Selasa, 25 September 2012

Tanda-Tanda Husnul Khatimah

Setiap yang bernyawa pasti akan tiba ajalnya (QS Ali-Imran [3]:185). Hanya saja waktu dan lokasinya adalah sebuah misteri. Manusia tidak dapat mengetahui dan menetapkan jadwal kematian, karena ini adalah rencana dari Allah SWT.

Kematian pula bukanlah kejadian biasa, tapi ia adalah peristiwa besar yang menyakitkan yang ditandai dengan terputusnya hubungan antara roh dan jasad, perubahan situasi dan adanya peralihan dari suatu alam ke alam lain.


Kematian berlaku dengan fenomena yang beraneka ragam, secara umum dapat dibagi kepada dua keadaan. Pertama, meninggal dunia dalam keadaan husnul khatimah (akhir hayat yang bagus).

Dan kedua, meninggal dunia dalam keadaan suul khatimah (akhir hayat yang buruk). Keadaan yang pertama menunjukkan suatu gambaran bahwa nasib yang akan dialami oleh si mayat setelah kematiannya akan bahagia.

Sebaliknya, keadaan yang kedua menggambarkan keburukan yang bakal dialaminya. Bagi orang yang meninggal dalam keadaan husnul khatimah mempunyai tanda-tanda tertentu yang sepatutnya diketahui oleh setiap individu, terutama kalangan umat Islam.

Tanda-tanda tersebut, di antaranya sebagai berikut. Pertama, mengucapkan kalimat tauhid (syahadah). Nabi SAW bersabda, “Barang siapa yang di akhir hayatnya mengucapkan la ilaha illallah (tidak ada Tuhan yang berhak untuk disembah, kecuali Allah SWT), maka ia masuk surga.” (HR Abu Dawud).

Kedua, dahi atau keningnya berkeringat. Sebuah riwayat dari Buraidah bin Hashib RA, dia berada di Khurasan. Lalu, saudaranya kembali kepadanya dalam keadaan sakit sehingga ia sempat menyaksikan kematiannya.

Saat saudaranya meninggal dunia, ia melihat keringat keluar dari dahinya, dan berkata, “Allahu Akbar”. Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Meninggalnya seorang Mukmin ditandai dengan keringat di dahinya.” (HR Tirmizi, Nasa’i, dan Ibn Majah).

Ketiga, meninggal dunia pada malam Jumat atau siang harinya. Tanda ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan Abdullah bin Umar RA. Dia mendengar bahwa Nabi SAW bersabda, “Tidaklah seorang Muslim meninggal dunia pada hari Jumat atau malamnya, melainkan Allah akan melindunginya dari fitnah siksa kubur.” (HR Tirmizi).

Keempat, mati syahid. Ada lima macam mati syahid yang disebutkan oleh Nabi Muhammad SAW, yakni disebabkan wabah (al-math’un), sakit perut ( al-mabthun), karam atau tenggelam (al-ghariq), tertimpa tanah runtuh (shahibul hadm), dan syahid dalam perang di jalan Allah. (HR Bukhari dan Muslim).

Itulah di antara tanda-tanda meninggal dunia secara husnul khatimah yang disebutkan oleh nabi dan rasul panutan kita, Nabi Muhammad SAW. Mudah-mudahan kelak kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang meninggal dunia dalam keadaan husnul khatimah (akhir yang baik), yakni golongan yang memperoleh hakikat kebahagiaan dan kemuliaan di sisi Allah SWT. Wallahu al-Musta’an.

Senin, 24 September 2012

2 sepeda, satu langit…

Ada sepasang suami-istri yang berjualan nasi kuning di sebuah kompleks perumahan di Jati Bening. Umur mereka sudah tidak muda lagi. Sang suami mungkin sudah berumur lebih dari 70, sedangkan istrinya sekitar 60-an. Di sekitar mereka ada beberapa gerobak lain yang juga menjual makanan untuk sarapan pagi. Tapi dari semuanya, hanya gerobak mereka yang paling sepi.
Setiap pagi, dalam perjalanan menuju ke kantor, saya selalu melewati gerobak mereka yang selalu sepi. Gerobak itu tidak ada yang istimewa. Cukup sederhana. Jualannya pun standar.

