Pagi itu, semua berjalan seperti biasa saja.
Semua sibuk mengerjakan
pekerjaan masing-masing
apalagi hari itu banyak sekali
kegiatan yang harus
dipersiapkan oleh kami di Dompet Dhuafa. Namun yang pasti hari itu,
saya mendapatkan lagi
pelajaran betapa
sesungguhnya memberi
pelayanan yang terbaik itu
berlaku itu semua orang. Tak peduli apakah itu orang kaya,
atau orang yang terlihat kaya
atau terlihat biasa-biasa saja. Pertama soal betapa
prasangka itu, tidaklah benar.
Menyangka ibu tua renta
yang datang dengan anaknya
itu tadinya adalah orang yang
akan meminta bantuan, namun nyatanya ia malah
muzakki yang dari dana
zakatnya program rumah
sehat terpadu kami insyaAllah
dapat terwujud. Kedua, jangan pernah melihat
orang dari fisiknya saja. Yang
disangka meminta malah
membayar. Semoga Allah
membuka hati ini terus-
menerus untuk dapat menangkap kebaikan. Amin. Bermula dari datangnya ibu
dan anaknya, wajahnya biasa-
biasa saja. Bahkan nampak
sekali kerut-kerut di
wajahnya membuat ia
tampak semakin tua dan lelah saja. Ia datang untuk
meminta penjelasan tentang
program rumah sehat terpadu
yang rencananya kami
bangun di depan sekolah
unggul bebas biaya di Parung, Bogor. ”Boleh, saya mendapatkan
infomasi tentang Rumah
Sehat Terpadu,” tanyanya
perlahan. ”Boleh Ibu, informasi apa
yang ingin Ibu dapatkan.
Rumah Sakit itu sengaja kami
beri nama Rumah Sehat,
karena kami ingin agar
mereka yang datang mendapatkan layanan
kesehatan di Rumah Sehat
tersebut menjadi sehat.
Sementara kata terpadu
dikarenakan di lokasi itu
nantinya akan terintregasikan seluruh program-program
pendidikan, kesehatan,
ekonomi, yang dikelola oleh
Dompet Dhuafa. Semuanya
kami berikan gratis. Bahkan
kami berencana membangun masjid kaca” ujar Herdi, amil
Dompet Dhuafa. ”Siapa saja yang boleh
mendapatkan layanan
kesehatan gratsis itu?”
tanyanya lagi. Kami semua menyangka
bahwa ibu tua itu
mengharapkan bantuan
untuk mendapatkan layanan
kesehatan cuma-cuma itu.
Ternyata tidak. Ia hanya ingin memastikan lagi bahwa dana
zakat yang diserahkan oleh
para muzakki ke Dompet
Dhuafa itu memberikan
dampak yang besar bagi
masyarakat. ”Ok Nak Herdi, saya ingin
membayarkan zakat saya, di
mana lokasi Bank Mandiri
terdekat di sini? Bila sudah
transfer saya akan kabari Nak
Herdi.”. Herdi terhenyak kaget, dan
semakin kaget lagi begitu ia
ingin segera membayarkan
zakat tanpa menunda waktu. ”Bank Mandiri tak jauh dari
sini Ibu. Saya bisa antarkan.” ”Tak usah, nanti saja bila
sudah saya tranfer saya akan
kembali untuk dapatkan
bukti setor zakatnya. Tolong
berikan no rekening Dompet
Dhuafa di Bank Mandiri.” Herdi pun sibuk mencari no
rekening Dompet Dhuafa di
Bank Mandiri. Padahal nomor
itu ada di brosur DD, tapi
seolah tak ada. Jadi sulit
untuk dicari. Sampai menjumpai no rekening nya.
”Ahh ini nomor nya Bu..!” ”Saya minta izin dahulu nanti
saya kembali lagi bila sudah
mentransfer”. Belum lagi 5 menit handphone
Herdi pun, berdering. ”Bisa di
cek ke rekening Dompet
Dhuafa, saya baru saja
mentransfer Rp 150 juta,”
suara dibalik telepon itu terdengar agak samar. ”Mohon maaf Ibu, berapa
yang Ibu transfer nanti akan
kami cek segera ke Bank
Mandiri.” ”Rp 150 juta, Mas,” ujar ibu itu. Masya Allah sebanyak itu,
Alhamdulillah ya Allah,
semoga Allah memberikan
kemuliaan pada Ibu itu. ”Sebentar itu kami akan cek,
Mbak Endang tolong di cek di
Bank Mandiri, apakah sudah
masuk transfer sebesar Rp 150
juta untuk Rumah Sehat
Terpadu.” ”Sudah Mas,” sahut Endang
dari balik ruangan. ”Alhamdulillah Ibu, sudah
masuk ke rekening kami.” Hmm Luar biasa, lihatlah
katanya-katanya, ”Saya
bayarkan zakat ini untuk
suami saya yang telah wafat.
Saya berharap zakat yang
saya tunaikan ini, memudahkan jalan bagi ia
menuju surga, seperti yang
selama ini diharapkannya.” ”Amin Ibu, kami berdoa
semoga almarhum
mendapatkan tempat yang
mulia dan tinggi atas zakat
yang Ibu tunaikan hari ini.
Semoga Allah memberikan pahala atas harta yang telah
diberikan dan menjadikan suci
serta keberkahan atas harta
Ibu yang tersisa.” ”Amin” *** Pembaca yang mulia, kisah ini
membuat saya harus sering
berdoa semoga saya bisa
seikhlas mereka dalam
sedekah dan belajar juga
untuk menjauhkan diri dari prasangka. Sambil terus
mendoakan para muzakki
agar doa dan harapannya
segera terwujud.
Minggu, 12 Agustus 2012
Anak berbaju ungu di terminal
Aku berjalan tergesa-gesa
menuju kantorku. Yup, aku
memang bangun agak
kesiangan pagi ini. Sehingga
aku harus mengejar waktu
agar tidak terlambat sampai di kantor. Seperti biasa sesudah
berjalan sekitar 100 meter dari
kosku, aku sampai di sebuah
halte. Disitulah tempatku biasa
menunggu bus. Hampir setiap pagi aku
ketemu dengan orang-orang
yang sama di halte itu. Mereka
juga para pekerja kantor,
sama dengan aku. Aku hapal
dengan wajah-wajah mereka, sekalipun aku sama sekali
tidak tahu nama-nama
mereka. Tetapi ada yang berbeda hari
ini, aku melihat seorang anak
kecil. Perempuan yang
mungkin berusia 10 tahunan
itu sedang duduk melamun di
halte. Pakaian lusuhnya berwarna ungu, dan
wajahnya tampak sedih
sekali. Belum sempat terlalu
lama mengamati anak itu –
tiba-tiba busku datang dan
aku berangkat bekerja. — Besok paginya, di halte itu
aku melihat anak kecil itu lagi.
Dengan baju yang sama
lusuhnya dengan kemarin,
dan dengan raut muka yang
sama sedihnya juga. Ada yang unik dengan anak itu, entah
kenapa dia selalu mengamati
orang-orang yang menunggu
di halte itu. —- Pagi ini adalah pagi yang
ketiga kulihat anak itu. Semua
pada dirinya tetap sama.
Pakaian ungu lusuh dan wajah
sedih. “Mungkin ia adalah
gelandangan yang tinggal di halte ini”. Pikirku. Dari caranya
berpakaian yang asal-asalan
saya bisa memastikan anak
itu adalah seorang anak
jalanan. Mungkin dia adalah
salah satu pengamen yang sering menyanyikan lagu-lagu
tak jelas di perempatan dekat
halte bus ini. —- Sepuluh hari sudah kulihat
anak itu tetap duduk di
tempatnya setiap pagi. Hari ini
aku punya jadwal piket di
kantor, sehingga aku harus
datang lebih pagi dari biasanya. Tidak ada orang lain
di halte kecuali aku dan anak
berbaju ungu itu. “Kenapa engkau selalu
bersedih ?” tanyaku, “Apa
kamu lapar ?”
“Nggak mas” jawabnya
singkat, “Aku hanya
menjalankan tugas” “Tugas apa ?” tanyaku agak
aneh. Raut wajah anak itu tiba-tiba
berubah, dia tertawa riang
sambil berkata : “Tugas untuk menunggu
seseorang mau menyapaku” Sesudah berkata demikian,
baju gadis itu mendadak
berubah menjadi putih bersih
– dan di punggunggnya
muncul sepasang sayap putih.
Sambil tersenyum, anak itu perlahan-lahan menghilang
dari pandanganku, dan
berubah menjadi bola putih
bersinar yang langsung
melesat menuju langit. Dan aku masih terbengong-
bengong berdiri di sini. (semoga cerita ini dapat
mengingatkan kita untuk
lebih ‘peduli’ dan mau
menyapa)
menuju kantorku. Yup, aku
memang bangun agak
kesiangan pagi ini. Sehingga
aku harus mengejar waktu
agar tidak terlambat sampai di kantor. Seperti biasa sesudah
berjalan sekitar 100 meter dari
kosku, aku sampai di sebuah
halte. Disitulah tempatku biasa
menunggu bus. Hampir setiap pagi aku
ketemu dengan orang-orang
yang sama di halte itu. Mereka
juga para pekerja kantor,
sama dengan aku. Aku hapal
dengan wajah-wajah mereka, sekalipun aku sama sekali
tidak tahu nama-nama
mereka. Tetapi ada yang berbeda hari
ini, aku melihat seorang anak
kecil. Perempuan yang
mungkin berusia 10 tahunan
itu sedang duduk melamun di
halte. Pakaian lusuhnya berwarna ungu, dan
wajahnya tampak sedih
sekali. Belum sempat terlalu
lama mengamati anak itu –
tiba-tiba busku datang dan
aku berangkat bekerja. — Besok paginya, di halte itu
aku melihat anak kecil itu lagi.
Dengan baju yang sama
lusuhnya dengan kemarin,
dan dengan raut muka yang
sama sedihnya juga. Ada yang unik dengan anak itu, entah
kenapa dia selalu mengamati
orang-orang yang menunggu
di halte itu. —- Pagi ini adalah pagi yang
ketiga kulihat anak itu. Semua
pada dirinya tetap sama.
Pakaian ungu lusuh dan wajah
sedih. “Mungkin ia adalah
gelandangan yang tinggal di halte ini”. Pikirku. Dari caranya
berpakaian yang asal-asalan
saya bisa memastikan anak
itu adalah seorang anak
jalanan. Mungkin dia adalah
salah satu pengamen yang sering menyanyikan lagu-lagu
tak jelas di perempatan dekat
halte bus ini. —- Sepuluh hari sudah kulihat
anak itu tetap duduk di
tempatnya setiap pagi. Hari ini
aku punya jadwal piket di
kantor, sehingga aku harus
datang lebih pagi dari biasanya. Tidak ada orang lain
di halte kecuali aku dan anak
berbaju ungu itu. “Kenapa engkau selalu
bersedih ?” tanyaku, “Apa
kamu lapar ?”
“Nggak mas” jawabnya
singkat, “Aku hanya
menjalankan tugas” “Tugas apa ?” tanyaku agak
aneh. Raut wajah anak itu tiba-tiba
berubah, dia tertawa riang
sambil berkata : “Tugas untuk menunggu
seseorang mau menyapaku” Sesudah berkata demikian,
baju gadis itu mendadak
berubah menjadi putih bersih
– dan di punggunggnya
muncul sepasang sayap putih.
Sambil tersenyum, anak itu perlahan-lahan menghilang
dari pandanganku, dan
berubah menjadi bola putih
bersinar yang langsung
melesat menuju langit. Dan aku masih terbengong-
bengong berdiri di sini. (semoga cerita ini dapat
mengingatkan kita untuk
lebih ‘peduli’ dan mau
menyapa)
Sebuah kisah cinta sejati
Seorang pria dan kekasihnya
menikah dan acaranya
pernikahannya sungguh
megah. Semua kawan-kawan
dan keluarga mereka hadir
menyaksikan dan menikmati hari yang berbahagia tersebut. Suatu acara yang luar biasa
mengesankan. Mempelai
wanita begitu anggun dalam
gaun putihnya dan pengantin
pria dalam tuxedo hitam yang
gagah. Setiap pasang mata yang memandang setuju
mengatakan bahwa mereka
sungguh-sungguh saling
mencintai. Beberapa bulan kemudian,
sang istri berkata kepada
suaminya, “Sayang, aku baru
membaca sebuah artikel di
majalah tentang bagaimana
memperkuat tali pernikahan” katanya sambil menyodorkan
majalah tersebut. “Masing-masing kita akan
mencatat hal-hal yang kurang
kita sukai dari pasangan kita.
Kemudian, kita akan
membahas bagaimana
merubah hal-hal tersebut dan membuat hidup pernikahan
kita bersama lebih bahagia…..” Suaminya setuju dan mereka
mulai memikirkan hal-hal dari
pasangannya yang tidak
mereka sukai dan berjanji
tidak akan tersinggung ketika
pasangannya mencatat hal-hal yang kurang baik sebab hal
tersebut untuk kebaikkan
mereka bersama. Malam itu mereka sepakat
untuk berpisah kamar dan
mencatat apa yang terlintas
dalam benak mereka masing-
masing. Besok pagi ketika
sarapan, mereka siap mendiskusikannya. “Aku akan mulai duluan ya”,
kata sang istri. Ia lalu
mengeluarkan daftarnya.
Banyak sekali yang ditulisnya,
sekitar 3 halaman. Ketika ia mulai membacakan
satu persatu hal yang tidak
dia sukai dari suaminya, ia
memperhatikan bahwa air
mata suaminya mulai
mengalir. “Maaf, apakah aku harus
berhenti ?” tanyanya. “Oh tidak, lanjutkan…” jawab
suaminya. Lalu sang istri melanjutkan
membacakan semua yang
terdaftar, lalu kembali melipat
kertasnya dengan manis di
atas meja dan berkata dengan
bahagia. “Sekarang gantian ya, engkau
yang membacakan daftarmu”. Dengan suara perlahan
suaminya berkata “Aku tidak
mencatat sesuatupun di
kertasku. Aku berpikir
bahwa engkau sudah
sempurna, dan aku tidak ingin merubahmu. Engkau adalah dirimu sendiri.
