Disuatu desa terpencil
dipinggiran kota, tinggalah
seorang anak laki-laki
bersama 6 saudaranya,
kehidupan keluarga ini
terlihat sangatlah sederhana, orang tuanya hanya seorang
buruh tani, kakak dan
adiknya semua masih
bersekolah sementara ibunya
hanya seorang ibu rumah
tangga yang hanya mengurusi keluarga. Untuk membantu
keuangan keluarganya setiap
hari selepas pulang sekolah , ia
pergi kepasar untuk berjualan
asongan. Pada suatu hari saat anak ini
sedang menjajakan
dagangannya, tiba-tiba ia
melihat sebuah bungkusan
kertas koran yang cukup
besar , terjatuh dipinggir jalan, lalu diambilnya bungkusan
tersebut, kemudian
dibukanya bungkusan itu,
namun betapa kaget dan
terkejutnya ia, ternyata isi
bungkusan tersebut berisi uang dalam nominal besar. Tampak diraut wajahnya rasa
iba dan bukan kegembiraan, ia
tampak kebinggungan,
karena ia yakin uang ini pasti
ada yang memilikinya , pada
saat itu juga anak ini langsung berinisiatif untuk mencari
sipemilik bungkusan tersebut,
sambil mencari-cari
sipemiliknya, tiba-tiba
seorang ibu dengan ditemani
seorang satpam datang dengan berlinang air mata
menghampiri anak kecil itu ,
lalu ibu ini berkata “dek,
bungkusan itu milik ibu, isi
bungkusan itu adalah uang”. Uang untuk biaya rumah
sakit,karena anak ibu baru
saja mengalami kecelakan
korban tabrak lari, saat ini
anak ibu dalam keadaan kritis
dan harus cepat dioperasi karena terjadi pendarahan
otak, kalau tidak cepat
ditangani ibu khawatir jiwa
anak ibu tidak akan tertolong. Pagi ini ibu baru saja menjual
semua harta yang ibu miliki
untuk biaya rumah sakit, Ibu
sangat membutuhkan uang ini
untuk menyelamatkan jiwa
anak ibu. Lalu anak kecil tersebut
berkata,” benar bu, aku
sedang mencari pemilik
bungkusan ini, karena aku
yakin pemilik bungkusan ini
sangat membutuhkan. “Ini bu, milik ibu”. setelah itu anak
kecil tersebut langsung berlari
pulang , sesampai dirumah ia
ceritakan semua kejadian
yang baru saja dialami kepada
Ibu nya. Lalu ibunya berkata , “ Benar
anak ku “, kamu tidak boleh
mengambil barang milik
orang lain, walau pun itu
dijalanan , karena barang itu
bukan milik kita. Ibu sangat bangga pada mu nak, walau
pun kita miskin , namun
kamu KAYA dengan
KEBAIKAN dan KEJUJURAN. Untuk apa kita memiliki
kekayaan yang melimpah,
sementara kita harus
mengorbankan nyawa orang
lain . “Kamu sungguh anak
yang baik nak” , ibu sangat bersyukur mempunyai anak
seperti mu. Hari ini ibu percaya, kamu
sudah menyelamatkan satu
jiwa melalui kebaikan dan
kejujuran mu, kamu harus
jaga terus kejujuranmu ,
karena kejujuran dapat menyelamatkan banyak
orang dan kejujuran adalah
mata uang yang berlaku
dimana-mana . “Apa yang
bukan milik kita, pantang
untuk kita ambil”. (“Matamu adalah pelita
tubuhmu, Jika matamu baik,
teranglah seluruh tubuhmu,
tetapi jika matamu jahat,
gelaplah tubuhmu. Karena itu
perhatikanlah supaya terang yang ada padamu jangan
menjadi gelap. Jika seluruh
tubuhmu terang dan tidak ada
bagian yang gelap, maka
seluruhnya akan terang, sama
seperti apabila pelita menerangi engkau dengan
cahayanya.
Sabtu, 28 Juli 2012
Ciuman terakhir
Rapat Direksi baru saja
berakhir. Bob mulai bangkit
berdiri dan menyenggol meja
sehingga kopi tertumpah
keatas catatan-catatannya. “Waduhhh,memalukan sekali
aku ini, diusia tua kok tambah
ngaco..” Semua orang ramai tergelak
tertawa, lalu sebentar
kemudian, kami semua mulai
menceritakan Saat-saat yang
paling menyakitkan dimasa
lalu dulu. Gilirannya kini sampai pada
Frank yang duduk terdiam
mendengarkan kisah lain-
lainnya. “Ayolah Frank, sekarang
giliranmu. Cerita dong, apa
saat yang paling tak enak
bagimu dulu.” Frank tertawa,
mulailah ia berkisah masa
kecilnya. “Aku besar di San Pedro.
Ayahku seorang nelayan, dan
ia cinta amat pada lautan. Ia
punya kapalnya sendiri, meski
berat sekali mencari mata
pencaharian di laut. Ia kerja keras sekali dan akan tetap
tinggal di laut sampai ia
menangkap cukup ikan untuk
memberi makan keluarga.
Bukan cuma cukup buat
keluarga kami sendiri, tapi juga untuk ayah dan ibunya
dan saudara-saudara lainnya
yang masih di rumah.” Ia menatap kami dan berkata,
“Ahhh, seandainya kalian
sempat bertemu ayahku. Ia
sosoknya besar, orangnya
kuat dari menarik jala dan
memerangi lautan demi mencari ikan. Asal kau dekat
saja padanya, wuih, bau dia
sudah mirip kayak lautan. Ia
gemar memakai mantel cuaca-
buruk tuanya yang terbuat
dari kanvas dan pakaian kerja dengan kain penutup
dadanya. Topi penahan
hujannya sering ia tarik turun
menutupi alisnya. Tak perduli
berapapun ibuku mencucinya,
tetap akan tercium bau lautan dan amisnya ikan.” Suara Frank mulai merendah
sedikit. “Kalau cuaca buruk, ia akan
antar aku ke sekolah. Ia
punya mobil truk tua yang
dipakainya dalam usaha
perikanan ini. Truk itu bahkan
lebih tua umurnya daripada ayahku. Bunyinya meraung
dan berdentangan sepanjang
perjalanan. Sejak beberapa
blok jauhnya kau sudah bisa
mendengarnya. Saat ayah
bawa truk menuju sekolah, aku merasa menciut ke dalam
tempat duduk, berharap
semoga bisa menghilang.
Hampir separuh perjalanan,
ayah sering mengerem
mendadak dan lalu truk tua ini akan menyemburkan
suatu kepulan awan asap. Ia
akan selalu berhenti di depan
sekali, dan kelihatannya setiap
orang akan berdiri
mengelilingi dan menonton. Lalu ayah akan
menyandarkan diri ke depan,
dan memberiku sebuah
ciuman besar pada pipiku dan
memujiku sebagai anak yang
baik. Aku merasa agak malu, begitu risih. Maklumlah, aku
sebagai anak umur dua-belas,
dan ayahku menyandarkan
diri kedepan dan menciumi
aku selamat tinggal!” Ia berhenti sejenak lalu
meneruskan, “Aku ingat hari
ketika kuputuskan aku
sebenarnya terlalu tua untuk
suatu kecupan selamat
tinggal. Waktu kami sampai kesekolah dan berhenti,
seperti biasanya ayah sudah
tersenyum lebar. Ia mulai
memiringkan badannya
kearahku, tetapi aku
mengangkat tangan dan berkata, ‘Jangan, ayah.’ Itu
pertama kali aku berkata
begitu padanya, dan wajah
ayah tampaknya begitu
terheran. Aku bilang, ‘Ayah, aku sudah
terlalu tua untuk ciuman
selamat tinggal. Sebetulnya sudah terlalu tua
bagi segala macam kecupan.’ Ayahku memandangiku
untuk saat yang lama sekali,
dan matanya mulai basah. Belum pernah kulihat dia
menangis sebelumnya. Ia
memutar kepalanya,
pandangannya menerawang
menembus kaca depan. ‘Kau
benar,’ katanya. ‘Kau sudah jadi pemuda
besar……seorang pria. Aku tak
akan menciumimu lagi.’” Wajah Frank berubah jadi
aneh, dan air mata mulai
memenuhi kedua matanya,
ketika ia melanjutkan
kisahnya. “Tidak lama setelah
itu, ayah pergi melaut dan tidak pernah kembali lagi. Itu
terjadi pada suatu hari, ketika
sebagian besar armada kapal
nelayan merapat dipelabuhan,
tapi kapal ayah tidak.Ia
punya keluarga besar yang harus diberi makan. Kapalnya ditemukan terapung
dengan jala yang separuh
terangkat dan separuhnya lagi
masih ada dilaut.Pastilah ayah
tertimpa badai dan ia mencoba
menyelamatkan jala dan semua pengapung-
pengapungnya.” Aku mengawasi Frank dan
melihat air mata mengalir
menuruni pipinya. Frank menyambung lagi,
“Kawan-kawan, kalian tak
bisa bayangkan apa yang
akan kukorbankan sekedar
untuk mendapatkan lagi
sebuah ciuman pada pipiku….untuk merasakan
wajah tuanya yang
kasar……untuk mencium bau
air laut dan samudra
padanya…..untuk merasakan
tangan dan lengannya merangkul leherku. Ahh,
sekiranya saja aku jadi pria
dewasa saat itu. Kalau aku
seorang pria dewasa, aku
pastilah tidak akan pernah
memberi tahu ayahku bahwa aku terlalu tua ‘tuk sebuah
ciuman selamat tinggal.” Semoga kita tidak menjadi
terlalu tua untuk
menunjukkan cinta kasih
kita…..
berakhir. Bob mulai bangkit
berdiri dan menyenggol meja
sehingga kopi tertumpah
keatas catatan-catatannya. “Waduhhh,memalukan sekali
aku ini, diusia tua kok tambah
ngaco..” Semua orang ramai tergelak
tertawa, lalu sebentar
kemudian, kami semua mulai
menceritakan Saat-saat yang
paling menyakitkan dimasa
lalu dulu. Gilirannya kini sampai pada
Frank yang duduk terdiam
mendengarkan kisah lain-
lainnya. “Ayolah Frank, sekarang
giliranmu. Cerita dong, apa
saat yang paling tak enak
bagimu dulu.” Frank tertawa,
mulailah ia berkisah masa
kecilnya. “Aku besar di San Pedro.
