Senin, 18 Agustus 2014

Santri Badung VS Kiyai Jenius


Hasil gambar untuk santri badungPada sebuah majlis pengajian Aqiidah, tiba- tiba salah seorang murid yang terkenal badung, bandel, tapi pinter mengajukan sebuah pertanyaan yang membuat semua santri terperangah dan gerah:

“Pak kiyai, bolehkah aku bertanya?”
“Tentu saja boleh, apa pertanyaanmu?”
“Begini pak kiyai, saya ada 3 (tiga) pertanyaan, mohon penjelasannya”:
1.      Setan itu diciptakan dari api, nah kalau nanti dia masuk neraka, dia akan keenakan dong, karena api cocok bertemu dengan api. Pasti setan nggak akan sengsara di neraka.

2.      Apakah sebenarnya hakekat takdir itu?
3.      Apakah yang dilakukan Allah saat ini?
Para santri lain agak kaget atas ulah temannya yang terkenal bandel itu.
Namun pak kiyai berkata dengan penuh kesabaran terhadap pertanyaan yang agak berbau kurang ajar itu, seraya berkata:
“Baiklah, aku akan berikan satu jawaban saja untuk menjawab tiga pertanyaan kamu itu sekaligus. Bolehkan?”.
“Silahkan pak kiyai”.
Maka secara tiba- tiba sang kiyai bangkit dan menampar wajah sang murid.
Perbuatan sang kiyai itu sungguh tidak diduga oleh sang santri, juga para murid yang lainnya. Maka serentak proteslah dia:
“Lho, kok kiyai marah? Jangan marah dong kiyai, saya bertanya kan karena memang belum mengerti tentang suatu masalah? Kata pak kiyai kalau belum tahu tentang masalah harus berani bertanya?”
Pak kiyai menjelaskan:
“Tamparan itu kulakukan bukan karena aku marah, tapi itulah jawaban saya!”
“Maksudnya?” sang murid pun bertanya sambil terbengong- bengong.
“Begini: pipi kamu itu dibuat dari apa?”
“Daging pak kiyai”
“Kalau tangan saya?”
“Juga daging pak kiyai”.
“Sakit nggak saya tampar?”
“Sakit pak kiyai”
“Jadi daging ditampar pakai daging juga sakit kan? Begitu juga: Api ditampar pakai api juga akan sakit. Benar tidak? Jadi setan yang dari api, nanti tatkala disiksa pakai api, diapun akan menderita dan sengsara luar biasa”
Masuk akal juga, kata sang santri. Sekarang dia mulai memahami tindakan kiyainya yang jenius itu.
“Tentang masalah takdir, pernahkah terpikir olehmu atau olehku bahwa aku akan menampar wajahmu beberapa saat sebelum kejadian?”
“Nggak pernah terpikir pak kiyai”.
“Itulah hakekat takdir. Semuanya adalah hak prerogratif Allah. Tidak ada seorangpun yang yang tahu tentang apa yang sebenarnya akan terjadi secara pasti sebentar lagi, besok atau waktu yang akan datang, karena itu adalah rahasia Allah. Kita yakin bahwa manusia dan semua makhluq sudah di INSTALL dan di PROGRAM oleh Allah. Nah kewajiban kita sebagai manusia adalah BERUSAHA dan BERIKHTIYAR seraya BERDO’A, seraya meyakini bahwa sukses dan gagal itu adalah berjalan sesuai takdir Ilahi. Maka saat ia sukses ia tak akan sombong, dan pada saat gagal, ia tak akan pernah berputus asa untuk bangkit lagi”.
“Yang ketiga kiyai?” Sekarang sang murid menunggu penuh antusias terhadap penjelasan kiyainya.
“Tentang pertanyaanmu : Allah sekarang sedang apa,  ya.. itu,  Allah sedang mengatur dan memegang ubun- ubun setiap makhluk ciptaan Nya  agar mereka selalu berada dalam rencana takdirnya yang azaly. Buktinya kamu diatur oleh Allah mengajukan pertanyaan seperti itu agar aku dapat menamparmu sesuai takdir Nnya. Dan kamu pun melakukan itu semua sesuai Qodar Nya, akupun menampar kamu sesuai dengan rencana Nya. Paham?”
“Paham pak kiyai….terimakasih”.
Dasar kiyai jenius, wong menampar orang kok malah dapat ucapan terimakasih. Opo tumon?
Pengajian pun kemudian ditutup. Para santripun malam itu kemudian pulang ke pemondokannya masing- masing dengan hati puas seraya makin kagum pada kedalaman ilmu kiyainya.