Engkau cantik dan baik
bagiku. Tidak satupun dari
pribadimu yang kudapatkan
kurang…. “ Sang istri tersentak dan
tersentuh oleh pernyataan
dan ungkapan cinta serta isi
hati suaminya. Bahwa
suaminya menerimanya apa
adanya… Ia menunduk dan menangis….. Dalam hidup ini, banyak kali
kita merasa dikecewakan,
depressi, dan sakit hati.
Sesungguhnya takperlu
menghabiskan waktu
memikirkan hal-hal tersebut. Hidup ini penuh dengan
keindahan, kesukacitaan dan
pengharapan. Mengapa harus
menghabiskan waktu
memikirkan sisi yang
buruk,mengecewakan dan menyakitkan jika kita bisa
menemukan banyak hal-hal
yang indah di sekeliling kita ? Saya percaya kita akan
menjadi orang yang
berbahagia jika kita mampu
melihat dan bersyukur untuk
hal-hal yang baik dan
mencoba melupakan yang buruk. *** Diterjemahkan dari tulisan :
Trevor Klein. “Sukses tidak harus berarti
banyak UANG. Menjadi orang
BAIK juga itu termasuk
SUKSES”
menikah dan acaranya
pernikahannya sungguh
megah. Semua kawan-kawan
dan keluarga mereka hadir
menyaksikan dan menikmati hari yang berbahagia tersebut. Suatu acara yang luar biasa
mengesankan. Mempelai
wanita begitu anggun dalam
gaun putihnya dan pengantin
pria dalam tuxedo hitam yang
gagah. Setiap pasang mata yang memandang setuju
mengatakan bahwa mereka
sungguh-sungguh saling
mencintai. Beberapa bulan kemudian,
sang istri berkata kepada
suaminya, “Sayang, aku baru
membaca sebuah artikel di
majalah tentang bagaimana
memperkuat tali pernikahan” katanya sambil menyodorkan
majalah tersebut. “Masing-masing kita akan
mencatat hal-hal yang kurang
kita sukai dari pasangan kita.
Kemudian, kita akan
membahas bagaimana
merubah hal-hal tersebut dan membuat hidup pernikahan
kita bersama lebih bahagia…..” Suaminya setuju dan mereka
mulai memikirkan hal-hal dari
pasangannya yang tidak
mereka sukai dan berjanji
tidak akan tersinggung ketika
pasangannya mencatat hal-hal yang kurang baik sebab hal
tersebut untuk kebaikkan
mereka bersama. Malam itu mereka sepakat
untuk berpisah kamar dan
mencatat apa yang terlintas
dalam benak mereka masing-
masing. Besok pagi ketika
sarapan, mereka siap mendiskusikannya. “Aku akan mulai duluan ya”,
kata sang istri. Ia lalu
mengeluarkan daftarnya.
Banyak sekali yang ditulisnya,
sekitar 3 halaman. Ketika ia mulai membacakan
satu persatu hal yang tidak
dia sukai dari suaminya, ia
memperhatikan bahwa air
mata suaminya mulai
mengalir. “Maaf, apakah aku harus
berhenti ?” tanyanya. “Oh tidak, lanjutkan…” jawab
suaminya. Lalu sang istri melanjutkan
membacakan semua yang
terdaftar, lalu kembali melipat
kertasnya dengan manis di
atas meja dan berkata dengan
bahagia. “Sekarang gantian ya, engkau
yang membacakan daftarmu”. Dengan suara perlahan
suaminya berkata “Aku tidak
mencatat sesuatupun di
kertasku. Aku berpikir
bahwa engkau sudah
sempurna, dan aku tidak ingin merubahmu. Engkau adalah dirimu sendiri.
Engkau cantik dan baik
bagiku. Tidak satupun dari
pribadimu yang kudapatkan
kurang…. “ Sang istri tersentak dan
tersentuh oleh pernyataan
dan ungkapan cinta serta isi
hati suaminya. Bahwa
suaminya menerimanya apa
adanya… Ia menunduk dan menangis….. Dalam hidup ini, banyak kali
kita merasa dikecewakan,
depressi, dan sakit hati.
Sesungguhnya takperlu
menghabiskan waktu
memikirkan hal-hal tersebut. Hidup ini penuh dengan
keindahan, kesukacitaan dan
pengharapan. Mengapa harus
menghabiskan waktu
memikirkan sisi yang
buruk,mengecewakan dan menyakitkan jika kita bisa
menemukan banyak hal-hal
yang indah di sekeliling kita ? Saya percaya kita akan
menjadi orang yang
berbahagia jika kita mampu
melihat dan bersyukur untuk
hal-hal yang baik dan
mencoba melupakan yang buruk. *** Diterjemahkan dari tulisan :
Trevor Klein. “Sukses tidak harus berarti
banyak UANG. Menjadi orang
BAIK juga itu termasuk
SUKSES”
40 tahun dikawinkan dengan batu nisan
Kisah ini dialami oleh
seorang wanita yang
sengaja di samarkan
dengan nama Nyai
Kedasih. Sesuai dengan
permintaan si penutur kisah, alamat serta
jadidiri yang
bersangkutan menjadi
rahasia kami…. Walau usianya sudah di
ambang 70 tahun, garis-garis
kecantikan masih tersirat di
wajahnya yang bersih.
Rambutnya telah memutih,
namun pendengarannya masih sangat baik. Kulitnya
yang penuh kerut juga
masih terawat dengan baik.
Sesekali dia masih bisa
melenggak-lenggok
tubuhnya yang ringkih untuk menari Jaipong.
Orang-orang yang tinggal di
kampung lereng gunung itu
mengenalnya dengan nama
Nyai Kedasih. Dia tinggal di
rumahnya yang sederhana namun berhalaman cukup
luas dan asri. Ditemani oleh
Encih, wanita 40-an tahun.
Encih, mungkin satu-
satunya orang yang masih
bisa merekam dengan jelas kehidupan Nyai Kedasih di
masa lalu. Maklumlah, sejak
kecil Encih memang sudah
ikut dengan Nyai Kedasih.
Bahkan, Encih sudah
diangkat sebagai anak. Dari perkawinannya dengan
Atta, Encih memiliki
sepasang anak, putra dan
putri yang keduanya juga
telah menikah dan berputra.
Mereka tinggal tak jauh dari rumah itu.
“Saya tidak tahu siapa orang
tua saya yang sebenarnya.
Sejak kecil saya sudah ikut
Emak (Nyai Kedasih).
Kemana saja Emak mentas, saya pasti ikut,” cerita Encih.
Dari raut wajahnya,
memang tak ada kemiripan
sama sekali antara kedua
wanita ini. Nyai Kedasih
berwajah khas wanita priangan, dengan paras
sedikit bulat dan berkulit
bersih. Tapi Encih kelihatan
lebih hitam, wajahnya pun
tampak lebih keras. Jadi
jelas kedua wanita itu sama sekali tak memiliki pertalian
darah.
“Emak mengangkat Encih
sebagai anak waktu usianya
masih sepuluh tahun. Dia ini
anak salah seorang nayaga di Grup Sinar Pasundan,
tempat dulu Emak
bergabung,” tambah Nyai
Kedasih.
Hubungan antara Nyai
Kedasih dan Encih mungkin hanya sebagian kecil dari sisi
menarik perjalanan hidup
wanita yang masih memiliki
suara merdu saat
menyanyikan Tembang
Cianjuran itu. Ada hal lain yang jauh lebih menarik,
yakni sisi kehidupan Nyai
Kedasih dalam
hubungannya dengan dunia
yang dulu digelitinya.
Sinden Jaipong! “Emak ini dulunya adalah
seorang primadona di Grup
Sinar Pasundan,” bibir tua itu
bergetar. Lalu, matanya
yang cekung memandang
jauh ke depan, dengan sorot menerawang. Dia tengah
berusaha mengumpulkan
segenap memori masa
lalunya. Kepada Misteri, Nyai
Kedasih menuturkan kisah
hidupnya, seperti yang terekam berikut ini…:
Aku terlahir dari keluarga
seniman. Ibuku seorang
sinden, dan ayahku seorang
penabuh beduk yang cukup
andal. Jadi, kloplah darah seni bumi Prahyangan
mengalir dalam tubuhku.
Wajar saja jika kemudian
aku menjadi pandai menari
dan menyanyi. Banyak
orang yang terpesona melihat tarianku, dan
banyak pula yang
mengagumi merdunya
suaraku.
Namun, bukan hanya kedua
modal itu yang membuatku kemudian menjadi
primadona. Sebagai seorang
sinden, kepandaian menari
dan kemerduan suara
memang modal mutlak, tapi
jauh lebih penting adalah penampilan fisik. Aku
merasa sangat beruntung,
sebab ketiga modal itu
sama-sama ada pada diriku.
Bahkan, kecantikanku yang
nyaris sempurna, sungguh merupakan karunia Tuhan
yang sangat besar bagi
diriku.
Banyak pria yang tergila-
gila padaku, karena
kecantikan dan kemolekan tubuhku. Mereka rela
mengorbankan apa saja asal
bisa mendekati diriku.
Bahkan tak sedikit para
juragan kaya, termasuk
pejabat ketika itu yang berusaha menyuntingku.
Rata-rata mereka ingin
menjadikan diriku sebagai
isteri muda, atau isteri
simpanan.
Sebagai wanita normal, tentu saja aku keberatan
menyandang status sebagai
isteri muda ataupun isteri
simpanan. Apalagi ketika
itu aku sedang jatuh cinta
pada Sumantri, seorang guru SD yang masih
berstatus bujangan.
Dengan kehadiranku, Grup
Sinar Pasundan tempat aku
biasa nyinden kian terkenal.
Hampir di sepanjang musim grup ini tak pernah sepi
order manggung. Begitu
terkenalnya aku sampai-
sampai dalam sekali mentas
bisa mendapatkan uang
sawer dalam jumlah sangat besar, bahkan terkadang
jauh lebih besar dari nilai
kontrak panggilan. Bila aku
manggung, pria berjubel
ingin melihat kecantikan
dan lenggak-lenggok tubuhku yang aduhai.
Begitu besarnya minat
kaum pria atas diriku,
sampai-sampai kerap kali
terjadi perkelahian di antara
mereka. Bahkan tak jarang hingga mengorbankan
nyawa.
Ketenaran dan potensiku
akhirnya dimanfaatkan oleh
kedua orang tuaku,
terutama ibuku yang tergolong kemaruk harta.
Ibukulah yang selalu
mendorong agar aku bisa
menangguk keuntungan
dari banyaknya pria hidung
belang yang ingin menyuntingku. Dalam
istilah Sunda, ibu ingin
menjadikanku sebagai
wanita yang pandai ngeret.
Kehidupan yang
bergelimang uang dan pujian akhirnya memang
membuatku lupa daratan.
Aku pun larut dalam gaya
hidup sesuai dengan
keinginan ibuku. Banyak
pria yang akhirnya patah hati, setelah mengorbankan
uang relatif banyak untuk
sekedar menyentuh
tubuhku.
Karena mabuk akan dunia
yang glamour ini, akhirnya akupun melupakan
Sumantri, guru miskin itu.
Apalagi kemudian Sumantri
dipindahtugaskan ke daerah
Lampung, sehingga kami
pun tak mungkin bisa bersama lagi.
Cinta, rupanya memang
menjadi sesuatu yang tidak
berarti bagiku. Mungkin hal
ini terjadi karena aku bosan
dengan ungkapan cinta yang dikatakan oleh begitu
banyak lelaki. Aku
menganggap semuanya
hanya angin lalu, dan aku
menganggap cinta itu tak
pernah ada. “Jangan berikan cintamu
pada mereka, berikan saja
tubuhmu!” Begitu yang
selalu diajarkan ibuku.
Mungkin sesuatu yang tidak
normal, tapi menjadi normal bagi kami ketika itu.
Kenyataannya, memang
demikianlah kehidupan para
pesinden yang betul-betul
dituntut untuk bisa
memanfaatkan tubuh dan kecantikannya demi
mendapatkan limpahan
materi. Bahkan untuk
tujuan ini, ibu tak jarang
membawaku ke dukun-
dukun untuk dipasangi susuk. Entah berapa banyak
susuk yang tertanam di
tubuhku. Mulai di wajah,
bibir, hingga pinggul. Semua
dilakukan agar aku
senantiasa tampil menarik dan penuh daya pukau.
Namun, hidup bak roda
pedati, kadang di atas,
kadang di bawah. Begitulah
kenyataan yang akhirnya
terjadi pada diriku. Di suatu malam yang dingin,
ketika aku tengah bertabur
uang dan pujian dalam suatu
pementasan, sebuah tragedi
berlangsung dengan sangat
perih. Segerombolan garong telah membantai ibu dan
ayahku, hingga nyawa
mereka terenggut. Ketika
itu, ibu dan ayahku
memang tidak ikut
rombongan Grup Sinar Pasundan. Mereka memilih
tinggal di rumah kami yang
lumayan besar dan mewah
untuk ukuran ketika itu.
Pas tengah malam,
gerombolan garong itu masuk. Mereka merampok
harta kami dan
membinsakan kedua orang
tuaku.
Untunglah waktu itu
sebagian uang dari hasil mentas dan ngeret lelaki
hidung belang sudah
kubelikan sawah dan
kebun, sehingga aku tidak
benar-benar jatuh miskin.
Sementara perhiasan bernilai jutaan rupiah, uang dan
barang-barang berharga
lainnya habis dijarah para
garong.
Kepergian kedua orang
tuaku dan ludesnya harta bendaku membuatku
sangat terpukul.
Kehidupanku pun mulai
terasa limbung. Sialnya, di
tengah keadaan seperti ini
tiba-tiba datang Juragan Jaja Subarja yang
menuntutku agar segera
menikah dengannya.
“Pokoknya, kita harus
segera melaksanakan
pernikahan kita, Nyai. Bukankah aku sudah
mengatur segalanya dengan
almarhum kedua orang tua
Nyai!” kata Juragan Jaja
Subarja.
Aku benar-benar terkejut mendengar tuntutan itu.
Bagaimana mungkin aku
sudi menikah dengan
bandot tua yang sudah
memiliki dua orang isteri
itu? “Saya tidak mengerti
bagaimana maksud
Juragan!” ujarku.
