Pada hari pernikahanku,aku
membopong istriku. Mobil
pengantin berhenti didepan
flat kami yang cuma
berkamar satu.
Sahabat-
sahabatku menyuruhku untuk membopongnya begitu
keluar dari mobil. Jadi
kubopong ia memasuki
rumah kami. Ia kelihatan malu-malu. Aku
adalah seorang pengantin pria
yang sangat bahagia. Ini
adalah kejadian 10 tahun yang
lalu.
Hari-hari selanjutnya berlalu demikian simpel seperti
secangkir air bening. Kami
mempunyai seorang anak,
saya terjun ke dunia usaha
dan berusaha untuk
menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran
meningkat, jalinan kasih
diantara kami pun semakin
surut. Ia adalah pegawai sipil.
Setiap pagi kami berangkat
kerja bersama-sama dan sampai dirumah juga pada
waktu yang bersamaan. Anak kami sedang belajar di
luar negeri. Perkimpoian kami
kelihatan bahagia. Tapi
ketenangan hidup berubah
dipengaruhi oleh perubahan
yang tidak kusangka-sangka. Dew hadir dalam
kehidupanku. Waktu itu
adalah hari yang cerah. Aku
berdiri di balkon dengan Dew
yang sedang merangkulku.
Hatiku sekali lagi terbenam dalam aliran cintanya. Ini adalah apartment yang
kubelikan untuknya. Dew
berkata , “Kamu adalah jenis
pria terbaik yang menarik
para gadis.” Kata-katanya
tiba-tiba mengingatkanku pada istriku. Ketika kami baru
menikah,istriku pernah
berkata, “Pria
sepertimu,begitu sukses, akan
menjadi sangat menarik bagi
para gadis.” Berpikir tentang ini, Aku menjadi ragu-ragu.
Aku tahu kalo aku telah
menghianati istriku. Tapi aku
tidak sanggup
menghentikannya. Aku
melepaskan tangan Dew dan berkata, “Kamu harus pergi
membeli beberapa perabot,
O.K.?.Aku ada sedikit urusan
dikantor” Kelihatan ia jadi tidak senang
karena aku telah berjanji
menemaninya. Pada saat
tersebut, ide perceraian
menjadi semakin jelas
dipikiranku walaupun kelihatan tidak mungkin.
Bagaimanapun,aku merasa
sangat sulit untuk
membicarakan hal ini pada
istriku. Walau
bagaimanapun ku jelaskan, ia pasti akan sangat terluka.
Sejujurnya,ia adalah seorang
istri yang baik. Setiap malam
ia sibuk menyiapkan makan
malam. Aku duduk santai
didepan TV. Makan malam segera tersedia. Lalu kami
akan menonton TV sama-
sama. Atau aku akan
menghidupkan
komputer,membayangkan
tubuh Dew. Ini adalah hiburan bagiku. Suatu hari aku berbicara
dalam guyon, “Seandainya
kita bercerai, apa
yang akan kau lakukan? ” Ia
menatap padaku selama
beberapa detik tanpa bersuara. Kenyataannya ia
percaya bahwa perceraian
adalah sesuatu yang sangat
jauh dari ia. Aku tidak bisa
membayangkan bagaimana ia
akan menghadapi kenyataan jika tahu bahwa aku serius.
Ketika istriku mengunjungi
kantorku, Dew baru saja
keluar dari ruanganku. Hampir
seluruh staff menatap istriku
dengan mata penuh simpati dan berusaha untuk
menyembunyikan segala
sesuatu selama berbicara
dengan ia. Ia kelihatan sedikit
kecurigaan. Ia berusaha
tersenyum pada bawahan- bawahanku. Tapi aku
membaca ada kelukaan di
matanya. Sekali lagi, Dew
berkata padaku,” He Ning,
ceraikan ia, O.K.? Lalu kita
akan hidup bersama.” Aku mengangguk. Aku tahu aku
tidak boleh ragu-ragu lagi. Ketika malam itu istriku
menyiapkan makan malam,
ku pegang
tangannya,”Ada sesuatu yang
harus kukatakan” Ia duduk
diam dan makan tanpa bersuara. Sekali lagi aku
melihat ada luka dimatanya.
Tiba-tiba aku tidak tahu harus
berkata
apa. Tapi ia tahu kalo aku
terus berpikir. “Aku ingin bercerai”, ku ungkapkan
topik ini dengan serius tapi
tenang. Ia seperti tidak
terpengaruh oleh kata-
kataku, tapi ia
bertanya secara lembut,”kenapa?” “Aku
serius.” Aku menghindari
pertanyaannya. Jawaban ini
membuat ia sangat marah. Ia
melemparkan sumpit dan
berteriak kepadaku,”Kamu bukan laki-laki!”. Pada malam itu, kami sekali
saling membisu. Ia sedang
menangis. Aku tahu kalau ia
ingin tahu apa yang telah
terjadi dengan perkimpoian
kami. Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yang
memuaskan sebab hatiku
telah dibawa pergi oleh Dew.
Dengan perasaan yang amat
bersalah, Aku menuliskan
surai perceraian dimana istriku memperoleh rumah, mobil
dan 30% saham dari
perusahaanku. Ia
memandangnya sekilas dan
mengoyaknya jadi beberapa
bagian.. Aku merasakan sakit dalam hati. Wanita yang telah
10 tahun hidup bersamaku
sekarang menjadi seorang
yang asing dalam hidupku.
Tapi aku tidak bisa
mengembalikan apa yang telah kuucapkan. Akhirnya ia menangis dengan
keras didepanku, dimana hal
tersebut tidak pernah kulihat
sebelumnya. Bagiku,
tangisannya merupakan suatu
pembebasan untukku. Ide perceraian telah
menghantuiku dalam
beberapa minggu ini dan
sekarang sungguh-sungguh
telah terjadi. Pada larut malam,aku kembali
ke rumah setelah menemui
klienku. Aku melihat ia
sedang menulis sesuatu.
Karena capek aku segera
ketiduran. Ketika aku terbangun tengah malam aku
melihat ia masih menulis. Aku
tertidur kembali. Ia
menuliskan syarat-syarat dari
perceraiannya. Ia tidak
menginginkan apapun dariku,tapi aku harus
memberikan waktu sebulan
sebelum menceraikannya,dan
dalam waktu sebulan itu kami
harus hidup bersama seperti
biasanya. Alasannya sangat sederhana:
Anak kami akan segera
menyelesaikkan
pendidikannya dan liburannya
adalah sebulan lagi dan ia
tidak ingin anak kami melihat kehancuran rumah tangga
kami. Ia menyerahkan
persyaratan tersebut dan
bertanya,” He Ning, apakah
kamu masih ingat bagaimana
aku memasuki rumah kita ketika pada hari pernikahan
kita?” Pertanyaan ini tiba-tiba
mengembalikan beberapa
kenangan indah kepadaku.
Aku mengangguk dan
mengiyakan. “Kamu
membopongku dilenganmu”, katanya, “Jadi aku punya
sebuah permintaan, yaitu
kamu akan tetap
membopongku pada waktu
perceraian kita. Dari sekarang
sampai akhir bulan ini, setiap pagi kamu harus
membopongku keluar dari
kamar tidur ke pintu.” Aku
menerima dengan senyum.
Aku tahu ia merindukan
beberapa kenangan indah yang telah berlalu dan
berharap perkimpoiannya
diakhiri dengan suasana
romantis. Aku
memberitahukan Dew soal
syarat-syarat perceraian dari istriku. Ia tertawa keras dan
berpikir itu tidak ada
gunanya. “Bagaimanapun trik
yang ia lakukan, ia harus
menghadapi hasil dari
perceraian ini,” ia mencemooh. Kata-katanya membuatku
merasa tidak enak. Istriku dan aku tidak
mengadakan kontak badan
lagi sejak kukatakan
perceraian itu. Kami saling
menganggap orang asing. Jadi
ketika aku membopongnya dihari pertama, kami
kelihatan salah tingkah. Anak
kami menepuk punggung
kami,”Wah, papa membopong
mama, mesra sekali” Kata-
katanya membuatku merasa sakit.. Dari kamar tidur ke
ruang duduk, lalu ke pintu,
aku berjalan 10 meter dengan
ia dalam lenganku. Ia
memejamkan mata dan
berkata dengan lembut,” Mari kita mulai hari ini,jangan
memberitahukan pada anak
kita.” Aku mengangguk, merasa
sedikit bimbang.Aku
melepaskan ia di pintu. Ia
pergi menunggu bus, dan aku
pergi ke kantor. Pada hari
kedua, bagi kami terasa lebih mudah. Ia merebah di
dadaku,kami begitu dekat
sampai-sampai aku bisa
mencium wangi dibajunya.
Aku menyadari bahwa aku
telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita
ini. Aku melihat bahwa ia
tidak muda lagi, beberapa
kerut tampak di wajahnya.
Pada hari ketiga, ia berbisik
padaku, “Kebun diluar sedang dibongkar, hati-hati kalau
kamu lewat sana.” Hari
keempat,ketika aku
membangunkannya,aku
merasa kalau kami masih
mesra seperti sepasang suami istri dan aku masih
membopong kekasihku
dilenganku. Bayangan Dew
menjadi samar. Pada hari
kelima dan enam, ia masih
mengingatkan aku beberapa hal, seperti, dimana ia telah
menyimpan baju-bajuku yang
telah ia setrika, aku harus
hati-hati saat memasak,dll.
Aku mengangguk. Perasaan
kedekatan terasa semakin erat. Aku tidak memberitahu
Dew tentang ini. Aku merasa begitu ringan
membopongnya.Berharap
setiap hari pergi ke kantor
bisa membuatku semakin
kuat. Aku berkata
padanya,”Kelihatannya tidaklah sulit membopongmu
sekarang” Ia sedang mencoba
pakaiannya, aku sedang
menunggu untuk
membopongnya keluar. Ia
berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa menemukan
yang cocok. Lalu ia
melihat,”Semua pakaianku
kebesaran”. Aku
tersenyum.Tapi tiba-tiba aku
menyadarinya sebab ia semakin kurus itu sebabnya
aku bisa membopongnya
dengan ringan bukan
disebabkan aku semakin kuat.
Aku tahu ia mengubur semua
kesedihannya dalam hati. Sekali lagi , aku merasakan
perasaan sakit Tanpa sadar ku
sentuh kepalanya. Anak kami
masuk pada saat tersebut.
“Pa,sudah waktunya
membopong mama keluar” Baginya,melihat papanya
sedang membopong
mamanya keluar menjadi
bagian yang penting. Ia
memberikan isyarat agar
anak kami mendekatinya dan merangkulnya dengan erat.
Aku membalikkan wajah
sebab aku takut aku akan
berubah pikiran pada detik
terakhir. Aku menyanggah ia
dilenganku, berjalan dari kamar tidur, melewati ruang
duduk ke teras. Tangannya
memegangku secara lembut
dan alami. Aku menyanggah
badannya dengan kuat seperti
kami kembali ke hari pernikahan kami. Tapi ia
kelihatan agak pucat dan
kurus, membuatku sedih.
Pada hari terakhir,ketika aku
membopongnya
dilenganku, aku melangkah dengan berat. Anak kami
telah kembali ke sekolah. Ia
berkata, “Sesungguhnya aku
berharap kamu akan
membopongku sampaikita
tua”. Aku memeluknya dengan kuat dan berkata
“Antara kita saling tidak
menyadari bahwa kehidupan
kita begitu mesra”. Aku
melompat turun dari mobil
tanpa sempat menguncinya. Aku takut keterlambatan
akan membuat pikiranku
berubah. Aku menaiki tangga.
Dew membuka pintu. Aku
berkata padanya,” Maaf Dew,
Aku tidak ingin bercerai. Aku serius”. Ia melihat kepadaku,
kaget. Ia menyentuh dahiku.
“Kamu tidak demam”. Kutepiskan tanganya dari
dahiku “Maaf, Dew,Aku cuma
bisa bilang maaf padamu,Aku
tidak ingin bercerai.