Setiap pagi pula, sepasang suami-istri itu duduk menjaga gerobak mereka dalam posisi yang selalu sama. Sang suami duduk di luar gerobak, sementara istrinya di sampingnya. Kalau ada pembeli, sang suami dengan susah payah berdiri dari kursi (kadang dipapah istrinya) dan dengan ramah menyapa pembeli. Jika sang pembeli ingin makan di tempat, sang suami merapikan tempat duduk, sementara istrinya menyiapkan nasi kuning dan menyodorkan piring itu pada suaminya untuk diberikan pada sang pelanggan. Kalau sang pembeli ingin nasi kuning itu dibungkus, sang istri menyiapkan nasi kuning di kertas pembungkus, dan menyerahkan nasi bungkusan itu pada suaminya untuk diserahkan pada sang pelanggan.
Saat sedang sepi pelanggan, pasangan suami-istri itu duduk diam. Sesekali jika istrinya agak terkantuk-kantuk, suaminya mengurut punggung istrinya. Atau jika suaminya berkeringat, sang istri dengan sigap mengambil sapu tangan dan mengelap keringat suaminya.
Kalau mau jujur, nasi kuning mereka tidak terlalu spesial. Sangat standar. Tapi, kalau saya mencari sarapan pagi, saya selalu membeli nasi kuning di tempat mereka. Bukan spesial-tidaknya. Tapi lebih karena cinta mereka yang membuat saya tergerak untuk selalu mampir.
Dalam kesederhanaan, kala susah dan sedih karena tidak ada pelanggan, mereka tetap bersama. Sang suami tidak pernah memarahi istrinya yang tidak becus masak. Sang istri pun tidak pernah marah karena gerakan suaminya yang begitu lamban dalam melayani pelanggan. Dia bahkan memberi kesempatan suaminya untuk melayani pelanggan.
Mereka selalu bersama, dan saling mendukung, bahkan di saat susah sekali pun. Hingga hari ini, sudah 10 tahun saya lewati tempat itu, mereka masih tetap di tempat yang sama, menjual nasi kuning, dan selalu bersikap sama. Penuh kesederhanaan. Penuh kasih sayang. Dan saling menguatkan di saat susah.
Jika Anda berkunjung ke Bekasi, Anda bisa mampir ke jalan raya komplek Jati Bening Indah. Tidak susah mencari gerobak mereka yang sederhana. Carilah gerobak yang paling sepi pelanggan. Mereka berjualan sejak pukul 07.00 hingga siang hari (mungkin sekitar 11.00, karena saya pernah ke kantor jam 11.00, mereka sudah tidak ada). Jujur, nasi kuning mereka sangat standar & tidak selengkap gerobak nasi kuning lain di sekeliling mereka. Namun, cinta kasih mereka membuat makanan yang sederhana itu terasa begitu nikmat. Cinta kasih yang begitu tulus, sederhana, apa adanya. Bahkan dalam kesusahan sekalipun, mereka tetap saling menguatkan.
Sebuah kisah cinta yang luar biasa. Mungkinkah kita bisa seperti mereka?
Semoga Allah melimpahkan rahmat buat kita semua. Amien.

Berharga dan Tak Berharga

Konon ada seorang raja yang memanggil seorang penasihat dan berkata kepadanya, "Kekuatan pikiran yang sejati bergantung pada pemeriksaan terhadap berbagai pilihan. Katakan padaku pilihan mana yang lebih baik meningkatkan pengetahuan rakyatku atau memberi mereka tambahan makanan. Kedua pilihan itu sama bermanfaat."

Sufi itu berkata, "Baginda, percuma saja memberikan pengetahuan kepada mereka yang tak dapat mengetahuinya, demikian pula sia-sia menambahkan makanan kepada mereka yang tak mengerti maksud baik Baginda.


Oleh karena itu, tidaklah benar menganggap bahwa 'kedua pilihan itu sama bermanfaat'. Bila mereka tak bisa mencerna makanan itu, atau bila mereka berpikir bahwa makanan itu diberikan untuk menyogok, atau malah membuat mereka berniat meminta lebih maka maksud Baginda akan gagal.

Jika mereka tak bisa menyadari bahwa mereka diberikan pengetahuan, atau bila mereka tak sanggup mengenali pengetahuan itu, atau bahkan tak mengetahui alasan Baginda memberikan pengetahuan itu kepada mereka, maka maksud Baginda itu akan kandas.

Untuk itu, pertanyaan harus diajukan secara bertahap. Tahap pertama adalah pertimbangan: 'Orang paling berharga sesungguhnya tak berharga dan orang paling tak berharga sebenarnya berharga.'"

"Terangkanlah kebenaran ini bagiku, sebab aku belum bisa memahaminya," kata raja itu.

Sang sufi kemudian memanggil ketua para darwis di Afghanistan, dan ia pun datang ke istana. "Kalau engkau mempunyai jalanmu, apa yang akan engkau suruhkan kepada seseorang di Kabul?" tanya sang sufi kepada darwis itu.

"Kebetulan ada seorang lelaki di dekat suatu tempat yang bila ia mengetahuinya, bisa mendapatkan kekayaan bagi dirinya dan juga kemakmuran bagi seluruh negeri itu, dengan memberikan sekeranjang buah ceri kepada orang miskin tertentu," kata darwis itu, yang mengetahui pertalian gaib antara berbagai hal.

Raja itu merasa senang, sebab para sufi tak biasanya memperbincangkan perihal semacam itu. "Bawa lelaki itu kemari dan kita akan membuatnya terjadi!" seru raja itu.

Para pejabat memberi raja itu isyarat agar tetap bersikap tenang. "Tidak," kata Sufi pertama, "Hal itu takkan terjadi kecuali bila dilakukan dengan ikhlas."

Agar tidak memengaruhi pilihan lelaki itu, mereka bertiga pergi ke pasar Kabul dengan menyamar. Dengan melepaskan sorban dan jubahnya, ketua sufi itu tampak sangat mirip dengan orang biasa.

