Pasar malam dibuka di
sebuah kota . Penduduk
menyambutnya dengan
gembira. Berbagai macam
permainan, stand makanan
dan pertunjukan diadakan. Salah satu yang paling
istimewa adalah atraksi
manusia kuat. Begitu
banyak orang setiap malam
menyaksikan unjuk
kekuatan otot manusia kuat ini. Manusia kuat ini mampu
melengkungkan baja tebal
hanya dengan tangan
telanjang. Tinjunya dapat
menghancurkan batu bata
tebal hingga berkeping- keping. Ia mengalahkan
semua pria di kota itu dalam
lomba panco. Namun setiap
kali menutup
pertunjukkannya ia hanya
memeras sebuah jeruk dengan genggamannya. Ia
memeras jeruk tersebut
hingga ke tetes terakhir.
‘Hingga tetes terakhir’,
pikirnya. Manusia kuat lalu menantang
para penonton : “Hadiah
yang besar kami sediakan
kepada barang siapa yang
bisa memeras hingga keluar
satu tetes saja air jeruk dari buah jeruk ini!” Kemudian naiklah seorang
lelaki, seorang yang atletis,
ke atas panggung.
Tangannya kekar. Ia
memeras dan memeras… dan
menekan sisa jeruk… tapi tak setetespun air jeruk
keluar. Sepertinya seluruh isi
jeruk itu sudah terperas
habis. Ia gagal. Beberapa pria
kuat lainnya turut mencoba,
tapi tak ada yang berhasil. Manusia kuat itu tersenyum-
senyum sambil berkata :
“Aku berikan satu
kesempatan terakhir, siapa
yang mau mencoba?” Seorang wanita kurus
setengah baya
mengacungkan tangan dan
meminta agar ia boleh
mencoba. “Tentu saja boleh
nyonya. Mari naik ke panggung.” Walau dibayangi
kegelian di hatinya, manusia
kuat itu membimbing
wanita itu naik ke atas
pentas. Beberapa orang
tergelak-gelak mengolok- olok wanita itu. Pria kuat
lainnya saja gagal
meneteskan setetes air dari
potongan jeruk itu apalagi
ibu kurus tua ini. Itulah yang
ada di pikiran penonton. Wanita itu lalu mengambil
jeruk dan
menggenggamnya. Semakin
banyak penonton yang
menertawakannya. Lalu
wanita itu mencoba memegang sisa jeruk itu
dengan penuh konsentrasi.
Ia memegang sebelah
pinggirnya, mengarahkan
ampas jeruk ke arah tengah,
demikian terus ia ulangi dengan sisi jeruk yang lain.
Ia terus menekan serta
memijit jeruk itu, hingga
akhirnya memeras… dan
“ting!” setetes air jeruk
muncul terperas dan jatuh di atas meja panggung.
Penonton terdiam
terperangah. Lalu cemoohan
segera berubah menjadi
tepuk tangan riuh. Manusia kuat lalu memeluk
wanita kurus itu, katanya,
“Nyonya, aku sudah
melakukan pertunjukkan
semacam ini ratusan kali.
Dan, banyak orang pernah mencobanya agar bisa
membawa pulang hadiah
uang yang aku tawarkan,
tapi mereka semua gagal.
Hanya Anda satu-satunya
yang berhasil memenangkan hadiah itu. Boleh aku tahu,
bagaimana Anda bisa
melakukan hal itu?” “Begini,” jawab wanita itu,
“Aku adalah seorang janda
yang ditinggal mati
suamiku. Aku harus bekerja
keras untuk mencari nafkah
bagi hidup kelima anakku. Jika engkau memiliki
tanggungan beban seperti
itu, engkau akan
mengetahui bahwa selalu
ada tetesan air walau itu di
padang gurun sekalipun. Engkau juga akan
mengetahui jalan untuk
menemukan tetesan itu. Jika
hanya memeras setetes air
jeruk dari ampas yang
engkau buat, bukanlah hal yang sulit bagiku”. Selalu ada tetesan setelah
tetesan terakhir. Aku telah
ratusan kali mengalami jalan
buntu untuk semua masalah
serta kebutuhan yang
keluargaku perlukan. Namun hingga saat ini aku
selalu menerima tetes berkat
untuk hidup keluargaku.
Aku percaya Tuhanku hidup
dan aku percaya tetesan
berkat-Nya tidak pernah kering, walau mata
jasmaniku melihat
semuanya telah kering. Aku
punya alasan untuk
menerima jalan keluar dari
masalahku. Saat aku mencari, aku menerimanya
karena ada pribadi yang
mengasihiku. “Bila Anda memiliki alasan
yang cukup kuat, Anda
akan menemukan jalannya”,
demikian kata seorang bijak.
Seringkali kita tak kuat
melakukan sesuatu karena tak memiliki alasan yang
cukup kuat untuk menerima
hal tersebut.
Selasa, 31 Juli 2012
Sebatang bambu
Sebatang bambu yang indah
tumbuh di halaman rumah
seorang petani. Batang bambu
ini tumbuh tinggi menjulang
di antara batang-batang
bambu lainnya. Suatu hari datanglah sang petani yang
empunya pohon bambu itu. Dia berkata kepada batang
bambu,” Wahai bambu,
maukah engkau kupakai
untuk menjadi pipa saluran air
yg sangat berguna untuk
mengairi sawahku?” Batang bambu menjawabnya,
“Oh tentu aku mau bila dapat
berguna bagi engkau,Tuan.
Tapi ceritakan apa yang akan
kau lakukan untuk
membuatku menjadi pipa saluran air itu.” Sang petani menjawab,
“Pertama, aku akan
menebangmu untuk
memisahkan engkau dari
rumpunmu yang indah itu.
Lalu aku akan membuang cabang-cabangmu yang dapat
melukai orang yang
memegangmu. Setelah itu aku
akan membelah-belah engkau
sesuai dengan keperluanku.
Terakhir aku akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam
batangmu, supaya air dapat
mengalir dengan lancar.
Apabila aku sudah selesai
dengan pekerjaanku, engkau
akan menjadi pipa yang akan mengalirkan air untuk
mengairi sawah sehingga padi
yang ditanam dapat tumbuh
dengan subur.” Mendengar hal ini, batang
bambu lama terdiam…
kemudian dia berkata kpd
petani, “Tuan, tentu aku akan
merasa sangat sakit ketika
engkau menebangku. Juga pasti akan sakit ketika
engkau membuang cabang-
cabangku, bahkan lebih sakit
lagi ketika engkau membelah-
belah batangku yang indah ini
dan pasti tak tertahankan ketika engkau mengorek-
ngorek bagian dalam tubuhku
untuk membuang sekat-sekat
penghalang itu. Apakah aku
akan kuat melalui semua
proses itu, Tuan?” Petani menjawab, ” Wahai
bambu, engkau pasti kuat
melalui semua ini karena aku
memilihmu justru karena
engkau yang paling kuat dari
semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah.” Akhirnya batang bambu itu
menyerah, “Baiklah, Tuan.
