Rabu, 31 Juli 2013

Tuhan tak Main Facebook

Di Facebook saya mencari Tuhan. Setelah memasukkan kata “Tuhan” di kolom pencarian, muncul sebuah akun. Tapi itu bukan milik-Nya (dengan N kapital), melainkan kepunyaan sebuah band dari Turki. Entah apa arti tuhan dalam bahasa Turki, karena di kamus online saya tak menemukannya.
Kalau pun ada Tuhan di Facebook, itu adalah akun dan  fanpage yang dibuat oleh para penggemar Tuhan. Hal yang sama terjadi di Twitter.

Saya gagal mencari Tuhan di dunia maya.
Mungkin Anda bertanya, kenapa saya iseng mencari Tuhan di jejaring sosial, meski semua orang waras tahu, pencarian itu akan gagal. Keisengan itu muncul karena saya tergelitik sejumlah status (FB, Yahoo! Messenger, BlackBerry Messenger,  dan tweet) dalam bentuk doa.
Kenapa orang berdoa di Facebook dan Twitter, jika Tuhan tak ada di media sosial?
Tergelitik, karena menurut guru agama saya dulu, permohonan kepada Tuhan harus disampaikan dalam hening. Doa adalah dialog pribadi antara kita dan Dia. Tapi, kini, kita melihat begitu banyak doa berseliweran di dunia maya dan bisa dibaca oleh jutaan orang. Mereka mungkin berharap, Tuhan akan membaca status atau tweet itu dan mengabulkannya.
Kenapa tidak?” kata seorang teman yang kerap berdoa di Facebook. “Tuhan Maha Mendengar, Dia pasti juga tahu apa yang kita sampaikan lewat media online.” Benar, tapi apa perlunya? Kenapa tidak disampaikan dengan khidmat dan khusuk? “Soal kekhusukan, itu tergantung niat,” kata teman lainnya. “Kalau kita menulis status atau tweet itu dengan khusuk, apa salahnya?”
Tentu tak salah, tapi jawaban itu tidak memuaskan. Hanya berkelit dan terkesan defensif. Tak puas dengan jawaban-jawaban (yang sepertinya kurang jujur itu), saya memutuskan untuk menganalisis doa-doa tersebut. Dan hasilnya, tidak terlalu mengejutkan.
Sebagian besar doa itu berisi pengumuman. Misalnya, “Terima kasih Tuhan, Kau telah melancarkan urusanku ini.” Meski berbentuk doa, sebenarnya mereka hanya ingin mengatakan kepada dunia bahwa dia telah berhasil melakukan suatu pekerjaan. Dengan membuat status berbentuk doa, mereka mungkin berharap pengumuan itu tidak terdengar pamer keberhasilan.
Model itu sama dengan model keluh kesah, seperti “Ya Allah, hari ini terasa berat, ringankanlah bebanku.” Dengan doa seperti ini mereka sebenarnya ingin berbagi dengan orang lain. Yang mereka harapkan adalah komentar dari teman-teman: “Sabar ya bu/pak…”
Yang agak aneh sebenarnya adalah menjadikan Tuhan sebagai “sasaran antara” untuk menyentil orang lain. Misalnya, “Tuhan, sadarkanlah dirinya.” Penulis status ini jelas ingin agar orang yang dituju membaca doa itu dan terusik. Biasanya, komentar dari teman-teman mereka akan berbunyi: “Siapa sih dia?” Dan penulis status akan menjawab: “Ada deh…”
Tentu saja, pemilik akun itu sah-sah saja menulis status apa pun. Akun-akun dia, apa hak kita melarangnya? Tapi, saya kok masih percaya, Tuhan lebih mendengar doa yang disampaikan secara lirih dan dalam kesepian. Bukan di media sosial yang berisik.

Dongeng Motivasi: Melihat Yang Tidak Ada

Dongeng motivasi ini menceritakan seorang anak yang kehilangan uang sebesar Rp 10.000. Dia begitu sedihnya dan menangis sejadi-jadinya.
Paman anak tersebut merasa kasihan, kemudian dia menghampiri anak itu.
“Kenapa kamu menangis?” tanya pamannya dengan penuh kasih sayang.

