Sabtu, 30 Agustus 2014

Kisah Daun Bambu Ajaib Dari Negri China


Alkisah di sebuah desa di negri China, hiduplah seorang lintah darat yang sangat kejam. Demi menumpuk kekayaannya sendiri, ia meminjamkan uang ke penduduk desa, dan menagih bunga sangat tinggi untuk setiap pinjamannya. Karena penduduk desa di sana sangat miskin, akhirnya mereka terpaksa meminjam dari lintah darat tersebut.

Setiap hari, ada saja ulah si lintah darat ini. Saat menagih bunga pinjaman, ia akan menggunakan kekerasan. Jika si peminjam tak bisa mengembalikannya, maka ia akan mengambil barang apa saja yang berharga di rumah orang itu. Jika tak ada barang berharga yang bisa dijual, maka ia akan memukuli orang itu sampai tak sadarkan diri.

Tindakan kejam ini sudah diketahui semua penduduk desa, sehingga mereka sangat takut pada lintah darat tersebut.
Suatu hari, seorang kakek tua yang miskin hendak melintasi desa. Si lintah darat timbul pikiran picik, dan menghadang kakek tua itu. Ia meminta uang lewat kepada si kakek.
"Maaf nak, aku tak punya uang sepeserpun," katanya.
Si lintah darat itupun segera menghujani si kakek dengan pukulannya. Untuk menyelamatkan nyawanya, si kakek kemudian mengarang cerita. "Nak, aku tak punya uang. Satu-satunya yang kupunya adalah bambu ajaib ini," kata kakek.
"Bambu ajaib, apa maksudmu?"
Kakekpun menjelaskan bahwa ia membawa bambu ajaib yang daunnya bisa membuat si pemilik tak terlihat. Caranya sangat mudah, cukup memetik sehelai dan menempelkannya di dahi.
Si lintah darat berseri-seri, tanpa babibu ia merampas bambu yang dibawa kakek ke rumahnya. Sesampai di rumah, ia memetik selembar daun, dan menempelkan di dahi. Iapun bertanya pada istrinya untuk mengetes kesaktian daun tersebut.
"Istriku, apakah sekarang aku tak terlihat?"
"Tentu saja aku bisa melihatmu."
Merasa tak puas dan penasaran, ia memetik selembar daun lagi dan bertanya pada istrinya.
"Istriku, apakah sekarang aku tak terlihat?"
"Apa sih yang kau lakukan? tentu saja aku bisa melihatmu."
Masih penasaran, si lintah darat memetik daun berkali-kali hingga menyisakan daun terakhir. Kemudian, dipakainya daun terakhir tersebut di dahinya. Dan ia kembali bertanya pada istrinya.
"Istriku, apakah sekarang aku tak terlihat?"
Istrinya yang sudah lelah akhirnya menjawab, "aku tidak bisa melihatmu suamiku. Di mana kau?"
Kegirangan melihat respon istrinya, iapun pergi ke kota. Menghampiri semua toko dan merampas uang serta makanan di sana. Iapun kagum pada dirinya, karena tak seorangpun menegur atau melihatnya. Tanpa ia sadari, ternyata penduduk di sana memang merasa takut kepadanya, sehingga mengabaikan semua tingkah lakunya.
***
Suatu hari, seorang pangeran lewat di desa tempat tinggal si lintah darat. Mendengar pangeran akan lewat, si lintah darat yang haus kekayaan itu timbul niat jahat. Karena ia sudah tak terlihat, ia bisa melucuti semua harta kekayaan pangeran.
Lantas, ia bergegas menghadang pangeran di tempat yang sepi. Di sana ia mengendap-endap menjalankan aksinya. Belum sempat mengambil apa-apa, ia disergap para prajurit pengawal pangeran.
"Beraninya kau hendak merampok pangeran. Kau akan dihukum mati karena ulahmu itu," hardik pangeran.
Iapun dibawa para pengawal pangeran ke ibukota untuk diadili.
Di tengah jalan, ia mengenali sosok kakek tua yang pernah dirampoknya itu. Ia tengah asyik bercerita pada kawannya bahwa ia telah menipu seorang lintah darat kejam dengan pohon bambu yang ditanam di pekarangan rumahnya.
***
Nenek moyang mengatakan, mereka yang serakah dan bodoh mudah tergiur oleh harta, dan akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta tersebut, tetapi mereka tak akan pernah berhasil.
Untuk itu, ambillah apa yang menjadi hakmu dan jangan menghalalkan segala cara untuk memuaskan diri dengan harta.

Kisah Mengharukan Anak Yang Membawa Hidayah


Pada suatu malam, seorang pria yang baru selesai bekerja masuk ke dalam rumah. Dia dikejutkan dengan suara isak tangis anak laki-lakinya yang akan beranjak remaja. Suara itu berasal dari kamar sang anak laki-laki. Pria itu langsung masuk ke dalam kamar dan menemukan anaknya menangis tersedu-sedu.

"Mengapa kau menangis?" tanya sang ayah.
Setelah mengatur napasnya, sang anak laki-laki menjawab, "Tetangga kita, kakek Ahmad meninggal dunia tadi pagi,"

Sang ayah berdecak merendahkan. "Tua bangka itu telah mati? Ya sudah, biarkan saja dia mati, apa urusanmu sampai kau menangisinya? Dasar anak bodoh!" ujar sang ayah dengan suara tinggi. "Aku pikir sudah terjadi bencana di rumah ini hingga kau menangis. Ternyata kau hanya menangisi kakek tua itu. Bisa-bisa setelah aku mati nanti, kamu tidak akan menangis seperti saat ini. Dasar anak dungu!"
Sang anak kembali berlinang air mata sambil memberanikan diri menatap ayahnya dengan pandangan tidak percaya. Bagaimana kata-kata itu bisa keluar dari bibir ayahnya sendiri.
"Iya ayah, kelak aku tidak akan menangisi kepergian ayah seperti aku menangisi kepergiannya. Dialah orang yang menuntun tanganku untuk Salat Jumat dan Salat Subuh berjamaah. Dialah yang membuatku sadar bahwa teman-teman bergaulku memberi pengaruh yang buruk. Dari dialah aku belajar membaca Al-Quran," ujar sang anak dengan air mata yang masih berlinang. Anak laki-laki itu mengucapkan semua kata-katanya dengan halus, tanpa menaikkan sedikitpun nada suaranya.
"Sementara ayah, didikan apa yang telah ayah berikan padaku? Ayah memang ayahku secara biologis, tetapi kakek Ahmad adalah ayah bagi keimananku. Hari ini aku menangisi kepergiannya karena dialah yang membuatku dekat dengan Allah SWT," lanjutnya sambil mengusap air mata yang tersisa. Sebenarnya hatinya terasa sakit mengucapkan semua itu, tetapi itulah fakta yang dia rasakan selama ini.
Saat itu, sang ayah diam. Ada rasa sakit di hatinya karena sang anak berani mengucapkan kata-kata itu. Tetapi sebuah fakta kadang lebih menyakitkan dibandingkan sebuah kebohongan. Sang pria tahu bahwa apa yang dikatakan putranya adalah sebuah fakta. Benar bahwa dirinya selama ini tidak pernah mengajarkan amalan dan didikan tentang agama sebagaimana kewajiban orang tua pada anaknya.
Pria itu akhirnya melelehkan air mata. Bulir-bulir air itu menetes di pipinya. Dipeluknya anak laki-laki yang tidak dia sadari sudah lebih tinggi dan semakin dewasa. Dulu putranya masih begitu kecil, sekarang tinggi mereka hampir sama. Dielusnya puncak kepala putranya, "Maafkan ayah.."
Sejak malam itu, sang pria berjanji akan menjadi ayah yang baik. Tidak hanya mencukupi materi, tetapi juga mencukupi kebutuhan sang anak akan keimanan dan ketakwaan pada Allah SWT. Dia tidak pernah lagi meninggalkan Salat Wajib dan Salat Jumat. Sekarang sang ayah sudah bisa menjadi ayah sejati untuk anak dan keluarganya.
***
Sahabat, semoga kisah ini membuat Anda dan keluarga ingat bahwa anak adalah titipan Tuhan. Bagaimana dia tumbuh dan berkembang adalah tanggung jawab orang tua, termasuk bagaimana membuatnya memiliki keyakinan teguh terhadap agamanya. Semoga Anda menjadi orang tua terbaik untuk anak-anak Anda.

Minggu, 24 Agustus 2014

MENGHARUKAN, PENYESALAN TERDALAM SEORANG SUAMI


Bismillahir-Rahmaanir-Rahim …


Penyesalan memang selalu datang terlambat pada kehidupan kita, dan penyesalan terkadang hanya memberi duka yang mendalam pada kita, disaat mengenang kembali sejarah silam yang menjadi penyebab penyesalan itu muncul …, demikan yang aku alami saat ini.
Duka yang teramat mendalam itu kini masih mendera dalam lubuk hatiku yang paling dalam, saat menyadari bahwa saat ini aku tengah kembali menyendiri, setelah setahun silam orang yang sangat mengasihi aku, orang yang sangat peduli padaku telah dipanggil oleh Allah.