Aku ingin sekali berguna
ketimbang batang bambu yg
lain. Inilah aku, tebanglah aku,
perbuatlah sesuai dengan yang kau kehendaki.” Setelah petani selesai dengan
pekerjaannya, batang bambu
indah yang dulu hanya
menjadi penghias halaman
rumah petani, kini telah
berubah menjadi pipa saluran air yang mengairi sawah
sehingga padi dapat tumbuh
dengan subur dan berbuah
banyak. Pernahkah kita berpikir
bahwa dengan tanggung
jawab dan persoalan yg sarat,
mungkin Tuhan sedang
memproses kita untuk
menjadi indah di hadapan- Nya? Sama seperti batang
bambu itu, kita sedang
ditempa. Tapi jangan kuatir, kita pasti
kuat karena Tuhan tak akan
memberikan beban yang tak
mampu kita pikul. Jadi
maukah kita berserah pada
kehendak Tuhan, membiarkan Dia bebas berkarya di dalam
diri kita untuk menjadikan
kita alat yang berguna bagi-
Nya? Seperti batang bambu itu,
mari kita berkata, ” Inilah
aku, Tuhan…perbuatlah sesuai
dengan yang Kau kehendaki.”
tumbuh di halaman rumah
seorang petani. Batang bambu
ini tumbuh tinggi menjulang
di antara batang-batang
bambu lainnya. Suatu hari datanglah sang petani yang
empunya pohon bambu itu. Dia berkata kepada batang
bambu,” Wahai bambu,
maukah engkau kupakai
untuk menjadi pipa saluran air
yg sangat berguna untuk
mengairi sawahku?” Batang bambu menjawabnya,
“Oh tentu aku mau bila dapat
berguna bagi engkau,Tuan.
Tapi ceritakan apa yang akan
kau lakukan untuk
membuatku menjadi pipa saluran air itu.” Sang petani menjawab,
“Pertama, aku akan
menebangmu untuk
memisahkan engkau dari
rumpunmu yang indah itu.
Lalu aku akan membuang cabang-cabangmu yang dapat
melukai orang yang
memegangmu. Setelah itu aku
akan membelah-belah engkau
sesuai dengan keperluanku.
Terakhir aku akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam
batangmu, supaya air dapat
mengalir dengan lancar.
Apabila aku sudah selesai
dengan pekerjaanku, engkau
akan menjadi pipa yang akan mengalirkan air untuk
mengairi sawah sehingga padi
yang ditanam dapat tumbuh
dengan subur.” Mendengar hal ini, batang
bambu lama terdiam…
kemudian dia berkata kpd
petani, “Tuan, tentu aku akan
merasa sangat sakit ketika
engkau menebangku. Juga pasti akan sakit ketika
engkau membuang cabang-
cabangku, bahkan lebih sakit
lagi ketika engkau membelah-
belah batangku yang indah ini
dan pasti tak tertahankan ketika engkau mengorek-
ngorek bagian dalam tubuhku
untuk membuang sekat-sekat
penghalang itu. Apakah aku
akan kuat melalui semua
proses itu, Tuan?” Petani menjawab, ” Wahai
bambu, engkau pasti kuat
melalui semua ini karena aku
memilihmu justru karena
engkau yang paling kuat dari
semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah.” Akhirnya batang bambu itu
menyerah, “Baiklah, Tuan.
Aku ingin sekali berguna
ketimbang batang bambu yg
lain. Inilah aku, tebanglah aku,
perbuatlah sesuai dengan yang kau kehendaki.” Setelah petani selesai dengan
pekerjaannya, batang bambu
indah yang dulu hanya
menjadi penghias halaman
rumah petani, kini telah
berubah menjadi pipa saluran air yang mengairi sawah
sehingga padi dapat tumbuh
dengan subur dan berbuah
banyak. Pernahkah kita berpikir
bahwa dengan tanggung
jawab dan persoalan yg sarat,
mungkin Tuhan sedang
memproses kita untuk
menjadi indah di hadapan- Nya? Sama seperti batang
bambu itu, kita sedang
ditempa. Tapi jangan kuatir, kita pasti
kuat karena Tuhan tak akan
memberikan beban yang tak
mampu kita pikul. Jadi
maukah kita berserah pada
kehendak Tuhan, membiarkan Dia bebas berkarya di dalam
diri kita untuk menjadikan
kita alat yang berguna bagi-
Nya? Seperti batang bambu itu,
mari kita berkata, ” Inilah
aku, Tuhan…perbuatlah sesuai
dengan yang Kau kehendaki.”
Minggu, 29 Juli 2012
Hati yang mati
Persepsi tentang mati
memang berbeda pada setiap
orang. Ada yang merasa
sudah mati ketika kehilangan
kekasihnya. Ada yang merasa
mati ketika ludes harta bendanya. Dan, ada yang
menganggap hidupnya tak
berarti saat dirundung
kegagalan dan kedukaan
akibat musibah. Mati bukan hanya ketika
seseorang telah
mengembuskan napas
terakhir, matanya terpejam,
detak jantung terhenti, dan
jasad tak bergerak. Itu semua hanya mati biologis.
Kematiannya masih
bermanfaat karena menjadi
pelajaran bagi yang hidup.
Rasulullah SAW bersabda,
“Cukuplah kematian menjadi pelajaran, dan cukuplah
keyakinan sebagai
kekayaan.” (HR At-Thabrani
dari Ammar RA).
Alangkah banyak manusia
sudah mati, tapi masih memberikan manfaat bagi
yang hidup, yakni masjid atau
madrasah yang mereka
bangun, buku yang mereka
tulis, anak saleh yang
ditinggalkan, dan ilmu bermanfaat yang telah
diajarkan. Meraka mati jasad,
tapi pahala terus hidup (lihat
QS al-Baqarah [2]: 154). Sesungguhnya yang perlu
diwaspadai adalah mati
hakiki, yakni matinya hati
pada orang yang masih hidup.
Tak ada yang bisa diharapkan
dari manusia yang hatinya telah mati. Boleh jadi dia
hanya menambah jumlah
bilangan penduduk dalam
sensus. Hanya ikut membuat
macet jalanan dan mengurangi
jatah hidup manusia lain. Itu pun kalau tak merugikan
orang lain. Bagaimana halnya
dengan koruptor, orang yang
merusak, dan menebar
kejahatan di muka bumi? Tanda manusia yang hatinya
telah mati, antara lain, kurang
berinteraksi dengan kebaikan,
kurang kasih sayang kepada
orang lain, mendahulukan
dunia daripada akhirat, tak mengingkari kemungkaran,
menuruti syahwat, lalai, dan
senang berbuat maksiat. Ada tiga hal yang bila kita
tinggalkan akan
menyebabkan kematian hati.
Pertama, bila shalat
ditinggalkan, itu akan
membuat jiwa kalut. Kita akan terjerumus ke dalam
perbuatan keji, terseret ke
lembah kemungkaran dan
kesesatan (QS al-Ankabut [29]:
45 dan QS Maryam [19]: 59),
dan bisa menyusahkan serta merugikan orang lain. Kedua, meninggalkan
sedekah. Itu berarti kita egois,
individualis, dan enggan
berbuat baik. Kepedulian
sosial seperti sedekah adalah
bukti keimanan. Orang yang suka bersedekah hatinya
lapang dan dijauhkan dari
penyakit, khususnya
kekikiran, sedangkan para
dermawan selalu menebar
kebajikan sehingga dekat dengan manusia, Allah, dan
surga. Ketiga, meninggalkan
zikrullah adalah awal
kematian hati. Hatinya akan
membatu sehingga tak bisa
menerima nasihat dan ajaran
agama. Zikir akan menimbulkan ketenangan
hati (QS Ar-Ra’d [13]: 28).
Orang yang tenang hatinya
akan berperilaku positif dan
tak mau berbuat jahat. Mukmin yang selalu shalat,
senang bersedekah, dan
memperbanyak zikrullah
akan menjadi orang yang
paling baik, memiliki hati
yang hidup, dan menebar kebaikan kepada sesama. Bila
kita merasa rajin shalat,
sedekah, dan zikir, tetapi
hatinya mati, kemungkinan
besar shalat, sedekah, dan
zikirnya cenderung formalitas tanpa jiwa
memang berbeda pada setiap
orang. Ada yang merasa
sudah mati ketika kehilangan
kekasihnya. Ada yang merasa
mati ketika ludes harta bendanya. Dan, ada yang
menganggap hidupnya tak
berarti saat dirundung
kegagalan dan kedukaan
akibat musibah. Mati bukan hanya ketika
seseorang telah
mengembuskan napas
terakhir, matanya terpejam,
detak jantung terhenti, dan
jasad tak bergerak. Itu semua hanya mati biologis.