“Uang saya hilang. Rp 10.000.” katanya sambil terisak-isak.
“Tenang saja, nich paman ganti yah… paman kasih Rp 10.000 buat kamu. Jangan menangis yah!” kata pamannya sambil menyerahkan selembar uang Rp 10.000. Namun, sia anak tetap saja menangis. Kenapa?
“Kenapa kamu masih menangis saja? Kan sudah diganti?” tanya pamannya.
“Kalau tidak hilang… uang saya sekarang Rp 20.000.” kata anak itu dan terus menangis.
Pamannya bingung…
“Terserah kamu saja dech….”, katanya sambil pergi.
Ayahnya yang baru pulang kantor mendapati anaknya masih menangis.
“Kenapa sayang? Koq menangis sich. Lihat mata kamu, sudah bengkak begitu. Nangis dari tadi yah?” tanyanya sambi menyeka air mata anaknya.
“Uang saya hilang Rp 10.000.” kata anaknya mengadu.
“Ooohhh. Lho itu punya uang Rp 10.000? Katanya hilang?” tanya ayahnya yang heran karena dia melihat anaknya memegang uang Rp 10.000
“Ini dari paman…. uang saya hilang. Kalau tidak hilang saya punya Rp 20.000.” jawabnya sambil terus menangis.
“Sudahlah…. nih ayah ganti. Ayah ganti dengan uang yang lebih besar. Ayah kasih kamu Rp 20.000. Jangan menangis lagi yah!” kata ayahnya sambil menyerahkan selembar uang Rp 20.000.
Si anak menerima uang itu. Tetapi masih tetap saja menangis. Ayahnya heran, kemudian bertanya lagi.
“Kenapa masih menangis saja? Kan sudah diganti?”
“Kalau tidak hilang, uang saya Rp 50.000.”
Ayahnya hanya geleng-geleng kepala.
“Kalau gitu dikasih berapa pun, kamu akan nangis terus.” sambil mengendong anaknya.
***
Dongeng motivasi ini nyata? Tidak juga, ini hanya rekayasa. Dalam kenyataannya banyak orang yang memiliki sikap seperti anak tadi. Dia hanya melihat apa yang tidak ada, dia hanya melihat apa yang kurang, tanpa melihat sebenarnya dia sudah memiliki banyak hal. Sifat manusia yang selalu merasa kurang padahal nikmat Allah begitu banyaknya sudah dia terima.
Banyak orang mengeluh tidak bisa bisnis, sebab dia tidak punya uang untuk modal. Padahal modal hanyalah salah satu yang diperlukan dalam bisnis. Bisa jadi dia sudah punya waktu, punya tenaga, dan punya ilmu untuk bisnis. Namun dia tidak juga bertindak sebab dia hanya fokus melihat kekurangan, bukannya bertindak dengan memanfaatkan apa yang ada. Mulailah Bertindak Dari Yang Sudah Ada.
Bersyukurlah jika Anda merasa tersindir dengan dongeng motivasi diatas, artinya Anda perlu berubah sekarang.

Hidayah Allah Itu Datang Dari Seorang Anak Yang Bisu


Aku adalah seorang pemuda berusia 37 tahun, menikah dan memiliki beberapa anak. Aku mengerjakan segala hal yang Allah haramkan, adapun shalat aku tidak pernah menunaikannya, kecuali dalam beberapa kesempatan saja sebagai basa-basi dan toleransi untuk orang lain, penyebabnya adalah karena aku bersahabat dengan orang-orang jahat dan penipu, jadi setan selalu menemaniku di banyak waktu.

Aku mempunyai seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun bernama Marwan, dia tuli dan bisu. Namun dia meminum air susu keimanan dari panyudara sang ibu yang beriman. Suatu malam aku dan anakku Marwan berada di rumah...

Aku sedang merancang acara yang akan aku lakukan bersama teman-teman. Saat itu, waktu sudah memasuki magrib, tiba-tiba Marwan berkata kepadaku dengan bahasa isyarat yang kami pahami, "Ayah, kenapa kamu tidak shalat ..?" kemudian dia mengangkat tangannya menunjuk ke langit dan mengancamku, "Allah melihatmu, Ayah ..!".

Anakku ini beberapa kali melihat aku berbuat kemungkaran. Aku heran dengan ucapannya barusan. Anakku mulai menangis di hadapanku. Aku menariknya ke sisiku, namun dia lari. Beberapa saat kemudian, dia pergi ke keran air dan berwudhu.

