Selasa, 31 Juli 2012

Sejenak menghela nafas

Suatu ketika ada seorang
anak dan ayahnya yang
mengelola sebuah lahan
pertanian kecil. Beberapa kali
dalam setahun mereka
mengangkut hasil pertaniannya ke kota untuk
dijual. Ayah dan anak itu
berbeda, sang ayah biasa
bekerja tenang sedangkan
sang anak selalu tergesa-gesa. Suatu pagi mereka
menyiapkan pedatinya untuk
membawa hasil pertaniannya
ke kota.Anak itu berpikir jika
ia memacu lembu penarik
pedatiya dengan lebih cepat serta berjalan siang-malam,
tentu ia akan sampai esok hari
pagi-pagi benar.Tenanglah
Nak, biar lambat asal selamat”
Kata si ayah “Tapi kalau kita tiba lebih dulu
dari yang lain, kesempatan
kita untuk menjual dengan
harga yang baik akan lebih
terbuka” Jawab sang anak. Ayahnya diam saja, lalu
menarik topinya dan tidur
diatas pedati yang
dikemudikan sang anak.
Setelah empat jam mereka
melalui sebuah dusun dimana pamannya tinggal. “Berhentilah dulu disini nak,
sudah lama aku tidak bertemu
pamanmu” pinta sang ayah “Tapi yah,…” sang anak coba
menolak, namun sang ayah
terlanjur turun menyapa
pamannya. Satu jam berlalu. Ayahnya
dan pemannya selesai
mengobrol dan tertawa
bersama, sedang si Anak
mukanya masam. Perjalanan
kembali dilanjutkan kali ini giliran sang ayah yang
menuntun lembu sedangkan
sang anak naik diatas pedati.
Hingga kemudian mereka
bertemu sebuah
persimpangan, sang ayah menuntun lembunya ke arah
kanan. “Lewat kiri lebih cepat yah”
sela sang anak “Tapi lewat kanan
pemandangannya lebih indah”
Jawab sang ayah “Tidakkah ayah menghargai
waktu” sang anak bicara kesal “Oh tentu saja, justru karena
aku sangat menghargai
waktu maka tiap detik harus
bisa kunikmati
keindahannya” Jalur itu memang sangat
indah, apalagi tampak jelas
pesona terbenamnya
matahari. Tapi tentu saja sang
anak tak bisa menikmatinya.
Hati dan mulutnya terus mengomel, Ketika malam tiba,
di dekat sebuah sungai yang
mengalir jernih sang ayah
menghentikan lembunya. “Mari kita beristirahat disini
nak” “Ini perjalanan terakhirku
denganmu yah, kau lebih
mementingkan menikmati
keindahan alam daripada
mencari uang Yah” “Itu kata-katamu yang paling
indah dari tadi pagi Nak”
Jawab sang ayah sambil
memejamkan mata Malam berlalu, bintang dan
bulan bersinar indah. Tapi
tetap sang anak tak bisa
memejamkan matanya
dengan tenang. Hari itu dia
sangat kesal pada ayahnya. Pagi-pagi sekali sebelum
matahari terbit sang anak
segera membangunkan
ayahnya, dan kemudian
melanjutkan perjalanan. Di tengah jalan mereka
melihat seorang petani yang
tak mereka kenal sedang
berusaha menarik pedatinya
yang terperosok ke parit. “Mari kita bantu dia” Kata
sang ayah “Dan kembali kehilangan
waktu?” tanya sang anak “santai nak, suatu waktu bisa
jadi kau yang terperosok
dalam parit.” Hampir jam delapan pagi saat
mereka selesai menarik pedati
itu kembali kejalan. Dan langit berwana gelap. “Kelihatannya hujan di kota”
kata sang ayah “Kalau saja tadi kita buru-
buru pasti kita telah menjual
dagangan kita” gerutu sang
anak” Tenang saja nak, kau
pasti akan bertahan lebih lama
dan menikmati hidup lebih banyak lagi” nasihat sang