Kematiannya masih
bermanfaat karena menjadi
pelajaran bagi yang hidup.
Rasulullah SAW bersabda,
“Cukuplah kematian menjadi pelajaran, dan cukuplah
keyakinan sebagai
kekayaan.” (HR At-Thabrani
dari Ammar RA).
Alangkah banyak manusia
sudah mati, tapi masih memberikan manfaat bagi
yang hidup, yakni masjid atau
madrasah yang mereka
bangun, buku yang mereka
tulis, anak saleh yang
ditinggalkan, dan ilmu bermanfaat yang telah
diajarkan. Meraka mati jasad,
tapi pahala terus hidup (lihat
QS al-Baqarah [2]: 154). Sesungguhnya yang perlu
diwaspadai adalah mati
hakiki, yakni matinya hati
pada orang yang masih hidup.
Tak ada yang bisa diharapkan
dari manusia yang hatinya telah mati. Boleh jadi dia
hanya menambah jumlah
bilangan penduduk dalam
sensus. Hanya ikut membuat
macet jalanan dan mengurangi
jatah hidup manusia lain. Itu pun kalau tak merugikan
orang lain. Bagaimana halnya
dengan koruptor, orang yang
merusak, dan menebar
kejahatan di muka bumi? Tanda manusia yang hatinya
telah mati, antara lain, kurang
berinteraksi dengan kebaikan,
kurang kasih sayang kepada
orang lain, mendahulukan
dunia daripada akhirat, tak mengingkari kemungkaran,
menuruti syahwat, lalai, dan
senang berbuat maksiat. Ada tiga hal yang bila kita
tinggalkan akan
menyebabkan kematian hati.
Pertama, bila shalat
ditinggalkan, itu akan
membuat jiwa kalut. Kita akan terjerumus ke dalam
perbuatan keji, terseret ke
lembah kemungkaran dan
kesesatan (QS al-Ankabut [29]:
45 dan QS Maryam [19]: 59),
dan bisa menyusahkan serta merugikan orang lain. Kedua, meninggalkan
sedekah. Itu berarti kita egois,
individualis, dan enggan
berbuat baik. Kepedulian
sosial seperti sedekah adalah
bukti keimanan. Orang yang suka bersedekah hatinya
lapang dan dijauhkan dari
penyakit, khususnya
kekikiran, sedangkan para
dermawan selalu menebar
kebajikan sehingga dekat dengan manusia, Allah, dan
surga. Ketiga, meninggalkan
zikrullah adalah awal
kematian hati. Hatinya akan
membatu sehingga tak bisa
menerima nasihat dan ajaran
agama. Zikir akan menimbulkan ketenangan
hati (QS Ar-Ra’d [13]: 28).
Orang yang tenang hatinya
akan berperilaku positif dan
tak mau berbuat jahat. Mukmin yang selalu shalat,
senang bersedekah, dan
memperbanyak zikrullah
akan menjadi orang yang
paling baik, memiliki hati
yang hidup, dan menebar kebaikan kepada sesama. Bila
kita merasa rajin shalat,
sedekah, dan zikir, tetapi
hatinya mati, kemungkinan
besar shalat, sedekah, dan
zikirnya cenderung formalitas tanpa jiwa
Kisah sedih seorang kakek
Berikut adalah kisah kakek
tua/orang tua yang
menyedihkan dengan
keadaan nya yang sudah
tua dan tak mampu lagi
untuk menjadi seperti halnya kita yang bisa
mengerjakan sesuatunya
dengan sendiri. Mungkin
cerita ini telah lama
meskipun dengan kata-kata
yang berbeda saya akan coba bagikan kesahabat
motivasi untuk di jadikan
motivasi dan bahan
renungan bagi kita. Suatu hari seorang kakek
tua yang tinggal bersama
anak , menantu, dan
seorang cucu laki-lakinya.
Penglihatan si kakek sudah
tidak begitu jelas lagi. Dan Ia sudah tidak dapat
mendengar dengan baik.
Juga lututnya sudah mulai
bergetar. Terkadang jika ia
duduk di meja makan, ia
tidak dapat lagi memegang sendok dengan erat. Dan
tampa sengaja seringkali Ia
menumpahkan makanan di
atas meja makan, Bahkan
makanan yang keluar dari
mulutnya. Melihat hal itu anak dan menantunya
merasa jijik saat makan
bersamanya. Oleh sebab itu
mereka memutuskan untuk
tidak memperbolehkan
kakek tersebut untuk makan bersama mereka.
Mereka menempatkan sang
kakek ditempat khusus,
makan hanya dengan
mangkok yang kecil. Ia
sering tidak mendapat makan dan minum yang
cukup dan tentu saja ia
tetap lapar dan haus.
Terkadang sesekali ia
mencoba melihat-lihat
makanan yang ada di meja makan mencoba untuk
hilangkan laparnya. Suatu ketika disaat
jemarinya yang sudah tua
tidak dapat lagi memegang
mangkuk. Mangkuk itu
jatuh dan pecah. Menantu
perempuannya mencaci- makinya habis-habisan. Tapi,
kakek tua itu hanya bisa
diam dan pasrah. Ia
membiarkan semuanya
terjadi. Lalu Menantunnya
tidak ingin lagi ada mangkuk yang pecah
dirumahnya maka ia
membelikan sebuah piring
yang terbuat dari kayu
dengan harga yang tidak
terlalu mahal. Kini dengan piring kayu itu kakek tua
itu harus makan. Dengan
begitu Ia lebih tenang
karena sangat mustahil
untuk pecah di buat si
kakek. Suatu hari anaknya yang
masih berumur 5 tahun
sedang belajar menggambar
dan hasilnya seperti sebuah
piring. “Apa yang sedang
kamu buat, Nak ?” tanya ayahnya. “Saya sedang
membuat sebuah piring
kayu ,” jawab anaknya
polos, “dengan piring ini
ayah dan ibu akan makan,
jika nanti saya sudah besar.” Ayah dan ibunya saling
bertatapan teringat
perlakuan mereka yang
selama ini memberikan
makan orang tuanya
dengan piring kayu. Mereka mulai membayangkan hal
tersebut terjadi kepada
mereka. Tampa sengaja sang
ibu menangis dan langsung
memeluk anaknya. Sejak
kejadian itu mereka selalu memapah sang kakek ke
meja makan, untuk makan
bersama. Jika ia lapar atau
haus, mereka segera
membawakan makanan
dan minuman untuknya. Mereka tidak lagi
mempersalahkan perlakuan
sang kakek, meski harus
selalu membersihkan sisa
makan sang kakek yang
selalu tumpah di meja makan. ***
Semoga cerita ini bisa
menjadi pengingat bagi kita
yang masih muda, bahwa
kita juga akan menjadi
seperti mereka yang sudah tua yang selalu
membutuhkan pertolongan
orang lain. Bahkan bisa jadi
nantinya kita akan lebih
menyusahkan anak-anak
kita. Jadi tanamkan sifat kesabaran dan keikhlasan
menerima semuanya , saling
mengerti dan menyadari
keadaan orang tua kita,
agar nantinya anak-anak
kita dapat memperlakukan kita dengan baik(Sekecil
apapun hal yang kita
lakukan hari ini akan
berdampak di kemudian
hari).
tua/orang tua yang
menyedihkan dengan
keadaan nya yang sudah
tua dan tak mampu lagi
untuk menjadi seperti halnya kita yang bisa
mengerjakan sesuatunya
dengan sendiri. Mungkin
cerita ini telah lama
meskipun dengan kata-kata
yang berbeda saya akan coba bagikan kesahabat
motivasi untuk di jadikan
motivasi dan bahan
renungan bagi kita. Suatu hari seorang kakek
tua yang tinggal bersama
anak , menantu, dan
seorang cucu laki-lakinya.