Kain Kafan Kita Sedang Dirajut !!!

Hendaklah  kamu bertakwa kepada Allah disaat kamu lalai,

Dzat yang telah melimpahkan rizki kepadamu dari arah yang tidak kamu ketahui....


Bagaimana kamu takut miskin padahal Allah maha pemberi rizki,

Sungguh telah dianugerahi rizki burung dan ikan dilautan

Dan barang siapa yang menyangka bahwasanya rizki itu didapat dengan kekuatan

Sungguh tidak akan makan burung kecil bersama burung besar

Kamu tergelincir di dunia sedang kamu tidak menyadarinya
Jika gelap malam telah menyelimuti apakah kamu mengira bisa hidup sampai pagi?

Berapa banyak orang yang sehat meninggal tanpa sebab
Berapa banyak orang yang sakit parah bisa hidup bertahun tahun lamanya
Berapa banyak para pemuda sore dan pagi harinya tertawa gembira

Sedang kain kafannya di tempat lain sedang di rajut dan dia tidak menyadarinya
Maka barang siapa hidup seribu atau dua ribu tahun lamanya
Sungguh suatu hari nanti akan diantar keliang kuburnya

Cerpen : Ketika Orang Miskin Jatuh Cinta


Malam belum terlalu larut, jam di handphone baru menunjukkan pukul 20.00 WIB, namun suasana kampungku sudah sepi, apalagi tadi sore hujan deras semakin membuat orang-orang malas keluar rumah. Baru saja aku matikan lampu di ruang tamu, dibalik pintu seperti ada sesosok bayangan orang, saat kuintip dari lubang kunci memang ada sesosok manusia, dari lubang kecil itu aku masih bisa menangkap pakaian dan perawakan orang dibalik pintu. meski samar aku mulai mengenalinya, tanpa berpikir panjang lagi, segera aku buka pintu.


