Minggu, 15 Desember 2013

Subhanallah...! "BAYI LAHIR MEMBAWA ALQUR'AN"

Allah SWT tak pernah berhenti menunjukkan kuasa-Nya. Seorang bayi di Nigeria lahir sembari membawa Alquran dari rahim ibunya. Sejatinya, ibu bayi tersebut beragama Kristen, tapi pascamelihat mukjizat Allah tersebut, sang ibu dan nenek bayi tersebut langsung mengucapkan dua kalimat syahadat dan menyatakan diri masuk Islam.


Seperti diberitakan harian Pmnewsnigeria, Senin (14/5) , bayi tersebut lahir di 112 Olateju Street, Mushin, Lagos State, Nigeria Barat Daya pada 7 Mei 2012 lalu. Saat keluar dari rahim ibundanya, bayi tersebut membawa sebuah Mushaf kecil di tangannya.

Kikelomo Ilori, nama ibu bayi tersebut. Wanita 32 tahun yang bekerja sebagai seorang ahli kecantikan langsung mengganti namanya menjadi Sherifat ketika masuk Islam. Hal itu diikuti nenek bayi tersebut yang mengganti namanya menjadi nama Islam.

Kelahiran bayi tersebut pun menyedot perhatian para ulama di negara benua hitam tersebut. Para ulama di Nigeria berkumpul untuk memberikan nama kepada bayi tersebut. Setelah menyampaikan ceramah singkat, seorang ulama Nigeria, Ustad Abdul Rahman Olanrewaju Ahmed, memberikan nama kepada bayi tersebut Abdul Wahab Iyanda Aderemi Irawo.

Untuk menghindari syirik dan kesesatan, Ustad Abdul Rahman juga menasihati sang ibu bila bayinya bukanlah seorang nabi, meskipun ia terlahir dari rahimnya sambil memegang Alquran. Menurutnya, kejadian itu merupakan kehendak Allah, untuk mengirim bayi tersebut ke dunia dengan cara yang menakjubkan.

Dalam acara pemberian nama itu, turut hadir ulama setempat, Sheikh Abdulraman Sulaiman Adangba, Ketua Nasrulifathi Society of Nigeria, NASFAT, Ustadz Alhaji Abdullahi Akinbode, dan Dr Ramoni Tijani dari Alifathiaquareeb Islamic Society of Nigeria.

Kelahiran sang bayi pun memberi berkah bagi tetangga sekampung. Pedagang tumpah ruah menjual berbagai souvenir terkait bayi tersebut, mulai dari kaos, tasbih, dan foto bayi tersebut.

Tak heran bila kelahiran bayi tersebut dianggap kontroversi sebagian pihak. Sebagian pihak berkata mustahil, tapi sebagian lainnya menganggap kejadian tersebut adalah kuasa Tuhan, dimana tak ada yang mustahil bagi-Nya.

Bahkan, seorang dokter dipecat gara-gara mengatakan kejadian tersebut adalah hoax alias berita bohong. Padahal saksi, media dan ibunya sendiri menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri.

Jumat, 13 Desember 2013

Dia pergi membawa hidupku

MALAM ketika kau datang dan langsung duduk di sebelahku, memelukku, dan menyandarkan kepalamu di bahuku, aku terdiam. Bahkan kuurungkan niatku untuk meminta maaf atas kesalahan yang telah kupendam selama lima tahun ini.
Karena kamu tak sedang ingin bicara. Hanya bersandar di bahuku dan memelukku dengan erat, seolah tak ingin lepas. Hingga kurasakan otot tanganmu yang kecil itu seperti membelit tubuh dari samping kiriku.
Namun aku memberanikan diri untuk bicara. Karena kupikir, terlalu berat menanggung rasa bersalah ini selama lebih dari setengah dasa warsa, sebuah waktu yang tak pendek untuk menyembunyikan sebuah kebohongan. 
Sedang aku mencintaimu dengan tulus, dan tak ingin kehilanganmu. “Sayang, tolong beri kesempatan aku bicara, lima menit saja,”. Kali ini dia tak hanya meresponku dengan diam dan geleng-geleng kepala. Jari telunjuknya bahkan langsung menutup bibirku, hingga lagi-lagi kubatalkan niatku.
“Plizzzzzzz, jangan kau ajak aku bicara. Kali ini saja! Aku sedang ingin memelukmu sekuat tenagaku, selama mungkin, sampai akhir hidupku. Karena aku takut akan kehilangan kesempatan ini, sehingga menyesal di kehidupan nanti,” tuturnya sambil terus menenggelamkan kepalanya di bahuku, hingga pundakku terasa berat.
 