Penglihatan si kakek sudah
tidak begitu jelas lagi. Dan Ia sudah tidak dapat
mendengar dengan baik.
Juga lututnya sudah mulai
bergetar. Terkadang jika ia
duduk di meja makan, ia
tidak dapat lagi memegang sendok dengan erat. Dan
tampa sengaja seringkali Ia
menumpahkan makanan di
atas meja makan, Bahkan
makanan yang keluar dari
mulutnya. Melihat hal itu anak dan menantunya
merasa jijik saat makan
bersamanya. Oleh sebab itu
mereka memutuskan untuk
tidak memperbolehkan
kakek tersebut untuk makan bersama mereka.
Mereka menempatkan sang
kakek ditempat khusus,
makan hanya dengan
mangkok yang kecil. Ia
sering tidak mendapat makan dan minum yang
cukup dan tentu saja ia
tetap lapar dan haus.
Terkadang sesekali ia
mencoba melihat-lihat
makanan yang ada di meja makan mencoba untuk
hilangkan laparnya. Suatu ketika disaat
jemarinya yang sudah tua
tidak dapat lagi memegang
mangkuk. Mangkuk itu
jatuh dan pecah. Menantu
perempuannya mencaci- makinya habis-habisan. Tapi,
kakek tua itu hanya bisa
diam dan pasrah. Ia
membiarkan semuanya
terjadi. Lalu Menantunnya
tidak ingin lagi ada mangkuk yang pecah
dirumahnya maka ia
membelikan sebuah piring
yang terbuat dari kayu
dengan harga yang tidak
terlalu mahal. Kini dengan piring kayu itu kakek tua
itu harus makan. Dengan
begitu Ia lebih tenang
karena sangat mustahil
untuk pecah di buat si
kakek. Suatu hari anaknya yang
masih berumur 5 tahun
sedang belajar menggambar
dan hasilnya seperti sebuah
piring. “Apa yang sedang
kamu buat, Nak ?” tanya ayahnya. “Saya sedang
membuat sebuah piring
kayu ,” jawab anaknya
polos, “dengan piring ini
ayah dan ibu akan makan,
jika nanti saya sudah besar.” Ayah dan ibunya saling
bertatapan teringat
perlakuan mereka yang
selama ini memberikan
makan orang tuanya
dengan piring kayu. Mereka mulai membayangkan hal
tersebut terjadi kepada
mereka. Tampa sengaja sang
ibu menangis dan langsung
memeluk anaknya. Sejak
kejadian itu mereka selalu memapah sang kakek ke
meja makan, untuk makan
bersama. Jika ia lapar atau
haus, mereka segera
membawakan makanan
dan minuman untuknya. Mereka tidak lagi
mempersalahkan perlakuan
sang kakek, meski harus
selalu membersihkan sisa
makan sang kakek yang
selalu tumpah di meja makan. ***
Semoga cerita ini bisa
menjadi pengingat bagi kita
yang masih muda, bahwa
kita juga akan menjadi
seperti mereka yang sudah tua yang selalu
membutuhkan pertolongan
orang lain. Bahkan bisa jadi
nantinya kita akan lebih
menyusahkan anak-anak
kita. Jadi tanamkan sifat kesabaran dan keikhlasan
menerima semuanya , saling
mengerti dan menyadari
keadaan orang tua kita,
agar nantinya anak-anak
kita dapat memperlakukan kita dengan baik(Sekecil
apapun hal yang kita
lakukan hari ini akan
berdampak di kemudian
hari).
Tidak penting berapa lama kita hidup
Suatu hari ada pasangan
suami isteri yang sudah
lama menikah tetapi belum
mepunyai keturunan.
Setelah 10 tahun berumah-
tangga, akhirnya sang istri hamil, sehingga pasangan
tersebut sangat bahagia.
Mereka menyebarkan kabar
baik ini kepada famili,
teman dan sahabat-
sahabatnya. Semua orang ikut bersukacita dengan
mereka. Dokter menemukan bayi
perempuan di
kandungannya.Tetapi
setelah beberapa bulan,
sesuatu yang buruk terjadi.
Bayi tersebut mengalami kelainan, dan ia mungkin
tidak bisa hidup sampai
masa kelahiran tiba. Jadi
dokter menyarankan untuk
dilakukan aborsi, demi
menyelamatkan sang ibu. Fakta ini membuat keadaan
menjadi terbalik. Baik sang
suami maupun sang istri
mengalami depressi.
Pasangan ini bersikeras
untuk tidak menggugurkan bayinya (membunuh bayi
tsb), tetapi juga kuatir
terhadap kesehatan
bayinya. “Saya bisa
merasakan keberadaannya,
dia sedang tidur yenyak”, kata sang ibu di sela
tangisannya. Lingkungan
sekitarnya memberikan
dukungan moral kepada
pasangan tersebut,dengan
mengatakan bahwa ini adalah kehendak Tuhan. Ketika sang istri semakin
mendekatkan diri dengan
Tuhan, tiba-tiba dia tersadar
bahwa Alloh pasti memiliki
rencanaNya dibalik semua
ini. Hal ini membuatnya lebih tabah.Pasangan ini
berusaha keras untuk
menerima fakta ini.. Mereka
mencari informasi kesana
kemari untuk mempelajari
lebih banyak tentang masalah bayi mereka. Satu
hal yang mereka temukan
adalah bahwa mereka tidak
sendirian. Banyak pasangan
lainnya yang juga
mengalami situasi yang sama, dimana bayi mereka
tidak dapat hidup lama.
Mereka juga menemukan
bahwa beberapa bayi akan
mampu bertahan hidup, bila
mereka mampu memperoleh donor organ
dari bayi lain. Sebuah
peluang yang sangat langka.
Siapa yang mau
mendonorkan organ
bayinya ke orang lain ? Jauh sebelum bayi mereka
lahir, pasangan ini
menamakan bayinya,
yuliana. Mereka terus berdoa. Pada
awalnya,mereka memohon
keajaiban supaya bayinya
sembuh. Kemudian mereka
tahu, bahwa mereka
seharusnya memohon kepada Alloh agar diberikan
kekuatan untuk
menghadapi apapun yang
terjadi, karena mereka
yakin Alloh punya
rencanaNya sendiri. Keajaiban terjadi, dokter
mengatakan bahwa Yuli
cukup sehat untuk
dilahirkan, tetapi ia tidak
akan bertahan hidup lebih
dari 2 jam. Sang istri kemudian berdiskusi
dengan suaminya, bahwa
jika sesuatu yang buruk
terjadi pada Yuli , mereka
akan mendonorkan
organnya. Ada dua bayi yang sedang berjuang hidup
dan sekarat, yang sedang
menunggu donor organ
bayi.
Sekali lagi, pasangan ini
berlinangan air mata. Mereka menangis dalam
posisi sebagai orang tua,
dimana mereka tidak
mampu menyelamatkan
Yuli. Pasangan ini bertekad
untuk tabah menghadapi kenyataan yg akan terjadi. Hari kelahiran tiba. Sang istri
berhasil melahirkan bayinya
dengan selamat. Pada momen yang sangat
berharga tersebut, sang
suami menggendong Yuli
dengan sangat hati-hati, Yuli
menatap ayahnya, dan
tersenyum dengan manis. Senyuman Yuli yang imut
tak akan pernah terlupakan
dalam hidupnya. Tidak ada
kata2 di dunia ini yang
mampu menggambarkan
perasaan pasangan tersebut pada saat itu. Mereka sangat
bangga bahwa mereka
sudah melakukan pilihan
yang tepat (dengan tidak
mengaborsi Yuli ),mereka
sangat bahagia melihat Yuli yang begitu mungil
tersenyum pada mereka,
mereka sangat sedih karena
kebahagiaan ini akan
berakhir dalam beberapa
jam saja. Sungguh tidak ada kata-
kata yang dapat mewakili
perasaan pasangan tersebut. Mungkin hanya dengan air
mata yang terus jatuh
mengalir, air mata yang
berasal dari jiwa mereka
yang terluka. Para tetangga maupun
kerabat famili memiliki
kesempatan untuk melihat
Yuli . Keajaiban terjadi lagi, Yuli
tetap bertahan hidup setelah
lewat 2 jam. Memberikan
kesempatan yang lebih
banyak bagi keluarga
tersebut untuk saling berbagi kebahagiaan. Tetapi
Yuli tidak mampu bertahan
setelah enam jam….. Para dokter bekerja cepat
untuk melakukan prosedur
pendonoran organ. Setelah beberapa minggu,
dokter menghubungi
pasangan tsb bahwa donor
tsb berhasil. Dua bayi
berhasil diselamatkan dari
kematian. Pasangan tersebut sekarang
sadar akan kehendak Alloh.
