ikhlas dihatiku, kan aku yang memilih, bukan dia yang memaksa, dan walau istriku tidak cantik, namun aku mencintainya. Allah taburkan rasa cinta itu ketika malam pertama aku bersamanya.

Dimataku dia tetap tidak cantik, namun aku nyaman bila melihat senyumannya. Dia selalu menerima apa adanya aku, sempat aku pulang tidak bawa gaji seperti yang dijanjikan di lembar penerimaan karyawan bahwa gajiku tertera 4 juta sekian-sekian, namun karena aku selalu terlambat dan juga sering bolos lantaran mengantar si kecil ke rumah sakit dan juga si sulung ke sekolah maka hampir 40 % gajiku dipotong. Subhanallah dia tidak bersungut, malah segera bersiap menukar menu makanan dengan yang lebih sederhana dan bersikeras meminjam komputer butut kami untuk menulis artikel yang dikirimkannya ke beberapa majalah yang terkadang satu atau dua artikel ditayangkan, dan baginya itu sudah Alhamdulillah bisa menambah sambung susu anakku. Istriku tidak cantik, namun aku ingat, banyak sekali sumber daya alam yang buruk bahkan legam dan membuat tangan kotor namun tetap dicari, diburu dan dipertahankan orang, seperti batubara. Istriku mungkin bukan emas, dia mungkin batubara, keberadaannya selalu menghangatkan hatiku dan selalu membuatku tidak merasakan resah. Aku membayangkan bila aku menyimpan batubara satu kilo dirumahku dibandingkan dengan menyimpan emas satu kilo dirumahku, maka aku tidak akan dapat berjaga semalaman bila emas yang kusimpan. Namun bila batubara yang ku simpan, aku masih punya izzah ada barang yang ku simpan yang cukup berharga, namun aku tetap dapat tidur nyenyak dengannya.

Bayangkan bila istriku sangat cantik, mungkin aku tidak akan tenang membayangkan dia ke pasar dilirik semua lelaki, membayangkan dia sms-an dengan bekas pacar-pacarnya dulu, membayangkan mungkin dia bosan padaku. Akh.. aku bersyukur istriku tidak cantik sehingga aku bisa tidur nyenyak walau banyak nyamuk sekalipun. Istriku tidak cantik, namun dia adalah istri terbaik untukku.

Pesanku: aku selalu melihat sisi baik dari istriku yang membuatku merasa sama dan nyaman dengannya.






Selasa, 11 Maret 2014

Gaun Pengantin Usang


Sudah menjadi kehendak Allah memberinya cobaan berupa penyakit kronis yang bersarang dan sudah bertahun-tahun ia rasakan. Ini adalah cerita kisah seorang gadis yang bernama Muha. Kisah ini diriwayatkan oleh zaman, diiringi dengan tangisan burung dan ratapan ranting pepohonan.


Muha adalah seorang gadis remaja yang cantik. Sebagaimana yang telah kami katakan, sejak kecil ia sudah mengidap penyakit yang kronis. Sejak usia kanak-kanak ia ingin bergembira, bermain, bercanda dan bersiul seperti burung sebagaimana anak-anak yang seusianya. Bukankah ia juga berhak merasakannya?

Sejak penyakit itu menyerangnya, ia tidak dapat menjalankan kehidupan dengan normal seperti orang lain, walaupun ia tetap berada dalam pengawasan dokter dan bergantung dengan obat.

Muha tumbuh besar seiring dengan penyakit yang dideritanya. Ia menjadi seorang remaja yang cantik dan mempunyai akhlak mulia serta taat beragama. Meski dalam kondisi sakit namun ia tetap berusaha untuk mendapatkan ilmu dan pelajaran dari mata air ilmu yang tak pernah habis. Walau terkadang bahkan sering penyakit kronisnya kambuh yang memaksanya berbaring di tempat tidur selama berhari-hari.

Selang beberapa waktu atas kehendak Allah seorang pemuda tampan datang meminang, walaupun ia sudah mendengar mengenai penyakitnya yang kronis itu. Namun semua itu sedikit pun tidak mengurangi kecantikan, agama dan akhlaknya…kecuali kesehatan, meskipun kesehatan adalah satu hal yang sangat penting. Tetapi mengapa?

