Sabtu, 11 Agustus 2012

AIR atau AWAN

Di sebuah tempat nan jauh dari kota  di Jawa Barat , tampak seorang pemuda bergegas menuju surau kecil. Wajahnya menampakkan kegelisahan dan kegamangan.
Ia seperti mencari sesuatu di surau itu."Assalamu'alaikum, Kabayan " ucapnya ke Kabayan yang terlihat sibuk menyapu ruangan surau. Spontan, si Kabayan itu menghentikan sibuknya. Ia menoleh ke si pemuda dan senyumnya pun mengembang.
"Wa'alaikumussalam. Mangga. Mari masuk!" ucapnya sambil meletakkan sapu di sudut ruangan.
Setelah itu, ia dan sang tamu pun duduk bersila."Ada apa, Jang ?" ucapnya dengan senyum yang tak juga menguncup.
"Kabayan , Aku diterima kerja di kota!" ungkap sang pemuda kemudian.
"Syukurlah," timpal si Kabayan bahagia. "Kabayan, kalau tidak keberatan, berikan aku petuah agar bisa berhasil!" ucap sang pemuda sambil menunduk.

Ia pun menanti ucapan si Kabayan di hadapannya.

"Jang , Jadilah seperti air. Dan jangan ikuti jejak awan," untaian kalimat singkat meluncur tenang dari mulut si Kabayan.
Sang pemuda belum bereaksi. Ia seperti berpikir keras memaknai kata-kata Kabayan.

Tapi,tak berhasil. "Maksud, Kabayan?" ucapnya kemudian.
"Jang , Air mengajarkan kita untuk senantiasa merendah. Walau berasal dari tempat yang tinggi, ia selalu ingin ke bawah. Semakin besar, semakin banyak jumlahnya; air kian bersemangat untuk bergerak kebawah. Ia selalu mencari celah untuk bisa mengaliri dunia dibawahnya," jelas si Kabayan dengan tenang.

"Lalu dengan awan,Kabayan?" tanya si pemuda penasaran.

"Jangan sekali-kali seperti awan, Jang. Perhatikanlah! Awan berasal dari tempat yang rendah, tapi ingin cepat berada di tempat tinggi.
Semakin ringan, semakin ia tidak berbobot; awan semakin ingin cepat meninggi," terang si Kabayan begitu bijak.

"Tapi Jang," tambahnya kemudian. "Ketinggian awan cuma jadi bahan permainan angin."

Dan si pemuda pun tampak mengangguk pelan.

Kamis, 09 Agustus 2012

Kisah Mengharukan Seorang Polisi Menilang Temannya

Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau. Jono segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu perempatan di situ cukup padat, sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama. Kebetulan jalan di depannya agak lengang. Lampu berganti kuning. Hati Jono berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala.Jono bimbang, haruskah ia berhenti atau terus saja. Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak, pikirnya sambil terus melaju.
Ilustrasi
Prit!
Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. Jono menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing.
Hey, itu khan Bobi, teman mainnya semasa SMA dulu.
Hati Jono agak lega.
Ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya.
Hai, Bob. Senang sekali ketemu kamu lagi!
Hai, Jon. Tanpa senyum.
Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru.
Istri saya sedang menunggu di rumah.
Oh ya?
Tampaknya Bobi agak ragu. Nah, bagus kalau begitu.
Bob, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong.
Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini.
Oooo, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Jono harus ganti strategi.
Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah. Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala.
Aha, terkadang berdusta sedikit bisa memperlancar keadaan.
Ayo dong Jon. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIM-mu.
Dengan ketus Jono menyerahkan SIM, lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup kaca jendelanya. Sementara Bobi menulis sesuatu di buku tilangnya. Beberapa saat kemudian Bobi mengetuk kaca jendela. Jono memandangi wajah Bobi dengan penuh kecewa.Dibukanya kaca jendela itu sedikit.
Ah, lima centi sudah cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata Bobi kembali ke posnya. Jono mengambil surat tilang yang diselipkan Bobi di sela-sela kaca jendela. Tapi, hei apa ini. Ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota. Kenapa ia tidak menilangku. Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru Jono membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Bobi.
Halo Jono, Tahukah kamu Jon, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas, ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk. Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Begitu juga kali ini. Maafkan aku Jon. Doakan agar permohonan kami terkabulkan. Berhati-hatilah. (Salam, Bobi).
Jono terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Bobi. Namun, Bobi sudah meninggalkan pos jaganya entah ke mana. Sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak menentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan .
Tak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa jadi suka kita tak lebih dari duka rekan kita. Hidup ini sangat berharga, jalanilah dengan penuh hati-hati.