Walaupun Yuli hanya hidup
selama 6 jam, tetapi dia
berhasil menyelamatkan
dua nyawa. Bagi pasangan tersebut, Yuli
adalah pahlawan mereka,
dan Yuli yang mungil akan
hidup dalam hati mereka
selamanya… Renungan:
–Tidaklah penting berapa
lama kita hidup, satu hari
ataupun bahkan seratus
tahun. Hal yang benar2
penting adalah apa yang telah kita lakukan selama
hidup kita, yang
bermanfaat bagi orang lain. –Tidaklah penting berapa
lama perusahaan kita telah
berdiri, satu tahun ataupun
bahkan dua ratus tahun. Hal
yang benar2 penting adalah
apa yang dilakukan perusahaan kita selama ini,
yang bermanfaat bagi orang
lain. –Tidaklah
pentingbagaimana karier
seorang anak di masa
mendatang, dimana mereka
tinggal, maupun berapa
banyak uang yang mampu mereka hasilkan. Tetapi hal
terpenting bagi orang tua
adalah untuk memastikan
bahwa anak-anak nya
melakukan hal-hal terpuji
selama hidupnya, sehingga ketika kematian
menjemput mereka,
mereka akan menuju
surga”. –Berhenti Untuk Selalu
Memikirkan Kepentingan
Diri Sendiri, Jadikan
Kehadiran kita Di Dunia Ini
Sebagai RAHMAT Bagi Orang
Banyak dan Bagi Orang- orang Yang kita Cintai
(Ayah, Ibu, Saudara/
i,Suami/ Istri, dst)
suami isteri yang sudah
lama menikah tetapi belum
mepunyai keturunan.
Setelah 10 tahun berumah-
tangga, akhirnya sang istri hamil, sehingga pasangan
tersebut sangat bahagia.
Mereka menyebarkan kabar
baik ini kepada famili,
teman dan sahabat-
sahabatnya. Semua orang ikut bersukacita dengan
mereka. Dokter menemukan bayi
perempuan di
kandungannya.Tetapi
setelah beberapa bulan,
sesuatu yang buruk terjadi.
Bayi tersebut mengalami kelainan, dan ia mungkin
tidak bisa hidup sampai
masa kelahiran tiba. Jadi
dokter menyarankan untuk
dilakukan aborsi, demi
menyelamatkan sang ibu. Fakta ini membuat keadaan
menjadi terbalik. Baik sang
suami maupun sang istri
mengalami depressi.
Pasangan ini bersikeras
untuk tidak menggugurkan bayinya (membunuh bayi
tsb), tetapi juga kuatir
terhadap kesehatan
bayinya. “Saya bisa
merasakan keberadaannya,
dia sedang tidur yenyak”, kata sang ibu di sela
tangisannya. Lingkungan
sekitarnya memberikan
dukungan moral kepada
pasangan tersebut,dengan
mengatakan bahwa ini adalah kehendak Tuhan. Ketika sang istri semakin
mendekatkan diri dengan
Tuhan, tiba-tiba dia tersadar
bahwa Alloh pasti memiliki
rencanaNya dibalik semua
ini. Hal ini membuatnya lebih tabah.Pasangan ini
berusaha keras untuk
menerima fakta ini.. Mereka
mencari informasi kesana
kemari untuk mempelajari
lebih banyak tentang masalah bayi mereka. Satu
hal yang mereka temukan
adalah bahwa mereka tidak
sendirian. Banyak pasangan
lainnya yang juga
mengalami situasi yang sama, dimana bayi mereka
tidak dapat hidup lama.
Mereka juga menemukan
bahwa beberapa bayi akan
mampu bertahan hidup, bila
mereka mampu memperoleh donor organ
dari bayi lain. Sebuah
peluang yang sangat langka.
Siapa yang mau
mendonorkan organ
bayinya ke orang lain ? Jauh sebelum bayi mereka
lahir, pasangan ini
menamakan bayinya,
yuliana. Mereka terus berdoa. Pada
awalnya,mereka memohon
keajaiban supaya bayinya
sembuh. Kemudian mereka
tahu, bahwa mereka
seharusnya memohon kepada Alloh agar diberikan
kekuatan untuk
menghadapi apapun yang
terjadi, karena mereka
yakin Alloh punya
rencanaNya sendiri. Keajaiban terjadi, dokter
mengatakan bahwa Yuli
cukup sehat untuk
dilahirkan, tetapi ia tidak
akan bertahan hidup lebih
dari 2 jam. Sang istri kemudian berdiskusi
dengan suaminya, bahwa
jika sesuatu yang buruk
terjadi pada Yuli , mereka
akan mendonorkan
organnya. Ada dua bayi yang sedang berjuang hidup
dan sekarat, yang sedang
menunggu donor organ
bayi.
Sekali lagi, pasangan ini
berlinangan air mata. Mereka menangis dalam
posisi sebagai orang tua,
dimana mereka tidak
mampu menyelamatkan
Yuli. Pasangan ini bertekad
untuk tabah menghadapi kenyataan yg akan terjadi. Hari kelahiran tiba. Sang istri
berhasil melahirkan bayinya
dengan selamat. Pada momen yang sangat
berharga tersebut, sang
suami menggendong Yuli
dengan sangat hati-hati, Yuli
menatap ayahnya, dan
tersenyum dengan manis. Senyuman Yuli yang imut
tak akan pernah terlupakan
dalam hidupnya. Tidak ada
kata2 di dunia ini yang
mampu menggambarkan
perasaan pasangan tersebut pada saat itu. Mereka sangat
bangga bahwa mereka
sudah melakukan pilihan
yang tepat (dengan tidak
mengaborsi Yuli ),mereka
sangat bahagia melihat Yuli yang begitu mungil
tersenyum pada mereka,
mereka sangat sedih karena
kebahagiaan ini akan
berakhir dalam beberapa
jam saja. Sungguh tidak ada kata-
kata yang dapat mewakili
perasaan pasangan tersebut. Mungkin hanya dengan air
mata yang terus jatuh
mengalir, air mata yang
berasal dari jiwa mereka
yang terluka. Para tetangga maupun
kerabat famili memiliki
kesempatan untuk melihat
Yuli . Keajaiban terjadi lagi, Yuli
tetap bertahan hidup setelah
lewat 2 jam. Memberikan
kesempatan yang lebih
banyak bagi keluarga
tersebut untuk saling berbagi kebahagiaan. Tetapi
Yuli tidak mampu bertahan
setelah enam jam….. Para dokter bekerja cepat
untuk melakukan prosedur
pendonoran organ. Setelah beberapa minggu,
dokter menghubungi
pasangan tsb bahwa donor
tsb berhasil. Dua bayi
berhasil diselamatkan dari
kematian. Pasangan tersebut sekarang
sadar akan kehendak Alloh.