Ayahku seorang nelayan, dan
ia cinta amat pada lautan. Ia
punya kapalnya sendiri, meski
berat sekali mencari mata
pencaharian di laut. Ia kerja keras sekali dan akan tetap
tinggal di laut sampai ia
menangkap cukup ikan untuk
memberi makan keluarga.
Bukan cuma cukup buat
keluarga kami sendiri, tapi juga untuk ayah dan ibunya
dan saudara-saudara lainnya
yang masih di rumah.” Ia menatap kami dan berkata,
“Ahhh, seandainya kalian
sempat bertemu ayahku. Ia
sosoknya besar, orangnya
kuat dari menarik jala dan
memerangi lautan demi mencari ikan. Asal kau dekat
saja padanya, wuih, bau dia
sudah mirip kayak lautan. Ia
gemar memakai mantel cuaca-
buruk tuanya yang terbuat
dari kanvas dan pakaian kerja dengan kain penutup
dadanya. Topi penahan
hujannya sering ia tarik turun
menutupi alisnya. Tak perduli
berapapun ibuku mencucinya,
tetap akan tercium bau lautan dan amisnya ikan.” Suara Frank mulai merendah
sedikit. “Kalau cuaca buruk, ia akan
antar aku ke sekolah. Ia
punya mobil truk tua yang
dipakainya dalam usaha
perikanan ini. Truk itu bahkan
lebih tua umurnya daripada ayahku. Bunyinya meraung
dan berdentangan sepanjang
perjalanan. Sejak beberapa
blok jauhnya kau sudah bisa
mendengarnya. Saat ayah
bawa truk menuju sekolah, aku merasa menciut ke dalam
tempat duduk, berharap
semoga bisa menghilang.
Hampir separuh perjalanan,
ayah sering mengerem
mendadak dan lalu truk tua ini akan menyemburkan
suatu kepulan awan asap. Ia
akan selalu berhenti di depan
sekali, dan kelihatannya setiap
orang akan berdiri
mengelilingi dan menonton. Lalu ayah akan
menyandarkan diri ke depan,
dan memberiku sebuah
ciuman besar pada pipiku dan
memujiku sebagai anak yang
baik. Aku merasa agak malu, begitu risih. Maklumlah, aku
sebagai anak umur dua-belas,
dan ayahku menyandarkan
diri kedepan dan menciumi
aku selamat tinggal!” Ia berhenti sejenak lalu
meneruskan, “Aku ingat hari
ketika kuputuskan aku
sebenarnya terlalu tua untuk
suatu kecupan selamat
tinggal. Waktu kami sampai kesekolah dan berhenti,
seperti biasanya ayah sudah
tersenyum lebar. Ia mulai
memiringkan badannya
kearahku, tetapi aku
mengangkat tangan dan berkata, ‘Jangan, ayah.’ Itu
pertama kali aku berkata
begitu padanya, dan wajah
ayah tampaknya begitu
terheran. Aku bilang, ‘Ayah, aku sudah
terlalu tua untuk ciuman
selamat tinggal. Sebetulnya sudah terlalu tua
bagi segala macam kecupan.’ Ayahku memandangiku
untuk saat yang lama sekali,
dan matanya mulai basah. Belum pernah kulihat dia
menangis sebelumnya. Ia
memutar kepalanya,
pandangannya menerawang
menembus kaca depan. ‘Kau
benar,’ katanya. ‘Kau sudah jadi pemuda
besar……seorang pria. Aku tak
akan menciumimu lagi.’” Wajah Frank berubah jadi
aneh, dan air mata mulai
memenuhi kedua matanya,
ketika ia melanjutkan
kisahnya. “Tidak lama setelah
itu, ayah pergi melaut dan tidak pernah kembali lagi. Itu
terjadi pada suatu hari, ketika
sebagian besar armada kapal
nelayan merapat dipelabuhan,
tapi kapal ayah tidak.Ia
punya keluarga besar yang harus diberi makan. Kapalnya ditemukan terapung
dengan jala yang separuh
terangkat dan separuhnya lagi
masih ada dilaut.Pastilah ayah
tertimpa badai dan ia mencoba
menyelamatkan jala dan semua pengapung-
pengapungnya.” Aku mengawasi Frank dan
melihat air mata mengalir
menuruni pipinya. Frank menyambung lagi,
“Kawan-kawan, kalian tak
bisa bayangkan apa yang
akan kukorbankan sekedar
untuk mendapatkan lagi
sebuah ciuman pada pipiku….untuk merasakan
wajah tuanya yang
kasar……untuk mencium bau
air laut dan samudra
padanya…..untuk merasakan
tangan dan lengannya merangkul leherku. Ahh,
sekiranya saja aku jadi pria
dewasa saat itu. Kalau aku
seorang pria dewasa, aku
pastilah tidak akan pernah
memberi tahu ayahku bahwa aku terlalu tua ‘tuk sebuah
ciuman selamat tinggal.” Semoga kita tidak menjadi
terlalu tua untuk
menunjukkan cinta kasih
kita…..
Bola dalam kantong kertas
Seorang pemain profesional
bertanding dalam sebuah
turnamen golf. Ia baru saja
membuat pukulan yang bagus
sekali yang jatuh di dekat
lapangan hijau. Ketika ia berjalan di fairway, ia
mendapati bolanya masuk ke
dalam sebuah kantong kertas
pembungkus makanan yang
mungkin dibuang
sembarangan oleh salah seorang penonton. Bagaimana
ia bisa memukul bola itu
dengan baik? Sesuai dengan peraturan
turnamen, jika ia
mengeluarkan bola dari
kantong kertas itu, ia terkena
pukulan hukuman. Tetapi
kalau ia memukul bola bersama-sama dengan
kantong kertas itu, ia tidak
akan bisa memukul dengan
baik. Salah-salah, ia
mendapatkan skor yang lebih
buruk lagi. Apa yang harus dilakukannya? Banyak pemain mengalami hal
serupa. Hampir seluruhnya
memilih untuk mengeluarkan
bola dari kantong kertas itu
dan menerima hukuman.
Setelah itu mereka bekerja keras sampai ke akhir
turnamen untuk menutup
hukuman tadi. Hanya sedikit, bahkan
mungkin hampir tidak ada,
pemain yang memukul bola
bersama kantong kertas itu.
Resikonya terlalu besar.
Namun, pemain profesional kita kali ini tidak memilih satu
di antara dua kemungkinan
itu. Tiba-tiba ia merogoh sesuatu
dari saku celananya dan
mengeluarkan sekotak korek
api. Lalu ia menyalakan satu
batang korek api dan
membakar kantong kertas itu. Ketika kantong kertas itu
habis terbakar, ia memilih
tongkat yang tepat,
membidik sejenak,
mengayunkan tongkat, wus,
bola terpukul dan jatuh persis ke dalam lobang di lapangan
hijau. Bravo! Dia tidak terkena
hukuman dan tetap bisa
mempertahankan posisinya. Smiley…! Ada orang yang
menganggap kesulitan sebagai
hukuman, dan memilih untuk
menerima hukuman itu. Ada
yang mengambil resiko untuk
melakukan kesalahan bersama kesulitan itu. Namun,
sedikit sekali yang bisa
berpikir kreatif untuk
menghilangkan kesulitan itu
dan menggapai kemenangan
bertanding dalam sebuah
turnamen golf. Ia baru saja
membuat pukulan yang bagus
sekali yang jatuh di dekat
lapangan hijau. Ketika ia berjalan di fairway, ia
mendapati bolanya masuk ke
dalam sebuah kantong kertas
pembungkus makanan yang
mungkin dibuang
sembarangan oleh salah seorang penonton. Bagaimana
ia bisa memukul bola itu
dengan baik? Sesuai dengan peraturan
turnamen, jika ia
mengeluarkan bola dari
kantong kertas itu, ia terkena
pukulan hukuman. Tetapi
kalau ia memukul bola bersama-sama dengan
kantong kertas itu, ia tidak
akan bisa memukul dengan
baik. Salah-salah, ia
mendapatkan skor yang lebih
buruk lagi. Apa yang harus dilakukannya? Banyak pemain mengalami hal
serupa. Hampir seluruhnya
memilih untuk mengeluarkan
bola dari kantong kertas itu
dan menerima hukuman.
Setelah itu mereka bekerja keras sampai ke akhir
turnamen untuk menutup
hukuman tadi. Hanya sedikit, bahkan
mungkin hampir tidak ada,
pemain yang memukul bola
bersama kantong kertas itu.
Resikonya terlalu besar.