ayah Hari menjelang saat mereka
mencapai bukit dan
memandang kota yang
mereka tuju dibawah bukit
itu. Mereka terdiam, hingga
sang anak berkata “Aku mengerti apa maksud ayah”. Merekapun memutar pedati
dari kota tujuan mereka
semula, Hiroshima,15 Agustus
1945 …………………………………………
……… Sahabat terkadang rutinitas
kita bekerja, berumah tangga.
bermasyarakat membuat kita
tak mampu menikmati proses
yang terjadi pada diri dan
sekitar kita. Padatnya kesibukan, membuat seakan
waktu terasa tak cukup.
Bahkan sepertinya kita perlu
meminta tambahan satu hari
lagi dalam sepekan untuk
menampung seluruh aktivitas kita. Bertindak cepat untuk
semua persoalan seolah-olah
menjadi satu-satunya solusi
dari padatnya aktivitas kita.
Bukan hanya itu kita juga
dituntut untuk mampu berfikir lebih cepat bahkan
bernafas dengan detakkan
lebih cepat. Itu semua tak salah, tapi
tanpa disadari itu semua
membuat Anda kesal , tak
mampu merasakan
keindahan, tak sabar. Cobalah sejenak menghela
nafas Anda, hingga kemudian
detak nafas Anda melambat.
Dan rasakanlah saat nafas
Anda lebih tenang, Anda
dapat fokus kembali terhadap masalah Anda. Bahkan luar
biasanya Anda akan rasakan
kedamaian dihati Anda
seberat apapun masalah Anda.
Helalah nafas sekali lagi.
Kemudian helalah sekali lagi dan rasakan sensasi nafas
yang Anda hirup pada tubuh
Anda. Dan lama kelamaan
Anda akan menjadi hening
Belajarlah untuk sering
menghela nafas maka Anda akan selalu belajar tentang
keheningan. Blaise Pascal
bilang “Masalah pada manusia
muncul karena manusia tak
pernah bisa sejenak untuk
hening”. Rosul pernah berkata”
Istirahatlah kamu dengan
sholat” Dalam tuntunan sholat
khusyuk ada yang disebut
dengan tumaninah yang
mudahnya diartikan dengan tenang, maka gerakannya
tenang tidak terburu-buru,
bacaannya tenang, pikirannya
tenang, hatinya tenang,
bahkan tatapannya tenang.
Saat inilah khusyuk terjadi sebuah proes keheningan
menghadap Pencipta. Anda
masih bisa mendengar,anda
masih bisa merasa, tapi Anda
tetap dalam keheningan
bersama Rabbnya. Maka dalam hal apapun
bahkan ibadah Anda tak akan
bisa mendapatkan makna,
keselamatan, kebahagiaan.
Jika Anda tak memiliki
ketenangan dan keheningan. Lihatlah Aktivitas Anda hari
ini, sholat Dzuhur Anda
misalnya. Apakah Anda
lakukan tenang atau terburu-
buru? Rapat-rapat organisasi
Anda, tenang atau terburu- buru? Dan percayalah yang
terburu-buru hasilnya lebih
buruk dari yang tenang. Modal untuk itu ternyata
hanyalah sederhana; cobalah
menghela nafas Anda, dan
buat semua bergerak lebih
lambat. Ada orang bijak yang
berkata;Hidup Anda hanyalah
kumpulan nafas. Belasan atau
puluhan tahun Anda hidup
hanyalah kumpulan dari
tarikan dan buangan nafas kita. Maka siapa yang mampu
mengendalikan nafasnya, dia
pasti bisa mengendalikan
hidupnya. Siapa yang mampu
mengatur nafasnya, dia
mampu mengatur hidupnya dan siapa mampu
menenangkan nafasnya, dia
juga akan mampu
menenangkan hidupnya.
Hmmm,..sederhana hanya
menghela nafas,…. “Hidup bukanlah untuk
selalu merasa istimewa di
mata orang, hidup
hanyalah tarikan dan
buangan nafas dan apa
yang kita lakukan diantara keduannya”