Walaupun Yuli hanya hidup
selama 6 jam, tetapi dia
berhasil menyelamatkan
dua nyawa. Bagi pasangan tersebut, Yuli
adalah pahlawan mereka,
dan Yuli yang mungil akan
hidup dalam hati mereka
selamanya… Renungan:
–Tidaklah penting berapa
lama kita hidup, satu hari
ataupun bahkan seratus
tahun. Hal yang benar2
penting adalah apa yang telah kita lakukan selama
hidup kita, yang
bermanfaat bagi orang lain. –Tidaklah penting berapa
lama perusahaan kita telah
berdiri, satu tahun ataupun
bahkan dua ratus tahun. Hal
yang benar2 penting adalah
apa yang dilakukan perusahaan kita selama ini,
yang bermanfaat bagi orang
lain. –Tidaklah
pentingbagaimana karier
seorang anak di masa
mendatang, dimana mereka
tinggal, maupun berapa
banyak uang yang mampu mereka hasilkan. Tetapi hal
terpenting bagi orang tua
adalah untuk memastikan
bahwa anak-anak nya
melakukan hal-hal terpuji
selama hidupnya, sehingga ketika kematian
menjemput mereka,
mereka akan menuju
surga”. –Berhenti Untuk Selalu
Memikirkan Kepentingan
Diri Sendiri, Jadikan
Kehadiran kita Di Dunia Ini
Sebagai RAHMAT Bagi Orang
Banyak dan Bagi Orang- orang Yang kita Cintai
(Ayah, Ibu, Saudara/
i,Suami/ Istri, dst)
Menikah bukan sekedar mendapatkan keturunan
Suatu hari di sebuah rumah
mewah di pinggiran desa, ada
sepasang suami istri, Rudi dan
sang istri bernama yuli. Rudi
adalah anak tunggal
keturunan orang terpandang di desa itu, sedangkan Yuli
adalah anak orang biasa.
Namun kedua orang tua Rudi,
sangat menyayangi menantu
satu-satunya itu. Karena selain
rajin, patuh dan taat beribadah, Yuli juga sudah
tidak punya saudara dan
orang tua lagi. Karna
meninggal saat ia masih kecil.
Orang memandang, mereka
adalah pasangan yg sangat harmonis. Para tetangganya
pun tahu bagaimana mereka
dulu merintis usaha dari kecil
untuk mencapai kehidupan
mapan seperti sekarang ini.
Sayangnya, pasangan itu belum lengkap. Dalam kurun waktu sepuluh
tahun usia pernikahannya,
mereka belum juga dikaruniai
seorang anak. Akibatnya Rudi
putus asa hingga walau masih
sangat cinta, dia berniat untuk menceraikan sang istri, yg
dianggap tidak mampu
memberikan keturunan
sebagai penerus generasi.
Setelah melalui perdebatan,
dengan sedih dan duka yg mendalam, akhirnya Yuli pun
menyerah pada keputusan
suaminya untuk tetap
bercerai. Sambil menahan perasaan yg
tidak menentu, suami istri
itupun menyampaikan
rencana perceraian tersebut
kepada orang tuanya. Orang
tuanya pun menentang keras, sangat tidak setuju, tapi
tampaknya keputusan Rudi
sudah bulat. Dia tetap akan
menceraikan Yuli. Setelah berdebat cukup lama,
akhirnya dengan berat hati
kedua orang tua itu
menyetujui perceraian
tersebut dengan satu syarat,
yaitu agar perceraian itu juga diselenggarakan dalam sebuah
pesta yg sama besar seperti
besarnya pesta saat mereka
menikah dulu. Karena tak
ingin mengecewakan kedua
orang tuanya, maka persyaratan itu pun disetujui. Beberapa hari kemudian, pesta
diselenggarakan. Saya berani
sumpah bahwa itu adalah
sebuah pesta yg sangat tidak
membahagiakan bagi
siapapun yg hadir. Pak Rudi nampak tertekan, stres dan
terus menenggak minuman
beralkohol sampai mabuk dan
sempoyongan. Sementara Yuli
tampak terus melamun dan
sesekali mengusap air mata di pipinya. Di sela mabuknya itu
tiba-tiba Rudi berdiri tegap
dan berkata lantang, “Istriku, saat kamu pergi
nanti… ambil saja dan bawalah
serta semua barang berharga
atau apapun itu yg kamu suka
dan kamu sayangi..!”
Setelah berkata demikian, tak lama kemudian ia semakin
mabuk dan akhirnya tak
sadarkan diri. Keesokan harinya, seusai
pesta, Rudi terbangun dengan
kepala yg masih berdenyut-
denyut berat. Dia merasa asing
dengan keadaan
disekelilingnya, tak banyak yg dikenalnya kecuali satu.
Yuli istrinya, yg masih sangat
ia cintai, sosok yg selama
bertahun-tahun ini menemani
hidupnya.
Maka, dia pun lalu bertanya, “Ada dimana aku..?
Sepertinya ini bukan kamar
kita..? Apakah aku masih
mabuk dan bermimpi..?
Tolong jelaskan…” Yuli pun lalu menatap
suaminya penuh cinta, dan
dengan mata berkaca dia
menjawab,
“Suamiku… ini dirumah
peninggalan orang tuaku, dan orang-orang ini para tetangga.
Kemaren kamu bilang di
depan semua orang bahwa
aku boleh membawa apa saja
yg aku mau dan aku sayangi.
Dan perlu kamu tahu, di dunia ini tidak ada satu barangpun
yg berharga dan aku cintai
dengan sepenuh hati kecuali
kamu. Karena itulah kamu
sekarang kubawa serta
kemanapun aku pergi…!” Dengan perasaan terkejut
setelah tertegun sejenak dan
sesaat tersadar, Rudi lalu
bangun dan kemudian
memeluk istrinya erat dan
cukup lama sambil terdiam. Yuli hanya bisa pasrah tanpa
mampu membalas
pelukannya. Ia biarkan kedua
tangannya tetap lemas, lurus
sejajar dengan tubuh
kurusnya. “Maafkan aku istriku, aku
sungguh bodoh dan tidak
menyadari bahwa ternyata
sebegitu dalamnya cintamu
buat aku. Sehingga walau aku
telah menyakitimu dan berniat menceraikanmu
sekalipun, kamu masih tetap
mau membawa serta diriku
bersamamu dalam keadaan
apapun…” Kedua suami istri itupun
akhirnya ikhlas berpelukan
dan saling bertangisan
melampiaskan penyesalannya
masing-masing. Mereka
akhirnya mengikat janji (lagi) berdua untuk tetap saling
mencintai hingga ajal
memisahkannya.. ‘’ketahuilah sobat bahwa
tujuan utama dalam
pernikahan bukanlah hanya
untuk mendapatkan
keturunan, memang diakui
keturunan sangatlah di harapkan dalam pernikahan,
tapi masih banyak hal-hal
yang perlu di selami dalam
hidup berumah tangga. Untuk itu kita perlu
meluruskan kembali tujuan
kita dalam menikah, yaitu
peneguhan janji sepasang
suami istri untuk saling
mencintai, saling menjaga baik dalam keadaan suka maupun
duka. Melalui kesadaran
tersebut, apapun kondisi
rumah tangga yang kita jalani
akan menemukan suatu
solusi. Sebab proses menemukan solusi dengan
berlandaskan kasih sayang
ketika menghadapi sebuah
masalah, sebenarnya
merupakan salah satu kunci
keharmonisan rumah tangga kita.’’ “Harta dalam rumah tangga
itu bukanlah terletak dari
banyaknya tumpukan materi
yg dimiliki, namun dari rasa
kasih sayang dan cinta
pasangan suami istri yg terdapat dalam keluarga
tersebut. Maka jagalah harta
keluarga yg sangat berharga
itu..!”
mewah di pinggiran desa, ada
sepasang suami istri, Rudi dan
sang istri bernama yuli. Rudi
adalah anak tunggal
keturunan orang terpandang di desa itu, sedangkan Yuli
adalah anak orang biasa.