Lelaki yang terkanal paling
kaya di daerah Banjar
Patroman ketika itu, tampak sangat kesal dengan
jawabanku. Namun dia
masih berusaha sabar.
“Begini, Nyai! Seminggu
sebelum kedua orang tuamu
meninggal dibunuh para garong itu, aku sudah
melamarmu kepada
mereka. Bahkan aku sudah
memenuhi tuntutan yang
diajukan oleh ibumu. Dan
sesuai petunjuk ayah dan ibumu, rencananya hari
Senin depan kita menikah.”
Rasanya aku seperti
disambar petir mendengar
penjelas itu. “Bagaimana
mungkin aku harus menikah dengan juragan,
sedangkan aku tak pernah
tahu dengan urusan itu,”
sergahku.
“Saya tidak mau tahu soal
itu, Nyai! Yang penting lamaran saya sudah
diterima, dan kita harus
segera menikah. Titik!”
suara Juragan Jaja Subarja
meninggi.
Namun, akupun tak kalah sengit membalasnya.
“Urusan lamar melamar itu
adalah urusan ayah dan
ibuku. Mereka tak pernah
membicarakannya
denganku. Jadi, bagaimana mungkin aku bisa menikah
dengan Juragan.”
Jaja Subarja menatapku
dengan tajam. “Jangan
main-main denganku, Nyai!
Aku tidak suka dicurangi!” ancamnya.
“Siapa yang mencurangi
Juragan. Aku? Huh…aku
tidak pernah serendah itu,
Juragan!” balasku. Sebagai
wanita yang sering menghadapi banyak
potongan lelaki, aku
memang tidak bisa
digertak. Apalagi merasa
takut.
Juragan Jaja menggebrak meja. “Kalau kau tidak
bersedia menikah denganku
baiklah. Tapi kumohon
kembalikan lima ratus gram
emas dan sepuluh juta
rupiah uang yang telah kuberikan kepada ibumu,”
katanya dengan suara
keras.
Hampir saja aku melompat
mendengarnya. Bukan
karena takut pada suara Jaja Subarja yang keras
seperti harimau mengaum
itu, tapi aku terkejut pada
jumlah barang yang dia
sebutkan. 500 gram emas
ditambah 10 juta rupiah uang kontan? Sungguh
suatu jumlah yang besar
saat itu. Bagaimana
mungkin aku
mengembalikannya? Lagi
pula, aku tak pernah tahu menahu dengan harta
kekayaan itu.
“Dengar, Juragan! Aku tak
pernah tahu menahu dengan
harta Juragan itu. Aku tidak
pernah melihat apalagi menerimanya walau
sepeserpun. Jadi keputusan
saya tetap, saya tidak
mungkin mau menikah
dengan juragan. Titik!” Aku
tak kalah sengit membalasnya. Ibuku
memang selalu
mengajarkan bahwa lelaki
tak selamanya harus
dihadapi dengan
kelembutan. “Baik, Nyai! Baik!” Subarja
bangkit dari tempat
duduknya. “Kalau kau tetap
bersikukuh dengan
pendirianmu, aku relakan
semua harta benda milikku itu. Tapi ingat satu hal, Nyai!
Kau tidak sudi menjadi
isteriku, tapi akupun tidak
sudi kau diperisteri oleh
lelaki lain. Camkan itu!”
Juragan Subarja pergi meninggalkanku dengan
ancaman yang penuh
dendam. Namun, aku
menganggapnya hanya
angin lalu. Bukankah lelaki
yang ditolak keinginannya selalu saja berbuat kalap?
Ah, mereka memang selalu
seperti anak kecil! Pikirku
ketika itu.
*** Jaja Subarja rupanya tak
main-main dengan
ancamannya. Setidaknya hal
ini baru kurasakan setelah
dua minggu peristiwa
pertengkaran itu. Di suatu malam, aku bermimpi ada
yang menaburkan garam di
atas kepalaku. Rasanya
panas luar biasa. Aku
menjerit-jerit kepanasan,
dan terjaga dari tidurku. Aneh, saat terjaga aku
melihat ada ratusan, bahkan
mungkin ribuan kutu di atas
bantal yang aku tiduri.
Tentu saja aku menjerit-jerit
ketakutan. Mak Tonah, pembantuku ketika itu
datang menolong. Dia pun
sama ketakutan seperti
diriku demi melihat kutu-
kutu itu.
Beberaja jam setelah peristiwa ini, aku
merasakan kulit kepalaku
terasa panas dan gatal. Aku
coba membersihkannya
dengan cara keramas, tapi
gatal-gatal itu tetap saja tak pernah hilang. Aku
menggaruknya. Anehnya,
semakin digaruk rasa gatal
itu semakin menjadi-jadi.
Aku begitu tersiksa
karenanya. Karena gatal-gatal yang luar
biasa itu, akhirnya muncul
koreng-koreng kecil
bernanah di kulit kepalaku.
Akibatnya bila malam tiba
aku benar-benar tersiksa. Digaruk salah, tidak digaruk
pun salah.
Begitu dahsyatnya rasa
gatal itu, sehingga aku tak
kuat menahan untuk tidak
menggaruknya. Aku terus saja menggaruknya, hingga
akhirnya kepalaku tidak
saja dipenuhi oleh luka-luka
kecil bernanah, namun
rambutku yang indah pun
mulai berguguran. Anehnya, setiap helai
rambutku tercerabat, maka
di akarnya akan terlihat
kutu-kutu yang
berlompatan. Menjijikan!
Dalam waktu kurang dari satu bulan, mahkotaku
yang indah berubah
meranggas, bahkan sangat
menjijikan karena dipenuhi
dengan koreng-koreng.
Akibat dari semua ini, tentu saja aku tak bisa
menjalankan aktivitasku
sebagai seoranmg sinden.
Bahkan, aku lebih senang
mengurung diri di dalam
kamar. Hal ini kulakukan karena aku benar-benar
merasa minder bila harus
bertemu dengan orang lain.
Celakanya lagi, akibat
kurang tidur dan tersiksa
oleh penyakit anehku, tubuhku yang dulu singset
dan seksi berubah sangat
kurus. Wajahku yang cantik
dan segar berubah layu dan
pucat. Dan yang lebih
menyakitkan lagi, rambut hitam mayangku yang dulu
indah kini telah punah
seperti hutan yang
terbakar. Ringkasnya, aku
sama sekali tak menarik
lagi. Bahkan mungkin banyak orang yang takut
melihatku.
Sejak mengalami penyakit
aneh ini, nama Nyai Kedasih
pun lambat laun hilang dari
dunia kesenian jaipong. Selama itu pula aku terus
berusaha menyembuhkan
penyakitku, hingga tak
terasa waktu dua tahun pun
berlalu. Mungkin, tak
terhitung berapa banyaknya uang yang aku
habiskan untuk
menyembuhkan
penyakitku. Namun
syukurlah, ketika hampir
putus asa akhirnya penyakitku dapat
disembuhkan setelah aku
berobat kepada seorang
dukun di daerah Jampang
Surade. Sang dukun
menyebut guna-guna yang dikirim kepadaku dengan
nama Reuncang Tinil. Konon,
ilmu teluh ini bisa membuat
korbannya botak dan
tubuhnya kurus kering,
seperti burung Tinil (sejenis bangau yang berkepala
botak dan tinggi kurus-Pen).
*** Setelah berhasil sembuh dari
penyakit aneh itu, aku
memang mulai mengalami
kehidupan yang sehat.
Kendati demikian,
penampilan fisikku tetap saja tak sepenuhnya
sempurna. Untuk
mengembalikan rambutku
agar seperti dulu lagi tentu
saja bukan hal yang
gampang. Bahkan, untuk mengembalikan kondisi
tubuhku saja, sungguh
merupakan hal yang tidak
mudah. Aku tetap saja
kurus kering, dengan
rambut yang tumbuh jarang-jarang.
Betapa menyedihkan
keadaanku. Untunglah ada
Encih, anak angkatku yang
selalu menemaniku dalam
suka dan duka. Dua tahun setelah
kesembuhanku, aku
kembali mengidap penyakit
yang tak kalah aneh. Hanya
gara-gara kemasukan
galagasi (Semacam serangga kecil-Pen) tiba-tiba mataku
jadi buta.
Sore itu, aku baru saja
membersihkan halaman
belakang rumahku. Saat
hendak masuk ke dapur, tiba-tiba ada galagasi yang
menyambar mataku.
Setelah itu, mataku terasa
sangat gatal. Karena terus
kuucek-ucek, mataku
akhirnya jadi merah dan bengkak. Malamnya,
mataku malah seperti
tertusuk-tusuk jarum. Dan
keesokan harinya
penglihatanku menjadi
kabur. Bahkan, dua hari setelah itu aku benar-benar
tak bisa melihat.
Menyadari apa yang terjadi
pada diriku sebagai suatu
penyakit yang sangat aneh,
maka akhirnya aku pun memutuskan untuk
kembali ke Jampang Surade.
Aku kembali diobati oleh
paranormal yang dulu
mengobati sakit aneh pada
kepalaku. Syukurlah aku kembali sembuh setelah si
dukun berhasil
mengeluarkan beberapa
bijih besi yang telah
berkarat dari dalam kelopak
mataku. Setelah dua serangan
penyakit aneh pada diriku
yang berhasil aku
sembuhkan, tanpa aku
sadari sebenarnya sesuatu
yang bersifat gaib lainnya juga tengah menyerangku.
Yang satu ini sama sekali
tidak menimbulkan sakit
pada tubuhku, melainkan
sakit pada mentalku. Betapa
tidak, diam-diam aku mulai benci kepada semua pria.
Aku merasa tak
membutuhkan mereka,
bahkan tak merasa
bergairah dengan mereka.
Semula hal ini kuanggap biasa saja. Ya, mungkin saja
karena aku memang telah
bosan dengan mereka, atau
memang karena sebab biasa
lainnya. Namun lambat laun
aku merasa aneh juga, sebab aku berubah sangat dingin.
Ini kusadari ketika
Sumantri, bekas kekasihku
dulu datang kepadaku. Saat
itu Sumantri berstatus
sebagai seorang duda, karena cerai mati dengan
isterinya.
“Aku bermaksud merajut
kembali hubungan cinta
kita, Dasih!” kata Sumantri.
Tapi, aku menanggapinya dengan dingin. Bahkan, aku
sama sekali tak bergairah
ketika Sumantri mencium
bibirku. Padahal, aku paling
terangsang bila berciuman
bibir dengan seorang pria. Hingga menginjak usia 37
tahun aku tetap memilih
hidup sendiri. Celakanya,
bersamaan itu juga aku
berubah menjadi wanita
yang malas berdandan. Pokoknya aku sama sekali
tak tertarik untuk
menggoda pria dengan
penampilanku.
Memasuki usia 38 tahun, aku
mulai gelisah dengan diriku sendiri. Mengapa aku
enggan menikah?
Pertanyaan ini mulai
menghantuiku. Dengan
sawah dan kebun cukup
luas yang masih kumiliki, ditambah dengan
penampilanku yang masih
tetap cantik di usia
menjelang kepala 4,
sebenarnya bukan hal yang
sulit bagiku unjtuk menggaet seorang pria.
Namun aneh, aku benar-
benar tidak bergairah
dengan mereka.
Karena penasaran akhirnya
aku kembali ke Jampang Surade untuk mendapatkan
terawangan akan diriku
yang sebenarnya. Sang
dukun yang mengobatiku
terkejut dengan hasil
terawangannya. “Rasanya sulit bagi Nyai
untuk bisa menikah,” kata si
Dukun.
“Memangnya ada apa
dengan diri saya, Pak?”
“Terus terang, Nyai sebenarnya telah
dinikahkan. Hanya saja,
Nyai dinikahkan dengan
batu nisan!”
Penjelasan sang Dukun
membuatku sangat terkejut, dan sulit
mempercayainya.
“Bagaimana mungkin hal itu
terjadi, Pak?” tanyaku,
penasaran.
“Tak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Nyai!
Hal yang kau alami
merupakan hal yang telah
sering kali terjadi. Namanya
Gantung Jodoh atau
Gantung Waris. Caranya bisa bermacam-macam. Ada
yang dinikahkan dengan
pohon, dengan binatang,
bahkan ada juga yang
dinikahkan dengan batu
nisan seperti yang dialami Nyai,” jelas si Dukun.
“Saya mohon, bebaskanlah
teluh itu, Pak!” pintaku,
setengah menghiba.
“Sulit sekali, Nyai!” jawab si
Dukun. “Teluh itu bisa dibebaskan tapi nyawa Nyai
yang menjadi gantinya.
Maksudnya, kalau teluh itu
saya cabut, maka secara
tidak langsung saya juga
mencabut nyawa Nyai. Maafkan saya, kali ini saya
tidak bisa menolong.”
Aku terdiam. Duniaku
serasa gelap. Tapi, aku tak
bisa begitu saja menerima
nasib. Sekitar sebulan setelah
menemui dukun itu, aku
memutuskan menikahi
Seman, salah seorang bujang
sawahku. Pernikahan kami
berlangsung sederhana, dan Seman yang masih perjaka
usia 20-an itu nampaknya
tidak merasa risih dengan
pernikahan itu. Tapi apa
yang terjadi selanjutnya?
Saat menikmati malam pengantin Seman tiba-tiba
kalap. Dia seperti sangat
ketakutan. Entah apa yang
menyebabkannya. Yang
benar-benar aneh, sejak
kejadian ini Seman menjadi sinting.
Dua tahun kemudian Seman
meninggal karena terjun ke
dalam sumur tua di
belakang rumahku tanpa
ada seorang pun yang mengetahuinya.
Sejak kejadian ini aku tak
pernah bermimpi lagi untuk
menikah. Yang kuingat
hanya satu, ucapan Juragan
Jaja Subarja beberapa tahun silam: “…Kau tidak sudi
menjadi isteriku, tapi
akupun tidak sudi kau
diperisteri oleh lelaki lain.”
Ya, aku yakin Subarja-lah
yang menjadi dalang dari semua kejadian mistis yang
aku alami. Rupanya, lelaki
itu benar-benar sakit hatiku
padaku, dan ingin
membuatku menderita
seumur hidup. Semoga saja tuhan mengampuni dosa-
dosanya….