Kisah seorang bapak

Jalanan Jakarta seperti biasa,
panas dan berdebu, walau
pagi ini belum juga beranjak
menjadi siang. Aku nyalakan
tape dan AC di mobilku,

sambil bernyanyi-nyanyi kecil untuk menghilangkan
kejenuhan, karena jalan
menuju kantor seperti pagi-
pagi lainnya, penuh dan
macet. Ternyata nyanyian itu
tidak membuat hatiku menjadi tenang. Batinku
merasa lelah, hatiku
mengeluh. Jenuhnya aku
dengan suasana rutinitasku
sehari-hari, belum lagi urusan
kantor yang tidak ada habis- habisnya. Sampai-sampai aku
sendiri tidak menikmati lagi
apa yang dulu menjadi
kenikmatan tersendiri,
bekerja di kantorku. Di tengah kemacetan, tiba-tiba
kaca mobilku diketuk oleh
seorang tua dengan matanya
yang sayu. Dia tersenyum
padaku dan menawarkan
makanan kecil yang dijualnya. “Neng, lima ratus per bungkus
Neng.” ujarnya. Tanpa pikir
panjang apakah aku suka
dengan makanan yang
dijualnya aku menjawab “Ya
sudah Pak, beli 10 ya.”. Matanya berbinar-binar
senang. “Alhamdulillah Neng,
penglaris”. Subhanallah betapa
senangnya aku melihat bapak
tua itu tersenyum bahagia
sekaligus mensyukuri rizkinya. Betapa indahnya
berbagi kebahagiaan dengan
orang lain. Rasanya pagi itu
yang serba membosankan
berubah menjadi pagi yang
indah untukku. Astaghfirullaahal’azhim.. Rabb
baik sekali memberikan
kesempatan kepadaku untuk
langsung berkaca pada diriku
sendiri. Aku yang lebih
beruntung dari Bapak tua itu, yang dapat duduk enak di
kantor yang dingin, masih
mengeluh atas kejenuhanku.
Kalau saja mataku lebih
terbuka, banyak orang-orang
yang lebih tidak beruntung, tetapi mereka mencari nafkah
dengan gembira, mensyukuri
rizki yang diberikan Allah
kepada mereka, sedikit
apapun. Bapak tua itu,
contohnya. Mungkin keuntungan dari penjualan
makanan kecil yang
diasongnya hanya mampu
untuk menghidupinya hari
itu, untuk esok, beliau harus
bergulat dengan kerasnya Jakarta, begitu tiap harinya. Ya Allah, semoga Bapak tua
dan orang-orang lain yang
kurang beruntung diberi
keikhlasan dalam menjalani
hidup mereka, berikan
mereka nikmat syukur dan nikmat rizki-Mu, berikan
mereka ketabahan,
tunjukkan mereka selalu jalan
menuju istiqamah, Ya Allah, tolong kabulkan,
hanya do’a yang dapat aku
berikan untuk menolong
mereka.

Kisah kepala emas

Alkisah pada suatu hari,
diadakan sebuah pesta emas
peringatan 50 tahun
pernikahan sepasang kakek-