Bukankah ia juga berhak untuk menikah dan melahirkan anak-anak yang akan mengisi dan menyemarakkan kehidupannya sebagaimana layaknya wanita lain?

Demikianlah hari berganti hari bulan berganti bulan si pemuda memberikan bantuan materi agar si gadis meneruskan pengobatannya di salah satu rumah sakit terbaik di dunia. Terlebih lagi dorongan moril yang selalu ia berikan.

Hari berganti dengan cepat, tibalah saatnya persiapan pesta pernikahan dan untuk mengarungi bahtera rumah tangga.

Beberapa hari sebelum pesta pernikahan, calonnya pergi untuk menanyakan pengerjaan gaun pengantin yang masih berada di tempat si penjahit. Gaun tersebut masih tergantung di depan toko penjahit. Gaun tersebut mengandung makna kecantikan dan kelembutan. Tiada seorang pun yang tahu bagaimana perasaan Muha bila melihat gaun tersebut.

Pastilah hatinya berkepak bagaikan burung yang mengepakkan sayap putihnya mendekap langit dan memeluk ufuk nan luas. Ia pasti sangat bahagia bukan karena gaun itu, tetapi karena beberapa hari lagi ia akan memasuki hari yang terindah di dalam kehidupannya. Ia akan merasa ada ketenangan jiwa, kehidupan mulai tertawa untuknya dan ia melihat adanya kecerahan dalam kehidupan.

Bila gaun yang indah itu dipakai Muha, pasti akan membuat penampilannya laksana putri salju yang cantik jelita. Kecantikannya yang alami menjadikan diri semakin elok, anggun dan menawan.

Walau gaun tersebut terlihat indah, namun masih di perlukan sedikit perbaikan. Oleh karena itu gaun itu masih ditinggal di tempat si penjahit. Sang calon berniat akan mengambilnya besok. Si penjahit meminta keringanan dan berjanji akan menyelesaikannya tiga hari lagi. Tiga hari berlalu begitu cepat dan tibalah saatnya hari pernikahan, hari yang di nanti-nanti. Hari itu Muha bangun lebih cepat dan sebenarnya malam itu ia tidak tidur. Kegembiraan membuat matanya tak terpejam. Yaitu saat malam pengantin bersama seorang pemuda yang terbaik akhlaknya.

Si pemuda menelepon calon pengantinnya, Muha memberitahukan bahwa setengah jam lagi ia akan pergi ke tempat penjahit untuk mengambil gaun tersebut agar ia dapat mencobanya dan lebih meyakinkan bahwa gaun itu pantas untuknya. Pemuda itu pergi ke tempat penjahit dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi terdorong perasaan bahagia dan gembira akan acara tersebut yang merupakan peristiwa terpenting dan paling berharga bagi dirinya, demikian juga halnya bagi diri Muha.

Karena meluncur dengan kecepatan tinggi, mobil tersebut keluar dari badan jalan dan terbalik berkali-kali. Setelah itu mobil ambulans datang dan melarikannya ke rumah sakit. Namun kehendak Allah berada di atas segalanya, beberapa saat kemudian si pemuda pun meninggal dunia. Sementara telepon si penjahit berdering menanyakan tentang pemuda itu. Si penjahit mengabarkan bahwa sampai sekarang ia belum juga sampai ke rumah padahal sudah sangat terlambat.

Akhirnyai penjahit itu tiba di rumah calon pengantin wanita. Sekali pun begitu, pihak keluarga tidak mempermasalahkan sebab keterlambatannya membawa gaun itu. Mereka malah memintanya agar memberitahu si pemuda bahwa sakit Muha tiba-tiba kambuh dan sekarang sedang dilarikan ke rumah sakit. Kali ini sakitnya tidak memberi Muha banyak kesempatan. Tadinya sakit tersebut seakan masih berbelas kasih kepadanya, tidak ingin Muha merasa sakit. Sekarang rasa sakit itu benar-benar membuat derita dan kesengsaraan yang melebihi penderitaan yang ia rasakan sepanjang hidupnya yang pendek.

