Senin, 22 Oktober 2012

Kisah Nyata di Amerika, Bukti Keutamaan Ayat Kursi

Ini kisah nyata dari Amerika (US) sekitar tahun 2006. Pengalaman nyata seorang muslimah asal Asia yang mengenakan jilbab.

Suatu hari wanita ini berjalan pulang dari bekerja dan agak kemalaman . Suasana jalan setapak sepi . Ia melewati jalan pintas.

Di ujung jalan pintas itu, dia melihat ada sosok pria Kaukasian. Ia menyangka pria itu seorang warga Amerika . Tapi perasaan wanita ini agak was-was karena sekilas raut pria itu agak mencurigakan seolah ingin mengganggunya.

Dia berusaha tetap tenang dan membaca kalimah Allah. Kemudian dia lanjutkan dengan terus membaca Ayat Kursi berulang-ulang seraya sungguh-sungguh memohon perlindungan Allah swt. Meski tidak mempercepat langkahnya, ketika ia melintas di depan pria berkulit putih itu, ia tetap berdoa. Sekilas ia melirik ke arah pria itu. Orang itu asik dengan rokoknya, dan seolah tidak mempedulikannya.

Keesokan harinya , wanita itu melihat berita kriminal, seorang wanita melintas di jalan yang sama dengan jalan yang ia lintasi semalam. Dan wanita itu melaporkan pelecehan seksual yang dialaminya di lorong gelap itu. Karena begitu ketakutan, ia tidak melihat jelas pelaku yang katanya sudah berada di lorong itu ketika perempuan korban ini melintas jalan pintas tersebut.

Hati muslimah ini pun tergerak karena wanita tadi melintas jalan pintas itu hanya beberapa menit setelah ia melintas di sana. Dalam berita itu dikabarkan wanita itu tidak bisa mengidentifikasi pelaku dari kotak kaca, dari beberapa orang yang dicurigai polisi.

Muslimah ini pun memberanikan diri datang ke kantor polisi, dan memberitahukan bahwa rasanya ia bisa mengenali sosok pelaku pelecehan kepada wanita tersebut, karena ia menggunakan jalan yang sama sesaat sebelum wanita tadi melintas.

Melalui kamera rahasia, akhirnya muslimah ini pun bisa menunjuk salah seorang yang diduga sebagai pelaku. Iia yakin bahwa pelakunya adalah pria yang ada di lorong itu dan mengacuhkannya sambil terus merokok .

Melalui interogasi polisi akhirnya orang yang diyakini oleh muslimah tadi mengakui perbuatannyaa. Tergerak oleh rasa ingin tahu, muslimah ini menemui pelaku tadi dan didampingi oleh polisi.

Muslimah : “Apa Anda melihat saya? Saya juga melewati jalan itu beberapa menit sebelum wanita yang kauperkosa itu? Mengapa Anda hanya menggangunya tapi tidak mengganggu saya? Mengapa Anda tidak berbuat apa-apa padahal waktu itu saya sendirian?”

Penjahat : “Tentu saja saya melihatmu malam tadi. Anda berada di sana malam tadi beberapa menit sebelum wanita itu. Saya tidak berani mengganggu Anda. Aku melihat ada dua orang besar di belakang Anda pada waktu itu. Satu di sisi kiri dan satu di sisi kanan Anda.”

Muslimah itu tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Hatinya penuh syukur dan terus mengucap syukur. Dengkulnya bergetar mendengar penjelasan pelaku kejahatan itu, ia langsung menyudahi interview itu dan minta diantar keluar dari ruang itu oleh polisi.

***

Semua surat dalam al-Qur’an adalah surat yang agung dan mulia. Demikian juga seluruh ayat yang dikandungnya. Namun, Allah Subhanahu wa ta’ala dengan kehendak dan kebijaksanaanNya menjadikan sebagian surat dan ayat lebih agung dari sebagian yang lain.