Setan pun takut dengan orang yang meninggalkan shalat

Dengan menyebut nama Allah
Yang Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang. Tazkirah buat semua…. Ada seorang manusia yang
bertemu dengan setan di
waktu subuh. Entah

bagaimana awalnya, akhirnya
mereka berdua sepakat
mengikat tali persahabatan. Ketika waktu subuh berakhir
dan orang itu tidak
mengerjakan solat, maka
setan pun sambil tersenyum
bergumam, “Orang ini
memang boleh menjadi sahabatku..!” Begitu juga ketika waktu
Zuhur orang ini tidak
mengerjakan shalat, setan
tersenyum lebar sambil
membatin, ” Rupanya inilah
bakal teman sejatiku di akhirat nanti..!” Ketika waktu ashar hampir
habis tetapi temannya itu
dilihatnya masih juga asik
dengan kegiatannya, setan
mulai terdiam…… Kemudian ketika datang
waktunya magrib, temannya
itu ternyata tidak shalat juga,
maka setan nampak mulai
gelisah, senyumnya sudah
berubah menjadi kecut. Dari wajahnya nampak bahwa ia
seolah-olah sedang
mengingat-ngingat sesuatu. Dan akhirnya ketika
dilihatnya sahabatnya itu
tidak juga mengerjakan shalat
Isya, maka setan itu sangat
panik. Ia rupanya tidak bisa
menahan diri lagi, dihampirinya sahabatnya
yang manusia itu sambil
berkata dengan penuh
ketakutan, “Wahai sobat, aku
terpaksa memutuskan
persahabatan kita !” Dengan keheranan manusia ini
bertanya, “Kenapa engkau
ingkar janji bukankah baru
tadi pagi kita berjanji akan
menjadi sahabat ?”. “Aku takut !”, jawab setan
dengan suara gemetar. “Nenek moyangku saja yang
dulu hanya sekali
membangkang pada perintah-
Nya, yaitu ketika menolak
disuruh sujud pada “Adam”,
telah dilaknat-Nya; apalagi engkau yang hari ini saja
kusaksikan telah lima kali
membangkang untuk
bersujud pada-Nya (Sujud
pada Allah). Tidak
terbayangkan olehku bagaimana besarnya murka
Allah kepadamu !”, kata setan
sambil beredar pergi.

Antara aku,Tuhanku,dan istriku

Seorang lelaki berdoa: “Oh
Tuhan, saya tidak terima. Saya
bekerja begitu keras di
kantor, sementara istri saya
enak-enakan di rumah. Saya

ingin memberinya pelajaran, tolonglah ubahlah saya
menjadi istri dan ia menjadi
suami.” Tuhan merasa simpati dan
mengabulkan doanya.
Keesokan paginya, lelaki yang
telah berubah wujud menjadi
istri tersebut, terbangun dan
cepat-cepat ke dapur menyiapkan sarapan.
Kemudian membangunkan
kedua anaknya untuk
bersiap-siap ke sekolah. Kemudian ia mengumpulkan
dan memasukkan baju-baju
kotor ke dalam mesin cuci.
Setelah suami dan anak
pertamanya berangkat, ia
mengantar anaknya yang kecil ke sekolah taman kanak-
kanak. Pulang dari sekolah TK, ia
mampir ke pasar untuk
belanja. Sesampainya di
rumah, setelah menolong
anaknya ganti baju, ia
menjemur pakaian dan kemudian memasak untuk
makan siang. Selesai memasak, ia mencuci
piring-piring bekas makan
pagi dan peralatan yang telah
dipakai memasak. Begitu
anaknya yang pertama
pulang, ia makan siang bersama kedua anaknya. Tiba-tiba ia teringat ini hari
terakhir membayar listrik dan
telepon.
Disuruhnya kedua anaknya
untuk tidur siang dan cepat-
cepat ia pergi ke bank terdekat untuk membayar
tagihan tersebut. Pulang dari bank ia
menyetrika baju sambil
nonton televisi. Sore harinya
ia menyiram tanaman di
halaman, kemudian
memandikan anak-anak. Setelah itu membantu mereka
belajar dan mengerjakan PR.
Jam sembilan malam ia sangat
kelelahan dan tidur terlelap.
Tentu masih ada’pekerjaan-
pekerjaan kecil lainnya’ yang harus dikerjakan. Dua hari menjalani peran
sebagai istri ia tak tahan lagi.
Sekali lagi ia berdoa, “Ya
Tuhan, ampuni aku. Ternyata
aku salah. Aku tak kuat lagi
menjalani peran sebagai istri. Tolong kembalikan aku
menjadi suami lagi.” Tuhan menjawab: “Bisa saja. Tapi kamu harus
menunggu sembilan bulan,
karena saat ini kamu sedang
hamil.”