Beberapa menit kemudian datang berita kematian si pemuda di rumah sakit dan setelah itu datang pula berita meninggalnya sang calon pengantinnya, Muha.

Demikian kesedihan yang menimpa dua remaja, bunga-bunga telah layu dan mati, burung-burung berkicau sedih dan duka terhadap mereka. Malam yang diangan-angankan akan menjadi paling indah dan berkesan itu, berubah menjadi malam kesedihan dan ratapan, malam pupusnya kegembiraan.

Kini gaun pengantin itu masih tergantung di depan toko penjahit. Tiada yang memakai dan selamanya tidak akan ada yang memakainya. Seakan gaun itu bercerita tentang kisah sedih Muha. Setiap yang melihatnya pasti akan bertanya-tanya, siapa pemiliknya.

Kamis, 06 Maret 2014

Ada Banyak Hikmah di Balik Basmalah


Alkisah, ada seorang lelaki Yahudi yang jatuh cinta kepada seorang wanita Yahudi. Karena sangat cintanya, pemuda itu. seperti orang gila; makan tak enak dan minum pun tak enak Lalu datanglah ia kepada Atha’ al-Akbar untuk menanyakan keadaanya. Kemudian Syeikh Atha’ menulis "Basmalah" pada secarik kertas. Selesai menulis, Syaikh Atha’ berkata, "Telanlah ini! Mudah-mudahan Allah memberimu kesembuhan dan menyatukan kamu dengannya."


Ketika pemuda itu telah menelan kertas tersebut, ia berkata. "Wahai, Syeikh Atha’! Aku telah merasakan manisnya iman, hatiku, telah bersinar, dan aku telah lupa kepada wanita itu. Sampaikan padaku tentang Islam!"
Lalu Syaikh Atha’ pun menyampaikan padanya ajaran Islam, maka pemuda Yahudi itu masuk Islam karena berkah basmalah. Ketika wanita Yahudi mendengar bahwa pemuda yang jatuh cinta kepadanya itu telah masuk Islam, maka ia mendatangi Syaikh Atha’ dan berkata, "Wahai, pembimbing orang Muslim! Aku adalah wanita yang diceritakan oleh pemuda Yahudi yang telah masuk Islam itu. Sesungguhnya tadi malam aku bermimpi ada seseorang yang datang dan mengatakan, ’Jika kamu ingin mengetahui tempat tinggalmu di surga, maka datangilah Atha’, karena ia akan menunjukkannya! Sekarang aku telah datang padamu, katakan di mana surga itu?"
Atha’ berkata padanya, "Jika kamu ingin surga, pertama kali harus membuka pintunya. Setelah itu, barulah kamu memasukinya."
"Bagaimana caranya aku membuka pintunya?" tanya si wanita.
Atha’ menjawab, "Ucapkanlah Bismillaahirrahmaanir-rahiim." maka wanita itupun mengucapkannnya. Kemudian ia berkata, Wahai Atha’, aku telah menemukan cahaya dalam hatiku, aku juga bisa melihat kerajaan Allah, sampaikanlah padaku tentang Islam Atha’ pun menyampaikan padanya ajaran Islam. Lalu ia masuk Islam dengan berkah Basmalah.
Setelah itu, si wanita pulang ke rumahnya, lalu tidur. Dalam tidurnya, ia bermimpi Bahwa ia telah memasuki surga, melihat istana-istananya dan juga kubah-kubahnya. Di antara kubahnya ada yang bertuliskan: "Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah." membaca tulisan tersebut. Tiba-tiba ada suara yang memanggilnya, "Wahai wanita yang membaca tulisan di kubah, demikianlah Allah telah memberimu semua apa yang kamu baca."
Lalu ia terbangun dan bergumam, "Oh Tuhanku, aku berada dalam surga, tapi Engkau mengeluarkan aku darinya. Ya Allah, keluarkanlah aku dari kegundahan dunia dengan kekuasaan-Mu!"
Selesai berdoa demikian, tiba-tiba rumahnya ambruk ia mati syahid tertimbun di bawah reruntuhan rumahnya karen berkah Bismillaahirrahmaanirrahiim, dan Alhamdulillaahi ’aalamiin.[]
 