nenek. Pesta ini pun dihadiri
oleh keluarga besar kakek dan nenek tersebut beserta
kerabat dekat dan kenalan. Pasangan kakek-nenek ini
dikenal sangat rukun, tidak
pernah terdengar oleh
siapapun bahkan pihak
keluarga mengenai berita
mereka perang mulut. Singkat kata mereka telah
mengarungi bahtera
pernikahan yang cukup lama
bagi kebanyakan orang.
Mereka telah dikaruniai anak-
anak yang sudah dewasa dan mandiri baik secara ekonomi
maupun pribadi. Pasangan
tersebut merupakan
gambaran sebuah keluarga
yang sangat ideal. Disela-sela acara makan malam
yang telah tersedia, pasangan
yang merayakan peringatan
ulang tahun pernikahan
mereka ini pun terlihat masih
sangat romantis. Di meja makan, telah tersedia
hidangan ikan yang sangat
menggiurkan yang
merupakan kegemaran
pasangan tersebut. Sang
kakek pun, pertama kali melayani sang nenek dengan
mengambil kepala ikan dan
memberikannya kepada sang
nenek, kemudian mengambil
sisa ikan tersebut untuknya
sendiri. Sang nenek melihat hal ini,
perasaannya terharu
bercampur kecewa dan
heran.Akhirnya sang nenek
berkata kepada sang kakek,
“Suamiku, kita telah melewati 50 tahun bahtera pernikahan
kita. Ketika engkau
memutuskan untuk
melamarku, aku memutuskan
untuk hidup bersamamu dan
menerima dengan segala kekurangan yang ada untuk
hidup sengsara denganmu
walaupun aku tahu waktu itu
kondisi keuangan engkau pas-
pasan. Aku menerima hal
tersebut karena aku sangat mencintaimu. Sejak awal
pernikahan kita, ketika kita
mendapatkan keberuntungan
untuk dapat menyantap
hidangan ikan, engkau selalu
hanya memberiku kepala ikan yang sebetulnya sangat tidak
aku suka, namun aku tetap
menerimanya dengan
mengabaikan
ketidaksukaanku tersebut
karena aku ingin membahagiakanmu. Aku
tidak pernah lagi menikmati
daging ikan yang sangat aku
suka selama masa pernikahan
kita. Sekarangpun, setelah
kita berkecukupan, engkau tetap memberiku hidangan
kepala ikan ini. Aku sangat
kecewa, suamiku. Aku tidak
tahan lagi untuk
mengungkapkan hal ini.” Sang kakek pun terkejut dan
bersedihlah hatinya
mendengarkan penuturan
Sang nenek. Akhirnya, sang
kakek pun menjawab,
“Istriku, ketika engkau memutuskan untuk menikah
denganku, aku sangat bahagia
dan aku pun bertekad untuk
selalu membahagiakanmu
dengan memberikan yang
terbaik untukmu. Sejujurnya, hidangan kepala ikan ini
adalah hidangan yang sangat
aku suka. Namun, aku selalu
menyisihkan hidangan kepala
ikan ini untukmu, karena aku
ingin memberikan yang terbaik bagimu. Semenjak
menikah denganmu, tidak
pernah lagi aku menikmati
hidangan kepala ikan yang
sangat aku suka itu. Aku
hanya bisa menikmati daging ikan yang tidak aku suka
karena banyak tulangnya itu.
Aku minta maaf, istriku.” Mendengar hal tersebut, sang
nenek pun menangis.
Merekapun akhirnya
berpelukan. Percakapan
pasangan ini didengar oleh
sebagian undangan yang hadir sehingga akhirnya merekapun
ikut terharu. ** Moral Of The Story: Kadang kala kita terkejut
mendengar atau mengalami
sendiri suatu hubungan yang
sudah berjalan cukup lama
dan tidak mengalami masalah
yang berarti, kandas di tengah-tengah karena hal
yang sepele, seperti masalah
pada cerita di atas. Kualitas suatu hubungan tidak
terletak pada lamanya
hubungan tersebut, melainkan
terletak sejauh mana kita
mengenali pasangan kita
masing-masing. Hal itu dapat dilakukan dengan komunikasi
yang dilandasi dengan
keterbukaan. Oleh karena itu,
mulailah kita membina
hubungan kita berlandaskan
pada kejujuran, keterbukaan dan saling menghargai satu
sama lain.

Kucing kecil penuh makna

Sepasang
suami istri, ikhwan dan
akhwat, berjalan kaki
bersama sambil tertawa dan
bercanda ria. Dari kejauhan,

