Sabtu, 20 Oktober 2012

Pengemis Buta dan Rasulullah SAW

Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.
Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan isteri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu, Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?
Aisyah RA menjawab,Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja.
Apakah Itu?, tanya Abubakar RA. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana, kata Aisyah RA.
Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, sipengemis marah sambil menghardik, Siapakah kamu? Abubakar RA menjawab,Aku orang yang biasa (mendatangi engkau). Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku, bantah si pengemis buta itu.
Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku, pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.
Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata, Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia….
Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim. Nah, wahai saudaraku, bisakah kita meneladani kemuliaan akhlaq Rasulullah SAW? Atau adakah setidaknya niatan untuk meneladani beliau?
Beliau adalah ahsanul akhlaq, semulia-mulia akhlaq.
Kalaupun tidak bisa kita meneladani beliau seratus persen, alangkah baiknya kita berusaha meneladani sedikit demi sedikit, kita mulai dari apa yang kita sanggup melakukannya. Sadaqah Jariah salah satu dari nya mudah dilakukan, pahalanya? MasyaAllah.. ..macam meter taxi…jalan terus.
Sadaqah Jariah - Kebajikan yang tak berakhir.
1. Berikan al-Quran pada seseorang, dan setiap dibaca, Anda mendapatkan hasanah.
2. Sumbangkan kursi roda ke RS dan setiap orang sakit menggunakannya, Anda dapat hasanah.
4. Bantu pendidikan seorang anak.
5. Ajarkan seseorang sebuah do’a. Pada setiap bacaan do’a itu, Anda dapat hasanah.
6. Bagi CD Quran atau Do’a.
7. Terlibat dalam pembangunan sebuah mesjid.
8. Tempatkan pendingin air di tempat umum.
9. Tanam sebuah pohon. Setiap seseorang atau binatang berlindung dibawahnya, Anda dapat hasanah.