*** Nyai Kedasih menyusut air
mata yang jatuh di atas
wajahnya yang tua. Tapi, ini
bukan tangisan sedih atau
pun penyesalan. Dia
mengaku merasa sangat bersyukur, sebab semua
peritiwa itu membuat
dirinya lebih bertakwa
kepada Tuhan. Padahal,
ketika muda dulu dirinya
sangat jauh dari menyembah Tuhan.
Meski usianya sudah
semakin udzur, namun
menurut penuturan Encih,
emaknya itu tak pernah
menderita sakit. “Sakit kepala saja bahkan tidak
pernah!” tegasnya.
Yang terasa unik sekaligus
menyentuh, hampir
sepanjang tahun Nyai
Kedasih selalu berpuasa, kecuali pada hari-hari yang
diharamkan menurut ajaran
agama Islam. Dengan puasa,
nenek yang masih bisa
menaiki bukit ini mengaku
merasa lebih sehat, baik jiwa maupun raganya.
Sang primadona panggung
kini mengisi hari-hari
tuanya dengan kedaimaian.
Dia tak pernah merasa
dendam kepada orang yang telah merekayasa nasibnya
hingga selama 40 tahun
jodohnya menggantung
karena dinikahkan dengan
batu nisan.
Semoga kisah ini dapat menjadi pelajaran berharga
bagi kita semua.
seorang wanita yang
sengaja di samarkan
dengan nama Nyai
Kedasih. Sesuai dengan
permintaan si penutur kisah, alamat serta
jadidiri yang
bersangkutan menjadi
rahasia kami…. Walau usianya sudah di
ambang 70 tahun, garis-garis
kecantikan masih tersirat di
wajahnya yang bersih.
Rambutnya telah memutih,
namun pendengarannya masih sangat baik. Kulitnya
yang penuh kerut juga
masih terawat dengan baik.
Sesekali dia masih bisa
melenggak-lenggok
tubuhnya yang ringkih untuk menari Jaipong.
Orang-orang yang tinggal di
kampung lereng gunung itu
mengenalnya dengan nama
Nyai Kedasih. Dia tinggal di
rumahnya yang sederhana namun berhalaman cukup
luas dan asri. Ditemani oleh
Encih, wanita 40-an tahun.
Encih, mungkin satu-
satunya orang yang masih
bisa merekam dengan jelas kehidupan Nyai Kedasih di
masa lalu. Maklumlah, sejak
kecil Encih memang sudah
ikut dengan Nyai Kedasih.
Bahkan, Encih sudah
diangkat sebagai anak. Dari perkawinannya dengan
Atta, Encih memiliki
sepasang anak, putra dan
putri yang keduanya juga
telah menikah dan berputra.
Mereka tinggal tak jauh dari rumah itu.
“Saya tidak tahu siapa orang
tua saya yang sebenarnya.
Sejak kecil saya sudah ikut
Emak (Nyai Kedasih).
Kemana saja Emak mentas, saya pasti ikut,” cerita Encih.
Dari raut wajahnya,
memang tak ada kemiripan
sama sekali antara kedua
wanita ini. Nyai Kedasih
berwajah khas wanita priangan, dengan paras
sedikit bulat dan berkulit
bersih. Tapi Encih kelihatan
lebih hitam, wajahnya pun
tampak lebih keras. Jadi
jelas kedua wanita itu sama sekali tak memiliki pertalian
darah.
“Emak mengangkat Encih
sebagai anak waktu usianya
masih sepuluh tahun. Dia ini
anak salah seorang nayaga di Grup Sinar Pasundan,
tempat dulu Emak
bergabung,” tambah Nyai
Kedasih.
Hubungan antara Nyai
Kedasih dan Encih mungkin hanya sebagian kecil dari sisi
menarik perjalanan hidup
wanita yang masih memiliki
suara merdu saat
menyanyikan Tembang
Cianjuran itu. Ada hal lain yang jauh lebih menarik,
yakni sisi kehidupan Nyai
Kedasih dalam
hubungannya dengan dunia
yang dulu digelitinya.
Sinden Jaipong! “Emak ini dulunya adalah
seorang primadona di Grup
Sinar Pasundan,” bibir tua itu
bergetar. Lalu, matanya
yang cekung memandang
jauh ke depan, dengan sorot menerawang. Dia tengah
berusaha mengumpulkan
segenap memori masa
lalunya. Kepada Misteri, Nyai
Kedasih menuturkan kisah
hidupnya, seperti yang terekam berikut ini…:
Aku terlahir dari keluarga
seniman. Ibuku seorang
sinden, dan ayahku seorang
penabuh beduk yang cukup
andal. Jadi, kloplah darah seni bumi Prahyangan
mengalir dalam tubuhku.
Wajar saja jika kemudian
aku menjadi pandai menari
dan menyanyi. Banyak
orang yang terpesona melihat tarianku, dan
banyak pula yang
mengagumi merdunya
suaraku.
Namun, bukan hanya kedua
modal itu yang membuatku kemudian menjadi
primadona. Sebagai seorang
sinden, kepandaian menari
dan kemerduan suara
memang modal mutlak, tapi
jauh lebih penting adalah penampilan fisik. Aku
merasa sangat beruntung,
sebab ketiga modal itu
sama-sama ada pada diriku.
Bahkan, kecantikanku yang
nyaris sempurna, sungguh merupakan karunia Tuhan
yang sangat besar bagi
diriku.
Banyak pria yang tergila-
gila padaku, karena
kecantikan dan kemolekan tubuhku. Mereka rela
mengorbankan apa saja asal
bisa mendekati diriku.
Bahkan tak sedikit para
juragan kaya, termasuk
pejabat ketika itu yang berusaha menyuntingku.
Rata-rata mereka ingin
menjadikan diriku sebagai
isteri muda, atau isteri
simpanan.
Sebagai wanita normal, tentu saja aku keberatan
menyandang status sebagai
isteri muda ataupun isteri
simpanan. Apalagi ketika
itu aku sedang jatuh cinta
pada Sumantri, seorang guru SD yang masih
berstatus bujangan.
Dengan kehadiranku, Grup
Sinar Pasundan tempat aku
biasa nyinden kian terkenal.
Hampir di sepanjang musim grup ini tak pernah sepi
order manggung. Begitu
terkenalnya aku sampai-
sampai dalam sekali mentas
bisa mendapatkan uang
sawer dalam jumlah sangat besar, bahkan terkadang
jauh lebih besar dari nilai
kontrak panggilan. Bila aku
manggung, pria berjubel
ingin melihat kecantikan
dan lenggak-lenggok tubuhku yang aduhai.
Begitu besarnya minat
kaum pria atas diriku,
sampai-sampai kerap kali
terjadi perkelahian di antara
mereka. Bahkan tak jarang hingga mengorbankan
nyawa.
Ketenaran dan potensiku
akhirnya dimanfaatkan oleh
kedua orang tuaku,
terutama ibuku yang tergolong kemaruk harta.
Ibukulah yang selalu
mendorong agar aku bisa
menangguk keuntungan
dari banyaknya pria hidung
belang yang ingin menyuntingku. Dalam
istilah Sunda, ibu ingin
menjadikanku sebagai
wanita yang pandai ngeret.
Kehidupan yang
bergelimang uang dan pujian akhirnya memang
membuatku lupa daratan.
Aku pun larut dalam gaya
hidup sesuai dengan
keinginan ibuku. Banyak
pria yang akhirnya patah hati, setelah mengorbankan
uang relatif banyak untuk
sekedar menyentuh
tubuhku.
Karena mabuk akan dunia
yang glamour ini, akhirnya akupun melupakan
Sumantri, guru miskin itu.
Apalagi kemudian Sumantri
dipindahtugaskan ke daerah
Lampung, sehingga kami
pun tak mungkin bisa bersama lagi.
Cinta, rupanya memang
menjadi sesuatu yang tidak
berarti bagiku. Mungkin hal
ini terjadi karena aku bosan
dengan ungkapan cinta yang dikatakan oleh begitu
banyak lelaki. Aku
menganggap semuanya
hanya angin lalu, dan aku
menganggap cinta itu tak
pernah ada. “Jangan berikan cintamu
pada mereka, berikan saja
tubuhmu!” Begitu yang
selalu diajarkan ibuku.
Mungkin sesuatu yang tidak
normal, tapi menjadi normal bagi kami ketika itu.
Kenyataannya, memang
demikianlah kehidupan para
pesinden yang betul-betul
dituntut untuk bisa
memanfaatkan tubuh dan kecantikannya demi
mendapatkan limpahan
materi. Bahkan untuk
tujuan ini, ibu tak jarang
membawaku ke dukun-
dukun untuk dipasangi susuk. Entah berapa banyak
susuk yang tertanam di
tubuhku. Mulai di wajah,
bibir, hingga pinggul. Semua
dilakukan agar aku
senantiasa tampil menarik dan penuh daya pukau.
Namun, hidup bak roda
pedati, kadang di atas,
kadang di bawah. Begitulah
kenyataan yang akhirnya
terjadi pada diriku. Di suatu malam yang dingin,
ketika aku tengah bertabur
uang dan pujian dalam suatu
pementasan, sebuah tragedi
berlangsung dengan sangat
perih. Segerombolan garong telah membantai ibu dan
ayahku, hingga nyawa
mereka terenggut. Ketika
itu, ibu dan ayahku
memang tidak ikut
rombongan Grup Sinar Pasundan. Mereka memilih
tinggal di rumah kami yang
lumayan besar dan mewah
untuk ukuran ketika itu.
Pas tengah malam,
gerombolan garong itu masuk. Mereka merampok
harta kami dan
membinsakan kedua orang
tuaku.
Untunglah waktu itu
sebagian uang dari hasil mentas dan ngeret lelaki
hidung belang sudah
kubelikan sawah dan
kebun, sehingga aku tidak
benar-benar jatuh miskin.
Sementara perhiasan bernilai jutaan rupiah, uang dan
barang-barang berharga
lainnya habis dijarah para
garong.
Kepergian kedua orang
tuaku dan ludesnya harta bendaku membuatku
sangat terpukul.
Kehidupanku pun mulai
terasa limbung. Sialnya, di
tengah keadaan seperti ini
tiba-tiba datang Juragan Jaja Subarja yang
menuntutku agar segera
menikah dengannya.
“Pokoknya, kita harus
segera melaksanakan
pernikahan kita, Nyai. Bukankah aku sudah
mengatur segalanya dengan
almarhum kedua orang tua
Nyai!” kata Juragan Jaja
Subarja.
Aku benar-benar terkejut mendengar tuntutan itu.
Bagaimana mungkin aku
sudi menikah dengan
bandot tua yang sudah
memiliki dua orang isteri
itu? “Saya tidak mengerti
bagaimana maksud
Juragan!” ujarku.
Lelaki yang terkanal paling
kaya di daerah Banjar
Patroman ketika itu, tampak sangat kesal dengan
jawabanku. Namun dia
masih berusaha sabar.
“Begini, Nyai! Seminggu
sebelum kedua orang tuamu
meninggal dibunuh para garong itu, aku sudah
melamarmu kepada
mereka. Bahkan aku sudah
memenuhi tuntutan yang
diajukan oleh ibumu. Dan
sesuai petunjuk ayah dan ibumu, rencananya hari
Senin depan kita menikah.”
Rasanya aku seperti
disambar petir mendengar
penjelas itu. “Bagaimana
mungkin aku harus menikah dengan juragan,
sedangkan aku tak pernah
tahu dengan urusan itu,”
sergahku.
“Saya tidak mau tahu soal
itu, Nyai! Yang penting lamaran saya sudah
diterima, dan kita harus
segera menikah. Titik!”
suara Juragan Jaja Subarja
meninggi.
Namun, akupun tak kalah sengit membalasnya.
“Urusan lamar melamar itu
adalah urusan ayah dan
ibuku. Mereka tak pernah
membicarakannya
denganku. Jadi, bagaimana mungkin aku bisa menikah
dengan Juragan.”
Jaja Subarja menatapku
dengan tajam. “Jangan
main-main denganku, Nyai!
Aku tidak suka dicurangi!” ancamnya.
“Siapa yang mencurangi
Juragan. Aku? Huh…aku
tidak pernah serendah itu,
Juragan!” balasku. Sebagai
wanita yang sering menghadapi banyak
potongan lelaki, aku
memang tidak bisa
digertak. Apalagi merasa
takut.
Juragan Jaja menggebrak meja. “Kalau kau tidak
bersedia menikah denganku
baiklah. Tapi kumohon
kembalikan lima ratus gram
emas dan sepuluh juta
rupiah uang yang telah kuberikan kepada ibumu,”
katanya dengan suara
keras.
Hampir saja aku melompat
mendengarnya. Bukan
karena takut pada suara Jaja Subarja yang keras
seperti harimau mengaum
itu, tapi aku terkejut pada
jumlah barang yang dia
sebutkan. 500 gram emas
ditambah 10 juta rupiah uang kontan? Sungguh
suatu jumlah yang besar
saat itu. Bagaimana
mungkin aku
mengembalikannya? Lagi
pula, aku tak pernah tahu menahu dengan harta
kekayaan itu.
“Dengar, Juragan! Aku tak
pernah tahu menahu dengan
harta Juragan itu. Aku tidak
pernah melihat apalagi menerimanya walau
sepeserpun. Jadi keputusan
saya tetap, saya tidak
mungkin mau menikah
dengan juragan. Titik!” Aku
tak kalah sengit membalasnya. Ibuku
memang selalu
mengajarkan bahwa lelaki
tak selamanya harus
dihadapi dengan
kelembutan. “Baik, Nyai! Baik!” Subarja
bangkit dari tempat
duduknya. “Kalau kau tetap
bersikukuh dengan
pendirianmu, aku relakan
semua harta benda milikku itu. Tapi ingat satu hal, Nyai!
Kau tidak sudi menjadi
isteriku, tapi akupun tidak
sudi kau diperisteri oleh
lelaki lain. Camkan itu!”
Juragan Subarja pergi meninggalkanku dengan
ancaman yang penuh
dendam. Namun, aku
menganggapnya hanya
angin lalu. Bukankah lelaki
yang ditolak keinginannya selalu saja berbuat kalap?
Ah, mereka memang selalu
seperti anak kecil! Pikirku
ketika itu.