Kehidupan rumah tanggaku
membosankan disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan
nilai-nilai dari kehidupan,
bukan disebabkan kami tidak
saling mencintai lagi. Sekarang
aku mengerti sejak aku
membopongnya masuk ke rumahku, ia telah melahirkan
anakku. Aku akan
menjaganya sampai tua. Jadi
aku minta maaf padamu” Dew tiba-tiba seperti tersadar.
Ia memberikan tamparan
keras kepadaku dan menutup
pintu dengan kencang dan
tangisannya meledak. Aku
menuruni tangga dan pergi ke kantor. Dalam perjalanan aku
melewati sebuah toko bunga,
ku pesan sebuah buket bunga
kesayangan istriku. Penjual
bertanya apa yang mesti ia
tulis dalam kartu ucapan? Aku tersenyum, dan menulis ”
Aku akan membopongmu
setiap pagi sampai kita tua..”
Minggu, 29 Juli 2012
Belajar hidup dari tukang krupuk
Siapakah Pak Mansyur?
Dia bukan seorang pemegang
rekor dunia, bukan juga
seorang inspirator hebat yang
biasa didaulat sebagai
pembicara di hotel-hotel mewah, apalagi salah seorang
anggota DPRyang belakangan
santer dengan alamat email
palsunya. Pak Mansyur hanyalah
seorang penjual kerupuk
keliling, dia juga seorang ayah
dari anak-anaknya dan suami
dari istrinya. Lalu apa hebatnya seorang
Mansyur, sehingga saya
menyempatkan untuk
menulis di blog pribadi? Dia adalah seorang manusia
yang kuat & berani menjalani
hidup, padahal matanya tidak
bisa melihat secara permanen.
Kekuatan dan kelebihannya
melebihi para pemegang rekor dunia, bagaimana tidak,
dengan kebutaannya dia kuat
menjalani hidup ditengah-
tengah cercaan, hinaan orang-
orang disekitarnya, dia berani
membina rumah tangga dengan berjualan kerupuk
untuk menafkahi
keluarganya. Setiap hari Pak Mansyur
berkeliling jualan kerupuk
dari rumahnya ke daerah
Ciputat-Bintaro sampai ke
Pamulang. Saya sendiri tidak habis pikir.
Sebetulnya dengan
keterbatasannya itu, Pak
Mansyur bisa saja menjadi
pengemis, cukup duduk di
perempatan, simpan topi di depan, lalu menunggu uang
dari orang-orang lewat yang
kasihan dengan dia.
Namun apa yang dia katakan,
tak sedikitpun ada keinginan
menjadi pengemis. Wow luar biasa. Ah sayang, saya hanya bisa
menonton “Ketemu Pepeng”
tidak lebih dari sepuluh menit,
padahal ada beberapa orang
inspiratif seperti Pak Mansyur
yang ditampilkan disana. *** Ternyata orang-orang seperti
Pak Mansyur ini ada di
sekeliling kita, dan jumlahnya
cukup banyak. Setiap hari saya melewati
gerobak seorang nenek
penjual kupat sayur, dia
berjualan ditemani salah
seorang sanak keluarganya.
Wajahnya yang sudah keriput dan agak bongkok tetap mau
berjualan dan enggan untuk
menggantungkan hidupnya
kepada orang lain. Hampir setiap hari saya
dihadapkan pada orang-orang
tua yang hidupnya penuh
perjuangan, bisa jadi mereka
memiliki fisik yang lemah,
namun tidak dengan mentalnya. Mereka bukan orang-orang
terhormat yang duduk manis
di Gedung DPR, namun mereka
mengajarkan kita untuk
menjadi orang terhormat di
mata Allah SWT. Mereka bukan penulis hebat
yang mampu membawa
suasana pembacanya, namun
mereka orang-orang yang
mampu memberikan teladan
untuk mensyukuri hidup. Jika Anda tersentuh dengan
cerita di atas, tolong “share”
cerita ini ke teman-teman
yang lain agar mereka juga
dapat memetik hikmah yang
ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat
bagi kehidupan kita,
terimakasih.
Dia bukan seorang pemegang
rekor dunia, bukan juga
seorang inspirator hebat yang
biasa didaulat sebagai
pembicara di hotel-hotel mewah, apalagi salah seorang
anggota DPRyang belakangan
santer dengan alamat email
palsunya. Pak Mansyur hanyalah
seorang penjual kerupuk
keliling, dia juga seorang ayah
dari anak-anaknya dan suami
dari istrinya. Lalu apa hebatnya seorang
Mansyur, sehingga saya
menyempatkan untuk
menulis di blog pribadi? Dia adalah seorang manusia
yang kuat & berani menjalani
hidup, padahal matanya tidak
bisa melihat secara permanen.
Kekuatan dan kelebihannya
melebihi para pemegang rekor dunia, bagaimana tidak,
dengan kebutaannya dia kuat
menjalani hidup ditengah-
tengah cercaan, hinaan orang-
orang disekitarnya, dia berani
membina rumah tangga dengan berjualan kerupuk
untuk menafkahi
keluarganya. Setiap hari Pak Mansyur
berkeliling jualan kerupuk
dari rumahnya ke daerah
Ciputat-Bintaro sampai ke
Pamulang. Saya sendiri tidak habis pikir.
Sebetulnya dengan
keterbatasannya itu, Pak
Mansyur bisa saja menjadi
pengemis, cukup duduk di
perempatan, simpan topi di depan, lalu menunggu uang
dari orang-orang lewat yang
kasihan dengan dia.
Namun apa yang dia katakan,
tak sedikitpun ada keinginan
menjadi pengemis. Wow luar biasa. Ah sayang, saya hanya bisa
menonton “Ketemu Pepeng”
tidak lebih dari sepuluh menit,
padahal ada beberapa orang
inspiratif seperti Pak Mansyur
yang ditampilkan disana. *** Ternyata orang-orang seperti
Pak Mansyur ini ada di
sekeliling kita, dan jumlahnya
cukup banyak. Setiap hari saya melewati
gerobak seorang nenek
penjual kupat sayur, dia
berjualan ditemani salah
seorang sanak keluarganya.
Wajahnya yang sudah keriput dan agak bongkok tetap mau
berjualan dan enggan untuk
menggantungkan hidupnya
kepada orang lain. Hampir setiap hari saya
dihadapkan pada orang-orang
tua yang hidupnya penuh
perjuangan, bisa jadi mereka
memiliki fisik yang lemah,
namun tidak dengan mentalnya. Mereka bukan orang-orang
terhormat yang duduk manis
di Gedung DPR, namun mereka
mengajarkan kita untuk
menjadi orang terhormat di
mata Allah SWT. Mereka bukan penulis hebat
yang mampu membawa
suasana pembacanya, namun
mereka orang-orang yang
mampu memberikan teladan
untuk mensyukuri hidup. Jika Anda tersentuh dengan
cerita di atas, tolong “share”
cerita ini ke teman-teman
yang lain agar mereka juga
dapat memetik hikmah yang
ada pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat
bagi kehidupan kita,
terimakasih.
Dongeng 3 orang kakek
Minggu pagi ini, cuaca sangat
cerah. Ella sekeluarga juga
berkumpul sambil menunggu
ibu selesai memasak. Ayah
yang sedang membaca koran,
tiba-tiba merasakan Ella terdiam lama sambil
memandang ke luar jendela,
Sayang kamu memandang
apa di luar sana? Ella
mendekati ayahnya sambil
menunjuk ke luar jendela, Ayah, ada 3 orang kakek
aneh berjenggot putih yang
telah lama duduk di luar sana.
Benarkah? sahut ayah sambil
melihat ke luar jendela
sebentar, kemudian berjalan keluar rumah. Tak lama ibu
dan Ella juga mengikuti. Ayah lalu bertanya kepada
ketiga kakek tua itu, Kakek-
kakek, mengapa kalian duduk
di sini begitu lama? Apakah
sedang menunggu seseorang?
Salah satu kakek menjawab, Kami sedang melakukan
perjalanan dan merasa sedikit
lelah, oleh karena itu ingin
beristirahat di sini sejenak.
Kemuadian ibu yang merasa
iba terhadap para kakek tua itu, dengan senang hati
mengundang mereka, Mari
silakan masuk ke dalam
rumah kami. Istirahatlah
sebentar sambil mencicipi
makanan kecil yang baru saya buat. Salah satu kakek itu
menjawab, Terima kasih
banyak, akan tetapi kami
tidak bisa bersamaan masuk
ke dalam rumah kalian.Lho,
mengapa? tanya mereka bertiga serentak. Kakek tertua menjelaskan,
Karena saya bernama Kasih
Sayang, disamping saya
bernama Kesuksesan dan
Kekayaan, hanya salah satu
dari kami yang bisa masuk ke dalam rumah kalian. Maka
akhirnya terjadi perbedaan
pendapat diantara ayah, ibu
dan Ella. Ibu memilih duluan,
meminta kakek kekayaan
untuk masuk ke rumah, karena dia berdiri disamping
ibu. Sedangkan ayah
cenderung memilih kakek
kesuksesan, Menurut saya,
lebih baik kakek kesuksesan
yang masuk ke dalam rumah kita. Akan tetapi si Ella lebih
suka memilih kakek yang
tertua, Ayah ibu, saya ingin
kakek Kasih Sayang saja yang
masuk ke rumah kita. Akhirnya mereka
memutuskan mengikuti
keinginan Ella. Ayah
mempersilakan kakek Kasih
Sayang untuk masuk ke
rumah. Ketika kakek Kasih Sayang masuk kedalam
rumah, kedua kakek lainnya
juga ikut masuk. Ibu pun
bertanya keheranan, Lho,
mengapa kalian bertiga jadi
masuk bersamaan? Kakek Kekayaan berkata,
Jika kalian mengundang
Kekayaan atau Kesuksesan,
yang lainnya tentu tidak akan
ikut masuk. Si kakek
Kesuksesan menyambung, Akan tetapi kalau kalian
mengundang Kasih Sayang,
kemanapun dia pergi, kami
selalu akan mengikutinya. Si
kakek Kasih Sayang dengan
bijak mengakhiri, Karena dimana ada Kasih Sayang
maka disana pasti ada
Kekayaan dan Keberhasilan
cerah. Ella sekeluarga juga
berkumpul sambil menunggu
ibu selesai memasak. Ayah
yang sedang membaca koran,
tiba-tiba merasakan Ella terdiam lama sambil
memandang ke luar jendela,
Sayang kamu memandang
apa di luar sana? Ella
mendekati ayahnya sambil
menunjuk ke luar jendela, Ayah, ada 3 orang kakek
aneh berjenggot putih yang
telah lama duduk di luar sana.
Benarkah? sahut ayah sambil
melihat ke luar jendela
sebentar, kemudian berjalan keluar rumah. Tak lama ibu
dan Ella juga mengikuti. Ayah lalu bertanya kepada
ketiga kakek tua itu, Kakek-
kakek, mengapa kalian duduk
di sini begitu lama? Apakah
sedang menunggu seseorang?
Salah satu kakek menjawab, Kami sedang melakukan
perjalanan dan merasa sedikit
lelah, oleh karena itu ingin
beristirahat di sini sejenak.