” kamu to slank? ngapain didepan pintu dari tadi, ayo masuk ! ” tak salah dugaanku dia memang faiz, tapi lebih suka dipanggil slank, dia penggemar group band slank.
” tak kira wis tidur sampeyan kang “. jawab slank sambil menggeser kursi tamu yang terbuat dari busa  milikku yang sudah bolong-bolong saking lamanya
” belumlah, masak kalong jam segini tidur? “
” mau minum apa ?” yang ditanya malah ngeloyor mauk ke ruang tengah dan membuka kulkas
” kulkasnya isinya cuma air putih doang, bikin kopi aja ya?”
” siap kang, tapi ada temennya kan?” slank mulai beraksi meracik kopi
” yo , ini tadi ada yang datang bawain sate kambing, lumayan kan hujan-hujan ada yang ngasih sate ” jawabku
” wah mantab kang . sip pokok men ” slank kian bersemangat
Begitulah malam itu kami menikmati kopi disanding dengan sate kambing, sambil diringi nyanyian kodok sawah yang bersahutan.
” kalau ada pisang goreng atau ubi rebus tambah gayeng yo kang?” suara slank disela-sela menikmati sate dan kopi
” nah itu ….. bagaimana kita bisa menikmati hidup kalau yang didepan mata tidak disyukuri malah mengharap yang nggak ada?”
” kan cuma seandainya kang? bukan nggrundel ” kilah slank
” ya benar, tapi kata pepatah ” bahagia adalah ketika kita menerima apa yang ada pada diriku tanpa membanding-bandingkan dengan yang lainnya “
” kalau ditangan kita sate ya jangan mikirin pisang goreng atau ubi goreng yang nggak ada, nanti kenikmatan sate ini tercemari dan berkurang, begitu maksudnya “.
” oooo… gitu ya? yo… yo… yo…. ” kebiasaan slank kalau sudah terpojok
” kang sebenarnya aku mau curhat iki ” suara slank tiba-tiba berubah serius
” waduh …. sepertinya omong tua ya? ” candaanku
” serius kang” slank rada cemberut mukanya
” piye …. piye …..??? aku mulai pasang wajah serius pula biar slank tidak semakin manyun
” begini kang ………
Slank mulai menceritakan problem yang sedang menimpanya, dia sudah 3 tahun menjalin hubungan dengan seorang wanita teman sekolahnya dulu, 2 tahun terakhir dia ditinggal bekerja ke luar negeri, dia berjanji habis masa kontrak 2 tahun dia akan pulang, ternyata dia nambah lagi 1 tahun. Dengan sabar dan setia slank menantikan kekasihnya pulang. Namun sudah 2 minggu terakhir menjelang kepulangannya dia didatangi kakak dari kekasihnya, memberitahukan supaya slank tidak usah mengharapkan adiknya lagi, karena sekarang dia sudah menikah dengan anak majikannya di luar negeri sana.
” ini dia titip amplop buat kamu faiz ” ucap kakak kekasihnya
” ini kang amplopnya, kang tahu apa isinya? uang 10 juta kang ” ucap slank dengan terbata-bata
” ada suratnya kan? ” tanyaku
” tak ada secuil pun, lewat kakaknya dia titip pesan, uang itu buat ganti pulsa selama 3 tahun aku sering menelponnya, kalau kurang jangan sungkan katanya ” suara slank semakin parau
Aku tidak berani berkata-kata lagi, aku biarkan slank menangis, setelah slank agak tenang, aku mencoba membesarkan hatinya ;
” sudahlah slank, itu sudah menjadi taqdir, dia memang bukan yang terbaik buat kamu, insya Allah akan diganti dengan yang lebih baik lagi “
” iya kang, aku tidak menyesali akhir kisah ini, tapi mengapa dia menusuk hatiku dengan uang, apa karena dia sekarang sudah berkelimang dengan harta, lantas diriku yang miskin ini dianggap sudah tidak punya harga diri dan perasaan? aku memang miskin tapi tidak pernah mengemis, aku sengaja terima uang ini, karena aku bernaksud mengembalikannya secara langsung “
” maksudmu?’
” aku akan mendaftar jadi TKI, dengan bekal alamat dari kakaknya aku akan cari dia, aku akan kembalikan uang ini, biar rasa penasaranku ini terbayarkan ” suara slank berubah tegar, gemetar suaranya mengisyaratkan amarah yang menggejolak didadanya.
Aku tidak mau meneruskan percakapan malam ini, karena slank masih terbawa emosi, aku pikir biarlah nanti dilain waktu aku akan mencoba membujuknya agar mengurungkan niatnya, tapi ternyata aku sudah terlambat, slank sudah berangkat ke negeri sakura. Lalu bagaimana kisah slank dinegeri sakura?
Note :
Itulah kehidupan, kita sering bersemangat ketika merajut mimpi masa depan yang penuh keindahan, namun kita lupa mempersiapkan diri untuk menerima kenyataan andai mimpi-mimpi indah itu berubah mimpi buruk, penulis ingat satu kisah, disuatu kota diadakan lomba balap mobil-mobilan, semua kontestan menjagokan mobil-mobilannya, ada yang made in japan,german, amrik, tap ada 1 anak yang hanya mempunyai mobil-mobilan dari kaleng-kaleng bekas.
Lomba pun segera dimulai, masing-masing peserta meletakkan mobil-mobilannya digaris start, sesaat sebelum lomba, anak-anak ini diminta berdo’a dulu. dengan tepuk tangan meriah lomba pun digelar, setelah menunggu beberapa waktu, tak ada yang menyangka, si anak dengan mobil-mobilan dari kaleng bekas keluar sebagai juara.
seorang dengan badan agak tambun yang menjadi ketua perlombaan itu menghampiri sang juara, sambil berbisik dia bertanya ;
” do’a apa yang kamu baca nak sehingga kamu menang?” tanya bos perlombaan
” saya berdo’a semoga saya tidak menagis kalau saya kalah nanti ” jawab anak itu dengan polos
Yag bertanya diam tanpa kata, terbayang dikepalanya , betapa kita semua sering berdo’a memninta pada Allah agar rival kita tersungkur supaya kita menang, jiwa kita dipersiapkan untuk menang. dan kita melupakan permohonan untuk diberi kekuatan kalau kita kalah dalam perlombaan hidup ini. maka ketika kita tidak mencapai garis finish sebagai pemenang, kecewa, frustasi dengan gampang bercokol di jiwa kita.