Namun, pemain profesional kita kali ini tidak memilih satu
di antara dua kemungkinan
itu. Tiba-tiba ia merogoh sesuatu
dari saku celananya dan
mengeluarkan sekotak korek
api. Lalu ia menyalakan satu
batang korek api dan
membakar kantong kertas itu. Ketika kantong kertas itu
habis terbakar, ia memilih
tongkat yang tepat,
membidik sejenak,
mengayunkan tongkat, wus,
bola terpukul dan jatuh persis ke dalam lobang di lapangan
hijau. Bravo! Dia tidak terkena
hukuman dan tetap bisa
mempertahankan posisinya. Smiley…! Ada orang yang
menganggap kesulitan sebagai
hukuman, dan memilih untuk
menerima hukuman itu. Ada
yang mengambil resiko untuk
melakukan kesalahan bersama kesulitan itu. Namun,
sedikit sekali yang bisa
berpikir kreatif untuk
menghilangkan kesulitan itu
dan menggapai kemenangan
Kisah: Cinta tak pernah padam
Ketika aku berjalan kaki
pulang ke rumah di suatu
hari yang dingin, kakiku
tersandung sebuah dompet
yang tampaknya terjatuh
tanpa sepengetahuan pemiliknya. Aku
memungut dan melihat isi
dompet itu kalau-kalau aku
bisa menghubungi
pemiliknya. Tapi, dompet
itu hanya berisi uang sejumlah tiga Dollar dan
selembar surat kusut yang
sepertinya sudah bertahun-
tahun tersimpan di
dalamnya. Satu-satunya
yang tertera pada amplop surat itu adalah alamat si
pengirim. Aku membuka
isinya sambil berharap bisa
menemukan petunjuk. Lalu aku baca tahun “1924″.
Ternyata surat itu ditulis
lebih dari 60 tahun yang lalu.
Surat itu ditulis dengan
tulisan tangan yang anggun
di atas kertas biru lembut yang berhiaskan bunga-
bunga kecil di sudut kirinya.
Tertulis di sana, “Sayangku
Michael”, yang
menunjukkan kepada siapa
surat itu ditulis yang ternyata bernama Michael.
Penulis surat itu
menyatakan bahwa ia tidak
bisa bertemu dengannya
lagi karena ibu telah
melarangnya. Tapi, meski begitu ia masih tetap
mencintainya. Surat itu
ditandatangani oleh Hannah.
Surat itu begitu indah. etapi tetap saja aku tidak
bisa menemukan siapa nama
pemilik dompet itu.
Mungkin bila aku
menelepon bagian
penerangan mereka bisa memberitahu nomor
telepon alamat yang ada
pada amplop itu. “Operator,”
kataku pada bagian
peneragan, “Saya
mempunyai permintaan yang agak tidak biasa.
sedang berusaha mencari
tahu pemiliki dompet yang
saya temukan di jalan.
Barangkali anda bisa
membantu saya memberikan nomor telepon
atas alamat yang ada pada
surat yang saya temukan
dalam dompet tersebut?” Operator itu menyarankan
agar aku berbicara dengan
atasannya, yang
tampaknya tidak begitu
suka dengan pekerjaan
tambahan ini. Kemudian ia berkata, “Kami mempunyai
nomor telepon alamat
tersebut, namun kami tidak
bisa memberitahukannya
pada anda.” Demi
kesopanan, katanya, ia akan menghubungi nomor
tersebut, menjelaskan apa
yang saya temukan dan
menanyakan apakah
mereka berkenan untuk
berbicara denganku. Aku menunggu beberapa menit. Tak berapa lama ia
menghubungiku, katanya,
“Ada orang yang ingin
berbicara dengan anda.” Lalu
aku tanyakan pada wanita
yang ada di ujung telepon sana, apakah ia mengetahui
seseorang bernama Hannah.
Ia menarik nafas, “Oh, kami
membeli rumah ini dari
keluarga yang memiliki
anak perempuan bernama Hannah. Tapi, itu 30 tahun
yang lalu!” “Apakah anda
tahu dimana keluarga itu
berada sekarang?” tanyaku.
“Yang aku ingat, Hannah
telah menitipkan ibunya di sebuah panti jompo
beberapa tahun lalu,” kata
wanita itu. “Mungkin, bila
anda menghubunginya
mereka bisa mencaritahu
dimana anak mereka, Hannah, berada.” Lalu ia
memberiku nama panti
jompo tersebut. Ketika aku
menelepon ke sana, mereka
mengatakan bahwa wanita,
ibu Hannah, yang aku maksud sudah lama
meninggal dunia. Tapi
mereka masih menyimpan
nomor telepon rumah
dimana anak wanita itu
tinggal. Aku mengucapkan terima kasih dan menelepon
nomor yang mereka
berikan. Kemudian, di ujung
telepon sana, seorang
wanita mengatakan bahwa
Hannah sekarang tinggal di sebuah panti jompo. “Semua ini tampaknya
konyol,” kataku pada diriku
sendiri. Mengapa pula aku
mau repot-repot
menemukan pemilik
dompet yang hanya berisi tiga Dollar dan surat yang
ditulis lebih dari 60 tahun
yang lalu? Tapi, bagaimana
pun aku menelepon panti
jompo tempat Hannah
sekarang berada. Seorang pria yang menerima
teleponku mengatakan, “Ya,
Hannah memang tinggal
bersama kami.” Meski
waktu itu sudah
menunjukkan pukul 10 malam, aku meminta agar
bisa menemui Hannah. “Ok,”
kata pria itu agak
bersungut-sungut, “bila
anda mau, mungkin ia
sekarang sedang menonton TV di ruang tengah.” Aku mengucapkan terima
kasih dan segera berkendara
ke panti jompo tersebut.
Gedung panti jompo itu
sangat besar. Penjaga dan
perawat yang berdinas malam menyambutku di
pintu. Lalu, kami naik ke
lantai tiga. Di ruang tengah,
perawat itu
memperkenalkan aku
dengan Hannah. Ia tampak manis, rambut ubannya
keperak-perakan,
senyumnya hangat dan
matanya bersinar-sinar.
Aku menceritakan padanya
mengenai dompet yang aku temukan. Aku pun
menunjukkan padanya
surat yang ditulisnya.
Ketika ia melihat amplop
surat berwarna biru lembut
dengan bunga-bunga kecil di sudut kiri, ia menarik nafas
dalam-dalam dan berkata,
“Anak muda, surat ini
adalah hubunganku yang
terakhir dengan Michael.”
Matanya memandang jauh, merenung dalam-dalam.
Katanya dengan lembut,
“Aku amat-amat
mencintainya. Saat itu aku
baru berusia 16 tahun, dan
ibuku menganggap aku masih terlalu kecil. Oh, Ia
sangat tampan. Ia seperti
Sean Connery, si aktor itu.”
“Ya,” lanjutnya. Michael
Goldstein adalah pria yang
luar biasa. “Bila kau bertemu dengannya, katakan bahwa
aku selalu memikirkannya,
Dan,…….” Ia ragu untuk melanjutkan,
sambil menggigit bibir ia
berkata, ……katakan, aku
masih mencintainya.
Tahukah kau, anak muda,”
katanya sambil tersenyum. Kini air matanya mengalir,
“aku tidak pernah menikah
selama ini. Aku pikir, tak
ada seorang pun yang bisa
menyamai Michael.” Aku
berterima kasih pada Hannah dan mengucapkan
selamat tinggal. Aku
menuruni tangga ke lantai
bawah. Ketika melangkah
keluar pintu, penjaga di sana
menyapa, “Apakah wanita tua itu bisa membantu
anda?” Aku sampaikan
bahwa Hannah hanya
memberikan sebuah
petunjuk, “Aku hanya
mendapatkan nama belakang pemilik dompet
ini. Aku pikir, aku biarkan
sajalah dompet ini untuk
sejenak. Aku sudah
menghabiskan hampir
seluruh hariku untuk menemukan pemilik
dompet ini.” Aku keluarkan
dompet itu, dompat kulit
dengan benang merah disisi-
sisinya. Ketika penjaga itu
melihatnya, ia berseru, “Hei, tunggu dulu. Itu adalah
dompet Pak Goldstein! Aku
tahu persis dompet dengan
benang merah terang itu.Ia
selalu kehilangan dompet
itu. Aku sendiri pernah menemukannya dompet itu
tiga kali di dalam gedung
ini.” “Siapakah Pak Goldstein
itu?” tanyaku. Tanganku
mulai gemetar. “Ia adalah
penghuni lama gedung ini.
Ia tinggal di lantai delapan.
Aku tahu pasti, itu adalah dompet Mike Goldstein. Ia
pasti menjatuhkannya
ketika sedang berjalan-jalan
di luar.” Aku berterima
kasih pada penjaga itu dan
segera lari ke kantor perawat. Aku ceritakan
pada perawat di sana apa
yang telah dikatakan oleh si
penjaga. Lalu, kami kembali
ke tangga dan bergegas ke
lantai delapan. Aku berharap Pak Goldstein
masih belum tertidur.
Ketika sampai di lantai
delapan, perawat berkata,
“Aku pikir ia masih berada
di ruang tengah. Ia suka membaca di malam hari. Ia
adalah Pak tua yang
menyenangkan.” Kami
menuju ke satu-satunya
ruangan yang lampunya
masih menyala. Di sana duduklah seorang pria
membaca buku. Perawat
mendekati pria itu dan
menanyakan apakah ia
telah kehilangan dompet.
Pak Goldstein memandang dengan terkejut. Ia lalu
meraba saku belakangnya
dan berkata, “Oh ya,
dompetku hilang!” Perawat
itu berkata, “Tuan muda
yang baik ini telah menemukan sebuah
dompet. Mungkin dompet
anda?” Aku menyerahkan
dompet itu pada Pak
Goldstein. Ia tersenyum
gembira. Katanya, “Ya, ini dompetku! Pasti terjatuh
tadi sore. Aku akan
memberimu hadiah.” “Ah
tak usah,” kataku. “Tapi aku
harus menceritakan sesuatu
pada anda. Aku telah membaca surat yang ada di
dalam dompet itu dengan
harap aku mengetahui
siapakah pemilik dompet
ini.” Senyumnya langsung
menghilang. “Kamu
membaca surat ini?” “Bukan
hanya membaca, aku kira
aku tahu dimana Hannah
sekarang.” Wajahnya tiba- tiba pucat. “Hannah? Kau
tahu dimana ia sekarang?
Bagaimana kabarnya?