Syaikh Umar Sulaiman Al Asyqar berkata, ”Yang paling baik digunakan untuk melawan jin yang masuk ke dalam tubuh manusia adalah dzikrullah (dzikir kepada Allah) dan bacaan Al Qur`an. Dan yang paling besar dari itu ialah bacaan ayat kursi, karena sesungguhnya orang yang membacanya akan selalu dijaga oleh penjaga dari Allah, dan ia tidak akan didekati oleh setan sampai Subuh, sebagaimana telah shahih hadits tentang itu”.

Sabtu, 20 Oktober 2012

Menyikapi kehilangan

Bila Anda siap MENDAPATKAN, sudahkan Anda juga siap KEHILANGAN?
Memang, ada beragam cara menyikapi kehilangan. Dari mulai marah-marah, menangis, protes pada takdir, hingga bunuh diri. Masih ingatkah Anda pada tokoh-tokoh ternama, yang tega membunuh diri sendiri hanya karena sukses mereka terancam pudar?
Barangkali kisah yang saya adaptasi dari The Healing Stories karya GW Burns berikut ini, dapat memberikan inspirasi.
Dikisahkan, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan.

Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali ini pun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan. Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu.
Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya.
“Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok, ” gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank. “Sebaiknya koin ini Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran. Lelaki itu pun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar.
Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang
diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan toples. Setelah ia membeli lembaran kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang. Di
tengah perjalanan
dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal.
Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu. Terlihat
ragu-ragu di mata
laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia
menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang. Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar.
Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itu pun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.
Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja khan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?”
Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.
***
Memang, ada beragam cara menyikapi kehilangan. Semoga kita termasuk orang yang bijak menghadapi kehilangan dan sadar bahwa sukses hanyalah TITIPAN Allah. Benar kata orang
bijak, manusia tak memiliki apa-apa kecuali pengalaman hidup. Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?
Ada kalimat yang saya suka sekali dalam menempatkan diri dalam kehidupan: “Kemenangan hidup bukan berhasil mendapat banyak, tetapi ada pada kemampuan menikmati apa yang didapat tanpa menguasai.
“Hiduplah seperti anak-anak yang dapat menikmati tanpa harus menguasai”

Cukup itu berapa?

Dikisahkan seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib. Mata air itu bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya. Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya seberapapun yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti bila si petani mengucapkan kata “cukup”. Seketika si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan hidungnya.
Diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu. Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubug mungilnya untuk disimpan disana. Kucuran uang terus mengalir sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya.
Masih kurang!
Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya. Belum cukup, dia membiarkan mata air itu terus mengalir hingga akhirnya petani itu mati tertimbun bersama ketamakannya karena dia tak pernah bisa berkata cukup.
Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia barangkali adalah kata”cukup”.
Kapankah kita bisa berkata cukup? Hampir semua pegawai merasa gajinya belum bisa dikatakan sepadan dengan kerja kerasnya.
Pengusaha hampir selalu merasa pendapatan perusahaannya masih dibawah target. Istri mengeluh suaminya kurang perhatian. Suami berpendapat istrinya kurang pengertian.
Anak-anak menganggap orang tuanya kurang murah hati. Semua merasa kurang dan kurang. Kapankah kita bisa berkata cukup?
Cukup bukanlah soal berapa jumlahnya. Cukup adalah persoalan kepuasan hati. Cukup hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa mensyukuri. Tak perlu takut berkata cukup.
Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya. “Cukup” jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandeg dan berpuas diri. Mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan. Jangan biarkan kerakusan manusia membuat kita sulit berkata cukup. Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia.
Belajarlah untuk berkata “Cukup”