Setelah itu, kau terdiam. Hening. Sunyi. Suasana di taman belakang rumahmu ini hanya menyisakan suara alam; semilir angin dan suara serangga malam. Aku baru ingat, inilah tempat yang sama di masa lalu, ketika aku memutuskan memilihmu sebagai pendamping hidupku. Di kursi yang sama ini, kaupun dulu memeluk dan menyandarkan kepalamu di bakuku dengan erat. Itu tujuh tahun lalu.
Satu bulan setelah itu, kita membacakan ikrar di depan penghulu, untuk mengikat simpul janji kehidupan rumah tangga yang abadi. Aku bahagia dan kaupun kuyakin merasakan yang sama. Namun dua tahun setelah pernikahan kita, aku menyakitimu –tanpa kau tahu. Bahkan hingga kini sekalipun.
Sebab selama lima tahun aku pendam sebuah rahasia besar, sebelum satu minggu lalu kuputuskan berhenti dari kesalahan ini. Berniat meminta maaf atas kesalahan terbesarku terhadapmu. Bila perlu, akan kucium kakimu dengan bersimpuh. 
“Kau harus tahu sayang, bahwa lima tahun perjalanan rumah tangga yang seolah menyenangkan ini, lama kuisi dengan kebohongan. Sebuah dusta yang mungkin tak termaafkan bagimu. Dan hari ini, ingin aku mengakui semua dosa itu dan berharap atas maafmu, yang kuragukan akan kauberikan kepadaku,”bersitku dalam hati.
Masih hening. Pun sunyi yang masih saja menyeruak, merindingkan bulu kakiku. Sampai ku tersadar, beban di pundaku serasa kian berat saja. Pelukanmu kian kaku mengunci tubuhku. Dan sentuhan tanganmu seperti memancarkan dingin. “Sayang, apakah kamu sakit? Biar kita ke dalam saja. Kamu harus mengistirahatkan tubuhmu di kamar,” ungkapku.
Dia tetap lelap, seolah tak mendengar ucapanku. Kucoba gerakkan tubuhnya. Kuangkat kepalanya, tapi berat. Matanya tetap terpejam. Aku pun memutuskan untuk membopongnya. Kucoba lepaskan pelukan tangannya dari tubuhku, tetapi tak berhasil. Aku merasakan tangannya kian dingin. Dia pun tak bereaksi sama sekali. Rini sayang, bangun. Ayo kita ke dalam,” pintaku dengan menepuk pipi kirinya. Tetapi lagi-lagi dia tak berreaksi.
Aku mulai panik. Dengan sedikit keras, kulepaskan pelukan tangannya. Dan akhirnya berhasil. Dengan cepat kuangkat tubuhnya ke dalam kamar. Kubaringkan tubuhmu secara perlahan ke tempat tidur. Kembali kucoba membangunkanmu, tapi gagal. Kau tidur sangat lelap? Aku semakin panik saja. Kudekatkan punggung telapak tanganku tepat di depan hidungmu. Oh tidak, nafasmu terhenti. Kupegang lehermu, nadimu pun tak berdenyut.
Dalam kondisi panik itu, aku akhirnya bisa memastikan, itriku telah pergi meninggalkanku selamanya. Tangisku pun pecah, mengisi seruangan rumah yang hanya kami tempati berdua, selama tujuh tahun ini. Aku menangisimu dengan keras, sambil memelukmu erat. “Tidak sayang, kamu pasti tengah bercanda dan menghiburku. Bangun sayang, jangan kau tinggalkan aku. Sungguh, aku tak sanggup,” teriakku sambil menatap wajahnya dan menggoyang-goyangkan tubuhnya.
Aku berharap masih ada keajaiban, sehingga dia masih bisa hidup bersamaku untuk waktu yang panjang, sampai masa tua. Masa di mana kualitas ingatan kita berdua terus menurun. Tetapi kau tetap memanggilku papah dengan lembut. Akupun memanggilnya dengan sebutan sayang. Kita masih bisa mandi bareng, melestarikan kasih sayang penuh romantisme, hingga saat-saat maut menjemput salah satu dari kita, lalu yang lainnya mengidap sepi yang sangat.
Aku terus berkhayal tentang masa depan bersmanya, sampai ujung hidup merenggut nyawa. Imajinasiku terus melayang, terus terbang, dan tanpa sadar aku nyaris tertidur. Seketika kulepaskan pelukanku, kutatap dalam-dalam wajah istriku. Air mataku menetes perlahan dan terus membanjiri pipiku.
Memandangi wajahnya yang tetap cantik dan tersenyum, meski kini wajahnya telah pucat. Dia meninggalkanku dengan senyum. Tidak sepertiku yang ditinggal dengaan rasa salah, feeling guilty yang menyesakkan dadaku. Tubuh ini seperti terangkat, terbang ke cakrawala langit, hingga nafas terengah-engah.
Aku mencoba bangun, ketika tanganku merasakan sentuhan sesuatu di saku kaus berkerah istriku. Akupun mengambilnya, ternyata selembar kertas catatan. Kuberanikan diri membukanya, sedikit demi sedikit, lalu membacanya.
“Untuk suamiku tercinta, lelaki terbaik yang Tuhan kirimkan untuk mendampingiku. Aku mensyukurinya, meski harus menyesal, karena sedemikian singkat aku menikmati masa-masa indah bersama lelaki yang kubayangkan seperti pangeran berkuda dari negeri antah barantah.
Suamiku, maafkan aku, karena hanya sedikit waktu yang bisa kudedikasikan untukmu. Kanker di rahimku ini tak lagi mampu kutahan, hingga merenggut nyawaku, di usia ketujuh pernikahan kita. Sayang, aku sangat menikmati masa-masa bersamamu, sehingga tak pernah terbayangkan dalam hati dan pikiranku, untuk berpaling sejenak pun darimu.
Sungguh, cintamu tak pernah tergantikan dengan lelaki manapun. Untuk satu hal ini, aku mengucap syukur kepada Tuhanku setiap waktu. Sungguh, aku merasakan keindahan bersamamu, yang tak mungkin mampu kudefinisikan.
Tetapi aku menyadari kekuranganku sebagai istri, yang secara wajar tak bisa memberikanmu keindahan memadu asmara, di setiap malam yang kaum impikan. Aku menyadari itu dan kamu pun tentu telah menyadari resiko itu sejak pertama kali memutuskan meminangku untuk hidupmu.
Itu sebabnya, aku tak marah, ketika kutahu, engkau tah tahan juga –sebagai lelaki normal- untuk mencari kepuasan dari perempuan lain yang bisa memuaskanmu. Di awal tahun ketiga pernikahan, ketika engkau mulai tergoda seorang perempuan cantik dan seksi itu, aku pun bukan tak tahu.
Kudiamkan sebagai sebuah bentuk pengabdian cintaku kepadamu. Bahkan ketika akhirnya kau menikahi perempuan itu secara siri, lalu mendapatkan keturunan darinya, aku pun tak marah.
Kau mungkin tak tahu. Bahwa ketika perempuan itu berberat hati untuk menerima tawaranmu menikah, karena dia menghormati aku, maka aku pula yang meyakinkannya, tanpa sepengatahuanmu, untuk menerimamu. Aku tahu, dia perempuan yang tak hanya mampu memenuhi kebutuhan akan kepuasan biologis. Lebih dari itu, dia adalah perempuan yang jujur, berhati baik dan tulus. Dan terutama, dia sangat menyayangimu, sepertiku.
Suamiku, engkau adalah laki-laki dengan sketsa wajah yang telah kukenali secara dalam. Bahkan bau keringatmu pun kuhafal, hingga ujung hidupku. Kau tak perlu meminta maaf, atas keputusanmu mencintai perempuan desa itu, untuk menikahinya, dan untuk memberinya keturunan.
Aku tak marah. Ini konsekuensi cinta yang harus kubayar. Karena kutahu, hingga akhir hayatku, engkau masih setia menemaniku, tak pernah terbersit sedikitpun meninggalkanku. Menemaniku hingga saat-saat kematianku adalah lebih dari cukup bagiku, perempuan tak normal yang gagal memberikanmu keturunan.
Jangan pernah menyesal dan menangisi keputusanmu itu. Dan kau pun tak perlu meminta maaf. Karena sejak awal kutahu keputusanmu itu, aku telah memaafkanmu. Sama sekali aku tak menganggapmu berselingkuh, apalagi mengkhianatiku. Maka, untuk yang terakhir kalinya, aku memintamu memberiku satu senyuman terindah, seperti yang pernah tercatat dalam keabadaian hatiku, saat pertama kali kau tatap wajahku.
Selamat tinggal suamiku tersayang. Kutunggu kau, pertemuanmu dan anak-anakmu, di kehidupan berikutnya. Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu.
Istrimu yang sangat mencintaimu,
RINI
Mendadak semuanya gelap. Tak ada kehidupan.***

Kisah Cinta di Antara Perbedaan

Kata orang, kita terlahir di dunia ini dengan penuh kebahagiaan ketika ibu kita melahirkan, tapi sayangnya kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan sebagai apa? Ada yang terakhir sebagai orang kaya, ada yang terakhir sebagai orang miskin. Tapi, semua itu gak akan sepenting bagaimana kita hidupnya, bagaimana bila kita terakhir perbedaan warna kulit, dimana cinta menghalangi kita untuk bersatu. Kisah ini mungkin kisah paling klasik di dunia ini, begitu lah gua menyebutnya. Bagi gua, hal yang terpenting dalam hidup gua adalah mencinta dia walaupun pada akhirnya harus berakhir dengan kenyataan yang pahit.