*** Jaja Subarja rupanya tak
main-main dengan
ancamannya. Setidaknya hal
ini baru kurasakan setelah
dua minggu peristiwa
pertengkaran itu. Di suatu malam, aku bermimpi ada
yang menaburkan garam di
atas kepalaku. Rasanya
panas luar biasa. Aku
menjerit-jerit kepanasan,
dan terjaga dari tidurku. Aneh, saat terjaga aku
melihat ada ratusan, bahkan
mungkin ribuan kutu di atas
bantal yang aku tiduri.
Tentu saja aku menjerit-jerit
ketakutan. Mak Tonah, pembantuku ketika itu
datang menolong. Dia pun
sama ketakutan seperti
diriku demi melihat kutu-
kutu itu.
Beberaja jam setelah peristiwa ini, aku
merasakan kulit kepalaku
terasa panas dan gatal. Aku
coba membersihkannya
dengan cara keramas, tapi
gatal-gatal itu tetap saja tak pernah hilang. Aku
menggaruknya. Anehnya,
semakin digaruk rasa gatal
itu semakin menjadi-jadi.
Aku begitu tersiksa
karenanya. Karena gatal-gatal yang luar
biasa itu, akhirnya muncul
koreng-koreng kecil
bernanah di kulit kepalaku.
Akibatnya bila malam tiba
aku benar-benar tersiksa. Digaruk salah, tidak digaruk
pun salah.
Begitu dahsyatnya rasa
gatal itu, sehingga aku tak
kuat menahan untuk tidak
menggaruknya. Aku terus saja menggaruknya, hingga
akhirnya kepalaku tidak
saja dipenuhi oleh luka-luka
kecil bernanah, namun
rambutku yang indah pun
mulai berguguran. Anehnya, setiap helai
rambutku tercerabat, maka
di akarnya akan terlihat
kutu-kutu yang
berlompatan. Menjijikan!
Dalam waktu kurang dari satu bulan, mahkotaku
yang indah berubah
meranggas, bahkan sangat
menjijikan karena dipenuhi
dengan koreng-koreng.
Akibat dari semua ini, tentu saja aku tak bisa
menjalankan aktivitasku
sebagai seoranmg sinden.
Bahkan, aku lebih senang
mengurung diri di dalam
kamar. Hal ini kulakukan karena aku benar-benar
merasa minder bila harus
bertemu dengan orang lain.
Celakanya lagi, akibat
kurang tidur dan tersiksa
oleh penyakit anehku, tubuhku yang dulu singset
dan seksi berubah sangat
kurus. Wajahku yang cantik
dan segar berubah layu dan
pucat. Dan yang lebih
menyakitkan lagi, rambut hitam mayangku yang dulu
indah kini telah punah
seperti hutan yang
terbakar. Ringkasnya, aku
sama sekali tak menarik
lagi. Bahkan mungkin banyak orang yang takut
melihatku.
Sejak mengalami penyakit
aneh ini, nama Nyai Kedasih
pun lambat laun hilang dari
dunia kesenian jaipong. Selama itu pula aku terus
berusaha menyembuhkan
penyakitku, hingga tak
terasa waktu dua tahun pun
berlalu. Mungkin, tak
terhitung berapa banyaknya uang yang aku
habiskan untuk
menyembuhkan
penyakitku. Namun
syukurlah, ketika hampir
putus asa akhirnya penyakitku dapat
disembuhkan setelah aku
berobat kepada seorang
dukun di daerah Jampang
Surade. Sang dukun
menyebut guna-guna yang dikirim kepadaku dengan
nama Reuncang Tinil. Konon,
ilmu teluh ini bisa membuat
korbannya botak dan
tubuhnya kurus kering,
seperti burung Tinil (sejenis bangau yang berkepala
botak dan tinggi kurus-Pen).
*** Setelah berhasil sembuh dari
penyakit aneh itu, aku
memang mulai mengalami
kehidupan yang sehat.
Kendati demikian,
penampilan fisikku tetap saja tak sepenuhnya
sempurna. Untuk
mengembalikan rambutku
agar seperti dulu lagi tentu
saja bukan hal yang
gampang. Bahkan, untuk mengembalikan kondisi
tubuhku saja, sungguh
merupakan hal yang tidak
mudah. Aku tetap saja
kurus kering, dengan
rambut yang tumbuh jarang-jarang.
Betapa menyedihkan
keadaanku. Untunglah ada
Encih, anak angkatku yang
selalu menemaniku dalam
suka dan duka. Dua tahun setelah
kesembuhanku, aku
kembali mengidap penyakit
yang tak kalah aneh. Hanya
gara-gara kemasukan
galagasi (Semacam serangga kecil-Pen) tiba-tiba mataku
jadi buta.
Sore itu, aku baru saja
membersihkan halaman
belakang rumahku. Saat
hendak masuk ke dapur, tiba-tiba ada galagasi yang
menyambar mataku.
Setelah itu, mataku terasa
sangat gatal. Karena terus
kuucek-ucek, mataku
akhirnya jadi merah dan bengkak. Malamnya,
mataku malah seperti
tertusuk-tusuk jarum. Dan
keesokan harinya
penglihatanku menjadi
kabur. Bahkan, dua hari setelah itu aku benar-benar
tak bisa melihat.
Menyadari apa yang terjadi
pada diriku sebagai suatu
penyakit yang sangat aneh,
maka akhirnya aku pun memutuskan untuk
kembali ke Jampang Surade.
Aku kembali diobati oleh
paranormal yang dulu
mengobati sakit aneh pada
kepalaku. Syukurlah aku kembali sembuh setelah si
dukun berhasil
mengeluarkan beberapa
bijih besi yang telah
berkarat dari dalam kelopak
mataku. Setelah dua serangan
penyakit aneh pada diriku
yang berhasil aku
sembuhkan, tanpa aku
sadari sebenarnya sesuatu
yang bersifat gaib lainnya juga tengah menyerangku.
Yang satu ini sama sekali
tidak menimbulkan sakit
pada tubuhku, melainkan
sakit pada mentalku. Betapa
tidak, diam-diam aku mulai benci kepada semua pria.
Aku merasa tak
membutuhkan mereka,
bahkan tak merasa
bergairah dengan mereka.
Semula hal ini kuanggap biasa saja. Ya, mungkin saja
karena aku memang telah
bosan dengan mereka, atau
memang karena sebab biasa
lainnya. Namun lambat laun
aku merasa aneh juga, sebab aku berubah sangat dingin.
Ini kusadari ketika
Sumantri, bekas kekasihku
dulu datang kepadaku. Saat
itu Sumantri berstatus
sebagai seorang duda, karena cerai mati dengan
isterinya.
“Aku bermaksud merajut
kembali hubungan cinta
kita, Dasih!” kata Sumantri.
Tapi, aku menanggapinya dengan dingin. Bahkan, aku
sama sekali tak bergairah
ketika Sumantri mencium
bibirku. Padahal, aku paling
terangsang bila berciuman
bibir dengan seorang pria. Hingga menginjak usia 37
tahun aku tetap memilih
hidup sendiri. Celakanya,
bersamaan itu juga aku
berubah menjadi wanita
yang malas berdandan. Pokoknya aku sama sekali
tak tertarik untuk
menggoda pria dengan
penampilanku.
Memasuki usia 38 tahun, aku
mulai gelisah dengan diriku sendiri. Mengapa aku
enggan menikah?
Pertanyaan ini mulai
menghantuiku. Dengan
sawah dan kebun cukup
luas yang masih kumiliki, ditambah dengan
penampilanku yang masih
tetap cantik di usia
menjelang kepala 4,
sebenarnya bukan hal yang
sulit bagiku unjtuk menggaet seorang pria.
Namun aneh, aku benar-
benar tidak bergairah
dengan mereka.
Karena penasaran akhirnya
aku kembali ke Jampang Surade untuk mendapatkan
terawangan akan diriku
yang sebenarnya. Sang
dukun yang mengobatiku
terkejut dengan hasil
terawangannya. “Rasanya sulit bagi Nyai
untuk bisa menikah,” kata si
Dukun.
“Memangnya ada apa
dengan diri saya, Pak?”
“Terus terang, Nyai sebenarnya telah
dinikahkan. Hanya saja,
Nyai dinikahkan dengan
batu nisan!”
Penjelasan sang Dukun
membuatku sangat terkejut, dan sulit
mempercayainya.
“Bagaimana mungkin hal itu
terjadi, Pak?” tanyaku,
penasaran.
“Tak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Nyai!
Hal yang kau alami
merupakan hal yang telah
sering kali terjadi. Namanya
Gantung Jodoh atau
Gantung Waris. Caranya bisa bermacam-macam. Ada
yang dinikahkan dengan
pohon, dengan binatang,
bahkan ada juga yang
dinikahkan dengan batu
nisan seperti yang dialami Nyai,” jelas si Dukun.
“Saya mohon, bebaskanlah
teluh itu, Pak!” pintaku,
setengah menghiba.
“Sulit sekali, Nyai!” jawab si
Dukun. “Teluh itu bisa dibebaskan tapi nyawa Nyai
yang menjadi gantinya.
Maksudnya, kalau teluh itu
saya cabut, maka secara
tidak langsung saya juga
mencabut nyawa Nyai. Maafkan saya, kali ini saya
tidak bisa menolong.”
Aku terdiam. Duniaku
serasa gelap. Tapi, aku tak
bisa begitu saja menerima
nasib. Sekitar sebulan setelah
menemui dukun itu, aku
memutuskan menikahi
Seman, salah seorang bujang
sawahku. Pernikahan kami
berlangsung sederhana, dan Seman yang masih perjaka
usia 20-an itu nampaknya
tidak merasa risih dengan
pernikahan itu. Tapi apa
yang terjadi selanjutnya?
Saat menikmati malam pengantin Seman tiba-tiba
kalap. Dia seperti sangat
ketakutan. Entah apa yang
menyebabkannya. Yang
benar-benar aneh, sejak
kejadian ini Seman menjadi sinting.
Dua tahun kemudian Seman
meninggal karena terjun ke
dalam sumur tua di
belakang rumahku tanpa
ada seorang pun yang mengetahuinya.
Sejak kejadian ini aku tak
pernah bermimpi lagi untuk
menikah. Yang kuingat
hanya satu, ucapan Juragan
Jaja Subarja beberapa tahun silam: “…Kau tidak sudi
menjadi isteriku, tapi
akupun tidak sudi kau
diperisteri oleh lelaki lain.”
Ya, aku yakin Subarja-lah
yang menjadi dalang dari semua kejadian mistis yang
aku alami. Rupanya, lelaki
itu benar-benar sakit hatiku
padaku, dan ingin
membuatku menderita
seumur hidup. Semoga saja tuhan mengampuni dosa-
dosanya….
*** Nyai Kedasih menyusut air
mata yang jatuh di atas
wajahnya yang tua. Tapi, ini
bukan tangisan sedih atau
pun penyesalan. Dia
mengaku merasa sangat bersyukur, sebab semua
peritiwa itu membuat
dirinya lebih bertakwa
kepada Tuhan. Padahal,
ketika muda dulu dirinya
sangat jauh dari menyembah Tuhan.
Meski usianya sudah
semakin udzur, namun
menurut penuturan Encih,
emaknya itu tak pernah
menderita sakit. “Sakit kepala saja bahkan tidak
pernah!” tegasnya.
Yang terasa unik sekaligus
menyentuh, hampir
sepanjang tahun Nyai
Kedasih selalu berpuasa, kecuali pada hari-hari yang
diharamkan menurut ajaran
agama Islam. Dengan puasa,
nenek yang masih bisa
menaiki bukit ini mengaku
merasa lebih sehat, baik jiwa maupun raganya.
Sang primadona panggung
kini mengisi hari-hari
tuanya dengan kedaimaian.
Dia tak pernah merasa
dendam kepada orang yang telah merekayasa nasibnya
hingga selama 40 tahun
jodohnya menggantung
karena dinikahkan dengan
batu nisan.
Semoga kisah ini dapat menjadi pelajaran berharga
bagi kita semua.
Ketegaran cinta
Seorang sahabat, Mimi
namanya, kami bersahabat
puluhan tahun sejak kami sama-sama duduk di sekolah
dasar (SD), selama beberapa
tahun itu saya mengenalnya,
sangat mengenalnya, Mimi
gadis sederhana, anak tunggal
seorang juragan sapi perah di wilayah kami, memiliki mata
sebening kaca, dan lesung
pipit yang manis menawan
siapa saja akan runtuh hatinya
jika memandang senyumnya,
termasuk saya’. dan nilai tambahnya adalah dia seorang
yang sangat sholehah, yang
patuh pada kedua orang
tuanya.
Tetapi Ranu, Don Juan yang
satu ini juga sangat menyukai Mimi, track recordnya tidak
menggoyahkannya untuk
merebut hati Mimi. Sedangkan
saya hanya bisa menatap cinta
dari balik senyuman tipis
ketegaran. Setiap pagi hari, petugas rutin
kantor pos pasti sudah
nangkring di sudut rumah
besar di ujung gang kampung
kami, (rumah Mimi).
Menunggu pemilik rumah membukakan pintu demi
dilewati selembar surat warna
merah jambu milik Ranu
untuk sang pujaan hatinya.
Sedang Mimi yang semula tak
bergeming, menjadi kian berbunga-bunga diserang
ribuan rayuan gombal milik
don juan.
Merekapun pacaran dari mulai
kelas 1 SMP bayangkan,
hingga menikah. Sebagai tetangga sekaligus teman
yang baik, saya hanya bisa
mendukung dan ikut bahagia
dengan keadaan tersebut.
(walaupun hati ini meratap)
Apalagi Mimi dan Ranu saling mendukung, dan sama-sama
bisa menjaga dirinya, hingga
ke Pelaminan,,Insyaallah.
Hingga tiba ketika selesai
kuliah, mereka berdua ingin
mewujudkan cita-cita bersama, membina keluarga,
yang sakinah, mawaddah, dan
warohmah.
Namun, namanya hidup pasti
ada saja kendalanya, dibalik
kesejukan melihat hubungan mereka yang adem anyem,
orang tua Ranu yang salah
satu anggota di DP….!! itu,
menginginkan Ranu menikahi
orang lain pilihan kedua orang
tuanya, namun Ranu rupanya cinta mati dengan Mimi,
sehingga mereka
memutuskan untuk menikah,
sekalipun diluar persetujuan
orang tua Ranu, dan secara
otomatis Ranu, diharuskan menyingkir dari percaturan
hak waris kedua orang
tuanya, disertai sumpah
serapah dan segala macam
cacian.