Kamis, 18 Oktober 2012

Kebaikan yang Sia-sia


قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا. الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا. أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا
“Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan
mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka terhapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari Kiamat.” (Al-Kahfi [18]: 103-105)
Mukaddimah
Suatu ketika Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhu pernah ditanya oleh Mush’ab, anaknya tentang ayat ini. Siapakah yang dimaksud dengan orang-orang yang paling merugi amalannya? Apakah mereka itu kaum Haruriy (orang-orang fasiq)? Sa’ad menjawab, “Tidak, mereka tak lain adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani. (Riwayat Bukhari).
Imam Ibnu Katsir menambahkan, meski ayat ini turun kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, tapi ia mencakup siapa saja yang beribadah kepada Allah namun tidak sesuai dengan tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ayat ini sendiri tergolong Makkiyah sehingga secara akar sejarah kaum Muslimin ketika itu belum berinteraksi secara langsung dengan kaum Yahudi dan Nasrani ataupun Khawarij. Olehnya, pengkhususan suatu kaum bukanlah penghalang bagi kaum yang lain untuk termasuk di dalamnya. Al-Ibrah bi umum al-lafdz la bi khusus as-sabab (pelajaran itu diambil dari keumuman lafadz, bukan dari kekhususan suatu sebab).
Makna Ayat
Setiap manusia tentu berharap hasil dari apa yang ia usahakan. Sekecil apapun pekerjaan itu. Bahkan meski orang itu melabeli perbuatannya dengan “iseng” tapi sejujurnya tetap saja ia menyelipkan harapan di sana. Minimal ia merasa senang dan terhibur olehnya.
Inilah petaka besar yang kembali menimpa orang-orang di luar Islam. Mereka adalah korban tipuan diri mereka sendiri. Menganggap menunaikan pekerjaan dengan sebaik-baiknya, namun rupanya hal itu sama sekali tak bernilai di sisi Allah. Layaknya pekerjaan yang dikelola secara profesional, ia telah mengerahkan sekian banyak tenaga, pikiran, serta mengorbankan waktu dan dana yang tak sedikit. Ia berharap apa yang ia lakukan itu dapat memberikan manfaat. Namun bagi Allah dengan segala sifat adil-Nya, hal itu tetap saja menjadi hampa karena tidak didasari terhadap keyakinan kepada Allah Ta’ala.
Imam al-Qurthubi berkata: Meski ayat ini memakai kalimat tanya, namun sejatinya Allah tak membutuhkan jawaban dari pertanyaan itu sebab uslub tersebut berfungsi untuk “mengejek” orang-orang kafir. Selain sengaja menghinakan kaum kafir, Allah juga hendak menarik perhatian kaum Muslim -dengan gaya bertanya ini- agar benar-benar memperhatikan permasalahan ini.
Kebaikan Itu Ada Syaratnya
“I’rif al-haqqa, ta’rifu ahlahu” (kenalilah kebenaran, niscaya kalian mengetahui pelakunya). Demikian sebuah pepatah bijak mengajarkan. Dalam ungkapan yang lain disebutkan, “al-haqqu la yu’rafu bi ar-rijal,” kebenaran itu tak ditentukan oleh seseorang yang melakukan perbuatan tersebut.
Jadi, hendaknya seorang Muslim mengilmui kebaikan itu terlebih dahulu. Sebab, amal saleh itu tak cukup dengan niatan yang baik semata. Ia tak bisa hanya didasarkan pada perasaan atau naluri saja. Sebaliknya, amal saleh memiliki syarat yang wajib dipenuhi untuk membuahkan pahala yang dijanjikan. Jangan sampai ia hanya terjebak dalam prasangka semata. Merasa berbuat baik tapi rupanya ia keliru dalam bertindak.
Ketika kebenaran sudah diilmui dengan baik, seorang Muslim jadi mudah mengenal para pelaku kebaikan itu. Sebaliknya, status sosial atau jabatan seseorang sama sekali bukan garansi jika apa yang ia lakoni menjadi perilaku yang harus dicontoh oleh orang lain. Yang terjadi dalam masyarakat, mereka mengamini suatu perbuatan semata karena yang mengerjakannya adalah orang yang punya jabatan atau terpandang. Di sisi lain karena banyak yang meniru, jadilah orang itu merasa jika perbuatannya tadi adalah benar, bahkan mengandung kebaikan hingga ditiru oleh orang lain.
Secara terang Allah juga membantah orang-orang yang selama ini menuhankan logika dan nalar mereka. Sebab ketaatan dan amal saleh itu bersumber dari keimanan, bukan semata karena merasa cocok dengan logika fikiran manusia. Jika seseorang hanya berbuat baik berdasar nalar dan nafsu mereka, maka yang terjadi semua orang lalu merasa benar dengan apa yang mereka lakukan. Mereka bertindak sesuai keinginan nafsu mereka tanpa mau mengindahkan lagi tuntunan syariat yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Kisah Tragis di Hari Kiamat
Bagi seorang Muslim, cukuplah ia merinding dengan apa yang dikisahkan oleh Abu Hurairah. Sahabat mulia ini menuturkan sebuah Hadits dari Nabi SAW bahwa akan datang pada Hari Perhitungan nanti seorang laki-laki yang bertubuh gemuk. Namun celaka, ketika amalannya ditimbang hal itu tak bernilai apa-apa bagi Allah. Bahkan tubuhnya yang gemuk dan besar itu tak mampu melebihi berat sayap seekor nyamuk sekalipun. Allah lalu berfirman, “…dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari Kiamat.” (Riwayat Bukhari)
Dalam ayat yang lain, Allah mencela orang kafir gara-gara pola makannya yang sembrono. Firman Allah, “…Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (Muhammad [47]: 12).
Jenis-jenis Kesesatan
Menurut Syaikh Muhammad al-Amin as-Syinqithi, dalam banyak ayat Allah seringkali menuangkan kata “dhalla atau dhalal” yang berbeda makna satu sama lain. Sebab, setidaknya kata tersebut mengandung tiga jenis pengertian yang berbeda dalam terminologi al-Qur`an. Pertama, ia dimaknai menyimpang dari jalan kebenaran dan condong kepada kebathilan. Firman Allah, “(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Al-Fatihah [1]: 7).
Kedua, kata “dhalal” berarti batal atau sia-sia. Pengertian seperti ini salah satunya terdapat pada pembahasan ayat di atas. “Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini.” (Al-Kahfi [18]: 104).
Ketiga, adalah bingung atau belum memahami hakikat makna yang benar. Sebagaimana firman Allah yang menceritakan kondisi Nabi Muhammad SAW sebelum ia mendapatkan wahyu dari Allah, “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung lalu Dia memberikan petunjuk.” (Adh-Dhuha [93]: 7), (Kitab Adhwa al-Bayan fi Idhah al-Qur’an bi al-Qur’an).