Namanya Angel, wajahnya cantik oriental. Kulitnya putih seperti porselin dan matanya sipit tapi tajam seperti elang. Hal itulah yang pertama gua lihat saat berada di sebuah mal, saat itu gua sedang bekerja sebagai sales promotion boy. Gua menjual hendphone terbaru merek sony,kebetulan hari ini adalah hari terakhir dimana setiap tamu berhak untuk mendapatkan diskon 20 persen dari harga normal. Saat itu Angel muncul, dia tersenyum sambil membeli satu buah ponsel yang terbaru.
Entah kenapa, ketika melihat dia sebagai pembeli. Gua langsung terkesima. Dia datang ke meja gua. Tersenyum dengan lebar.
“ Tolong pasangin nomor kartu perdana gua dong?” pinta dia ke gua.
Gua hanya terdiam lalu memasangkan kartu itu ke ponsel dia, sambil bertanya.
“ Mau coba nelepon?” Tanya gua.
“ Boleh sih? Tapi gua ga ada nomor telepon teman?”
“ Kok bisa?” Tanya gua bingung.
“ Soalnya uda lama diluar, baru balik hari ini. Jadi nomor-nomor teman pada ilang semua..” jelas dia.
“ Gimana kalau gua tes, nelepon ke nomor gua?” Tanya gua.
“ Boleh..”
Akhirnya singkat cerita, dia menelepon ke nomor gua. Setelah berjalan dengan baik, dia membayar dan pergi. Sambil mengucapkan terima kasih, gua hanya tersenyum melihat dia. Dalam hati gua berkata, mungkin ini sebuah takdir terakhir kita setelah pertemuan ini. Tapi dari situ, gua jadi tau nomor telepon dia. Gua bahkan tidak tau siapa nama dia, tapi gua menyimpan nama dia dengan nama Angel, karena dia cantik seperti malaikat yang putih, jauh dari gua yang item dan lebih cocok disebut Pribumi.
Suatu hari, gua sadar gua tidak punya perkerjaan yang harus gua lakukan. Gua masih kuliah, masih harus menyelesaikan skripsi gua yang tertunda. Tema gua hari ini adalah kemacetan kota Jakarta. Gua jurusan teknik sipil, terpaksa harus tidur pagi dan bangun malam untuk melihat bagaimana kota Jakarta yang tidak macet hanya terjadi di malam hari. saat gua sedang duduk, ponsel gua secara ga sengaja tertekan, secara otomatis menelepon baris pertama bernama Angel. Tanpa gua sadari, ponsel gua terdiam dengan panggilan selama 1 menit lamanya. tiba-tiba Angel nelepon balik. Gua terkejut sekali, Angel yang bahkan gua uda lupa tiba-tiba nelepon.
“ Ini siapa ya? Kok telepon malam-malam?”
“ Ini gua Bima. “
“ Bima, gua ga kenal tuh? Kok bisa tau nomor ini?”
Gua merasa bingung, tapi lebih bingung lagi karena ga tau nama dia sebenarnya.
“ Gua yang dulu sales promotion yang jual hp, dulu karena loe ga ada nomor telepon yang dihubungin jadi pake nomor gua.. rasanya ponsel gua ga sengaja ketekan. Maaf ya..”
“ Oh gitu.. “ dia terdiam dan gua merasa dia terganggu.
“ Sorry deh kalau gitu, menganggu malam-malam..”
“ Ya, gapapa..”
“ Maaf kalau boleh tau, nama loe siapa ya?”
“ Angel..”
Gua merasa bingung, apa gua yang kebetulan kasih nama Angel, kok bisa sama dengan nama yang gua tebak asal.
“ Angel, salam kenal ya…”
Tiba-tiba kita terdiam seribu bahasa. Lalu dia mulai bertanya.
“ Bima sepertinya loe lagi di jalan besar ya, kok ada suara bajaj gitu..”
“ Iya.. sorry, lagi di jalan. Berisik ya..”
“ Gapapa, dimana sekarang?”
“ Lagi halte busway kebun jeruk neh..”
“ oh ya.. gua jadi pengen naik busway.. selama di Jakarta, ga pernah naik gituan.. “
“ Nah kalau gitu cobain dong.. “
“ Tapi gua ga suka macet.. setiap hari Jakarta macet. “
“ Iya juga sih,, tapi susah juga kalau Jakarta ga macet. Ntar ekonomi ga jalan”
Akhirnya yang tadinya kita Cuma ngobrol2 ga sengaja, jadi lama. Gua dan dia sepakat, nanti kapan-kapan akan ketemu, karena Angel mau cobain naik busway. Gua pede aja bilang kalau busway itu enak, padahal gua tau, antri untuk naik ini aja bikin kesel. Sejak saat itu, kita jadi sering-sering sms. Tapi gua ga berani nelepon dia. Dan lucunya, gua selalu sms di malam hari, ntah kenapa kalau siang hari. dia sepertinya hilang dalam hidup gua, kalau pun gua sms untuk nanya makan siang, dia hanya balas saat malam hari. tapi ga masalah, dia balas pun gua merasa senang. Dan lebih senang lagi akhirnya kita ketemuan. Angel penasaran sama tugas skripsi kuliah gua tentang macetnya Jakarta dan lebih penasaran lagi pas gua bilang, Jakarta di malam hari itu ga macet.
Angel itu anak orang kaya, jadi kalau kemana-mana selalu sama supirnya. Gua bingung harus jemput dia bagaimana, gua Cuma punya motor bebek. Tapi dia malah bilang suruh jemput dia di rumah, mencari rumah dia daerah Pantai indah kapuk aja bikin gua minder. Dengan sepenuh hati, akhirnya gua sampai deh ke rumah dia walau sempat ditanya-tanya satpam. Rumahnya super gede, dia keluar dengan celana jeans dan kaos oblong tersenyum sama gua.
“ Sudah siap nunjukin ke gua kalau Jakarta ga macet?”
Gua terdiam, mulut gua ga bisa jawab apa-apa, gua hanya bisa kasih helm ke dia. Dan kita pergi bersama keluar kompleknya dengan wajah kebingungan para satpam. Kita turun di halte busway, daerah harmoni. Angel sepertinya bingung, ia baru kali ini ngeliat halte busway. Dia cerita kalau selama ini dia tinggal di Amerika, baru balik tahun ini setelah 10 tahun lamanya disana. Tapi bahasa Indonesia dia tetap lancar, ga seperti cinta laura yang kadang masih sok English gitu.
“ Mau coba naik busway?” Tanya gua
“ Boleh sih, tapi nanti motor loe gimana?” Tanya dia.
“ Tenang aja, gua kenal sama orang yang jaga, soalnya uda sejak 6 bulan disini sama dia buat ngurus skripsi gua..”
Kita bayar tiket seperti orang-orang lain, memang karena sudah larut malam jadi sepi. Tujuan kita ke sudirman. Angel terdiam mengamati kota Jakarta, gua jadi ingin bertanya.
“ loe ga ngantuk, Angel?’
“ Gak, masih jetleg, santai aja. Gua suka kehidupan malam, lebih menarik kebanding siang.”
“ Oh ya, kenapa?”
“ Kalau malam hari, banyak bintang indah diatas langit, sedikit orang yang berisik dan paling penting ga macet..”
“ Emangnya di Amrik sana ga macet ya?” Tanya gua merasa bodoh, Angel ketawa.
“ Ya, semua negara itu pasti ada macetnya, tapi ga semacet Jakarta, ini kalau ga terpaksa balik ke Indonesia karena diminta nyokap, gua juga gak akan mau..”
Saat itu gua merasa Angel sedang menikmati suasaa malam, gua jadi ga mau ajak bicara dulu. Tiba-tiba dia malah nangis. Lah gua bingung setengah mati, banyak yang lihatin kita berdua.
“ Kenapa nangis Angel..?” Tanya gua bingung.
“ Gapapa, gua Cuma merasa sedih saja..?”
“ Kenapa?” Tanya gua bingung.
“ Jadi ingat anjing gua di rumah yang belum di kasih makan?”
Astaga, entah itu benaran apa kagak, tapi tangis dia itu seperti bukan karena anjingnya belum makan. Sejak pertemuan hari itu, kita jadi sering ketemuan dan selalu malam hari. kita semakin dekat, jadinya gara-gara kebanyakan sama Angel, skripsi gua malah kagak selesai-selesai. Tapi gua merasa bahagia bersama dia, setidaknya gua merasa mengenal dia dengan baik dari sebelumnya. Dia anak yang cerdas dan selalu bicara dengan apa adanya. Suatu saat gua bertanya sama dia.
“ Angel loe kenapa secantik ini belum punya pacar?”
“ Hehehe, males aja.?”
“ Why.?”
“ Ya males, lebih enak sendirian, kalau punya pacar itu bikin pusing, loe sendiri gimana?”
“ Gua jujur aja sih, pacaran terakhir waktu sma gitu, putus gara-gara jarak jauh..”
“ Ya, itu mah klasik banget, sekarang ada yang loe suka ga?” Tanya Angel ke gua.
Saat dia bertanya gitu, ingin rasanya gua bilang kalau gua lagi suka sama dia. Tapi gua cukup tau diri, banyak perbedaan antara kita. Jadi gua hanya terdiam sambil berkata.
“ Gak ada, nanti kalau ada, gua kasih tau ya..”
“ Ditunggu ya, Bima, setelah lurus, rencananya mau kerja apa?”
“ Maunya sih jadi presenter Tv atau wartawan. Gua suka meliput dan membuat berita, kali-kali aja bisa hehehe.”
“ Harusnya sih bisa, kenapa gak?”
“ Doakan saja lah..”
“ Apa agama loe Bima?” Tanya Angel ke gua.
“ Gua muslim..”
“ Oh ya.. baru kali ini gua punya teman seorang muslim,”
“ Oh ya, kalau loe sendiri ?”
“ Gua Kristen.. “
Gua senang, Angel tidak terkejut ketika gua sebut agama gua. Dia merasa nyaman, karena selama di Amrik sana, dia ngerasain banget bagaimana kejadian runtuhnya gedung wtc yang bikin semua umat muslim merasa bimbang karena selalu dituduh buruk. Angel bahkan sadar betul kalau gua seorang pribumi sejak awal kita berkenalan tapi sepertinya dia tidak pernah membedakan gua. Suatu hari, Angel ingin merayakan ulang tahunnya yang ke 21. Dia menyuruh gua datang ke pesta yang diadakan di rumah dia.
