Senin, 30 Desember 2013

Lelaki Yang Gelisah


Adik saya yang tiga orang, semuanya keluar sekolah. Emak berjualan goreng-gorengan yang dititipkan di warung-warung. Adik-adik saya membantu mengantarkannya. Saya berjualan koran, membantu-bantu untuk beli beras.

Saya sadar, kalau keadaan seperti ini, saya harus berjuang lebih keras. Saya mau melakukannya. Dari pagi sampai malam saya bekerja. Tidak saja jualan koran, saya juga membantu nyuci piring di warung nasi dan kadang (sambil hiburan) saya ngamen.

Tapi uang yang pas-pasan itu (Emak sering gagal belajar menabung dan saya maklum), masih juga diminta Bapak untuk memasang judi kupon gelap. Bilangnya nanti juga diganti kalau angka tebakannya tepat. Selama ini belum pernah tebakan Bapak tepat. Lagi pula Emak yang taat beribadah itu tidak akan mau menerima uang dari hasil judi, saya yakin itu.

Ketika Bapak semakin sering meminta uang kepada Emak, kadang sambil marah-marah dan memukul, saya tidak kuat untuk diam. Saya mengusir Bapak. Dan begitu Bapak memukul, saya membalasnya sampai Bapak terjatuh-jatuh. Emak memarahi saya sebagai anak laknat. Saya sakit hati. Saya bingung. Mesti bagaimana saya?

Saat Emak sakit dan Bapak semakin menjadi dengan judi buntutnya, sakit hati saya semakin menggumpal, tapi saya tidak tahu sakit hati oleh siapa. Hanya untuk membawa Emak ke dokter saja saya tidak sanggup. Bapak yang semakin sering tidur entah di mana, tidak perduli. Hampir saya memukulnya lagi.

Di jalan, saat saya jualan koran, saya sering merasa punya dendam yang besar tapi tidak tahu dendam oleh siapa dan karena apa. Emak tidak bisa ke dokter. Tapi orang lain bisa dengan mobil mewah melenggang begitu saja di depan saya, sesekali bertelepon dengan handphone. Dan di seberang stopan itu, di warung jajan bertingkat, orang-orang mengeluarkan ratusan ribu untuk sekali makan.

Maka tekad saya, Emak harus ke dokter. Karena dari jualan koran tidak cukup, saya merencanakan untuk mencopet. Berhari-hari saya mengikuti bus kota, tapi saya tidak pernah berani menggerayangi saku orang. Keringat dingin malah membasahi baju. Saya gagal jadi pencopet.

Dan begitu saya melihat orang-orang belanja di toko, saya melihat Ibu memasukkan dompet ke kantong plastik. Maka saya ikuti Ibu. Di atas jembatan penyeberangan, saya pura-pura menabrak Ibu dan cepat mengambil dompet. Saya gembira ketika mendapatkan uang 300 ribu lebih.

Saya segera mendatangi Emak dan mengajaknya ke dokter. Tapi Ibu, Emak malah menatap saya tajam. Dia menanyakan, dari mana saya dapat uang. Saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa itu tabungan saya, atau meminjam dari teman. Tapi saya tidak bisa berbohong. Saya mengatakan sejujurnya, Emak mengalihkan pandangannya begitu saya selesai bercerita.

Di pipi keriputnya mengalir butir-butir air. Emak menangis. Ibu, tidak pernah saya merasakan kebingungan seperti ini. Saya ingin berteriak. Sekeras-kerasnya. Sepuas-puasnya. Dengan uang 300 ribu lebih sebenarnya saya bisa makan-makan, mabuk, hura-hura. Tidak apa saya jadi pencuri. Tidak perduli dengan Ibu, dengan orang-orang yang kehilangan. Karena orang-orang pun tidak perduli kepada saya. Tapi saya tidak bisa melakukannya. Saya harus mengembalikan dompet Ibu. Maaf."

Surat tanpa tanda tangan itu berulang kali saya baca. Berhari-hari saya mencari-cari anak muda yang bingung dan gelisah itu. Di setiap stopan tempat puluhan anak-anak berdagang dan mengamen. Dalam bus-bus kota. Di taman-taman. Tapi anak muda itu tidak pernah kelihatan lagi. Siapapun yang berada di stopan, tidak mengenal anak muda itu ketika saya menanyakannya.

Dari pinggir kaca nako, di antara celah kain gorden, saya melihat lelaki itu mondar-mandir di depan rumah. Matanya berkali-kali melihat ke rumah saya. Tangannya yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap keringat di keningnya.

Dada saya berdebar menyaksikannya. Apa maksud remaja yang bisa jadi umurnya tak jauh dengan anak sulung saya yang baru kelas 2 SMU itu? Melihat tingkah lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk dengan keluarga saya? Mau merampok? Bukankah sekarang ini orang merampok tidak lagi mengenal waktu? Siang hari saat orang-orang lalu-lalang pun penodong bisa beraksi, seperti yang banyak diberitakan koran. Atau dia punya masalah dengan Yudi, anak saya?

Kenakalan remaja saat ini tidak lagi enteng. Tawuran telah menjadikan puluhan remaja meninggal. Saya berdoa semoga lamunan itu salah semua. Tapi mengingat peristiwa buruk itu bisa saja terjadi, saya mengunci seluruh pintu dan jendela rumah. Di rumah ini, pukul sepuluh pagi seperti ini, saya hanya seorang diri. Kang Yayan, suami saya, ke kantor. Yudi sekolah, Yuni yang sekolah sore pergi les Inggris, dan Bi Nia sudah seminggu tidak masuk.