Ranu akhirnya melangkah bersama Mimi, setelah
menikah, mereka pergi
menjauh keluar dari kota
kami, Dumai, menuju Pekan
Baru, dengan menjual seluruh
harta peninggalan kedua orang tua Mimi yang sudah
tidak ada, (semenjak Mimi di
bangku SMA, orang tuanya
kecelakaan). Untuk mengadu
nasibnya menuju ke Pekan
Baru ” Kota Bertuah” Istilah si Mimi dan Ranu.
Saya hanya dipamiti sekejap,
tanpa bisa berkata-kata,
hanya saling bersidekap
tangan didada dan terharu
panjang, Mimi menitipkan salam untuk Ibu yang sudah
dianggapnya seperti Ibunya
sendiri.
Masih tajam dalam ingatan,
Mimi pergi bergandengan
tangan dengan sang kekasih abadi pujaan hatinya “Ranu”,
melenggang pelan bersama
mobil yang membawa
mereka menuju “Kota
Bertuahnya” Pekan Baru.
Selama setahun, kami masih rutin berkirim kabar, hingga
tahun kelima, dimana saya
masih membujang dan masih
menetap tinggal di Dumai,
sedang Mimi entah kemana,
hilang tak ketahuan rimbanya, setelah surat
terakhir mengabarkan bahwa
dia melahirkan anak
keduanya, kemudian setelah
itu kami tidak mendengar
kabarnya, lagi. Bahkan Ibuku yang sudah
berhijrah hampir tiga tahun ini
di Pekan Baru tempat
kakakku juga tidak bisa
melacak keberadaan Mimi,
Mimi lenyap ditelan bumi, hanya doa saya dan Ibu serta
sahabat-sahabat yang lain
yang masih rutin kami
panjatkan, untuk
keberuntungan Mimi di sana.
Sampai di suatu siang yang terik, di hari sabtu, kebetulan
saya berada dirumah karena
kantor memang libur dihari
sabtu dan minggu, tiba-tiba
saya dikejutkan oleh suara
ketokan pintu dikamar, mbak “Inul” patner kerja (alias
Pembantu) kami
mengabarkan ada tamu dari
Pekan Baru, siapa gerangan
pikir saya ketika itu.
Setelah saya temui, lama sekali saya memeperhatikan
tamu tersebut, perempuan
cantik berkulit putih, tapi
bajunya sangat lusuh beserta
ketiga anaknya, yang dua
laki-laki kurus, bermata cekung terlihat sangat
kelelahan, dan seorang bayi
mungil dalam gendongan.
Sejenak saya tertegun, lupa-
lupa ingat, hingga suara
perempuan itu mengejutkan saya ” Faris….Faris khan !”,
sejenak, dia ragu-ragu, hingga
kemudian berlari merangkul
saya, sambil terisak keras
dibahu saya, saat itu saya
hanya bisa diam tertegun dan tak tahu mau melakukan apa,
dan saya tidak bisa menepis
karena hal ini bukan
muhrimnya.
Lalu setelah ia puas menangis,
pelukan itu baru lepas, ketika kami dikejutkan oleh tangis
bayi Mimi yang keras, yang
rupanya tanpa kami sadari
telah menyakitinya, dan
menekan bayi itu dalam
pelukan kami. Masyaallah !.semoga Allah
mengampuni…..
Saya menjauhkannya dari
bahu saya sambil masih ragu,
berguman pelan “Mimi…
Mimikah ?” Masyaallah…!, sekarang giliran saya yang
ingin merangkul Mimi, tapi
karena syari’at masih
membayang dibatin. Aku
hanya bisa bersidekap tangan
didada tanpa bisa meluapkan perasaanku melihat
kondisinya. Anak-anak Mimi
yang melihat kami hanya
termangu,
Mimi terlihat lebih tua dari
usianya, namun kecantikan alaminya masih terlihat jelas,
badannya kurus, dengan
jilbab lusuh, yang berwarna
buram, membawa tas koper
berukuran besar yang sudah
cuil dibeberapa bagian, mungkin karena gesekan atau
juga benturan berkali-kali,
seperti orang yang telah
berjalan berpuluh-puluh
kilometer.
Tanpa dikomando saya langsung mempersilahkan
Mimi masuk kedalam rumah,
membantu membawakan
barang-barangnya, dibantu
mbak Inul, meletakkan
barangnya di ruang tamu, rumah saya.
Menunda beberapa
pertanyaan yang telah
menggunung dipikiran saya,
Saya menatap dalam-dalam,
Mimi sedemikian berubahnya, perempuan manis yang dulu
saya kenal kini terlihat sangat
berantakan, Masyaallah !, Mimi
…ada apa denganmu!.
Saya menunda pertanyaan
saya, hingga Mimi dan anak- anaknya mau saya paksa
beristirahat beberapa hari
dirumah saya, ia tidur
dikamar ibu yang sudah
dirapikan mbak Inul, saya
rindu padanya, dan juga terharu melihat keadaannya.
Beberapa hari beristirahat
dirumah saya, saya baru
berani menanyakan tentang
kabar keadaannya sekarang.
Kami duduk diruang tamu sambil cerita ringan.
Semula Mimi terdiam seribu
bahasa pada saat saya tanya
keadaan Ranu, matanya
berkaca-kaca, saya menghela
nafas dalam, menunggu jawabannya lama, dalam
hitungan menit hingga
keluarlah suara parau dari
mulutnya…
“Mas Ranu, Ris….sudah
berpulang kepada-Nya lima bulan yang lalu”.
“Oh” desah saya pelan, kata-
kata Mimi membuat saya
tercekat beberapa saat,
namun sebelum saya sempat
menimpali, bertubi-tubi Mimi menangis sambil setengah
meracau “Mas Ranu kena
kanker paru-paru, karena
kebiasaannya merokok tiga
tahun yang lalu, semua sisa
peninggalan orang tuaku sudah habis terjual ludes,
untuk biaya berobat, sedang
penyakitnya bertambah
parah, keluarga mas Ranu
enggan membantu, kamu
tahu sendiri khan, aku menantu yang tidak
diinginkan, dan ketika Mas
Ranu meninggal, orangtuanya
masih saja membenciku,
mereka sama sekali tidak mau
membantu, aku bekerja serabutan di Pekan Baru, Ris..,
mulai jadi tukang cuci,
pembantu rumah tangga, dsb,
hingga Mas Ranu meninggal,
keluarganya, hanya
memberiku uang sekedarnya untuk penguburan Mas Ranu,
hingga aku terpaksa menjual
rumah tempat tinggal kami
satu-satunya, dan dari sana
aku membayar semua tagihan
rumah dan hutang-hutang pada tetangga, sisanya aku
gunakan untuk berangkat ke
Dumai, aku tidak sanggup
mengadu nasib disana Ris….”
Kata-kata Mimi berhenti disini,
disambut isak tangisnya, sedang saya yang sedari tadi
mendengarkan tak kuasa juga
menahan haru yang sudah
sedari tadi menyesak di dada.
Setelah kami sama-sama
tenang, saya bertanya pada Mimi ” Lalu apa rencanamu,
Mimi ?”.
Mimi tertegun… dia
memandang saya nanar, saya
menundukkan pandangan,
karena saya takut terbawa rayuan syetan. kemudian dia
mengulurkan tangan,
memberikan seuntai kalung
emas besar, “Sisa hartanya ”
begitu kata Mimi.
“Ini untukmu Ris.., aku gadaikan padamu, pinjami
aku uang untuk modal usaha,
dan kontrak rumah kecil-
kecilan, aku tidak mau
merepotkanmu lebih dari ini
Ris..”. Aku yang menahan haru,
sontak mataku langsung
mengalirkan sesuatu,
walaupun aku lelaki, namun
hati ini bertindak sebagai
makhluk tuhan yang berperasaan. kembali kami
hanyut dalam haru.
Pelan-pelan saya, meraih
kalung itu dari meja,
menimbang-nimbang, pikiran
saya melayang menuju sisa uang saya di amplop, dalam
tas, Jum’at kemarin saya baru
saja mendapat lembur-an,
sebagai pegawai di suatu
instansi, nilai lembur saya
sangatlah kecil jika dibandingkan dengan
pegawai yang lain tentunya,
tapi itulah sisa uang saya, saya
mengeluarkan amplop
tersebut dari dalam tas, di
kamar, semua saya infaqkan untuk Mimi, semata mata
karena ikhlas.
Mimi menatap amplop di
tangan saya, sejurus
kemudian saya meletakkan
amplop tersebut diatas meja sambil berkata “Ini sisa
uangku Mimi, kamu ambil,
nanti sisanya, biar saya
pikirkan caranya, kamu butuh
modal banyak untuk mulai
usaha” Keesokan harinya, saya
menjual kalung Mimi, pada
sahabat baik saya yang lain,
kebetulan ia seorang pemodal-
muslim, yang baik hati,..
“Thanks ya Hans”.., saya menceritakan tentang
keadaan Mimi pada mereka,
Hans dan Istrinya banyak
membantu ” Ya Allah
limpahilah berkah pada orang-
orang baik seperti mereka”. Singkat cerita, Mimi bisa mulai
usahanya dari modal itu,
mengontrak rumah kecil
didekat rumah saya,
Alhamdulillah !, sekarang
ditahun kedua, usahanya sudah menampakkan hasil,
Mimi sudah sedemikian
mandiri, banyak yang bisa
saya contoh dari pribadinya
yang kuat yaitu Mimi adalah
pejuang sejati, ulet, sabar, dan kreatif.
Kuat karena Mimi enggan
bergantung pada orang lain,
dan tegar karena diterpa
cobaan bertubi-tubi, Mimi
tetap, kokoh, dan tidak bergeming sedikitpun, dia
juga Smart, tahu dimana dia
harus meminta pertolongan
pada orang yang tepat, dan
tentu saja muslimah yang taat
beribadah, hingga Allah pun tak enggan membantunya.
Saya hanya berpikir dan
yakin pasti ada jutaan Mimi-
Mimi, diluar sana, akan tetapi
pastinya sangat jarang yang
melampui cobaan bertubi-tubi seperti dirinya dengan
Indahnya.
Saya hanya ingin
berbagi…..cobalah kita lihat,
Mimi tetangga saya kini dan
setiap pagi selalu menyapa riang saya, wajah cantiknya
kembali bersinar, meskipun ia
menyandang status janda.
Yang kemudian dia tekun
mendengar keluh kesah saya
pada setiap permasalahan saya hadapi setiap harinya,
termasuk ketika saya mulai
mengeluh tidak betah
dikantor sebagai pegawai
sekian tahun, atau ketika saya
menghadapi badai kemelut usia yang yang sudah
berkepala tiga, apa kata Mimi
“Faris, Allah tidak akan
memberikan cobaan diluar
batas kemampuan seseorang
atau Allah lebih tahu apa yang terbaik bagimu, sedangkan
kamu tidak”.
Subhanallah ! Mimi, contoh
kekuatan wanita muslimah,
ada disana.
Dan jika saya sudah menyerah kalah pada permasalahan
bertubi-tubi dalam hidup saya,
maka Mimi membawa saya
menuju pintu rumah
mungilnya, didepan pintunya,
saya melihat kepulasan tidur anak-anaknya di ruang tamu
yang ia jadikan ruang tidur,
sedangkan kamar tidur ia
jadikan dapur untuk
memasak, (sungguh rumah
yang mungil) mereka berjejal pada tempat tidur susun yang
reyot, dan juga tempat tidur
gulung kecil dibawahnya,
tempat si sulungnya tidur,
kemudian katanya, “Lihatlah
Ris, betapa berat menjalani hidup seorang diri, tanpa
bantuan bahu yang lain, kalau
tidak terpaksa karena nasib,
enggan aku menajalaninya,
Ris, sedang kamu,
bersyukurlah kamu, masih memiliki masa depan yang
panjang “.
Duh, gusti betapa baik hati
Mimi ini, betapa malu saya
dihadapannya, cobaan saya,
tentu jauh lebih ringan dibanding dirinya, tapi betapa
saya jarang bersyukur, sering
mengeluh, dan sering merasa
kurang.
“Stupid mind in the Stupid
ordinary ” Yang jelas watak Mimi dan kekuatannya
menumbuhkan satu prinsip
dihati saya bahwa ” Karena
aku adalah lelaki, aku harus
kuat dan tegar lebih dari
wanita ini dalam menghadapi badai sekeras apapun, jika
mungkin jauh lebih kuat dan
tegar demi tangan-tangan
mungil yang mungkin akan
menjadi tangan-tangan
perkasa yang siap mencengkram dunia,
Insyaallah Amien”
Singkat cerita, saya pun
berhenti dari pekerjaan yang
lama, sekarang saya bekerja
lebih mapan dari yang dulu. Karena setiap pulang kerja
saya melintas didepan rumah
Mimi, dan terus
memperhatikan
ketegarannya, akhirnya Allah
menumbuhkan kembali cinta dihatiku. Sampai suatu saat
aku pun melamarnya agar
hubungan kami dihalalkan
oleh syari’at. Mimi hanya bisa
menunduk malu dan
tersenyum melihat anak- anaknya yang akan memiliki
ayah yang baru. Dalam hati,
Mimi bertakbir dan bertahmid
melihat kekuasaan Allah..
Allahu Akbar….
namanya, kami bersahabat
puluhan tahun sejak kami sama-sama duduk di sekolah
dasar (SD), selama beberapa
tahun itu saya mengenalnya,
sangat mengenalnya, Mimi
gadis sederhana, anak tunggal
seorang juragan sapi perah di wilayah kami, memiliki mata
sebening kaca, dan lesung
pipit yang manis menawan
siapa saja akan runtuh hatinya
jika memandang senyumnya,
termasuk saya’. dan nilai tambahnya adalah dia seorang
yang sangat sholehah, yang
patuh pada kedua orang
tuanya.