Gua sebenarnya bingung mencari hadiah yang tepat untuk dia, sebab dia orang kaya yang sudah bisa dapatkan apapun dia yang mau. Akhirnya gua putuskan memberikan dia sebuah diary yang unik, sebagai kado untuk dia. Saat gua datang, dia nyambut gua dengan gembiranya. Gua hanya tersenyum, tapi rasanya ada yang aneh melihat gua hanya setitik hitam diantara warna putih di ruangan itu. Angel kenalin gua ke orang tuanya.
“ Ma, Pa.. ini Bima teman saya, kenalin ya..”
Bonyoknya hanya tersenyum kecil ketika melihat gua, mereka baik dan menyambut gua dengan penuh hangat. Saat gua pulang, Angel bahkan mengantarkan hingga motor gua. Gua senang ketika malam hari sebelum tidur dia sempat sms gua bilang kalau dia senang dengan kado diary yang gua kasih, sebab sejak pulang dari Amrik dia uda ga pernah nulis lagi, maka mulai hari ini dia akan menulis. 3 hari kemudian, Angel bilang akan pergi liburan sama keluarganya ke Singapura. Gua pun kebetulan akan sidang skripsi gua dalam beberapa waktu lagi. Untungnya skripsi gua dinyatakan lulus, gua senang dan berpikir untuk mengundang Angel makan malam sebagai bentuk syukur gua.
Saat makan malam, Angel memberikan gua sebuah hadiah yang telah ia beli dari singapura, sebuah kalung yang bertulisan nama gua Bima.
“ Makasih ya, kata gua?”
“ Bima, mungkin dalam waktu sebulan lagi, gua akan balik ke Amerika..”
Kalimat dari dia yang bikin gua merasa kehilangan dan sedih. Tapi gua mencoba untuk tegar.
“ Sebelum gua pergi, bolehkah gua bertanya sama loe?” Tanya Angel.
“ Silakan Angel..”
“ Apakah pernah ada cinta diantara kita?”
Gua terdiam, bingung menjawabnya. Tapi gua merasa ini saatnya gua ungkapkan semua isi hati gua ke dia.
“ Angel, sejujurnya gua memang suka sama loe, loe satu-satunya cewek yang bikin gua jatuh cinta. Tapi gua merasa, gua sepertinya berharap terlalu besar?”
“ Kenapa?” Tanya Angel bingung.
“ Karena gua seorang yang miskin, gua pribumi dan bukan lah cowok idaman Angel.” Kata gua pasrah.
Angel terdiam beberapa saat lalu menjawab.
“ loe salah, loe adalah cowok idaman gua!”
“ Hah..” kata gua terkejut dan bingung,
Entah apa Angel sedang bercanda atau membuat gua GR, tapi rasanya ini seperti mimpi.
“ Sejak awal, gua ga pernah lihat perbedaan diantara kita, mengenal loe membuat gua lebih mencintai dunia ini lebih jauh, jauh sebelum dimana gua berpikir hidup gua sia-sia.”
“ Terima kasih ya, kata-kata loe membuat gua senang hehehe, jadi GR neh.”
Angel berkata hidupnya hanya dikelilingi oleh orang-orang yang merasa semua bisa dilakukan dengan uang, tapi dia merasa saat bersama gua, dia bisa merasa uang bukan segalanya, dia merasa bagaimana dia mengerti kehidupan itu diatur dengan semangat dan kejujuran. Sejak saat itu, kita jadian. Kita selalu berdua walaupun Cuma sebulan lamanya, banyak hal yang kita lakukan, tapi sayangnya suatu hari saat kita lagi berdua, seorang sanak saudara Angel melaporkan ke orang tuanya tentang hubungan kita. Gua pun sebenarnya tau, Angel merahasiakan hubungan gua sama dia ke bonyoknya.
Bonyoknya marah besar, dan berkata ke Angel.
“ Kamu boleh pacaran sama siapa saja temen-temen kamu yang kamu kenal, tapi jangan sama cowok item itu, itu ga ada dalam adat keluarga kita”
Tapi Angel bersih keras bilang kalau dia mencintai gua dan memperjuangan hubungan kita. Gua sama sekali ga tau masalah dia dengan keluarga, hingga suatu hari gua berpikir ada yang lucu dengan Angel. Dia sempat bilang kalau dia akan balik ke Amerika dalam dua hari kedepan. Gua pikir malam terakhir sebelum dia pergi, gua pengen ngajak makan malam. tapi dia uda ngajak duluan untuk malam malam. kita ada ditempat paling romantis di pantai mutiara. Angel terduduk dengan cantiknya, api lilin menerangi wajahnya diantara kegelapan malam.
“ Kalau gua ke Amerika nanti, gua mau loe ga usah nunggu gua ya?”
“ Hah, kenapa gitu?” Tanya gua sedih.
“ Ya, jangan nunggu gua ya, gua ga tau kapan balik. Nanti kamu sedih nunggunya.”
“ Lah jaman kan uda maju, bisa pake facebook, atau chating segala macem, kan bisa tetap berhubungan Ngel”
Angel terdiam. Dia menyerahkan buku diary yang gua kasih ke dia.
“ Kok dibalikin?” Tanya gua.
“ Ini gua tulis semua sejak loe kasih ke gua sebagai kado, tapi rasanya ga mungkin gua bawa ke Amerika, karena lebih baik loe simpan, untuk kenang-kenangan.”
“ Tapi ini kan gua kasih untuk loe..”
Angel tidak bicara, dia memaksa gua untuk ambil lagi buku diary yang terpaksa gua ambil. Gua tau, dia ingin putusin gua secara halus dengan cara seperti ini, salah gua sejak awal maksa menjadi pacar dia yang pasti akan pergi dalam hidup gua suatu saat. Malam itu, walaupun dengan suasana ga enak hati, kita akhirnya melewatkan malam terakhir dalam hidup kita bersama. Gua masih ingat satu kalimat terakhir dari dia untuk gua.
“ Bima, dunia ini tidak pernah adil ya, ada yang terakhir kaya dan bahagia, tapi ia merasa kesepian. Ada yang terakhir miskin dan sedih, tapi dia ga merasa kesepian. Ada gak cara untuk membuat semua merasa adil dan sempurna.”
“ Angel, ga ada yang abadi di dunia ini, semua bisa merasa sedih, senang, kapan saja. Bersyukurlah atas hidup ini, seperti gua bersyukur bisa mengenal loe dan menjadi bagian dalam hidup loe.”
Angel menangis mendengar gua bicara begitu, sama seperti dia pertama kali menangis saat gua mengenal dia di halte busway. Malam itu kita berpisah dan gua tau ini malam terakhir kita, dia mencium gua untuk pertama kalinya sejak kita berhubungan, gua menahan kesedihan dalam hati dan berpikir
bima sastranegara
bima sastranegara
inilah saat terakhir kita. Saat pulang gua membaca semua isi diary dia, dari situlah gua tau kenapa angel kembali ke Indonesia. Dia kembali karena baru saja kehilangan kekasihnya dalam sebuah kecelakaan di amerika, gua jadi tau kenapa dia benci macet. Karena macet itu lah yang membuat pacarnya tertabrak saat berjalan karena mobil yang mencoba cari jalan untuk keluar dari macet.
Kekasihnya yang telah tiada, lucunya lagi memiliki nama yang sama dengan gua, Bima, sebuah kebetulan yang unik. Angel menyukai malam karena dia selalu ingin tidur di siang hari agar bisa melupakan saat-saat bersama kekasihnya dalam benak dia, lucunya lagi kalau malam dia merasa lebih tenang karena saat itulah dia merasa bisa hidup tanpa pernah melihat kejadian tragis tewasnya suami dia karena siang hari. dari situ gua tau, mungkin gua hanya sebuah kebetulan dalam takdir dia. Kebetulan dimana gua bernama sama, kebetulan karena gua hadir dalam hidup dia saat dia kosong.
Mungkin dia ga pernah cinta gua karena kita berbeda dalam segala hal, 3 tahun lamanya kisah itu berakhir dan kini gua sudah menggapai mimpi gua menjadi seorang presenter di sebuah tayangan telivisi, tapi bayangan Angel terus selalu ada dalam hidup gua. Suatu siang, gua harus membawa berita acara tentang kilas luar negeri. Gua harus membacakan berita tentang sesuatu yang tak gua inginkan dan baru menyadari di akhir berita kalau berita itu adalah tentang Angel.
“ Seorang warga negara Indonesia yang berada di Amerika, ditemukan tewas karena menyelamatkan seorang anak dari topan Katrina, tubuhnya terhantam sebuah tembok beton yang runtuh. “
Gua terdiam ketika wajah foto perempuan penyalamat hidup itu muncul, sosok foto itu ga asing untuk gua. Dia adalah Angel. Gua ingin menangis ketika melihat isi berita itu, tim produsen terdiam melihat gua kebingungan, akhirnya gua selesaikan tugas membaca berita itu dan menangis di akhir acara,
Angel, nama dia sebenarnya bukanlah Angel. Tapi dia merasa dirinya lebih suka disebut Angel, karena sebenarnya hidupnya telah hilang sejak kepergian kekasihnya, kini semoga saja mereka dipertemukan kembali, dan kepergiannya seperti seorang pahlawan yang tidak pernah dinilai dengan uang. Seperti kata dia ke gua, uang bukan segalanya dalam hidup.
Dan gua beruntung mengenalnya walaupun sadar, dia tidak pernah sesungguhnya menjadikan gua kekasih dia, tapi bagi gua dia adalah kekasih gua yang abadi.