Kata-kata Bijak

“Kehilangan terbesar dalam cinta, bukanlah ketika orang yg paling kau cintai pergi meninggalkanmu untuk selamanya. Melainkan kau telah kehilangan waktu untuk mengatakan betapa kau mencintainya…” Happy morning my friends!!

Di dunia ini org pintar ada banyak, bahkan jumlahnya semakin bertambah. Setiap tahun berbagai universitas mengeluarkan banyak sarjana pintar. Tapi sayang, org berakhlak tdk begitu banyak. Jumlahnya sedikit, bahkan semakin berkurang…


BERPIKIR KREATIF: Seandainya apa yg kita lakukan tdk berhasil & lalu membesar-besarkannya seolah itu spt akhir dunia, maka kita enggan melakukan apapun. Tapi sebaliknya, jika kita berpikir sederhana “Saya tdk berhasil berarti ya tdk berhasil” — itu saja! Sikap ini akan membuat segalanya lebih mudah. ^_^

Tuhanku, dosa yg aku kerjakan amat kecil jika dibandingkan dgn besarnya ampunan-Mu. Jika Engkau hendak mencelakakanku, gelaplah segala jalan yg kutempuh. Tak seorang pun kuat kuasa mempertahankanku. Karena itu Ya Allah, sempurnakanlah awal hikmah-Mu sampai ke ujungnya & jgn Engkau cabut apa yg telah Engkau karuniakan!

Tidak melakukan segala bentuk kejahatan, Senantiasa mengembangkan kebajikan dan membersihkan batin inilah ajaran para buddha.

Kasihanilah orang yang tidak mau meluruskan pandangannya yang keliru, karena pikirannya, ucapannya dan perbuatannya akan terus keliru, sehingga akan terus menerus melakukan pelanggaran sila, semoga ia tahan menderita kalau terlahir di alam Apaya.

Setiap hari selalu ada hal-hal yang tidak menyenangkan yang datang ke panca-indra kita, kalau diperdulikan pasti menjengkelkan dan melelahkan, kalau diabaikan mungkin juga keliru. Paling enak dibiarkan saja berlalu, seperti melihat barang-barang yang hanyut di sungai menuju ke luatan luas. Que sera-sera

Orang bejad dan jahat sekalipun tak akan pernah mau disebut dirinya bejad dan jahat. Tapi kenapa sungguh…… susah untuk di ajak bertobat?

Hidup ini bagaikan cuaca, kadang terang benderang dan panas terik, tapi tiba-tiba mendung hujan deras geludug dan petir. semua ada masanya, semua ada karena tiada.

Yesus adalah salah satu nabi yang mengajarkan artinya cinta kasih, pengobanan dirinya sungguh luar biasa, tiada kasih sebesar kasihnya yang sekarang hanya bisa kita dapatkan hanya dari ibu kita, ibu yang mengorbankan jiwa dan raga karena cintanya………………………… I LOVE YOU MOM

Main api hangus, main air basah. Janganlah bergaul dekat dengan orang “dungu”, agar tidak ketularan menjadi “dungu”.