Budak yang dimerdekakan karena kesalahannya sendiri

SUATU hari, Imam Husain
bersantap makan malam
dan seorang budak wanita
berdiri di samping membawa
segelas air hampir tepat di atas

kepala Husain. Namun malang nasib si budak,
gelas tersebut jatuh
dari tangannya hingga pecah
berkeping-keping dan
membasahi
tubuh tuannya. Sang Imam menatap tajam wajah
budaknya.
Budak yang banyak akal itu
mengutip salah satu ayat
al-Qur’an yang bunyinya
“(Allah mencintai) orang- orang
yang menahan diri dari
amarahnya dan orang-orang
yang suka
memaafkan orang lain.”
Dengan kalem Husain menjawab, “Aku
memaafkanmu.”
Si budak membaca ayat
berikutnya, “Dan Allah
mencintai orang-orang yang
berbuat baik (kepada sesama) .”
Saat itu juga sang Imam
berteriak, “Aku bebaskan
kamu dari perbudakan yang
membuatmu terbelenggu
olehku.”

Kisah anak durhaka di Singapura

Sebuah Kisah Nyata Inspiratif
dari Negeri tetangga Singapura
beberapa dekade lalu yang
cukup menghebohkan hingga
Perdana Menteri saat itu, Lee

Kwan Yew senior turun tangan dan mengeluarkan
dekrit tentang orang lansia di
Singapura. Dikisahkan ada orang kaya
raya di sana mantan Pengusaha
sukses yang mengundurkan
diri dari dinia bisnis ketika
istrinya meninggal dunia.
Jadilah ia single parent yang berusaha membesarkan dan
mendidik dengan baik anak
laki-laki satu-satunya hingga
mampu mandiri dan menjadi
seorang Sarjana. Kemudian setelah anak
tunggalnya tersebut menikah,
ia minta ijin kepada ayahnya
untuk tinggal bersama di
Apartemen Ayahnya yang
mewah dan besar. Dan ayahnya pun dengan senang
hati mengijinkan anak
menantunya tinggal bersama-
sama dengannya. Terbayang
dibenak orangtua tersebut
bahwa apartemen nya yang luas dan mewah tersebut tidak
akan sepi, terlebih jika ia
mempunya cucu. Betapa
bahagianya hati bapak
tersebut bisa berkumpul dan
membagi kebahagiaan dengan anak dan menantunya. Pada mulanya terjadi
komunikasi yang sangat baik
antara Ayah-Anak-Menantu
yang membuat Ayahnya yang
sangat mencintai anak
tunggalnya itu tersebut tanpa sedikitpun ragu-ragu
mewariskankan seluruh harta
kekayaan termasuk
apartment yang mereka
tinggali, dibaliknamakan ke
anaknya itu melalui Notaris terkenal di sana. Tahun-tahun berlalu, seperti
biasa, masalah klasik dalam
rumah tangga, jika anak
menantu tinggal seatap
dengan orang tua, entah sebab
mengapa akhirnya pada suatu hari mereka bertengkar hebat
yang pada akhirnya, anaknya
tega mengusir sang Ayah
keluar dari apartment mereka
yang ia warisi dari Ayahnya. Karena seluruh hartanya,
Apartemen, Saham, Deposito,
Emas dan uang tunai sudah
diberikan kepada anaknya,
maka mulai hari itu dia
menjadi pengemis di Orchard Rd. Bayangkan, orang kaya
mantan pebisnis yang cukup
terkenal di Singapura tersebut,
tiba-tiba menjadi pengemis! Suatu hari, tanpa disengaja
melintas mantan teman
bisnisnya dulu dan
memberikan sedekah, dia
langsung mengenali si ayah ini
dan menanyakan kepadanya, apakah ia teman bisnisnya
dulu. Tentu saja, si ayah malu
danmenjawab bukan,
mungkin Anda salah orang,
katanya. Akan tetapi
temannya curiga dan yakin, bahwa orang tua yang
mengemis di Orchad Road itu
adalah temannya yang sudah
beberapa lama tidak ada kabar
beritanya. Kemudian,
temannya ini mengabarkan hal ini kepada teman-temannya
yang lain, dan mereka
akhirnya bersama-sama
mendatangi orang tersebut.
Semua mantan sahabat
karibnya tersebut langsung yakin bahwa pengemis tua itu
adalah Mantan pebisnis kaya
yang dulu mereka kenal. Dihadapan para sahabatnya, si
ayah dengan menangis
tersedu-sedu, menceritakan
semua kejadian yang sudah
dialaminya. Maka, terjadilah
kegemparan di sana, karena semua orangtua di sana merasa