"Aku akan ambil bagian dalam perihal yang menggairahkan ini," bisik raja itu, dan kelompok itu berdiri memandangi buah ceri. Ia mendekati penjualnya dan mengucapkan salam. Kemudian, ia berkata, "Aku kenal seorang miskin. Maukah kau memberinya sekeranjang ceri sebagai derma!"

Penjual itu tertawa terpingkal-pingkal. "Nah, aku sudah pernah mendengar beberapa tipuan, tetapi baru kali ini ada orang yang menginginkan buah ceri membungkuk untuk meminta agar buah ini diberikan sebagai derma!"

"Kau paham maksudku?" kata sufi pertama itu kepada raja. "Orang paling berharga di antara kita baru saja menyampaikan usul yang paling mulia, dan kejadian tadi membuktikan bahwa ia tak berharga bagi orang yang diajaknya bicara tadi."

"Tetapi bagaimana tentang 'orang paling tak berharga' menjadi orang berharga?" tanya raja itu. Kedua darwis itu memberinya isyarat agar mengikuti mereka.

Ketika mereka hendak menyeberangi sungai Kabul, kedua sufi itu tiba-tiba menyergap raja dan membuangnya ke sungai. Raja itu tak bisa berenang. Ketika raja itu merasa hampir tenggelam, seorang yang terkenal miskin dan tak waras yang berkelana di jalan-jalan, melompat ke sungai dan menyelamatkan raja serta membawanya ke tepi. Beberapa orang lain, yang lebih kuat, juga melihatnya jatuh ke air, tetapi mereka diam saja.

Tatkala raja sudah pulih, kedua darwis itu berkata serempak, "Orang paling tak berharga sesungguhnya berharga!"

Sejak saat itu, raja kembali pada kebiasaannya, yaitu memberi apa saja yang ia bisa, entah itu pendidikan atau berbagai macam pertolongan kepada orang-orang yang diputuskan dari masa ke masa sebagai yang paling pantas menerima pemberian semacam itu.