Sumber: Buku Jagan Bersedih! (150 Cerita hikmah penyejuk hati, karya: Mohammad A. Syuropati

Makhluk Terindah

Pada zaman kejayaan kekhalifahan Islam dulu, hiduplah seorang bernama Isa bin Musa, ia adalah seorang lelaki yang rupawan, gagah, dan kaya raya, ia mencintai seorang wanita yang selama ini ia kagumi, wanita itu pun terkenal dengan kecantikannya.


Pada suatu ketika ia berhasil menundukkan hati wanita tersebut, bahkan wanita itu pun sangat mencintai Isa bin Musa. Tidak lama kemudian, mereka berdua melangsungkan perrnikahan dan resmi menjadi suami istri.

Tak henti-hentinya Isa bin Musa mengagumi istrinya. Setiap hari ia memujinya dengan melantunkan syair-syair cinta. Hingga pada suatu ketika di sore menjelang Maghrib, seperti biasa sang istri berdandan untuk suaminya.

Pada saat itu Isa bin Musa berkata, “Wahai istriku, berdandanlah yang cantik melebihi cantiknya bulan purnama, jika sampai wajahmu kalah cantik dengan bulan purnama maka engkau aku jatuhkan talak tiga!”

Sang istri pun kaget dan menegur suaminya, “Celaka, apa yang engkau ucapkan, mustahil aku lebih cantik dari rembulan. Bukankah bulan purnama terlalu indah dariku? Malam ini engkau tidak boleh menjamahku karena aku telah kau talak.”

Sang istri pun menangis, Isa pun sedih dan sadar karena telah keterlaluan dalam memuji, la pun bingung dan takut kehilangan istri cantiknya. Kemudian ia berniat mencari solusi dari khalifah yang berkuasa.

Mendengar pengaduan rakyatnya, khalifah pun kemudian mengumpulkan para ulama besar dari penjuru negeri untuk memberikan fatwa. Maka terkumpullah sekitar 200 ulama. Setelah permasalahan diajukan, maka ke 199 ulama sepakat bahwa ucapan Isa bin Musa itu adalah jatuh talak tiga dan istrinya lepas dari Isa, dengan alasan bahwa bulan purnama terbukti lebih cantik dari istri Isa bin Musa, hanya tinggal satu ulama yang belum memberikan pernyataan.

Khalifah pun menegur ulama tersebut, “Kenapa Anda diam? Apakah Anda memiliki pendapat lain?” Ulama itu pun bangkit dan membaca surat at-Tin ayat 4, Sesungguhnya kami Telah menciptakan n anusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Kemudian ia menjelaskan, “Menurut hemat saya ayat itu cukup menunjukkan bahwa manusia adalah ciptaan Allah yang paling indah, dan jauh lebih indah dibanding bulan purnama."

Hikmah Berhati-hatilah dengan pujian, tidak semua pujian itu indah. Bisa jadi pujian itu akan menjadi bumerang  yang sangat mematikan. Jangan berlebihan dalam memuji dan jangan berlebihan dalam menghina karena bisa jadi lawan menjadi kawan dan kawan akan menjadi lawan.