Jadi kalau lelaki yang selalu memperhatikan rumah saya itu menodong, saya bisa apa? Pintu pagar rumah memang terbuka. Siapa saja bisa masuk.

Tapi mengapa anak muda itu tidak juga masuk? Tidakkah dia menunggu sampai tidak ada orang yang memergoki? Saya sedikit lega saat anak muda itu berdiri di samping tiang telepon. Saya punya pikiran lain. Mungkin dia sedang menunggu seseorang, pacarnya, temannya, adiknya, atau siapa saja yang janjian untuk bertemu di tiang telepon itu. Saya memang tidak mesti berburuk sangka seperti tadi. Tapi dizaman ini, dengan peristiwa-peristiwa buruk, tenggang rasa yang semakin menghilang, tidakkah rasa curiga lebih baik daripada lengah?

Saya masih tidak beranjak dari persembunyian, di antara kain gorden, di samping kaca nako. Saya masih was-was karena anak muda itu sesekali masih melihat ke rumah. Apa maksudnya? Ah, bukankah banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak ada jawabannya.

Terlintas di pikiran saya untuk menelepon tetangga. Tapi saya takut jadi ramai. Bisa-bisa penduduk se-kompleks mendatangi anak muda itu. Iya kalau anak itu ditanya-tanya secara baik, coba kalau belum apa-apa ada yang memukul.

Tiba-tiba anak muda itu membalikkan badan dan masuk ke halaman rumah. Debaran jantung saya mengencang kembali. Saya memang mengidap penyakit jantung. Tekad saya untuk menelepon tetangga sudah bulat, tapi kaki saya tidak bisa melangkah. Apalagi begitu anak muda itu mendekat, saya ingat, saya pernah melihatnya dan punya pengalaman buruk dengannya. Tapi anak muda itu tidak lama di teras rumah. Dia hanya memasukkan sesuatu ke celah di atas pintu dan bergegas pergi. Saya masih belum bisa mengambil benda itu karena kaki saya masih lemas.

Saya pernah melihat anak muda yang gelisah itu di jembatan penyeberangan, entah seminggu atau dua minggu yang lalu. Saya pulang membeli bumbu kue waktu itu. Tiba-tiba di atas jembatan penyeberangan, saya ada yang menabrak, saya hampir jatuh. Si penabrak yang tidak lain adalah anak muda yang gelisah dan mondar-mandir di depan rumah itu, meminta maaf dan bergegas mendahului saya. Saya jengkel, apalagi begitu sampai di rumah saya tahu dompet yang disimpan di kantong plastik, disatukan dengan bumbu kue, telah raib.

Dan hari ini, lelaki yang gelisah dan si penabrak yang mencopet itu, mengembalikan dompet saya lewat celah di atas pintu. Setelah saya periksa, uang tiga ratus ribu lebih, cincin emas yang selalu saya simpan di dompet bila bepergian, dan surat-surat penting, tidak ada yang berkurang.

Lama saya melihat dompet itu dan melamun. Seperti dalam dongeng. Seorang anak muda yang gelisah, yang siapa pun saya pikir akan mencurigainya, dalam situasi perekonomian yang morat-marit seperti ini, mengembalikan uang yang telah digenggamnya. Bukankah itu ajaib, seperti dalam dongeng. Atau hidup ini memang tak lebih dari sebuah dongengan?

Bersama dompet yang dimasukkan ke kantong plastik hitam itu saya menemukan surat yang dilipat tidak rapi. Saya baca surat yang berhari-hari kemudian tidak lepas dari pikiran dan hati saya itu. Isinya seperti ini: "Ibu yang baik, maafkan saya telah mengambil dompet Ibu. Tadinya saya mau mengembalikan dompet Ibu saja, tapi saya tidak punya tempat untuk mengadu, maka saya tulis surat ini, semoga Ibu mau membacanya. Sudah tiga bulan saya berhenti sekolah. Bapak saya di-PHK dan tidak mampu membayar uang SPP yang berbulan-bulan sudah nunggak, membeli alat-alat sekolah dan memberi ongkos. Karena kemampuan keluarga yang minim itu saya berpikir tidak apa-apa saya sekolah sampai kelas 2 STM saja. Tapi yang membuat saya sakit hati, Bapak kemudian sering mabuk dan judi buntut yang beredar sembunyi-sembunyi itu
Lelah mencari, di bawah pohon rindang, saya membaca dan membaca lagi surat dari pencopet itu. Surat sederhana itu membuat saya tidak tenang. Ada sesuatu yang mempengaruhi pikiran dan perasaan saya. Saya tidak lagi silau dengan segala kemewahan. Ketika Kang Yayan membawa hadiah-hadiah istimewa sepulang kunjungannya ke luar kota, saya tidak segembira biasanya.Saya malah mengusulkan oleh-oleh yang biasa saja.

Kang Yayan dan kedua anak saya mungkin aneh dengan sikap saya akhir-akhir ini. Tapi mau bagaimana, hati saya tidak bisa lagi menikmati kemewahan. Tidak ada lagi keinginan saya untuk makan di tempat-tempat yang harganya ratusan ribu sekali makan, baju-baju merk terkenal seharga jutaan, dan sebagainya.