Kemudian anakku yang bisu ini masuk dan memberi isyarat kepadaku, "Tunggu sebentar ..!" rupanya dia shalat di depanku, kemudian setelah itu dia berdiri dan mengambil mushaf dan menaruhnya di hadapannya, lalu membukanya tanpa membolak-balik halaman dan menaruh jarinya pada firman Allah di surah Maryam,

"Wahai Bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi setan". (Maryam [19] : 45)

Kemudian dia menangis dan akupun menangis bersamanya dalam waktu yang lama. Lalu Marwan berdiri dan menghapus air mata dari kelopak mataku, kemudian mencium kepala dan tanganku, lalu dia berkata kepadaku dengan bahasa isyarat, "Shalatlah, Ayah, sebelum kamu dikubur di dalam tanah."

Saat itu aku terkejut dan takut sekali. Lalu aku segera menyalakan semua lampu rumah dan Marwan mengikuti dari satu kamar ke kamar yang lain. "Biarkan lampu-lampu itu, mari kita ke masjid besar", yang dia maksud adalah Masjid Nabawi.

"Kita ke masjid sebelah saja", usulku. Dia tidak mau kecuali ke Masjid suci Nabawi. Lalu aku membawanya ke sana dalam keadaan sangat takut sekali dan pandangannya tidak pernah lepas dariku sedetik pun.

Kami masuk ke Raudhah asy-Syarifah yang penuh dengan manusia. Iqamah shalat Isya dikumandangkan dan saat itu sang imam membaca firman Allah,

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa mengikuti langkah-langkah setan maka sesungguhnya dia (setan) menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan mungkar.

Kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun di antara kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui". (an-Nur [24] : 21)

Aku tidak mampu menguasai diriku dari tangis, dan Marwan yang ada disampingku juga menangis mendengar tangisku. Di tengah shalat, Marwan mengeluarkan tisu dari sakuku dan mengusap air mataku. Setelah selesai shalat, aku masih tetap menangis dan dia terus mengusap air mataku, aku duduk di masjid selama satu jam.

Kemudian kami kembali ke rumah. Malam itu adalah malam teragung bagiku, karena aku merasa terlahirkan kembali. Istri dan anak-anakku datang, mereka semua menangis, padahal mereka tidak tahu apa yang terjadi. "Ayah shalat di Masjid suci Nabi", Marwan menerangkan kepada mereka.

Istriku senang mendengar berita ini karena Marwan adalah hasil dari didikannya yang baik. Lalu aku bercerita kepadanya tentang kejadian yang terjadi antara aku dan Marwan.

"Demi Allah, aku hendak bertanya kepadamu, apakah kamu yang menyuruh dia membuka mushaf pada ayat itu. .?" tanyaku kepada istri. Lalu istriku bersumpah tiga kali bahwa dia tidak melakukan itu. Kemudian istriku berkata "Bersyukurlah kepada Allah atas hidayah ini".

Malam itu dalah malam yang paling indah. Sekarang Alhamdulillah aku tidak pernah ketinggalan shalat berjamaah di masjid. Aku meninggalkan semua kawanku yang jahat dan aku merasakan manisnya iman.

Sekarang aku hidup dalam kebahagiaan, cinta dan saling memahami bersama istri dan anak-anakku, khususnya Marwan yang tuli dan bisu. Aku sangat menyayanginya. Bagaimana tidak, ditangannya aku mendapat hidayah.