Tetapi Ranu, Don Juan yang
satu ini juga sangat menyukai Mimi, track recordnya tidak
menggoyahkannya untuk
merebut hati Mimi. Sedangkan
saya hanya bisa menatap cinta
dari balik senyuman tipis
ketegaran. Setiap pagi hari, petugas rutin
kantor pos pasti sudah
nangkring di sudut rumah
besar di ujung gang kampung
kami, (rumah Mimi).
Menunggu pemilik rumah membukakan pintu demi
dilewati selembar surat warna
merah jambu milik Ranu
untuk sang pujaan hatinya.
Sedang Mimi yang semula tak
bergeming, menjadi kian berbunga-bunga diserang
ribuan rayuan gombal milik
don juan.
Merekapun pacaran dari mulai
kelas 1 SMP bayangkan,
hingga menikah. Sebagai tetangga sekaligus teman
yang baik, saya hanya bisa
mendukung dan ikut bahagia
dengan keadaan tersebut.
(walaupun hati ini meratap)
Apalagi Mimi dan Ranu saling mendukung, dan sama-sama
bisa menjaga dirinya, hingga
ke Pelaminan,,Insyaallah.
Hingga tiba ketika selesai
kuliah, mereka berdua ingin
mewujudkan cita-cita bersama, membina keluarga,
yang sakinah, mawaddah, dan
warohmah.
Namun, namanya hidup pasti
ada saja kendalanya, dibalik
kesejukan melihat hubungan mereka yang adem anyem,
orang tua Ranu yang salah
satu anggota di DP….!! itu,
menginginkan Ranu menikahi
orang lain pilihan kedua orang
tuanya, namun Ranu rupanya cinta mati dengan Mimi,
sehingga mereka
memutuskan untuk menikah,
sekalipun diluar persetujuan
orang tua Ranu, dan secara
otomatis Ranu, diharuskan menyingkir dari percaturan
hak waris kedua orang
tuanya, disertai sumpah
serapah dan segala macam
cacian.
Ranu akhirnya melangkah bersama Mimi, setelah
menikah, mereka pergi
menjauh keluar dari kota
kami, Dumai, menuju Pekan
Baru, dengan menjual seluruh
harta peninggalan kedua orang tua Mimi yang sudah
tidak ada, (semenjak Mimi di
bangku SMA, orang tuanya
kecelakaan). Untuk mengadu
nasibnya menuju ke Pekan
Baru ” Kota Bertuah” Istilah si Mimi dan Ranu.
Saya hanya dipamiti sekejap,
tanpa bisa berkata-kata,
hanya saling bersidekap
tangan didada dan terharu
panjang, Mimi menitipkan salam untuk Ibu yang sudah
dianggapnya seperti Ibunya
sendiri.
Masih tajam dalam ingatan,
Mimi pergi bergandengan
tangan dengan sang kekasih abadi pujaan hatinya “Ranu”,
melenggang pelan bersama
mobil yang membawa
mereka menuju “Kota
Bertuahnya” Pekan Baru.
Selama setahun, kami masih rutin berkirim kabar, hingga
tahun kelima, dimana saya
masih membujang dan masih
menetap tinggal di Dumai,
sedang Mimi entah kemana,
hilang tak ketahuan rimbanya, setelah surat
terakhir mengabarkan bahwa
dia melahirkan anak
keduanya, kemudian setelah
itu kami tidak mendengar
kabarnya, lagi. Bahkan Ibuku yang sudah
berhijrah hampir tiga tahun ini
di Pekan Baru tempat
kakakku juga tidak bisa
melacak keberadaan Mimi,
Mimi lenyap ditelan bumi, hanya doa saya dan Ibu serta
sahabat-sahabat yang lain
yang masih rutin kami
panjatkan, untuk
keberuntungan Mimi di sana.
Sampai di suatu siang yang terik, di hari sabtu, kebetulan
saya berada dirumah karena
kantor memang libur dihari
sabtu dan minggu, tiba-tiba
saya dikejutkan oleh suara
ketokan pintu dikamar, mbak “Inul” patner kerja (alias
Pembantu) kami
mengabarkan ada tamu dari
Pekan Baru, siapa gerangan
pikir saya ketika itu.
Setelah saya temui, lama sekali saya memeperhatikan
tamu tersebut, perempuan
cantik berkulit putih, tapi
bajunya sangat lusuh beserta
ketiga anaknya, yang dua
laki-laki kurus, bermata cekung terlihat sangat
kelelahan, dan seorang bayi
mungil dalam gendongan.
Sejenak saya tertegun, lupa-
lupa ingat, hingga suara
perempuan itu mengejutkan saya ” Faris….Faris khan !”,
sejenak, dia ragu-ragu, hingga
kemudian berlari merangkul
saya, sambil terisak keras
dibahu saya, saat itu saya
hanya bisa diam tertegun dan tak tahu mau melakukan apa,
dan saya tidak bisa menepis
karena hal ini bukan
muhrimnya.
Lalu setelah ia puas menangis,
pelukan itu baru lepas, ketika kami dikejutkan oleh tangis
bayi Mimi yang keras, yang
rupanya tanpa kami sadari
telah menyakitinya, dan
menekan bayi itu dalam
pelukan kami. Masyaallah !.semoga Allah
mengampuni…..
Saya menjauhkannya dari
bahu saya sambil masih ragu,
berguman pelan “Mimi…
Mimikah ?” Masyaallah…!, sekarang giliran saya yang
ingin merangkul Mimi, tapi
karena syari’at masih
membayang dibatin. Aku
hanya bisa bersidekap tangan
didada tanpa bisa meluapkan perasaanku melihat
kondisinya. Anak-anak Mimi
yang melihat kami hanya
termangu,
Mimi terlihat lebih tua dari
usianya, namun kecantikan alaminya masih terlihat jelas,
badannya kurus, dengan
jilbab lusuh, yang berwarna
buram, membawa tas koper
berukuran besar yang sudah
cuil dibeberapa bagian, mungkin karena gesekan atau
juga benturan berkali-kali,
seperti orang yang telah
berjalan berpuluh-puluh
kilometer.
Tanpa dikomando saya langsung mempersilahkan
Mimi masuk kedalam rumah,
membantu membawakan
barang-barangnya, dibantu
mbak Inul, meletakkan
barangnya di ruang tamu, rumah saya.
Menunda beberapa
pertanyaan yang telah
menggunung dipikiran saya,
Saya menatap dalam-dalam,
Mimi sedemikian berubahnya, perempuan manis yang dulu
saya kenal kini terlihat sangat
berantakan, Masyaallah !, Mimi
…ada apa denganmu!.
Saya menunda pertanyaan
saya, hingga Mimi dan anak- anaknya mau saya paksa
beristirahat beberapa hari
dirumah saya, ia tidur
dikamar ibu yang sudah
dirapikan mbak Inul, saya
rindu padanya, dan juga terharu melihat keadaannya.
Beberapa hari beristirahat
dirumah saya, saya baru
berani menanyakan tentang
kabar keadaannya sekarang.
Kami duduk diruang tamu sambil cerita ringan.
Semula Mimi terdiam seribu
bahasa pada saat saya tanya
keadaan Ranu, matanya
berkaca-kaca, saya menghela
nafas dalam, menunggu jawabannya lama, dalam
hitungan menit hingga
keluarlah suara parau dari
mulutnya…
“Mas Ranu, Ris….sudah
berpulang kepada-Nya lima bulan yang lalu”.
“Oh” desah saya pelan, kata-
kata Mimi membuat saya
tercekat beberapa saat,
namun sebelum saya sempat
menimpali, bertubi-tubi Mimi menangis sambil setengah
meracau “Mas Ranu kena
kanker paru-paru, karena
kebiasaannya merokok tiga
tahun yang lalu, semua sisa
peninggalan orang tuaku sudah habis terjual ludes,
untuk biaya berobat, sedang
penyakitnya bertambah
parah, keluarga mas Ranu
enggan membantu, kamu
tahu sendiri khan, aku menantu yang tidak
diinginkan, dan ketika Mas
Ranu meninggal, orangtuanya
masih saja membenciku,
mereka sama sekali tidak mau
membantu, aku bekerja serabutan di Pekan Baru, Ris..,
mulai jadi tukang cuci,
pembantu rumah tangga, dsb,
hingga Mas Ranu meninggal,
keluarganya, hanya
memberiku uang sekedarnya untuk penguburan Mas Ranu,
hingga aku terpaksa menjual
rumah tempat tinggal kami
satu-satunya, dan dari sana
aku membayar semua tagihan
rumah dan hutang-hutang pada tetangga, sisanya aku
gunakan untuk berangkat ke
Dumai, aku tidak sanggup
mengadu nasib disana Ris….”
Kata-kata Mimi berhenti disini,
disambut isak tangisnya, sedang saya yang sedari tadi
mendengarkan tak kuasa juga
menahan haru yang sudah
sedari tadi menyesak di dada.
Setelah kami sama-sama
tenang, saya bertanya pada Mimi ” Lalu apa rencanamu,
Mimi ?”.
Mimi tertegun… dia
memandang saya nanar, saya
menundukkan pandangan,
karena saya takut terbawa rayuan syetan. kemudian dia
mengulurkan tangan,
memberikan seuntai kalung
emas besar, “Sisa hartanya ”
begitu kata Mimi.
“Ini untukmu Ris.., aku gadaikan padamu, pinjami
aku uang untuk modal usaha,
dan kontrak rumah kecil-
kecilan, aku tidak mau
merepotkanmu lebih dari ini
Ris..”. Aku yang menahan haru,
sontak mataku langsung
mengalirkan sesuatu,
walaupun aku lelaki, namun
hati ini bertindak sebagai
makhluk tuhan yang berperasaan. kembali kami
hanyut dalam haru.
Pelan-pelan saya, meraih
kalung itu dari meja,
menimbang-nimbang, pikiran
saya melayang menuju sisa uang saya di amplop, dalam
tas, Jum’at kemarin saya baru
saja mendapat lembur-an,
sebagai pegawai di suatu
instansi, nilai lembur saya
sangatlah kecil jika dibandingkan dengan
pegawai yang lain tentunya,
tapi itulah sisa uang saya, saya
mengeluarkan amplop
tersebut dari dalam tas, di
kamar, semua saya infaqkan untuk Mimi, semata mata
karena ikhlas.
Mimi menatap amplop di
tangan saya, sejurus
kemudian saya meletakkan
amplop tersebut diatas meja sambil berkata “Ini sisa
uangku Mimi, kamu ambil,
nanti sisanya, biar saya
pikirkan caranya, kamu butuh
modal banyak untuk mulai
usaha” Keesokan harinya, saya
menjual kalung Mimi, pada
sahabat baik saya yang lain,
kebetulan ia seorang pemodal-
muslim, yang baik hati,..
“Thanks ya Hans”.., saya menceritakan tentang
keadaan Mimi pada mereka,
Hans dan Istrinya banyak
membantu ” Ya Allah
limpahilah berkah pada orang-
orang baik seperti mereka”. Singkat cerita, Mimi bisa mulai
usahanya dari modal itu,
mengontrak rumah kecil
didekat rumah saya,
Alhamdulillah !, sekarang
ditahun kedua, usahanya sudah menampakkan hasil,
Mimi sudah sedemikian
mandiri, banyak yang bisa
saya contoh dari pribadinya
yang kuat yaitu Mimi adalah
pejuang sejati, ulet, sabar, dan kreatif.
Kuat karena Mimi enggan
bergantung pada orang lain,
dan tegar karena diterpa
cobaan bertubi-tubi, Mimi
tetap, kokoh, dan tidak bergeming sedikitpun, dia
juga Smart, tahu dimana dia
harus meminta pertolongan
pada orang yang tepat, dan
tentu saja muslimah yang taat
beribadah, hingga Allah pun tak enggan membantunya.
Saya hanya berpikir dan
yakin pasti ada jutaan Mimi-
Mimi, diluar sana, akan tetapi
pastinya sangat jarang yang
melampui cobaan bertubi-tubi seperti dirinya dengan
Indahnya.
Saya hanya ingin
berbagi…..cobalah kita lihat,
Mimi tetangga saya kini dan
setiap pagi selalu menyapa riang saya, wajah cantiknya
kembali bersinar, meskipun ia
menyandang status janda.
Yang kemudian dia tekun
mendengar keluh kesah saya
pada setiap permasalahan saya hadapi setiap harinya,
termasuk ketika saya mulai
mengeluh tidak betah
dikantor sebagai pegawai
sekian tahun, atau ketika saya
menghadapi badai kemelut usia yang yang sudah
berkepala tiga, apa kata Mimi
“Faris, Allah tidak akan
memberikan cobaan diluar
batas kemampuan seseorang
atau Allah lebih tahu apa yang terbaik bagimu, sedangkan
kamu tidak”.
Subhanallah ! Mimi, contoh
kekuatan wanita muslimah,
ada disana.
Dan jika saya sudah menyerah kalah pada permasalahan
bertubi-tubi dalam hidup saya,
maka Mimi membawa saya
menuju pintu rumah
mungilnya, didepan pintunya,
saya melihat kepulasan tidur anak-anaknya di ruang tamu
yang ia jadikan ruang tidur,
sedangkan kamar tidur ia
jadikan dapur untuk
memasak, (sungguh rumah
yang mungil) mereka berjejal pada tempat tidur susun yang
reyot, dan juga tempat tidur
gulung kecil dibawahnya,
tempat si sulungnya tidur,
kemudian katanya, “Lihatlah
Ris, betapa berat menjalani hidup seorang diri, tanpa
bantuan bahu yang lain, kalau
tidak terpaksa karena nasib,
enggan aku menajalaninya,
Ris, sedang kamu,
bersyukurlah kamu, masih memiliki masa depan yang
panjang “.
Duh, gusti betapa baik hati
Mimi ini, betapa malu saya
dihadapannya, cobaan saya,
tentu jauh lebih ringan dibanding dirinya, tapi betapa
saya jarang bersyukur, sering
mengeluh, dan sering merasa
kurang.