Siapa saja, sudah pasti akan menjadi tua (kalau tidak mati muda), sakit dan meninggal dunia. Karena itu belajarlah untuk tidak melekat (lengket) kepada apapun. Tumpuklah jasa kebajikan sebanyak-banyaknya sebagai bekal untuk kelahiran mendatang.

Ada karma yang mengantarkan kita ke alam neraka, ada karma yang mengantarkan kita ke alam binatang, ada karma yang mengantarkan kita ke alam setan, ada karma yang mengantarkan kita ke alam asura, ada karma yang mengantarkan kita kembali ke alam manusia dan ada karma yang mengantarkan kita ke alam surga.

Ku tak membawa, apapun juga saat ku datang ke dunia, Kutinggal semua pada akhirnya saat ku kembali ke surga.

Kakak adik adalah bersaudara, Apalah yang perlu dipertengkarkan

Semuanya tentang kita muncul dari pemikiran kita sendiri. Dengan buah pikiran kita, kita menciptakan dunia kita.

Di dalam perjalanan hidup Keyakinan adalah sumber energi, Kebajikan adalah pelindung, Kebijaksanaan laksana cahaya di siang hari dan Kesadaran yang benar adalah pelindung di malam hari

Aku mendapatkan dari apa yang aku keluarkan, bukan dari apa yang aku simpan.

Semuanya tentang kita muncul dari pemikiran kita sendiri. Dengan buah pikiran kita, kita menciptakan dunia kita.

Alangkah indahnya hidup… jika terbebas dari prasangka & praduga kosong! Putihnya hati yang tdk tercoreng prasangka buruk akan membebaskan hati kita dari kegamangan & keraguan serta lahirnya ketenangan yang tidak tercemari kekhawatiran. Betul tidak? ^_^

Kehidupan terus berubah, tanpa memiliki sikap mental untuk “BELAJAR” dan “MEMPERBAIKI DIRI” secara konsisten serta “BERJUANG PENUH TOTALITAS”, maka kita hanya akan berjalan di tempat dan pasti akan ditelan oleh perubahan zaman

Orang hebat tidak hanya pandai mencari cara untuk mencapai kesuksesan, tapi dia juga tahu kapan kesuksesan itu tidak mungkin dicapai. ^_^

DISIPLIN PRIBADI adalah sebuah kualitas yang didapatkan melalui latihan. Jalan pintas tidak akan menghasilkan apa-apa pada akhirnya. Proses yang menentukan kualitas Anda!

Kalau orang biasa ingin menjadi orang yang berarti maka salah satu cara yang mudah adalah dengan melakukan perbuatan baik yang luar biasa atau melakukan perbuatan yang luar biasa baiknya, disamping melakukan hal-hal rutin dengan tekun dan hati-hati.

Kalau setiap hari hanya memikirkan kesalahan orang lain terus menerus, mana ada waktu untuk diri sendiri melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.

Rabu, 17 Oktober 2012

Jeritan Iblis Saat Sakaratul Maut

Kisah Islamiah hadir kembali dengan kisah Jin, dengan Iblis sebagai pokok pembicaraan. Saat kiamat nanti, semua yang hidup akan mati, tidak terkecuali iblis dan anak keturunannya. Disebutkan bahwa Iblis sangat sengsara pada saat naza' atau proses pencabutan nyawa.

BERIKUT KISAHNYA.
Dalam kitab karya Imam Abdirrahim bin Ahmad Al-Qadhiy diceritakan bahwa saat sangkakala kematian ditiup, maka terkejutlah semua penghuni langit dan bumi. Gunung-gunung berjalan, langit terbalik dan bumi bergoncang, orang yang hamil akan melahirkan bayinya, orang yang menyusui lupa pada anak yang disusuinya, anak-anak jadi ubanan, matahari mengalami gerhanan, manusia lupa diri dan setan pun bingung.

Allah SWT berfirman,
"Sesungguhnya goncangan pada hari kiamat adalah goncangan yang sangat besar (dahsyat)."
(QS. Al-Hajj: 1).