Kemuadian ibu yang merasa
iba terhadap para kakek tua itu, dengan senang hati
mengundang mereka, Mari
silakan masuk ke dalam
rumah kami. Istirahatlah
sebentar sambil mencicipi
makanan kecil yang baru saya buat. Salah satu kakek itu
menjawab, Terima kasih
banyak, akan tetapi kami
tidak bisa bersamaan masuk
ke dalam rumah kalian.Lho,
mengapa? tanya mereka bertiga serentak. Kakek tertua menjelaskan,
Karena saya bernama Kasih
Sayang, disamping saya
bernama Kesuksesan dan
Kekayaan, hanya salah satu
dari kami yang bisa masuk ke dalam rumah kalian. Maka
akhirnya terjadi perbedaan
pendapat diantara ayah, ibu
dan Ella. Ibu memilih duluan,
meminta kakek kekayaan
untuk masuk ke rumah, karena dia berdiri disamping
ibu. Sedangkan ayah
cenderung memilih kakek
kesuksesan, Menurut saya,
lebih baik kakek kesuksesan
yang masuk ke dalam rumah kita. Akan tetapi si Ella lebih
suka memilih kakek yang
tertua, Ayah ibu, saya ingin
kakek Kasih Sayang saja yang
masuk ke rumah kita. Akhirnya mereka
memutuskan mengikuti
keinginan Ella. Ayah
mempersilakan kakek Kasih
Sayang untuk masuk ke
rumah. Ketika kakek Kasih Sayang masuk kedalam
rumah, kedua kakek lainnya
juga ikut masuk. Ibu pun
bertanya keheranan, Lho,
mengapa kalian bertiga jadi
masuk bersamaan? Kakek Kekayaan berkata,
Jika kalian mengundang
Kekayaan atau Kesuksesan,
yang lainnya tentu tidak akan
ikut masuk. Si kakek
Kesuksesan menyambung, Akan tetapi kalau kalian
mengundang Kasih Sayang,
kemanapun dia pergi, kami
selalu akan mengikutinya. Si
kakek Kasih Sayang dengan
bijak mengakhiri, Karena dimana ada Kasih Sayang
maka disana pasti ada
Kekayaan dan Keberhasilan
Beda nasib
Konon, uang seribu dan
seratus ribu memiliki asal-usul
yang sama tapi mengalami
nasib yang berbeda. Keduanya
sama-sama dicetak di PERURI
dengan bahan dan alat-alat yang oke. Pertama kali keluar dari
PERURI, uang seribu dan
seratus ribu sama-sama bagus,
berkilau, bersih, harum dan
menarik. Namun tiga bulan
setelah keluar dari PERURI, uang seribu dan seratus ribu
bertemu kembali di dompet
seseorang dalam kondisi yang
berbeda. Uang seratus ribu berkata
pada uang seribu :”Ya,
ampiiiuunnnn. ………. darimana
saja kamu, kawan? Baru tiga
bulan kita berpisah, koq kamu
udah lusuh banget? Kumal, kotor, lecet dan…… bau!
Padahal waktu kita sama-
sama keluar dari PERURI, kita
sama-sama keren kan ….. Ada
apa denganmu?” Uang seribu
menatap uang seratus ribu yang masih keren dengan
perasaan nelangsa. Sambil
mengenang perjalanannya,
uang seribu berkata : “Ya, beginilah nasibku ,
kawan. Sejak kita keluar dari
PERURI, hanya tiga hari saya
berada di dompet yang bersih
dan bagus. Hari berikutnya
saya sudah pindah ke dompet tukang sayur yang kumal.
Dari dompet tukang sayur,
saya beralih ke kantong
plastik tukang ayam.
Plastiknya basah, penuh
dengan darah dan taik ayam. Besoknya lagi, aku dilempar
ke plastik seorang pengamen,
dari pengamen sebentar aku
nyaman di laci tukang
warteg. Dari laci tukang
warteg saya berpindah ke kantong tukang nasi uduk,
dari sana saya hijrah ke
‘baluang’ (pren : tau kan
baluang…?) Inang-inang. Begitulah perjalananku dari
hari ke hari. Itu makanya
saya bau, kumal, lusuh,
karena sering dilipat-lipat,
digulung-gulung, diremas-
remas. ……” Uang seratus ribu
mendengarkan dengan
prihatin.: “Wah, sedih sekali
perjalananmu, kawan!
Berbeda sekali dengan
pengalamanku. Kalau aku ya, sejak kita keluar dari PERURI
itu, aku disimpan di dompet
kulit yang bagus dan harum. Setelah itu aku pindah ke
dompet seorang wanita
cantik. Hmmm…dompetnya
harum sekali. Setelah dari
sana , aku lalu berpindah-
pindah, kadang-kadang aku ada di hotel berbintang 5,
masuk ke restoran mewah,
ke showroom mobil mewah,
di tempat arisan Ibu-ibu
pejabat, dan di tas selebritis.
Pokoknya aku selalu berada di tempat yang bagus. Jarang deh aku di tempat
yang kamu ceritakan itu.
Dan…… aku jarang lho ketemu
sama teman-temanmu. “ Uang seribu terdiam sejenak.
Dia menarik nafas lega,
katanya : “Ya. Nasib kita memang
berbeda. Kamu selalu
berada di tempat yang
nyaman. Tapi ada satu hal
yang selalu membuat saya
senang dan bangga daripada kamu!” “Apa itu?” uang seratus
ribu penasaran.
“Aku sering bertemu
teman-temanku di kotak-
kotak amal di mesjid atau
di tempat-tempat ibadah lain. Hampir setiap minggu
aku mampir di tempat-
tempat itu. Jarang banget
tuh aku melihat kamu
disana…..”
seratus ribu memiliki asal-usul
yang sama tapi mengalami
nasib yang berbeda. Keduanya
sama-sama dicetak di PERURI
dengan bahan dan alat-alat yang oke. Pertama kali keluar dari
PERURI, uang seribu dan
seratus ribu sama-sama bagus,
berkilau, bersih, harum dan
menarik. Namun tiga bulan
setelah keluar dari PERURI, uang seribu dan seratus ribu
bertemu kembali di dompet
seseorang dalam kondisi yang
berbeda. Uang seratus ribu berkata
pada uang seribu :”Ya,
ampiiiuunnnn. ………. darimana
saja kamu, kawan? Baru tiga
bulan kita berpisah, koq kamu
udah lusuh banget? Kumal, kotor, lecet dan…… bau!
Padahal waktu kita sama-
sama keluar dari PERURI, kita
sama-sama keren kan ….. Ada
apa denganmu?” Uang seribu
menatap uang seratus ribu yang masih keren dengan
perasaan nelangsa. Sambil
mengenang perjalanannya,
uang seribu berkata : “Ya, beginilah nasibku ,
kawan. Sejak kita keluar dari
PERURI, hanya tiga hari saya
berada di dompet yang bersih
dan bagus. Hari berikutnya
saya sudah pindah ke dompet tukang sayur yang kumal.
Dari dompet tukang sayur,
saya beralih ke kantong
plastik tukang ayam.
Plastiknya basah, penuh
dengan darah dan taik ayam. Besoknya lagi, aku dilempar
ke plastik seorang pengamen,
dari pengamen sebentar aku
nyaman di laci tukang
warteg. Dari laci tukang
warteg saya berpindah ke kantong tukang nasi uduk,
dari sana saya hijrah ke
‘baluang’ (pren : tau kan
baluang…?) Inang-inang. Begitulah perjalananku dari
hari ke hari. Itu makanya
saya bau, kumal, lusuh,
karena sering dilipat-lipat,
digulung-gulung, diremas-
remas. ……” Uang seratus ribu
mendengarkan dengan
prihatin.: “Wah, sedih sekali
perjalananmu, kawan!
Berbeda sekali dengan
pengalamanku. Kalau aku ya, sejak kita keluar dari PERURI
itu, aku disimpan di dompet
kulit yang bagus dan harum. Setelah itu aku pindah ke
dompet seorang wanita
cantik. Hmmm…dompetnya
harum sekali. Setelah dari
sana , aku lalu berpindah-
pindah, kadang-kadang aku ada di hotel berbintang 5,
masuk ke restoran mewah,
ke showroom mobil mewah,
di tempat arisan Ibu-ibu
pejabat, dan di tas selebritis.
Pokoknya aku selalu berada di tempat yang bagus. Jarang deh aku di tempat
yang kamu ceritakan itu.
Dan…… aku jarang lho ketemu
sama teman-temanmu. “ Uang seribu terdiam sejenak.
Dia menarik nafas lega,
katanya : “Ya. Nasib kita memang
berbeda. Kamu selalu
berada di tempat yang
nyaman. Tapi ada satu hal
yang selalu membuat saya
senang dan bangga daripada kamu!” “Apa itu?” uang seratus
ribu penasaran.
“Aku sering bertemu
teman-temanku di kotak-
kotak amal di mesjid atau
di tempat-tempat ibadah lain. Hampir setiap minggu
aku mampir di tempat-
tempat itu. Jarang banget
tuh aku melihat kamu
disana…..”
Sabtu, 28 Juli 2012
Cerpen: Selalu dan selamanya
Waktu Terasa semakin berlalu… Tinggalkan Cerita tentang kita Akan tiada lagi kini tawamu Tuk Hapuskan semua sepi dihati… Ada cerita tentang Aku dan Dia Dan kita bersama saat dulu kala Ada cerita masa yang indah Saat kita berduka saat kita tertawa ( Peterpan )
Ku masih dan selalu saja meratapi diriku. Entah sampai kapan ku akan terus seperti ini. Pekerjaanku sepulang sekolah adalah melamun dan selalu melamun. Sambil mendengarkan lagu cinta sejatiku Peter Pan. ku sudah hafal lagu itu, sebab hanya satu lagu itulah yang menjadi temanku sehari-hari. Lagu itu menyimpan kenangan atau seakan lagu itu adalah harapan. Sambil terus mendengarkan Peterpan yang diputar beberapa kali, ku memandangi foto lama di HP- ku. Gambar itu adalah seorang Gadis remaja kecil dan Lelaki remaja kecil berseragam biru- putih. Dua anak itu bergaya. Berpegangan tangan dengan wajahnya seperti menarik senyuman. Ku tertawa sendiri teringat dengan semua kisah masa laluku. “ D’, a cakep nggak gini?” ku meminta pendapat Anis. Saat itu, Aku baru saja mencukur rambut. “ Idih, Cakep ko.. daripada botak kaya kemaren!” ujar Anis kecil sambil tertawa. “ Hmm.. masa sih d, kamu juga cakep d” “ He” narsis banget sih kamu a” “ kenapa ? ko Narsis!” “ Ia, ini foto-foto aja” “ Buat kenang-kenangan d’, kita kan mau lulus! Gimana- gimana juga, jelek-jelek juga, ni sekolah kan yang mempertemukan kita d”. . Ku tertawa lagi, tapi ia sadar bahwa semuanya adalah hanya kenangan masa lalu ketika ku bersekolah Menengah Pertama. “ Dimana Hati kamu sekarang, d? Apa ku gak bias nemuinnya lagi?” Ku lelah. ku mematikan Audio
Playern. Dan Peterpen pun berhenti menyanyi. *** Nun jauh disana, entah Anis sedang melakukan apa. Apakah sama juga sedang teringat pada masa laluanya bersamaku. “ A… kamu dimana? D’ takut a’ kenapa-napa…!” a’ kemana teriak anis penuh kekhawatiran ketika ku Pergi Kabur Meninggalkan Rumah . Dan ku memang sedang terombang-ambing diantara hidup dan mati ditengah masalah Hidupku itu. Aku pergi pergi meninggalkan Pulau Jawa. Pesan terakhirku saat itu ku bilang “ d’, kamu baik-baik ya dsini, insya allah nanti kita ktemu lagi, jaga diri baik-baik d’ ”. Anis tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menangis. “ Aaaaaaaaaaaaaaaaa…!” teriaknya saat disekolah dan mencertakan kepergiaanku kepada teman-teman yang lain. Segera Anis bersama teman- teman yang lain mencoba mencariku. HP ku lobet, ia tak bias Kontek denganku, dan akupun tak bicara jika ku pergi kemana? Tapi ku juga merasa gelisah, hingga akhirnya ku Sempat SMS dia menggunakan HP orang lain. Hingga aku berulang-ulang di- Telponnya, Hingga akhirnya ku Terayu olehnya tuk Pulang. 3 hari Kepergiaanku ternyata membuatku mengetahui berapa besar Sayang Anis untukku. Hari-hari kita memang selalu berdua tak pernah terpisahkan. Berangkat dan pulang sekolah, selalu berdua. Mendapat Peran Teater pun menjadi pasangan Raja dan Ratu. Cinta sudah terpatri dihatiku dengannya meski tak terucap kata cinta itu. Cinta itu tumbuh dengan sendirinya. Padahal, orang tua ia tak setuju dengan ke akraban aku dengannya. Tapi,
biar orang tua tak setuju. Kita berikrar tak akan pernah terpisah untuk selama- lamanya. “ KR-EHB IS TRUE LOVE, AND ALWAYS TOGETHER FOREVER!” begitu janji ku pada Anis. Dan kenyataan kita terpisah. Ternyata Aku tak seperti dulu dan Anispun bukan anis yang ku kenal dulu. Tapi sungguh ku masih sangat mencintainya. *** Tiga tahun tentu bukanlah waktu yang sebentar, itu adalah waktu yang sangat lama untuk membangun sebuah Bangunan Cinta nan amat Kokoh . Selama sekian tahun itu, aku dan Anis bersama. Namun itu tak meluluhkan kerasnya Hati Anis sekarang, ia seakan tak acuh lagi denganku, dan sampai aku memutuskan tuk memcoba Membencinya. “ D’… kenapa kamu sekarang? Tahukah kamu, aku sangat mencintaimu?” ku coba menitipkan kata pada angin yang bersiyur. Mudah- mudahan saja Anis mendengarnya disana. Tiga tahun runtuh seperti ini. Tak ka nada lagi lika-liku Cinta antara ku dengannya,, Jika ada sebuah Penghargaan munkin aku dengannya adalah Pasangan yang sangat banyak mendapatkan penghargaan, Pasangan Putus- Nyambung, Pasangan ter- unik, Ter-Aneh, Ter-, Ter- dech.