mereka melihat ada dua ekor kucing tengah berjalan
beriringan. Ibu kucing dan
anaknya yang masih kecil. Si
kucing kecil berjalan di
belakang, mengikuti ibunya.
Sangat lucu. “Wah, lihat Mas…, ada kucing
kecil lagi sama ibunya…” ujar
sang istri dengan gembira
sambil menunjuk dua ekor
kucing yang terlihat dari
kejauhan. Saat sudah dekat dengan
kucing-kucing itu, mereka
menyapa, “Hai… Puss… Puss…” Si kucing kecil terlihat berlari
riang, dan bercanda dengan
ibunya. Ia meloncat kian
kemari dan hendak
menyebrang jalan raya.
Sebuah sepeda motor melintas melewati jalan itu. “Aduh… awas Puss!… Nanti
ketabrak lho..”, ujar sang istri
pada si kucing kecil. “Alhamdulillah tidak kena…”
Seru mereka berdua. “Hati-hati Puss…, jangan
nyebrang-nyebrang lagi ya.”
Mereka menyapa dengan
melambai-lambaikan tangan
pada si kucing kecil. Kucing kecil itu menatap dua
manusia di hadapannya. “Alhamdulillah ya kucingnya
tidak ketabrak…” ujar istri
pada suaminya sambil
tertawa senang. Mereka
melanjutkan perjalanan. Si
kucing kecil kembali ke pinggir jalan dan berjalan di
belakang ibunya sambil
sesekali mengajak bercanda
sang ibu. Si kucing kecil berlari lagi ke
tengah jalan… Ah.. kucing itu
tidak akan tertabrak,
bukankah dia kucing yang
gesit, pikir sang akhwat. Dari
kejauhan, sebuah motor melaju dengan kencang.
Sambil tetap berjalan, ekor
mata akhwat dan ikhwan
tersebut tetap
memperhatikan gerak si
kucing kecil. Tapi, perkiraan mereka salah. “Awas…” seru
mereka dalam hati. “KREKK!!” Kejadian begitu
cepat. Sepeda motor itu tepat
menabrak dan menggilas si
kucing kecil yang tengah
berlari kucingmenyebrang ke
tengah jalan. “Kucingnya ketabrak!!.. ”
Kedua insan itu terperanjat. Badan si kucing kecil gemetar
dan kepalanya yang semula
tegak, terkulai perlahan ke
aspal jalan raya. “Puss… !” Kucing kecil yang beberapa
detik lalu sangat riang, tiba-
tiba kini terkulai tak
bergerak. Ah…, Puss…. Dan ibu kucing kecil itu
sendirian. Tak ada lagi anaknya yang
menemani perjalanan. Senyum dan tawa ikhwan
akhwat itu hilang seketika.
Terdiam. Menjadi teringat diri.
Dunia menjadi kecil. Ingin
segera bertaubat. Sujud. Bisa
saja, saat sedang tertawa bercanda, ternyata sedetik
lagi diri ini dicabut nyawa oleh
Malaikat Izrail. Persis seperti
kucing itu. Begitu mudahnya Ia
mencabut nyawa makhluk-
Nya dan begitu indah serta
halus cara Ia memberikan
teguran, peringatan, kepada
hamba-hamba- Nya. Melalui seekor kucing. Sambil terus menyusuri jalan,
terngiang sabda Rasulullah
SAW di benak mereka, bahwa
Rasulullah SAW bersabda
yang maksudnya, “Bahwa
malaikat maut memperhatikan wajah
manusia di muka bumi ini 70
kali dalam sehari. Ketika Izrail
datang melihat wajah
seseorang, didapati orang itu
ada yang masih tertawa. Maka berkata Izrail,
“Alangkah herannya aku
melihat orang ini sedangkan
aku diutus oleh Allah Ta’ala
untuk mencabut nyawanya
tetapi dia masih bergelak tawa.” Dan juga dalam hadits lainnya,
Rasulullah SAW bersabda,
“Jika kamu mengetahui apa
yang aku ketahui, niscaya
kamu akan sedikit tertawa
dan pasti akan banyak menangis, pasti kamu tidak
akan bersenang-senang
dengan istri kamu di atas
kasur dan pasti kamu akan
keluar dari rumahmu menuju
tanah lapang sambil menjerit- jerit karena takut kepada
Allah.” Lama.., aku bersimpuh di
hadapan-Mu.. Begitu khusyu Tak tahan jua air mataku
mengalir tanda penyesalanku Kini aku sadari begitu banyak
dosa mematri Akankah hamba layak dipuji Sedangkan diri kecil tak
berarti Besar rahmat-Mu penuh
dengan ampunan… Namun kumalu karena hati
telah lalai Kekal azab-Mu penguasa
seluruh alam Tersujud aku memohon
keridhoan Allah… Ya Allah… Kau Pengasih, Kau penyayang Allah…. Ya Allah Kau Pelindung, Kau
pengampun Pada-Mu ya Allah kami
serahkan Segala ujian, karunia-Mu Kuatkanlah iman dan
kesabaran Berikan ampunan dalam
hidupku Ya Allah….

Selasa, 07 Agustus 2012

Utusan malaikat maut pada manusia

Dikisahkan bahwa malaikat
maut bersahabat dengan Nabi
Ya’qub As. Suatu ketika Nabi
Ya’qub berkata kepada
Malaikat maut, ” Aku

menginginkan sesuatu yang harus kau penuhi sebagai
tanda persaudaraankita”. “Apakah itu?” Tanya Malaikat
maut. “Jika ajalku telah dekat,
beritahulah aku!” pinta Ya’qub
As. Malaikat maut berkata, “Baik,
aku akan memenuhi
permintaanmu, aku tidak
hanya akan mengirimkan satu
utusanku, namun aku akan
mengirim dua atau tiga utusanku”. Dan setelah mereka
bersepakat, kemudian mereka
berpisah. Setelah beberapa
lama malaikat maut kembali
menemui nabi Ya’qub.
Kemudian nabi Ya’qub bertanya, “Wahai sahabatku,
apakah engkau datang untuk
berziarah atau mencabut
nyawaku?” “Aku datang untuk mencabut
nyawamu” Jawab malaikat
maut. “Lalu dimana ketiga
utusanmu?” tanya Nabi
Ya’qub As. “Sudah kukirim” jawab
malaikat maut, “Putihnya
rambutmu setelah hitamnya,
lemahnya tubuhmu setelah
kekarnya, dan bongkoknya
badanmu setelah tegapnya. Wahai Ya’qub, itulah utusanku
untuk setiap Bani adam.”