sangat marah terhadap anak
yang sangat tidak bermoral
itu. Kegemparan berita tersebut
akhirnya terdengar sampai ke
telinga PM Lee Kwan Yew
Senior. PM Lee sangat marah
dan langsung memanggil anak
dan menantu durhaka tersebut. Mereka dimaki-maki
dan dimarahi habis-habisan
oleh PM Lee dan PM Lee
mengatakan “Sungguh sangat
memalukan bahwa di
Singapura ada anak durhaka seperti kalian” . Lalu PM Lee memanggil sang
Notaris dan saat itu juga surat
warisan itu dibatalkan demi
hukum! Dan surat warisan
yang sudah baliknama ke atas
nama anaknya tersebut disobek-sobek oleh PM Lee.
Sehingga semua harta milik
yang sudah diwariskan
tersebut kembali ke atas nama
Ayahnya, bahkan sejal saat itu
anak menantu itu dilarang masuk ke Apartment
ayahnya. Mr Lee Kwan Yew ini ternyata
terkenal sebagai orang yang
sangat berbakti kepada
orangtuanya dan menghargai
para lanjut usia (lansia).
Sehingga, agar kejadian serupa tidak terulang lagi, Mr Lee
mengeluarkan Kebijakan /
Dekrit yaitu “Larangan kepada
para orangtua untuk tidak
mengwariskan harta
bendanya kepada siapapun sebelum mereka meninggal.
Kemudian, agar para lansia itu
tetap dihormati dan dihargai
hingga akhir hayatnya, maka
dia buat Kebijakan berupa
Dekrit lagi, yaitu agar semua Perusahaan Negara dan swasta
di Singapura memberi
pekerjaan kepada para lansia.
Agar para lansia ini tidak
tergantung kepada anak
menantunya dan mempunyai penghasilan sendiri dan
mereka sangat bangga bisa
memberi angpao kepada cucu-
cucunya dari hasil keringat
mereka sendiri selama 1 tahun
bekerja. Anda tidak perlu heran jika
Anda pergi ke Toilet di Changi
Airport, Mall, Restaurant,
Petugas cleaning service adalah
para lansia. Jadi selain para
lansia itu juga bahagia karena di usia tua mereka masih bisa
bekerja, juga mereka bisa
bersosialisasi dan sehat karena
banyak bergerak. Satu lagi
sebagaimana di negeri maju
lainnya, PM Lee juga memberikan pendidikan sosial
yang sangat bagus buat anak-
anak dan remaja di sana,
bahwa pekerjaan
membersihkan toilet, meja
makan diresto dsbnya itu bukan pekerjaan hina,
sehingga anak-anak tsb dari
kecil diajarkan untuk tahu
menghargai orang yang lebih
tua, siapapun mereka dan
apapun profesinya. Sebaliknya, Anak di sana
dididik menjadi bijak dan terus
memelihara rasa hormat dan
sayang kepada orangtuanya,
apapun kondisi orangtuanya. Meskipun orangtua mereka
sudah tidak sanggup duduk
atau berdiri,atau mungkin
sudah selamanya terbaring
diatas tempat tidur, mereka
harus tetap menghormatinya dengan cara merawatnya. Mereka, warganegara
Singapura seolah diingatkan
oleh PM Lee agar selalu
mengenang saat mereka masih
balita, orangtua merekalah
yang membersihkan tubuh mereka dari semua bentuk
kotoran, juga yang memberi
makan dan kadang
menyuapinya dengan tangan
mereka sendiri, dan
menggendongnya kala mereka menangis meski dini
hari dan merawatnya ketika
mereka sakit. Bagaimana dengan Indonesia?
Mohon share ini kepada teman-
teman Anda agar menjadi
pengingat kepada kita semua.
Kisah ini di berasal dari
facebook Assyifa salah seorang sobat dari Medan. Banyak cerita bijak tentang
hidup, kata mutiara dan
motivasi serta kumpulan cerita
inspiratif lainya di
CeritaBijakMotivasi.Com yang
bisa Anda baca dilain waktu seperti halnya cerita bijak
Kisah Nyata Anak Durhaka
Singapura diatas Kawan!. Oh
ya perlu di ketahui cerita
inspirasi dan motivasi disitus
ini merupakan sumbangan pengunjung serta dari banyak
sumber, dan hak milik dari
pengarang, pencipta serta
penulis aslinya. Setelah membaca cerita bijak
Kisah Nyata Anak Durhaka
Singapura diatas, tentunya ada
hikmah yang bisa kita ambil
sebagai media pembelajaran
dan membuat hidup kita lebih baik bukan?