Tapi kini hanya Harapan, seketika Hati Anis Membeku sekeras batu nana mat besar yang tak bisah terluluhkan lagi. Hancurlah harapanku untuk bisa slalu dengan cintanya itu. “ Bagaimana jika ternyata Anis mengkhianatiku, lalu ia kini bersanding dengan orang lain” . Hati ku mulai berprasangka yang tidak- tidak, karena ku paling tak terima jika ia dekat dengan orang lain”. “ Ah, tapi buat apa, aku tak terima! Itu Haknya, dia mau punya Pacar baru tah, balikan ma pacar lamanya tah,, aku tak punya hak ngurusin dia lagi” Gertak hatiku, memarahi diriku yang Egois ini. Ah, hatiku berperang, bergejolak pertarungan kata- kata antara Ego dan Hatinya. “ Sekali lagi, aku yakinkan padamu, Mi. Anis bukan Siapa- siapa lagi untukmu. kamu tak punya hak lagi ngurusin dia..” bisik hati Ku. Disini kumelihat atap dinding yang bolong. ku seperti melihat bayangan masa lalunya ketikaku Kabur dan Anis menangis khawatir. Huh! *** Di kamar ini ku Sejenak Terdiam, mencoba Menerima semuanya yang telah terjadi. Yang Sudah, YA SUDAHLAH!! Mungkin ini adalah akhir dari Perjalananku dengannya,, dan langkah awal tuk melangkah kembali mencari Cinta sejatiku. Kucoba hapus Kesedihannku, Menutup Cerita bersamanya dan membuka Cerita baru. Aku sejenak Tenang, hatiku dan Egoku mulai Selaras, beberapa menit itu telah membuatku melupakan Kepedihanku. Saat ku berpaling ke dinding kumelihat Boneka itu, boneka pemberiaan dari Anis. Huh, kembali Hatiku di Ingatkan kembali oleh Cerita lamaku bersama Anis. “Ya allah kapan ini semua akan berakhir, aku sudah tak tahan atas semua ini. Ya aku mencintainya, aku menyayanginya.. tapi ini semua tak bisa dipaksakan lagi” gemuruh Jiwaku bertanya kepada sang Ilahi. Lagi-lagi aku harus berperang dengan Hatiku, entah sampai kapan ini semuanya berakhir… tapi ku tak mau begini, mungkin butuh waktu tuk hapus semuanya. Pesanku untuknya ” Cinta ini memang tak Bisa karena Terpaksa, harus keTulusanlah yang bisa membuat Cinta Abadi, tapi bukan inilah Jalan terbaik yang kau Pilih. Tapi ya sudahlah ini semua telah Menjadi Keputusanmu” dan Permintaanku kepadanya ” Be the first woman I knew, my very dear. and looks beautiful and Sholeha always wherever you stepped your steps.
Ku masih dan selalu saja meratapi diriku. Entah sampai kapan ku akan terus seperti ini. Pekerjaanku sepulang sekolah adalah melamun dan selalu melamun. Sambil mendengarkan lagu cinta sejatiku Peter Pan. ku sudah hafal lagu itu, sebab hanya satu lagu itulah yang menjadi temanku sehari-hari. Lagu itu menyimpan kenangan atau seakan lagu itu adalah harapan. Sambil terus mendengarkan Peterpan yang diputar beberapa kali, ku memandangi foto lama di HP- ku. Gambar itu adalah seorang Gadis remaja kecil dan Lelaki remaja kecil berseragam biru- putih. Dua anak itu bergaya. Berpegangan tangan dengan wajahnya seperti menarik senyuman. Ku tertawa sendiri teringat dengan semua kisah masa laluku. “ D’, a cakep nggak gini?” ku meminta pendapat Anis. Saat itu, Aku baru saja mencukur rambut. “ Idih, Cakep ko.. daripada botak kaya kemaren!” ujar Anis kecil sambil tertawa. “ Hmm.. masa sih d, kamu juga cakep d” “ He” narsis banget sih kamu a” “ kenapa ? ko Narsis!” “ Ia, ini foto-foto aja” “ Buat kenang-kenangan d’, kita kan mau lulus! Gimana- gimana juga, jelek-jelek juga, ni sekolah kan yang mempertemukan kita d”. . Ku tertawa lagi, tapi ia sadar bahwa semuanya adalah hanya kenangan masa lalu ketika ku bersekolah Menengah Pertama. “ Dimana Hati kamu sekarang, d? Apa ku gak bias nemuinnya lagi?” Ku lelah. ku mematikan Audio
Playern. Dan Peterpen pun berhenti menyanyi. *** Nun jauh disana, entah Anis sedang melakukan apa. Apakah sama juga sedang teringat pada masa laluanya bersamaku. “ A… kamu dimana? D’ takut a’ kenapa-napa…!” a’ kemana teriak anis penuh kekhawatiran ketika ku Pergi Kabur Meninggalkan Rumah . Dan ku memang sedang terombang-ambing diantara hidup dan mati ditengah masalah Hidupku itu. Aku pergi pergi meninggalkan Pulau Jawa. Pesan terakhirku saat itu ku bilang “ d’, kamu baik-baik ya dsini, insya allah nanti kita ktemu lagi, jaga diri baik-baik d’ ”. Anis tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menangis. “ Aaaaaaaaaaaaaaaaa…!” teriaknya saat disekolah dan mencertakan kepergiaanku kepada teman-teman yang lain. Segera Anis bersama teman- teman yang lain mencoba mencariku. HP ku lobet, ia tak bias Kontek denganku, dan akupun tak bicara jika ku pergi kemana? Tapi ku juga merasa gelisah, hingga akhirnya ku Sempat SMS dia menggunakan HP orang lain. Hingga aku berulang-ulang di- Telponnya, Hingga akhirnya ku Terayu olehnya tuk Pulang. 3 hari Kepergiaanku ternyata membuatku mengetahui berapa besar Sayang Anis untukku. Hari-hari kita memang selalu berdua tak pernah terpisahkan. Berangkat dan pulang sekolah, selalu berdua. Mendapat Peran Teater pun menjadi pasangan Raja dan Ratu. Cinta sudah terpatri dihatiku dengannya meski tak terucap kata cinta itu. Cinta itu tumbuh dengan sendirinya. Padahal, orang tua ia tak setuju dengan ke akraban aku dengannya. Tapi,
biar orang tua tak setuju. Kita berikrar tak akan pernah terpisah untuk selama- lamanya. “ KR-EHB IS TRUE LOVE, AND ALWAYS TOGETHER FOREVER!” begitu janji ku pada Anis. Dan kenyataan kita terpisah. Ternyata Aku tak seperti dulu dan Anispun bukan anis yang ku kenal dulu. Tapi sungguh ku masih sangat mencintainya. *** Tiga tahun tentu bukanlah waktu yang sebentar, itu adalah waktu yang sangat lama untuk membangun sebuah Bangunan Cinta nan amat Kokoh . Selama sekian tahun itu, aku dan Anis bersama. Namun itu tak meluluhkan kerasnya Hati Anis sekarang, ia seakan tak acuh lagi denganku, dan sampai aku memutuskan tuk memcoba Membencinya. “ D’… kenapa kamu sekarang? Tahukah kamu, aku sangat mencintaimu?” ku coba menitipkan kata pada angin yang bersiyur. Mudah- mudahan saja Anis mendengarnya disana. Tiga tahun runtuh seperti ini. Tak ka nada lagi lika-liku Cinta antara ku dengannya,, Jika ada sebuah Penghargaan munkin aku dengannya adalah Pasangan yang sangat banyak mendapatkan penghargaan, Pasangan Putus- Nyambung, Pasangan ter- unik, Ter-Aneh, Ter-, Ter- dech.
Tapi kini hanya Harapan, seketika Hati Anis Membeku sekeras batu nana mat besar yang tak bisah terluluhkan lagi. Hancurlah harapanku untuk bisa slalu dengan cintanya itu. “ Bagaimana jika ternyata Anis mengkhianatiku, lalu ia kini bersanding dengan orang lain” . Hati ku mulai berprasangka yang tidak- tidak, karena ku paling tak terima jika ia dekat dengan orang lain”. “ Ah, tapi buat apa, aku tak terima! Itu Haknya, dia mau punya Pacar baru tah, balikan ma pacar lamanya tah,, aku tak punya hak ngurusin dia lagi” Gertak hatiku, memarahi diriku yang Egois ini. Ah, hatiku berperang, bergejolak pertarungan kata- kata antara Ego dan Hatinya. “ Sekali lagi, aku yakinkan padamu, Mi. Anis bukan Siapa- siapa lagi untukmu. kamu tak punya hak lagi ngurusin dia..” bisik hati Ku. Disini kumelihat atap dinding yang bolong. ku seperti melihat bayangan masa lalunya ketikaku Kabur dan Anis menangis khawatir. Huh! *** Di kamar ini ku Sejenak Terdiam, mencoba Menerima semuanya yang telah terjadi. Yang Sudah, YA SUDAHLAH!! Mungkin ini adalah akhir dari Perjalananku dengannya,, dan langkah awal tuk melangkah kembali mencari Cinta sejatiku. Kucoba hapus Kesedihannku, Menutup Cerita bersamanya dan membuka Cerita baru. Aku sejenak Tenang, hatiku dan Egoku mulai Selaras, beberapa menit itu telah membuatku melupakan Kepedihanku. Saat ku berpaling ke dinding kumelihat Boneka itu, boneka pemberiaan dari Anis. Huh, kembali Hatiku di Ingatkan kembali oleh Cerita lamaku bersama Anis. “Ya allah kapan ini semua akan berakhir, aku sudah tak tahan atas semua ini. Ya aku mencintainya, aku menyayanginya.. tapi ini semua tak bisa dipaksakan lagi” gemuruh Jiwaku bertanya kepada sang Ilahi. Lagi-lagi aku harus berperang dengan Hatiku, entah sampai kapan ini semuanya berakhir… tapi ku tak mau begini, mungkin butuh waktu tuk hapus semuanya. Pesanku untuknya ” Cinta ini memang tak Bisa karena Terpaksa, harus keTulusanlah yang bisa membuat Cinta Abadi, tapi bukan inilah Jalan terbaik yang kau Pilih. Tapi ya sudahlah ini semua telah Menjadi Keputusanmu” dan Permintaanku kepadanya ” Be the first woman I knew, my very dear. and looks beautiful and Sholeha always wherever you stepped your steps.
Cerita : Seorang laki laki tentang kejujuran
Ia terkenang sepuluh tahun
yang lalu. Pertama kalinya ia
harus berjanji dengan dirinya
untuk tidak pernah jujur.