Aku adalah seorang lelaki yang telah membina mahligai rumah tangga bersama seorang wanita sholehah sejak tahun 2004 silam, kuakui, memang pernikahan itu terjadi karena perjodohan yang diinginkan oleh Orang tua kami masing-masing, sebab orang tuaku dan orang tua maryam (Nama istriku,-samaran) adalah memiliki ikatan keluarga, ..
.. meskipun ikatan itu tidak terlalu dekat, akan tetapi masa kecil mereka hingga dewasa dan menikahnya hampir selalu bersama (Ayahku dan ayahnya maryam berteman sejak kecil) sehingga kesepakatan untuk menjodohkan kami selaku anak-anaknya tak bisa dielakkan lagi.
Jujur aku sendiri awalnya tidak begitu respek dengan perjodohan itu, dan ketidak respekan itu bukan tanpa alasan, betapa tidak, pertama usiaku dan maryam terpaut 4 tahun, saat menikah saat itu usia maryam memasuki 28 tahun sementara aku masih berusia 24 tahun. Yang kedua maryam memiliki latar belakang pemahaman agama yang sangat kuat, sementara aku mengenal islam hanya dari kulitnya saja (Islam KTP).
Maka dari perbedaan itulah membuat aku jadi tidak respek dengan rencana perjodohan itu, sementara kudengar dari beberapa teman kampusku yang mengenal organisasi dimana maryam bernaung, katanya hampir semua bahkan mungkin semua wanita seperti maryam yang taat dalam memegang syariat islam serta menggunakan jilbab syar’i memiliki impian bisa menikah dengan lelaki yang memiliki ketaatan yang sama seperti mereka, lelaki sholeh, berjenggot dengan celana diatas mata kaki.
Dan aku sendiri yakin saat perjodohan itu direncanakan, ada sejuta protes dihati maryam menyadari bahwa lelaki seperti akulah yang dijodohkan dengannya, tetapi kondisilah yang tidak membuatnya sanggup untuk melawan keinginan orang tuanya, apalagi aku juga sangat mengenal watak orang tua maryam yang keras.
Begitulah.., tak pernah terlintas dalam benak kami berdua bahwa justru berbagai perbedaan itu menyatukan kami berdua dalam sebuah ikatan pernikahan yang suci, dan setuju atau tidak, ikhlas atau tidak akhirnya tahun 2004 itulah awal kebersamaan kami menjalani biduk rumah tangga.
Usai pernikahan tersebut dilaksanakan, terasa ada banyak hal yang lain kurasakan, betapa tidak, aku lelaki yang tidak memiliki bekal pengetahuan agama lantas harus menikah dengan seorang gaids muslimah yang taat dan berjilbab lebar, banyak hal berkecamuk dalam benakku, haruskah aku hidup dalam bayang-bayang istriku dan turut ikut arus dengan kehidupannya yang kental dengan agama itu?, ..
.. atau sebaliknya haruskah aku memaksanya untuk ikut arus dengan kehidupanku yang santai dan apa adanya?, fikiran2 itulah mulai muncul dalam benakku diawal pernikahan kami, dan aku sendiri bingung mau dibawa kemana biduk rumah tangga kami yang dibangun dengan banyak perbedaan ini.
Jujur, sebenarnya aku melihat dan menyaksikan sendiri bahwa istriku adalah istri yang sangat baik, melayaniku sepenuh hati dalam segala hal, meskipun aku tahu mungkin tidak ada cinta dihatinya untukku, tetapi tak sedikitpun kata-kata protes keluar dari bibirnya.
Setiap hari aktifitas ibadahnyapun masih terus berlangsung tanpa sedikitpun mengusik ketenanganku, maksudku, tak sedikitpun dia mengoceh memintaku untuk sholat bila tiba waktu sholat, semuanya berlalu begitu saja. Demikian pula aku sering mendapatinya selalu eksis mendirikan sholat malam dan akupun tak pernah memprotesnya.
Waktu terus berlalu dan tanpa terasa pernikahan kami telah membuahkan hasil, dimana setahun setelahnya lahirlah bayi mungil hasil pernikahan kami, bayi laki-laki yang akhirnya kuberi nama frans meskipun ibunya cenderung memanggilnya ahmad, lucu memang, bila bayi itu berada ditanganku, maka aku memanggil dia dengan sebutan frans, biar keren dan ikut perkembangan zaman (Cara pandangku terhadap nama-nama anak dizaman modern ini), ..
.. sementara bila sikecil mungil itu berada dalam buaian maryam, maka namanya berubah menjadi ahmad, pernah bebrapa kali aku menegurnya :
‘Hei.., dizaman semodern ini koq masih pakai nama ahmad sih .. yang keren dikit dong, seperti nama yang sudah kukasi padanya “FRANS”, supaya gak malu-maluin .., zaman modern koq masih pakai nama ahmad, apa kata dunia …’ itulah celotehku setiap kali mendengar istriku memanggil frans sikecil jagoanku dengan sebutan ahmad. Tetapi tak ada sedikitpun maryam menanggapi celotehku, dan semua berlalu begitu saja.
Jujur ada satu hal yang paling membuat aku jengkel dari istriku, ditengah aktifitas kantorku yang padat, dari dulu sampai memasuki setahun pernikahan kami pasti setiap hari selasa dia selalu meminta diantarkan kerumah Gurunya (Murobbiyah-), katanya tarbiyah, ..
.. dan pasti setiap hari selasa itu pertengkaran pun sering terjadi, betapa tidak, aku yang sibuk dengan pekerjaan kantor harus menerima telepon dan sms darinya meminta diantarkan kerumah gurunya itu, dan kalau telepon dan sms2nya gak dibalas pasti akan disusul dengan telepon dan sms susulan “Abi, tolong antarkan ummi tarbiyah dong, tinggal sejam lagi tarbiyah akan dimulai” ..
.. begitu gambaran smsnya padaku menjelang waktu tarbiyahnya dimulai, dan selalu dikirimnya dengan sms susulan yang bunyinya tambah memelas penuh pengharapan, dan akhirnya membuatku mau tidak mau harus pulang kerumah dan mengantarnya ketempat tarbiyahnya, ..
.. pokoknya sejak saat itulah setiap hari selasa pasti masalah yang timbul itu2 saja, dan aku sangat jengkel sekali bila haru pulang rumah dari kantor hanya untuk mengantar dan menjemputnya lagi.
Jadinya sebelum mengantar dan menjemputnya pasti selalu diawali dengan pertengkaran kecil. aku sendiri sudah pernah memperingatnya untuk berhenti menekuni tarbiyahnya itu, tetapi disetiap permintaan itu kulontarkan, pasti air matanya akan mengucur deras sambil berujar ..
“abi, maafkan ummi, bukannya ummi tidak mentaati perintah abi, tapi ummi mohon jangan putuskan tarbiyah ummi, sebab bila itu terjadi, pasti hati ummi akan terasa gersang karenanya, sebab dari waktu sepekan, hanya ada satu hari ummi berkumpul dengan teman-teman ummi dan membicakan kondisi ummat saat ini serta hal-hal lain yang bisa membuat ummi merasa damai dalam menjalani hidup ini”
Hmm.., jujur mendengar permintaannya yang memelas itu sedikit membuatku tergugah dan sedikit penasara, apa sih tarbiyah itu?, koq istriku selalu memberi alasan bahwa hatinya akan selalu tenang dan damai kalau ikut tarbiyah, maksudnya apa sih, gak faham deh…’ ujarku dalam hati.
Dan hal lain yang membuatku tidak suka adalah panggilan sayangnya padaku “Abi”, huhhggg..apa gak ada panggilan yang lebih keren apa??, papi kek, kang mas kek, koq panggil Abi…, pernah beberapa kali saat tamuku dari kantor datang kerumah kupanggil dia dengan sebutan mami saat aku minta dibuatkan minuman, ..
.. tetapi malah di jawabnya iya abi, huuhhgg jengkelnya aku saat itu, entahlah, mungkin karena sudah terbiasa jadinya dia selalu keceplosan, padahal sudah ada kesepakatan sebelumnya bahwa panggilan abi dan ummi itu kuizinkan diberlakukan saat berdua saja, selebihnya harus komitmen dengan panggila papi dan mami, tetapi dasar dikarenakan apa, selalu saja dia lupa dengan kesepakatan itu.
Pendengar nurani yang baik ..
Kuakui bahwa istriku begitu baik padaku, bahkan dimataku hampir-hampir tak ada cacat dan celahnya kebaktiannya padaku, dari sisi biologis aku selalu dipenuhi, keperluan hariankupun tak sedikitpun terlalaikan olehnya, tetapi yang membuat aku sangat jengkel aktifitas dakwahnya masih terus jalan, bahkan teman-temannya selalu datang kerumah untuk menimba ilmu darinya, ..
.. katanya Mutarrobbinya, jujur aku sebenarnya gak masalah bila ada yang datang bertamu kerumah, tetapi kalau sudah ditentukan hari yang rutin kemudian dengan jumlah tamu yang berpakaian sama dengan jumlah yang tidak sedikit, apa nantinya tanggapan para tetangga, dan hal itupun menjadikan pertengkaran kecil diantara kami.
“Mi, aku malas jadi bahan omongan orang, katanya kita memelihara aliran sesatlah, aliran yang tidak jelaslah, bisa nggak sih untuk yang satu ini mami ikuti permintaan papi, tolong.., jangan bawa teman2 mami itu kerumah.., apalagi mereka ngumpul hampir setiap pekan sekali…” celotehku disuatu hari.
“Astagfirullah abi, mengapa abi mempersoalkan pandangan tetangga ketimbang pandangan Allah, insya Allah dalam rutinitas trabiyah ummi ini tidak sedikitpun kaitannya dengan aliran sesat atau apalah yang mereka tuduhkan, semua ini hanyalah pengajian biasa yang hanya memperdalam halafaln al-qur’an dan hadist dan mengevaluasi diri-diri kita melalui majelis ilmu seperti ini, tidak lebih abi..demi Allah…”
“Hahh.., pokoknya papi tidak setuju, apapun alasannya…, kalau mami mau menghidupkan majelis-majelis ilmu seperti yang mami bilang itu, maka silahkan cari tempat lain, jangan dirumah ini…” ujarku lagi
“Tapi abi.., kalau ummi mencari tempat lain itu artinya akan menjadi 2 hari dalam sepekan ummi keluar rumah, dan itu artinya akan menyita waktu abi untuk antar-jemput ummi, bukankah abi tida suka direpotkan..?, ummi mohon sama abi.., mohon diizinkan.., semoga dengan berlalunya waktu para tetangga perlahan-lahan akan faham, dan insya Allah ummi pula akan bersilaturahim kerumah ibu-ibu tetangga untuk bersosialisasi dengan mereka tentang hal ini, insya Allah mereka faham dan akan balik mendukung majelis ini, ummi hanya memohon dukungan abi..”
“hah..terserah mami saja deh..pokoknya papi tidak akan ikut campur bila ada para tetangga yang mengamuk gara-gara masalah ini.., dan kalaupun itu terjadi, silahkan mami sendiri yang berurusan dengan mereka..!!” celotehku sambil berlalu meninggalkan istriku yang tertunduk diam, kudengan suara paraunya berujar “Insya Allah abi..”
Perjalan waktu semakin membawa pernikahan kami pada usia yang lebih dewasa, dan Alhamdulillah ditahun ke 3 pernikahan kami, lahir lagi bayi mungil kecil dari rahim istriku, bayi mungil berjenis kelami perempuan itu kuberi nama Jesica (agar lebih keren), meskipun seperti halnya frans, istriku memberi nama lain jesica dengan panggilan fatimah, …. aduhh … kuno bangett .. ujarku dalam hati mendengar panggilan fatimah dari mulut istriku saat menggendong jesica.
Dan begitulah, terasa aneh memang, persatuan kami dalam sebuah ikatan pernikahan tidak lantas membuat kami bersatu dalam hal-hal yang prinsip, termasuk pada pemberian nama putra-putri kami, jadilah 2 nama sekaligus disandang oleh Putra-putri kami, FRANS dan JESICA sapaan akrabku untuk kedua permata hatiku, sementara AHMAD dan FATIMAH sapaan akrab ibunya untuk keduanya, ..
.. terasa aneh memang tetapi itulah yang telah terjadi dalam pernikahanku, tidak hanya itu saja, dalam panggilan aku dan istrikupun sering ada perbedaan yang kontras diantara kami, aku terbiasa menggunakaan sapaan PAPI dan MAMI untuk kami berdua, sementara istriku terbiasa dengan gelar ABI dan UMMI, pokoknya aneh banget kalau di bayangkan, tetapi itu realita.