Jangan Tangisi Apa yang Bukan Milikmu

Dalam perjalanan hidup ini, seringkali kita merasa kecewa. Kecewaaa sekali. Sesuatu yang luput dari genggaman, keinginan yang tidak tercapai. Kenyataan hidup yang tidak sesuai harapan. Kita menghadapi begitu banyak kehendak Allah yang tidak kita pahami.
Dan sungguh beruntung, andai dalam saat-saat terguncangnya jiwa, masih ada setitik cahaya dalam kalbu untuk merenungi kebenaran. Masih ada kekuatan untuk melangkahkan kaki ke majelis-majelis ilmu, majelis-majelis dzikir, yang Alhamdulillah mennghantarkan kita pada ketentraman jiwa.

Menjalani hidup di dunia, ibarat berada di belantara luas. Tempat kita mengejar berbagai keinginan. Dan memang manusia diciptakan memiliki kehendak, mempunyai keinginan yang begitu beragam. Tetapi tidak tiap yang kita inginkan menjadi kenyataan, tidak setiap yang kita mau dapat tercapai.
Dan tidak mudah menyadari bahwa apa yang BUKAN menjadi hak kita tak perlu kita tangisi. Banyak dari kita yang tidak sadar bahwa hidup ini TIDAK punya satu hukum:harus sukses, harus bahagia atau harus-harus yang lain. Betapa banyak orang yang sukses tetapi lupa bahwa sejatinya itu semua pemberian Allah hingga membuatnya bersikap sombong dan sewenang-wenang.
Begitupula kegagalan, sering tidak dihadapi dengan benar. Padahal dimensi TAUHID dari kegagalan adalah Allah tidak berkehendak itu terjadi. Padahal hakekat kegagalan adalah tidak tercapai apa yang memang bukan hak kita. Apa yang menjadi jatah kita, entah ezeki, jabatan, kedudukan PASTI akan Allah sampaikan. Tetapi apa yang bukan milik kita, meski nyaris menghampiri, meski telah mati-matian kita usahakan, tidak akan dapat kita miliki.
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhilmahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (Al-Hadid; 22-23)
Demikian juga bagi yang sedang galau terhadap jodoh. Terkadang kita tak sadar mendikte Allah tentang jodoh kita, (Bukannya meminta yang terbaik dalam istikharah), kita meminta kepada Allah: pokoknya harus dia Ya Allah,…dengan dia, karena aku sangat mencintainya.
Seakan jadi kitalah yang menentukan segalanya, kita meminta dengan paksa. Dan akhirnya, jikalau Allah mengabulkan, tak selamanya itu menjadi baik. Bisa jadi Allah mengabulkannya dengan kemarahan,….maka wahai jiwa yang gundah gulana,….dengarkanlah ini dari Allah,…
“Boleh jadi kalian membenci sesuatu , padahal ia amat baik bagi kalian. Dan boleh jadi kalian mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian. Allah Maha mengetahui sedang kalian tidak mengetahui. (Al-Baqarah ;216)
Maka setelah ini, wahai jiwa, jangan kau hanyut dalam nestapa berkepanjangan terhadap apa-apa yang luput darimu. Setelah ini harus benar-benar dipikirkan, bahwa apa-apa yang kita rasa perlu di dunia ini, harus benar-benar kita kejar bila ada relevansinya dengan harapan akan bahagia di akhirat. Karena seorang mukmin tidak hidup untuk dunia, tetapi menjadikan dunia untuk mencari hidup yang sesungguhnya: hidup di akhirat kelak! Maka sudahlah, JANGAN KAU TANGISI APA YANG BUKAN MILIKMU.

Pertanyaan Keenam

Seorang remaja melamar pekerjaan sebagai pengantar barang di sebuah toko. Setelah berbasa-basi sedikit, ia mengajukan pertanyaan ke pemilik toko mengenai gaji, waktu kerja, jam istirahat, hari libur, dan asuransi kesehatan.... Sampai akhirnya ia mengajukan pertanyaan yang keenam.


“Apakah ada sepeda yang bisa digunakan untuk tugas mengantar barang?”

Pemilik toko menjawab dengan antusias, “Wah, kami tidak menyediakan sepeda, tetapi…..” Sebelum pemilik toko menyelesaikan jawabannya, remaja itu sudah permisi pergi karena mendengar tak ada sepeda. Katanya, “Kalau begitu saya tidak jadi melamar pekerjaan ini.”

Dua jam kemudian, remaja lain datang melamar. Setelah tahu jenis pekerjaan yang ditawarkan, si anak pun setuju untuk mulai bekerja di sana. Pemilik toko bertanya keheranan, “Apakah kamu tak mau tahu dulu berapa gajimu di sini?”

Remaja itu menjawab, “Saya lihat bapak orang bijaksana, pasti akan memberi gaji yang layak. Saya membutuhkan pekerjaan ini untuk membantu ibu saya. Bisa mengisi lowongan pekerjaan ini saja, saya sudah senang sekali.”

Pemilik toko senang melihat kesungguhan remaja tersebut. Lalu katanya, “Tadi ada remaja seusiamu yang melamar pekerjaan ini. Saat saya  sedang menjawab pertanyaan keenamnya, yaitu adakah sepeda yang disediakan untuk  pengantaran barang dan saya jawab tidak ada, dia langsung pergi.....”

Pemilik toko melanjutkan dengan senyum ramah, “Saya memang tidak menyediakan sepeda, tetapi ada sebuah motor baru untuk mengantarkan barang.”

Dalam bekerja, yang kita butuhkan bukan sekadar menuntut apa yang akan kita terima, tetapi harus dimulai dengan apa yang mampu kita beri. Sebenarnya, kita bekerja bukan untuk atasan atau bos, tetapi kita bekerja untuk diri kita sendiri sesuai tanggung jawab dan kepercayaan yang diberikan. Saya percaya, dengan sikap mental seperti itu, kemajuan karier akan terbangun secara mantap! Salam sukses, LuarBiasa!!

Rabu, 11 Desember 2013

Kisah Gadis Pemulung Yang Menjadi Dokter

Delapan belas tahun lalu adalah hari terberat yang pernah ada dalam hidup Anjali. Seorang anak gadis yang hidup dalam kemiskinan, tinggal di bantaran kali dengan rumah terbuat dari kardus harus rela melepaskan kepergian sang Ibu tercinta. Ia sangat mencintai Ibunya lebih dari apa pun, tak pernah sepatah kata pun ia membantah perintah Ibunya, baginya Ibu adalah jantung kehidupannya. Ibunya pun sangat mencintai nya lebih dari apa pun, terbukti dengan bagaimana Ibu Anjali berusaha
, bekerja siang malam mengelilingi kota memulung sampah, botol, dan kardus-kardus bekas yang akan di jual demi sesuap nasi dan menyekolahkan Anjali. Anjali merasa sangat berdosa besar jika harus melawan orang tua apalagi menyakiti hati Ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya dengan segala keterbatasan. Karena itu Ia berjanji pada dirinya tidakan pernah sedikit pun berani melawan dan menyakiti Ibunya yang sudah tua dan bungkuk.
Anjali tidak pernah malu jika sang Ibu mengantarnya ke sekolah dengan pakaian lusuh, kusut dan penuh tambalan, bahkan dengan penuh kebanggaan terlihat dari wajahnya karena ia masih memiliki seorang Ibu yang sangat mencintainya sejak ia menghirup udara dunia, walau Ayahnya telah pergi meninggalkannya ketika ia masih berumur dua tahun akibat kecelakaan. Demi membahagiakan Ibunya ia belajar sungguh-sungguh, ia pun selalu menjadi juara kelas bahkan sesekali juara umum. Baginya mungkin hanya dengan prestasi sekolah yang bisa membahagiakan Ibunya, hanya itu yang bisa ia berikan kepada sang Ibu, karena dengan itu juga ia sedikit mendapat keringanan dalam biaya sekolah. Kadang jika Ibunya sakit ia pergi keliling kota, memulung mencari botol dan kardus bekas di tempat pembuangan sampah, bahkan tak jarang ia terjerembab ke dalam tumpukan sampah karena tubuhnya SD nya yang masih kecil.
Sehabis sekolah menjaga sebuah toko sebagai uang tambahan membeli buku sekolah atau buku yang sangat ia inginkan. Baginya dengan berusaha dan bekerja keraslah keinginannya akan terwujud. Ia sangat beruntung memiliki orang tua yang peduli akan pendidikan anaknya, ia kadang sering menangis sendiri dalam malam gelap gulita sebelum azan subuh, ia selalu terpikirkan dengan anak-anak yang senasib dengannya yang hidup jauh di bawah garis kemiskinan namun hanya ia yang mampu sekolah. Ia pun kadang menyempatkan waktu mengajarkan kawan-kawan sekitar rumahnya pelajaran matematika tanpa dibayar sesen pun, dengan begitu ilmunya semakin melekat, berkah dan bermanfaat. Semua pernak-pernik hidupnya berjalan seperti biasa hingga suatu yang paling ia takutkan menimpanya.
Ya, sesuatu yang sangat ia takutkan adalah kehilangan satu-satunya orang tua yang sangat ia cintai, yang sangat ia sayangi. Baginya musibah terbesar dalam hidupnya adalah harus kehilangan Ibu di usianya yang masih muda, di saat ia akan menamatkan SD. Ia ingin sekali ibunya melihat ia menjadi siswa terbaik se-provinsi dengan nilai yang tinggi dan masuk sekolah menengah pertama favorit di Jakarta, karena pemda Jakarta memberikan bea siswa penuh bagi 10 orang yang mampu mendapat nilai penuh dalam UN, yaitu semua nilai 10. Dan itu tinggal menunggu beberapa hari lagi setelah pengumuman kelulusan Sekolah Dasar. Namun takdir berkata lain, seakan-akan menantang harapan serta keinginannya itu, yang bahkan berusaha menyurutkan dan menghancurkan semangat gadis kecil itu untuk sekolah dan melanjutkan ke SMP favorit. Karena satu-satunya alasan semala ini ia belajar sungguh-sungguh hanyalah untuk menyenangkan hati Ibunya sebagai balasan atas jasa-jasa Ibunya yang membanting tulang, berpeluh keringat, terbakar terik siang dan bungkuk akibat memulung dan membawa barang berat.
Ibunya meninggal bukanlah karena kecelakaan, serangan jantung atau kelaparan. Ibunya ternyata selama ini menyimpan rahasia pada Anjali. Ibunya selama ini menderita penyakit kanker serviks (kanker rahim) yang harapan untuk dapat disembuhkan sangat kecil bahkan bisa dikatakan mustahil karena 98% penderita penyakit ini berakhir dengan kematian. Ia mengetahui itu dari pembicaraan rahasia Ibu-ibu tetangganya bahwa Ibunya terkena penyakit kanker ketika ada tes kesehatan pos kesehatan keliling dari pemda Jakarta. Ia terpukul karena rumah sakit di daerahnya belum memiliki pengobatan yang canggih untuk mengobati penyakit yang mamatikan ini, walau pun sebenarnya bisa dikirim ke rumah sakit yang lebih besar jika ada uang. Dan lebih terpukul lagi karena ia sadar, ia bukanlah orang kaya yang bisa membayar segala macam pengobatan, ia juga sadar apalah arti nyawa seorang pemulung di mata para dokter dan pemerintah, hanya menghabiskan tenaga dan waktu serta uang pemerintah.
Gadis kecil ini menangis sejadi-jadinya di tengah malam setelah Ibunya dikuburkan di pemakaman orang-orang miskin yang sekedarnya. Ia limpahkan semua isi hati dan pikirannya pada Ilahi. Ia yang dulunya belajar dan sekolah semata untuk membahagiakan Ibunya, kini berubah akan belajar dan bekerja mati-matian demi meraih cita-citanya, yaitu menjadi seorang dokter oncologi, dokter ahli special kanker. Apa pun yang terjadi dia akan berusaha mati-matian demi menjadi dokter spesialis kanker yang akan menyembuhkan seluruh macam penyakit kanker dengan segala kemungkinan yang ada. Dan tidak hanya itu, ia pun berjanji akan menolong sukarela siapa pun orang yang terkena penyakit kanker, apakah mereka orang kaya atau miskin.
Janji-janji yang ia buat, yang ia sampaikan di tengah malam pada Tuhan pada umur 12 tahun kini terpenuhi. Anjali dulu gadis kecil yang miskin dan kumuh kini sudah menjadi gadis dewasa yang cantik, baik dan kaya raya namun sederhana. Ia telah mewujudkan cita-citanya atas izin Tuhan melewati ujian-ujian besar dalam hidupnya. Baginya pendidikan tidak hanya diperuntukkan orang kaya, siapa pun boleh bercita-cita. Di umurnya yang masih muda (27) Ia menjadi dokter spesialis kanker ternama di rumah sakit terbesar di Jakarta dan menjadi dosen tetap di Universitas terkenal di jakarta. Ia membangun yayasan sosial untuk anak-anak miskin dann terlantar. Dengan kerendahan hati, ia bersama teman-teman dan bawahannya melakukan pos kesehatan keliling gratis ke daerah-daerah yang kehidupannya sangat memprihatinkan. Ia mampu menyelesaikan sarjana kedokterannya di Universitas terkenal dan ternama di Jerman, bahkan menjadi wisudawan terbaik dan banyak rumah sakit besar di Jerman dan menawarkan dirinya. Tapi ia lebih memilih tanah air yang telah membesarkannya, tempat ia dibesarkan bersama Ibunda tercinta, tempat dimana banyak nyawa orang miskin yang terancam kematian tanpa pengobatan.