Betapa ia ringis
mengenangnya. Tapi ia sadar harus melakukannya. Sejak
itu ia tidak pernah berkata
jujur kepada siapapun. Ia masih anak-anak 7 tahun
dari keluarga tidak berada.
Anak-anak sebesarnya sedang
sibuk mendaftar sekolah
pertengahan bulan Juli, ia
masih ingat betul tanggal 10. Teman-temannya pada sibuk
pergi ke pasar membeli buku,
baju sekolah, dan pensil.
Hanya ia yang tidak peduli
dengan kesibukan itu karena
ia tahu tidak akan sekolah. Tetangganya, Anto bertanya,
”Kamu tidak daftar Di?” Ia
menggeleng. Tepat hari pertama sekolah,
Anto terkejut melihat Budi
hadir di sekolah lengkap
dengan pakaian seragam. ”Kamu bohong, Di. Katanya
kamu tidak sekolah.” Itu pertama kalinya ia kenal
dengan kata bohong. Ia tidak
mampu menjelaskan kepada
Anto kenapa ia bisa hadir di
sekolah itu dan mengenakan
seragam pula. Ia masih ingat, ketika itu dikatakannya
kepada Anto, Mamaknya
mengirimkan uang untuk
biaya sekolahnya. Tapi Anto
tetap mengatakan bahwa ia
telah berbohong awalnya. Di musim layangan, teman-
temannya sibuk membuat
layangan dari bambu dengan
berbagai macam bentuk.
Berbeda dengan yang lainnya,
hanya ia tidak datang ke lapangan sekolah karena ia
tidak suka bermain layangan.
Namun, pada suatu siang, ia
datang membawa layang-
layang berbentuk kupu-kupu
ke lapangan sekolah. Teman- temannya bilang, ”Katanya
tidak mau main layangan.” Sejak itu tidak ada orang
yang percaya dengan
omongannya. Di sekolah, ia
lebih dikenal dengan nama
Panduto. Lebih akrab dengan
nama Pandu. ”Oh, Pandu,” begitu kata teman-temannya. Bila teman-temannya bermain
dadu atau gambar, Budi tidak
pernah diajak. Berenang ke
sungai juga tidak. Tapi Budi
selalu datang sendiri. Ia tidak pernah senang
dengan panggilan Pandu yang
diberikan teman-teman
kepadanya. Ingin
dijelaskannya kenapa ia tidak
senang bermain layangan. Ia harus membantu ibunya ke
sawah untuk menanam padi.
Daripada teman-temannya
kecewa, ia bilang saja tidak
suka main layangan. Tapi,
pada hari kedatangannya ke lapangan sekolah, ibunya
menyuruh bahkan memaksa. ”Hari ini kamu tidak usah
bantu ibu ke sawah. Main
layanganlah dengan teman-
temanmu,” begitu kata ibu. ”Tapi saya sudah mengatakan
kepada mereka bahwa saya
tidak suka main layangan.
Saya bantu ibu saja di sawah.” Ibu terus memaksa dan
memberikannya sedikit uang
untuk membeli layangan
yang dijual di kedai Pak Amin.
Ia terpaksa melakukannya. Ada yang tidak bisa diterima
teman-temannya, pada hari
Jumat, sebelum mengaji di
surau. Mereka bersama telah
sepakat untuk tidak datang
mengaji. Tos-tosan tanda kesepakatan. Hari itu, mereka
akan main kelereng. Dari
rumah masing-masing,
semuanya tetap membawa
kain sarung dan AlQuran. Di
suatu lapangan yang jauh dari rumah, rencananya mereka
akan berkumpul. Tidak lupa,
dalam kesepakatan,
semuanya harus membawa
kelereng yang banyak. Siapa
yang kalah mesti memberikan kelerengnya kepada
temannya yang menang. Pertama yang datang ke
lapangan Soni. Ia duduk di
rumput sambil menunggu
kedatangan temannya yang
lain. Datang Anto, Pardi,
Ilham, Aldo, dan Gilang. Sebelum memulai permainan,
mereka bercakap-cakap
tentang hukuman yang akan
diterima dari guru mengaji
yang terkenal dengan
hukuman berdiri dengan kaki sebelah itu. ”Kalau bersama tidak terasa
hukuman itu,” kata Anto
membuka suara. ”Biasa saja.” ”Atau, karena kita ramai-
ramai, kita dikeluarkan
mengaji,” Ilham sedikit takut. ”Mana mungkin Guru Bidin
akan mengeluarkan kita
mengaji. Dengan apa ia akan
makan? Bukankah hanya ini
pekerjaannya?” Gilang
mematahkan pernyataan Ilham Lama mereka berbincang,
mereka ingat seorang
temannya lagi, Budi. ”Pandu kemana? Kenapa ia
belum datang?” ”Tunggu saja. Barangkali
sebentar lagi ia akan datang.” Setengah jam mereka
menunggu, Budi tidak juga
datang. ”Dasar Pandu. Ia pasti
berbohong lagi. Kita mulai saja
permainan,” ajak Aldo yang
dari tadi hanya diam
mendengarkan teman-
temannya berbicara. Keesokan harinya, ketika
istirahat siang, Budi
dikerumuni teman-temannya
dan dibawa ke suatu tempat
yang lengang. ”Kamu berbohong lagi.” ”Maaf,” kata Budi singkat. Ia lalu bercerita tentang
ibunya. Tidak ada niat untuk
melanggar kesepakatan itu.
Saya pun suka bermain
kelereng. Tapi entah mengapa,
ketika akan pergi mengaji, saya iba melihat ibu yang baru
saja pulang dari sawah. Ia
berkeringat dan jelas
kelelahan seharian
membanting tulang di sawah.
”Kamu tidak ke surau, Nak?” kata ibu. Saya tidak akan
membohongi ibu, makanya
saya pergi mengaji. Teman-temannya melongo
mendengar Budi bercerita.
Tapi mereka tetap tidak
terima karena nanti sore
mereka semua akan dihukum
berdiri dengan kaki sebelah di tepi sawah dekat surau
sebelum bisa mengaji lagi.
Yang paling ditakutkan, andai
Guru Bidin melaporkan
kepada orang tua masing-
masing. *** Ia pergi dari kampungnya
setamat sekolah dasar.
Membantu ibunya yang sudah
semakin tua. Terlebih, ia tidak
ingin dipanggil Pandu. Di
tempatnya yang baru, ia berjanji pada diri sendiri
untuk tidak pernah lagi
berbohong, dalam keadaan
apapun. Ia tidak akan banyak
berbicara karena semakin
banyak berkata-kata semakin banyak pula omongan itu
yang tidak bisa
dipertangungjawabkan. Garis nasib membawanya
kepada keberuntungan.
Sifatnya yang luwes dalam
bergaul mengantarkan ia
berkenalan dengan Kusniadi,
kepala instasi di bidang pendidikan. Ia dibawanya
berkeja di kantornya sebagai
tenaga honorer. Kusniadi
bahkan menjanjikan suatu
hari nanti ia akan menjadi
pegawai tetap dan di SK-kan. Sampai pada suatu hari ia
mendengar kabar dari
kampung, ibunya sakit keras.
Ketika itu ia baru bekerja
selama dua bulan. Ia lalu minta
libur dan mengatakan alasannya kepada Kusniadi.
Kusniadi mengizinkannya
pulang dan memberikan
waktu libur selama seminggu. Belum sampai sebulan setelah
ia kembali bekerja, ibunya
kembali sakit. Kali ini lebih
parah dari dua bulan yang lalu.
Ditemuinya Kusniadi dengan
alasan yang sama. Tapi jawaban Kusniadi tidak bisa
diterimanya. ”Kamu berbohong. Dua bulan
lalu kamu katakan ibu kamu
sakit. Sekarang sakit lagi.
Saya tidak percaya.” ”Benar, Pak. Kalau Bapak tidak
percaya, silahkan ikut saya ke
kampung.” ”Alasan kamu saja. Kalau
kamu pulang, kamu tidak
akan saya perbolehkan lagi
masuk kantor.” Ia tidak mendengarkan
Kusniadi. Ia pulang ke
kampung melihat ibunya
yang sakit, walau tidak tahu
lagi harus bekerja apa
sekembali dari kampung. Ibunya harus dirawat di
rumah sakit, ia terserang
tumor ganas dan harus
dioperasi. Tapi ia tidak cukup
punya uang untuk merawat
ibunya di rumah sakit, apalagi untuk biaya operasi. Askes
yang diurusnya di kantor Wali
Nagari tidak dapat
menanggung biaya operasi.
Hanya cukup penyediaan
tempat saja, itu pun di kamar yang tidak layak huni.
Untunglah, seorang rentenir
mau meminjamkannya uang
sebesar sepuluh juta dan
dibayar 20% bunganya. Ia
tidak peduli asalkan ibunya sembuh. Dokter berhasil mengangkat
tumor ganas yang bersarang
di kepala ibunya. Alangkah
senangnya Budi, tapi ia harus
berpikir lagi untuk menulasi
hutangnya kepada rentenir yang dijanjikannya lima
tahun dengan bunga hampir
sama dengan yang dipinjam. Ia pergi ke Pekanbaru. Di sana,
banyak orang kampungnya
yang bekerja. Kota itu begitu
terbuka bagi siapa saja yang
mau berusaha. Kebanyakan
orang-orang kampungnya yang merantau ke Pekanbaru
menjadi kaya ketika pulang
kampung waktu lebaran. Ia diterima Soni di Pekanbaru.
Soni berkerja sebagai
pedagang mainan anak-anak.
Memasuki pasar-pasar yang
dihuni oleh orang-orang
transmigrasi. Soni menggajinya cukup besar,
untuk ukurannya. Lagi pula,
laba yang diperoleh dari
berdagang cukup besar. Di
daerah transmigrasi, harga
bisa dilambungkan daripada dijual di pasar Pekanbaru. Satu
jenis pistol anak-anak yang
dibeli dengan harga 15.000,
bisa dijual di daerah
transmigrasi tersebut 25.000.
Mereka tidak protes karena memang tidak tahu harga dan
jarang pergi ke kota. Lagi-lagi,
ia bernasib mujur. Setelah
uangnya banyak terkumpul,
ia bisa berdagang sendiri. Dagangannya tetap mainan
anak-anak. Tapi, ia berdagang
tidak seperti Soni. Soni
menjual satu pistol anak-anak
seharga 25.000 dengan modal
15.000, ia menjual 50.000. Entah berapa kali lipat dari
modal yang ia beli. Bukan
tanpa perkiraan, tapi ia
percaya, ada orang-orang
yang tetap akan membeli
karena ia punya cara lain: berdagang dengan mulut. ”Pistol-pistolan ini saya
dapatkan dari seorang anak
pejabat di Pekanbaru. Tentu
ibu tahu, mana ada pistol-
pistolan anak orang kaya
yang jelek? Ini tahan lama. Lebih penting, anak ibu punya
mainan anak orang kaya.” ”Berapa harganya?” ”Lima puluh ribu saja, Bu.” Ibu itu kaget dan sepertinya
hendak beranjak dari situ. ”Tidak akan ibu temui di
manapun pistol semacam ini.
Lihat mereknya, Bu. Made in
Amerika. Saya yakin, ini
pistol dibeli di sana.” Anaknya merengek dan
menunjuk-nunjuk ke arah
pistol-pistolan yang
ditawarkan Budi. Ia mampu meyakinkan ibu
itu, dan ibu-ibu yang lain
dengan caranya masing-
masing. Berkat caranya
berdagang, dalam waktu tiga
tahun, ia mampu membayar hutangnya kepada rentenir di
kampungnya. Bunganya,
rencananya dalam tenggang
waktu setahun lagi ia janjikan
akan dibayar. *** Budi mampu membayar
hutangnya kepada rentenir
tepat pada waktu yang ia
janjikan. Ia kini telah
mengirimkan uang belanja
tiap bulan kepada ibunya di kampung. Membuatkan
ibunya tempat tinggal yang
layak dan mengembalikan
sawahnya yang tergadai dulu. ”Pandu telah kaya sekarang,”
kata orang-orang kampung. ”Saya yakin kerjanya menipu
orang. Ia kan paling lihai
dalam hal itu,” timpal warga
yang sepertinya tidak senang
dengan keberhasilan Budi. Ia pulang ke kampungnya
tiga hari menjelang lebaran.