Suatu hari terjadi pertengkaran hebat antara aku dan maryam, seperti biasa masalahnya adalah mengantarnya ketempat tarbiyahnya, saking jengkelnya karena sudah kuperingati agar berhenti dari aktifitas itu, akhirnya aku tidak menggubris permintaannya, kumarahi dia dengan kemarahan yang luar biasa marahnya menanggapi permintaan itu, bahkan kepadanya kulontarkan makian tak layak dilontarkan karena saking ngototnya istriku meminta diantarkan ketempat tarbiyahnya.
“Dasar istri durhaka, ditaruh dimana ilmu yang kau pelajari hah samapi-sampai begitu kerasnya membatah keinginan suami?, atau memang kau mau cari-cari alasan ya supaya papi murka dan naik pitam?, bukankah papi sudah ingatkan kalau masalah mengantar saja yang selalu jadi soal, maka berhenti…, apa susahnya sih?, tapi kalau mami mau ngotot ikut tarbiyah itu lagi, silahkan.., jalan sendiri dan pulang kerumah juga sendiri, amankan..?, ..
.. jujur sebenarnya papi dari dulu tidak rspek dengan aktifitasmu ini, tapi karena setiap kali kau memohon dengan tetesan air mata maka papipun mengizinkannya, tapi kalau begini caranya kayaknya papi sudah tidak respek lagi deh, jadi untuk kali ini mami dengarkan papi ‘TOLONG BERHENTI IKUT TARBIYAH itu, titik..!!!” ujarku dengan kemarahan yang sudah memuncak sampai keubunn, hingga akhirnya dia melontarkan kata-kata yang membuatku sedikit terdiam tak berkutik.
“Abi, andai tidak menjaga kehormatanku sebagai seorang istri yang tak pantas keluar rumah tanpa mahrom, maka mungkin ummi tidak akan pernah memelas seperti ini pada abi, dan mungkin ummi sudah keluyuran sendiri sesuka hati ummi layaknya wanita-wanita lain yang kelayapan sesuka hati mereka mesti tanpa sepengetahuan suami-suami mereka, ummi hanya ingin, agar kemurkaan Allah tidak menimpa ummi mana kala ummi harus bepergian tanpa mahrom, ..
.. padahal ummi telah memiliki mahrom, apalagi kantor abi sangat dekat dengan rumah kita dan waktu tarbiyah ummipun selama ini bertepatan dengan waktu istirahat kantor abi, apa ummi salah bila ummi meminta sedikit waktunya abi untuk sekedar mengantar ummi ketempat tarbiyah.
Maafkan ummi bila sudah membuat abi marah, hukum ummi bila salah..cambuk ummi bila ummi khilaf.., tapi sekali lagi semua ini ummi lakukan untuk menjaga kehormatan ummi sebagai seorang istri, terus terang ummi sering merasa cemburu dengan teman-teman tarbiyah ummi, ummi cemburu melihat keahagiaaan mereka yang begitu datang tarbiyah diantar oleh suami-suami mereka dengan penuh cinta, ..
.. dikecup keningnya sebelum mereka berpisah, dan dijemput lagi dengan penuh kesabaran meskipun suami-suami mereka jauh lebih sibuk dari abi.
Bahkan ummi sangat cemburu melihat salah seorang teman ummi yang rumahnya tidak jauh dari tempat tarbiyahnya, tetapi suaminya tak sedikitpun membiarkan istrinya keluar rumah tanpa didampinginya lalu ditinggalkalah pekerjaannya hanya untuk mengantar istrinya ketempat tarbiyah yang sebetulnya tak jauh dari rumahnya, sekali lagi maafkan ummi abi…” jawab istriku dengan deraian air mata, mendengar semua itu hatiku sedikit tersentuh, ada semacam keharuan mengalir dari dalam hatiku, akan tetapi buru-buru perasaan itu kutepis dan berlalu meninggalkannya.
Hingga suatu hari ketika usia pernikahan kami memasuki tahun ke lima, terjadi kejadian tragis pada istriku, sebuah kejadian yang membuat mata hatiku terbuka dan menyadari kekhilafanku selama ini, yah, suatu hari istriku meminta diantarkan tarbiyah dan dengan hati yang menggerutu aku mengantarnya ketempat tarbiyahnya, ..
.. tetapi sebelumnya aku sudah ingatkan dia agar setelahnya dia naik angkot sendiri untuk pulang kerumah, pada hari itu aku sebetulnya tidak sedang banyak kerjaan, bahkan saat itu aku sedang santai dirumah bersama kedua permata hatiku yang memang hari itu aku minta pada istriku untuk meninggalkan mereka dirumah bersama ibuku (nenek dari anak-anakku), hingga beberapa waktu kemudian datang sebuah sms di hpku, ..
.. ya, sebuah sms dari istriku yang berbunyi “Assalamu ‘alaikum, afwan abi, alhamdulillah ummi sudah selesai tarbiyah, bisa jemput ummi sekarang ??” begitulah isi sms dari istriku yang hanya kubaca saja lalu kuletakkan kembali hpku.
Beberapa menit kemudian masuk lagi sms darinya dengan bunyi “afwan abi, semua teman-teman ummi sudah dijemput suami-suaminya, tinggal ummi sendiri disini, tuan rumahnya mau keluar sekelurga (maksudnya murobbiyahnya sekeluarga), sementara waktu mau magrib, tolong jemput ummi ya..?” isi sms itu lagi, tapi lagi-lagi sms itu hanya kubaca dan kuletakkan kembali hpku di meja TV.
Beberapa kali kudengar hpku berdering dan aku berfikir bahwa itu telepon dari istriku, hingga sms terakhir darinya kembali masuk ke hpku “afwan abi, abi sakit ya, ya udah kalau gitu, ummi mohon izin naik angkot aja, doakan ummi semoga sampai dengan selamat kerumah ya, uhibbuka fillah” isi sms istriku yang ke tiga kalinya, hatiku lega saat membaca sms itu, dan itu artinya aku tak perlu lagi menjemputnya, aku sendiri berharap bahwa ini adalah awal yang baik baginya, supaya kedepannya dia bisa mandiri dan berangkat sendiri ke tempat tarbiyahnya sendiri.
Malam semakin larut namun istriku tak kunjung tiba kerumah, padahal prediksiku dua jam yang lalu seharunya dia tiba dirumah, tapi kok hingga 2 jam berlalu dia tak kunjung tiba, ada apa gerangan??, apa dia tidak tahu jalan pulang?, aduh gimana nih..? ujarku dalam cemas, beberapa kali aku hubungi nomor hpnya tapi tidak dijawab-jawab dan itu membuat aku lebih bertambah cemas, ..
.. ditambah lagi dengan frans yang mulai rewel karena mungkin rindu dengan ibunya, sebab memang hari ini adalah hari pertama ibunya tarbiyah tannpa mengajak frans dan jesica, ada apa dengan maryam ya.., ya Allah ada apa dengan istriku?, ujarku semakin cemas, dan entah mengapa malam itu perasaanku sedikit berbeda dari biasanya, aku merasakan seperti sangat mencinta istriku dan begitu takut kehilangannya, .. bahkan aku merasa bahwa hari itu entah mengapa rasa rinduku tiba-tiba mulai menyelinap dalam bathinku, ada apa ini.
Pendengar, hingga beberapa jam kemudian hpku berdering dan Alhamdulillah ternyata nomor istriku menelpon, hatiku sangat girang saat itu, dengan buru-buru kuangkat teleponnya
“hallo..,mami dimana..?, koq belum nyampe-nyamope?” tanyaku dengan nada cemas, tetapi alangkah kagetnya aku ketika kudengar bukan suaranya yang menjawab melainkan suara seorang wanita yang sangat asing ditelingaku.
“maaf pak, hp ini milik istri bapak ya?, begini pak, tadi sore sekita 3 jam yang lalu istri bapak mengalami kecelakaan, beliau di tabrak mobil saat keluar dari mesjid dan tubuhnya menghatam tembok pagar mesjid, …
.. sepertinya beliau lagi nunggu angkot dan singgah sebentar untuk sholat magrib dimesjid, mobil yang menabraknya sudah melarikan istri bapak kerumah sakit terdekat tetapi ditengah perjalanan karena banyaknya darah yang keluar istri bapak meninggal dunia, sekarang istri bapak di RS FULAN tepatnya dikamar jenazah, mohon bapak segera datang” jawab wanita itu terbata memberikan keterangan atas kondisi istriku, dengan sedikit gemetar seakan tak percaya tiba-tiba HP yang ada dalam genggamanku terlepas dan terjuntal kelantai.
Air mataku tiba-tiba turun dengan deras dari kelopak mataku, sedih.., menyesal atas semua tindakanku selama ini padanya, dan dengan masih perasaan tak percaya aku segera bergegas menuju RS yang telah ditunjukan padaku, bergegas aku kekamar zenajah mengikuti arahan salah seorang petugas jaga, ..
.. dan Subhanallah, kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri tubuh istriku yang terbaring kaku bersimbah darah, ditubuhnya masih lengkap dengan pakaian syar’i, menurut salah seorang wanita yang berdiri tak jauh dari ranjang dimana istriku dibaringkan (Wanita yg menelpon aku ddan mengabarkan istriku kecelakaan), menurutnya mereka dan tim medis sengaja tidak membuka pakaian yg dikenakan wanita itu atas permintaannya saat sekarat manakala dilarikan ke RS, ..
.. beliau meminta agar jangan sampai ada lelaki yang menyentuhnya dan membuka auratnya sampai keluarganya datang menjemputnya, wanita tersebut menuturkan dengan deraian air mata, menurutnya lagi saat sekarat taka ada sedikitpun tanda-tanda kesakitan pada wajah istriku, bahkan hingga nyawanya berpisah dari raganya.
Ya Allah, betapa mulianya hati istriku, hingga dalam keadaan sekaratpun dia masih meminta agar kehormatannya tetap dijaga, perlahan bayangan masa lalu kami kembali terpampang dalam benakku, betapa istriku takut bepergian sendiri tanpa ada mahrom, bahwa betapa kuatnya dia menjaga kehormatannya sebagai seorang muslimah, tetapi aku telah lalai dari menjaganya, ya Allah ampuni aku…, ampuni aku…, terlalu banyak dosa yang telah kuperbuat selama hidupku.
Hingga saat ini kesedihan itu masih terus menggerogoti perasaanku, meskipun sebuah kesyukuran sendiri buatku sebab setelahnya Hidayah itu menyapaku. Tetapi sungguh, hanya Allah yang tahu isi hati ini, bahwa hingga hari ini aku belum bisa melupakannya dan memafkan diriku sendiri, apalagi mengingat betapa mulianya hati istriku, jujur selama pernikahan kami, tak pernah satupun dia kuberikan uang gajiku, bahkan dia tidak tahu berapa penghasilanku setiap bulannya, ..
.. subhanallah, begitu sabarnya dia padaku, dan yang lebih membuatku sangat bersedih lagi adalah tak pernah satu kalipun selama pernikahan kami aku membelikannya pakaian yang syar’i, seingatku pakaian muslimah syar’i yang dipakainya selama menikah denganku adalah pakaian yang memang telah dimilikinya sebelum menikah denganku dan lagi-lagi dia tidak pernah mengeluh padaku, ..
.. kudapati pula jubah yang dipakainya saat kecelakaan itu telah sobek dibagian punggungnya, dan dari sobekan itu sudah ada jahitan2 sebelumnya yang telah lapuk, andai saja dia tidak memakai jilbab besar, mungkin sobekan itu akan terlihat jelas. dan hal lain yang membuat aku semakin pilu adalah dokter memberikan keterangan bahwa ada janin yang diperkirakan berusia 6 pekan dalam kandungan istriku, Yaa Allah ampuni aku…ampuni aku ya Allah..kasihan istriku..betapa sabarnya dia menghadapiku selama ini.
Pendengar Nurani yang baik
Alhamdulillah saat ini aku telah aktif tarbiyah, andai istriku masih ada, pasti dia akan bahagia melihat aku saat ini yang Alhamdulillah telah tersentuh oleh hidayah-Nya, tetapi sayang dia telah tiada, yang tersisa hanyalah kenangannya dan juga Ahmad dan Fatimah.
Duhai mujahidahku tersayang, maafkan abi yang telah melalaikanmu..
Abi tahu berlarut-larut dalam kesedihan ini tak baik.., tetapi kesedihan ini entah mengapa tak pernah lekang dari perasaan abi..
Abi janji pada ummi, akan menjaga Ahmad dan Fatimah, mujahid dan mujahidah kita tercinta…, insya allah mereka akan tumbuh dengan akhlak seperti umminya atau mungkin lebih dari abi dan umminya..
Selamat jalan wahai mujahidahku tersayang, semoga Allah menerima semua amal ibadahmu dan menempatkanmu dijannah-Nya yang tertinggi … Aamiin …
demikian dari saya setiap kesalahan datang dari saya untuk itu saya mohon maaf dan setiap kebenaran hanya milik ALLAH SWT.
Ya Allah.. Aku berlindung padamu dari Azab dan Siksa api neraka. Aamiin