Apakah ia masih secantik
dulu? Katakan, katakan
padaku,” ia memohon. “Ia baik-baik saja, dan masih
tetap secantik seperti saat
anda mengenalnya,” kataku
lembut. Lelaki tua itu
tersenyum dan meminta,
“Maukah anda mengatakan padaku dimana ia sekarang?
Aku akan meneleponnya
esok.” Ia menggenggam
tanganku, “Tahukah kau
anak muda, aku masih
mencintainya. Dan saat surat itu datang hidupku terasa
berhenti. Aku belum pernah
menikah, aku selalu
mencintainya.” “Michael,” kataku, “Ayo
ikuti aku.” Lalu kami
menuruni tangga ke lantai
tiga. Lorong-lorong gedung
itu sudah gelap. Hanya satu
atau dua lampu kecil menyala menerangi jalan
kami menuju ruang tengah
di mana Hannah masih
duduk sendiri menonton TV.
Perawat mendekatinya
perlahan. “Hannah,” kata perawat itu
lembut. Ia menunjuk ke
arah Michael yang sedang
berdiri di sampingku di
pintu masuk. “Apakah anda
tahu pria ini?” Hannah membetulkan
kacamatanya, melihat
sejenak, dan terdiam tidak
mengucapkan sepatah
katapun. Michael berkata
pelan, hampir-hampir berbisik, “Hannah, ini aku,
Michael. Apakah kau masih
ingat padaku?” Hannah
gemetar, “Michael! Aku tak
percaya. Michael! Kau!
Michaelku!” Michael berjalan perlahan ke arah Hannah.
Mereka lalu berpelukan.
Perawat dan aku
meninggalkan mereka
dengan air mata menitik di
wajah kami. “Lihatlah,” kataku. “Lihatlah,
bagaimana Tuhan
berkehendak. Bila Ia
berkehendak, maka
jadilah.” Sekitar tiga minggu
kemudian, di kantor aku
mendapat telepon dari
rumah panti jompo itu.
“Apakah anda berkenan
untuk hadir di sebuah pesta perkimpoian di hari Minggu
mendatang? Michael dan
Hannah akan menikah!” Dan
pernikahan itu, pernikahan
yang indah. Semua orang di
panti jompo itu mengenakan pakaian
terbaik mereka untuk ikut
merayakan pesta. Hannah
mengenakan pakaian abu-
abu terang dan tampak
cantik. Sedangkan Michael mengenakan jas hitam dan
berdiri tegak. Mereka
menjadikan aku sebagai
wali mereka. Rumah panti
jompo memberi hadiah
kamar bagi mereka. Dan bila anda ingin melihat
bagaimana sepasang
pengantin berusia 76 dan 79
tahun bertingkah seperti
anak remaja, anda harus
melihat pernikahan pasangan ini. Akhir yang
sempurna dari sebuah
hubungan cinta yang tak
pernah padam selama 60
tahun.
pulang ke rumah di suatu
hari yang dingin, kakiku
tersandung sebuah dompet
yang tampaknya terjatuh
tanpa sepengetahuan pemiliknya. Aku
memungut dan melihat isi
dompet itu kalau-kalau aku
bisa menghubungi
pemiliknya. Tapi, dompet
itu hanya berisi uang sejumlah tiga Dollar dan
selembar surat kusut yang
sepertinya sudah bertahun-
tahun tersimpan di
dalamnya. Satu-satunya
yang tertera pada amplop surat itu adalah alamat si
pengirim. Aku membuka
isinya sambil berharap bisa
menemukan petunjuk. Lalu aku baca tahun “1924″.
Ternyata surat itu ditulis
lebih dari 60 tahun yang lalu.
Surat itu ditulis dengan
tulisan tangan yang anggun
di atas kertas biru lembut yang berhiaskan bunga-
bunga kecil di sudut kirinya.
Tertulis di sana, “Sayangku
Michael”, yang
menunjukkan kepada siapa
surat itu ditulis yang ternyata bernama Michael.
Penulis surat itu
menyatakan bahwa ia tidak
bisa bertemu dengannya
lagi karena ibu telah
melarangnya. Tapi, meski begitu ia masih tetap
mencintainya. Surat itu
ditandatangani oleh Hannah.
Surat itu begitu indah. etapi tetap saja aku tidak
bisa menemukan siapa nama
pemilik dompet itu.
Mungkin bila aku
menelepon bagian
penerangan mereka bisa memberitahu nomor
telepon alamat yang ada
pada amplop itu. “Operator,”
kataku pada bagian
peneragan, “Saya
mempunyai permintaan yang agak tidak biasa.
sedang berusaha mencari
tahu pemiliki dompet yang
saya temukan di jalan.
Barangkali anda bisa
membantu saya memberikan nomor telepon
atas alamat yang ada pada
surat yang saya temukan
dalam dompet tersebut?” Operator itu menyarankan
agar aku berbicara dengan
atasannya, yang
tampaknya tidak begitu
suka dengan pekerjaan
tambahan ini. Kemudian ia berkata, “Kami mempunyai
nomor telepon alamat
tersebut, namun kami tidak
bisa memberitahukannya
pada anda.” Demi
kesopanan, katanya, ia akan menghubungi nomor
tersebut, menjelaskan apa
yang saya temukan dan
menanyakan apakah
mereka berkenan untuk
berbicara denganku. Aku menunggu beberapa menit. Tak berapa lama ia
menghubungiku, katanya,
“Ada orang yang ingin
berbicara dengan anda.” Lalu
aku tanyakan pada wanita
yang ada di ujung telepon sana, apakah ia mengetahui
seseorang bernama Hannah.
Ia menarik nafas, “Oh, kami
membeli rumah ini dari
keluarga yang memiliki
anak perempuan bernama Hannah. Tapi, itu 30 tahun
yang lalu!” “Apakah anda
tahu dimana keluarga itu
berada sekarang?” tanyaku.
“Yang aku ingat, Hannah
telah menitipkan ibunya di sebuah panti jompo
beberapa tahun lalu,” kata
wanita itu. “Mungkin, bila
anda menghubunginya
mereka bisa mencaritahu
dimana anak mereka, Hannah, berada.” Lalu ia
memberiku nama panti
jompo tersebut. Ketika aku
menelepon ke sana, mereka
mengatakan bahwa wanita,
ibu Hannah, yang aku maksud sudah lama
meninggal dunia. Tapi
mereka masih menyimpan
nomor telepon rumah
dimana anak wanita itu
tinggal. Aku mengucapkan terima kasih dan menelepon
nomor yang mereka
berikan. Kemudian, di ujung
telepon sana, seorang
wanita mengatakan bahwa
Hannah sekarang tinggal di sebuah panti jompo. “Semua ini tampaknya
konyol,” kataku pada diriku
sendiri. Mengapa pula aku
mau repot-repot
menemukan pemilik
dompet yang hanya berisi tiga Dollar dan surat yang
ditulis lebih dari 60 tahun
yang lalu? Tapi, bagaimana
pun aku menelepon panti
jompo tempat Hannah
sekarang berada. Seorang pria yang menerima
teleponku mengatakan, “Ya,
Hannah memang tinggal
bersama kami.” Meski
waktu itu sudah
menunjukkan pukul 10 malam, aku meminta agar
bisa menemui Hannah. “Ok,”
kata pria itu agak
bersungut-sungut, “bila
anda mau, mungkin ia
sekarang sedang menonton TV di ruang tengah.” Aku mengucapkan terima
kasih dan segera berkendara
ke panti jompo tersebut.
Gedung panti jompo itu
sangat besar. Penjaga dan
perawat yang berdinas malam menyambutku di
pintu. Lalu, kami naik ke
lantai tiga. Di ruang tengah,
perawat itu
memperkenalkan aku
dengan Hannah. Ia tampak manis, rambut ubannya
keperak-perakan,
senyumnya hangat dan
matanya bersinar-sinar.
Aku menceritakan padanya
mengenai dompet yang aku temukan. Aku pun
menunjukkan padanya
surat yang ditulisnya.
Ketika ia melihat amplop
surat berwarna biru lembut
dengan bunga-bunga kecil di sudut kiri, ia menarik nafas
dalam-dalam dan berkata,
“Anak muda, surat ini
adalah hubunganku yang
terakhir dengan Michael.”
Matanya memandang jauh, merenung dalam-dalam.
Katanya dengan lembut,
“Aku amat-amat
mencintainya. Saat itu aku
baru berusia 16 tahun, dan
ibuku menganggap aku masih terlalu kecil. Oh, Ia
sangat tampan. Ia seperti
Sean Connery, si aktor itu.”
“Ya,” lanjutnya. Michael
Goldstein adalah pria yang
luar biasa. “Bila kau bertemu dengannya, katakan bahwa
aku selalu memikirkannya,
Dan,…….” Ia ragu untuk melanjutkan,
sambil menggigit bibir ia
berkata, ……katakan, aku
masih mencintainya.
Tahukah kau, anak muda,”
katanya sambil tersenyum. Kini air matanya mengalir,
“aku tidak pernah menikah
selama ini. Aku pikir, tak
ada seorang pun yang bisa
menyamai Michael.” Aku
berterima kasih pada Hannah dan mengucapkan
selamat tinggal. Aku
menuruni tangga ke lantai
bawah. Ketika melangkah
keluar pintu, penjaga di sana
menyapa, “Apakah wanita tua itu bisa membantu
anda?” Aku sampaikan
bahwa Hannah hanya
memberikan sebuah
petunjuk, “Aku hanya
mendapatkan nama belakang pemilik dompet
ini. Aku pikir, aku biarkan
sajalah dompet ini untuk
sejenak. Aku sudah
menghabiskan hampir
seluruh hariku untuk menemukan pemilik
dompet ini.” Aku keluarkan
dompet itu, dompat kulit
dengan benang merah disisi-
sisinya. Ketika penjaga itu
melihatnya, ia berseru, “Hei, tunggu dulu. Itu adalah
dompet Pak Goldstein! Aku
tahu persis dompet dengan
benang merah terang itu.Ia
selalu kehilangan dompet
itu. Aku sendiri pernah menemukannya dompet itu
tiga kali di dalam gedung
ini.” “Siapakah Pak Goldstein
itu?” tanyaku. Tanganku
mulai gemetar. “Ia adalah
penghuni lama gedung ini.