Saya menolaknya meski Kang Yayan bilang tidak apa sekali-sekali. Saat saya ulang tahun, Kang Yayan menawarkan untuk merayakan di mana saja. Tapi saya ingin memasak di rumah, membuat makanan, dengan tangan saya sendiri. Dan siangnya, dengan dibantu Bi Nia, lebih seratus bungkus nasi saya bikin. Diantar Kang Yayan dan kedua anak saya, nasi-nasi bungkus dibagikan kepada para pengemis, para pedagang asongan dan pengamen yang banyak di setiap stopan.

Di stop-an terakhir yang kami kunjungi, saya mengajak Kang Yayan dan kedua anak saya untuk makan bersama. Diam-diam air mata mengalir di mata saya.

Yuni menghampiri saya dan bilang, "Mama, saya bangga jadi anak Mama." Dan saya ingin menjadi Mama bagi ribuan anak-anak lainnya.

Minggu, 29 Desember 2013

Anggur

Seseorang telah menanam anggur yang dikenal sebagai suatu jenis baru yang menghasilkan buah anggur yang siap dimakan hanya setelah berumur tiga puluh tahun. Ketika dia menanamnya, Sultan melintas, berhenti, dan berkata, 
"Engkau seorang yang luar biasa optimis jika engkau berharap hidup hingga anggur itu berbuah."
"Mungkin aku tidak akan hidup selama itu," jawab orang itu. 
 "Tetapi setidaknya para penggantiku akan hidup dan mengambil keuntungan dari pekerjaanku, sebagaimana kami semua mengambil keuntungan dari kerja para pendahulu kita."
"Kalau begitu," jawab Sultan. 
"Jika pohon anggur itu berbuah, bawakan beberapa butir buah untukku. Itu jika kita lolos dari pedang kematian yang menggantung di atas kita sepanjang waktu."

Sultan pun pergi.

Tiga puluh tahun kemudian pohon anggur itu mulai menghasilkan buah anggur yang lezat. Orang itu mengisi sebuah keranjang besar dengan buah anggur pilihan dan pergi ke istana. Sultan menerimanya dan memberinya hadiah emas yang banyak.

Kabar pun tersiar, 
"Seorang petani yang tak dikenal telah diberi sejumlah emas yang banyak sebagai pengganti sebuah keranjang anggur."

Seorang perempuan dungu mendengar hal ini. Segera ia mengisi sebuah keranjang dengan buah anggur miliknya dan membawanya sendiri ke penjaga istana. Ia berkata, 
"Aku meminta ganjaran yang sama dengan yang telah diterima oleh laki-laki tadi pagi. Ini buah anggurku. Jika Sultan memberi uang untuk buah-buahan, maka ini buah-buahan itu."

Sang Sultan mengetahui hal itu dan menjawab, 
"Ia hanya bisa meniru dan sombong. Ia tidak mau mengetahui apa latar belakang aku memberi emas pada lelaki itu. Karenanya, usir dia!"

Perempuan itu tidak mau bersusah payah mengetahui bagaimana sang petani anggur bisa menumbuhkan anggurnya. Perempuan itu hanya mau meniru mudahnya saja.

Dari cerita motivasi diatas terdapat hikmah yang bisa kita ambil. Niat baik yang disertai perjuangan keras akan mendatangkan hasil yang sangat memuaskan. Jauhkan egois atau mementingkan diri sendiri dalam segala urusan. Bisa jadi kita tidak sempat merasakan hasil dari perjuangan kita, tetapi akan menjadi amal baik karena akan memberikan manfaat bagi generasi penerus kita.

Emas atau kuningan

Alkisah seorang raja yang kaya raya dan sangat baik. Ia mempunyai banyak sekali emas dan kuningan sehingga antara emas dan kuningan tercampur menjadi satu.

Suatu hari raja yang baik hati ini memberikan hadiah emas kepada seluruh rakyatnya, dia membuka gudangnya lalu mempersilakan rakyatnya mengambil kepingan emas terserah mereka.

Karena antara emas dan kuningan tercampur menjadi satu maka sulit sekali di bedakan, mana yang emas dan mana yang kuningan, lalu mana yang emasnya 24 karat dan mana yang emasnya hanya 1 karat, namun ada peraturan dari sang raja, yaitu apabila mereka sudah memilih dan mengambil satu dari emas itu, mereka tidak boleh mengembalikannya lagi.


Tetapi raja menjanjikan bagi mereka yang mendapat emas hanya 1 karat atau mereka yang mendapatkan kuningan, mereka dapat bekerja dikebun raja dan merawat pemberian raja itu dengan baik, maka raja akan menambah dan memberikan kadar karat itu sedikit demi sedikit.
Mendengar itu bersukacitalah rakyatnya, sambil mengelu-elukan rajanya. Mereka datang dari semua penjuru tempat, dan satu persatu dari mereka dengan berhati-hati mengamat-amati benda-benda itu, waktu yang diberikan kepada mereka semua ialah satu setengah hari, dengan perhitungan setengah hari untuk memilih, setengah hari untuk merenungkan, dan setengah hari lagi untuk memutuskan.
Para prajurit selalu siaga menjaga keamanan pemilihan emas tersebut, karena tidak jarang terjadi perebutan emas yang sama diantara mereka. Selama proses pemilihan berlangsung, seorang prajurit mencoba bertanya kepada salah seorang rakyatnya,
"Apa yang kau amat-amati, sehingga satu setengah hari kau habiskan waktumu disini?", jawab orang itu "Tentu saja aku harus berhati-hati, aku harus mendapatkan emas 24 karat itu", lalu tanya prajurit itu lagi "Seandainya emas 24 karat itu tidak pernah ada, atau hanya ada satu diantara setumpuk emas ini, apakah engkau masih saja mencarinya, sedangkan waktumu sangat terbatas?", jawab orang itu lagi
"Tentu saja tidak, aku akan mengambil emas terakhir yang ada ditanganku begitu waktuku habis".