Warga kampungnya terkejut,
Budi pulang tidak naik bus,
tapi mobil sedan, untuk
ukuran kampung sudah dianggap wah. Di hari lebaran, ia
menyumbang untuk
pembangunan masjid
sebanyak satu juta rupiah.
Dari mikropon masjid
diumumkan keras-keras. ”Bagi saudara-saudara yang
balik dari rantau, silahkan
sumbangkan jerih payah itu
untuk pembangunan masjid
kita yang masih terbengkalai.
Bidin satu juta rupiah. Ayo, siapa lagi?” Anto, temannya waktu SD
datang ke rumahnya
bersilaturrahmi. Ketika datang
ke rumah Budi, ia telah lupa
dengan Pandu. Yang ada di
depannya sekarang adalah Budi, sahabatnya sewaktu SD
dulu. ”Sudah kaya kau sekarang, Di.
Apa pekerjaanmu?” Ditatapnya sahabat lamanya
itu. Dengan pasti
dijawabnya,”Berbohong.”
yang lalu. Pertama kalinya ia
harus berjanji dengan dirinya
untuk tidak pernah jujur.
Betapa ia ringis
mengenangnya. Tapi ia sadar harus melakukannya. Sejak
itu ia tidak pernah berkata
jujur kepada siapapun. Ia masih anak-anak 7 tahun
dari keluarga tidak berada.
Anak-anak sebesarnya sedang
sibuk mendaftar sekolah
pertengahan bulan Juli, ia
masih ingat betul tanggal 10. Teman-temannya pada sibuk
pergi ke pasar membeli buku,
baju sekolah, dan pensil.
Hanya ia yang tidak peduli
dengan kesibukan itu karena
ia tahu tidak akan sekolah. Tetangganya, Anto bertanya,
”Kamu tidak daftar Di?” Ia
menggeleng. Tepat hari pertama sekolah,
Anto terkejut melihat Budi
hadir di sekolah lengkap
dengan pakaian seragam. ”Kamu bohong, Di. Katanya
kamu tidak sekolah.” Itu pertama kalinya ia kenal
dengan kata bohong. Ia tidak
mampu menjelaskan kepada
Anto kenapa ia bisa hadir di
sekolah itu dan mengenakan
seragam pula. Ia masih ingat, ketika itu dikatakannya
kepada Anto, Mamaknya
mengirimkan uang untuk
biaya sekolahnya. Tapi Anto
tetap mengatakan bahwa ia
telah berbohong awalnya. Di musim layangan, teman-
temannya sibuk membuat
layangan dari bambu dengan
berbagai macam bentuk.
Berbeda dengan yang lainnya,
hanya ia tidak datang ke lapangan sekolah karena ia
tidak suka bermain layangan.
Namun, pada suatu siang, ia
datang membawa layang-
layang berbentuk kupu-kupu
ke lapangan sekolah. Teman- temannya bilang, ”Katanya
tidak mau main layangan.” Sejak itu tidak ada orang
yang percaya dengan
omongannya. Di sekolah, ia
lebih dikenal dengan nama
Panduto. Lebih akrab dengan
nama Pandu. ”Oh, Pandu,” begitu kata teman-temannya. Bila teman-temannya bermain
dadu atau gambar, Budi tidak
pernah diajak. Berenang ke
sungai juga tidak. Tapi Budi
selalu datang sendiri. Ia tidak pernah senang
dengan panggilan Pandu yang
diberikan teman-teman
kepadanya. Ingin
dijelaskannya kenapa ia tidak
senang bermain layangan. Ia harus membantu ibunya ke
sawah untuk menanam padi.
Daripada teman-temannya
kecewa, ia bilang saja tidak
suka main layangan. Tapi,
pada hari kedatangannya ke lapangan sekolah, ibunya
menyuruh bahkan memaksa. ”Hari ini kamu tidak usah
bantu ibu ke sawah. Main
layanganlah dengan teman-
temanmu,” begitu kata ibu. ”Tapi saya sudah mengatakan
kepada mereka bahwa saya
tidak suka main layangan.
Saya bantu ibu saja di sawah.” Ibu terus memaksa dan
memberikannya sedikit uang
untuk membeli layangan
yang dijual di kedai Pak Amin.
Ia terpaksa melakukannya. Ada yang tidak bisa diterima
teman-temannya, pada hari
Jumat, sebelum mengaji di
surau. Mereka bersama telah
sepakat untuk tidak datang
mengaji. Tos-tosan tanda kesepakatan. Hari itu, mereka
akan main kelereng. Dari
rumah masing-masing,
semuanya tetap membawa
kain sarung dan AlQuran. Di
suatu lapangan yang jauh dari rumah, rencananya mereka
akan berkumpul. Tidak lupa,
dalam kesepakatan,
semuanya harus membawa
kelereng yang banyak. Siapa
yang kalah mesti memberikan kelerengnya kepada
temannya yang menang. Pertama yang datang ke
lapangan Soni. Ia duduk di
rumput sambil menunggu
kedatangan temannya yang
lain. Datang Anto, Pardi,
Ilham, Aldo, dan Gilang. Sebelum memulai permainan,
mereka bercakap-cakap
tentang hukuman yang akan
diterima dari guru mengaji
yang terkenal dengan
hukuman berdiri dengan kaki sebelah itu. ”Kalau bersama tidak terasa
hukuman itu,” kata Anto
membuka suara. ”Biasa saja.” ”Atau, karena kita ramai-
ramai, kita dikeluarkan
mengaji,” Ilham sedikit takut. ”Mana mungkin Guru Bidin
akan mengeluarkan kita
mengaji. Dengan apa ia akan
makan? Bukankah hanya ini
pekerjaannya?” Gilang
mematahkan pernyataan Ilham Lama mereka berbincang,
mereka ingat seorang
temannya lagi, Budi. ”Pandu kemana? Kenapa ia
belum datang?” ”Tunggu saja. Barangkali
sebentar lagi ia akan datang.” Setengah jam mereka
menunggu, Budi tidak juga
datang. ”Dasar Pandu. Ia pasti
berbohong lagi. Kita mulai saja
permainan,” ajak Aldo yang
dari tadi hanya diam
mendengarkan teman-
temannya berbicara. Keesokan harinya, ketika
istirahat siang, Budi
dikerumuni teman-temannya
dan dibawa ke suatu tempat
yang lengang. ”Kamu berbohong lagi.” ”Maaf,” kata Budi singkat. Ia lalu bercerita tentang
ibunya. Tidak ada niat untuk
melanggar kesepakatan itu.
Saya pun suka bermain
kelereng. Tapi entah mengapa,
ketika akan pergi mengaji, saya iba melihat ibu yang baru
saja pulang dari sawah. Ia
berkeringat dan jelas
kelelahan seharian
membanting tulang di sawah.
”Kamu tidak ke surau, Nak?” kata ibu. Saya tidak akan
membohongi ibu, makanya
saya pergi mengaji. Teman-temannya melongo
mendengar Budi bercerita.
Tapi mereka tetap tidak
terima karena nanti sore
mereka semua akan dihukum
berdiri dengan kaki sebelah di tepi sawah dekat surau
sebelum bisa mengaji lagi.
Yang paling ditakutkan, andai
Guru Bidin melaporkan
kepada orang tua masing-
masing. *** Ia pergi dari kampungnya
setamat sekolah dasar.
Membantu ibunya yang sudah
semakin tua. Terlebih, ia tidak
ingin dipanggil Pandu. Di
tempatnya yang baru, ia berjanji pada diri sendiri
untuk tidak pernah lagi
berbohong, dalam keadaan
apapun. Ia tidak akan banyak
berbicara karena semakin
banyak berkata-kata semakin banyak pula omongan itu
yang tidak bisa
dipertangungjawabkan. Garis nasib membawanya
kepada keberuntungan.
Sifatnya yang luwes dalam
bergaul mengantarkan ia
berkenalan dengan Kusniadi,
kepala instasi di bidang pendidikan. Ia dibawanya
berkeja di kantornya sebagai
tenaga honorer. Kusniadi
bahkan menjanjikan suatu
hari nanti ia akan menjadi
pegawai tetap dan di SK-kan. Sampai pada suatu hari ia
mendengar kabar dari
kampung, ibunya sakit keras.
Ketika itu ia baru bekerja
selama dua bulan. Ia lalu minta
libur dan mengatakan alasannya kepada Kusniadi.
Kusniadi mengizinkannya
pulang dan memberikan
waktu libur selama seminggu. Belum sampai sebulan setelah
ia kembali bekerja, ibunya
kembali sakit. Kali ini lebih
parah dari dua bulan yang lalu.
Ditemuinya Kusniadi dengan
alasan yang sama. Tapi jawaban Kusniadi tidak bisa
diterimanya. ”Kamu berbohong. Dua bulan
lalu kamu katakan ibu kamu
sakit. Sekarang sakit lagi.
Saya tidak percaya.” ”Benar, Pak. Kalau Bapak tidak
percaya, silahkan ikut saya ke
kampung.” ”Alasan kamu saja. Kalau
kamu pulang, kamu tidak
akan saya perbolehkan lagi
masuk kantor.” Ia tidak mendengarkan
Kusniadi. Ia pulang ke
kampung melihat ibunya
yang sakit, walau tidak tahu
lagi harus bekerja apa
sekembali dari kampung. Ibunya harus dirawat di
rumah sakit, ia terserang
tumor ganas dan harus
dioperasi. Tapi ia tidak cukup
punya uang untuk merawat
ibunya di rumah sakit, apalagi untuk biaya operasi. Askes
yang diurusnya di kantor Wali
Nagari tidak dapat
menanggung biaya operasi.
Hanya cukup penyediaan
tempat saja, itu pun di kamar yang tidak layak huni.
Untunglah, seorang rentenir
mau meminjamkannya uang
sebesar sepuluh juta dan
dibayar 20% bunganya. Ia
tidak peduli asalkan ibunya sembuh. Dokter berhasil mengangkat
tumor ganas yang bersarang
di kepala ibunya. Alangkah
senangnya Budi, tapi ia harus
berpikir lagi untuk menulasi
hutangnya kepada rentenir yang dijanjikannya lima
tahun dengan bunga hampir
sama dengan yang dipinjam. Ia pergi ke Pekanbaru. Di sana,
banyak orang kampungnya
yang bekerja. Kota itu begitu
terbuka bagi siapa saja yang
mau berusaha. Kebanyakan
orang-orang kampungnya yang merantau ke Pekanbaru
menjadi kaya ketika pulang
kampung waktu lebaran. Ia diterima Soni di Pekanbaru.
Soni berkerja sebagai
pedagang mainan anak-anak.
Memasuki pasar-pasar yang
dihuni oleh orang-orang
transmigrasi. Soni menggajinya cukup besar,
untuk ukurannya. Lagi pula,
laba yang diperoleh dari
berdagang cukup besar. Di
daerah transmigrasi, harga
bisa dilambungkan daripada dijual di pasar Pekanbaru. Satu
jenis pistol anak-anak yang
dibeli dengan harga 15.000,
bisa dijual di daerah
transmigrasi tersebut 25.000.
Mereka tidak protes karena memang tidak tahu harga dan
jarang pergi ke kota. Lagi-lagi,
ia bernasib mujur. Setelah
uangnya banyak terkumpul,
ia bisa berdagang sendiri. Dagangannya tetap mainan
anak-anak. Tapi, ia berdagang
tidak seperti Soni. Soni
menjual satu pistol anak-anak
seharga 25.000 dengan modal
15.000, ia menjual 50.000. Entah berapa kali lipat dari
modal yang ia beli. Bukan
tanpa perkiraan, tapi ia
percaya, ada orang-orang
yang tetap akan membeli
karena ia punya cara lain: berdagang dengan mulut. ”Pistol-pistolan ini saya
dapatkan dari seorang anak
pejabat di Pekanbaru. Tentu
ibu tahu, mana ada pistol-
pistolan anak orang kaya
yang jelek? Ini tahan lama. Lebih penting, anak ibu punya
mainan anak orang kaya.” ”Berapa harganya?” ”Lima puluh ribu saja, Bu.” Ibu itu kaget dan sepertinya
hendak beranjak dari situ. ”Tidak akan ibu temui di
manapun pistol semacam ini.