Jika dia baik adakah diluar sana juga baik?

Hasil gambar untuk berpelukanAda seorang istri yang memiliki suami yang seorang insinyur. Dia mencintai sifatnya yang alami dan menyukai perasaan hangat yang muncul dihati saya ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.

Setelah tiga tahun dalam masa perkenalan dan dua tahun dalam masa pernikahan, si istri mulai merasa lelah. Alasan-alasan dia mencintai suaminya dahulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.
“Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus.
Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen.” ungkapan yg selalu muncul dibenaknya.

“Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan pada dirinya. Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.” pikiran sang istri yg selalu bergelanyut di kepalanya.

Suatu hari, sang istri memberanikan diri untuk mengatakan keputusannya kepada sang suami, bahwa dia menginginkan perceraian.

“Mengapa ?”, sang suami bertanya dengan terkejut.
“Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan”. jwb sang istri.

Si suami terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya,
tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.

Kekecewaan sang istri semakin bertambah, merasa suaminya adalah seorang pria yang tidak dapat mengekspresikan perasaannya, “Apalagi yang bisa saya harapkan darinya ?” gerutunya dalam hati.

Dan akhirnya sang suami bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?”.
Sang istri menatap mata suaminya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan,
“Saya punya pertanyaan, jika kamu dapat menemukan jawabannya di dalam hati, saya akan merubah pikiran saya “.

“Sayangku, seandainya saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung, akan tetapi kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu kamu akan mati, apakah kamu akan melakukannya untukku ?” lanjut sang istri.

Si suami termenung dan akhirnya berkata, “Saya akan memberikan jawabannya besok”.
Hati si istri langsung gundah mendengar respon suaminya seperti itu.

Keesokan paginya, sang suami tidak ada di rumah, dan sang istri menemukan selembar kertas dengan coretan tangan suaminya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat.
Disitu tertulis … “Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu,
tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya”.

Kalimat pertama ini menghancurkan hati sang istri, namun tetap penasaran untuk melanjutkan untuk membacanya.

” Kamu sering mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program-program di PC dan akhirnya menangis di depan monitor karena panik, namun saya selalu memberikan jari-jari saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya.

Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu dan membukakan pintu untukmu ketika pulang.

Kamu suka jalan-jalan ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu.

Kamu selalu pegal-pegal pada waktu “teman baikmu” datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal.

Kamu senang diam di rumah dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi “aneh”.
Dan saya harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami.

Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku sambil tidur dan itu semua tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu.
Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai,
menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu .

Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati.
Karena saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku.
Sayangku, saya tahu ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari apa
yang dapat aku lakukan. Namun jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku tidak juga cukup bagimu, maka aku tidak akan bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu “.

Air mata sang istri jatuh ke atas tulisan suaminya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi dia tetap berusaha untuk membacanya.

” Sayang, kamu telah selasai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita,saya sekarang sedang berdiri didepan menunggu jawabanmu. Jika kamu tidak puas sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia “.

Sang istri segera berlari membuka pintu dan melihat suaminya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaan istrinya.

“Oh… kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintaiku.” ucap sang istri sambil terisak memeluk suaminya.

Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari
hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu

Sabtu, 23 Agustus 2014

Dua Pemancing Yang Hebat

Diceritakan tentang sebuah kejadian yang dialami dua orang pemancing yang sama-sama hebat, berinisial A dan B. Kedua pemancing itu selalu mendapatkan banyak ikan. Pernah kedua pemancing tersebut didatangi oleh 10 pemancing lain ketika memancing di sebuah danau. Seperti biasa, kedua pemancing itu mendapatkan cukup banyak ikan. Sedangkan 10 pemancing lainnya hanya bisa gigit jari, karena tak satupun ikan menghampiri kail mereka.Ke sepuluh pemancing amatir itu ingin sekali belajar cara memancing kepada kedua pemancing hebat tersebut. Tetapi keinginan mereka tidak direspon oleh pemancing berinisial A. Sebaliknya, pemancing berinisial A tersebut menunjukkan sikap kurang senang dan terganggu oleh kehadiran pemancing-pemancing amatir itu.

Tetapi pemancing berinisial B menunjukkan sikap yang berbeda. Ia bersedia menjelaskan tehnik memancing yang baik kepada ke-10 pemancing lainnya, dengan syarat masing-masing diantara mereka harus memberikan seekor ikan kepada B sebagai bonus jika masing-masing diantara mereka mendapatkan 10 ekor ikan. Tetapi jika jumlah ikan tangkapan masing-masing diantara mereka kurang dari 10, maka mereka tidak perlu memberikan apapun.

Persyaratan tersebut disetujui, dan mereka dengan cepat belajar tentang tehnik memancing kepada B. Dalam waktu dua jam, masing-masing diantara pemancing itu mendapatkan sedikitnya sebakul ikan. Otomatis si B mendapatkan banyak keuntungan. Disamping mendapatkan `bonus' ikan dari masing-masing pemancing bimbingannya, si B juga mendapatkan 10 orang teman baru. Sementara pemancing A, yang pelit membagi ilmu, tidak mendapatkan keuntungan sebesar keuntungan yang didapatkan oleh
si B.

Pesan:
Kisah di atas menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan akan jauh lebih bermanfaat bila diamalkan. "Hanya dengan cara kita mengembangkan orang lain yang membuat kita berhasil selamanya," kata Harvey S. Fire Stone. Karena tindakan tersebut disamping menjadikan kita lebih menguasai ilmu pengetahuan, kita juga mendapatkan keuntungan dari segi finansial, pengembangan hubungan sosial, dan lain
sebagainya. "Jika Anda membantu lebih banyak orang untuk mencapai impiannya, impian Anda akan tercapai," imbuh Zig Ziglar, seorang motivator ternama di Amerika Serikat.

Bentuk pemberian tak harus berupa uang, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya, melainkan juga dalam bentuk kasih sayang, perhatian, loyalitas, motivasi, bimbingan dan lain sebagainya semampu yang dapat kita berikan. "Make yourself necessary to somebody. – Jadikan dirimu berarti bagi orang lain," kata Ralph Waldo Emerson. Kebiasaan memberi seperti itu selain memudahkan kita memperluas jalinan hubungan sosial, tetapi juga membangun optimisme karena merasa kehidupan kita lebih berarti.

Bermimpilah dan Kejarlah



Dulu, ibuku pernah berkata seperti ini : “Tsaura, kuliah itu biayanya mahal sekali tapi semahal apapun umi akan berusaha keras supaya Tsaura bisa kuliah, umi mau semua anak-anak umi kuliah dan jadi orang sukses” kalimat itu terngiang ngiang di kepalaku dan mengingat bahwa saat itu keluargaku masih dalam tahap perjuangan menuju keluarga mapan, maka aku yang masih kecil itu pun mengambil sebuah kaleng bekas susu di dapur, lalu membuat lubang kecil di atasnya untuk memasukkan uang. yap, aku membuat sebuah celengan. hari demi hari kulewati, ku ingat hari-hari itu kusisihkan uang jajanku dan ku simpan dalam kaleng susuku. mulai dari recehan hingga uang kertas. setiap hari yang ada dikepalaku adalah bahwa aku ingin kuliah di tempat yang serba biru karena aku suka sekali dengan warna biru.