Lalu prajurit itu berkeliling dan ia menjumpai seorang yang tampan, melihat perangainya ia adalah seorang kaya, bertanyalah prajurit itu kepadanya
"Hai orang kaya, apa yang kau cari disini, bukankah engkau sudah lebih dari cukup?", jawab orang kaya itu "Bagiku hidup adalah uang, kalau aku bisa mengambil emas ini, tentu saja itu berarti menambah kekayaanku".

Kemudian prajurit itu kembali mengawasi satu persatu dari mereka, maka tampak olehnya seseorang, yang sejak satu hari ia selalu menggenggam kepingan emasnya, lalu dihampirinya orang itu
"Mengapa engkau diam disini? Tidakkah engkau memilih emas-emas itu? Atau tekadmu sudah bulat untuk mengambil emas itu?", mendengar perkataan prajurit itu, orang ini hanya diam saja, maka prajurit itu bertanya lagi 
"Atau engkau yakin bahwa itulah emas 24 karat, sehingga engkau tidak lagi berusaha mencari yang lain?", orang itu masih terdiam, prajurit itu semakin penasaran, lalu ia lebih mendekat lagi 
"Tidakkah engkau mendengar pertanyaanku?"
sambil menatap prajurit, orang itu menjawab
"Tuan saya ini orang miskin, saya tidak pernah tahu mana yang emas dan mana yang kuningan, tetapi hati saya memilih emas ini, sayapun tidak tahu berapa kadar emas ini, atau jika ternyata emas ini hanya kuninganpun saya juga tidak tahu"
"Lalu mengapa engkau tidak mencoba bertanya kepada mereka, atau kepadaku kalau engkau tidak tahu" tanya prajurit itu lagi.

"Tuan emas dan kuningan ini milik raja, jadi menurut saya hanya raja yang tahu, mana yang emas dan mana yang kuningan, mana yang 1 karat dan mana yang 24 karat. Tapi satu hal yang saya percaya janji raja untuk mengubah kuningan menjadi emas itu yang lebih penting" jawabnya lugu. 
Prajurit ini semakin penasaran 
"Mengapa bisa begitu?"
"Bagi saya berapapun kadar karat emas ini cukup buat saya, karena kalau saya bekerja, saya membutuhkan waktu bertahun-tahun menabung untuk membeli emas, tuan" 
prajurit tampak tercengang mendengar jawaban dari orang ini, lalu ia melanjutkan perkataannya 
"lagi pula tuan, peraturannya saya tidak boleh menukar emas yang sudah saya ambil"
"Tidakkah engkau dapat mengambil emas-emas yang lain dan menukarkannya sekarang, selagi masih ada waktu?" tanya prajurit lagi, 
"Saya sudah menggunakan waktu itu, kini waktu setengah hari terakhir saya, inilah saatnya saya mengambil keputusan, jika saya gantikan emas ini dengan yang lain, belum tentu saya mendapat yang lebih baik dari punya saya ini, saya memutuskan untuk mengabdi pada raja dan merawat milik saya ini, untuk menjadikannya emas yang murni", tak lama lagi lonceng istana berbunyi, tanda berakhir sudah kegiatan mereka.

Lalu raja keluar dan berdiri ditempat yang tinggi sambil berkata
"wahai rakyatku yang kukasihi, semua emas yang kau genggam itu adalah hadiah yang telah kuberikan, sesuai dengan perjanjian, tidak seorangpun diperbolehkan menukar ataupun menyia-nyiakan hadiah itu, jika didapati hal diatas maka orang itu akan mendapat hukuman karena ia tidak menghargai raja" 
kata-kata raja itu disambut hangat oleh rakyatnya. Lalu sekali lagi dihadapan rakyatnya, raja ingin memberitahu tentang satu hal
"Dan ketahuilah, bahwa sebenarnya tidak ada emas 24 karat itu, hal ini dimaksudkan bahwa kalian semua harus mengabdi kepada kerajaan, dan hanya akulah yang dapat menambah jumlah karat itu, karena akulah yang memilikinya. Selama satu setengah hari, setengah hari yang kedua yaitu saat kuberikan waktu kepada kalian semua untuk merenungkan pilihan, kalian kutunggu untuk datang kepadaku menanyakan perihal emas itu, tetapi sayang sekali hanya satu orang yang datang kepadaku untuk menanyakannya".

Demikianlah raja yang baik hati dan bijaksana itu mengajar rakyatnya, dan selama bertahun-tahun ia dengan sabar menambah karat satu persatu dari emas rakyatnya.

Apa Yang Diinginkan Wanita

Kalah perang, seorang pangeran diberi kesempatan setahun oleh musuhnya untuk mencari jawaban atas pertanyaan: Apa yang diinginkan perempuan? Kalau dalam setahun tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut, sang pangeran akan digantung.