Dua orang yang baik, tapi, mengapa perkawinan tidak berakhir bahagia

Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik, pagi hari hanya bisa makan bubur.
 Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi untuk anak-anak, karena anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan, perlu makan nasi, dengan begitu baru tidak akan lapar seharian di sekolah.
Setiap sore, ibu selalu membungkukkan badan menyikat panci, setiap panci di rumah kami bisa dijadikan cermin, tidak ada noda sedikikt pun. Menjelang malam, dengan giat ibu membersihkan lantai, mengepel seinci demi seinci, lantai di rumah tampak lebih bersih dibanding sisi tempat tidur orang lain, tiada debu sedikit pun meski berjalan dengan kaki telanjang.
Ibu saya adalah seorang wanita yang sangat rajin.
Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang baik. Dalam proses pertumbuhan saya, tidak hanya sekali saja ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam perkawinan, tidak memahaminya.
Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab.
 Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat libur juga masih mengatur jadwal sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat anak-anak, ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berpretasi dalam pelajaran.
Ia suka main catur, suka larut dalam dunia buku-buku kuno. Ayah saya adalah seoang laki-laki yang baik, di mata anak-anak, ia maha besar seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan mendidik kami.
Hanya saja, di mata ibuku, ia juga bukan seorang pasangan yang baik, dalam proses pertumbuhan saya, kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam diam di sudut halaman.
Ayah menyatakannya dengan kata-kata, sedang ibu dengan aksi, menyatakan kepedihan yang dijalani dalam perkawinan.
 Dalam proses pertumbuhan, aku melihat juga mendengar ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya mereka, dan mereka layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik. Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia, kehidupan perkawinan mereka lalui dalam kegagalan, sedangkan aku, juga tumbuh dalam kebingungan, dan aku bertanya pada diriku sendiri : Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?
Pengorbanan yang dianggap benar.
Setelah dewasa, saya akhirnya memasuki usia perkawinan, dan secara perlahan –lahan saya pun mengetahui akan jawaban ini. Di masa awal perkawinan, saya juga sama seperti ibu, berusaha menjaga keutuhan keluarga, menyikat panci dan membersihkan lantai, dengan sungguh-sungguh berusaha memelihara perkawinan sendiri. Anehnya, saya tidak merasa bahagia ; dan suamiku sendiri, sepertinya juga tidak bahagia.
 Saya merenung, mungkin lantai kurang bersih, masakan tidak enak, lalu, dengan giat saya membersihkan lantai lagi, dan memasak dengan sepenuh hati. Namun, rasanya, kami berdua tetap saja tidak bahagia. .
 Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk membersihkan lantai, suami saya berkata : istriku, temani aku sejenak mendengar alunan Nasyid!
 Dengan mimik tidak senang saya berkata : apa tidak melihat masih ada separoh lantai lagi yang belum di pel ?
 Begitu kata-kata ini terlontar, saya pun termenung, kata-kata yang sangat tidak asing di telinga, dalam perkawinan ayah dan ibu saya, ibu juga kerap berkata begitu sama ayah. Saya sedang mempertunjukkan kembali perkawinan ayah dan ibu, sekaligus mengulang kembali ketidakbahagiaan dalam perkwinan mereka. Ada beberapa kesadaran muncul dalam hati saya.
Yang kamu inginkan ?
Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu memandang suamiku, dan teringat akan ayah saya…
Ia selalu tidak mendapatkan pasangan yang dia inginkan dalam perkawinannya, waktu ibu menyikat panci lebih lama daripada menemaninya. Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga, adalah cara ibu dalam mempertahankan perkawinan, ia memberi ayah sebuah rumah yang bersih, namun, jarang menemaninya, sibuk mengurus rumah, ia berusaha mencintai ayah dengan caranya, dan cara ini adalah mengerjakan urusan rumah tangga. Dan aku, aku juga menggunakan caraku berusaha mencintai suamiku. Cara saya juga sama seperti ibu, perkawinan saya sepertinya tengah melangkah ke dalam sebuah cerita, dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia.
Kesadaran saya membuat saya membuat keputusan (pilihan) yang sama.
Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di sisi suami, menemaninya mendengar Nasyid, dan dari kejauhan, saat memandangi kain pel di atas lantai seperti menatapi nasib ibu.
 Saya bertanya pada suamiku : apa yang kau butuhkan ?
Aku membutuhkanmu untuk menemaniku mendengar Nasyid, rumah kotor sedikit tidak apa-apa-lah, nanti saya carikan pembantu untukmu, dengan begitu kau bisa menemaniku! ujar suamiku.
Saya kira kamu perlu rumah yang bersih, ada yang memasak untukmu, ada yang mencuci pakaianmu….dan saya mengatakan sekaligus serentetan hal-hal yang dibutuhkannya.
 Semua itu tidak penting-lah! ujar suamiku. Yang paling kuharapkan adalah kau bisa lebih sering menemaniku.
Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan, hasilnya benar-benar membuat saya terkejut.
Kami meneruskan menikmati kebutuhan masing-masing, dan baru saya sadari ternyata dia juga telah banyak melakukan pekerjaan yang sia-sia, kami memiliki cara masing-masing bagaimana mencintai, namun, bukannya cara pihak kedua.
Jalan kebahagiaan
Sejak itu, saya menderetkan sebuah daftar kebutuhan suami, dan meletakkanya di atas meja buku,
Begitu juga dengan suamiku, dia juga menderetkan sebuah daftar kebutuhanku. Puluhan kebutuhan yang panjang lebar dan jelas, seperti misalnya, waktu senggang menemani pihak kedua mendengar Nasyid, saling memeluk kalau sempat, setiap pagi memberi sentuhan selamat jalan bila berangkat.
Beberapa hal cukup mudah dilaksanakan, tapi ada juga yang cukup sulit, misalnya dengarkan aku, jangan memberi komentar. Ini adalah kebutuhan suami. Kalau saya memberinya usul, dia bilang akan merasa dirinya akan tampak seperti orang bodoh. Menurutku, ini benar-benar masalah gengsi laki-laki. Saya juga meniru suami tidak memberikan usul, kecuali dia bertanya pada saya, kalau tidak saya hanya boleh mendengar dengan serius, menurut sampai tuntas, demikian juga ketika salah jalan.
Bagi saya ini benar-benar sebuah jalan yang sulit dipelajari, namun, jauh lebih santai daripada mengepel, dan dalam kepuasan kebutuhan kami ini, perkawinan yang kami jalani juga kian hari semakin penuh daya hidup. Saat saya lelah, saya memilih beberapa hal yang gampang dikerjakan, misalnya menyetel Nasyid ringan, dan kalau lagi segar bugar merancang perjalanan keluar kota. Menariknya, pergi ke taman flora adalah hal bersama dan kebutuhan kami, setiap ada pertikaian, selalu pergi ke taman flora, dan selalu bisa menghibur gejolak hati masing-masing. Sebenarnya, kami saling mengenal dan mencintai juga dikarenakan kesukaan kami pada taman flora, lalu bersama kita menapak ke tirai merah perkawinan, kembali ke taman bisa kembali ke dalam suasana hati yang saling mencintai bertahun-tahun silam.
Bertanya pada pihak kedua : apa yang kau inginkan, kata-kata ini telah menghidupkan sebuah jalan kebahagiaan lain dalam perkawinan. Keduanya akhirnya melangkah ke jalan bahagia. Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa bahagia, mereka terlalu bersikeras menggunakan cara sendiri dalam mencintai pihak kedua, bukan mencintai pasangannya dengan cara pihak kedua.
Diri sendiri lelahnya setengah mati, namun, pihak kedua tidak dapat merasakannya, akhirnya ketika menghadapi penantian perkawinan, hati ini juga sudah kecewa dan hancur. Karena Tuhan telah menciptakan perkawinan, maka menurut saya, setiap orang pantas dan layak memiliki sebuah perkawinan yang bahagia, asalkan cara yang kita pakai itu tepat, menjadi orang yang dibutuhkan pihak kedua! Bukannya memberi atas keinginan kita sendiri, perkawinan yang baik, pasti dapat diharapkan.
Update ::
wah ternyata ada 10 halaman yang persis isi tulisan ini, gak masalah, yah saya hanya senang aja bacanya, so kalo sekali2 saya butuh membaca ini, yah tinggal ke blog saya, dan cari judul artikel ini.