Wallahu’alam bishshawab,

Minggu, 28 Juli 2013

Kisah Bunga Mawar dan Pohon Bambu

Di sebuah taman, terdapat taman bunga mawar yang sedang berbunga. Mawar-mawar itu mengeluarkan aroma yang sangat harum. Dengan warna-warni yang cantik, banyak orang yang berhenti untuk memuji sang mawar.
Tidak sedikit pengunjung taman meluangkan waktu untuk berfoto di depan atau di samping taman mawar. Bunga mawar memang memiliki daya tarik yang menawan, semua orang suka mawar, itulah salah satu lambang cinta.
Sementara itu, di sisi lain taman, ada sekelompok pohon bambu yang tampak membosankan. Dari hari ke hari, bentuk pohon bambu yang begitu saja, tidak ada bunga yang mekar atau aroma wangi yang disukai banyak orang. Tidak ada orang yang memuji pohon bambu. Tidak ada orang yang mau berfoto di samping pohon bambu. Maka tak heran jika pohon bambu selalu cemburu saat melihat taman mawar dikerumuni banyak orang.
“Hai bunga mawar,” ujar sang bambu pada suatu hari. “Tahukah kau, aku selalu ingin sepertimu. Berbunga dengan indah, memiliki aroma yang harum, selalu dipuji cantik dan menjadi saksi cinta manusia yang indah,” lanjut sang bambu dengan nada sedih.
Mawar yang mendengar hal itu tersenyum, “Terima kasih atas pujian dan kejujuranmu, bambu,” ujarnya. “Tapi tahukah kau, aku sebenarnya iri denganmu,”
Sang bambu keheranan, dia tidak tahu apa yang membuat mawar iri dengannya. Tidak ada satupun bagian dari bambu yang lebih indah dari mawar. “Aneh sekali, mengapa kau iri denganku?”
“Tentu saja aku iri denganmu. Coba lihat, kau punya batang yang sangat kuat, saat badai datang, kau tetap bertahan, tidak goyah sedikitpun,” ujar sang mawar. “Sedangkan aku dan teman-temanku, kami sangat rapuh, kena angin sedikit saja, kelopak kami akan lepas, hidup kami sangat singkat,” tambah sang mawar dengan nada sedih.
Bambu baru sadar bahwa dia punya kekuatan. Kekuatan yang dia anggap biasa saja ternyata bisa mengagumkan di mata sang mawar. “Tapi mawar, kamu selalu dicari orang. Kamu selalu menjadi hiasan rumah yang cantik, atau menjadi hiasan rambut para gadis,”
Sang mawar kembali tersenyum, “Kamu benar bambu, aku sering dipakai sebagai hiasan dan dicari orang, tapi tahukah kamu, aku akan layu beberapa hari kemudian, tidak seperti kamu,”
Bambu kembali bingung, “Aku tidak mengerti,”
“Ah bambu..” ujar mawar sambil menggeleng, “Kamu tahu, manusia sering menggunakan dirimu sebagai alat untuk mengalirkan air. Kamu sangat berguna bagi tumbuhan yang lain. Dengan air yang mengalir pada tubuhmu, kamu menghidupkan banyak tanaman,” lanjut sang mawar. “Aku jadi heran, dengan manfaat sebesar itu, seharusnya kamu bahagia, bukan iri padaku,”
Bambu mengangguk, dia baru sadar bahwa selama ini, dia telah bermanfaat untuk tanaman lain. Walaupun pujian itu lebih sering ditujukan untuk mawar, sesungguhnya bambu juga memiliki manfaat yang tidak kalah dengan bunga cantik itu. Sejak percakapan dengan mawar, sang bambu tidak lagi merenungi nasibnya, dia senang mengetahui kekuatan dan manfaat yang bisa diberikan untuk makhluk lain.