Bertanya kesana-kemari, tak ada satupun jawaban yang memuaskan. Akhirnya ketika satu tahun hampir lewat, seseorang memberinya saran untuk bertanya kepada seorang nenek sihir. Ketika pangeran menemukan si nenek sihir dan menanyakan pertanyaan tersebut, si nenek sihir mengatakan bahwa ia hanya akan menjawab jika sahabat pangeran yang bernama Peter mau mengawininya.


Pangeran tentu saja tidak tega untuk menikahkan sahabatnya dengan nenek sihir yang selain jelek juga bau. Akan tetapi Peter yang merasa banyak berhutang budi dan ingin menunjukkan baktinya, mengatakan bahwa ia sanggup mengawini nenek sihir tersebut.


Jawaban nenek sihir: Apa yang benar-benar diinginkan perempuan adalah diberi kebebasan mengatur hidupnya sendiri. Jawaban tersebut diterima dan pangeran terbebas dari tiang gantungan.


Sementara itu Peter dengan berdebar-debar agak takut memasuki kamar pengantinnya. Ia sangat terperanjat ketika di atas ranjang terbaring seorang perempuan yang cantik jelita dan seksi. "Kamu siapa..?" tanya Peter tak mengerti. "Karena kamu sangat baik terhadapku, setengah hari aku akan menjadi nenek sihir dan setengah harinya lagi aku akan menjelma menjadi putri yang paling cantik. Sekarang, terserah kamu, mau pilih mana, apakah siang sebagai nenek sihir dan malam jadi putri atau sebaliknya," kata perempuan tersebut.

Peter pun bingung. Di satu sisi, ia ingin menunjukkan kepada semua orang betapa cantiknya istrinya, tapi ia juga takut nanti ada yang ingin merebutnya. Kalau istrinya menjelma jadi putri cantik di malam hari, hanya ia yang akan 'menikmatinya'.

Akhirnya Peter menyerahkan keputusan tersebut kepada sang putri. "Kalau begitu aku akan menjelma jadi putri cantik sepanjang waktu, karena kamu telah memberiku apa yang diinginkan perempuan, yaitu kebebasan untuk mengatur hidupku sendiri," kata sang putri.

"Yang diperlukan oleh seorang perempuan adalah kebebasan untuk mengungkapkan siapakah dirinya."

Kisah Raja dan Keempat Istrinya

Dahulu kala...
Ada seorang raja yang mempunyai 4 isteri.  

Raja ini sangat mencintai isteri keempatnya dan selalu menghadiahkannya pakaian-pakaian yang mahal dan memberinya makanan yang paling enak. Hanya yang terbaik yang akan diberikan kepada sang isteri.

Dia juga sangat memuja isteri ketiganya dan selalu memamerkannya ke pejabat-pejabat kerajaan tetangga. Itu karena dia takut suatu saat nanti, isteri ketiganya ini akan meninggalkannya.

Sang raja juga menyayangi isteri keduanya. Karena isterinya yang satu ini merupakan tempat curahan hatinya, yang akan selalu ramah, peduli dan sabar terhadapnya. Pada saat sang raja menghadapi suatu masalah, dia akan mengungkapkan isi hatinya hanya pada isteri ketiga karena dia bisa membantunya melalui masa-masa sulit itu.

Isteri pertama raja adalah pasangan yang sangat setia dan telah memberikan kontribusi yang besar dalam pemeliharaan kekayaannya maupun untuk kerajaannya. Akan tetapi, si raja tidak peduli terhadap isteri pertamanya ini meskipun sang isteri begitu mencintainya, tetap saja sulit bagi sang raja untuk memperhatikan isterinya itu.

Hingga suatu hari, sang raja jatuh sakit dan dia sadar bahwa kematiannya sudah dekat.

Sambil merenungi kehidupannya yang sangat mewah itu, sang raja lalu berpikir, "Saat ini aku memiliki 4 isteri disampingku, tapi ketika aku pergi, mungkin aku akan sendiri".

Lalu, bertanyalah ia pada isteri keempatnya, "Sampai saat ini, aku paling mencintaimu, aku sudah menghadiahkanmu pakaian-pakaian yang paling indah dan memberi perhatian yang sangat besar hanya untukmu. Sekarang aku sekarat, apakah kau akan mengikuti dan tetap menemaniku?"

"Tidak akan!" balas si isteri keempat itu, ia pun pergi tanpa mengatakan apapun lagi.

Jawaban isterinya itu bagaikan pisau yang begitu tepat menusuk jantungnya.

Raja yang sedih itu kemudian berkata pada isteri ketiganya, "Aku sangat memujamu dengan seluruh jiwaku. Sekarang aku sekarat, apakah kau tetap mengikuti dan selalu bersamaku?"

 "Tidak!" sahut sang isteri. "Hidup ini begitu indah! Saat kau meninggal, akupun akan menikah kembali!"

Perasaan sang rajapun hampa dan membeku.
Beberapa saat kemudian, sang raja bertanya pada isteri keduanya, " Selama ini, bila aku membutuhkanmu, kau selalu ada untukku. Jika nanti aku meninggal, apakah kau akan mengikuti dan terus disampingku?"

"Maafkan aku, untuk kali ini aku tidak bisa memenuhi permintaaanmu!" jawab isteri keduanya. "Yang bisa aku lakukan, hanyalah ikut menemanimu menuju pemakamanmu."

Lagi-lagi, jawaban si isteri bagaikan petir yang menyambar dan menghancurkan hatinya.