Tak Cukup Hanya Cinta

“Sendirian aja dhek Lia? Masnya mana?”, sebuah pertanyaan tiba-tiba
mengejutkan aku yang sedang mencari-cari sandal sepulang kajian tafsir
Qur’an di Mesjid komplek perumahanku sore ini. Rupanya Mbak Artha tetangga
satu blok yang tinggal tidak jauh dari rumahku. Dia rajin datang ke
majelis taklim di komplek ini bahkan beliaulah orang pertama yang aku

kenal disini, Mbak Artha juga yang memperkenalkanku dengan majelis taklim
khusus Ibu-ibu dikomplek ini. Hanya saja kesibukan kami masing-membuat
kami jarang bertemu, hanya seminggu sekali saat ngaji seperti ini atau
saat ada acara-acara di mesjid. Mungkin karena sama-sama perantau asal
Jawa, kami jadi lebih cepat akrab.
“Kebetulan Mas Adi sedang dinas keluar kota mbak, Jadi Saya pergi
sendiri”, jawabku sambil memakai sandal yang baru saja kutemukan diantara
tumpukan sandal-sendal yang lain. “Seneng ya dhek bisa datang ke pengajian
bareng suami, kadang mbak kepingin banget ditemenin Mas Bimo menghadiri
majelis-majelis taklim”, raut muka Mbak Artha tampak sedikit berubah
seperti orang yang kecewa. Dia mulai bersemangat bercerita, mungkin lebih
tepatnya mengeluarkan uneg-uneg. Sebenarnya aku sedikit risih juga karena
semua yang Mbak Artha ceritakan menyangkut kehidupan rumahtangganya
bersama Mas Bimo. Tapi ndak papa aku dengerin aja, masak orang mau curhat
kok dilarang, semoga saja aku bisa memetik pelajaran dari apa yang
dituturkan Mbak Artha padaku. Aku dan Mas Adi kan menikah belum genap
setahun, baru 10 bulan, jadi harus banyak belajar dari pengalaman pasangan
lain yang sudah mengecap asam manis pernikahan termasuk Mbak Artha yang
katanya sudah menikah dengan Mas Bimo hampir 6 tahun lamanya.
“Dhek Lia, ndak buru-buru kan? Ndak keberatan kalo kita ngobrol-ngobrol
dulu”, tiba-tiba mbak Artha mengagetkanku. ” Nggak papa mbak, kebetulan
saya juga lagi free nih, lagian kan kita dah lama nggak ngobrol-ngobrol” ,
jawabku sambil menuju salah satu bangku di halaman TPA yang masih satu
komplek dengan Mesjid.
Dengan suara yang pelan namun tegas mbak Artha mulai bercerita. Tentang
kehidupan rumah tangganya yang dilalui hampir 6 tahun bersama Mas Bimo
yang smakin lama makin hambar dan kehilangan arah.
“Aku dan mas Bimo kenal sejak kuliah bahkan menjalani proses pacaran
selama hampir 3 tahun sebelum memutuskan untuk menikah. Kami sama-sama
berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja dalam hal agama”, mbak Artha
mulai bertutur. “Bahkan, boleh dibilang sangat longgar. Kami pun juga
tidak termasuk mahasiswa yang agamis. Bahasa kerennya, kami adalah
mahasiswa gaul, tapi cukup berprestasi. Walaupun demikian kami berusaha
sebisa mungkin tidak meninggalkan sholat. Intinya ibadah-ibadah yang wajib
pasti kami jalankan, ya mungkin sekedar gugur kewajiban saja. Mas Bimo
orang yang sabar, pengertian, bisa ngemong dan yang penting dia begitu
mencintaiku, Proses pacaran yang kami jalani mulai tidak sehat, banyak
bisikan-bisikan syetan yang mengarah ke perbuatan zina. Nggak ada pilihan
lain, aku dan mas Bimo harus segera menikah karena dorongan syahwat itu
begitu besar. Berdasar inilah akhirnya aku menerima ajakan mas Bimo untuk
menikah”.
“Mbak nggak minta petunjuk Alloh melalui shalat istikharah?” , tanyaku
penasaran. “Itulah dhek, mungkin aku ini hamba yang sombong,untuk urusan
besar seperti nikah ini aku sama sekali tidak melibatkan Alloh. Jadi kalo
emang akhirnya menjadi seperti ini itu semua memang akibat perbuatanku
sendiri”
“Pentingnya ilmu tentang pernikahan dan tujuan menikah menggapai sakinah
dan mawaddah baru aku sadari setelah rajin mengikuti kajian-kajian guna
meng upgrade diri. Sejujurnya aku akui, sama sekali tidak ada kreteria
agama saat memilih mas Bimo dulu. Yang penting mas Bimo orang yang baik,
udah mapan, sabar dan sangat mencintaiku. Soal agama, yang penting
menjalankan sholat dan puasa itu sudah cukup. Toh nanti bisa dipelajari