Bidadari Terakhir

Malam itu, seharusnya bukan jadi malam milik gua. Malam yang sesungguhnya bukanlah yang gua harapkan. Adit, temen kecil gua. Entah harus bagaimana gua mengatakan? Tiba-tiba ketika habis pulang dari hang out di kafe, mengarahkan motornya ke sebuah tempat yang mungkin baru dalam hidup gua. Tempat pelacuran, ya.. semua juga tau kalau daerah yang sedang gua injakkan kaki ini adalah daerah protistusi. Gua sempat protes sama Adit, kenapa tiba-tiba ngajak gua ke tempat kayak ginian. Umur gua kan masih 17 tahun dan baru aja dapat ktp resmi seumur-umur hidup gua.

Gua gak bisa ngelarang teman gua untuk menyalurkan apa yang dia inginkan walaupun harus dengan cara seperti ini. yang terbaik buat gua adalah tidak ikut dalam permainan dia. Akhirnya kita berdua memarkirkan motor di sebuah rumah. Banyak cewek-cewek cantik yang berdiri sambil menggoda. Adit masuk, dan gua memutuskan untuk tunggu di luar. Sesekali dia nanya ke gua,
“ yakin loe gak mau coba? Gua bayarin deh!”
“ ogah, gua masih tahan iman, loe aja sana! Jangan pakai lama! Entar kalau digrebek polisi, disangka gua lagi yang mau!”
“ iya-iya, anteng aja loe disana.. “
Dengan wajah cemburut dan tatapan beberapa perempuan gua seperti orang bego yang nunggu diluar sambil megangan helm gua. Adit uda memilih cewek yang harus jadi teman dia malam itu. Gua menunggu di luar dan tiba-tiba salah satu cewek di dalam rumah itu keluar sambil menghisap rokok. Dia ngeliat gua, lalu menawarkan rokok kepada gua.
“ Enggak makasih,  gua gak ngerokok “ kata gua menolak dengna harus.
“ Hah, jaman gini masih ada yang gak ngerokok.. aneh..” Tanya cewek itu dan gua hanya senyum-senyum.
Dia duduk disebelah gua, menatap mata gua dengan tajam sambil sesekali membuang asap rokok ke langit-langit atap.
“ Kok nunggu disini, ga ikutan aja sama temen kamu!”
“ Enggak , biarian aja si adit yang pengen,.. Cuma nemenin aja”
“ uda, loe sama gua aja mau? “
Gua memandang cewek disamping gua, sejujurnya dia cewek yang cantik, putih dan idaman gua. Tapi ketika dia menawarkan dirinya ke gua, tiba-tiba gua jadi ilfell. Kenapa cewek secantik ini harus menjadi seorang pelacur, dunia ini memang gak adil.
“ enggak mbak ,makasih”
“ uda maulah, gua kasih diskon.. “ tawar dia lagi.
“ beneran mbak, saya gak mau..” tolak gua dengan halus.
“ apes deh gua, daritadi gak ada yang mau ama gua..”
“ loh mbak kan cantik, kok ga ada yang mau..!”
“ ya nasib lah, namanya juga jualan, kadang laku, kadang kagak, malah gua lagi ada masalah lagi,,.”
Entah mengapa gua jadi merasa ingin tau masalah dia.
“ masalah apa mbak?” Tanya gua
“ umur loe berapa?” Tanya dia ke gua
“ masuk 17 tahun ini,., “
“ yailah, masih brondong, masih belum tau namanya dunia dewasa..” ledek dia.
“ kata siapa.. setiap orang punya masalah, gak mandang gede atau kecil umurnya..”
Dia melihat gua, mungkin dia merasa gua pinter merangkai kata-kata.
“kayanya loe bukan cowok brengsek ya.. beda sama cowok-cowok yang suka kesini Cuma pengen cari cewek buat kesenangan sesaat’
Gua tersenyum manyum dipuji dia.
“ Hehe, ga semua cowok brengsek kok mbak..
“ mungkin aja…  hm.. gua lagi butuh duit..” kata dia tiba-tiba.
Dalam hati gua, mungkin ini masalah klasik. Kalau ga butuh duit, buat apa dia kerja sebagai pelacur.
“ Maaf kalau boleh tau, duit buat apa ya?”
“ nasib jadi orang miskin, selalu kena masalah, nyokap gua tiba-tiba ada benjolan di perut, kemarin sempat dibawah ke puskemas, kata dokter sih tumor ringan.  Mesti cepat-cepat di operasi kata dokter, tapi ya tau sendiri Negara kita, apa-apa butuh duit. Ujung-ujungnya duit buat operasi. Makanya gua lagi sial, semingguan ini jarang dapat pelanggan. Apes..”
Entah mengapa, gua merasa, ada kejujuran dari apa yang cewek ini ngomongin. Dia gak seperti lagi sandiwara.
“ namanya mbak siapa?”
“ panggil gua Eva aja! Loe?”
“ Gua, Rasya.. “
Tiba-tiba kita terdiam, melihat wajahnya yang tampak sedih sehabis cerita kehidupan dia, gua merasa iba dan menawarkan dia setulus hati.
“ kalau eva emang butuh duit, gua ada, tapi gak banyak, kali-kali aja bisa bantuin nutupin kekurangan.”
Dia ngeliat gua.
“ loe kan masih 17tahun, mau dapat duit dari mana 1,5 juta kekurangang gue..”
“ oo, jadi kurangnya 1,5juta. Tenang aja Va, gua ada kok kalau segitu, tapi kalau sekarang.. gua ga bawa duitnya.. kalau besok gimana?”
Dia tertawa kecil.
“ gua sih uda biasa digombalin sama pelanggan. Tapi kalau digombalin berondong sih baru kali ini..” ledek dia.
“ sumpah gua ga bohong, gini aja, nomor hendphone loe berapa? Nanti besok gua telepon dan kasih duitnya, tapi jangan disini ya.. soalnya gua ga nyaman..”
“ terserah mau dimana, neh nomor gue..” kata dia sambil ngasih kertas dengan angka nomor telepon dia.
” inget loe, gua ini bukan orang baik. “
” gua juga bukan orang baik. tapi juga bukan orang jahat, gua dan loe hanya terlahir di dunia yang keduanya gak bisa kita hindari..”
Tiba-tiba adit selesai, dan dia langsung menuju gua. Sebelum adit ngajak gua pergi, gua pamitan sama eva. Dia tersenyum. Dari wajahnya gua tau, dia pasti berharap banget apa yang gua katakan ke dia itu benar. Walau sebenarnya gua sendiri ga punya duit sebanyak yang dia mau.  Duit yang gua punya Cuma ada 900 ribu dan masih kurang 600 ribu buat ngasih ke eva. Akhirnya gua mesti nunggu seminggu hingga terkumpul 1,5 juta. Bermodalkan duit yang sesungguhnya hasil uang jajan gua. Akhirnya gua nelepon dia.  Sebelum memastikan apa eva benar-benar sungguh-sungguh atau bohong, gua sempet survey ke psk sekitar tempat kerja eva dan hasilnya positif dia ga bohong makanya gua usahain duit terkumpul cepat.
Eva terkejut ketika gua nelepon dia, gua meminta janjian ketemu sama dia di kafe yang telah gua tentukan. Seumur-umur dalam hidup gua, baru kali ini gua beramal cukup besar untuk orang lain. Gua masukan duit itu dalam tas gua. Mungkin bonyok gua akan marah besar kalau tau duit jajan gua habis untuk dia. Tapi gua cukup beruntung terlahir dari keluarga yang mampu, jadi gua yakin. Bonyok gak akan tega biarin gua hidup tanpa duit sedikitpun andai gua bilang, gua butuh duit.