Pengemis Buta dan Rasulullah SAW

Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.
Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan isteri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu, Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?
Aisyah RA menjawab,Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja.
Apakah Itu?, tanya Abubakar RA. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana, kata Aisyah RA.
Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, sipengemis marah sambil menghardik, Siapakah kamu? Abubakar RA menjawab,Aku orang yang biasa (mendatangi engkau). Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku, bantah si pengemis buta itu.
Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku, pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.
Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata, Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia….
Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim. Nah, wahai saudaraku, bisakah kita meneladani kemuliaan akhlaq Rasulullah SAW? Atau adakah setidaknya niatan untuk meneladani beliau?
Beliau adalah ahsanul akhlaq, semulia-mulia akhlaq.
Kalaupun tidak bisa kita meneladani beliau seratus persen, alangkah baiknya kita berusaha meneladani sedikit demi sedikit, kita mulai dari apa yang kita sanggup melakukannya. Sadaqah Jariah salah satu dari nya mudah dilakukan, pahalanya? MasyaAllah.. ..macam meter taxi…jalan terus.
Sadaqah Jariah - Kebajikan yang tak berakhir.
1. Berikan al-Quran pada seseorang, dan setiap dibaca, Anda mendapatkan hasanah.
2. Sumbangkan kursi roda ke RS dan setiap orang sakit menggunakannya, Anda dapat hasanah.
4. Bantu pendidikan seorang anak.
5. Ajarkan seseorang sebuah do’a. Pada setiap bacaan do’a itu, Anda dapat hasanah.
6. Bagi CD Quran atau Do’a.
7. Terlibat dalam pembangunan sebuah mesjid.
8. Tempatkan pendingin air di tempat umum.
9. Tanam sebuah pohon. Setiap seseorang atau binatang berlindung dibawahnya, Anda dapat hasanah.