bersama-sama itu pikirku dulu. Lagian aku kan juga bukan akhwat dhek, aku
Cuma wanita biasa, mana mungkin pasang target untuk mendapatkan ikhwan
atau laki-laki yang pemahaman agamanya baik”, papar mbak Artha sambil
tersenyum getir.
Aku perbaiki posisi dudukku, aku pikir ini pengalaman yang menarik. Rasa
penasaran dan sedikit nggak percaya karena Mbak Artha yang aku kenal
sekarang adalah tipikal wanita sholehah, berhijab rapi, tutur kata lembut,
tilawahnya bagus dan smangatnya luar biasa. Benar-benar jauh dari profil
yang di ceritakan tadi. Ternyata benar kata pepatah, bahwa pengalaman
adalah guru yang paling berharga. Mungkin bertolak dari minimnya
pengetahuan agama, akhirnya mbak Artha berusaha keras untuk meng-up grade
diri. Dan subahanalloh hasilnya sungguh menakjubkan. Mbak Artha mekar
laksana bunga yang sedang tumbuh di musim semi, tapi siapa sangka ternyata
indahnya bunga itu tak lain karena kotoran-kotoran hewan yang menjadi
pupuk disepanjang kehidupannya.
Rupanya harapan mbak Artha untuk bisa menimba ilmu agama bersama-sama sang
suami tinggal impian. Mas Bimo yang diharapkan bisa menjadi katalisator
dan penyemangat ternyata hanya jalan ditempat. Hapalan Juz Amma nya belum
bertambah, tilawah Al Qur’an-nya masih belum ada perbaikan masih belum
lancar. Sementara kesibukannya sebagai Brand Manager di salah satu
perusahaan Telco milik asing, makin menyita waktu dan perhatiannya. Masih
syukur bisa mengahabiskan weekend bersama Mbak Artha dan Raihan anak
semata wayang mereka, kadang weekend pun mas Bimo harus ke kantor atau
meeting dan lain-lain. Tidak ada waktu untuk menghadiri majelis taklim,
tadarus bersama bahkan sholat berjama’ah pun nyaris tidak pernah mereka
lakukan.
Aku jadi teringat khutbah pernikahanku dengan Mas Adi, waktu itu sang
ustad berkata “Rumah tangga yang didalamnnya ditegakkan sholat berjam’ah
antara anggota keluarga serta sering dikumandangkan ayat-ayat Allloh akan
didapati kedamaian dan ketenangan didalamnya”
“Dhek….”, suara mbak Artha membuyarkan lamunanku. “Iya mbak, saya masih
denger kok. Saya hanya berpikir ini semua bisa menjadi ladang amal buat
mbak Artha”, jawabku sigap supaya nggak terlihat kalau emang lagi
ngelamun.
“Pada awalnya aku juga berpikir seperti itu dhek. Aku berharap Mas Bimo
juga memiliki keinginan yang sama dengan ku untuk memperdalam pengetahuan
kami terhadap Islam. Aku cukup gembira ketika mas Bimo menyambut ajakanku
untuk sama-sama belajar. Namun dalam perjalanannya, smangat yang kami
miliki berbeda. Mas Bimo seolah jalan ditempat. Sempat miris hati ini
ketika suatu saat aku meminta beliau menjadi imam dalam sholat magrib.
Bacaan suratnya masih yang itu-itu juga dan masih terbata-bata. Aku baru
tau bahwa dia belum pernah khatam Qur’an. Harusnya kan suami itu imam
dalam keluarga ya dhek?”, mata mbak Artha mulai berkaca-kaca.
“Apa harapanku terlalu tinggi terhadap suamiku? Bukankah harusnya suami
itu adalah Qowwam, pemimpin bagi istrinya. Lalu bagaimana jika sang
pemimpin saja belum memiliki bekal yang cukup untuk menjadi seorang
pemimpin?”, suara mbak Artha mulai bergetar.
“Terkadang aku ingin sekali tadarus bersama suami, tapi itu semua nggak
mungkin terjadi selama suamiku tidak mau belajar lagi membaca Al-qur’an.
Aku juga merindukan sholat berjama’ah dimana suami menjadi imannya
sementara kami istri dan anak menjadi makmumnya. Apa keinginanku ini
berlebihan dhek?”, tampak bulir bening mulai mengalir dipipi mbak Artha.
“Berbagai cara sudah ku coba, supaya Mas Bimo bersemangat memperbaiki diri
terutama dalam hal ibadah. Tentunya dengan sangat hati-hati supaya tidak
menyinggung perasaannya dan supaya tidak berkesan menggurui. Aku mulai
rajin mengikuti kajian-kajian keislaman, mencoba sekuat tenaga untuk
sholat 5 waktu tepat pada waktunya dan tilawah qur’an setelah sholat
subuh. Bahkan berusaha bangun malam menunaikan tahajud serta menjalankan