Setiap kali jumlah uang sudah mencapai pertengahan kaleng susu, aku selalu menghitungnya, sudah sampai mana aku menabung. Tapi, setiap kali uang yang kupunya sudah cukup banyak, ibuku selalu meminta uang tabunganku untuk membeli sayur dan bahan makanan lainnya di rumah. sungguh, waktu itu aku cukup kesal dengan ibuku, bagaimana aku bisa kuliah kalau uangnya di ambil umi terus? pikirku saat itu. Tapi setiap kali ibuku meminta uang, aku selalu memberikannya, aku tak bisa menolak. Karena aku pun tahu bahwa ketika ibuku meminta uang tabunganku, tandanya ibuku btidak punya uang sama sekali.
hanya itu yang aku pikirkan dan aku lakukan waktu kecil hingga waktu terus bergulir dan kini aku sedang
mengikuti alur yang harus dijalani oleh setiap mahasiswa baru “ospek”, saat ospek aku mendapat almamater warna biru, tas berwarna biru dan untuk atribut ospek pun aku memakai pita warna biru, semua karena lambang dari fakultasku berwarna biru. yap. mimpi kecilku terwujud. Kini orangtuaku sudah cukup mapan, Aku mampu berkuliah di sebuah perguruan tinggi negeri yang cukup ternama dan semuanya serba biru. Allah telah mewujudkan mimpiku. Alhamdulillah, sungguh aku berterima kasih padaMu ya Allah. dan aku tersadar, bahwa tabunganku yang sebenarnya bukanlah tabungan yang ada di kaleng susuku, tapi tabungan yang ada di sisi Allah ketika aku ikhlas memberikan seluruh tabunganku pada ibuku. disitulah kuncinya. luar biasa ya, Allah memang tidak pernah lupur dari hamba-hambaNya.
Teman, itulah salah mimpi kecilku, kini aku sedang membuat mimpi-mimpi baru dan sedang berusaha untuk mewujudkannya, ingatlah bahwa Allah tidak pernah luput dari hamba-hambaNya. Oleh karena itu, mari kita buat hidup kita berarti untuk diri sendiri, orang tua, dan orang lain melalui mimpi-mimpi dan kerja-kerja besar yang kita lakukan. yakinlah bahwa Allah akan selalu memberikan jalan, tidak ada di dunia ini yang namanya jalan buntu, jalan buntu hanya untuk orang-orang yang putus asa, sedang untukmu yang sedang berjuang, percayalah bahwa Allah akan selalu memberikan jalan. Dan terkadang butuh kepekaan dari diri kita untuk melihat jalan-jalan itu, jalan-jalan itu adalah peluang. Kalau kata Raditya Dika peluang itu seperti pintu, ada dimana-mana, tinggal apakah kita mau rajin mengetuk atau tidak, karena kita tidak tahu di pintu mana kita akan diterima.
semangat dan teruslah berjuang, hidup ini hanya sekali kawan, jangan disia-siakan.

Senin, 18 Agustus 2014

Santri Badung VS Kiyai Jenius


Hasil gambar untuk santri badungPada sebuah majlis pengajian Aqiidah, tiba- tiba salah seorang murid yang terkenal badung, bandel, tapi pinter mengajukan sebuah pertanyaan yang membuat semua santri terperangah dan gerah:

“Pak kiyai, bolehkah aku bertanya?”
“Tentu saja boleh, apa pertanyaanmu?”
“Begini pak kiyai, saya ada 3 (tiga) pertanyaan, mohon penjelasannya”:
1.      Setan itu diciptakan dari api, nah kalau nanti dia masuk neraka, dia akan keenakan dong, karena api cocok bertemu dengan api. Pasti setan nggak akan sengsara di neraka.

2.      Apakah sebenarnya hakekat takdir itu?
3.      Apakah yang dilakukan Allah saat ini?
Para santri lain agak kaget atas ulah temannya yang terkenal bandel itu.
Namun pak kiyai berkata dengan penuh kesabaran terhadap pertanyaan yang agak berbau kurang ajar itu, seraya berkata:
“Baiklah, aku akan berikan satu jawaban saja untuk menjawab tiga pertanyaan kamu itu sekaligus. Bolehkan?”.
“Silahkan pak kiyai”.
Maka secara tiba- tiba sang kiyai bangkit dan menampar wajah sang murid.
Perbuatan sang kiyai itu sungguh tidak diduga oleh sang santri, juga para murid yang lainnya. Maka serentak proteslah dia:
“Lho, kok kiyai marah? Jangan marah dong kiyai, saya bertanya kan karena memang belum mengerti tentang suatu masalah? Kata pak kiyai kalau belum tahu tentang masalah harus berani bertanya?”
Pak kiyai menjelaskan:
“Tamparan itu kulakukan bukan karena aku marah, tapi itulah jawaban saya!”
“Maksudnya?” sang murid pun bertanya sambil terbengong- bengong.
“Begini: pipi kamu itu dibuat dari apa?”
“Daging pak kiyai”
“Kalau tangan saya?”
“Juga daging pak kiyai”.
“Sakit nggak saya tampar?”
“Sakit pak kiyai”
“Jadi daging ditampar pakai daging juga sakit kan? Begitu juga: Api ditampar pakai api juga akan sakit. Benar tidak? Jadi setan yang dari api, nanti tatkala disiksa pakai api, diapun akan menderita dan sengsara luar biasa”
Masuk akal juga, kata sang santri. Sekarang dia mulai memahami tindakan kiyainya yang jenius itu.
“Tentang masalah takdir, pernahkah terpikir olehmu atau olehku bahwa aku akan menampar wajahmu beberapa saat sebelum kejadian?”
“Nggak pernah terpikir pak kiyai”.
“Itulah hakekat takdir. Semuanya adalah hak prerogratif Allah. Tidak ada seorangpun yang yang tahu tentang apa yang sebenarnya akan terjadi secara pasti sebentar lagi, besok atau waktu yang akan datang, karena itu adalah rahasia Allah. Kita yakin bahwa manusia dan semua makhluq sudah di INSTALL dan di PROGRAM oleh Allah. Nah kewajiban kita sebagai manusia adalah BERUSAHA dan BERIKHTIYAR seraya BERDO’A, seraya meyakini bahwa sukses dan gagal itu adalah berjalan sesuai takdir Ilahi. Maka saat ia sukses ia tak akan sombong, dan pada saat gagal, ia tak akan pernah berputus asa untuk bangkit lagi”.
“Yang ketiga kiyai?” Sekarang sang murid menunggu penuh antusias terhadap penjelasan kiyainya.
“Tentang pertanyaanmu : Allah sekarang sedang apa,  ya.. itu,  Allah sedang mengatur dan memegang ubun- ubun setiap makhluk ciptaan Nya  agar mereka selalu berada dalam rencana takdirnya yang azaly. Buktinya kamu diatur oleh Allah mengajukan pertanyaan seperti itu agar aku dapat menamparmu sesuai takdir Nnya. Dan kamu pun melakukan itu semua sesuai Qodar Nya, akupun menampar kamu sesuai dengan rencana Nya. Paham?”
“Paham pak kiyai….terimakasih”.
Dasar kiyai jenius, wong menampar orang kok malah dapat ucapan terimakasih. Opo tumon?
Pengajian pun kemudian ditutup. Para santripun malam itu kemudian pulang ke pemondokannya masing- masing dengan hati puas seraya makin kagum pada kedalaman ilmu kiyainya.

Kain Kafan Kita Sedang Dirajut !!!

Hendaklah  kamu bertakwa kepada Allah disaat kamu lalai,

Dzat yang telah melimpahkan rizki kepadamu dari arah yang tidak kamu ketahui....


Bagaimana kamu takut miskin padahal Allah maha pemberi rizki,

Sungguh telah dianugerahi rizki burung dan ikan dilautan

Dan barang siapa yang menyangka bahwasanya rizki itu didapat dengan kekuatan

Sungguh tidak akan makan burung kecil bersama burung besar

Kamu tergelincir di dunia sedang kamu tidak menyadarinya
Jika gelap malam telah menyelimuti apakah kamu mengira bisa hidup sampai pagi?

Berapa banyak orang yang sehat meninggal tanpa sebab
Berapa banyak orang yang sakit parah bisa hidup bertahun tahun lamanya
Berapa banyak para pemuda sore dan pagi harinya tertawa gembira

Sedang kain kafannya di tempat lain sedang di rajut dan dia tidak menyadarinya
Maka barang siapa hidup seribu atau dua ribu tahun lamanya
Sungguh suatu hari nanti akan diantar keliang kuburnya

Cerpen : Ketika Orang Miskin Jatuh Cinta


Malam belum terlalu larut, jam di handphone baru menunjukkan pukul 20.00 WIB, namun suasana kampungku sudah sepi, apalagi tadi sore hujan deras semakin membuat orang-orang malas keluar rumah. Baru saja aku matikan lampu di ruang tamu, dibalik pintu seperti ada sesosok bayangan orang, saat kuintip dari lubang kunci memang ada sesosok manusia, dari lubang kecil itu aku masih bisa menangkap pakaian dan perawakan orang dibalik pintu. meski samar aku mulai mengenalinya, tanpa berpikir panjang lagi, segera aku buka pintu.