Daripada menghabiskan tenaga dengan iri pada orang lain, lebih baik bersyukur atas kemampuan diri sendiri, apalagi jika berguna untuk orang lain.

Sayang, Kenapa Aku Jatuh Cinta Lagi Padamu?

Di bulan suci Ramadhan seorang suami yang baru pulang dari kantor membantu istri memasak untuk berbuka, istrinya melihat suami yang telah seharian bekerja namun juga kerepotan ikut membantu istri di dapur. “Mas, istirahat dulu aja.” Suami menjawab, “Rasulullah aja selalu membantu tugas istri beliau, Kalo saya membantu istri memasak belum sebanding dengan apa yang telah dilakukan Rasulullah.”
Mata mereka berpandangan. Suami tersenyum manis dan istri tersipu malu dibuatnya. Walaupun usia perkawinan mereka telah cukup lama, anak-anak sudah besar dan dewasa, jika senantiasa disirami dengan kasih sayang dan saling memahami maka akan selalu ada tunas cinta yang bersemi kembali. Bunga-bunga bermekaran menebarkan semerbak harum mewangi setelah melewati badai dan guncangan kehidupan.
Istri bersabar menghadapi kekurangan suami karena mengingat pengorbanan yang telah dilakukan suami dalam mengarungi bahtera kehidupan, demikian juga suami selalu bersabar dalam menghadapi kekurangan istri sebab istrinya nampak anggun nan cantik dengan keikhlasan dan pengorbanan dalam menjaga bahtera rumah tangga, sebagaimana Umar Bin Khattab yang menasehati seorang sahabat ketika mengadukan istrinya yang sangat cerewet sekali. ” Saudaraku, aku bersabar atas sikap seperti itu, karena hak-haknya padaku. Istri memasakkan makanan, menyucikan pakaian, menyusui anak-anak dan hatiku tenang dengannya dari perkara yang haram karena aku bersabar atas sikapnya seperti itu.”
Terkadang cinta dalam keluarga luntur oleh seiring perjalanan panjang, menjadi terasa hambar dan datar. Ketika pertentangan suami istri tidak menemukan titik temu karena ego masing-masing akan menggerus simpati dan rasa cinta. Berbagai kelemahan yang semakin terlihat dipelupuk mata tanpa upaya untuk saling memahami dan saling mengerti menjadikan rumah tangga kehilangan cinta dan kasih sayang. Bagaikan jasad tanpa ruh, setiap kata yang terucap menjadi kehilangan makna bahkan kata telah berubah menjadi senjata untuk saling menyakiti perasaan satu sama lainnya. Komunikasi semakin hambar terjebak dalam formalitas, berbincang tentang anak, keluarga besar, saudara, rekening listrik, namun tidak lagi membahas diri mereka sebagai pasangan suami istri.
Disinilah dibutuhkan kekuatan di dalam menghadapi permasalahan rumah tangga, kekuatan itu adalah ketaqwaan kita kepada Allah sehingga terciptanya keluarga sakinah mawaddah warahmah atau keluarga yang tenteram penuh cinta dan kasih sayang. Siramilah keluarga anda dengan cinta dan kasih sayang, bangunlah kembali komunikasi penuh kehangatan agar bunga-bunga bermekaran, menebarkan semerbak harum mewangi kehidupan. Gunakan cara terindah yang anda miliki untuk membangun kemesraan dengan pasangan anda. Ungkapkan dengan tulus cinta dan kasih sayang anda untuk saling mengerti dan saling menguatkan, sampai kemudian pasangan anda membisikkan kata “Sayang, kenapa aku jatuh cinta lagi padamu?”