***
Eva muncul dengan pakaian yang lebih tertutup kebanding pertama kali gua lihat. Kita makan dan sesekali gua jelaskan kenapa gua baru hubungi dia dengan alasan sibuk ujian, padahal sesungguhya sibuk nabung untuk bantu dia. Eva mungkin gak pernah kepikiran kalau gua ngajak dia ketemu untuk bantu keuangan dia, dia lebih berpikir kalau gua ini ketemu dia sebagai seseorang yang membutuhkan dia seperti laki-laki lainnya.
Kita sempat jalan-jalan sebentar sampai akhirnya motor gua membawa dia ke pantai. Kebetulan mal di kota gua selalu dekat dengan pantai. Gua duduk disamping dia. Dia langsung menyodorkan pertanyaan.
“ sebenarnya , loe manggil gua untuk make gua? Atau temenin loe jalan sih?”
“ coba tebak?” Tanya gua.
“ dua-duanya juga ga masalah, gua uda lama gak jalan sama cowok. Terakhir pacaran juga apes. Dari sekian cowok yang nembak gua, Cuma dia yang gua terima. Ujung-ujungnya cowok emang brengsek. Cuma mau tidur sama gue.. makanya sejak sekarang gua mati rasa sama yang namanya cinta.. !”
“ loh kayaknya loe dendam banget ya sama cowok. Maaf loh kalau lancang, Cuma ngerasa gitu”
“ ngapain minta maaf, emang nasib gua kok. Terlahir sebagai cewek hina, miskin, keluarga berantakan. Lonte..” tiba-tiba eva nangis dengan kalimat terakhir itu.
“ loe nangis..” Tanya gua jadi ikut sedih.
“ lonte.. gua uda sering denger kalimat itu dari mulut orang lain buat gua, rasanya nyakitin banget.  Asal loe tau , kalau aja dunia ini lebih indah dari yang gua mau. Gua juga gak mau jadi lonte..  siapa sih di dunia ini yang mau jadi pelacur, lonte. Ini karena terpaksa. Masih ada adik sama keluarga yang butuh gua untuk bertahan hidup..”
“ eva.. jangan nangis dong. Tujuan gua kesini, Cuma pengen ngasih ini..” kata gua sambil ngasih duit ke dia.
“ gua emang masih berondong seperti yang loe bilang, tapi gua juga punya hati. Walau hidup gua cukup, tapi gua mengerti perasaan loe.. mungkin Tuhan Cuma lagi kasih ujian buat hidup loe. Kalau pun itu berat saat ini, gua harap bantuan dari gua, bisa bantu meringankan beban loe..”
“ loe.. kenapa sih mau bantu gua.. kan gua ini bukan siapa-siapa loe, bukan temen loe.  Bahkan bukan orang yang pantes kenal sama loe..” kata dia sambil menangis.
“ gua juga gak tau. Yang jelas, kita uda ditakdirkan buat jadi orang yang mengenal.. gua senang kok kenal sama loe. Sekarang pakai duit ini buat operasi nyokap loe ya,. Biar cepat sembuh dan loe bisa kerja yang lain.. bukan seperti sekarang..”
Dia terdiam sambil merenung.
“ kalau pun gua gak kerja kayak gini, gua juga uda pasti gak ada yang mau. Palingan laki-laki berengsek yang mau sama gua..”
“ kata siapa gak ada yang mau..”
“ ya kata gua lah.. mana ada sih yang mau sama bekas pelacur!! Bekas lonte…”
“ gua mau..”
Eva terdiam mendengar kalimat gua.
“ umur loe masih muda, belum tau yang namanya cinta.  Ya sudah, terima kasih buat bantuan loe. Kelak kalau gua ada duit. Gua akan balikin duit ini.. sekali lagi, terimakasih”
“ sama-sama eva..”
Selang beberapa hari, eva sempat sms dan memberi kabar ke gua kalau nyokapnya sukses dengan operasi dia. Kita jadi rutin saling sms dan telepon hingga akhirnya dia ngundang gua ke rumah dia untuk bertemu nyokap dia. Gua menerima tawaran dia sekaligus ingin tau apakah benar kalau nyokap dia habis dioperasi. Ketika gua sampai kerumah, nyokapnya berlinang air mata ngucapin terima kasih, gua bersyukur ternyata eva jujur apa adanya. Dan yang paling gua senang, dia bilang ke gua, kalau dia lagi cari kerjaan buat hidup sebagai orang bersih.
Saat itu, tanpa sepengetahuan eva. Bokap tirinya tiba-tiba minjem duit ke gua, dia bilang buat bayar utang. Karena gua gak enak nolak, akhirnya gua kasih duit ke bokapnya tanpa sepentahuan eva. Gua juga sering bantuin ngaterin eva untuk cari kerjaan yang baik. Sampai akhinya dia dapat kerjaan sementara. Selama ini, keluarga dia gak tau kalau eva kerja sebagai pelacur, eva berusaha nutupi dan akhirnya lembaran gelap itu terkubur dengan sendirinya.
Tanpa kita sadari, gua dan eva samakin dekat. Setelah pendekatan itu, akhirnya kita menjadi sepasang kekasih. Mungkin cinta itu memang buta ya, baru kali ini gua merasakan cinta yang begitu dalam dari seorang perempuan di usia gua yang masih muda. Ketika dulu gua punya cinta monyet. Gua gak pernah ngerasa sebahagia ini selain bersama eva.  Walaupun dia punya masa lalu kelam, cinta berhasil membuat gua menghapus semua pandangan buruk itu. Seminggu setelah jadian, dengang uang jajan yang gua kumpulin, gua membeli cincin yang sama untuk kita pakai sebagai lambang cinta. Buat eva mungkin ini aneh, tapi dia sadar, gua masih berondong dan pasti gaya pacarannya juga kayak sinetron di tv jadi dia maklumin.
Tapi sepanjang waktu kami pacaran, gua merasa eva semakin hari semakin kurus dan tubuhnya jadi lemes gitu, ketika gua Tanya ke dia, dia Cuma bilang kalau dia mungkin kecapean. Tapi sebenarnya ada hal yang gua takutkan dengan kondisi dia. Gua masih ingat, untuk memastikan kalau eva ga bohong pas bilang butuh duit, gua sempat kembali ke tempat pelacuran dia kerja, dan iseng-iseng gua ngobrol sama cewek disana tentang dia.
“ loe siapanya eva?”
“ temen aja mbak, kalau boleh tau, dia kan cantik, kok bisa ga ada pelanggan sih?”
“ nasib mas, eva kena penyakit sifilis( penyakit kelamin). Kayaknya banyak pelanggan yang uda tau dia itu kena penyakit gituan, makanya ga ada yang mau sama dia! Disini kan pesaingan ketat, ada yang bocorin gitu, makanya kasihan dia..”
“ kenapa ga berobat aja dia..?”
“ maunya sih gitu! Tapi nyokapnya kan sakit, jadi dia mati-matian cari duit buat nyokap dia dulu, baru nanti mikirin sembuhin penyakit dia.. “
“ kasihan ya..”
“ iya mas, susah hidup sekarang. Saya yang dulu anterin dia ke dokter aja jadi sedih kalau bayangin hidup dia..”
Dari apa yang teman dia bilang, gua jadi yakin kalau eva jadi kurus ini pasti karena penyakit dia dulu. Walau dia ga pernah mau cerita ke gua, mungkin karena dia takut. Kalau dia penyakitan maka gua akan ninggalin dia. Padahal gua gak pernah peduli dengan sakitnya dia. Sakit eva makin buruk sampai akhirnya dia ga kerja. Gua akhirnya nyamperin ke rumah, dan dia ga bisa bangun karena tiba-tiba tubuhnya jadi kayak lumpuh gitu.