“Stupid mind in the Stupid
ordinary ” Yang jelas watak Mimi dan kekuatannya
menumbuhkan satu prinsip
dihati saya bahwa ” Karena
aku adalah lelaki, aku harus
kuat dan tegar lebih dari
wanita ini dalam menghadapi badai sekeras apapun, jika
mungkin jauh lebih kuat dan
tegar demi tangan-tangan
mungil yang mungkin akan
menjadi tangan-tangan
perkasa yang siap mencengkram dunia,
Insyaallah Amien”
Singkat cerita, saya pun
berhenti dari pekerjaan yang
lama, sekarang saya bekerja
lebih mapan dari yang dulu. Karena setiap pulang kerja
saya melintas didepan rumah
Mimi, dan terus
memperhatikan
ketegarannya, akhirnya Allah
menumbuhkan kembali cinta dihatiku. Sampai suatu saat
aku pun melamarnya agar
hubungan kami dihalalkan
oleh syari’at. Mimi hanya bisa
menunduk malu dan
tersenyum melihat anak- anaknya yang akan memiliki
ayah yang baru. Dalam hati,
Mimi bertakbir dan bertahmid
melihat kekuasaan Allah..
Allahu Akbar….
Sabtu, 11 Agustus 2012
Manakah yang paling penting antara Kuantitas dan Kualitas?
Dalam banyak hal keduanya diharapkan dalam porsi yang sama dan seimbang. Tapi dalam perjalanan kehidupan sangat sering kita dihadapkan pada fakta bahwa kita harus memilih dari antara keduanya.
Ini ada kisah menarik mengenai Joe dan Angela :
Joe dan Angela bertemu secara tak sengaja di sebuah karnaval tahunan yang diadakan setiap liburan musim panasdi kota tempat kelahiran Angela.
Perkenalan yang berlanjut pada temu makan malam dan kebersamaan yang penuh tawa dan bahagia seakan segalanya akan berlangsung selamanya.
Banyak hal yang mereka alami dalam kebersamaan mereka.
Hal-hal indah yang menyatukan hati dan pandangan mereka.
Dua hari sebelum liburan musim panas berakhir Angela jatuh sakit.
Dokter memberikan memberikan obat penghilang rasa sakit karena tak ada lagi yang dapat dilakukan untuk memerangi kanker yang menggerogoti Angela dari dalam.
Satu hal yang tak diketahui Joe bahwa itu adalah liburan musim panas terakhir bagi Angela sebelum batas waktu secara medis itu tiba.
Malam itu adalah malam terakhir liburan musim panas dan malam terakhir bagi Angela.
Angela terbaring ditempat tidurnya yang serba putih dengan tangan yang menggenggam lembut tangan Joe.
Tak ada airmata antara mereka karena senyum yang memiliki waktu mereka. Tatapan mata saja sudah cukup bagi mereka untuk berbagi cerita tentang apa yang ada dihati mereka masing-masing.
Lirih Joe berkata, "Mengapa kebersamaan ini tak abadi?"
Dengan senyum manis Angela berkata,
"Jangan melihat seberapa lama kebersamaan kita namun ingatlah tentang kebersamaan kita.
Walau hanya sesaat namun itu adalah saat terbaik yang pernah aku miliki dalam hidupku.
Bukan berapa lama kita bersama tapi keindahan dan kebahagian bersamamu adalah harta karun bagiku.
Walau hanya sesaat bersamamu namun itulah kebahagiaan terindah seumur hidupku".
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
Mengukur kebahagian bukan dari berapa lama kita menikmati kebahagian itu. Mengukur cinta bukan berapa lama kita menjalani waktu percintaan dengan orang yang kita cintai.
Kita takkan pernah lupa akan keindahan bunga yang mekar dimusim semi namun adakah bunga itu tetapdapat kita lihat sekarang?
Atau pernahkah kita lupa pada keindahan kemilau embun pagi kala matahari pagi bersinar padahal ia sirna saat matahari meninggi?
Kebahagiaan sejati tak datang dari berapa lama sesuatu itu berjalan namun lebih kepada berapa berartinya waktu itu dijalani.
Mungkin hanya sesaat seperti pendeknya waktu mekarnya bunga.
Mungkin hanya sekejap seperti kehadiran embun yang cemerlangi pagi.
Namun jika itu memberi arti dihati maka itu akan abadi.................
Mencintailah dengan sepenuh hati saat ini karena mungkin besok kau takkan bisa bersama lagi
dengan orang yang kau cintai.
Mungkin tiada yang abadi namun cinta dan kenangannya adalah abadi.............
Ini ada kisah menarik mengenai Joe dan Angela :
Joe dan Angela bertemu secara tak sengaja di sebuah karnaval tahunan yang diadakan setiap liburan musim panasdi kota tempat kelahiran Angela.
Perkenalan yang berlanjut pada temu makan malam dan kebersamaan yang penuh tawa dan bahagia seakan segalanya akan berlangsung selamanya.
Banyak hal yang mereka alami dalam kebersamaan mereka.
Hal-hal indah yang menyatukan hati dan pandangan mereka.
Dua hari sebelum liburan musim panas berakhir Angela jatuh sakit.
Dokter memberikan memberikan obat penghilang rasa sakit karena tak ada lagi yang dapat dilakukan untuk memerangi kanker yang menggerogoti Angela dari dalam.
Satu hal yang tak diketahui Joe bahwa itu adalah liburan musim panas terakhir bagi Angela sebelum batas waktu secara medis itu tiba.
Malam itu adalah malam terakhir liburan musim panas dan malam terakhir bagi Angela.
Angela terbaring ditempat tidurnya yang serba putih dengan tangan yang menggenggam lembut tangan Joe.
Tak ada airmata antara mereka karena senyum yang memiliki waktu mereka. Tatapan mata saja sudah cukup bagi mereka untuk berbagi cerita tentang apa yang ada dihati mereka masing-masing.
Lirih Joe berkata, "Mengapa kebersamaan ini tak abadi?"
Dengan senyum manis Angela berkata,
"Jangan melihat seberapa lama kebersamaan kita namun ingatlah tentang kebersamaan kita.
Walau hanya sesaat namun itu adalah saat terbaik yang pernah aku miliki dalam hidupku.
Bukan berapa lama kita bersama tapi keindahan dan kebahagian bersamamu adalah harta karun bagiku.
Walau hanya sesaat bersamamu namun itulah kebahagiaan terindah seumur hidupku".
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
Mengukur kebahagian bukan dari berapa lama kita menikmati kebahagian itu. Mengukur cinta bukan berapa lama kita menjalani waktu percintaan dengan orang yang kita cintai.
Kita takkan pernah lupa akan keindahan bunga yang mekar dimusim semi namun adakah bunga itu tetapdapat kita lihat sekarang?
Atau pernahkah kita lupa pada keindahan kemilau embun pagi kala matahari pagi bersinar padahal ia sirna saat matahari meninggi?
Kebahagiaan sejati tak datang dari berapa lama sesuatu itu berjalan namun lebih kepada berapa berartinya waktu itu dijalani.
Mungkin hanya sesaat seperti pendeknya waktu mekarnya bunga.
Mungkin hanya sekejap seperti kehadiran embun yang cemerlangi pagi.
Namun jika itu memberi arti dihati maka itu akan abadi.................
Mencintailah dengan sepenuh hati saat ini karena mungkin besok kau takkan bisa bersama lagi
dengan orang yang kau cintai.
Mungkin tiada yang abadi namun cinta dan kenangannya adalah abadi.............
Kisah tukang cat
Saya tertegun. Darah di seluruh tubuh terasa berdesir lebih cepat. Jarum jam menunjukkan pukul 12 tengah malam. Seorang pemuda sedang menyikat lantai. Di sampingnya tergeletak sebuah ember berisi air. Tak jauh dari situ terdapat cairan pembersih. Mata saya berkaca-kaca. Saya hampir tidak percaya pemuda itu adalah anak saya, Rio.
Saya tidak menyangka Rio mau melakukan hal itu. Menyikat lantai dan mengepel. Di dadanya masih melekat “celemek” warnah hijau dengan sebuah logo yang sangat dikenal: Starbucks.
Sudah hampir tiga bulan Rio magang kerja di Starbucks. Pekerjaan utamanya membuat kopi dan melayani pembeli. Menjelang tutup, bergantian dengan teman-teman sekerjanya, dia menyapu, bersih-bersih, buang sampah, termasuk mengepel atau menyikat lantai.
Meliaht Rio melakukan pekerjaan tersebut, ada rasa haru yang menyesakkan dada. Sudah sejak lama saya ingin anak saya bekerja seperti itu. Beberapa waktu lalu saya pernah sedikit memaksa agar dia melamar di salah satu restoran cepat saji terkenal. Tetapi sayang lamarannya tidak pernah mendapat jawaban. Berkali-kali dicoba tetapi yang terakhir jawaban yang diterima mereka belum membutuhkan tenaga magang.
Saya mendorong Rio untuk magang di restoran cepat saji karena saya ingin dia merasakan apa yang dirasakan para pelayan restoran. Saya ingin dia berempati terhadap pekerjaan pramusaji. Sebab selama ini dia selalu berada pada posisi yang dilayani. Bagaimana rasanya jika sebaliknya, dia yang harus melayani?
Setelah gagal magang di restoran cepat saji, Rio akhirnya diterima magang di Starbucks. Sejak awal saya sudah menyiapkan mentalnya untuk menerima keadaan terburuk sebagai pelayan: mendapat perlakukan kasar dari pembeli.
Namun, jujur saja, ketika toh saya melihat di tengah malam anak sulung saya menyikat lantai dan mengepel, disaksikan pengunjung mall yang lalu lalang, perasaan saya campur aduk. Terharu, sedih, dan bangga menjadi satu. Apalagi ketika dia melihat ayahnya, bersama ibu dan adik-adiknya datang, Rio tertawa sembari terus bekerja. Situasi yang aneh melihat anak yang saya cintai berada di posisi melayani dan saya di posisi tamu yang dilayani.
Ingatan saya lalu kembali ke masa saya kuliah. Untuk mencari tambahan uang kuliah, selain menjual kartu-kartu ucapan yang saya lukis sendiri, saya juga menjual tenaga kepada siapa saja yang membutuhkan. Termasuk kepada kakak laki-laki saya.
Suatu ketika, kakak saya berniat mengecat rumahnya. Saya langsung menawarkan diri. Tentu dengan bayaran. Maka setiap hari, selama seminggu, sebelum kuliah saya mampir dulu ke rumah kakak saya di bilangan Kalibata, Jakarta Timur.
Selama rata-rata empat jam per hari, saya menjadi tukang cat. Seusai bekerja, mandi, baru saya ke kampus. Saya menjalani pekerjaan itu dengan penuh tanggung jawab. Sesudah selesai baru dibayar. Kakak saya dan kakak ipar saya awalnya merasa tidak nyaman. Tetapi mereka kemudian menghargai upaya saya untuk mencari tambahan uang kuliah. Jaman memang terus bergerak. Nilai-nilai berubah. Tentu saya tidak mungkin meminta anak-anak saya untuk melakukan pekerjaan yang dulu saya lakukan. Tetapi setidaknya saya berharap anak-anak saya bisa menghargai orang-orang yang keadaannya sama seperti ayahnya dulu.
Saya tidak menyangka Rio mau melakukan hal itu. Menyikat lantai dan mengepel. Di dadanya masih melekat “celemek” warnah hijau dengan sebuah logo yang sangat dikenal: Starbucks.
Sudah hampir tiga bulan Rio magang kerja di Starbucks. Pekerjaan utamanya membuat kopi dan melayani pembeli. Menjelang tutup, bergantian dengan teman-teman sekerjanya, dia menyapu, bersih-bersih, buang sampah, termasuk mengepel atau menyikat lantai.
Meliaht Rio melakukan pekerjaan tersebut, ada rasa haru yang menyesakkan dada. Sudah sejak lama saya ingin anak saya bekerja seperti itu. Beberapa waktu lalu saya pernah sedikit memaksa agar dia melamar di salah satu restoran cepat saji terkenal. Tetapi sayang lamarannya tidak pernah mendapat jawaban. Berkali-kali dicoba tetapi yang terakhir jawaban yang diterima mereka belum membutuhkan tenaga magang.
Saya mendorong Rio untuk magang di restoran cepat saji karena saya ingin dia merasakan apa yang dirasakan para pelayan restoran. Saya ingin dia berempati terhadap pekerjaan pramusaji. Sebab selama ini dia selalu berada pada posisi yang dilayani. Bagaimana rasanya jika sebaliknya, dia yang harus melayani?
Setelah gagal magang di restoran cepat saji, Rio akhirnya diterima magang di Starbucks. Sejak awal saya sudah menyiapkan mentalnya untuk menerima keadaan terburuk sebagai pelayan: mendapat perlakukan kasar dari pembeli.
Namun, jujur saja, ketika toh saya melihat di tengah malam anak sulung saya menyikat lantai dan mengepel, disaksikan pengunjung mall yang lalu lalang, perasaan saya campur aduk. Terharu, sedih, dan bangga menjadi satu. Apalagi ketika dia melihat ayahnya, bersama ibu dan adik-adiknya datang, Rio tertawa sembari terus bekerja. Situasi yang aneh melihat anak yang saya cintai berada di posisi melayani dan saya di posisi tamu yang dilayani.
Ingatan saya lalu kembali ke masa saya kuliah. Untuk mencari tambahan uang kuliah, selain menjual kartu-kartu ucapan yang saya lukis sendiri, saya juga menjual tenaga kepada siapa saja yang membutuhkan. Termasuk kepada kakak laki-laki saya.
Suatu ketika, kakak saya berniat mengecat rumahnya. Saya langsung menawarkan diri. Tentu dengan bayaran. Maka setiap hari, selama seminggu, sebelum kuliah saya mampir dulu ke rumah kakak saya di bilangan Kalibata, Jakarta Timur.
Selama rata-rata empat jam per hari, saya menjadi tukang cat. Seusai bekerja, mandi, baru saya ke kampus. Saya menjalani pekerjaan itu dengan penuh tanggung jawab. Sesudah selesai baru dibayar. Kakak saya dan kakak ipar saya awalnya merasa tidak nyaman. Tetapi mereka kemudian menghargai upaya saya untuk mencari tambahan uang kuliah. Jaman memang terus bergerak. Nilai-nilai berubah. Tentu saya tidak mungkin meminta anak-anak saya untuk melakukan pekerjaan yang dulu saya lakukan. Tetapi setidaknya saya berharap anak-anak saya bisa menghargai orang-orang yang keadaannya sama seperti ayahnya dulu.
Langganan:
Postingan (Atom)