Ia tinggal di lantai delapan.
Aku tahu pasti, itu adalah dompet Mike Goldstein. Ia
pasti menjatuhkannya
ketika sedang berjalan-jalan
di luar.” Aku berterima
kasih pada penjaga itu dan
segera lari ke kantor perawat. Aku ceritakan
pada perawat di sana apa
yang telah dikatakan oleh si
penjaga. Lalu, kami kembali
ke tangga dan bergegas ke
lantai delapan. Aku berharap Pak Goldstein
masih belum tertidur.
Ketika sampai di lantai
delapan, perawat berkata,
“Aku pikir ia masih berada
di ruang tengah. Ia suka membaca di malam hari. Ia
adalah Pak tua yang
menyenangkan.” Kami
menuju ke satu-satunya
ruangan yang lampunya
masih menyala. Di sana duduklah seorang pria
membaca buku. Perawat
mendekati pria itu dan
menanyakan apakah ia
telah kehilangan dompet.
Pak Goldstein memandang dengan terkejut. Ia lalu
meraba saku belakangnya
dan berkata, “Oh ya,
dompetku hilang!” Perawat
itu berkata, “Tuan muda
yang baik ini telah menemukan sebuah
dompet. Mungkin dompet
anda?” Aku menyerahkan
dompet itu pada Pak
Goldstein. Ia tersenyum
gembira. Katanya, “Ya, ini dompetku! Pasti terjatuh
tadi sore. Aku akan
memberimu hadiah.” “Ah
tak usah,” kataku. “Tapi aku
harus menceritakan sesuatu
pada anda. Aku telah membaca surat yang ada di
dalam dompet itu dengan
harap aku mengetahui
siapakah pemilik dompet
ini.” Senyumnya langsung
menghilang. “Kamu
membaca surat ini?” “Bukan
hanya membaca, aku kira
aku tahu dimana Hannah
sekarang.” Wajahnya tiba- tiba pucat. “Hannah? Kau
tahu dimana ia sekarang?
Bagaimana kabarnya?
Apakah ia masih secantik
dulu? Katakan, katakan
padaku,” ia memohon. “Ia baik-baik saja, dan masih
tetap secantik seperti saat
anda mengenalnya,” kataku
lembut. Lelaki tua itu
tersenyum dan meminta,
“Maukah anda mengatakan padaku dimana ia sekarang?
Aku akan meneleponnya
esok.” Ia menggenggam
tanganku, “Tahukah kau
anak muda, aku masih
mencintainya. Dan saat surat itu datang hidupku terasa
berhenti. Aku belum pernah
menikah, aku selalu
mencintainya.” “Michael,” kataku, “Ayo
ikuti aku.” Lalu kami
menuruni tangga ke lantai
tiga. Lorong-lorong gedung
itu sudah gelap. Hanya satu
atau dua lampu kecil menyala menerangi jalan
kami menuju ruang tengah
di mana Hannah masih
duduk sendiri menonton TV.
Perawat mendekatinya
perlahan. “Hannah,” kata perawat itu
lembut. Ia menunjuk ke
arah Michael yang sedang
berdiri di sampingku di
pintu masuk. “Apakah anda
tahu pria ini?” Hannah membetulkan
kacamatanya, melihat
sejenak, dan terdiam tidak
mengucapkan sepatah
katapun. Michael berkata
pelan, hampir-hampir berbisik, “Hannah, ini aku,
Michael. Apakah kau masih
ingat padaku?” Hannah
gemetar, “Michael! Aku tak
percaya. Michael! Kau!
Michaelku!” Michael berjalan perlahan ke arah Hannah.
Mereka lalu berpelukan.
Perawat dan aku
meninggalkan mereka
dengan air mata menitik di
wajah kami. “Lihatlah,” kataku. “Lihatlah,
bagaimana Tuhan
berkehendak. Bila Ia
berkehendak, maka
jadilah.” Sekitar tiga minggu
kemudian, di kantor aku
mendapat telepon dari
rumah panti jompo itu.
“Apakah anda berkenan
untuk hadir di sebuah pesta perkimpoian di hari Minggu
mendatang? Michael dan
Hannah akan menikah!” Dan
pernikahan itu, pernikahan
yang indah. Semua orang di
panti jompo itu mengenakan pakaian
terbaik mereka untuk ikut
merayakan pesta. Hannah
mengenakan pakaian abu-
abu terang dan tampak
cantik. Sedangkan Michael mengenakan jas hitam dan
berdiri tegak. Mereka
menjadikan aku sebagai
wali mereka. Rumah panti
jompo memberi hadiah
kamar bagi mereka. Dan bila anda ingin melihat
bagaimana sepasang
pengantin berusia 76 dan 79
tahun bertingkah seperti
anak remaja, anda harus
melihat pernikahan pasangan ini. Akhir yang
sempurna dari sebuah
hubungan cinta yang tak
pernah padam selama 60
tahun.
Cerpen: Nikmatnya mencintai tanpa dicintai
Jujur, sejak pertama aku di lahirkan, aku tak tahu apa dan bagai mana rasanya jatuh cinta, tapi anehnya teman-teman ku selalu meminta pendapatku ketika mereka mengalami masalah dengan pacar mereka,
mungkin ada satu daya tarik kepercayaan untukku,
kadang aku menesali kehidupanku yang telah lalu, apakah ini memang salahku, atau justru ini sudah menjadi takdir bagi hidupku, dan satu yang tak pernah aku percaya yaitu karma, ya,, kata itu yang paling menyakitkan di gendang telingaku, aku terkena karma dari siapa, karna yang ku rasa aku tak pernah menyakiti atau bahkan melakukan hal yang mengakibatkan akhirnya seperti ini pada diriku sendiri Soal cinta yang aku tahu bahwa ceritanya adalah rahasia bagi pemerhatinya,dan
kenikmatan bagi pemuja dan perasanya, bukankah cinta bukan hanya untuk lawan jenis sebagai pasangan hidup kita tetapi juga kepada orang tua, dan orang-orang yang ada di sekeliling kita, mungkin
bagi para kaum adam aku adalah kembang sepatu di sisi kali yang layu dan sisanya hanyut di antara aliran sungai dan daun pnegiringnya terselip diantara dua batu derita Semuanya kurasakan ketika aku SMP tapi semenjak duniaku menjadi putih abu inilah dunia cinta yang benar- benar aku rasa, aku anak bahasa, dan yang aku kagumi anak IPA, panggil saja Ia Arya
Sugandi, lelaki yang sangat sempurna sebagai pengembara cinta yang singgah di tengah-tengah gurun pasir, dan diantara kekaguman itu ia adalah oasis di hatiku, penyejuk qalbuku. Suatu pagi, saat tinggal beberapa meter saja dari gerbang sekolah aku mendapati lelaki yang aku puji sedang berada di depan gerbang, kukira aku kesiangan, kecewa pasti ia, tapiada rasa bahagia yang tak dapat aku tahan, ia Arya ada di depan gerbang itu, ogh,,, hatiku,,,, tak karuan yang di rasakan, baik akan aku simpulkan, aku kesiangan tapi kesiangan itu adalah keberkahan. Ku paksakan untuk berjalan melewatinya, dan satu….. dua….. tig,,,,,
ada seseorang yang memegang tanganku, Siapa? itu menjadi satu tanda tanya,
ku tengok, owgh Arya. “Ada apa?’ tanyaku dengan suara lembut tak seperti biasanya. “Bolehkah aku bersama mumenuju kekelas setidaknya,” tawaran yang sangat bijaksana,
tak tahu mengapa, anggukan kepalaku jadi jaminannya, Dari situlah semua bermula, aku menyukainya, dan ia membuka harapan yang nyata, hari demi hari yg di lewati ibaratkan hanya aku dan Arya di antara dua rakit
aku bisa menikmati keindahan yang namanya cinta, Arya terus saja memberi perhatian yang selalu aku dambakan, sungguh suatu kenyataan dan bukan keberuntungan Hari itu hari kamis, seusai pelajaran matematika, aku di tunggu Arya di depan kelas, ia
mengajakku kesaung sekolah di tengah danau sekolah, aku tak tau apa maksudnya tapi di
saat itulah ku rasakan jantungku berdegup sangat kencang, Saat di saung itu angin menerbangkan rok abu- abuku, rambut Arya yang hitam bergoyang seperti rumput di padang cinta ku, tiba-tiba Arya memegang tanganku, dan mengucapkan seuntai kata-kata indah dan aku yakin itu untukku. ” Kamu tahu, aku mengagumimu semenjak aku pertama melihatmu, lewat senyuman manis, dan setulus keimanan, aku yakin kamu juga merasakan itu, kedipan mu mampu menyapu lukaku. hingga debu-debu kemunafikanku terbang dengan hembusan nafasmu, lalu lalang kendaraan di jalan menuju sekolah adalah kamu sebagai penumpangnya, karna
yang aku yakini bahwa kamu selalu ada dalam setiap helaan nafasku, aku mengakui aku hanya lelaki biasa yang jauh dari sempurna, tapi cacat dalam kehidupanku adalah kau sebagai pelengakapnya, aku tahu senyuman manis mu adalah kamu, tapi, dengarkan aku, jangan kecewa dengan apa yang akan kau katakan, jujur aku telah dimiliki oleh wanita lain, tapi hatiku hanya untukmu. ” Tuhan benarkah itu awal yang
indah dan akhir yang menyakitkan, lalu jika ia sudah dimiliki oleh perempuan
lain mengapa ia memberikan harapan untukku, ia sempat menanamkan bunga di hatiku,
hingga tumbuhan di depan rumahku mati karena pupuknya telah di gunakan untuk menyuburkan cinta di hatiku. Kutahan rasa sakit di hatiku, ini ujian darimu ya Tuhan, kuatkan aku, ku lepaskan perlahan tanganku, ku relakan harapan itu terbang meratas keatas langit, dan membeku di dalam tulang pipaku, aku tak sanggup menahan tangis, dan aku tahu ia ingin mengusapnya, tapi bagiku itu adalah duka yang meraba, hingga ku teguhkan hati dan aku pergi tanpa sepatah katapun mengalun menyebrangi lidahku. Hujan turun sangat deras dan di bawah hujan itu kurasakan kepahitan yang di taburkan, saat ku balikan badan kulihat Arya tengah memayungi perempuan sebagai pacarnya dengan jaket hitamnya, aku lemas aku bersimpuh diantara tanah dan airmata lewat hujan yang menyakitkan. Ia telah berlalu, dan aku yakin rasa sakitku akan ikut berlalu. Pergilah, inilah nikmatnya, kini aku bisa menasehati orang lain sesuai degan apa yang aku alami.