“Seorang Mukmin yang pale sempurna imannya adalah yang pale baik akhlaknya serta lemah lembut terhadap istrinya.” (HR. Ahmad Tirmidzi).

Kamis, 25 Juli 2013

Sebuah nama

Kamu adalah sebuah nama. Aku pikir tidak etis menulis namamu disini. Karena aku hanya sesekali memanggil namamu. Dan kamu, tak sekalipun memanggilku dengan menyebut namaku.
Kamu ada di mana-mana, di hari-hariku.
Seperti sebuah rasa. Rasa yang membuat malam-malamku terjaga begitu hangat. Seluruh ruang-ruang di hidupku penuh terisi ingatan tentangmu. Hingga seperti tunas sulur yang membaca arah matahari, demikian aku membaca perasaan di dadaku dengan hati-hati. Aku pikir, aku hampir tersesat dalam rasa dan memaksaku bertanya diam-diam. Dalam hati , apakah aku harus membiarkan diriku jatuh cinta? Begitu cepatnya. Begitu sederhananya. Hingga aku serasa bermimpi dan terbangun di surga.
Aku mengernalmu dalam suara. Kata yang hiruk piruk dalam sebuah gelisah. Hingga membuat mataku diam dalam sia juga. Meski berulang kali aku menyapa rupa. Kamu tetaplah sebuah bayang yang maya. Kamu membuatku menghadap Tuhan. Menyebrangi angin, lalu mempertanyakan harapan. Hingga ketika aku terjaga dalam pagi , aku menemukanmu di antara sebuah senyuman. Tetapi kamu tetaplah abstrak dalam sebuah perasaan.
Kamu adalah sebuah nama. Katamu, kamu belum pernah jatuh cinta. Aku ingat ,kamu berbicara sedikit tentang itu.
Aku belum pernah jatuh cinta. Belum ada seorangpun yang membuatku jatuh cinta. Seingatku ,aku nggak melakukan sesuatu apapun untuk membuatku nggak jatuh cinta. Aku pikir cinta hanya belum memilih untuk hinggap di hatiku.
Di malam yang lain kamu bilang, “ Aku nggak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta.”
Aku mendengarmu berbicara tentang apa saja, kecuali tentang patah hati. Aku mulai bisa memakluminya. Itu karena kamu belum pernah jatuh cinta, bukan ?
“ Aku hanya tau aku baik-baik saja tanpa jatuh cinta”, katamu kemudian.
Mengangguk aku dalam gaung yang renta. Kamu tak melihatku. Aku pun tak bisa menyentuhmu. Tapi seperti sebuah pikiran yang mengembara sendirian , kamu dan aku bertasbhi di titik yang serupa.
Cintamu masih seperti hari yang hilang. Menelisik waktu untuk menjemputnya pulang. Aku tau, kamu memiliki cinta. Sebagaimana sebuah rasa yang menunggu dalam doa yang nyaris sia. Tapi, jika saatnya tiba, aku tau kamu akan menyerahkan totalitas untuk sebuah cinta yang aku sendiri bahkan tak akan mengerti kenapa kamu menyerahkannya. Ku rasa sebagai tanda kesejatiaanmukah? Supaya kamu lebur didalamnya
Dan cintamu seperti hari yang hilang. Bila berbicara tentang cinta kamu seperti sedang berkembara sendiri. Berjuang di bawah kegelapan malam dan mengubah puisi dari prosa kehidupan.
Katamu, semua tentangku adalah aneh. Aku datang dengan semua yang serba menyebalkan. Aku pribadi yang sangat kompleks. Aku sebuah paket lengkap. Aku datang dengan semua perasaan dan emosiku. Hingga membuatmu selalu berpikir apakah kelahiranku sebuah masalah? Tapi aku membiarkanmu bersebrangan denganku. Tanpa penjelasan.
Aku pikir aku adalah aku dengan cinta yang aku. Dengan rasa yang aku. Bukankah kamu mencintaiku karena aku adalah rasa yang cinta?
Aku bertanya dimana-mana, diingatan-ingatanku. Seperti sebuah lelakon- lelakon yang merangsek saling membakar. Sesuatu yang menjalar , yang membuat sendi-sendiku ngilu begitu liar. Seluruh ruang-ruang di tubuhku penuh terisi luka tentangmu. Hingga seperti hujan deras yang membekukan demikian aku menulis perasaan di dadaku dengan sesengguyukan. Aku piir aku tersesat dalam rasa dan memaksaku bertanya dalam diam. Apakah kamu datang hanya untuk mematahkan hatiku? Begitu cepatnya. Begitu sederhananya. Hingga aku serasa berteriak di gurun.
Kamu, seperti sebuah nama adalah cerita cinta yang luka. Seperti arkha yang berlari-lari menujuku. Dan mengais di dadaku. Kemudian aku mengais-ngais ingatan atasmu yang bererakan pada malam yang tidak bias tidur. Arghh… aku tau kamu adalah laki-laki yang tak mengenal kata pulang. Dan tak mampu mengeja kata rindu. Kamu adalah laki-laki yang tak lagi sama seperti yang aku cinta.
Lihatlah dalam diam yang renta aku akhirnya mengais seperti arkha yang berlari-lari menujuku dan mengais-ngais di dadaku.
Kamu adalah sebuah nama. Kamu ada di mana-mana. Di setiap ingatanku. Tapi seperti simpang lima saat senja. Bagiku kamu cerita cinta yang tak lagi bercerita.