sholat dhuha dipagi hari. Semuanya itu kulakukan, dengan harapan mas Bimo
pun akan menirunya. Aku berharap sekali dia terpacu dan semangat, melihat
istrinya bersemangat” , papar mbak Artha dengan suara yang agak tinggi.
“Tapi sampai detik ini semuanya belum membuahkan hasil. Aku seperti orang
yang berjalan sendiriian. Tertatih, jatuh bangun berusaha menggapai cinta
Alloh. Aku butuh orang yang bisa membimbingku menuju surga. Dan harusnya
orang itu adalah Mas Bimo, suami ku”
Kurangkul pundaknya, sambil berbisik “sabar ya mbak, mudah-mudahan semuai
harapanmu akan segera terwujud”. Mbak Artha tampak agak tenang dan mulai
melanjutkan ceritanya.
“Dari segi materi materi apa yang Mas Bimo berikan sudah lebih dari
cukup, overall Mas Bimo suami yang baik dan bertanggung jawab. Bahtera
rumah tangga kami belum pernah diterpa badai besar, semuanya berjalan
lancar. Sampai disuatu saat mbak mulai menyadari sepertinya bahtera kami
telah kehilangan arah dan tujuan. Kami hanya mengikuti arus kehidupan yang
smakin lama smakin membawa kami kearah yang tidak jelas. Kami sibuk dengan
aktifitas kami masing-masing. Kehangatan, kemesraan, ungkapan sayang yang
dulu paling aku kagumi dari Mas Bimo sedikit demi sedikit terkikis di
telan waktu dan kesibukannya. Dan yang lebih parahnya lagi, unsur religi
sama sekali tak pernah di sentuh Mas Bimo sebagai kepala keluarga. Fungsi
Qowam sebagai pemimpin dalam menggapai cinta hakiki dari Sang Pemilik
Cinta, terabaikan. Mungkin karena memang bekalnya yang kurang. Sunguh,
harapan menggapai sakinah dan mawaddah serta rahmah semakin hari kian jauh
dari pandangan. Rumah tangga kami bagai tanpa ruh dan kering”, suara mbak
Artha mulai bergetar kembali.
Aku jadi speachless nggak tau musti berkata apa lagi. Ternyata ketenangan rumah tangga mbak
Artha, menyimpan suatu bara yang setiap saat bisa membakar hangus
semuanya. Hanya karena satu hal, yaitu alpanya sentuhan spritual dalam
berumahtangga. Atau mungkin juga adanya ketidaksamaan visi atau tujuan
saat awal menikah dulu. Bukankan tujuan kita menikah adalah ibadah untuk
menyempurnakan setengah agama. Idealnya, setelah menikah keimanan, ibadah
kita makin meningkat. Karena ada suami yang akan menjadi murobbi atau
mentor bagi istri, atau kalaupun sebaliknya jika istri yang lebih berilmu
tidaklah masalah jika istri yang menjadi mentor bagi suami. Yang penting
tujuan menyempurnakan dien guna menggapai sakinah dan mawaddah melalui
cinta dan rahmah makin hari makin terwujud. Mungkin itulah sebabnya
mengapa kreteria agama lebih diutamakan daripada fisik, harta dan
keturunan.
Ternyata cinta saja tak cukup untuk bekal menikah, begitupun dengan harta.
Pernikahan merupakan hubungan secara emosional yang harus ditumbuhkan
dengan sangat hati-hati, penuh kepedulian dan saling mengisi.Bahkan puncak
kenikmatan sebuah pernikahan bukanlah dicapai melalui penyatuan fisik saja
melainkan melalui penyatuan emosional dan spiritual. Pernikahan adalah
sarana pembelajaran yang terus menerus. Baik untuk mempelajari karakter
pasangan ataupun untuk meng upgrade diri masing-masing.
“Dhek Lia….”, Mbak Artha membuyarkan lamunanku. “Makasih ya dhek dah mau
jadi kuping buat mbak”, mbak Artha menggenggam tanganku sambil tersenyum.
“Mbak yakin dhek Lia bisa dipercaya, do’akan supaya aku diberikan jalan
yang terbaik sama Alloh”.
Aku pun tersenyum, “Insyaalloh mbak, maksih juga dah mau sharing masalah
ini dengan saya. Banyak hikmah yang bisa saya dapat dari cerita mbak. Saya
masih harus banyak belajar soal kehidupan berumah tangga mbak.
Jazakillah”.
Tak terasa hampir 2 jam kami ngobrol di teras TPA. Kumandang adzan dhuhur,
mengakhiri obrolan kami. Sambil menuju tempat wudhu mesjid untuk sholat
dhuhur berja’maah kusempatkam mengirim sms ke mas Adi. “Mas aku kangen, kangen sholat bareng, kangen tadarus bareng cepet pulang
ya Mas. Uhibbukafillahi Ta’ala” ***