mungkin ada satu daya tarik kepercayaan untukku,
kadang aku menesali kehidupanku yang telah lalu, apakah ini memang salahku, atau justru ini sudah menjadi takdir bagi hidupku, dan satu yang tak pernah aku percaya yaitu karma, ya,, kata itu yang paling menyakitkan di gendang telingaku, aku terkena karma dari siapa, karna yang ku rasa aku tak pernah menyakiti atau bahkan melakukan hal yang mengakibatkan akhirnya seperti ini pada diriku sendiri Soal cinta yang aku tahu bahwa ceritanya adalah rahasia bagi pemerhatinya,dan
kenikmatan bagi pemuja dan perasanya, bukankah cinta bukan hanya untuk lawan jenis sebagai pasangan hidup kita tetapi juga kepada orang tua, dan orang-orang yang ada di sekeliling kita, mungkin
bagi para kaum adam aku adalah kembang sepatu di sisi kali yang layu dan sisanya hanyut di antara aliran sungai dan daun pnegiringnya terselip diantara dua batu derita Semuanya kurasakan ketika aku SMP tapi semenjak duniaku menjadi putih abu inilah dunia cinta yang benar- benar aku rasa, aku anak bahasa, dan yang aku kagumi anak IPA, panggil saja Ia Arya
Sugandi, lelaki yang sangat sempurna sebagai pengembara cinta yang singgah di tengah-tengah gurun pasir, dan diantara kekaguman itu ia adalah oasis di hatiku, penyejuk qalbuku. Suatu pagi, saat tinggal beberapa meter saja dari gerbang sekolah aku mendapati lelaki yang aku puji sedang berada di depan gerbang, kukira aku kesiangan, kecewa pasti ia, tapiada rasa bahagia yang tak dapat aku tahan, ia Arya ada di depan gerbang itu, ogh,,, hatiku,,,, tak karuan yang di rasakan, baik akan aku simpulkan, aku kesiangan tapi kesiangan itu adalah keberkahan. Ku paksakan untuk berjalan melewatinya, dan satu….. dua….. tig,,,,,
ada seseorang yang memegang tanganku, Siapa? itu menjadi satu tanda tanya,
ku tengok, owgh Arya. “Ada apa?’ tanyaku dengan suara lembut tak seperti biasanya. “Bolehkah aku bersama mumenuju kekelas setidaknya,” tawaran yang sangat bijaksana,
tak tahu mengapa, anggukan kepalaku jadi jaminannya, Dari situlah semua bermula, aku menyukainya, dan ia membuka harapan yang nyata, hari demi hari yg di lewati ibaratkan hanya aku dan Arya di antara dua rakit
aku bisa menikmati keindahan yang namanya cinta, Arya terus saja memberi perhatian yang selalu aku dambakan, sungguh suatu kenyataan dan bukan keberuntungan Hari itu hari kamis, seusai pelajaran matematika, aku di tunggu Arya di depan kelas, ia
mengajakku kesaung sekolah di tengah danau sekolah, aku tak tau apa maksudnya tapi di
saat itulah ku rasakan jantungku berdegup sangat kencang, Saat di saung itu angin menerbangkan rok abu- abuku, rambut Arya yang hitam bergoyang seperti rumput di padang cinta ku, tiba-tiba Arya memegang tanganku, dan mengucapkan seuntai kata-kata indah dan aku yakin itu untukku. ” Kamu tahu, aku mengagumimu semenjak aku pertama melihatmu, lewat senyuman manis, dan setulus keimanan, aku yakin kamu juga merasakan itu, kedipan mu mampu menyapu lukaku. hingga debu-debu kemunafikanku terbang dengan hembusan nafasmu, lalu lalang kendaraan di jalan menuju sekolah adalah kamu sebagai penumpangnya, karna
yang aku yakini bahwa kamu selalu ada dalam setiap helaan nafasku, aku mengakui aku hanya lelaki biasa yang jauh dari sempurna, tapi cacat dalam kehidupanku adalah kau sebagai pelengakapnya, aku tahu senyuman manis mu adalah kamu, tapi, dengarkan aku, jangan kecewa dengan apa yang akan kau katakan, jujur aku telah dimiliki oleh wanita lain, tapi hatiku hanya untukmu. ” Tuhan benarkah itu awal yang
indah dan akhir yang menyakitkan, lalu jika ia sudah dimiliki oleh perempuan
lain mengapa ia memberikan harapan untukku, ia sempat menanamkan bunga di hatiku,
hingga tumbuhan di depan rumahku mati karena pupuknya telah di gunakan untuk menyuburkan cinta di hatiku. Kutahan rasa sakit di hatiku, ini ujian darimu ya Tuhan, kuatkan aku, ku lepaskan perlahan tanganku, ku relakan harapan itu terbang meratas keatas langit, dan membeku di dalam tulang pipaku, aku tak sanggup menahan tangis, dan aku tahu ia ingin mengusapnya, tapi bagiku itu adalah duka yang meraba, hingga ku teguhkan hati dan aku pergi tanpa sepatah katapun mengalun menyebrangi lidahku. Hujan turun sangat deras dan di bawah hujan itu kurasakan kepahitan yang di taburkan, saat ku balikan badan kulihat Arya tengah memayungi perempuan sebagai pacarnya dengan jaket hitamnya, aku lemas aku bersimpuh diantara tanah dan airmata lewat hujan yang menyakitkan. Ia telah berlalu, dan aku yakin rasa sakitku akan ikut berlalu. Pergilah, inilah nikmatnya, kini aku bisa menasehati orang lain sesuai degan apa yang aku alami.
Beda Abu lahab dan Abu jahal
Banyak yang menyangka
kalau Abu Lahab dengan Abu
Jahal itu satu orang.
Sebenarnya dua orang. Abu
Lahab itu paman Nabi
Muhammad SAW,
sedangkan Abu Jahal tidak ada hubungan
darah dengan nabi. Nama Abu
Lahab yang sebenarnya adalah
Abdul Uzza bin Abdul
Muthalib, sedangkan nama
Abu Jahal yang sebenarnya adalah Abdul Hakam bin
Hisyam. Tentang Abu Lahab Ia adalah tokoh kuffar
Quraisy yang sangat
membenci Nabi Muhammad
SAW dan ajaran Islam yang
dibawanya. Dialah yang
mempermalukan Nabi di depan umatnya dengan
ucapan yang hina, “Celaka
engkau hai Muhammad!
Apakah ini maksudmu
mengundang kami kemari?”
kata Abu Lahab dengan sangat marah saat nabi sedang
berkhutbah di kaki bukit. Karena kelancangannya itulah,
pada hari itu juga Allah
mempermalukan Abu Lahab
dengan turun Surat Al-Lahab :
“Binasalah kedua tangan Abu
Lahab dan benar-benar binasa dia! Tidaklah berguna baginya
hartanya dan apa yang dia
usahakan. Kelak dia akan
masuk ke dalam api yang
bergejolak (neraka). Dan
(begitu pula istrinya, pembawa kayu bakar
(penyebar fitnah). Di lehernya
ada tali dari sabut yang
dipintal.” (QS. Al-Lahab : 1 – 4). Abu Lahab ketika itu tidak
sendiri, ada lagi kawan
setianya Abu Jahal, Walid bin
Mughirah Al-Makhzumi, ‘Ash
bin Wail As-Sahmi, Amru bin
Hisyam, Abdul Azza, Nadhar bin Harits, Uqbah bin Abi
Mui’th, Ubay bin Khalaf,
Umayyah bin Khalaf, dan lain-
lain. Tentang Abu Jahal Nama aslinya Abdul Hakam
bin Hisyam. Sejak sama-sama
remaja Abu Jahal senantiasa
mengolok-olok Muhammad.
Pernah juga keduanya
berkelahi, Abu Jahal kalah dan terkilir lututnya. Ia sangat
dendam kepada Muhammad. Abu Jahal pernah melamar
Khadijah binti Khuwailid,
tetapi Khadijah menolak
lamaran tersebut. Beberapa
bulan kemudian, Muhammad
meminang Khadijah dan langsung diterima. Hati Abu
Jahal semakin dengki kepada
Muhammad. Setelah orang-
orang lemah masuk Islam,
Abu Jahal memproklamirkan
dirinya sebagai preman kota Makkah. Orang-orang dhuafa
yang masuk Islam semua
mendapat penyiksaan pedih
dari Abu Jahal. Yasir dan
irtirnya Sumiyyah mendapat
siksa sampai syahid di tangan Abu Jahal. Isra’ Mi’raj terjadi pada 27
Rajab, tahun ke-12 dari
kenabian atau 2 tahun
sebelum Hijriyah. Setelah Isra’
Mi’raj Rasulullah mengajak
manusia supaya percaya kepada kisah perjalanan yang
menakjubkan itu. Banyak
orang yang tidak percaya,
termasuk Abu Jahal. “Bohong
kau Muhammad, bagaimana
mungkin dalam satu malam saja kamu bisa ke Baitul
Maqdis? Kalau kau benar-
benar sampai di sana, coba kau
ceritakan apa yang kau lihat
dalam perjalanan.”