Ketika Cinta Lama Bersemi Kembali

Selesai membereskan pekerjaan rumah yang menjadi rutinitas paginya, Miranda bergegas membersihkan diri. Dipakainya baju baru, riasan wajah tipis tipis lalu segera dilambainya taksi yang kebetulan tengah melintas.
Ini kali pertama Miranda keluar rumah untuk bertemu Harlan,
lelaki yang pernah dicintainya dulu. Jantungnya berdegup lebih kencang, nafasnya memburu, keringatnya berbintik di keningnya. Jujur, ia tegang luar biasa. Sama seperti belasan tahun yang lalu saat ia jatuh cinta pertama kali pada lelaki itu.
“Datanglah ke foodcourt di sudut kampus. Kita makan siang bareng ya…” bunyi sms Harlan yang masuk di ponselnya membuatnya berdebar debar.
Miranda masih tetap cantik meskipun usianya sudah melewati 30an tahun. Rambutnya masih hitam lebat terawat meskipun beberapa helai uban menyembul di sana sini. Pipinya masih terlihat kencang, kerutan halus mulai terlihat di sudut mata dan bibirnya. Menatap matanya bagai melihat ke kedalaman telaga yang berkilau jernih. Semua itu tak mengurangi kecantikannya yang klasik.
**********
Tiga tahun yang lalu Priyo meninggal dalam kecelakaan tragis. Saat itu mereka baru saja merayakan ulang tahun perkawinan yang ke lima. Sebuah pesta kecil kecilan telah disiapkan Priyo, sebagai hadiah kejutan untuk Miranda. Rumah mungil lengkap dengan isinya menjadi bagian dari kebahagiaan mereka malam itu.
Sepulang dari makan malam romantis lalu dilanjut dengan nonton film berdua hingga larut malam membuat Priyo sedikit mengantuk. Ia memacu mobilnya dalam kecepatan tinggi, menabrak pembatas jalan dan terbalik.
Tulang pahanya patah, tiang kemudi melesak ke dadanya hingga jiwanya tak tertolong lagi sesampainya di rumah sakit. Miranda sendiri terluka di dahinya, tangan kirinya retak dan darah mengalir dari sela kedua kakinya akibat benturan hebat itu.
Priyo meninggal dunia tanpa sempat mendengar kabar membahagiakan ini. Lima tahun bukanlah waktu yang pendek untuk menantikan kehadiran seorang anak. Saat karunia itu hadir di tengah mereka, Tuhan memanggil Priyo. Padahal Miranda berencana memberitahukan berita bahagia ini sepulang mereka ke rumah.
“Maas….kenapa begitu cepat kau pergi? Kau bahkan belum tahu kalau aku sedang berbadan dua…” ratapnya pilu.
“Tapi aku juga membencimu. Gara gara kamu, aku kehilangan bayiku….” rutuknya lagi.
**********
Harlan melambaikan tangannya saat dilihatnya Miranda tengah mencari cari. Ia masih mengenali perempuan itu, terlebih wajahnya tak berubah sama sekali.
“Mau makan apa Mir? Eh, bagaimana aku harus memanggilmu….?” tawa Harlan terdengar riang.
Miranda tersenyum. Ragu ragu dia duduk di seberang meja Harlan. Nuraninya berkata kalau tindakannya itu salah. Sisi hatinya yang lain mengatakan itu benar. Aah, entahlah, Miranda sedang tak ingin mendengarkan debat dalam pikirannya. Ia ingin menikmati makan siangnya kali ini bersama orang lain.
Sudah terlalu lama ia hanya berkutat dengan dunianya sendiri. Dapur, sumur dan tetangga kiri kanan. Tak pernah sekalipun ia mau bertandang ke teman temannya dulu, atau ke keluarga yang agak jauh. Ia benar benar menutup diri dari kehidupan sosialnya.
Semua terjadi setelah kecelakaan hebat yang merenggut Priyo dari sisinya. Ia menyalahkan Tuhan. Ia menyalahkan mobilnya yang tak beres remnya. Ia menyalahkan malam itu, menyesali kenapa ia mau diajak keluar untuk makan malam dan menonton film.
“Apa kabar mas Harlan? Lama sekali kita tak bertemu….”
“Aduuhh…Mir…Mir…. Kaku sekali kau, formiill….” Harlan menyela kata Miranda sambil tergelak.
“Bukankah kita ini teman? Kok seperti ngomong sama siapa aja…” sambungnya. Gelak tawanya masih terdengar.
Miranda tersipu sipu. Pipinya merona, menambah cantik parasnya. Jantung Harlan dag dig dug makin kencang.
**********
Dulu semasa mereka kuliah bersama, Harlan naksir berat sama Miranda. Gadis manis yang pemalu itu sangat menarik hatinya. Setiap kali ada tugas kelompok, Harlan selalu berusaha agar bisa satu grup dengan Miranda. Ia sudah cukup puas bisa mengerjakan tugas bersama sama, mendengarkan suaranya yang halus, atau memandangi gadis itu saat sedang sibuk mengetik.
Ia menyimpan perasaan cintanya rapat rapat. Latar belakang keluarganya yang sederhana membuatnya berpikir seribu kali untuk mendekati gadis itu. Miranda berasal dari keluarga berada. Ayahnya seorang dosen ternama dan ibunya pengusaha sukses. Sebagai anak tunggal, Miranda dilimpahi kemewahan yang membuat iri teman teman se kampusnya.