Senin, 04 Agustus 2014

Berbagi tidak membuat anda kekurangan


Tiga orang pemuda asal Amerika bernama Sam Pepper, Logan Paul dan Jake Paul tidak pernah menyangka bahwa video yang mereka buat mampu menyentuh hati dan menginspirasi jutaan pasang mata yang melihatnya. Dalam video tersebut terlihat seorang pemuda (Sam Pepper) berpura-pura menjadi gelandangan yang tidak mempunyai rumah.


Pemuda tersebut merasa kelaparan dan ia pun masuk ke dalam sebuah restoran pizza untuk meminta sepotong pizza dari orang-orang yang makan di sana. Namun tak satupun orang yang memberikan makanan tersebut kepadanya. Di lain tempat, dua orang pemuda yang sedang berjalan (Logan Paul dan Jack Paul) bertemu dengan seorang pria homeless yang hidup di jalanan dan memberinya sebuah kotak berisi satu loyang pizza.
Sementara pria tersebut menikmati makanannya dan tersisa beberapa potong, datanglah seorang pemuda (Sam Pepper) yang mengaku kelaparan dan sangat butuh untuk mengisi perutnya dengan makanan. Tanpa disangka, pria homeless tersebut mengizinkan Sam Pepper mengambil satu potong pizzanya lalu mengucapkan terimakasih.
 Sobat, terkadang orang yang kekurangan mampu memberi lebih, dan sebaliknya, orang yang berkelimpahan kadang sulit memberikan apa yang ia miliki kepada mereka yang membutuhkan. Satu hal yang dapat kita pelajari dari kisah tiga pemuda dan seorang gelandangan di video tersebut adalah, kita tak akan pernah kekurangan karena berbagi.
Justru dengan berbagi kita mengerti kekurangan orang lain, belajar untuk bermurah hati dan tidak mementingkan diri sendiri. Percayalah, rezeki Tuhan tidak akan pernah terhambat kepada orang-orang yang suka memberi dengan tulus hati. Dengan berbagi sesungguhnya kita sedang memberkati diri kita sendiri.

Saat si miskin berkata


Dalam sebuah cerita, ada seseorang yang sangat kaya raya, namun ada juga seseorang yang sangat-sangat miskin. Setiap kali, si miskin hanya menerima hinaan, cacian, juga perilaku sombong dari si kaya. Sebutlah Kwang, si miskin yang tidak pernah berhasil dalam karirnya, juga tidak pernah mampu mengendalikan emosinya. Setiap apapun yang membuatnya marah, ia hanya akan menyerang sia-sia. Sifat terburuknya adalah selalu menyerah sebelum mencoba, juga tidak memiliki mimpi dalam hidupnya.