Muhammad bercerita sesuai dengan yang dilihatnya secara
akurat. Orang ramai
membenarkan kecuali
segelintir para munafiq dan
Abu Jahal. “Itu sihir yang
nyata!”, teriak Abu Jahal. Kemudian Abu Jahal dan anak
buahnya selalu menganggu
orang-orang yang shalat.
Mereka sering melemparkan
orang-orang shalat dnegan
tahi unta, kotoran kambing, dan sebagainya. Mereka ramai
dan sering mengejek orang-
orang Islam dan Muhammad
SAW, namun demikian, nabi
dan pengikutnya tetap
bersabar dan tidak melawan orang jahil yang berkelompok
itu. Suatu hari, Abu Jahal sendiri
yang ingin membinasakan
Nabi Muhammad SAW. Ketika
nabi sedang sujud, Abu Jahal
muncul mengendap-ngendap
dengan batu besar di tangannya. Ia ingin
menghantam kepala nabi agar
pecah. Tiba-tiba ia melihat
seekor unta raksasa yang
ingin menelannya. Abu Jahal
ketakutan sambil melepaskan batu dan lari terbirit-birit,
sampai terkencing dan
terberak dalam celana. Sampai
di rumah ia pingsan beberapa
saat. Dasar orang jahil, Abu Jahal
belum merasa jera, ia terus
merongrong Muhammad, dan
dia pula yang merancang
siasat agar Muhammad
dibunuh atau diusir dari Makkah. Ketika Muhammad
telah hijrah, Abu Jahal
berpesta pora. Ia merasa
dirinya sudah menang dan
merasa cukup. Allah
berfirman tentang Abu Jahal ini, “Sekali-kali tidak!
Sungguh, manusia itu benar-
benar melampaui batas.
Karena dia melihat dirinya
serba cukup.” (QS. Al-‘Alaq : 6
– 7)
kalau Abu Lahab dengan Abu
Jahal itu satu orang.
Sebenarnya dua orang. Abu
Lahab itu paman Nabi
Muhammad SAW,
sedangkan Abu Jahal tidak ada hubungan
darah dengan nabi. Nama Abu
Lahab yang sebenarnya adalah
Abdul Uzza bin Abdul
Muthalib, sedangkan nama
Abu Jahal yang sebenarnya adalah Abdul Hakam bin
Hisyam. Tentang Abu Lahab Ia adalah tokoh kuffar
Quraisy yang sangat
membenci Nabi Muhammad
SAW dan ajaran Islam yang
dibawanya. Dialah yang
mempermalukan Nabi di depan umatnya dengan
ucapan yang hina, “Celaka
engkau hai Muhammad!
Apakah ini maksudmu
mengundang kami kemari?”
kata Abu Lahab dengan sangat marah saat nabi sedang
berkhutbah di kaki bukit. Karena kelancangannya itulah,
pada hari itu juga Allah
mempermalukan Abu Lahab
dengan turun Surat Al-Lahab :
“Binasalah kedua tangan Abu
Lahab dan benar-benar binasa dia! Tidaklah berguna baginya
hartanya dan apa yang dia
usahakan. Kelak dia akan
masuk ke dalam api yang
bergejolak (neraka). Dan
(begitu pula istrinya, pembawa kayu bakar
(penyebar fitnah). Di lehernya
ada tali dari sabut yang
dipintal.” (QS. Al-Lahab : 1 – 4). Abu Lahab ketika itu tidak
sendiri, ada lagi kawan
setianya Abu Jahal, Walid bin
Mughirah Al-Makhzumi, ‘Ash
bin Wail As-Sahmi, Amru bin
Hisyam, Abdul Azza, Nadhar bin Harits, Uqbah bin Abi
Mui’th, Ubay bin Khalaf,
Umayyah bin Khalaf, dan lain-
lain. Tentang Abu Jahal Nama aslinya Abdul Hakam
bin Hisyam. Sejak sama-sama
remaja Abu Jahal senantiasa
mengolok-olok Muhammad.
Pernah juga keduanya
berkelahi, Abu Jahal kalah dan terkilir lututnya. Ia sangat
dendam kepada Muhammad. Abu Jahal pernah melamar
Khadijah binti Khuwailid,
tetapi Khadijah menolak
lamaran tersebut. Beberapa
bulan kemudian, Muhammad
meminang Khadijah dan langsung diterima. Hati Abu
Jahal semakin dengki kepada
Muhammad. Setelah orang-
orang lemah masuk Islam,
Abu Jahal memproklamirkan
dirinya sebagai preman kota Makkah. Orang-orang dhuafa
yang masuk Islam semua
mendapat penyiksaan pedih
dari Abu Jahal. Yasir dan
irtirnya Sumiyyah mendapat
siksa sampai syahid di tangan Abu Jahal. Isra’ Mi’raj terjadi pada 27
Rajab, tahun ke-12 dari
kenabian atau 2 tahun
sebelum Hijriyah. Setelah Isra’
Mi’raj Rasulullah mengajak
manusia supaya percaya kepada kisah perjalanan yang
menakjubkan itu. Banyak
orang yang tidak percaya,
termasuk Abu Jahal. “Bohong
kau Muhammad, bagaimana
mungkin dalam satu malam saja kamu bisa ke Baitul
Maqdis? Kalau kau benar-
benar sampai di sana, coba kau
ceritakan apa yang kau lihat
dalam perjalanan.”
Muhammad bercerita sesuai dengan yang dilihatnya secara
akurat. Orang ramai
membenarkan kecuali
segelintir para munafiq dan
Abu Jahal. “Itu sihir yang
nyata!”, teriak Abu Jahal. Kemudian Abu Jahal dan anak
buahnya selalu menganggu
orang-orang yang shalat.
Mereka sering melemparkan
orang-orang shalat dnegan
tahi unta, kotoran kambing, dan sebagainya. Mereka ramai
dan sering mengejek orang-
orang Islam dan Muhammad
SAW, namun demikian, nabi
dan pengikutnya tetap
bersabar dan tidak melawan orang jahil yang berkelompok
itu. Suatu hari, Abu Jahal sendiri
yang ingin membinasakan
Nabi Muhammad SAW. Ketika
nabi sedang sujud, Abu Jahal
muncul mengendap-ngendap
dengan batu besar di tangannya. Ia ingin
menghantam kepala nabi agar
pecah. Tiba-tiba ia melihat
seekor unta raksasa yang
ingin menelannya. Abu Jahal
ketakutan sambil melepaskan batu dan lari terbirit-birit,
sampai terkencing dan
terberak dalam celana. Sampai
di rumah ia pingsan beberapa
saat. Dasar orang jahil, Abu Jahal
belum merasa jera, ia terus
merongrong Muhammad, dan
dia pula yang merancang
siasat agar Muhammad
dibunuh atau diusir dari Makkah. Ketika Muhammad
telah hijrah, Abu Jahal
berpesta pora. Ia merasa
dirinya sudah menang dan
merasa cukup. Allah
berfirman tentang Abu Jahal ini, “Sekali-kali tidak!
Sungguh, manusia itu benar-
benar melampaui batas.
Karena dia melihat dirinya
serba cukup.” (QS. Al-‘Alaq : 6
– 7)
Cerpen: Pertemuan singkat
Diluar udara cukup dingin. Sepertinya menandakan akan turun hujan. Orang-orang yang berjalan kaki tampak terburu-buru agar tidak kedapatan hujan. Dianra sibuk memperatikan kendaraan berlalu-lalang dari balik jendela cafe.
Saking seriusnya dia sampai-sampai tidak mendengar ayahnya berdehem. Tidak berapa lama kemudian titik-titik hujan pun akhirya turun membasahi bumi. Seorang laki-laki masuk kedalam cafe. Sepertinya dia baru pulang kerja. Bajunya nyaris basa semua. Dia memilhi duduk di dekat jendela sambil menikmati pemandangan di luar. Setelah memesan minum tak sengaja dianra menoleh ke arahnya dan ternyata laki-laki itu juga menoleh ke arahnya. Pandangan mereka berpapasan dan seketika laki- laki itu tersenyum pada dianra. Senyum yang manis dan memancarkan ketenangan. Pertemuan yang begitu singkat namun memiliki arti tersendiri bagi dianra. Dia tidak bisa lupa akan senyum itu. Senyuman itu seakan-akan mengingatkannya pada masa lalunya yang begitu pahit. Dia harus kehilangan orang yang sangat dia sayangi untuk selama-lamanya. Senyum itu membayang-bayanginya
setiap hari. Senyum itu seakan-akan menyembuhkan rasa rindunya. Tidak di sangkah, seminggu kemudian laki-laki itu berkunjung lagi ke cafenya, sama seperti waktu pertama bertemu dia masih tetap bersikap yang sama yaitu tidak lepas dari senyumnya yang indah itu. Selang beberapa menit kemudian laki-laki yang bernama yoga itu akhirnya menghampiriku dan mengajaknya ngobrol, mereka berdua pun ngobrol panjang lebar, orangnya baik, dewasa, sopan dan sedikit humoris. Dia adalah menejer di salah satu perusahaan tempat ia bekerja. Sungguh laki-laki yang sangat hebat. Ayahnya yang dari tadi menatapknya dari kejauhan, tampak menggeleng-geleng kepala dan sedikit tersenyum. Sadar akan hal itu akhirnya yoga pun mengakhiri perbincangannya.