TIUPAN SANGKA KALA.
Dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda,
"Apakah kalian mengetahui tentang hari tersebut?"
Merka menjawab,
"Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu."
Nabi Muhammada SAW bersabda,
"Pada hari itu Allah berfirman kepada Adam a.s,
"Bangunlah dan pilihlah dari anak cucumu yang memilih neraka. 'Berpaa orang dari tiap 1000 orang?'
Allah SWT berfirman,
Dari setiap 1000 orang, ada 999 orang di neraka dan satu orang di surga."

Maka sangatlah berat keadaan kaum pada saat itu, kebanyakan mereka menangis dan bersusah hati.
Lalu Rasulullah SAW,
"Sesungguhnya aku mengharapkan 2/3 diantara kalian adalah ahli surga."
Nabi bersabda lagi,
"Bergembiralah kalian, sesungguhnya kalian adalah bagian dari beberapa umat, seperti rambut pada lambung unta, sesungguhnya kalian adalah satu bagian dari seribu bagian umat."

Mantan Pendeta Mati saat Sujud

Setelah memluk agama Islam, mantan pendeta dan juga raja ini meraih kesempurnaan saat nyawa meninggalkan tubuhnya. Malaikat maut mencabut nyawa raja itu ketika ia tengah sujud dalam Shalat.



Kisahnya.
Kisah pendeta ini diriwayatkan oleh Wahab bin Munabbin.
Dikisahkan, ketika itu ada seorang pendeta Yahudi yang kemudian masuk Islam. Pendeta itu kemudian menjabat sebagai raja yang memiliki pengaruh besar terhadap rakyatnya. Pada suatu hari, raja yang agung tersebut ingin berkuda ke seluruh pelosok kerajaannya.

Ia ingin menunjukkan kehebatan dan keindahannya kepada seluruh rakyatnya. Rupanya saat itu datang iblis yang membisikkan sesuatu ke telinganya.
Iblis itu merayu agar raja bersikap sombong dan memandang rendah orang lain. Kemudian raja itu memerintahkan para pejabat, pengawal dan pembesar kerajaan untuk menyiapkan kuda tunggangan agar masyarakat melihat kekuasaannya.

Dalam sekejap saja, pakaian kebesaran dan kuda terbaik bernama As Sabak telah siap di pintu kerajaan. Kuda As Sabak tersebut terkenal dengan kuda yang kuat dan cepat larinya. Dengan menegakkan dadanya, raja memacu kuda itu di depan pasukan. Dia merasa bangga dan sombong dengan kehebatan dan kekuasaannya.
"Siapa yang dapat menyamai aku di dunia ini?" ujar raja menyombongkan diri kepada rakyatnya dengan suara lantang.

Malaikat Maut Datang.
Raja tak melihat seorang pun yang hebat di hadapannya.
Namun, tiba-tiba saja dihadapannya muncullah seorang laki-laki yang berpakaian compang-camping memberi salam,
"Assalamu'alaikum wahai raja," kata laki-laki itu.

Raja tidak membalas salam itu, bahkan ia tidak menggubris sama sekali kehadiran laki-laki berpakaian lusuh itu.
Karena merasa tidak mendapatkan respon, laki-laki itu kemudian memegang tali kuda sang raja.
"Lepaskan tanganmu dari tali kuda ini. Engkau tidak tahukah tali kuda siapa yang engkau pegang ini?" kata sang raja dengan angkuhnya.
"Aku mempunyai keperluan denganmu," ujar laki-laki itu.



"Baiklah, sabarlah, tunggu aku turun dari kuda dulu," jawab sang raja.
Namun, sebelum raja itu turun, laki-laki itu kembali mencegahnya.
"Keperluanku adalah saat ini juga, bukan saat engkau turun dari kudamu," kata laki-laki misterius itu.
"Baiklah, katakan apa keperluanmu," ucap raja.

Laki-laki misterius itu kemudian membisikkan sesuatu ke telinga sang raja.
"Aku adalah Malaikat Maut. Aku hendak mencabut nyawamu," ucap laki-laki yang ternyata dalah malaikat maut itu.