Hikmah ketekunan

Suatu hari di sebuah desa, ada
dua orang pengrajin yang
tinggal bersebelahan. Seorang
diantaranya, adalah pengrajin
emas, sedang yang lainnya

pengrajin kuningan. Keduanya telah lama
menjalani pekerjaan ini, sebab,
ini adalah pekerjaan yang
diwariskan secara turun-
temurun. Telah banyak pula
barang yang dihasilkan dari pekerjaan ini. Cincin, kalung,
gelang, dan untaian rantai
penghias, adalah beberapa dari
hasil kerajinan mereka. Setiap akhir bulan, mereka
membawa hasil pekerjaan ke
kota. Hari pasar, demikian
mereka biasa menyebut hari
itu. Mereka akan berdagang
barang-barang logam itu, sekaligus membeli barang-
barang keperluan lain selama
sebulan. Beruntunglah, pekan
depan, akan ada tetamu
agung yang datang
mengunjungi kota, dan bermaksud memborong
barang-barang yang ada
disana. Kabar ini tentu
membuat mereka senang.
Tentu, berita ini akan
membuat semua pedagang membuat lebih banyak
barang yang akan dijajakan. Siang-malam, terdengar suara
logam yang ditempa. Setiap
dentingnya, layaknya nafas
hidup bagi mereka. Tungku-
tungku api, seakan tak pernah
padam. Kayu bakar yang tampak membara, seakan
menjadi penyulut semangat
keduanya. Percik-percik api
yang timbul tak pernah di
hiraukan mereka. Keduanya
sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Sudah
puluhan cincin, kalung, dan
untaian rantai penghias yang
siap dijual. Hari pasar makin
dekat. Dan lusa, adalah waktu
yang tepat untuk berangkat ke kota. Hari pasar telah tiba, dan
keduanya pun sampai di kota.
Hamparan terpal telah digelar,
tanda barang dagangan siap
dijajakan. Keduanya pun
berjejer berdampingan. Tampaklah, barang-barang
logam yang telah dihasilkan.
Namun, ah sayang, ada
kontras yang mencolok
diantara keduanya. Walaupun
terbuat dari logam mulia, barang-barang yang dibuat
oleh pengrajin emas tampak
kusam. Warnanya tak
berkilau. Ulir-ulirnya kasar,
dengan pokok-pokok simpul
rantai yang tak rapi. Seakan, sang pembuatnya adalah
seorang yang tergesa-gesa. “Ah, biar saja,” demikian
ucapan yang terlontar saat
pengrajin kuningan
menanyakan kenapa
perhiasaannya kawannya itu
tampak kusam. “Setiap orang akan memilih daganganku,