Namun kedua orang tua Rudi,
sangat menyayangi menantu
satu-satunya itu. Karena selain
rajin, patuh dan taat beribadah, Yuli juga sudah
tidak punya saudara dan
orang tua lagi. Karna
meninggal saat ia masih kecil.
Orang memandang, mereka
adalah pasangan yg sangat harmonis. Para tetangganya
pun tahu bagaimana mereka
dulu merintis usaha dari kecil
untuk mencapai kehidupan
mapan seperti sekarang ini.
Sayangnya, pasangan itu belum lengkap. Dalam kurun waktu sepuluh
tahun usia pernikahannya,
mereka belum juga dikaruniai
seorang anak. Akibatnya Rudi
putus asa hingga walau masih
sangat cinta, dia berniat untuk menceraikan sang istri, yg
dianggap tidak mampu
memberikan keturunan
sebagai penerus generasi.
Setelah melalui perdebatan,
dengan sedih dan duka yg mendalam, akhirnya Yuli pun
menyerah pada keputusan
suaminya untuk tetap
bercerai. Sambil menahan perasaan yg
tidak menentu, suami istri
itupun menyampaikan
rencana perceraian tersebut
kepada orang tuanya. Orang
tuanya pun menentang keras, sangat tidak setuju, tapi
tampaknya keputusan Rudi
sudah bulat. Dia tetap akan
menceraikan Yuli. Setelah berdebat cukup lama,
akhirnya dengan berat hati
kedua orang tua itu
menyetujui perceraian
tersebut dengan satu syarat,
yaitu agar perceraian itu juga diselenggarakan dalam sebuah
pesta yg sama besar seperti
besarnya pesta saat mereka
menikah dulu. Karena tak
ingin mengecewakan kedua
orang tuanya, maka persyaratan itu pun disetujui. Beberapa hari kemudian, pesta
diselenggarakan. Saya berani
sumpah bahwa itu adalah
sebuah pesta yg sangat tidak
membahagiakan bagi
siapapun yg hadir. Pak Rudi nampak tertekan, stres dan
terus menenggak minuman
beralkohol sampai mabuk dan
sempoyongan. Sementara Yuli
tampak terus melamun dan
sesekali mengusap air mata di pipinya. Di sela mabuknya itu
tiba-tiba Rudi berdiri tegap
dan berkata lantang, “Istriku, saat kamu pergi
nanti… ambil saja dan bawalah
serta semua barang berharga
atau apapun itu yg kamu suka
dan kamu sayangi..!”
Setelah berkata demikian, tak lama kemudian ia semakin
mabuk dan akhirnya tak
sadarkan diri. Keesokan harinya, seusai
pesta, Rudi terbangun dengan
kepala yg masih berdenyut-
denyut berat. Dia merasa asing
dengan keadaan
disekelilingnya, tak banyak yg dikenalnya kecuali satu.
Yuli istrinya, yg masih sangat
ia cintai, sosok yg selama
bertahun-tahun ini menemani
hidupnya.
Maka, dia pun lalu bertanya, “Ada dimana aku..?
Sepertinya ini bukan kamar
kita..? Apakah aku masih
mabuk dan bermimpi..?
Tolong jelaskan…” Yuli pun lalu menatap
suaminya penuh cinta, dan
dengan mata berkaca dia
menjawab,
“Suamiku… ini dirumah
peninggalan orang tuaku, dan orang-orang ini para tetangga.
Kemaren kamu bilang di
depan semua orang bahwa
aku boleh membawa apa saja
yg aku mau dan aku sayangi.
Dan perlu kamu tahu, di dunia ini tidak ada satu barangpun
yg berharga dan aku cintai
dengan sepenuh hati kecuali
kamu. Karena itulah kamu
sekarang kubawa serta
kemanapun aku pergi…!” Dengan perasaan terkejut
setelah tertegun sejenak dan
sesaat tersadar, Rudi lalu
bangun dan kemudian
memeluk istrinya erat dan
cukup lama sambil terdiam. Yuli hanya bisa pasrah tanpa
mampu membalas
pelukannya. Ia biarkan kedua
tangannya tetap lemas, lurus
sejajar dengan tubuh
kurusnya. “Maafkan aku istriku, aku
sungguh bodoh dan tidak
menyadari bahwa ternyata
sebegitu dalamnya cintamu
buat aku. Sehingga walau aku
telah menyakitimu dan berniat menceraikanmu
sekalipun, kamu masih tetap
mau membawa serta diriku
bersamamu dalam keadaan
apapun…” Kedua suami istri itupun
akhirnya ikhlas berpelukan
dan saling bertangisan
melampiaskan penyesalannya
masing-masing. Mereka
akhirnya mengikat janji (lagi) berdua untuk tetap saling
mencintai hingga ajal
memisahkannya.. ‘’ketahuilah sobat bahwa
tujuan utama dalam
pernikahan bukanlah hanya
untuk mendapatkan
keturunan, memang diakui
keturunan sangatlah di harapkan dalam pernikahan,
tapi masih banyak hal-hal
yang perlu di selami dalam
hidup berumah tangga. Untuk itu kita perlu
meluruskan kembali tujuan
kita dalam menikah, yaitu
peneguhan janji sepasang
suami istri untuk saling
mencintai, saling menjaga baik dalam keadaan suka maupun
duka. Melalui kesadaran
tersebut, apapun kondisi
rumah tangga yang kita jalani
akan menemukan suatu
solusi. Sebab proses menemukan solusi dengan
berlandaskan kasih sayang
ketika menghadapi sebuah
masalah, sebenarnya
merupakan salah satu kunci
keharmonisan rumah tangga kita.’’ “Harta dalam rumah tangga
itu bukanlah terletak dari
banyaknya tumpukan materi
yg dimiliki, namun dari rasa
kasih sayang dan cinta
pasangan suami istri yg terdapat dalam keluarga
tersebut. Maka jagalah harta
keluarga yg sangat berharga
itu..!”
Racun penyembuh ibuku
Seorang gadis bernama
Marsya tinggal bersama
Ayah dan Ibu tirinya. Karna
Ibunya telah lama
meninggal oleh karna itu
Ayahnya memutuskan untuk menikah lagi. Marsya
yang saat itu masih remaja
mau tidak mau mengikuti
permohonan ayahnya
untuk menikah. Dalam waktu singkat,
marsya menyadari bahwa ia
tidak cocok dengan Ibu
tirinya dalam segala hal.
Kepribadian mereka
berbeda, dan Marsya sangat marah dengan banyak
kebiasaan Ibu tirinya itu.
Marsya juga dikritik terus-
menerus. Hari demi hari,
minggu demi minggu,
Marsya dan ibu tirinya tidak pernah berhenti konflik dan
bertengkar. Keadaan jadi
tambah buruk, karena
Ayahnya selalu menyuruh
marsya untuk menurut apa
kata ibu tirinya, Marsya harus taat kepada setiap
permintaan sang Ibu. Semua keributan dan
pertengkaran di rumah itu
mengakibatkan ayahnya
selalu memarahinya.
Akhirnya, Marsya tidak
tahan lagi dengan temperamen buruk dan
dominasi ibu tirinya, dan dia
memutuskan untuk
melakukan sesuatu.
Marsya pergi menemui
teman baik Ayahnya, Ustad Ali, pengurus masjid dekat
rumahnya. Marsya
menceritakan apa yang
dialaminya dan meminta
kalau-kalau Ustad Ali dapat
memberinya sejumlah racun supaya semua kesulitannya
selesai. Ustad Ali berpikir sejenak
dan tersenyum dan
akhirnya berkata, Marsya,
saya akan menolongmu,
tapi kamu harus
mendengarkan dan melakukan semua yang
saya minta. Marsya menjawab,”Baik,
saya akan melakukan apa
saja yang ustad minta.”