Diambil Nyawa Saat Sujud.
Begitu mendengar bisikan itu, raja menjadi cemas dan tegang seketika. Ia meminta kepada Malaikat Maut untuk menangguhkan pencabutan nyawanya sampai ia pulang untuk berpamitan dengan istri dan anak-anaknya.
"TIdak, engkau tidak akan melihat mereka lagi untuk selamanya karena jatah umurmu sudah habis sekarang juga," ujar Malaikat Maut lagi.

Raja yang sombong itu kemudian bertobat di tempat, meyesali kesombongan yang telah dia lakukan.
Sungguh sangat beruntung, tobat sang raja ini akhirnya dikabulkan oleh Allah SWT, hingga akhirnya Malaikat Maut bertanya,
"Cara seperti apa yang engkau sukai ketika aku mencabut nyawamu? Aku diperintahkan mencabut nyawamu dengan cara yang engkau pilih dan engkau inginkan," kata Malaikat Maut.

"Izinkanlah aku mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat. Ketika aku sujud, maka cabutlah nyawaku," ujar raja yang baru memeluk agama islam itu.
Maka Malaikat memberikan kesempatan kepada raja untuk berwudhu dan melaksanakan shalat. Ketika tengah sujud, Malaikat Maut mencabut nyawa raja yang juga mantan pendeta yang baru saja masuk islam itu.
Kemudian malaikat Maut membawa ruhnya kepada Rahmat Allah SWT.

Pengubah Basmalah Mati Mengenaskan

Pada suatu mas, ada seorang penguasa dinasti Fathimiyyah bernama Al Hakim Al Fathimy membangun sebuah masjid jami' di kota Kairo. Namun pada masa akhir kekuasaannya, ia berubah menjadi seorang penguasa yang berfikiran menyimpang, sombong dan murtad. Ia congkak hingga mengaku dirinya sebagai tuhan dan menganjurkan rakyatnya untuk menyembahnya. Rupanya raja itu silau dengan kemajuan kerajaan yang dia pimpin.

Rakyat Diancam.
Karena begitu congkaknya, Raja Al Hakim bernai sekali mengubah kalimat Basmalah.
Kalimat Bismillahirrahmanirrahim digantinya dengan Bismilhakim arrahmanirrahim.
Ia pun bahkan mengumpulkan rakyatnmya untuk mengimani hal itu. Astaghfirullah...


"Wahai rakyatku, mulai saat ini siapa saja yang beriman kepadaku, maka akan aku beri hadiah," demikian sambutannya di hadapan rakyat.
"Sebaliknya, siapa saja yang tidak melakukannya, maka hukuman akan menanti kalian," imbuh dari raja congkak itu.
Nauzubillah min zalik.

Semua rakyat tidak bisa berbuat apa-apa. Di antara mereka terpaksa beribadah kepada Allah SWT, Sang Pencipta Alam secara sembunyi-sembunyi karena takut akan ancaman itu. Nmaun, tidak sedikit pula dari rakyat yang ikut mengimani Raja Al Hakim sebagai tuhan.

Hingga tibalah waktunya, dimana musim panas meliputi wilayah kerajaan tersebut. Pada saat itulah, Allah Azza Wa Jalla menunjukkan bahwa Dia-lah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, melalui makhluk ciptaan-Nya yang lemah bernama lalat. Allah SWT menunjukkan bahwa hanya Dia satu-satunya yang berhak diyakini sebagai Tuhan Yang Maha Esa, bukan dirimu wahai Al Hakim.

Tiba-tiba saja begitu banyak lalat yang mengerubuti raja AL Hakim. Seluruh pengawal dan pelayannya berusaha sekuat tenaga dan dengan segala upaya mengusir lalat-lalat itu dari tubuh Al Hakim, namun semua tak berguna.
Al Hakim yang mengaku tuhan itu tak mampu berbuat apa-apa. Kesombongan dan kecongkakannya tak terdengar lagi. Ia lari tunggang langgang untuk menghindari hewan lemah seperti lalat itu.