Seo In, seorang pria kaya raya yang tiada lain adalah anak dari pimpinan tempat Kwang bekerja, seketika menghampiri Kwang yang baru saja tiba. “Kwang ! Lihat dirimu hari ini, sepertinya tidak lebih baik dari hari sebelumnya. Penampilanmu juga begitu berantakan, apa kau menggunakan kendaraan umum untuk bisa sampai kesini? Ah, kau juga gagal kan dalam pertandingan kemarin? Oh, orang sepertimu kenapa bisa menjadi pemain cadangan dalam klub ku? Kau bodoh, dan sekarang apa yang harus kulakukan saat melihatmu tak berdaya?”
“Tutup mulutmu ! Ini tidak ada hubungannya denganmu”. Merasa terhina, Kwang pun tidak berpikir panjang dan lalu melayangkan pukulannya tepat diatas rahang Seo In.
“Lihat tingkah lakumu ! Kau hanya bisa bermain dengan pukulan dan pada akhirnya berakhir di dalam sel. Seharusnya kau tahu, bahwa uangku bisa saja menghancurkanmu”. Ucap Seo In yang tengah meminta pihak kepolisian untuk memberikan hukuman kepada Kwang.
Ini tidak hanya terjadi sekali, namun sudah sering kali. Bahkan pihak kepolisian sudah benar-benar dibuat bosan dengan kejadian ini.
Hari ini, Kwang terbebas setelah satu minggu penahanan. Dalam hatinya, ingin sekali ia membalaskan dendam kepada Seo In.
“Kwang ! Kau sudah bebas? Mengapa tidak memberitahuku sehingga aku bisa menjemputmu dengan mobil mewahku”.
“Tutup mulutmu ! Untuk kali ini, aku tidak akan memukulmu, tapi aku akan membuat kesepakatan denganmu. Benar, bahwa aku miskin dan aku tidak berharga. Bahkan aku tidak punya satu hal pun untuk ku sombongkan padamu. Dan sekarang, mintalah sesuatu yang bisa kulakukan untuk membuatmu berhenti menghinaku. Akan kulakukan, apapun itu !”.
Dengan wajah yang tidak pernah sekalipun tersenyum, Seo In lalu berkata, “buatlah aku tertawa”.
Kwang pun berpikir siang dan malam, “apa yang harus kulakukan? Ah, bodohnya aku, kenapa aku harus berkata seperti itu padanya. Seharusnya biarkan saja dia menghinaku. Atau lebih baik jika aku menjauh darinya. Tidak lagi bekerja dengannya dan tidak lagi satu klub olahraga bersamanya. Ah, bodoh !”
Hari demi hari berlalu, selama itu, Kwang sudah mencoba berbagai hal untuk membuat Seo In tertawa. Namun sia-sia. Seo In seperti manusia yang sudah terkunci urat tertawanya.
Tiba suatu hari dimana semua orang berkumpul, tak terkecuali Seo In. Kwang pun menghampiri dan lalu berkata, “Mulai saat ini, aku tidak akan lagi muncul dihadapanmu. Tidak akan lagi menjadi rekan kerjamu, tidak akan juga menjadi pemain cadangan dalam klubmu. Tapi ada satu hal yang ingin ku ketahui sebelum aku benar-benar pergi. Apakah ada dalam diriku yang pernah membuatmu terluka? Apa ada dalam diriku yang pernah membuatmu iri? Dan apakah ada dalam diriku yang pernah membuatmu merasa terhina? Kalaupun ada, itu aku ! Aku terluka saat mendengarmu berkata bahwa uangmu bahkan bisa menghancurkanku. Kau tahu, bagaimana sulitnya aku mencari uang? Dan kau gunakan uangmu hanya untuk menghancurkanku? Aku iri padamu, jelas iri, saat kau berkata kau akan menjemputku dengan mobil mewahmu. Kau tahu, biarpun aku menaiki kendaraan umum, aku masih sangat bahagia. Dan aku terhina oleh semua sikapmu yang membiarkan semua usahaku nampak sia-sia. Jika aku tidak bisa membuatmu tertawa, bukankah lebih baik aku pergi ?”.
Sahabatku, kita tidak akan pernah tahu, seperti apa orang yang kita hadapi. Bahkan seseorang yang terlihat menakutkan, justru memiliki kebaikan yang lebih dari sekedar orang baik. Jadi, jangan pernah memperlakukan seseorang sebagaimana kasta yang dia miliki. Karena kita tidak tahu, bahkan mungkin semut pun bisa sangat mematikan.