Sumber: Buku 30 Kisah Islami sumber Kebijaksanaan Hidup

Ibadah Puasa Menemani Di Dalam Kubur

Seorang Sufi besar bernama Sufyan Ats-Tsauri mengisahkan sebagai berikut:
"Aku telah tinggal di Makkah dalam kurun waktu yang lama. Ada salah seorang laki-laki dari penduduk Makkah yang setiap harinya selalu datang ke masjid pada tengah hari. Lalu ia thawaf dan melaksanakan shalat dua rakaat. Setelah itu ia memberi salam kepadaku lalu pulang ke rumahnya. Maka tumbuhlah rasa kasih sayangku padanya, dan aku senantiasa mengunjunginya.
Suatu ketika, lelaki itu jatuh sakit, lalu ia memang gilku dan berkata, "Jika aku mati, aku harap engkau me mandikan jenazahku, menyalatkan dan menguburkanku, dan pada malam harinya, janganlah engkau tinggalkan aku sendirian di dalam kubur. Kemudian tuntunlah aku dengan kalimat tauhid, untuk menghadapi pertanyaan Munkar dan Nakir." Akupun menyanggupi untuk mengem¬ban amanah tersebut.
Maka pada saat ia meninggal dunia, semua amanah itu aku laksanakan, dan aku berada di dekat kuburnya semalam untuk mendoakannya. Dan ketika aku berada dalam keadaan antara tidur dan terjaga, tiba- tiba aku mendengar ada suara yang berseru dari atasku, "Wahai Sufyan. Dia tidak membutuhkan penjagaanmu, tuntunanmu dan juga tidak butuh ditemani olehmu. Ada yang telah menemani dan menuntunnya." Lalu aku bertanya, "Apakah yang menjadi sebab dari semua ini?" Suara itu menjawab, "Semua itu disebabkan oleh puasa Ramadhan yang ditunaikannya, dan diteruskan dengan puasa enam hari bulan Syawal."
Lalu, akupun terjaga, tapi aku tidak melihat seorangpun di dekatku. Kemudian aku berwudhu dan shalat, dan aku tidur. Dalam tidurku, aku memimpikan hal yang sama, dan mimpi itu terulang sampai tiga kali. Maka aku menyadari bahwa mimpi itu berasal dari Allah Swt, dan bukan dari setan. Akupun meninggalkan kuburan lelaki tersebut dan berdoa, "Ya Allah, dengan karunia dan Kemuliaan-Mu, berilah aku kemampuan untuk dapat menjalankan ibadah puasa seperti itu." 
(Dikutip dari An- Nawadir, karya, Ahmad Syihabuddin al-Q.alyubi)

Rabu, 05 Maret 2014

Bahagia itu pilihan

Manusia bahagia bila ia bisa membuka mata. Untuk menyadari bahwa ia memiliki banyak hal yang berarti. Manusia bisa bahagia bila ia mau membuka mata hati. Untuk menyadari, betapa ia dicintai. Manusia bisa bahagia, bila ia mau membuka diri. Agar orang lain bisa mencintainya dengan tulus.
Manusia tidak bahagia karena tidak mau membuka hati, berusaha meraih yang tidak dapat diraih, memaksa untuk mendapatkan segala yang diinginkan, tidak mau menerima dan mensyukuri yang ada.
Manusia buta, karena egois dan hanya memikirkan diri, tidak sadar bahwa ia begitu dicintai, tidak sadar bahwa saat ini, apa yang ada adalah baik, selalu berusaha meraih lebih, dan tidak mau sadar karena serakah.
Ada teman yang begitu mencintai, namun tidak diindahkan, karena memilih, menilai dan menghakimi sendiri.
Memilih teman dan mencari-cari, padahal di depan mata ada teman yang sejati.
Telah memiliki segala yang terbaik, namun serakah, ingin dirinya yang paling diperhatikan, paling disayang, selalu menjadi pusat perhatian, selalu dinomorsatukan.
Padahal, semua manusia memiliki peranan, hebat dan no. satu dalam satu hal, belum tentu dalam hal lain, dicintai oleh satu orang belum tentu oleh orang lain.
Kebahagiaan bersumber dari dalam diri sendiri, jikalau berharap dari orang lain, siaplah ditinggalkan, siaplah dikhianati.
Kita akan bahagia bila bisa menerima diri apa adanya, mencintai dan menghargai diri sendiri, mau mencintai orang lain, dan mau menerima orang lain.
Percayalah kepada ALLAH, dan bersyukurlah kepadanya, bahwa kita selalu diberikan yang terbaik sesuai usaha kita, tak perlu berkeras hati, Ia akan memberi kita di saat yang tepat apa yang kita butuhkan, meskipun bukan hari ini, masih ada esok hari.
Berusaha dan berbahagialah karena kita dicintai begitu banyak orang