Kamis, 18 Oktober 2012

Kebaikan yang Sia-sia


قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا. الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا. أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا
“Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan
mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka terhapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari Kiamat.” (Al-Kahfi [18]: 103-105)
Mukaddimah
Suatu ketika Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhu pernah ditanya oleh Mush’ab, anaknya tentang ayat ini. Siapakah yang dimaksud dengan orang-orang yang paling merugi amalannya? Apakah mereka itu kaum Haruriy (orang-orang fasiq)? Sa’ad menjawab, “Tidak, mereka tak lain adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani. (Riwayat Bukhari).
Imam Ibnu Katsir menambahkan, meski ayat ini turun kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, tapi ia mencakup siapa saja yang beribadah kepada Allah namun tidak sesuai dengan tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ayat ini sendiri tergolong Makkiyah sehingga secara akar sejarah kaum Muslimin ketika itu belum berinteraksi secara langsung dengan kaum Yahudi dan Nasrani ataupun Khawarij. Olehnya, pengkhususan suatu kaum bukanlah penghalang bagi kaum yang lain untuk termasuk di dalamnya. Al-Ibrah bi umum al-lafdz la bi khusus as-sabab (pelajaran itu diambil dari keumuman lafadz, bukan dari kekhususan suatu sebab).
Makna Ayat
Setiap manusia tentu berharap hasil dari apa yang ia usahakan. Sekecil apapun pekerjaan itu. Bahkan meski orang itu melabeli perbuatannya dengan “iseng” tapi sejujurnya tetap saja ia menyelipkan harapan di sana. Minimal ia merasa senang dan terhibur olehnya.
Inilah petaka besar yang kembali menimpa orang-orang di luar Islam. Mereka adalah korban tipuan diri mereka sendiri. Menganggap menunaikan pekerjaan dengan sebaik-baiknya, namun rupanya hal itu sama sekali tak bernilai di sisi Allah. Layaknya pekerjaan yang dikelola secara profesional, ia telah mengerahkan sekian banyak tenaga, pikiran, serta mengorbankan waktu dan dana yang tak sedikit. Ia berharap apa yang ia lakukan itu dapat memberikan manfaat. Namun bagi Allah dengan segala sifat adil-Nya, hal itu tetap saja menjadi hampa karena tidak didasari terhadap keyakinan kepada Allah Ta’ala.
Imam al-Qurthubi berkata: Meski ayat ini memakai kalimat tanya, namun sejatinya Allah tak membutuhkan jawaban dari pertanyaan itu sebab uslub tersebut berfungsi untuk “mengejek” orang-orang kafir. Selain sengaja menghinakan kaum kafir, Allah juga hendak menarik perhatian kaum Muslim -dengan gaya bertanya ini- agar benar-benar memperhatikan permasalahan ini.
Kebaikan Itu Ada Syaratnya
“I’rif al-haqqa, ta’rifu ahlahu” (kenalilah kebenaran, niscaya kalian mengetahui pelakunya). Demikian sebuah pepatah bijak mengajarkan. Dalam ungkapan yang lain disebutkan, “al-haqqu la yu’rafu bi ar-rijal,” kebenaran itu tak ditentukan oleh seseorang yang melakukan perbuatan tersebut.
Jadi, hendaknya seorang Muslim mengilmui kebaikan itu terlebih dahulu. Sebab, amal saleh itu tak cukup dengan niatan yang baik semata. Ia tak bisa hanya didasarkan pada perasaan atau naluri saja. Sebaliknya, amal saleh memiliki syarat yang wajib dipenuhi untuk membuahkan pahala yang dijanjikan. Jangan sampai ia hanya terjebak dalam prasangka semata. Merasa berbuat baik tapi rupanya ia keliru dalam bertindak.
Ketika kebenaran sudah diilmui dengan baik, seorang Muslim jadi mudah mengenal para pelaku kebaikan itu. Sebaliknya, status sosial atau jabatan seseorang sama sekali bukan garansi jika apa yang ia lakoni menjadi perilaku yang harus dicontoh oleh orang lain. Yang terjadi dalam masyarakat, mereka mengamini suatu perbuatan semata karena yang mengerjakannya adalah orang yang punya jabatan atau terpandang. Di sisi lain karena banyak yang meniru, jadilah orang itu merasa jika perbuatannya tadi adalah benar, bahkan mengandung kebaikan hingga ditiru oleh orang lain.
Secara terang Allah juga membantah orang-orang yang selama ini menuhankan logika dan nalar mereka. Sebab ketaatan dan amal saleh itu bersumber dari keimanan, bukan semata karena merasa cocok dengan logika fikiran manusia. Jika seseorang hanya berbuat baik berdasar nalar dan nafsu mereka, maka yang terjadi semua orang lalu merasa benar dengan apa yang mereka lakukan. Mereka bertindak sesuai keinginan nafsu mereka tanpa mau mengindahkan lagi tuntunan syariat yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Kisah Tragis di Hari Kiamat
Bagi seorang Muslim, cukuplah ia merinding dengan apa yang dikisahkan oleh Abu Hurairah. Sahabat mulia ini menuturkan sebuah Hadits dari Nabi SAW bahwa akan datang pada Hari Perhitungan nanti seorang laki-laki yang bertubuh gemuk. Namun celaka, ketika amalannya ditimbang hal itu tak bernilai apa-apa bagi Allah. Bahkan tubuhnya yang gemuk dan besar itu tak mampu melebihi berat sayap seekor nyamuk sekalipun. Allah lalu berfirman, “…dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari Kiamat.” (Riwayat Bukhari)
Dalam ayat yang lain, Allah mencela orang kafir gara-gara pola makannya yang sembrono. Firman Allah, “…Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (Muhammad [47]: 12).
Jenis-jenis Kesesatan
Menurut Syaikh Muhammad al-Amin as-Syinqithi, dalam banyak ayat Allah seringkali menuangkan kata “dhalla atau dhalal” yang berbeda makna satu sama lain. Sebab, setidaknya kata tersebut mengandung tiga jenis pengertian yang berbeda dalam terminologi al-Qur`an. Pertama, ia dimaknai menyimpang dari jalan kebenaran dan condong kepada kebathilan. Firman Allah, “(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Al-Fatihah [1]: 7).
Kedua, kata “dhalal” berarti batal atau sia-sia. Pengertian seperti ini salah satunya terdapat pada pembahasan ayat di atas. “Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini.” (Al-Kahfi [18]: 104).
Ketiga, adalah bingung atau belum memahami hakikat makna yang benar. Sebagaimana firman Allah yang menceritakan kondisi Nabi Muhammad SAW sebelum ia mendapatkan wahyu dari Allah, “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung lalu Dia memberikan petunjuk.” (Adh-Dhuha [93]: 7), (Kitab Adhwa al-Bayan fi Idhah al-Qur’an bi al-Qur’an).