“sepertinya bos kamu dari tadi memperhatikan kita. Kalau begitu aku pamit dulu ya. Ini kartu nama ku”. Ucapnya sambil menyodorkan kartu nama. dianra pun hanya terkikik di buatnya. Dia tidak tahu kalau boss itu adalah ayah dianra sendiri. Seminggu kemudian yoga mengajakknya diner setelah beberapa hari berkomunikasi lewat BBM. Hari ini adalah hari pertama untuk jalan dengannya. dianra
cukup senang menerimah ajakannya. Ayah yang selalu di jadikannya tempat curhat setelah ibunya sudah tidak ada mendukung 100%. Ayah sangat bahagia melihatnya bisa tersenyum kembali. Rasa cemas pun berkecamuk di fikiran dianra. Takut kalau yoga menegetahui kondisi yang sebenarnya karna selama ini dia belum mengetahui kondisi fisik dianra yang sebenarnya.
“ayah lihat yoga anak yang baik. Pasti dia bisa menerimah kekuranganmu dian”. Ucap ayah menyemangati. Hari ini kami janjian di sebuah restaurant. Tepat pukul 08.00 dia sudah berada di sana lebih awal. dilihat dari kejahuan dia tampak bersemangat, begitupun juga dengan dianra. Lalu dianra pun menghampirinya dengan tatapan dan senyuman yang menandakan aku siap. Tetapi belum sempat duduk yoga menampilkan ekspresi wajah yang berbeda. Dia seakan- akan shock melihat kedatangan dianra yang terpincang-pincang.
Tatapannya kosong dan sedikit di paksakan untuk tersenyum. Dianra yang mengerti dengan perubahan ekspresinya. langsung tertunduk sedih dan menyadari diri. Seakan sudah terencanakan, tiba-tiba saja hp
yoga berdering dan buru-buru mengangkatnya. Sepertinya dia siap-siap untuk beranjak pulang. “ndra maaf aku pulang dulu ya, ada panggilan mendadak”.ucapnya dengan terburu-buru dan berlalu pergi. Dianra yang menyaksikan hal itu hanya bisa diam tanpa mengucapkan apa-apa. Air mataknya sudah tidak bisa tertahan lagi. Ayah yang ternyata belum pulang setelah mengantarkanya ternyata mengawasi dari kejahuan. Dia lalu melangkah terpincang-pincang menuju keluar. Hati dianra begitu kecewa. Ayahnya yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa pasrah. Dua tahun yang lalu dianra dan kekasihnya raka mengalami kecelakaan. Mobil yang mereka tumpangi disambar oleh mobil kampas pengangkut barang. Dianra dan raka terluka parah sehinggah nyawa raka tidak bisa tertolong. Dianra sangat sedih dan frustasi. Sejak kecelakaan itu dia menjadi cewek pincang. Inilah yang membuat yoga shock dan tidak bisa menerimah kadaannya. Dianra pun tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Hanya dengan senyum yoga rindunya terhadap raka bisa terobati. Aku tidak menginginkan jadi cewek pincang, aku ingin normal kembali. Ucapnya dalam hati. Ayahnya hanya bisa memeluk sambil menenangkannya.
“jangan menangis lagi nak, ayah mengerti dengan perasaan kamu. Meskipun kamu gagal mendapatkan cinta lagi, tapi kamu harus bersyukur karena masih punya ayah. Ayah tetap akan selalu berada di sisimu dan selalu ada jika kamu butuh. Mungkin kali ini kamu gagal, tapi percayalah akan ada seseorang yang menerimah mu apa adanya. Ucapnya sambil membelai rambut lurus dianra. Dianra sedikit bangkit setelah mendengar kata-kata ayahnya barusan. Dia mulai bisa tersenyum kembali dan menatap ayahnya dengan senyum semangat. Meskipun hanya pertemuan singkat. Setidak-tidaknya dari pertemuan ini dianra bisa mendapatkan pelajaran berharga dan pengalaman baru yang tak akan bisa dia lupakan.
Saking seriusnya dia sampai-sampai tidak mendengar ayahnya berdehem. Tidak berapa lama kemudian titik-titik hujan pun akhirya turun membasahi bumi. Seorang laki-laki masuk kedalam cafe. Sepertinya dia baru pulang kerja. Bajunya nyaris basa semua. Dia memilhi duduk di dekat jendela sambil menikmati pemandangan di luar. Setelah memesan minum tak sengaja dianra menoleh ke arahnya dan ternyata laki-laki itu juga menoleh ke arahnya. Pandangan mereka berpapasan dan seketika laki- laki itu tersenyum pada dianra. Senyum yang manis dan memancarkan ketenangan. Pertemuan yang begitu singkat namun memiliki arti tersendiri bagi dianra. Dia tidak bisa lupa akan senyum itu. Senyuman itu seakan-akan mengingatkannya pada masa lalunya yang begitu pahit. Dia harus kehilangan orang yang sangat dia sayangi untuk selama-lamanya. Senyum itu membayang-bayanginya
setiap hari. Senyum itu seakan-akan menyembuhkan rasa rindunya. Tidak di sangkah, seminggu kemudian laki-laki itu berkunjung lagi ke cafenya, sama seperti waktu pertama bertemu dia masih tetap bersikap yang sama yaitu tidak lepas dari senyumnya yang indah itu. Selang beberapa menit kemudian laki-laki yang bernama yoga itu akhirnya menghampiriku dan mengajaknya ngobrol, mereka berdua pun ngobrol panjang lebar, orangnya baik, dewasa, sopan dan sedikit humoris. Dia adalah menejer di salah satu perusahaan tempat ia bekerja. Sungguh laki-laki yang sangat hebat. Ayahnya yang dari tadi menatapknya dari kejauhan, tampak menggeleng-geleng kepala dan sedikit tersenyum. Sadar akan hal itu akhirnya yoga pun mengakhiri perbincangannya.
“sepertinya bos kamu dari tadi memperhatikan kita. Kalau begitu aku pamit dulu ya. Ini kartu nama ku”. Ucapnya sambil menyodorkan kartu nama. dianra pun hanya terkikik di buatnya. Dia tidak tahu kalau boss itu adalah ayah dianra sendiri. Seminggu kemudian yoga mengajakknya diner setelah beberapa hari berkomunikasi lewat BBM. Hari ini adalah hari pertama untuk jalan dengannya. dianra
cukup senang menerimah ajakannya. Ayah yang selalu di jadikannya tempat curhat setelah ibunya sudah tidak ada mendukung 100%. Ayah sangat bahagia melihatnya bisa tersenyum kembali. Rasa cemas pun berkecamuk di fikiran dianra. Takut kalau yoga menegetahui kondisi yang sebenarnya karna selama ini dia belum mengetahui kondisi fisik dianra yang sebenarnya.
“ayah lihat yoga anak yang baik. Pasti dia bisa menerimah kekuranganmu dian”. Ucap ayah menyemangati. Hari ini kami janjian di sebuah restaurant. Tepat pukul 08.00 dia sudah berada di sana lebih awal. dilihat dari kejahuan dia tampak bersemangat, begitupun juga dengan dianra. Lalu dianra pun menghampirinya dengan tatapan dan senyuman yang menandakan aku siap. Tetapi belum sempat duduk yoga menampilkan ekspresi wajah yang berbeda. Dia seakan- akan shock melihat kedatangan dianra yang terpincang-pincang.
Tatapannya kosong dan sedikit di paksakan untuk tersenyum. Dianra yang mengerti dengan perubahan ekspresinya. langsung tertunduk sedih dan menyadari diri. Seakan sudah terencanakan, tiba-tiba saja hp
yoga berdering dan buru-buru mengangkatnya. Sepertinya dia siap-siap untuk beranjak pulang. “ndra maaf aku pulang dulu ya, ada panggilan mendadak”.ucapnya dengan terburu-buru dan berlalu pergi. Dianra yang menyaksikan hal itu hanya bisa diam tanpa mengucapkan apa-apa. Air mataknya sudah tidak bisa tertahan lagi. Ayah yang ternyata belum pulang setelah mengantarkanya ternyata mengawasi dari kejahuan. Dia lalu melangkah terpincang-pincang menuju keluar. Hati dianra begitu kecewa. Ayahnya yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa pasrah. Dua tahun yang lalu dianra dan kekasihnya raka mengalami kecelakaan. Mobil yang mereka tumpangi disambar oleh mobil kampas pengangkut barang. Dianra dan raka terluka parah sehinggah nyawa raka tidak bisa tertolong. Dianra sangat sedih dan frustasi. Sejak kecelakaan itu dia menjadi cewek pincang. Inilah yang membuat yoga shock dan tidak bisa menerimah kadaannya. Dianra pun tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Hanya dengan senyum yoga rindunya terhadap raka bisa terobati. Aku tidak menginginkan jadi cewek pincang, aku ingin normal kembali. Ucapnya dalam hati. Ayahnya hanya bisa memeluk sambil menenangkannya.
“jangan menangis lagi nak, ayah mengerti dengan perasaan kamu. Meskipun kamu gagal mendapatkan cinta lagi, tapi kamu harus bersyukur karena masih punya ayah. Ayah tetap akan selalu berada di sisimu dan selalu ada jika kamu butuh. Mungkin kali ini kamu gagal, tapi percayalah akan ada seseorang yang menerimah mu apa adanya. Ucapnya sambil membelai rambut lurus dianra. Dianra sedikit bangkit setelah mendengar kata-kata ayahnya barusan. Dia mulai bisa tersenyum kembali dan menatap ayahnya dengan senyum semangat. Meskipun hanya pertemuan singkat. Setidak-tidaknya dari pertemuan ini dianra bisa mendapatkan pelajaran berharga dan pengalaman baru yang tak akan bisa dia lupakan.
Langganan:
Postingan (Atom)