” kamu to slank? ngapain didepan pintu dari tadi, ayo masuk ! ” tak salah dugaanku dia memang faiz, tapi lebih suka dipanggil slank, dia penggemar group band slank.
” tak kira wis tidur sampeyan kang “. jawab slank sambil menggeser kursi tamu yang terbuat dari busa  milikku yang sudah bolong-bolong saking lamanya
” belumlah, masak kalong jam segini tidur? “
” mau minum apa ?” yang ditanya malah ngeloyor mauk ke ruang tengah dan membuka kulkas
” kulkasnya isinya cuma air putih doang, bikin kopi aja ya?”
” siap kang, tapi ada temennya kan?” slank mulai beraksi meracik kopi
” yo , ini tadi ada yang datang bawain sate kambing, lumayan kan hujan-hujan ada yang ngasih sate ” jawabku
” wah mantab kang . sip pokok men ” slank kian bersemangat
Begitulah malam itu kami menikmati kopi disanding dengan sate kambing, sambil diringi nyanyian kodok sawah yang bersahutan.
” kalau ada pisang goreng atau ubi rebus tambah gayeng yo kang?” suara slank disela-sela menikmati sate dan kopi
” nah itu ….. bagaimana kita bisa menikmati hidup kalau yang didepan mata tidak disyukuri malah mengharap yang nggak ada?”
” kan cuma seandainya kang? bukan nggrundel ” kilah slank
” ya benar, tapi kata pepatah ” bahagia adalah ketika kita menerima apa yang ada pada diriku tanpa membanding-bandingkan dengan yang lainnya “
” kalau ditangan kita sate ya jangan mikirin pisang goreng atau ubi goreng yang nggak ada, nanti kenikmatan sate ini tercemari dan berkurang, begitu maksudnya “.
” oooo… gitu ya? yo… yo… yo…. ” kebiasaan slank kalau sudah terpojok
” kang sebenarnya aku mau curhat iki ” suara slank tiba-tiba berubah serius
” waduh …. sepertinya omong tua ya? ” candaanku
” serius kang” slank rada cemberut mukanya
” piye …. piye …..??? aku mulai pasang wajah serius pula biar slank tidak semakin manyun
” begini kang ………
Slank mulai menceritakan problem yang sedang menimpanya, dia sudah 3 tahun menjalin hubungan dengan seorang wanita teman sekolahnya dulu, 2 tahun terakhir dia ditinggal bekerja ke luar negeri, dia berjanji habis masa kontrak 2 tahun dia akan pulang, ternyata dia nambah lagi 1 tahun. Dengan sabar dan setia slank menantikan kekasihnya pulang. Namun sudah 2 minggu terakhir menjelang kepulangannya dia didatangi kakak dari kekasihnya, memberitahukan supaya slank tidak usah mengharapkan adiknya lagi, karena sekarang dia sudah menikah dengan anak majikannya di luar negeri sana.
” ini dia titip amplop buat kamu faiz ” ucap kakak kekasihnya
” ini kang amplopnya, kang tahu apa isinya? uang 10 juta kang ” ucap slank dengan terbata-bata
” ada suratnya kan? ” tanyaku
” tak ada secuil pun, lewat kakaknya dia titip pesan, uang itu buat ganti pulsa selama 3 tahun aku sering menelponnya, kalau kurang jangan sungkan katanya ” suara slank semakin parau
Aku tidak berani berkata-kata lagi, aku biarkan slank menangis, setelah slank agak tenang, aku mencoba membesarkan hatinya ;
” sudahlah slank, itu sudah menjadi taqdir, dia memang bukan yang terbaik buat kamu, insya Allah akan diganti dengan yang lebih baik lagi “
” iya kang, aku tidak menyesali akhir kisah ini, tapi mengapa dia menusuk hatiku dengan uang, apa karena dia sekarang sudah berkelimang dengan harta, lantas diriku yang miskin ini dianggap sudah tidak punya harga diri dan perasaan? aku memang miskin tapi tidak pernah mengemis, aku sengaja terima uang ini, karena aku bernaksud mengembalikannya secara langsung “
” maksudmu?’
” aku akan mendaftar jadi TKI, dengan bekal alamat dari kakaknya aku akan cari dia, aku akan kembalikan uang ini, biar rasa penasaranku ini terbayarkan ” suara slank berubah tegar, gemetar suaranya mengisyaratkan amarah yang menggejolak didadanya.
Aku tidak mau meneruskan percakapan malam ini, karena slank masih terbawa emosi, aku pikir biarlah nanti dilain waktu aku akan mencoba membujuknya agar mengurungkan niatnya, tapi ternyata aku sudah terlambat, slank sudah berangkat ke negeri sakura. Lalu bagaimana kisah slank dinegeri sakura?
Note :
Itulah kehidupan, kita sering bersemangat ketika merajut mimpi masa depan yang penuh keindahan, namun kita lupa mempersiapkan diri untuk menerima kenyataan andai mimpi-mimpi indah itu berubah mimpi buruk, penulis ingat satu kisah, disuatu kota diadakan lomba balap mobil-mobilan, semua kontestan menjagokan mobil-mobilannya, ada yang made in japan,german, amrik, tap ada 1 anak yang hanya mempunyai mobil-mobilan dari kaleng-kaleng bekas.
Lomba pun segera dimulai, masing-masing peserta meletakkan mobil-mobilannya digaris start, sesaat sebelum lomba, anak-anak ini diminta berdo’a dulu. dengan tepuk tangan meriah lomba pun digelar, setelah menunggu beberapa waktu, tak ada yang menyangka, si anak dengan mobil-mobilan dari kaleng bekas keluar sebagai juara.
seorang dengan badan agak tambun yang menjadi ketua perlombaan itu menghampiri sang juara, sambil berbisik dia bertanya ;
” do’a apa yang kamu baca nak sehingga kamu menang?” tanya bos perlombaan
” saya berdo’a semoga saya tidak menagis kalau saya kalah nanti ” jawab anak itu dengan polos
Yag bertanya diam tanpa kata, terbayang dikepalanya , betapa kita semua sering berdo’a memninta pada Allah agar rival kita tersungkur supaya kita menang, jiwa kita dipersiapkan untuk menang. dan kita melupakan permohonan untuk diberi kekuatan kalau kita kalah dalam perlombaan hidup ini. maka ketika kita tidak mencapai garis finish sebagai pemenang, kecewa, frustasi dengan gampang bercokol di jiwa kita.

Senin, 04 Agustus 2014

Berbagi tidak membuat anda kekurangan


Tiga orang pemuda asal Amerika bernama Sam Pepper, Logan Paul dan Jake Paul tidak pernah menyangka bahwa video yang mereka buat mampu menyentuh hati dan menginspirasi jutaan pasang mata yang melihatnya. Dalam video tersebut terlihat seorang pemuda (Sam Pepper) berpura-pura menjadi gelandangan yang tidak mempunyai rumah.


Pemuda tersebut merasa kelaparan dan ia pun masuk ke dalam sebuah restoran pizza untuk meminta sepotong pizza dari orang-orang yang makan di sana. Namun tak satupun orang yang memberikan makanan tersebut kepadanya. Di lain tempat, dua orang pemuda yang sedang berjalan (Logan Paul dan Jack Paul) bertemu dengan seorang pria homeless yang hidup di jalanan dan memberinya sebuah kotak berisi satu loyang pizza.
Sementara pria tersebut menikmati makanannya dan tersisa beberapa potong, datanglah seorang pemuda (Sam Pepper) yang mengaku kelaparan dan sangat butuh untuk mengisi perutnya dengan makanan. Tanpa disangka, pria homeless tersebut mengizinkan Sam Pepper mengambil satu potong pizzanya lalu mengucapkan terimakasih.
 Sobat, terkadang orang yang kekurangan mampu memberi lebih, dan sebaliknya, orang yang berkelimpahan kadang sulit memberikan apa yang ia miliki kepada mereka yang membutuhkan. Satu hal yang dapat kita pelajari dari kisah tiga pemuda dan seorang gelandangan di video tersebut adalah, kita tak akan pernah kekurangan karena berbagi.
Justru dengan berbagi kita mengerti kekurangan orang lain, belajar untuk bermurah hati dan tidak mementingkan diri sendiri. Percayalah, rezeki Tuhan tidak akan pernah terhambat kepada orang-orang yang suka memberi dengan tulus hati. Dengan berbagi sesungguhnya kita sedang memberkati diri kita sendiri.

Saat si miskin berkata


Dalam sebuah cerita, ada seseorang yang sangat kaya raya, namun ada juga seseorang yang sangat-sangat miskin. Setiap kali, si miskin hanya menerima hinaan, cacian, juga perilaku sombong dari si kaya. Sebutlah Kwang, si miskin yang tidak pernah berhasil dalam karirnya, juga tidak pernah mampu mengendalikan emosinya. Setiap apapun yang membuatnya marah, ia hanya akan menyerang sia-sia. Sifat terburuknya adalah selalu menyerah sebelum mencoba, juga tidak memiliki mimpi dalam hidupnya.


Seo In, seorang pria kaya raya yang tiada lain adalah anak dari pimpinan tempat Kwang bekerja, seketika menghampiri Kwang yang baru saja tiba. “Kwang ! Lihat dirimu hari ini, sepertinya tidak lebih baik dari hari sebelumnya. Penampilanmu juga begitu berantakan, apa kau menggunakan kendaraan umum untuk bisa sampai kesini? Ah, kau juga gagal kan dalam pertandingan kemarin? Oh, orang sepertimu kenapa bisa menjadi pemain cadangan dalam klub ku? Kau bodoh, dan sekarang apa yang harus kulakukan saat melihatmu tak berdaya?”
“Tutup mulutmu ! Ini tidak ada hubungannya denganmu”. Merasa terhina, Kwang pun tidak berpikir panjang dan lalu melayangkan pukulannya tepat diatas rahang Seo In.
“Lihat tingkah lakumu ! Kau hanya bisa bermain dengan pukulan dan pada akhirnya berakhir di dalam sel. Seharusnya kau tahu, bahwa uangku bisa saja menghancurkanmu”. Ucap Seo In yang tengah meminta pihak kepolisian untuk memberikan hukuman kepada Kwang.
Ini tidak hanya terjadi sekali, namun sudah sering kali. Bahkan pihak kepolisian sudah benar-benar dibuat bosan dengan kejadian ini.
Hari ini, Kwang terbebas setelah satu minggu penahanan. Dalam hatinya, ingin sekali ia membalaskan dendam kepada Seo In.
“Kwang ! Kau sudah bebas? Mengapa tidak memberitahuku sehingga aku bisa menjemputmu dengan mobil mewahku”.
“Tutup mulutmu ! Untuk kali ini, aku tidak akan memukulmu, tapi aku akan membuat kesepakatan denganmu. Benar, bahwa aku miskin dan aku tidak berharga. Bahkan aku tidak punya satu hal pun untuk ku sombongkan padamu. Dan sekarang, mintalah sesuatu yang bisa kulakukan untuk membuatmu berhenti menghinaku. Akan kulakukan, apapun itu !”.
Dengan wajah yang tidak pernah sekalipun tersenyum, Seo In lalu berkata, “buatlah aku tertawa”.
Kwang pun berpikir siang dan malam, “apa yang harus kulakukan? Ah, bodohnya aku, kenapa aku harus berkata seperti itu padanya. Seharusnya biarkan saja dia menghinaku. Atau lebih baik jika aku menjauh darinya. Tidak lagi bekerja dengannya dan tidak lagi satu klub olahraga bersamanya. Ah, bodoh !”
Hari demi hari berlalu, selama itu, Kwang sudah mencoba berbagai hal untuk membuat Seo In tertawa. Namun sia-sia. Seo In seperti manusia yang sudah terkunci urat tertawanya.
Tiba suatu hari dimana semua orang berkumpul, tak terkecuali Seo In. Kwang pun menghampiri dan lalu berkata, “Mulai saat ini, aku tidak akan lagi muncul dihadapanmu. Tidak akan lagi menjadi rekan kerjamu, tidak akan juga menjadi pemain cadangan dalam klubmu. Tapi ada satu hal yang ingin ku ketahui sebelum aku benar-benar pergi. Apakah ada dalam diriku yang pernah membuatmu terluka? Apa ada dalam diriku yang pernah membuatmu iri? Dan apakah ada dalam diriku yang pernah membuatmu merasa terhina? Kalaupun ada, itu aku ! Aku terluka saat mendengarmu berkata bahwa uangmu bahkan bisa menghancurkanku. Kau tahu, bagaimana sulitnya aku mencari uang? Dan kau gunakan uangmu hanya untuk menghancurkanku? Aku iri padamu, jelas iri, saat kau berkata kau akan menjemputku dengan mobil mewahmu. Kau tahu, biarpun aku menaiki kendaraan umum, aku masih sangat bahagia. Dan aku terhina oleh semua sikapmu yang membiarkan semua usahaku nampak sia-sia. Jika aku tidak bisa membuatmu tertawa, bukankah lebih baik aku pergi ?”.
Sahabatku, kita tidak akan pernah tahu, seperti apa orang yang kita hadapi. Bahkan seseorang yang terlihat menakutkan, justru memiliki kebaikan yang lebih dari sekedar orang baik. Jadi, jangan pernah memperlakukan seseorang sebagaimana kasta yang dia miliki. Karena kita tidak tahu, bahkan mungkin semut pun bisa sangat mematikan.