Kata-kata Bijak

“Kehilangan terbesar dalam cinta, bukanlah ketika orang yg paling kau cintai pergi meninggalkanmu untuk selamanya. Melainkan kau telah kehilangan waktu untuk mengatakan betapa kau mencintainya…” Happy morning my friends!!

Di dunia ini org pintar ada banyak, bahkan jumlahnya semakin bertambah. Setiap tahun berbagai universitas mengeluarkan banyak sarjana pintar. Tapi sayang, org berakhlak tdk begitu banyak. Jumlahnya sedikit, bahkan semakin berkurang…


BERPIKIR KREATIF: Seandainya apa yg kita lakukan tdk berhasil & lalu membesar-besarkannya seolah itu spt akhir dunia, maka kita enggan melakukan apapun. Tapi sebaliknya, jika kita berpikir sederhana “Saya tdk berhasil berarti ya tdk berhasil” — itu saja! Sikap ini akan membuat segalanya lebih mudah. ^_^

Tuhanku, dosa yg aku kerjakan amat kecil jika dibandingkan dgn besarnya ampunan-Mu. Jika Engkau hendak mencelakakanku, gelaplah segala jalan yg kutempuh. Tak seorang pun kuat kuasa mempertahankanku. Karena itu Ya Allah, sempurnakanlah awal hikmah-Mu sampai ke ujungnya & jgn Engkau cabut apa yg telah Engkau karuniakan!

Tidak melakukan segala bentuk kejahatan, Senantiasa mengembangkan kebajikan dan membersihkan batin inilah ajaran para buddha.

Kasihanilah orang yang tidak mau meluruskan pandangannya yang keliru, karena pikirannya, ucapannya dan perbuatannya akan terus keliru, sehingga akan terus menerus melakukan pelanggaran sila, semoga ia tahan menderita kalau terlahir di alam Apaya.

Setiap hari selalu ada hal-hal yang tidak menyenangkan yang datang ke panca-indra kita, kalau diperdulikan pasti menjengkelkan dan melelahkan, kalau diabaikan mungkin juga keliru. Paling enak dibiarkan saja berlalu, seperti melihat barang-barang yang hanyut di sungai menuju ke luatan luas. Que sera-sera

Orang bejad dan jahat sekalipun tak akan pernah mau disebut dirinya bejad dan jahat. Tapi kenapa sungguh…… susah untuk di ajak bertobat?

Hidup ini bagaikan cuaca, kadang terang benderang dan panas terik, tapi tiba-tiba mendung hujan deras geludug dan petir. semua ada masanya, semua ada karena tiada.

Yesus adalah salah satu nabi yang mengajarkan artinya cinta kasih, pengobanan dirinya sungguh luar biasa, tiada kasih sebesar kasihnya yang sekarang hanya bisa kita dapatkan hanya dari ibu kita, ibu yang mengorbankan jiwa dan raga karena cintanya………………………… I LOVE YOU MOM

Main api hangus, main air basah. Janganlah bergaul dekat dengan orang “dungu”, agar tidak ketularan menjadi “dungu”.

Siapa saja, sudah pasti akan menjadi tua (kalau tidak mati muda), sakit dan meninggal dunia. Karena itu belajarlah untuk tidak melekat (lengket) kepada apapun. Tumpuklah jasa kebajikan sebanyak-banyaknya sebagai bekal untuk kelahiran mendatang.

Ada karma yang mengantarkan kita ke alam neraka, ada karma yang mengantarkan kita ke alam binatang, ada karma yang mengantarkan kita ke alam setan, ada karma yang mengantarkan kita ke alam asura, ada karma yang mengantarkan kita kembali ke alam manusia dan ada karma yang mengantarkan kita ke alam surga.

Ku tak membawa, apapun juga saat ku datang ke dunia, Kutinggal semua pada akhirnya saat ku kembali ke surga.

Kakak adik adalah bersaudara, Apalah yang perlu dipertengkarkan

Semuanya tentang kita muncul dari pemikiran kita sendiri. Dengan buah pikiran kita, kita menciptakan dunia kita.