Saat itu juga gua putuskan untuk bawa dia ke rumah sakit, dia sempat menolak.
“ Rasya, rumah sakit itu mahal, orang miskin kayak gua kalau sakit itu ga ada keadilan, jadi biarin aja gua minum obat biasa, nanti juga sembuh”
“ loe itu uda gak bisa bangun. Gak usah pikirin duit. Gua ada tabungan, yang penting sekarang kita ke rumah sakit.”
Dengan penuh kesedihan, akhirnya eva gak bisa nolak kemauan gua. Gua menggendong dia sampai ke rumah sakit, dia dirawat dan dokter mengatakan ke gua dengan berat hati kalau eva sudah kenapa sifilis akut dan seluruh tubuhnya uda terkontiminasi sama sel-sel neurosifilis yang kemungkinan sembuhnya kecil. Dengan penuh air mata gua memohon kepada dokter untuk sembuhin dia. Gua dan nyokap serta adiknya saling bergantian jaga dia. Saat itu lagi ujian akhir kelulusan sekolah, gua harus bertahan dalam dua hal. Konsetrasi ke ujian dan konsetrasi ke eva.
Mungkin kedua cobaan itu berat tapi akhirnya gua berhasil mengerjakan semua ujian yang datang silih berganti bersamaan dengan waktu gua menjaga eva. Eva semakin kritis. Dia gak banyak bicara lagi seperti sebelumnya. Sepertinya dia tau, hidup dia tidak akan lama lagi.  Dia nyerahin sebuah diary ke gua. Dimana disana dia bilang hanya boleh dibaca setelah tiba saatnya nanti.
“ jangan dibuka ya sampai nanti kalau gua uda ga bisa bangun lagi..”
“ kok loe ngomong gitu..”
“ Sya, mungkin.. selama ini gua gak pernah jujur tentang panyakit gua, tapi gua Cuma ga mau kalau loe tau gua punya penyakit ini, loe ninggalin gua. Ternyata gua salah, loe benar-benar hadiah paling indah dalam hidup ini yang dikasih Tuhan buat gua. Gua pikir.. Tuhan gak akan pernah ngasih kebahagiaan buat gua karena memang gua ga pantes. Ternyata gua salah, Tuhan itu adil. Dan keadilan itu dia tunjukkan lewat loe..”
“ jangan ngomong gitu eva.. gua yang harusnya bersyukur punya pacar seperti loe dalam hidup gua, loe benar-benar anugrah..loe harus kuat ya, kita sama-sama berjuang untuk kebahagiaan kita..”
Eva hanya menangis mendengar gua bicara begitu. Gua pun menangis. Entah mengapa, gua seperti merasa ini adalah ujung dari akhir kisah kami.
“ sya, gua mau minta tolong satu hal lagi sama loe. .boleh?”
“ ngomong aja eva, kita kan pacaran, terbuka aja..”
“ gua gak punya apa-apa untuk ngasih loe sebagai balasan atas kebaikan loe, tapi gua Cuma punya ini.. bisa loe ambil kalung ini dari leher gua, soalnya.. tangan gua uda gak bisa bergerak lagi..”
“ kenapa bicara begitu.?”
“plz.. ambill” dengan berat hati gua melepas kalung itu dan mengambilnya.
“ disimpan ya.. sama buku harian yang gua tulis itu..”
“ iya eva.. tadi kamu bilang mau minta tolong, kenapa gak dilanjutkan?”
“ kalau gua mati, tolong jangan kubur gua di sini, gua mau dikubur di tanah kelahiran gua.. bisa..”
Mendengar kalimat itu dari mulut dia. Hati gua hancur. Gua gak tau harus bagaiman mengungkapkan kata-kata yang pantas untuk membuat gua bangkit dan percaya kalau dia akan sembuh. Gua hanya bisa menangis dan mengiyakan permintaan dia. Karena ada ujian lagi di besok. Gua pamitan sama dia. Gua mencium kening dia dan dengan berat hati saat itulah gua merasa ini terakhir kalianya gua akan melihat dia.
Dengan penuh tangis, gua pulang dan berharap Tuhan sekali lagi memberikan keadilan untuk hidup dia. Besoknya gua ujian terakhir dan ketika gua ingin jenguk dia, gua melihat sudah banyak orang di kamar dia di rawat. Semua menangis dan disitulah gua tau, eva telah pergi untuk selamanya. Gua hanya bisa tertunduk lesuh dan menangis dalam hati. Berat rasanya harus melepas kebahagiaan sesaat yang ada dalam hidup gua. Permintaan terakhirnya untuk di makamkan di tanah kelahirannya gua lakukan sebagai tanda cinta terindah dalam hidup gua untuk dia.
Kini, gua menyadari bahwa. Hidup itu sesungguhnya tidak pernah memihak kepada siapapun di dunia ini. tapi hidup itu membuat kita hanya bisa memihak kepada satu hal, bertahan untuk hidup dengan segala cara apapun. Eva mungkin telah berjuang hidup dengan ketidakberpihakan hidup tapi ia berhasil membuktikan kepada gua kalau disaat akhir hidupnya, dia benar-benar merasakan keadilan hidup sesungguhnya. Dengan cinta dan kasih sayang murni tanpa air mata penderitaan. dia mampu mengubah dirinya yang dulu adalah makluk hina menjadi seorang bidadari , walaupun itu hanya di hati gua, tapi gua percaya kelak semua orang akan setuju dengan apa yang gua bilang kalau dia adalah bidadari terakhir yang hidup di dunia ini
Saat hanya bisa mengenangnya , hanya buku harian ini yang tersimpan dan membuat hati gua merasa mungkin jalan terbaik dalam hidup kita adalah seperti saat ini. 30-april 2010, itulah hari paling memilukan dalamn hidup gua dimana saat itulah gua memiliki kesempatan untuk membaca
tulisan terakhir eva untuk gua..
To : My Lovely …..
Dear,makasih kamu udah mau jadi pendamping aku
selama ini…makasih juga udah mau jadi malaikat
penyelamat untuk ibu aku…
Andaikan kamu tau aku punya penyakit gini,
aku yakin kamu pasti kecewa trus tinggalin
aku,yakin banget
makanya aku ngerahasiain
ini semua…maaf ya?
Dear,Kamu Laki-laki paling baik yang pernah aku temuin
,kamu mau terima aku apa adanya..
Aku perempuan kotor,miskin,keluarga semrawut,
tapi kamu tetep mau deket ma aku

Dear,andaikan aku udah gak hidup lagi di dunia
ini,kamu jangan sedih ya ? masih banyak perempuan
yang lebih baik dari aku..kamu orang baik,harus
punya pendamping yang baik juga :’)
Inget,jangan lagi datang-datang ke tempat kotor
gitu.setebal apapun iman kamu,pasti bisa
runtuh ama yang namanya perempuan.
Dear,walau dunia kita udah beda,aku tetep ada di
hati kamu kan?janji?aku akan slalu disamping
kamu,aku akan jaga kamu…….Maaf andai
slama ini aku&keluarga udah nyusahin kamu :*
Goodbye…….

Semoga kamu bahagia disana eva, aku selalu ada untuk kamu walau kita telah berbeda dalam dunia ini. dan percayalah loe adalah bidadari terakhir dalam hidup gua.