Lihat mereknya, Bu. Made in
Amerika. Saya yakin, ini
pistol dibeli di sana.” Anaknya merengek dan
menunjuk-nunjuk ke arah
pistol-pistolan yang
ditawarkan Budi. Ia mampu meyakinkan ibu
itu, dan ibu-ibu yang lain
dengan caranya masing-
masing. Berkat caranya
berdagang, dalam waktu tiga
tahun, ia mampu membayar hutangnya kepada rentenir di
kampungnya. Bunganya,
rencananya dalam tenggang
waktu setahun lagi ia janjikan
akan dibayar. *** Budi mampu membayar
hutangnya kepada rentenir
tepat pada waktu yang ia
janjikan. Ia kini telah
mengirimkan uang belanja
tiap bulan kepada ibunya di kampung. Membuatkan
ibunya tempat tinggal yang
layak dan mengembalikan
sawahnya yang tergadai dulu. ”Pandu telah kaya sekarang,”
kata orang-orang kampung. ”Saya yakin kerjanya menipu
orang. Ia kan paling lihai
dalam hal itu,” timpal warga
yang sepertinya tidak senang
dengan keberhasilan Budi. Ia pulang ke kampungnya
tiga hari menjelang lebaran.
Warga kampungnya terkejut,
Budi pulang tidak naik bus,
tapi mobil sedan, untuk
ukuran kampung sudah dianggap wah. Di hari lebaran, ia
menyumbang untuk
pembangunan masjid
sebanyak satu juta rupiah.
Dari mikropon masjid
diumumkan keras-keras. ”Bagi saudara-saudara yang
balik dari rantau, silahkan
sumbangkan jerih payah itu
untuk pembangunan masjid
kita yang masih terbengkalai.
Bidin satu juta rupiah. Ayo, siapa lagi?” Anto, temannya waktu SD
datang ke rumahnya
bersilaturrahmi. Ketika datang
ke rumah Budi, ia telah lupa
dengan Pandu. Yang ada di
depannya sekarang adalah Budi, sahabatnya sewaktu SD
dulu. ”Sudah kaya kau sekarang, Di.
Apa pekerjaanmu?” Ditatapnya sahabat lamanya
itu. Dengan pasti
dijawabnya,”Berbohong.”
Cerpen: Mata yang berlabuh
Matahari kelabu. Udara
bisu.Tak ada suara lengkingan
renyai yang menyeruak
seperti biasanya setiap kali ia
jejakkan kaki di daratan yang
berpasir. Tidak pula suara perempuan yang lantang,
yang dengan lari-lari kecilnya,
menghalau anak yang
berlarian di depannya itu dari
air laut yang merambati kaki
mereka. semuanya telah menghilang. Tapi masih ada yang belum
ditemukan. Karena itu,
Abdullah, laki-laki yang
berjalan terseok itu, terus
mencari-cari. Tangannya telah
lelah, hampir tak sisakan tenaga. Tapi gelombang di
dadanya lebih besar daripada
kehendak tubuhnya. Ia
paksakan kakinya melangkah
meski nyeri mulai menusuk
pada memar kakinya. Abdullah hentikan langkah.
Layangkan matanya pada
langit. Ia tidak tahu lagi
apakah ini siang atau malam.
Waktu telah berhenti sejak
peristiwa itu. Tapi ia butuh waktu untuk mengais sisa
tenaganya. Lalu apa yang
masih menggerakkannya?
Tubuh? Tidak. Tubuh itu sudah
tidak berfungsi lagi. Namun,
kalau pun kaki itu harus dicabut dari tungkainya,
Abdullah akan terus berjalan.
Semuanya memang telah
sirna. Tapi masih ada yang
tertinggal. Karena itu, ia masih
mencari. Sepanjang beberapa depa, Abdullah kembali
menghentikan langkah.
Kakinya dilanda nyeri. Seribu
semut merah seperti
menggigiti urat kakinya.
Abdullah Memijit-mijitnya dengan perlahan. Hanya
istirahat sejenak. Sebab
sesudahnya, dengan rasa sakit
yang masih menyisa,
Abdullah berjalan kembali. Mungkin rasa sakit itu sudah
hilang. Bersama tumpahan air
mata yang membanjir
berhari-hari sebelumnya
hingga tak menyisa. Meskipun
ia minum seluruh air laut di Pantai Ulee Lheu, itu takkan
bisa menggantinya. Abdullah
pun telah menghapus air mata
itu dalam catatan di darahnya.
Seperti beku telah
membungkus hatinya. Hanya dengan mata ia berjalan. Mata
yang gelap.Berhari-hari yang
lalu, Abdullah telah jelajahi
seluruh tempat. Puing-puing
yang luruh. Mayat-mayat
yang serak. Ada tetangganya, teman melaut, teman
anaknya yang sering
menunggui kapal ikan datang,
penjaga surau kampung.
Namun ia tak ada di sana.
Karena itu, Abdullah terus mencari.”Sudahlah, Abdullah.
Istirahatlah sejenak. Badanmu
sudah letih.” Ia tidak begitu awas, apakah
itu suara istrinya atau
tetangganya. ”Nanti saja. Aku selesaikan dulu
pekerjaan ini. Nanti aku
kembali.”
Tidak. Ia telah berbohong
pada istrinya. Kembali? Aku
belum menemukan yang kucari, maka aku tidak akan
kembali. Lagipula kemana aku
akan kembali? Abdullah
menggeleng-gelengkan
kepalanya. Tak kan ada
langkah surut, suara hati Abdullah kuatkan
langkahnya.Istrinya memang
memahami sikapnya. Batu
yang keras itu tak akan
mudah dilebur dalam satu
pukulan kampak.”Anakmu sudah menanti. Mengapa
engkau masih tak tahu juga,
Abdullah. Bukankah engkau
tahu mereka sudah
menantimu untuk makan
siang.”Sedetik tubuh Abdullah mengeras. Matanya tajam
menentang ke atas. Ada yang
dicarinya di sana. Tapi tak ada
apa-apa. Langit tak biru. Merah memantul dari lensa
matanya. Hanya angin yang
berkesiur. Selebihnya tak ada. ”Nantilah. Nanti saja. Aku
belum ingin pulang.” ”Apa yang kau cari, wahai
Abdullah? Kau tak turuti
anjuran istrimu. Mengapa engkau masih bengal
juga, Abdullah! ”Itu suara ayahnya. Suaranya
keras, seperti dirinya.
Abdullah tak peduli.
”Kemana engkau akan pergi,
anakku?” perempuan yang
matanya kelabu memanggilnya serupa
angin.”Tak usah hiraukan aku,
Bu.”Abdullah terus berjalan.
Kakinya yang menyusut dari
waktu ke waktu dan makin
kehilangan daya tak mampu kalahkan kehendaknya. Mayat-mayat bergelimpangan
seperti rongsokan. Bau sengat
yang mengundang
kerumunan lalat menggunduk
di setiap setiap tempat. Tapi
Abdullah tak hiraukan itu. Matanya yang berpijar merah
melata, susuri setiap mayat
yang bergelimpangann itu.
Tangannya mengorek satu
demi satu mayat yang
terhampar di kakinya. ”Ia tak ada di sana !” Ibunya berseru. Rambut
peraknya berkeriyap
dihembus angin. Abdullah
tidak ingin mendengar.
Kakinya terus ia seret.
”Pulanglah, Abdullah. Maka kau akan menemukannya,”
suara ibunya memanggil lagi.
Langkahnya makin melata.
Seluruh sendi-sendi kakinya
bergetar, merambat ke engsel
tubuhnya. Tapi Abdullah tak mau mengalah pada keadaan
tubuhnya. Ia seret kakinya
dengan sisa tenaga. Jalan
ibarat pasir yang menusuk
luka di tubuhnya. Serakan
mayat itu masih bergelimpangan di kanan-kiri.
Halangi langkah tubuhnya
yang makin ringkih. Mata-
mata mereka membuka.
Seperti hendak
menyampaikan pesan pada Abdullah. ‘Sudahlah, Abdullah. Pulanglah
ke rumah.” Abdullah singkirkan suara-
suara itu dari udara. Langit
menjadi-jadi bekunya. Hanya
ada suaranya yang mengapai-
gapai udara. Ia hampir
kehilangan keseimbangan ketika kaki kanannya
menabrak tubuh yang
membujur. Tubuhnya
mencoba menahan lengkung
badannya yang hampir jatuh
ke tanah. Tapi bumi seperti ingin memeluknya dan
merengkuhnya. Berat
badannya condong ke tanah. Bunyi berdebam memecah
sunyi ketika tubuhnya yang
labil menimpa mayat itu. Mata
yang putih. Seperti daun
jendela yang membuka lebar.
Menyeret Abdullah masuk dan terhisap ke dalamnya.
Mata yang berkata. Mengapa
kau tak yakin ini semua,
Abdullah. Kemana kau
campakkan imanmu itu.
Pulanglah. Kembalilah ke rumahmu. Abdullah menggeram.
Diamlah. Semuanya sudah
kosong. Hambur oleh angin
yang membawa pergi. Hanya
satu yang masih tersisa. Aku
sedang mencarinya dan ingin membuktikan keberadaan-
Nya. Jadi singkirkan kakimu,
hai mayat yang tak punya
rasa. Tak ada yang dapat
menghalangi langkahku. Dengan menahan sakit pada
tangan kirinya yang menimpa
aspal kasar, tangan Abdullah
menjangkau tongkat kayu
dengan tangan kanannya.
Ketika tumpuannya telah kukuh, Abdullah menaikkan
tubuhnya ke atas. Begitu
susah payah ia menegakkan
tubuh. Tapi siapakah yang bisa
mengalahkan kekerasan
hatinya? Setelah tubuhnya tegak
seimbang, Abdullah
menendang mayat itu. Ia
injak dengan kaki kanannya
yang masih menyimpan
tenaga. Lalu mendengus. Jalan yang ditempuh Abdullah
makin menyempit dalam
pandangan matanya yang
kelabu. Tapi ia terus berjalan.
Beberapa depa di depannya,
Abdullah tersentak. Masjid Baiturrahman masih berdiri
tegak. Seperti mercusuar
tinggi di tengah lautan puing-
puing yang menyerak.
Warnanya yang putih
pantulkan kilau matahari ke seluruh padang yang luas.
Padang mahsyar. Abdullah semakin kebut
langkahnya. Seperti roda,
kakinya yang pincang
bergerak cepat. Ia berlari.
Seperti kuda sembrani yang
melintas di permukaan laut yang tenang. ”Mau kemana engkau,
Abdullah?” Abdullah tak menjawab. Ia
terus seret langkahnya.
Menekan gemuruh yang
berputar dahsyat di
kepalanya. Adakah Engkau di
sana? Dadanya bergetar hebat. Sudah habis air matanya sejak
berhari-hari lalu. Tapi apa yang
ada di dadanya ini? Begitu
hebat guncangannya, begitu
keras gemuruhnya. Ketika
tak ada lagi yang bisa menahannya, Abdullah
meraung hebat. Seluruh
persendiannya patah dan
lunglai. Ia terjerambab dengan
tubuh kehilangan daya. Dan
terduduk di teras masjid dengan mata yang buta.
Dengan tubuh yang tergugu.
Adakah badai yang lebih
besar dari ini, Ya Allah?
Abdullah menangis. Hatinya
basah. ”Apakah engkau
menemukannya, Abdullah?”
Suara yang jauh meruapi
telinganya. Dagu Abdullah mengangguk
makin hebat. Air mata
menggenang di wajahnya.