Tiba-tiba, sebuah suara berkata:
"Aku akan bersamamu dan menemanimu kemanapun kau pergi." Sang raja menolehkan kepalanya mencari-cari siapa yang berbicara dan terlihatlah olehnya isteri pertamanya. Dia kelihatan begitu kurus, seperti menderita kekurangan gizi.

Dengan penyesalan yang sangat mendalam kesedihan yang amat sangat, sang raja berkata sendu, "Seharusnya aku lebih memperhatikanmu saat aku masih punya banyak kesempatan!"

Kamis, 26 Desember 2013

Arti Sebuah Sepi


Malam itu untuk kesekian kalinya aku berada di tempat itu. Sebuah tempat yang jaraknya tidak cukup jauh dengan letak kantorku. Namun, karena rute angkot di kota Kembang, maka untuk menuju ke tempat itu tidak cukup hanya dengan menggunakan satu kali angkot, harus dua kali.


Tidak sengaja awalnya aku berada di tempat itu, setiap seminggu sekali selepas jam kerja. Aku ke tempat itu tidak sendirian. Selalu berdua bersama teman kantorku, aku berkunjung ke tempat itu. Dialah yang pertama kali mengajakku untuk berada di tempat itu seminggu sekali, meluangkan waktu istirahatku sekitar dua jam dalam seminggu. Ketika dia pertama kali bercerita tentang tempat itu dan kemudian mengajakku untuk berkunjung rutin ke tempat itu, aku tertarik dengan ajakannya. Suatu kegiatan yang aku pikir bisa membuatku terbebas sejenak dari semua hal yang berbau rutinitas dan kepenatan.

Biasanya, kami lebih suka menggunakan satu kali angkot saja. Konsekuensinya, perjalanan kami ke tempat itu harus di awali dengan berjalan kaki dulu. Tidak lama, kira-kira lima belas menit dengan berjalan santai. Hal ini bukan sebuah keterpaksaan untuk kami. Rasanya, pilihan berjalan kaki adalah sebuah pilihan yang bisa sekedar menggerakan otot-otot kaki kami. Pilihan yang sehat, bukan?

Malam itu, sama seperti malam-malam yang lain pada minggu-minggu yang lalu, aku berada di sebuah ruangan yang cukup luas di tempat itu. Mungkin ruangan itu adalah ruangan semacam aula. Di sebuah pojok dari ruangan itu, aku bersama lima orang anak

Pojok ruangan itu adalah tempat favorit kami berenam, sejak pertemuan pertama kami: empat orang anak putri, seorang anak laki-laki dan aku. Kelimanya berusia sekitar kurang lebih 12 tahun. Sekarang, semuanya duduk di kelas enam sekolah dasar. Di tempat itu, mereka sendirian. Terpisah dari orang-orang yang mereka cintai. Keluarga mereka. Kedua orang tua mereka. Adik dan kakak mereka. Bagi mereka, orang tua adalah para bapak dan ibu yang mengasuh mereka di tempat itu. Kakak mereka adalah saudara-saudari mereka yang juga berada di tempat yang berusia lebih tua dari mereka. Adik mereka adalah saudara-saudari mereka yang berusia lebih muda dari mereka. Sebuah keluarga yang mereka temukan ketika di usia belasan tahun.

Biasanya, sekitar dua jam, kami akan belajar matematika, sebuah pelajaran yang mungkin masih menjadi momok bagi anak-anak seusia mereka. Kami sudah membuat kesepakatan bersama. Pokok bahasan matematika setiap pertemuan kami ditentukan oleh kelima anak itu secara bergiliran. Biasanya, mereka akan bertanya tentang hal-hal yang belum mereka mengerti. Dan tugasku mendampingi mereka untuk bisa mengerti pokok bahasan-pokok bahasan yang belum mereka mengerti secara detail. Walaupun, kegiatan ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan pekerjaanku sehari-hari tapi kegiatan ini adalah kegiatan yang menyenangkan untukku. Bisa sejenak masuk ke dunia mereka yang senantiasa berwarna pelangi. Juga, sebuah sarana untuk belajar menjadi ibu dalam arti sesungguhnya.

Malam itu tidak seperti malam-malam sebelumnya. Malam itu, kami hanya belajar dua soal matematika. Itupun soal-soal yang aku berikan sebagai bentuk pekerjaan rumah untuk mereka. Beberapa anak mulai menguap. Mungkin, mereka sedang capek. Atau juga, mungkin, mereka sedang bosan berhadapan dengan rumus-rumus yang njelimet.

Kebosanan memang milik siapa saja, tidak mengenal umur. Pun juga, milik mereka.

Akhirnya, sisa pertemuan malam itu, kami manfaatkan dengan dongeng bersama. Itupun mereka yang meminta. Mulailah aku mendongeng beberapa cerita yang masih berada di memoriku. Dongeng malam itu kuawali dengan dongeng sebuah cerita moral. Kemudian, suasana malam itu berjalan seperti air mengalir. Mereka yang meminta, aku yang mendongeng. Mereka meminta cerita Nabi Yunus a. S, akupun mulai bercerita. Mereka meminta cerita Nabi Musa a. S, akupun mulai memenuhi keinginan mereka. Dan akhirnya, mereka juga berani bercerita kepada kawan-kawannya sendiri. Suasana di pojok ruangan itu pada malam itu mulai hangat dan akrab.