Kaum yang selalu mengingat mati

Diriwayatkan bahwa Dzul
Qarnain melewati sebuah
kaum yang tidak memiliki
harta dunia sedikitpun.
Mereka membuat kuburan

bagi keluarga mereka yang telah mati di depan pintu
rumah mereka. Setiap hari
mereka mengamati kuburan
itu, membersihkan, menyapu,
menziarahinya dan beribadah
kepada Allah di sekat kuburan itu. Mereka tidak makan kecuali
rerumputan dan berbagai
tanaman lain. Kemudian Dzul Qarnain
mengutus seorang laki-laki.
Utusan itu kemudian
memanggil raja kaum itu tapi
dia tidak memenuhi panggilan
utusan itu, dan berkata, “Aku tak punya keperluan
kepadanya, tidak juga dia
kepadaku.” Maka kemudian Dzul Qarnain
mendatangi kaum tersebut
dan berkata, “Bagaimana
keadaan kalian? Mengapa aku
tidak melihat emas atau perak
yang kalian miliki. Dan mengapa aku juga tidak
melihat nikmat dunia yang
kalian miliki?” Pemimpin
mereka menjawab, “Karena
nikmat dunia tidak pernah
membuat kenyang seorang manusia pun.” Bertanya kembali Dzul
Qarnain, “Mengapa kalian
membuat kuburan di depan
rumah kalian?” Dia menjawab, “Agar
langsung terlihat oleh mata
kami, sehingga akan
mempengaruhi ingatan kami
akan kematian, dan
mendinginkan hasrat pada dunia dalam hati kami. Tujuan
itu agar kami tidak
disibukkan oleh dunia dan
melupakan Tuhan kami.” Dzul Qarnain bertanya
kembali, “Dan mengapa kalian
hanya memakan rerumputan
dan tanaman?” Dia menjawab,
“Karena kami benci
menjadikan perut-perut kami sebagai kuburan bagi hewan-
hewan. Dan bagaimana pun
lezatnya suatu makanan,
tetap akan hancur.” Pimpinan kaum itu
menjulurkan tangannya ke
dalam lubang dan
mengeluarkan satu buah
tengkorak kepala manusia
kemudian meletakkan tengkorak itu didepannya dan
berkata, “Wahai Dzul Qarnain,
apakah engkau tahu, siapa
pemilik tengkorak ini? Ini
adalah tengkorak seorang raja
didunia yang telah menzhalimi rakyatnya, bersikap
melampaui batas kepada
mereka dan suka menyiksa
orang-orang lemah, serta
menghabiskan seluruh
waktunya untuk mengumpulkan dunia. Maka
Allah mencabut nyawanya
dan menjadikan neraka
sebagai tempat kembali
untuknya.” Kemudian pemimpin kaum itu
menjulurkan kembali
tangannya dan mengambil
sebuah tengkorak kepala
yang lain dan meletakkan
didepannya. Dia bertanya, “Apakah engkau tahu siapa
pemilik tengkorak ini?
Sesungguhnya kepala ini milik
seorang raja yang adil. Dia mengasihi rakyatnya dan
menyukai seluruh anggota
kerajaannya, kemudian Allah
mencabut nyawanya dan
memasukkannya kedalam
surga serta meninggikan derajatnya.” Setelah itu, pemimpin kaum
itu meletakkan tangannya
diatas kepala Dzul Qarnain dan
berkata, “Termasuk golongan
manakah kepalamu ini? Dzul Qarnain menangis
tersedu-sedu sambil
menundukkan kepalanya dan
berkata, “Jika engkau mau
menjadi sahabatku, akan aku
serahkan sawah dan ladangku kepadamu dan memberikan
sebagian kerajaan kepadamu.” Laki-laki itu menjawab,
“Tidak mungkin, aku tidak
menyukainya. ” Dzul Qarnain
bertanya, “Mengapa
demikian?” Dia menjawab,
“Karena seluruh manusia akan menjadi musuhmu karena
harta dan kekuasaan.
Sebaliknya, mereka akan
menjadi saudaramu akibat
perasaan qanaah dan
kemiskinanmu. Maka Allah akan bersamamu.”