Ustad Ali masuk kedalam
ruangan dan kembali
beberapa menit kemudian dengan sebotol air. Dia memberitahu Marsya,
“Kamu tidak boleh
menggunakan racun yang
be-reaksi cepat untuk
menyingkirkan ibu tirimu,
karena nanti orang-orang akan curiga. Karena itu saya
memberimu sebotol air
yang secara perlahan akan
meracuni tubuh Ibu tirimu.
Setiap hari masaklah
untuknya dan kemudian campurkan sedikit air ini.
Nah, untuk memastikan
bahwa tidak ada orang
yang mencurigaimu pada
waktu ia meninggal, kamu
harus berhati-hati dan bertindak dangan sangat
baik dan bersahabat. Jangan
berdebat dengannya, taati
dia, dan perlakukan dia
seperti ibu kandungmu.” Marsya sangat senang. Dia
kembali ke rumah dan
memulai rencana
pembunuhan terhadap ibu
tirinya. Minggu demi minggu
berlalu, dan berbulan bulan
berlalu, dan setiap hari,
Marsya melayani ibu tirinya
dengan masakan yang
dibuat secara khusus. Marsya ingat apa yang
dikatakan Ustad Ali tentang
menghindari kecurigaan,
jadi Marsya mengendalikan
emosinya, mentaati ibu
tirinya, memperlakukan ibu tirinya seperti ibu-nya
sendiri dengan sangat baik
dan bersahabat. Setelah eman bulan, seluruh
rumah berubah. marsya
telah belajar mengendalikan
emosi-nya begitu rupa
sehingga hampir-hampir ia
tidak pernah meledak dalam amarah atau kekecewaan.
Dia tidak berdebat sekalipun
dengan ibu tiri-nya, yang
sekarang kelihatan jauh
lebih baik dan mudah
ditemani. Sikap ibu tirinya juga
berubah, dan dia mulai
menyayangi marsya seperti
anaknya sendiri. Dia terus
memberitahu teman-teman
dan kenalannya bahwa marsya adalah anak baik
yang pernah dimilikinya.
Marsya dan ibu tirinya
sekarang berlaku seperti ibu
dan anak sungguhan. Ayah
marsya sangat senang melihat apa yang telah
terjadi. Satu hari, Marsya datang
menemui Ustad Ali dan
minta pertolongan lagi. Dia
berkata, “Ustad, tolonglah
saya untuk mencegah racun
itu membunuh ibu saya. Dia telah berubah menjadi
wanita yang sangat baik
dan saya mengasihinya
seperti ibu saya sendiri. Saya
tidak ingin dia mati karena
racun yang saya berikan.” Ustad Ali tersenyum dan
mengangkat kepalanya.
“Marsya, tidak usah
khawatir. Saya tidak
pernah memberimu racun.
Air yang saya berikan dulu adalah Air Zam-Zam untuk
meningkatkan
kesehatannya. Satu-satunya
racun yang pernah ada ialah
didalam pikiran dan
sikapmu terhadapnya, tapi semua sudah lenyap oleh
kasih yang engkau berikan
padanya.”
Marsya tinggal bersama
Ayah dan Ibu tirinya. Karna
Ibunya telah lama
meninggal oleh karna itu
Ayahnya memutuskan untuk menikah lagi. Marsya
yang saat itu masih remaja
mau tidak mau mengikuti
permohonan ayahnya
untuk menikah. Dalam waktu singkat,
marsya menyadari bahwa ia
tidak cocok dengan Ibu
tirinya dalam segala hal.
Kepribadian mereka
berbeda, dan Marsya sangat marah dengan banyak
kebiasaan Ibu tirinya itu.
Marsya juga dikritik terus-
menerus. Hari demi hari,
minggu demi minggu,
Marsya dan ibu tirinya tidak pernah berhenti konflik dan
bertengkar. Keadaan jadi
tambah buruk, karena
Ayahnya selalu menyuruh
marsya untuk menurut apa
kata ibu tirinya, Marsya harus taat kepada setiap
permintaan sang Ibu. Semua keributan dan
pertengkaran di rumah itu
mengakibatkan ayahnya
selalu memarahinya.
Akhirnya, Marsya tidak
tahan lagi dengan temperamen buruk dan
dominasi ibu tirinya, dan dia
memutuskan untuk
melakukan sesuatu.
Marsya pergi menemui
teman baik Ayahnya, Ustad Ali, pengurus masjid dekat
rumahnya. Marsya
menceritakan apa yang
dialaminya dan meminta
kalau-kalau Ustad Ali dapat
memberinya sejumlah racun supaya semua kesulitannya
selesai. Ustad Ali berpikir sejenak
dan tersenyum dan
akhirnya berkata, Marsya,
saya akan menolongmu,
tapi kamu harus
mendengarkan dan melakukan semua yang
saya minta. Marsya menjawab,”Baik,
saya akan melakukan apa
saja yang ustad minta.”
Ustad Ali masuk kedalam
ruangan dan kembali
beberapa menit kemudian dengan sebotol air. Dia memberitahu Marsya,
“Kamu tidak boleh
menggunakan racun yang
be-reaksi cepat untuk
menyingkirkan ibu tirimu,
karena nanti orang-orang akan curiga. Karena itu saya
memberimu sebotol air
yang secara perlahan akan
meracuni tubuh Ibu tirimu.
Setiap hari masaklah
untuknya dan kemudian campurkan sedikit air ini.
Nah, untuk memastikan
bahwa tidak ada orang
yang mencurigaimu pada
waktu ia meninggal, kamu
harus berhati-hati dan bertindak dangan sangat
baik dan bersahabat. Jangan
berdebat dengannya, taati
dia, dan perlakukan dia
seperti ibu kandungmu.” Marsya sangat senang. Dia
kembali ke rumah dan
memulai rencana
pembunuhan terhadap ibu
tirinya. Minggu demi minggu
berlalu, dan berbulan bulan
berlalu, dan setiap hari,
Marsya melayani ibu tirinya
dengan masakan yang
dibuat secara khusus. Marsya ingat apa yang
dikatakan Ustad Ali tentang
menghindari kecurigaan,
jadi Marsya mengendalikan
emosinya, mentaati ibu
tirinya, memperlakukan ibu tirinya seperti ibu-nya
sendiri dengan sangat baik
dan bersahabat. Setelah eman bulan, seluruh
rumah berubah. marsya
telah belajar mengendalikan
emosi-nya begitu rupa
sehingga hampir-hampir ia
tidak pernah meledak dalam amarah atau kekecewaan.
Dia tidak berdebat sekalipun
dengan ibu tiri-nya, yang
sekarang kelihatan jauh
lebih baik dan mudah
ditemani. Sikap ibu tirinya juga
berubah, dan dia mulai
menyayangi marsya seperti
anaknya sendiri. Dia terus
memberitahu teman-teman
dan kenalannya bahwa marsya adalah anak baik
yang pernah dimilikinya.
Marsya dan ibu tirinya
sekarang berlaku seperti ibu
dan anak sungguhan. Ayah
marsya sangat senang melihat apa yang telah
terjadi. Satu hari, Marsya datang
menemui Ustad Ali dan
minta pertolongan lagi. Dia
berkata, “Ustad, tolonglah
saya untuk mencegah racun
itu membunuh ibu saya. Dia telah berubah menjadi
wanita yang sangat baik
dan saya mengasihinya
seperti ibu saya sendiri. Saya
tidak ingin dia mati karena
racun yang saya berikan.” Ustad Ali tersenyum dan
mengangkat kepalanya.
“Marsya, tidak usah
khawatir. Saya tidak
pernah memberimu racun.
Air yang saya berikan dulu adalah Air Zam-Zam untuk
meningkatkan
kesehatannya. Satu-satunya
racun yang pernah ada ialah
didalam pikiran dan
sikapmu terhadapnya, tapi semua sudah lenyap oleh
kasih yang engkau berikan
padanya.”
Langganan:
Postingan (Atom)