Tak terasa, malam sudah beranjak. Waktu pertemuan kami malam itu sudah hampir sekitar dua jam Dan acara mendongeng dan berceritapun selesai sudah.

***

Mengingat mereka sering terfikir di benakku. Apakah mereka masih mengenal kasih yang yang utuh dari kedua orang tua mereka? Dari ibu kandung mereka? Dari bapak kandung mereka? Dari kakak atau adik kandung mereka? Seusia sekecil itu mereka sudah harus berpisah dari keluarga yang mungkin sangat mereka sayangi. Dengan jarak beratus-ratus kilometer, atau mungkin bahkan lebih.

Mengingat mereka sering terfikir di benakku, seperti apakah wujud tangis kerinduan mereka pada ibu yang melahirkan mereka, pada bapak yang mengadzani dan mengiqamahi pada kedua telinga mereka, serta pada kakak dan adik yang memanggil mereka dengan panggilan sayang? Aku mengenal betul sebuah tangis kerinduan pada keluarga yang kita cintai. Tujuh tahun berpisah dengan orang-orang yang aku cintai, cukup sudah mengajarkan padaku sebuah kata yang bernama kerinduan. Aku bisa mengungkapkan tangis kerinduan itu dengan menelepon atau mengsms orang-orang yang aku cintai. Namun, untuk mereka dalam bentuk apakah wujud kerinduan itu harus terungkap?

Mengingat mereka sering terfikir di benakku, seperti apakah wujud pembunuh rasa sepi yang mungkin senantiasa hadir di hari-hari mereka? Rasa sepi karena seusia sekecil itu mereka tidak lagi mendapatkan sentuhan kasih sayang dari tangan seorang ibu. Rasa sepi karena seusia sekecil itu mereka harus berpisah dengan bapak tercinta. Rasa sepi karena mereka harus berada jauh dari kakak dan adik mereka. Rasa sepi karena ketidakhadiran seorang ibu yang membangunkan mereka, menyiapkan baju sekolah, menyiapkan sarapan, mengantar mereka ke sekolah dengan lambaian tangan kasih sayang, menemani mereka belajar, dan mendongeng untuk mereka menjelang tidur. Juga rasa sepi karena ketidakhadiran seorang ayah yang mengajak mereka jalan-jalan, merayakan ulang tahun mereka, memberikan untuk mereka hadiah kenaikan kelas dan membelikan baju atau peralatan sekolah untuk mereka.

Mengingat mereka sering terfikir di benakku, apakah ketika usia dewasa mereka juga akan mengenal konflik dengan kedua orang tua karena sesuatu hal yang terkadang disebabkan oleh keegoisan kita yang tidak mau mengalah sejenak pada kedua orang tua kita? Aku jadi teringat pada teman-teman yang sering bercerita tentang konflik yang mereka hadapi dengan kedua orang tua mereka. Dan sepertinya tidak ada yang menyalahkan diri sendiri karena konflik itu. Kita teramat sering mengarahkan telunjuk kesalahan itu kedua orang tua kita. Akupun juga tidak terbebas dari kondisi ini. Sekitar lima tahun yang lalu, aku juga menyalahkan kedua orang tuaku yang tidak mengizinkanku berjilbab, ketika aku memutuskan untuk mengenakannya. Keegoisanku juga yang membuat ada jarak antara diriku dengan kedua orang tuaku saat itu.

Aku jadi teringat dengan perkataan seorang teman. Bersyukurlah masih punya orang tua. Jadi yatim piatu kayak aku gak enak lho. Sunyi. Itu kata-katanya padaku saat itu. Kata-kata itu mungkin hadir dari hatinya yang paling dalam, wujud kerinduannya pada kedua orang tuanya yang telah meninggalkannya lebih dahulu menuju ke rumah abadi. Rasanya, sekarang, aku pun juga sependapat dengan pendapatnya. Kita memang patut bersyukur pada Allah karena masih diberi kesempatan oleh-Nya melewati hari-hari kita bersama dengan orang-orang yang kita cintai. Kedua orang tua. Kakak kita. Adik kita. Keluarga besar kita. Ternyata, kesempatan itu tidak dimiliki oleh setiap orang. Kelima ’adik kecilku’ di atas, contohnya.