Membasah di janggutnya
yang tipis. Seperti kilau
minyak zaitun. Tak sanggup gelombang suara keluar dari
kerongkongannya yang
tercekat. Hanya lirih yang
mengisi udara. ”Bagaimana mungkin,
bukankah matamu telah buta,
Abdullah?” Suara yang lembut
menghunjam dadanya.
Air mata Abdullah makin
menderas. Tubuhnya lumpuh. Tak kuat menahan guncangan
yang kuat dalam dadanya.
Matanya memang telah buta.
Sejak gelombang pasang itu
meraup seluruh hidupnya. Ia
tak melihat apa-apa lagi. Tapi air mata yang membasuh
hatinya membukakan semua
pintu yang terkatup. Ia seakan melihat istrinya,
ibunya, bapaknya, dan
Ibrahim anaknya
melambaikan tangan ke
arahnya. Lalu di sebelah-
sebelahnya, tetangga rumah, teman sesama nelayan.
Senyum mereka merekah.
Ikhlas. Seperti kuntum-
kuntum embun yang
membeningkan pagi. Lalu
perlahan semuanya mengabur serupa kabut yang membias
di fajar subuh.
Suara adzan menyayat
telinganya. Abdullah merasa
tubuhnya melayang dalam
udara. Menyatu dalam ruang hampa. Ketika tersadar, ia
melihat tubuhnya bersimpuh
di depan mihrab masjid.
Begitu kecil. Dan tanpa
daya.
bisu.Tak ada suara lengkingan
renyai yang menyeruak
seperti biasanya setiap kali ia
jejakkan kaki di daratan yang
berpasir. Tidak pula suara perempuan yang lantang,
yang dengan lari-lari kecilnya,
menghalau anak yang
berlarian di depannya itu dari
air laut yang merambati kaki
mereka. semuanya telah menghilang. Tapi masih ada yang belum
ditemukan. Karena itu,
Abdullah, laki-laki yang
berjalan terseok itu, terus
mencari-cari. Tangannya telah
lelah, hampir tak sisakan tenaga. Tapi gelombang di
dadanya lebih besar daripada
kehendak tubuhnya. Ia
paksakan kakinya melangkah
meski nyeri mulai menusuk
pada memar kakinya. Abdullah hentikan langkah.
Layangkan matanya pada
langit. Ia tidak tahu lagi
apakah ini siang atau malam.
Waktu telah berhenti sejak
peristiwa itu. Tapi ia butuh waktu untuk mengais sisa
tenaganya. Lalu apa yang
masih menggerakkannya?
Tubuh? Tidak. Tubuh itu sudah
tidak berfungsi lagi. Namun,
kalau pun kaki itu harus dicabut dari tungkainya,
Abdullah akan terus berjalan.
Semuanya memang telah
sirna. Tapi masih ada yang
tertinggal. Karena itu, ia masih
mencari. Sepanjang beberapa depa, Abdullah kembali
menghentikan langkah.
Kakinya dilanda nyeri. Seribu
semut merah seperti
menggigiti urat kakinya.
Abdullah Memijit-mijitnya dengan perlahan. Hanya
istirahat sejenak. Sebab
sesudahnya, dengan rasa sakit
yang masih menyisa,
Abdullah berjalan kembali. Mungkin rasa sakit itu sudah
hilang. Bersama tumpahan air
mata yang membanjir
berhari-hari sebelumnya
hingga tak menyisa. Meskipun
ia minum seluruh air laut di Pantai Ulee Lheu, itu takkan
bisa menggantinya. Abdullah
pun telah menghapus air mata
itu dalam catatan di darahnya.
Seperti beku telah
membungkus hatinya. Hanya dengan mata ia berjalan. Mata
yang gelap.Berhari-hari yang
lalu, Abdullah telah jelajahi
seluruh tempat. Puing-puing
yang luruh. Mayat-mayat
yang serak. Ada tetangganya, teman melaut, teman
anaknya yang sering
menunggui kapal ikan datang,
penjaga surau kampung.
Namun ia tak ada di sana.
Karena itu, Abdullah terus mencari.”Sudahlah, Abdullah.
Istirahatlah sejenak. Badanmu
sudah letih.” Ia tidak begitu awas, apakah
itu suara istrinya atau
tetangganya. ”Nanti saja. Aku selesaikan dulu
pekerjaan ini. Nanti aku
kembali.”
Tidak. Ia telah berbohong
pada istrinya. Kembali? Aku
belum menemukan yang kucari, maka aku tidak akan
kembali. Lagipula kemana aku
akan kembali? Abdullah
menggeleng-gelengkan
kepalanya. Tak kan ada
langkah surut, suara hati Abdullah kuatkan
langkahnya.Istrinya memang
memahami sikapnya. Batu
yang keras itu tak akan
mudah dilebur dalam satu
pukulan kampak.”Anakmu sudah menanti. Mengapa
engkau masih tak tahu juga,
Abdullah. Bukankah engkau
tahu mereka sudah
menantimu untuk makan
siang.”Sedetik tubuh Abdullah mengeras. Matanya tajam
menentang ke atas. Ada yang
dicarinya di sana. Tapi tak ada
apa-apa. Langit tak biru. Merah memantul dari lensa
matanya. Hanya angin yang
berkesiur. Selebihnya tak ada. ”Nantilah. Nanti saja. Aku
belum ingin pulang.” ”Apa yang kau cari, wahai
Abdullah? Kau tak turuti
anjuran istrimu. Mengapa engkau masih bengal
juga, Abdullah! ”Itu suara ayahnya. Suaranya
keras, seperti dirinya.
Abdullah tak peduli.
”Kemana engkau akan pergi,
anakku?” perempuan yang
matanya kelabu memanggilnya serupa
angin.”Tak usah hiraukan aku,
Bu.”Abdullah terus berjalan.
Kakinya yang menyusut dari
waktu ke waktu dan makin
kehilangan daya tak mampu kalahkan kehendaknya. Mayat-mayat bergelimpangan
seperti rongsokan. Bau sengat
yang mengundang
kerumunan lalat menggunduk
di setiap setiap tempat. Tapi
Abdullah tak hiraukan itu. Matanya yang berpijar merah
melata, susuri setiap mayat
yang bergelimpangann itu.
Tangannya mengorek satu
demi satu mayat yang
terhampar di kakinya. ”Ia tak ada di sana !” Ibunya berseru. Rambut
peraknya berkeriyap
dihembus angin. Abdullah
tidak ingin mendengar.
Kakinya terus ia seret.
”Pulanglah, Abdullah. Maka kau akan menemukannya,”
suara ibunya memanggil lagi.
Langkahnya makin melata.
Seluruh sendi-sendi kakinya
bergetar, merambat ke engsel
tubuhnya. Tapi Abdullah tak mau mengalah pada keadaan
tubuhnya. Ia seret kakinya
dengan sisa tenaga. Jalan
ibarat pasir yang menusuk
luka di tubuhnya. Serakan
mayat itu masih bergelimpangan di kanan-kiri.
Halangi langkah tubuhnya
yang makin ringkih. Mata-
mata mereka membuka.
Seperti hendak
menyampaikan pesan pada Abdullah. ‘Sudahlah, Abdullah. Pulanglah
ke rumah.” Abdullah singkirkan suara-
suara itu dari udara. Langit
menjadi-jadi bekunya. Hanya
ada suaranya yang mengapai-
gapai udara. Ia hampir
kehilangan keseimbangan ketika kaki kanannya
menabrak tubuh yang
membujur. Tubuhnya
mencoba menahan lengkung
badannya yang hampir jatuh
ke tanah. Tapi bumi seperti ingin memeluknya dan
merengkuhnya. Berat
badannya condong ke tanah. Bunyi berdebam memecah
sunyi ketika tubuhnya yang
labil menimpa mayat itu. Mata
yang putih. Seperti daun
jendela yang membuka lebar.
Menyeret Abdullah masuk dan terhisap ke dalamnya.
Mata yang berkata. Mengapa
kau tak yakin ini semua,
Abdullah. Kemana kau
campakkan imanmu itu.
Pulanglah. Kembalilah ke rumahmu. Abdullah menggeram.
Diamlah. Semuanya sudah
kosong. Hambur oleh angin
yang membawa pergi. Hanya
satu yang masih tersisa. Aku
sedang mencarinya dan ingin membuktikan keberadaan-
Nya. Jadi singkirkan kakimu,
hai mayat yang tak punya
rasa. Tak ada yang dapat
menghalangi langkahku. Dengan menahan sakit pada
tangan kirinya yang menimpa
aspal kasar, tangan Abdullah
menjangkau tongkat kayu
dengan tangan kanannya.
Ketika tumpuannya telah kukuh, Abdullah menaikkan
tubuhnya ke atas. Begitu
susah payah ia menegakkan
tubuh. Tapi siapakah yang bisa
mengalahkan kekerasan
hatinya? Setelah tubuhnya tegak
seimbang, Abdullah
menendang mayat itu. Ia
injak dengan kaki kanannya
yang masih menyimpan
tenaga. Lalu mendengus. Jalan yang ditempuh Abdullah
makin menyempit dalam
pandangan matanya yang
kelabu. Tapi ia terus berjalan.
Beberapa depa di depannya,
Abdullah tersentak. Masjid Baiturrahman masih berdiri
tegak. Seperti mercusuar
tinggi di tengah lautan puing-
puing yang menyerak.
Warnanya yang putih
pantulkan kilau matahari ke seluruh padang yang luas.
Padang mahsyar. Abdullah semakin kebut
langkahnya. Seperti roda,
kakinya yang pincang
bergerak cepat. Ia berlari.
Seperti kuda sembrani yang
melintas di permukaan laut yang tenang. ”Mau kemana engkau,
Abdullah?” Abdullah tak menjawab. Ia
terus seret langkahnya.
Menekan gemuruh yang
berputar dahsyat di
kepalanya. Adakah Engkau di
sana? Dadanya bergetar hebat. Sudah habis air matanya sejak
berhari-hari lalu. Tapi apa yang
ada di dadanya ini? Begitu
hebat guncangannya, begitu
keras gemuruhnya. Ketika
tak ada lagi yang bisa menahannya, Abdullah
meraung hebat. Seluruh
persendiannya patah dan
lunglai. Ia terjerambab dengan
tubuh kehilangan daya. Dan
terduduk di teras masjid dengan mata yang buta.
Dengan tubuh yang tergugu.
Adakah badai yang lebih
besar dari ini, Ya Allah?
Abdullah menangis. Hatinya
basah. ”Apakah engkau
menemukannya, Abdullah?”
Suara yang jauh meruapi
telinganya. Dagu Abdullah mengangguk
makin hebat. Air mata
menggenang di wajahnya.
Membasah di janggutnya
yang tipis. Seperti kilau
minyak zaitun. Tak sanggup gelombang suara keluar dari
kerongkongannya yang
tercekat. Hanya lirih yang
mengisi udara. ”Bagaimana mungkin,
bukankah matamu telah buta,
Abdullah?” Suara yang lembut
menghunjam dadanya.
Air mata Abdullah makin
menderas. Tubuhnya lumpuh. Tak kuat menahan guncangan
yang kuat dalam dadanya.
Matanya memang telah buta.
Sejak gelombang pasang itu
meraup seluruh hidupnya. Ia
tak melihat apa-apa lagi. Tapi air mata yang membasuh
hatinya membukakan semua
pintu yang terkatup. Ia seakan melihat istrinya,
ibunya, bapaknya, dan
Ibrahim anaknya
melambaikan tangan ke
arahnya. Lalu di sebelah-
sebelahnya, tetangga rumah, teman sesama nelayan.
Senyum mereka merekah.
Ikhlas. Seperti kuntum-
kuntum embun yang
membeningkan pagi. Lalu
perlahan semuanya mengabur serupa kabut yang membias
di fajar subuh.
Suara adzan menyayat
telinganya. Abdullah merasa
tubuhnya melayang dalam
udara. Menyatu dalam ruang hampa. Ketika tersadar, ia
melihat tubuhnya bersimpuh
di depan mihrab masjid.
Begitu kecil. Dan tanpa
daya.
Langganan:
Postingan (Atom)