sebab, emas selalu lebih baik
dari kuningan,” ujar pengrajin
emas lagi, “Apalah artinya
loyang buatanmu dibanding
logam mulia yang kupunya, aku akan membawa uang
lebih banyak darimu.”
Pengrajin kuningan, hanya
tersenyum. Ketekunannya
mengasah logam, membuat
semuanya tampak lebih bersinar. Ulir-ulirnya halus.
Lekuk-lekuk cincin dan gelang
buatannya terlihat seperli
lingkaran yang tak putus.
Liku-liku rantai penghiasnya
pun lebih sedap di pandang mata. Ketekunan, memang sesuatu
yang mahal. Hampir semua
orang yang lewat, tak
menaruh perhatian kepada
pengrajin emas. Mereka lebih
suka mendatangi, dan melihat-melihat cincin dan
kalung kuningan. Begitupun
tetamu agung yang berkenan
datang. Mereka pun lebih
menyukai benda-benda
kuningan itu dibandingkan dengan logam mulia/emas.
Sebab, emas itu tidaklah
cukup mereka tertarik, dan
mau membelinya. Sekali lagi,
terpampang kekontrasan di
hari pasar itu. Pengrajin emas yang tertegun diam, dan
pengrajin kuningan yang
tersenyum senang. Hari pasar telah usai, dan para
tetamu telah kembali pulang.
Kedua pengrajin itu pun telah
selesai membereskan
dagangan. Dan agaknya,
keduanya mendapat pelajaran dari apa yang telah mereka
lakukan hari itu.

Petani dan tukang roti

Seorang tukang roti di sebuah
desa kecil membeli satu
kilogram mentega dari
seorang petani. Ia curiga
bahwa mentega yang

dibelinya tidak benar-benar seberat satu kilogram.
Beberapa kali ia menimbang
mentega itu, dan benar, berat
mentega itu tidak penuh satu
kilogram. Yakinlah ia, bahwa
petani itu telah melakukan kecurangan. Ia melaporkan
pada hakim, dan petani itu
dimajukan ke sidang
pengadilan. Pada saat sidang, hakim
berkata pada petani, “Tentu
kau mempunyai timbangan?”
“Tidak, tuan hakim,” jawab
petani.
“Lalu, bagaimana kau bisa menimbang mentega yang
kau jual itu?” tanya hakim.
Petani itu menjawab, “Ah, itu
mudah sekali dijelaskan, tuan
hakim. Untuk menimbang
mentega seberat satu kilogram itu, sebagai
penyeimbang, aku gunakan
saja roti seberat satu kilogram
yang aku beli dari tukang roti
itu.” **Cukup banyak contoh,
kekesalan kita pada orang lain
berasal dari sikap kita sendiri
pada orang lain.