Mati Mengenaskan.
Pada saat yang mengkhawatirkan itu, ada seorang qari' yang membaca ayat suci Al Qur'an dengan suara yang keras dan indah untuk didengar.
Ayat Al Qur'an yang dibacanya tersebut adalah surat Al Hajj ayat 73.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ

Artinya:
"Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, Maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, Tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan Amat lemah (pulalah) yang disembah."
(QS.Al Hajj: 73).

Qari' itu melanjutkan lagi bacaannya dengan ayat berikutnya,

مَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

Artinya:
mereka tidak Mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha Perkasa.
(QS. Al Hajj: 74).

Ayat-ayat yang dibacakan oleh hamba Allah tersebut kontan saja membuat para pengikut dan rakyat raja Al Hakim tersentak kaget. Keyakinan mereka menjadi goyah. Ayat-ayat itu seolah-olah sengaja diturunkan untuk mendustakan dan membantah pengakuan raja Al Hakim selama ini.

Kerumunan lalat itu telah menyadarkan orang banyak akan kebodohan mereka dengan mengikuti seruan Al Hakim. Lalat-lalat itu benar-benar telah menjadi tentara-tentara Allah SWT. Tidak menyakiti memang, namun serbuan lalat-lalat itu bisa menggoyahkan kekuasaan sang penguasa.
Raja Al Hakim akhirnya jatuh tersungkur dari singgasananya. Raja sombong itu akhirnya lari dan mati mengenaskan dalam pelariannya.

Sumber:
Kitab Tsamarat Al Auraq oleh Ibn Hujjat Al Hamawy.

Senin, 15 Oktober 2012

Waktu yang Tepat

Jaman dahulu kala, ada dua orang pendekar yg sangat ahli bela diri. Yg satu seorang pria dgn kemahiran berpedang yg tiada tandingan. Seorang lagi adalah wanita tercantik dgn ilmu bela diri yg hebat serta memiliki hati yg baik. Keduanya adalah pasangan yg sangat cocok satu sama lain. Hanya ada satu masalah....
Mereka tidak pernah menyatakan perasaan masing-masing. Keduanya saling menghargai, menyukasi serta mencintai satu sama lainnya. Hanya karena keduanya berasal dari perguruan yg saling bermusuhan, serta karena sang pria telah berjanji menganggap sang wanita sebagai adik karena sahabatnya,
yg dahulu hampir menikah dgn sang gadis, sebelum meninggal memintanya menjaga sang gadis. keduanya menjaga & menahan perasaan mereka selama puluhan tahun, sementara mereka bersama membasmi kejahatan, berpetualang ke tempat berbahaya & mengadu nyawa bersama. Keduanya menyimpan perasaan walaupun keduanya tahu perasaan masing-masing. hingga suatu hari, ketika bertarung, sang pria terkena pisau & tak akan tertolong lagi karena lukanya terlalu parah. sang gadis menagis menemuinya, tak mampu berkata apa-apa... sang pria hanya memiliki beberapa waktu lagi didunia. nafasnya hanya tinggal beberapa hembusan saja. Dan disaat sebelum menghembuskan nafasnya yg terakhir, akhirnya sang pria menyatakan cintanya pada sang gadis. 'aku mencintaimu. Hanya kamu, dari dulu." Dan sang gadis hanya mampu meratapi kepergian sang pria yg dicintainya sejak dulu. Terkadang kita memiliki kesempatan untuk menyatakan perasaan pada seseorang yg kita sayangi. Namun karena perasaan takut, malu, takut ditolak, ataupun hal-hal yg bermacam lainnya, kadang kita malah menguburkan perasaan itu. Hati manusia adalah organ tubuh satu satunya yg diberkati tuhan untuk merasakan kapan waktunya kita untuk menyimpan sesuatu... kapan saatnya kita jujur dgn perasaan kita. jangan tunggu waktunya berlalu & kita hanya berteman dgn kenyataan kesempatan berlalu dari depan mata, seperti kedua pasangan pendekar diatas.