Minggu, 03 Agustus 2014

Kisah nyata: Nabrak polisi dapat jodoh

Hasil gambar untuk jodohBismillahir-Rahmaanir-Rahim … Aku tak tahu, apakah ini kesialanku atau keberuntunganku. Satu yang kutahu, inilah jalan yang diberikan Allah untuk bertemu jodohku. Meski awalnya, aku merasa sial karena kecelakaan itu dan aku harus mengganti rugi tidak sedikit. Toh akhirnya justru kesialanku itu membawaku ketemu jodoh.
Ceritanya begini, secara tak sengaja aku menabrak seorang polisi sepulang kuliah. Tak kusangka “motor butut”-ku bisa merusak total motornya yang bernilai puluhan juta. Perasaan, mataku sudah fokus ke jalan, tak jelalatan kemana-mana. Doa juga sudah kubaca saat aku menyalakan mesin motor di parkiran I kampus.
Memang sudah apes dan inilah yang dinamakan takdir. Nggak diminta dan meski sudah hati-hati eh… nabrak juga, … polisi lagi.

Aku dan motorku sempat juga jungkir balik, Alhamdulillah lukaku tak seberapa parah, meski jidatku sempat berdarah-darah dan tanganku terkilir, serta luka lecet hamper diseluruh tubuh. Meski tak sampai membuatku pingsan, aku harus merasakan mondok tiga hari di rumah sakit.
Sementara polisi yang kutabrak tak separah aku. Tapi justru motornya yang parah, sempat aku ciut nyali saat temen-temen polisi dan orang-orang mengerumuniku. Di TKP teman-teman polisi itu justru yang marah-marah dan bersikap agak keras padaku, tapi mas polisi itu justru minta teman-temannya bersikap baik dan sabar padaku.
“Sudah, nggak papa namanya juga nggak sengaja, memang ada orang mau nabrak atau ditabrak? Jangan kasarlah aku baik saja kok. Kayaknya motor yang kena, nanti kan bisa diselesaikan baik-baik”.
Aku dibuat kagum bahkan polisi yang kutabrak itu berbaik hati mengantarku ke rumah sakit dan mengabari keluarga dirumah. Selama tiga hari itu dia juga menyempatkan diri menjengukku di rumah sakit. Kami jadi akrab karenanya.
Nah, setelah keluar dari rumah sakit aku mulai disibukkan urusan ganti rugi onderdil motor senilai puluhan juta itu. Ganti rantai saja nilainya jutaan rupiah, itu pun belum spare part lain.
Makanya hampir seluruh tabungan hasil kerja sampinganku ludes semua. Tapi aku memang harus bertanggungjawab bukan? Aku tak mau menyusahkan orangtua soal ganti rugi, hingga aku bilang ke mas polisi cuma bisa mencicil sedikit demi sedikit.
Seperti biasa, kali ini aku ke rumah mas polisi untuk mencicil ganti rugi. Ini keempat kalinya aku kesana. Sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih dia menerima “setoranku”. Dan seperti biasa pula kami ngobrol sejenak. Tak kusangka dia tiba-tiba bertanya, “sudah ada gambaran nikah belum?” tanyanya padaku sambil mesem-mesem.
“Ya kadang pingin juga mas, kerja kecil-kecilan insya Allah sudah ada, pinginnya nggak nunda-nunda, tapi jodohnya belum ada”. Jawabku sambil cengar-cengir.
“Mau sama adikku? Serius nih, orangnya pake jilbab gedhe kamu carinya kan yang kayak gitu”. Mas polisi bilang gitu mungkin karena celanaku yang “kayak orang kebanjiran” seperti temen-temen kampus yang suka meledekku.
“Bener kok, serius!” Ujarnya menegaskan.
Sore itu aku pulang dan berjanji memikirkan tawarannya. Setelah berkonsultasi dengan orang tua dua pekan kemudian kuberikan jawaban “Ya”. Tentu saja, akhwat dan keluarganya sudah tahu keadaanku yang perbedaannya ibarat langit dan bumi dengan mereka yang dari keluarga berada. Meski awalnya minder, sikap bapak akhwat yang begitu baik membuatku percaya diri, pesannya padaku singkat.
“Laki-laki yang bisa menjadi imam dan tanggungjawab, satu lagi jaga anak perempuan saya, dia sepenuhnya saya titipkan ke kamu”.
Meski diberi tanggungjawab yang tak ringan, hatiku serasa diguyur es, sejuk…. Rasanya. Aku segera pulang ke awang-awang sepulang nazhar. Mas Har, si mas polisi yang kutabrak itu mencegatku, ia menyerahkan amplop tebal padaku.
“Ini uang yang kamu titipkan padaku, ini hadiahku tapi bener ya cepet jemput bidadarimu! Ia memukul pundakku ringan dan pergi tanpa memberiku kesempatan bertanya lagi.
Masya Allah, di rumah, begitu kubuka amplop ternyata isinya uang sesuai ganti rugi motor yang kuberikan kepada mas Har. Segera kuhubungi mas Har lewat telepon, tapi ia tertawa ringan.
“Aku sudah bilang, itu untuk calon adikku”.
Berkaca-kaca saat kututup telepon sambil tak henti-hentinya bersyukur. Sudah nabrak orang, dikasih adiknya, dipercaya orangtuanya, uang ganti ruginya masih dikembalikan padaku.
Semalaman aku tak bisa tidur entah karena senang atau bingung. Uang senilai hampir sepuluh juta itu, kuberikan sebagai mahar saat akad nikah buat istri. Tepat sebulan sebelum Ramadhan.
Kini kami sudah punya 2 momongan, insya Allah beberapa bulan lagi akan bertambah seorang lagi. Mas Har menikah 2 tahun kemudian, ia baru punya satu momongan, Alhamdulillah kami semua hidup bahagia. Mas har dan istrinya juga mulai tertarik manhaj mulia ini. Dan itu menambah kebahagiaan kami.
Wallahua’lam bish Shawwab ….
Barakallahufikum ….
… Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci …

ISTRI SHOLEHAH YANG MENGGAIRAHKAN


Abu Thalhah adalah salah seorang sahabat Nabi yang amat beruntung karena kehidupan keluarganya yang sakinah. Isterinya yang bernama Rumaisah atau lebih dikenal dengan Ummu Sulaim bukan hanya cantik dan menggairahkan, tapi juga shalehah dan cerdas. dikaruniai seorang anak dari Allah swt melengkapi kebahagiaan keluarga ini.


Namun demikian, selalu kumpul di rumah untuk selalu menikmati kebahagiaan tidaklah mungkin. Seorang suami harus keluar dari rumah untuk mencari nafkah yang juga menjadi tanggungjawab dan bukti cintanya kepada keluarga. Bahkan dalam situasi yang mendesak ia tetap harus lakukan hal itu.


Suatu ketika anak semata wayang yang mereka cintai jatuh sakit,  sementara Abu Thalhah harus keluar rumah untuk mencari nafkah dan bila tidak keluar rumah, ia tidak mendapatkan apa yang menjadi kebutuhan sehari-hari. Karenanya, meskipun terasa berat ia tetap pergi untuk melaksanakan kewajibannya itu.

Ketika sore hari, anaknya yang sakit akhirnya meninggal dunia. Duka amat dalam dirasakan oleh Rumaisah, iapun mengucurkan air mata sampai terasa sudah habis bersama kesedihannya yang juga demikian. Hari sudah mendekati malam yang berarti suaminya segera pulang, IA TIDAK INGIN SUAMINYA PULANG YANG DALAM KEADAAN LELAH HARUS BERHADAPAN DENGAN KESEDIHAN YANG DALAM DAN TIDAK MENYENANGKAN.


Untuk menyambut suaminya pulang, Ummu Sulaim memindahkan jenazah anak yang dicintainya itu ke kamar khusus, iapun menutupi wajahnya yang sedih dengan sedikit bersolek dan siap menyambut kepulangan suaminya malam itu dengan wajah gembira seperti tidak ada masalah.

Kepulangan Abu Thalhah betul-betul disambut dengan gembira, saat ia bertanya tentang keadaan anaknya, iapun menjawab bahwa sang anak sedang beristirahat, bahkan lebih tenang dari biasanya. Abu Thalhah tentu merasa bersyukur. Makan malam yang lezat sudah dihidangkan oleh isteri yang amat dicintainya, bahkan sesudah makan malam selesai, sang isteri dengan wajahnya yang bersinar, bahkan nampak lebih cantik dari biasanya mengajaknya bercengkrama dengannya sehingga Abu Thalhah melakukan hubungan suami isteri dengan kepuasan tersendiri.

Setelah sang suami isteri ini merengkuh kepuasan dan kebahagiaan malam itu, Rumaisah tiba-tiba bertanya kepada suaminya: “Bila ada orang menitipkan sesuatu kepada kita, sesuatu itu milik kita atau bukan, padahal kita amat menyenangi sesuatu itu?”.
 “Tentu bukan”, jawab Abu Thalhah.
Rumaisah melanjutkan pertanyaannya: “Bila sesuatu itu diambil oleh yang punya bagaimana?”.
“Tidak apa-apa, hak orang itu untuk mengambilnya karena memang hal itu miliknya”, jawab sang suami.
“Bila sesuatu itu adalah anak kita, anak itu milik kita atau titipan?”. Tanya Rumaisah lagi.
Sampai disini, Abu Thalhah merasa ada yang aneh dengan pertanyaan isterinya itu. Karenanya ia bertanya: “Apa sebenarnya maksud pertanyaanmu itu?”.
“Kalau kita menyadari bahwa anak kita adalah titipan Allah swt, maka Allah swt telah mengambilnya, ia telah wafat menjelang maghrib tadi”, jawab Rumaisah.

Meskipun kalimat itu diucapkan sedemikian pelan dan hati-hati, hal itu telah menggetarkan hati Abu Thalhah. Menyadari kematian sang anak yang dicintai membuatnya menjadi diam dan sedih serta termenung memikirkan kejadian  hari itu. BILA SANG ISTERI BERKATA APA ADANYA SEJAK KEPULANGANNYA, TIDAK MUNGKIN IA HARUS BERSENANG-SENANG DENGAN MAKAN YANG LEZAT DAN MELAKUKAN HUBUNGAN SUAMI ISTERI.

NAMUN, IA MENJADI SEMAKIN CINTA DAN BANGGA KEPADA SANG ISTERI ATAS KECERDASAN HATI DAN PIKIRANNYA ATAS PERISTIWA INI. “ISTERIKU TERNYATA TELAH BERBUAT SESUATU YANG PATUT DITELADANI”, PIKIRNYA MESKIPUN IA HAMPIR TIDAK PERCAYA DENGAN APA YANG DIALAMINYA.

Setelah jenazah sang anak diurus dengan baik. Abu Thalhah merenung atas kekagumannya kepada sang isteri, ia merasa sebagai seorang suami amat tertinggal dengan isterinya dalam menyikapi sesuatu. Ia ingin berusaha untuk menjadi lebih baik dari isterinya. Maka iapun datang kepada Rasulullah saw dan menceritakan peristiwa yang sesungguhnya terjadi.

Mendengar cerita Abu Thalhah, Rasulullah saw nampak sangat antusias, wajahnya nampak begitu gembira dengan cerita tentang keadaan umatnya yang mengagumkan. Karenanya sesudah mendengar cerita itu, Rasulullah saw mendo’akan agar Allah swt memberkati malam-malam berikutnya suami isteri yang tabah itu.