Minggu, 03 Agustus 2014

Kisah nyata: Nabrak polisi dapat jodoh

Hasil gambar untuk jodohBismillahir-Rahmaanir-Rahim … Aku tak tahu, apakah ini kesialanku atau keberuntunganku. Satu yang kutahu, inilah jalan yang diberikan Allah untuk bertemu jodohku. Meski awalnya, aku merasa sial karena kecelakaan itu dan aku harus mengganti rugi tidak sedikit. Toh akhirnya justru kesialanku itu membawaku ketemu jodoh.
Ceritanya begini, secara tak sengaja aku menabrak seorang polisi sepulang kuliah. Tak kusangka “motor butut”-ku bisa merusak total motornya yang bernilai puluhan juta. Perasaan, mataku sudah fokus ke jalan, tak jelalatan kemana-mana. Doa juga sudah kubaca saat aku menyalakan mesin motor di parkiran I kampus.
Memang sudah apes dan inilah yang dinamakan takdir. Nggak diminta dan meski sudah hati-hati eh… nabrak juga, … polisi lagi.

Aku dan motorku sempat juga jungkir balik, Alhamdulillah lukaku tak seberapa parah, meski jidatku sempat berdarah-darah dan tanganku terkilir, serta luka lecet hamper diseluruh tubuh. Meski tak sampai membuatku pingsan, aku harus merasakan mondok tiga hari di rumah sakit.
Sementara polisi yang kutabrak tak separah aku. Tapi justru motornya yang parah, sempat aku ciut nyali saat temen-temen polisi dan orang-orang mengerumuniku. Di TKP teman-teman polisi itu justru yang marah-marah dan bersikap agak keras padaku, tapi mas polisi itu justru minta teman-temannya bersikap baik dan sabar padaku.
“Sudah, nggak papa namanya juga nggak sengaja, memang ada orang mau nabrak atau ditabrak? Jangan kasarlah aku baik saja kok. Kayaknya motor yang kena, nanti kan bisa diselesaikan baik-baik”.
Aku dibuat kagum bahkan polisi yang kutabrak itu berbaik hati mengantarku ke rumah sakit dan mengabari keluarga dirumah. Selama tiga hari itu dia juga menyempatkan diri menjengukku di rumah sakit. Kami jadi akrab karenanya.
Nah, setelah keluar dari rumah sakit aku mulai disibukkan urusan ganti rugi onderdil motor senilai puluhan juta itu. Ganti rantai saja nilainya jutaan rupiah, itu pun belum spare part lain.
Makanya hampir seluruh tabungan hasil kerja sampinganku ludes semua. Tapi aku memang harus bertanggungjawab bukan? Aku tak mau menyusahkan orangtua soal ganti rugi, hingga aku bilang ke mas polisi cuma bisa mencicil sedikit demi sedikit.
Seperti biasa, kali ini aku ke rumah mas polisi untuk mencicil ganti rugi. Ini keempat kalinya aku kesana. Sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih dia menerima “setoranku”. Dan seperti biasa pula kami ngobrol sejenak. Tak kusangka dia tiba-tiba bertanya, “sudah ada gambaran nikah belum?” tanyanya padaku sambil mesem-mesem.
“Ya kadang pingin juga mas, kerja kecil-kecilan insya Allah sudah ada, pinginnya nggak nunda-nunda, tapi jodohnya belum ada”. Jawabku sambil cengar-cengir.
“Mau sama adikku? Serius nih, orangnya pake jilbab gedhe kamu carinya kan yang kayak gitu”. Mas polisi bilang gitu mungkin karena celanaku yang “kayak orang kebanjiran” seperti temen-temen kampus yang suka meledekku.
“Bener kok, serius!” Ujarnya menegaskan.
Sore itu aku pulang dan berjanji memikirkan tawarannya. Setelah berkonsultasi dengan orang tua dua pekan kemudian kuberikan jawaban “Ya”. Tentu saja, akhwat dan keluarganya sudah tahu keadaanku yang perbedaannya ibarat langit dan bumi dengan mereka yang dari keluarga berada. Meski awalnya minder, sikap bapak akhwat yang begitu baik membuatku percaya diri, pesannya padaku singkat.
“Laki-laki yang bisa menjadi imam dan tanggungjawab, satu lagi jaga anak perempuan saya, dia sepenuhnya saya titipkan ke kamu”.
Meski diberi tanggungjawab yang tak ringan, hatiku serasa diguyur es, sejuk…. Rasanya. Aku segera pulang ke awang-awang sepulang nazhar. Mas Har, si mas polisi yang kutabrak itu mencegatku, ia menyerahkan amplop tebal padaku.
“Ini uang yang kamu titipkan padaku, ini hadiahku tapi bener ya cepet jemput bidadarimu! Ia memukul pundakku ringan dan pergi tanpa memberiku kesempatan bertanya lagi.
Masya Allah, di rumah, begitu kubuka amplop ternyata isinya uang sesuai ganti rugi motor yang kuberikan kepada mas Har. Segera kuhubungi mas Har lewat telepon, tapi ia tertawa ringan.
“Aku sudah bilang, itu untuk calon adikku”.
Berkaca-kaca saat kututup telepon sambil tak henti-hentinya bersyukur. Sudah nabrak orang, dikasih adiknya, dipercaya orangtuanya, uang ganti ruginya masih dikembalikan padaku.
Semalaman aku tak bisa tidur entah karena senang atau bingung. Uang senilai hampir sepuluh juta itu, kuberikan sebagai mahar saat akad nikah buat istri. Tepat sebulan sebelum Ramadhan.
Kini kami sudah punya 2 momongan, insya Allah beberapa bulan lagi akan bertambah seorang lagi. Mas Har menikah 2 tahun kemudian, ia baru punya satu momongan, Alhamdulillah kami semua hidup bahagia. Mas har dan istrinya juga mulai tertarik manhaj mulia ini. Dan itu menambah kebahagiaan kami.
Wallahua’lam bish Shawwab ….
Barakallahufikum ….
… Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci …

ISTRI SHOLEHAH YANG MENGGAIRAHKAN


Abu Thalhah adalah salah seorang sahabat Nabi yang amat beruntung karena kehidupan keluarganya yang sakinah. Isterinya yang bernama Rumaisah atau lebih dikenal dengan Ummu Sulaim bukan hanya cantik dan menggairahkan, tapi juga shalehah dan cerdas. dikaruniai seorang anak dari Allah swt melengkapi kebahagiaan keluarga ini.


Namun demikian, selalu kumpul di rumah untuk selalu menikmati kebahagiaan tidaklah mungkin. Seorang suami harus keluar dari rumah untuk mencari nafkah yang juga menjadi tanggungjawab dan bukti cintanya kepada keluarga. Bahkan dalam situasi yang mendesak ia tetap harus lakukan hal itu.


Suatu ketika anak semata wayang yang mereka cintai jatuh sakit,  sementara Abu Thalhah harus keluar rumah untuk mencari nafkah dan bila tidak keluar rumah, ia tidak mendapatkan apa yang menjadi kebutuhan sehari-hari. Karenanya, meskipun terasa berat ia tetap pergi untuk melaksanakan kewajibannya itu.

Ketika sore hari, anaknya yang sakit akhirnya meninggal dunia. Duka amat dalam dirasakan oleh Rumaisah, iapun mengucurkan air mata sampai terasa sudah habis bersama kesedihannya yang juga demikian. Hari sudah mendekati malam yang berarti suaminya segera pulang, IA TIDAK INGIN SUAMINYA PULANG YANG DALAM KEADAAN LELAH HARUS BERHADAPAN DENGAN KESEDIHAN YANG DALAM DAN TIDAK MENYENANGKAN.


Untuk menyambut suaminya pulang, Ummu Sulaim memindahkan jenazah anak yang dicintainya itu ke kamar khusus, iapun menutupi wajahnya yang sedih dengan sedikit bersolek dan siap menyambut kepulangan suaminya malam itu dengan wajah gembira seperti tidak ada masalah.

Kepulangan Abu Thalhah betul-betul disambut dengan gembira, saat ia bertanya tentang keadaan anaknya, iapun menjawab bahwa sang anak sedang beristirahat, bahkan lebih tenang dari biasanya. Abu Thalhah tentu merasa bersyukur. Makan malam yang lezat sudah dihidangkan oleh isteri yang amat dicintainya, bahkan sesudah makan malam selesai, sang isteri dengan wajahnya yang bersinar, bahkan nampak lebih cantik dari biasanya mengajaknya bercengkrama dengannya sehingga Abu Thalhah melakukan hubungan suami isteri dengan kepuasan tersendiri.