Berkah Basmalah


Dalam kitab “An-Nawadir”, karya Ahmad Syihabudin bin Salamah Al-Qalyubiy dikisahkan, ada seorang Yahudi yang mencintai seorang wanita sampai tergila-gila.

Akibatnya, ia merasa makan dan minum tak enak serta tidur tak nyeyak. Akhirnya, ia menemui Atha’ Al-Akbar untuk menanyakan jalan keluar atas kesulitan yang dihadapinya itu.

Atha’ lantas menuliskan kalimat basmalah (Bismillahir-rahmanir-rahim) di sehelai kertas, lalu berkata kepadanya. “Bacalah ini, mudah-mudahan Allah SWT melalaikanmu dari mengingat wanita itu serta mengaruniakan wanita itu kepadamu.”


Setelah tulisan itu dibacanya, si Yahudi berkata, “Wahai Atha’, aku telah merasakan manisnya iman dan telah bersinar cahaya di dalam kalbuku hingga sekarang aku telah melupakan wanita itu. Ajarkanlah Islam kepadaku.”

Maka, Atha’ mengajarkan tentang Islam kepadanya. Sebab, keberkahan basmalah itu, ia pun masuk Islam.

Keislaman orang Yahudi itu terdengar oleh wanita yang dahulu disenanginya. Lantas wanita itu datang menemui Atha’ dan berkata. “Ya Imam Al-Muslimin, saya adalah wanita yang disebutkan oleh Yahudi yang masuk Islam itu. Semalam saya bermimpi didatangi oleh seseorang dan orang itu berkata kepada saya, ‘Jika anda ingin melihat tempat anda di dalam surga maka menghadaplah kepada Atha’, karena ia akan memperlihatkannya kepada anda.’ Nah, sekarang aku berada di hadapan Tuan, maka katakanlah kepadaku, di mana surga itu?”

Atha’ menjawab, “Jika anda menginginkan surga maka anda harus membuka pintunya terlebih dahulu, baru memasukinya.”

Wanita itu bertanya, “Bagaimana aku dapat membuka pintunya?”

Jawab Atha’, “Ucapkanlah Bismillahir- rahmanir-rahim.”

Setelah wanita itu membaca basmalah, ia lalu berkata, “Wahai Atha’, kurasakan ada seberkas cahaya bersinar dalam kalbuku dan kerajaan Allah dapat kulihat. Ajarkanlah Islam kepadaku.”

Atha’ mengajarkan Islam kepadanya. Berkat basmalah, wanita itu masuk Islam. Lalu, ia pulang kembali ke rumahnya. Pada malam harinya ketika tidur, ia bermimpi seakan-akan masuk ke surga, menyaksikan istana dan kubah di dalamnya. Di salah satu kubah itu ada tulisan; Bismillahir-rahmanir-ra hiim, La ilaha illallah, Muhammad Rasulullah.

Ketika wanita itu membaca tulisan tersebut, tiba-tiba terdengar suara berkata, “Wahai wanita, Allah telah memberikan semua apa yang kau baca.”

Dari kisah di atas, kita dapat mengambil kesimpuan bahwa basmalah merupakan salah satu dari inti kandungan ajaran Islam. Hal demikian juga diungkapkan sejumlah ulama akan keutamaan basmalah.

Dengan membaca basmalah berarti kita menyadari akan kekuatan dan pertolongan Allah dalam setiap aktivitas yang kita lakukan, juga menunjukkan akan kepasrahan dan ketidakberdayaan diri kita untuk melakukan suatu kebaikan apa pun, kecuali atas pertolong an-Nya.

Dan tidak dapat menolak sekecil apa pun kemudaratan yang akan menimpa kita, kecuali atas pertolongan-Nya. Dan inilah inti dari ajaran Islam.

Karena kandungan maknanya seperti inilah yang menjadikan kalimat basmalah mengandung keberkahan. Untuk itu, hayatilah maknanya dan bacalah setiap kali kita hendak melakukan pekerjaan, agar kita mendapatkan keberkahan. Wallahu a’lam.

Minggu, 23 September 2012

Merenungkan Matahari Terbenam


contemplate-sun_blog.jpg
Tiga orang yang sedang berjalan dengan sebuah kafilah kecil melihat seorang manusia sedang merenungi matahari terbenam di puncak gunung gurun sahara.
“Mungkin itu adalah seorang pengembala yang telah kehilangan domba dan sedang mencari dombanya,” kata orang pertama.
“Bukan, aku rasa dia tidak mencari sesuatu, apalagi ketika
matahari terbenam yang akan menyulitkanmu untuk melihat. Aku rasa dia sedang menunggu seorang teman.”
“Aku bertaruh dia adalah seorang manusia suci yang sedang mencari pencerahan,” komentar orang ketiga.
Mereka mendiskusikan apa yang sedang dilakukan manusia tersebut hingga diskusi menjadi hangat dan hampir saja membuat mereka bertengkar satu sama lain. Akhirnya, untuk mengetahui siapa yang benar, mereka memutuskan untuk memanjat gunungnya dan bertanya kepada orang tersebut.
“Apakah engkau sedang mencari domba?” tanya orang pertama.
“Tidak, aku tidak memiliki kawanan domba.”
“Kalau begitu engkau sedang menunggu seseorang,” seru orang kedua.
“Aku adalah seorang penyendiri yang hidup di padang pasir,” jawabnya.
“Sejak engkau hidup di padang pasir, dan hidup dalam kesunyian, maka kami percaya bahwa engkau adalah seorang suci yang sedang mencari Tuhan, dan engkau sedang bermeditasi!” tegas orang ketiga, yakin dengan kesimpulan ini.
“Apakah segala sesuatu yang ada di bumi membutuhkan sebuah penjelasan? Biar aku jelaskan: Aku di sini hanya menyaksikan matahari terbenam, bukankah itu sudah cukup untuk memberikan arti bagi kehidupan kita?”