Kejadian ini menjadi cerita yang tersebar luas di Madinah, para suami isteri ingin memiliki ketabahan, kesabaran dan kesungguhan seperti Abu Thalhah dan Rumaisah ini. Harapan Rasulullah saw ternyata menjadi kenyataan. Suami isteri yang mulia ini dikarunia anak-anak yang tidak hanya satu, tapi tujuh anak yang mudah dididik dan dibina menjadi anak yang shaleh, bahkan anak-anak inipun menjadi penghafal Al-Qur’an yang mengagumkan.

Sahabat wanita… tak ada satupun laki-laki yang tidak menginginkan istrinya atau calon istrinya seperti Rumaisah, CINTA seorang lelaki tak akan perpaling sedikitpun jika Istrinya atau calon istrinya seperti Rumaisah, kecuali Lelaki itu BODOH. Jadilah Rumaisah kita akan serasa tinggal di SORGA sebelum SORGA

Lelaki miskin dan lelaki kaya

Kisah seorang lelaki miskin dan lelaki kaya,memperebutkan seorang perempuan malam,.

Suatu hari di pertemuan si miskin dan si kaya di tempat kediaman malam..

Kaya:apa tujuan mu untuk mencintai dia?
Miskin:untuk mewujudkan inginku dengan membahagiakan dia.


Kaya:hahahahaha,punya apa kamu untuk membahagiakan dia,untuk makan aja kamu harus ngutang dulu,gak usah mimpi kamu..lihat saya,uang banyak,mobil banyak dan rumah apa lagi..
Miskin:lalu untuk apa tuan inginkan wanita itu,sedangkan dengan harta tuan yang miliki bisa dengan mudah mendapatkan yang lebih dari dia.?




Kaya:dia cantik dan memuasakan bagi ku,dan aku ingin memilikinya,lalu kenapa juga kamu ngotot banget ingin memiliki dia juga,sedangkan kamu tau dia adalah wanita kotor,bekas banyak sekian lelaki yang ia gauli.?
Miskin:aku gak memandang dia dari segi buruk nya,aku tau dia dari kecil,awalnya dia adalah teman satu pengajian dengan ku,dia gadis pintar,baik dan ramah,setau ku dia hanya terusap seytan dan khilap hingga jadi seperti ini,aku sungguh mencintai dia dengan tanpa melihat keburukan nya,dan sejelek apapun dia aku meski tetap mengagumi dan menghormati kaum perempuan,aku tidak ingin menyukai dia karena kecantikan dan kebaikan nya,justru setau ku bila kita mencintai dengan tulus maka kejelekan nya pun meski kita terima,dan dengan harapan kita dapat merubah nya..

Kecantikan bisa hilang,dan bila kita hanya menyukai kebaikan nya saja,maka kemungkinan besar disaat wajah cantik dan sikap baik nya berubah,maka kita pasti meninggalkan nya dan mencari yang baru,.
Dan itu namanya bukan cinta,tapi nafsu yang ada pada diri kita..

Lelaki kaya itu terdiam dan tak dapat berkata lagi,dia mengakui kekalahan atas niat nya yang tak sama dengan lelaki miskin itu..
Sementara itu,gadis malam yang mereka perebutkan ternyata mendengarkan perdebatan akan dirinya itu,dan ucapan dari seorang lelaki yang dulu nya jadi sahabat nya itu,yang tak terasa kini dapat menetaskan air mata nya... Dan Ia menyesali akan perbuatan nya,.

Memesan kematian yang indah

Terkisahkan dengan indah oleh sejarah tentang kematian Khubaib. Seorang sahabat Rasulullah yang tertawan Bani al-Harits, mereka membawa keluar Hubaib dari tanah haram untuk membunuhnya, Hubaib berkata, ‘Berilah aku kesempatan untuk mengerjakan shalat dua rakaat.’ Mereka mengizinkan shalat dua rakaat. Hubaib berkata, ‘Demi Allah, sekiranya kalian tidak menuduhku berputus asa pasti aku menambah shalatku.’ Lalu Hubaib memanjatkan doa,
‘Ya Allah, susutkanlah jumlah bilangan mereka, musnahkanlah mereka, sehingga tidak ada seorang pun dari keturunannya yang hidup,’ lalu mengucapkan syair: Mati bagiku bukan masalah, selama aku mati dalam keadaan Islam Dengan cara apa saja Allah lah tempat kembaliku Semua itu aku kurbankan demi Engkau Ya Allah, Jika Engkau berkenan, berkahilah aku berada dalam tembolok burung karena lukaku (syahid) Lalu Abu Sirwa’ah Uqbah bin Harits tampil untuk membunuh Hubaib. Hubaib adalah orang Islam pertama yang dibunuh dan sebelum dibunuh melakukan shalat. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu pernah berkata: ”Tahukah kalian siapakah orang yang masuk Surga tetapi tidak pernah shalat walaupun sekali?” Kemudian dia sendiri yang menjawab: “Dia adalah Amr bin Tsabit”. Ibnu Ishaq berkata bahwa Hushain bin Muhammad pernah berkata: “Aku bertanya kepada Mahmud bin Labid,’Bagaimana kisah Amr bin Tsabit itu?’, ia menjawab,’Dulunya, Amr bin Tsabit itu menolak agama Islam. Akan tetapi, saat terjadi perang Uhud dia menjadi simpatik kepada Islam. Kemudian dia mengambil pedangnya dan bergabung dengan kaum muslimin. Saat perang sedang berkecamuk dia masuk ke kancah peperangan sampai akhirnya dia terluka. Ketika ditemukan oleh orang-orang yang sekabilah dengannya, mereka bertanya,’Apa yang membuatmu datang ke mari? Apakah karena kasihan pada kaum kabilahmu, ataukah karena kau ingin masuk Islam?’ Dia jawab,’Ya, karena aku ingin masuk agama Islam, aku telah berjihad bersama
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga aku terluka begini’. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi ura sallam bersabda,’Sungguh dia adalah ahli Surga.”‘ Dalam riwayat lain disebutkan: Kemudian dia meninggal -karena lukanya- maka dia masuk surga dan tidak pernah melaksanakan shalat sekalipun ( Fathul Bari Syarh Shahihul Bukhari (6/25) Kitab Al-jihad. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Sanad hadits ini shahih) Banyak orang merasa ngeri menghadapi kematian. Padahal, kematian adalah perkara gaib yang sering kita saksikan dan pasti menjumpai kita. Persoalannya bukan kapan kematian itu datang. Akan tetapi, apa yang telah kita siapkan untuk bekal kematian itu, sehingga kematian yang menjemput tanpa memberi kabar menjadi saat terindah karena pada saat itu kita akan berjumpa dengan Allah SWT. Berikut Nasehat Kematian dari Abu bakar r.a terhadap Umar Ibn Khaththab di detik-detik akhir kehidupannya: “Ketahuilah, Allah Azza wa Jalla punya hak di siang hari dan hak itu tidak Dia terima di malam hari. Ketahuilah, Allah Azza wa Jalla juga punya hak di malam hari dan Dia tidak menerimanya di siang hari. Ketahuilah, shalat sunnah tidak diterima hingga Anda mengerjakan shalat wajib. Ketahuilah, Allah Azza wa Jalla menyebutkan penghuni surga dengan perbuatan terbaik mereka, lalu tiba-tiba ada orang berkata, ‘Bagaimana amalku bisa sejajar dengan amal mereka?’ Itu terjadi, sebab Allah mengampuni kesalahan perbuatan mereka dan tidak mencelanya. Ketahuilah, Allah Azza wa Jalla menyebutkan penghuni neraka dengan perbuatan paling buruk mereka, lalu tiba-tiba ada orang berkata, ‘Perbuatanku lebih baik dari perbuatan mereka’. Itu terjadi, karena Allah Azza wa Jalla menolak perbuatan mereka yang paling baik dan tidak menerimanya. Ketahuilah, Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat tentang kemakmuran bersamaan dengan ayat tentang kesusahan, dan ayat tentang kesusahan bersamaan dengan ayat tentang kemakmuran, agar orang mukmin menjadi orang yang berharap (kepada rahmat Allah) dan takut (siksa-Nya), lalu ia tidak
membawa dirinya pada kebinasaan dan hanya mengharapkan kebaikan kepada-Nya. Ketahuilah, timbangan orang yang berat timbangannya itu berat karena mereka di dunia mengikuti kebenaran. Itulah rahasia kenapa timbangan mereka menjadi berat. Ketahuilah, timbangan orang yang ringan timbangannya itu ringan karena mereka dulu di dunia mengikuti kebatilan. Itulah penyebab timbangan mereka menjadi ringan. Jika Anda menerima wasiatku ini, maka tidak ada sesuatu yang paling Anda cintai selain kematian dan Anda pasti suatu hari nanti berhadapan dengannya. Jika Anda menyia-nyiakan wasiatku ini, maka jangan ada urusan ghaib yang lebih Anda benci daripada kematian” (Washaya Al Ulama’i, Ar Rib’i, hal 35) Akhir hidup seorang hamba biasanya berkesesuain dengan aktivitas dominan yang dilakukannya sehari- hari. Ketika kita telah memahami ini, ada baiknya kita maksimalkan hari-hari kita dengan aktivitas kebaikan. Sesungguhnya Allah SWT tidak ridha pada kematian seseorang, kecuali matinya dalam keadaan berserah diri (muslim). ”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu dengan sebenar-benarnya takwa dan
janganlah kamu mati, kecuali dalam keadaan berserah diri (muslim).” (QS Ali-Imron: 102) Untuk mengakhiri tulisan ini ada baiknya kita belajar dari Umar Bin Abdul Aziz dalam menyikapi datangnya kematian. Ketahuilah, umur dunia hanya sedikit. Kemuliaan didalamnya adalah kehinaan. Pemudanya akan menjadi renta, dan yang hidup didalamnya akan mati. Celakalah yang tertipu olehnya. Umar Bin Aziz lalu menangis dan berkata, “Wahai yang menjadi penghuni kubur esok hari, bagaimana dunia bisa menipumu? Dimana kafanmu? Dimana minyak (wewangian untuk orang mati)mu dan dimana dupamu? Bagaimana nanti ketika kamu telah berada dalam pelukan bumi. Celakalah aku, dari bagian tubuh yang mana pertama kali cacing tanah itu melumatku? Celakalah aku, dalam keadaan bagaimana aku kelak bertemu dengan malaikat maut, saat ruhku meninggalkan dunia? Keputusan apakah yang akan diturunkan oleh Rabbku?“. Akhir hidup yang indah adalah kematian dalam keadaan berserah diri kepada Allah SWT. Setiap kita berhak memesannya melalui amal yang kita lakukan selama ini. Selamat memesan kematian yang terindah.