Di dalam perjalanan hidup Keyakinan adalah sumber energi, Kebajikan adalah pelindung, Kebijaksanaan laksana cahaya di siang hari dan Kesadaran yang benar adalah pelindung di malam hari

Aku mendapatkan dari apa yang aku keluarkan, bukan dari apa yang aku simpan.

Semuanya tentang kita muncul dari pemikiran kita sendiri. Dengan buah pikiran kita, kita menciptakan dunia kita.

Alangkah indahnya hidup… jika terbebas dari prasangka & praduga kosong! Putihnya hati yang tdk tercoreng prasangka buruk akan membebaskan hati kita dari kegamangan & keraguan serta lahirnya ketenangan yang tidak tercemari kekhawatiran. Betul tidak? ^_^

Kehidupan terus berubah, tanpa memiliki sikap mental untuk “BELAJAR” dan “MEMPERBAIKI DIRI” secara konsisten serta “BERJUANG PENUH TOTALITAS”, maka kita hanya akan berjalan di tempat dan pasti akan ditelan oleh perubahan zaman

Orang hebat tidak hanya pandai mencari cara untuk mencapai kesuksesan, tapi dia juga tahu kapan kesuksesan itu tidak mungkin dicapai. ^_^

DISIPLIN PRIBADI adalah sebuah kualitas yang didapatkan melalui latihan. Jalan pintas tidak akan menghasilkan apa-apa pada akhirnya. Proses yang menentukan kualitas Anda!

Kalau orang biasa ingin menjadi orang yang berarti maka salah satu cara yang mudah adalah dengan melakukan perbuatan baik yang luar biasa atau melakukan perbuatan yang luar biasa baiknya, disamping melakukan hal-hal rutin dengan tekun dan hati-hati.

Kalau setiap hari hanya memikirkan kesalahan orang lain terus menerus, mana ada waktu untuk diri sendiri melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.

Rabu, 17 Oktober 2012

Jeritan Iblis Saat Sakaratul Maut

Kisah Islamiah hadir kembali dengan kisah Jin, dengan Iblis sebagai pokok pembicaraan. Saat kiamat nanti, semua yang hidup akan mati, tidak terkecuali iblis dan anak keturunannya. Disebutkan bahwa Iblis sangat sengsara pada saat naza' atau proses pencabutan nyawa.

BERIKUT KISAHNYA.
Dalam kitab karya Imam Abdirrahim bin Ahmad Al-Qadhiy diceritakan bahwa saat sangkakala kematian ditiup, maka terkejutlah semua penghuni langit dan bumi. Gunung-gunung berjalan, langit terbalik dan bumi bergoncang, orang yang hamil akan melahirkan bayinya, orang yang menyusui lupa pada anak yang disusuinya, anak-anak jadi ubanan, matahari mengalami gerhanan, manusia lupa diri dan setan pun bingung.

Allah SWT berfirman,
"Sesungguhnya goncangan pada hari kiamat adalah goncangan yang sangat besar (dahsyat)."
(QS. Al-Hajj: 1).

TIUPAN SANGKA KALA.
Dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda,
"Apakah kalian mengetahui tentang hari tersebut?"
Merka menjawab,
"Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu."
Nabi Muhammada SAW bersabda,
"Pada hari itu Allah berfirman kepada Adam a.s,
"Bangunlah dan pilihlah dari anak cucumu yang memilih neraka. 'Berpaa orang dari tiap 1000 orang?'
Allah SWT berfirman,
Dari setiap 1000 orang, ada 999 orang di neraka dan satu orang di surga."

Maka sangatlah berat keadaan kaum pada saat itu, kebanyakan mereka menangis dan bersusah hati.
Lalu Rasulullah SAW,
"Sesungguhnya aku mengharapkan 2/3 diantara kalian adalah ahli surga."
Nabi bersabda lagi,
"Bergembiralah kalian, sesungguhnya kalian adalah bagian dari beberapa umat, seperti rambut pada lambung unta, sesungguhnya kalian adalah satu bagian dari seribu bagian umat."