Selasa, 24 Desember 2013

Aku tak ingin kesepian


 Tak ada hal lain yang pantas kutanyakan selain kabarmu. Aku ingin mendengar kabar baik tentangmu. Aku ingin cerita penuh tawa dibalik bibirmu. Kau tahu?. Aku sangat merindukanmu! Aku rindu saat-saat kamu menjambak kasar rambutku. Aku rindu saat kamu setengah berteriak memanggil namaku.
Aku rindu melihatmu kesakitan karena penyakitmu. Bukan berarti aku jahat,sayang. Saat kau sakit,saat kau kehilangan kesadaran,itulah saat-saat aku bisa menjadi pahlawan. Itulah saat-saat aku merasa kehadiranku sangat kau butuhkan. Sekarang,penyakitku tak lagi separah dulu. Aku bukan lagi pria manja yang butuh supir dan pengawal pribadi. Aku bukan lagi pria kecil yang harus bersembunyi-sembunyi untuk merasakan kehidupan menjadi rakyat biasa. Aku bukan lagi Laki-laki bodoh yang harus menyerah pada penyakitku. Sayang,,, kau harus tahu bahwa aku bisa lebih kuat dari kamu. Kau harus mengerti bahwa fisikku tak selemah kamu. Kau tentu sangat ingin belajar banyak denganku kan? Ahh,aku tahu sayangg. Kau pasti juga sangat merindukanku!
Wajahmu yang tolol itu benar-benar tak bisa kulupakan. Saat bus angkutan umum kota Denpasar berjalan perlahan,saat hanya aku dan kamu yang menjadi penumpangnya. Aku yang duduk diseberang mencuri-curi pandang ke arah halte yang sudah tertinggal dibelakang,mencari-cari sosok yang mengejarku dan kelelahan mencariku. Aku kelelahan dan menarik nafas berkali-kali dan entah mengapa kamu juga melakukan hal yang sama. Tapi,ada yang aneh denganmu,kamu memegang dadamu dan membuka tutup mulutmu berkali-kali,sepertinya kamu tidak kelelahan! Dalam presepsiku,kamu sulit untuk bernafas. Dengan gerak refleks,aku mengeluarkan inhaler milikku dan menyemprotkannya kedalam mulutmu. Aku tak sadar dengan apa yang kulakukan, dengan tindakan sok tahu aku lancang saja memasukkan inhaler kedalam mulutmu. Atas asas setengah sadar,kamu menyandarkan kepala kebahuku. Jantungku seperti ingin melompat keluar karena tindakanmu yang mengagetkan. Tiba-tiba saja kamu berbisik "terimakasih,untungnya kamu bawa inhaler. Kalau tidak,pasti esok hari akan ada berita tentang seorang wanita yang meninggal tanpa sebab dibus kota, harian Denpasar pasti akan memasang fotoku dihalaman depan. HEHEHHE. Siapa namamu?" Ahh,, sungguh,,perkenalan kita benar-benar jauh dari kata normal. Berawal dari inhaler,berlanjut menuju pertemuan-pertemuan absurd yang kita rencanakan sembunyi-sembunyi. Apakah kau ingat usahaku dan usahamu hanya untuk saling bertemu dan memandang? Apakah kau masih akan tertawa ketika kuceritakan tentang beberapa orang yang sempoyongan mencariku ?? Tawa kita pecah,memang saat denganmu aku menemukan diriku yang sempat hilang. Saat aku bisa menatapmu, itulah bahagia menurut persepsiku. Kita memang tak pernah tahu jika tuhan punya rencana selucu ini. Kita juga tak mampu menerka-nerka maksud tuhan mempertemukan kita. Aku dan kamu hanya menjalani yang ada. Kita hanya bisa bersembunyi dari balik dunia yang mengekangmu dan mengekangku dengan begitu jahatnya. Aku terkekang karena penyakitku,dan kamu terkekang karena penyakitmu.
Sayang,,, kau tahu rasanya saat aku menulis ini? Aku hanya merasakan perasaan aneh yang menjalar nakal ditubuhku, perasaan yang menemani sepi dan malam-malamku, perasaan yang setia saat tak ada kamu disampingku. Perasaan itu sering kita sebut Rindu. Kalau boleh jujur dan kalau kamu tidak marah,aku ingin mengatakan satu hal padamu: aku sangat merindukanmu dan aku sangat ingin masa-masa itu kembali lagi. Aku rindu saat kita mengelilingi kota Denpasar dengan kaki kita sendiri. Aku rindu mengitari kota Denpasar diiringi dengan teriknya matahari. Sayang,,, bukankah kamu juga merindukan masa-masa itu? Saat kita tak dikekang,saat-saat kita tak memerlukan mobil mewah dan saat kita bisa bahagia dengan meninggalkan kemewahan yang kita punya. Bukankah bersamamu lebih menarik dari pada berdiam diri dimobil ber-AC?
Setelah membaca ini,rindukah kamu pada masa-masa itu? Rindukah kamu dengan aku yang selalu menyediakan waktu untuk bertemu denganmu? Sayang,,,,, kenapa kamu tak pernah menceritakan betapa kronisnya penyakitmu? Rasanya sangat menyedihkan kalau kita terus membicarakan tentang mimpi-mimpi kita sementara kita tak membicarakan realita yang ada. Rasanya terlalu jahat kalau aku membuka diri terhadapmu sedangkan kamu menyembunyikan diri dariku. Rasanya terlalu tidak adil jika tuhan memanggilmu lebih dulu dari pada aku. Mataku memang bengkak,,dan tahu siapa orang yang sangat pantas disalahkan atas bengkaknya mataku? Tentu saja kamu! Kenapa kamu tidak pamit??!! Kenapa pergi tidak bilang-bilang??!!! Kau bahkan tak memberitahu waktu kepulanganmu. Entahlah,,,, aku tak mengerti kenapa kamu harus pergi. Aku juga semakin tak mengerti apa maunya tuhan. Aku semakin tak mengerti jalan fikirannya. Satu hal yang kutahu,aku dan kamu adalah miliknya. Dia yang mempunyai kehendak untuk memanggil kita pulang dan kembali.
Aku masih mempercayai janjimu,bahwa kamu tak akan meninggalkanku,bahwa setiap kita berpisah kita akan bertemu lagi. Sayang,,,, aku menunggumu atau kamu saja yang menungguku?
Tolong titip salam pada tuhan,katakan padanya untuk selalu setia mendengar doaku. Doaku setiap hari masih sama. Entah kapan,entah digariskan kapan. Aku pasti akan menemani kamu. Dan kamu tidak akan lagi kesepian.