“Sampai kapan? Haa…? Sampai berkarat dan berkalang tanah?” Dudi tertawa mengejek. Harlan hanya bisa terdiam. Mukanya merah padam menahan marah, juga malu luar biasa. Ia tak menyadari bila sahabatnya ini bisa membaca isi hatinya.
Hingga mereka lulus kuliah, Miranda diterima bekerja di Jakarta dan Harlan masih setia mencari sesuap nasi di Jogja. Yaah, ia tak bisa meninggalkan bisnis rental komputer yang sudah dirintisnya sejak awal masuk kuliah dulu, dan mencari pekerjaan lain di Jakarta. Ia anak sulung, ia masih harus menanggung biaya sekolah kedua adiknya yang masih SMA.
Harlan mengubur perasaan cintanya dalam dalam ketika mendengar kabar pernikahan Miranda. Gadis itu menerima pinangan Priyo, anak kolega papanya. Ia pernah berharap Harlan menyatakan cinta padanya. Sebagai seorang gadis yang dididik dengan adat Jawa yang halus, ia hanya bisa menunggu. Penantiannya ternyata sia sia.
Meskipun hatinya hancur lebur, tetapi Harlan tetap berdoa untuk kebahagiaan Miranda, gadis yang diam diam dicintainya.
********
“Hallo pengusaha sukses…..” seseorang menepuk bahunya. Harlan terkejut bukan main. Dudi berdiri tegak di hadapannya sambil tersenyum lebar.
“Dudiii…..” soraknya.
Mereka berpelukan erat, sambil tertawa tawa gembira. Pameran komputer yang diselenggarakan di mall mewah itu tidak sengaja telah mempertemukan mereka kembali.
“Ada kabar gembira. Ingin dengar tidak?” goda Dudi.
“Aaahh kau ini. Apa yang bisa membuatku gembira? Nggak ada….” Sahut Harlan lesu. Ingatannya kembali melayang pada Miranda, gadis yang diam diam dicintainya.
“Miranda sudah menjanda. Priyo meninggal karena kecelakaan beberapa tahun lalu……”.
Dudi tersenyum penuh arti. Ia tahu benar kalau Harlan masih menyimpan cintanya pada Miranda.
Jadilah, siang itu mereka lewatkan dengan mengenang kembali masa kuliah mereka yang menyenangkan. Diam diam Harlan membuka kembali pintu hatinya, harapan yang lama sekali terkubur kini mulai merekah kembali.
Dipeluknya bahu sahabatnya penuh rasa terima kasih.
*******
“Yakin mas? Kau …..kau….tidak bercanda kan?” Miranda kaget. Pernyataan Harlan terdengar bagaikan petir di siang bolong. Wajahnya memucat, kenangan demi kenangan tentang Priyo dan kehilangan bayinya kembali menyeruak.
“Kita sudah sama sama dewasa Miranda. Aku belum menikah, karena cintaku kepadamu telah kupupus sebelum sempat mekar berkembang…..”.
“Beri aku waktu mas…..aku….aku…” Miranda menutup wajahnya dengan telapak tangan, ia mulai terisak.
Harlan memeluk pundak perempuan itu, membiarkannya meluapkan tangisnya agar perasaannya menjadi lega. Hujan yang tiba tiba turun menambah sendu suasana sore itu. Hanya isak tertahan Miranda yang sesekali terdengar memecah kesunyian.
~~~~
“Mas, bacalah ini….” Miranda mengangsurkan kertas hasil labnya.
Harlan membaca baris demi baris dengan teliti, rona wajahnya berubah ubah dari merah padam ke pucat pasi. Beberapa kali ia mengusap wajahnya yang berkeringat. Miranda duduk menanti dengan tegang. Diperhatikannya gerak gerik Harlan, seakan ingin membaca apa yang tersirat di wajahnya.
“Mira……aku mencintaimu sejak kita kuliah dulu. Sampai hari ini, cintaku tak berkurang sedikitpun meskipun kau lebih memilih pria lain….”.
“Tapi…….”.
Harlan memeluk perempuan itu erat erat, seakan tak ingin dilepaskannya lagi. Itu sudah cukup buat Miranda, ia tak perlu lagi meragukan niat baik Harlan.
~~~~~~
“Bagaimana saksi? Sah? Sah?”.
“Sah”.
“Sah”.
Geremeng ucap syukur memenuhi ruang tengah yang semarak oleh untaian bunga melati yang indah. Harlan memanjakan Miranda dengan menghias seluruh penjuru rumahnya dengan rangkaian melati dan bunga ceplok piring.
Dudi tersenyum lebar menyambut pasangan pengantin baru ini. Ia sangat bersyukur, akhirnya sahabatnya ini menemukan cinta sejatinya.
Bulan separo menerangi beranda yang gelap tanpa lampu. Sambil memeluk Miranda, Harlan mengeluarkan dua lembar hasil lab yang berbeda. Satu milik Miranda dan satunya lagi kepunyaan Harlan. Baru malam itu Miranda mengerti kenapa Harlan tetap nekat melamarnya.
Dokter telah memvonis Harlan tak bisa mempunyai keturunan, sementara Miranda pun tak bisa hamil lagi. Dokter telah mengangkat rahimnya saat kecelakaan itu, untuk menyelamatkan nyawanya.
Tak putus putusnya Miranda mengucap syukur atas karunia itu.