Setelah sang suami isteri ini merengkuh kepuasan dan kebahagiaan malam itu, Rumaisah tiba-tiba bertanya kepada suaminya: “Bila ada orang menitipkan sesuatu kepada kita, sesuatu itu milik kita atau bukan, padahal kita amat menyenangi sesuatu itu?”.
 “Tentu bukan”, jawab Abu Thalhah.
Rumaisah melanjutkan pertanyaannya: “Bila sesuatu itu diambil oleh yang punya bagaimana?”.
“Tidak apa-apa, hak orang itu untuk mengambilnya karena memang hal itu miliknya”, jawab sang suami.
“Bila sesuatu itu adalah anak kita, anak itu milik kita atau titipan?”. Tanya Rumaisah lagi.
Sampai disini, Abu Thalhah merasa ada yang aneh dengan pertanyaan isterinya itu. Karenanya ia bertanya: “Apa sebenarnya maksud pertanyaanmu itu?”.
“Kalau kita menyadari bahwa anak kita adalah titipan Allah swt, maka Allah swt telah mengambilnya, ia telah wafat menjelang maghrib tadi”, jawab Rumaisah.

Meskipun kalimat itu diucapkan sedemikian pelan dan hati-hati, hal itu telah menggetarkan hati Abu Thalhah. Menyadari kematian sang anak yang dicintai membuatnya menjadi diam dan sedih serta termenung memikirkan kejadian  hari itu. BILA SANG ISTERI BERKATA APA ADANYA SEJAK KEPULANGANNYA, TIDAK MUNGKIN IA HARUS BERSENANG-SENANG DENGAN MAKAN YANG LEZAT DAN MELAKUKAN HUBUNGAN SUAMI ISTERI.

NAMUN, IA MENJADI SEMAKIN CINTA DAN BANGGA KEPADA SANG ISTERI ATAS KECERDASAN HATI DAN PIKIRANNYA ATAS PERISTIWA INI. “ISTERIKU TERNYATA TELAH BERBUAT SESUATU YANG PATUT DITELADANI”, PIKIRNYA MESKIPUN IA HAMPIR TIDAK PERCAYA DENGAN APA YANG DIALAMINYA.

Setelah jenazah sang anak diurus dengan baik. Abu Thalhah merenung atas kekagumannya kepada sang isteri, ia merasa sebagai seorang suami amat tertinggal dengan isterinya dalam menyikapi sesuatu. Ia ingin berusaha untuk menjadi lebih baik dari isterinya. Maka iapun datang kepada Rasulullah saw dan menceritakan peristiwa yang sesungguhnya terjadi.

Mendengar cerita Abu Thalhah, Rasulullah saw nampak sangat antusias, wajahnya nampak begitu gembira dengan cerita tentang keadaan umatnya yang mengagumkan. Karenanya sesudah mendengar cerita itu, Rasulullah saw mendo’akan agar Allah swt memberkati malam-malam berikutnya suami isteri yang tabah itu.

Kejadian ini menjadi cerita yang tersebar luas di Madinah, para suami isteri ingin memiliki ketabahan, kesabaran dan kesungguhan seperti Abu Thalhah dan Rumaisah ini. Harapan Rasulullah saw ternyata menjadi kenyataan. Suami isteri yang mulia ini dikarunia anak-anak yang tidak hanya satu, tapi tujuh anak yang mudah dididik dan dibina menjadi anak yang shaleh, bahkan anak-anak inipun menjadi penghafal Al-Qur’an yang mengagumkan.

Sahabat wanita… tak ada satupun laki-laki yang tidak menginginkan istrinya atau calon istrinya seperti Rumaisah, CINTA seorang lelaki tak akan perpaling sedikitpun jika Istrinya atau calon istrinya seperti Rumaisah, kecuali Lelaki itu BODOH. Jadilah Rumaisah kita akan serasa tinggal di SORGA sebelum SORGA