Kamis, 27 Februari 2014

Gelap.....


Bulan

Beberapa hari yang lalu listrik dirumah saya tiba tiba padam, pekat tiba tiba, gelap, kelam, tak ada satupun yang mampu saya lihat bahkan untuk mencari senter saja yang tempatnya sudah saya hafal, saya harus terjatuh dua kali menabrak kursi dan kepentok meja
,  ah sungguh tiada daya dan upaya bola mata ini tanpa setitik cahaya yang ALLAH berikan :) mau marah rasanya, tapi marah sama siapa yah? PLN kan emang udah biasa byar pet :) dan bisa dipastikan sebagai manusia biasa, bibir mungil saya akan spontan mengeluh, dan nyerocos bak meteor ”gimana sih nih PLN, mati mulu padahal bayar gak pernah boleh telat :) ” dan jawaban PLN pasti “emang gue pikirin lo mau gelap keq, mau gak punya Ac, bodo” lepas tanggung jawab deh kalau sudah begini, ah gak mau ngomongin PLN nanti salah bicara bisa kena setrum loh De :)
Daripada marah marah ke PLN yang jelas jelas gak mau denger saya marah mending saya nikmati gelap ini, takutkah saya dengan kegelapan? saya bukan perempuan yang takut dalam kegelapan, saya kadang menikmati gelap ini, setidaknya ketika saya membuka jendela ada bulan yang tersenyum indah ke saya, ada bintang yang bertaburan di langit yang kelam, dan ini sekaligus menyadarkan saya betapa maha besar ALLAH yang telah menciptakan gelap, gelap ini membuat alam bercerita banyak tentang kebesaran ALLAH bukan? ada rembulan, ada suara angin, ada gemericik daun, ada bintang bertebaran, ada suara jangkring :) coba kalau ada listrik maka bisa dipastikan saya akan sibuk menikmati keindahan lelaki lelaki ganteng pemain sinetron di TV, coba kalo listrik ada saya akan sibuk menjelajah dunia maya, berselancar lewat layar mini netbook saya, coba kalau ada listrik telinga saya akan tersumbat dengan musik buatan manusia yang membuat patah hati saya semakin terasa :( maka mari mensyukuri matinya listrik !! ALLAH memang sangat luar biasa menciptakan gelap.
Dan ini pula salah satu alasan mengapa blog saya berbackground hitam, karena didalam hitam semua warna akan terlihat jelas, biru ya biru, merah ya merah, putih ya putih… gak akan jadi samar :) hitam itu JUJUR bukan?

Gelap adalah instrumen untuk mengukur kadar kebajikan, saya belajar dari kegelapan, bahwa suatu saat nanti ketika napas saya berhenti, saya akan berada didalam lipatan tanah yang sangat pekat, gelap dan sendiri, dan seberapa gelap dan terangnya alam saya nanti tergantung dari kebaikan, amal dan perbuatan saya selama ditempat yang terang ini.
Habis terang terbitlah gelap, bukan habis gelap terbitlah terang kaya PLN, teori yang terbalik :) dan kenyataannya malam ini terbit gelap.
Iya, kini terbayanglah betapa gelapnya liang lahat yang akan melipat jasad saya dialam kubur nanti, lalu apakah saya akan memiliki cukup cahaya ketika akan masuk ke dalam ruang gelap liang lahat sehingga alam barzakh itu akan tetap terang, nyaman, luas dan hangat karena kebajikan dan iman yang menjadi suluh/pelita bagi saya. Bukankah hati yang penuh iman akan selalu tergerak untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya sumber cahaya sebagai teman yang akan menemani saya terbaring kaku di perut bumi nanti sampai waktunya saya dibangkitkan. Hingga saya dapat menikmat komplek pekuburan, sampai-sampai insya ALLAH mampu merasakan betapa cepatnya kiamat terjadi saat saya masih menikmati indah, terang dan sejuknya alam kubur saya :)  bukankah kehidupan alam kubur yang seperti ini yang saya inginkan?
Ketika PLN mati saya sibuk menelphone PLN dan complain “kenapa gelap, kenapa gak dibetulian cepet cepet karena saya mulai kepanasan gak ada AC” ketika saya sampai di gelapnya alam kubur, kira kira bisa gak saya complaint kenapa disini gak ada AC, gak ada bohlam yang menggelantung menerangi alam kubur saya, gak ada internet disini :) kan gak bisa kan? yang harus saya lakukan bukan complaint [complaint apa yah bahasa Indonesianya kira kira? :) cari sendiri !! ] kembali ke persiapan bagaimana menerangi alam kubur saya kelak, yang pasti bukan seperti dibumi, ketika saya tidak nyaman maka saya akan sibuk mencari kesalahan si PLN. Bukan, bukan begini cara menerangi alam kubur, tapi seberapa mampu saya menerangi hidup banyak orang, menolong sesama, menjadi sandaran mereka yang tak mau hidup lagi, meminjamkan pundak untuk menampung airmata sahabat tapi ini konteks kemanusiaan, konteks keTUHANan pasti beda.
Kata guru mengaji saya manusia yang akan terang alam kuburnya adalah manusia yang menjadikan bumi ALLAH yang terhampar luas ini adalah masjid baginya, kantornya, kampusnya adalah musholah yang selalu mengingatkan kepada ALLAH, meja kerjanya, notebooknya adalah sumur ilmu untuk mengenal ALLAH, memfungsikan tatapan matanya, lidahnya menjadi mata dan  lidah yang penuh rahmat, melihat dan berkata kata dengan kasih sayang dan kelembutan, pikirannya husnuzhan, tarikan napasnya tasbih [subhanallah, walhamduillah, lailla ha illah] gerak hatinya adalah doa untuk memohon ampunan, bicaranya bernilai dakwah, diamnya dzikir, gerak tangannya sedekah, langkah kakinya hanya untuk ALLAH, sibuknya sibuk memperbaiki diri bukan sibuk mencari kesalahan orang lain :)
Gampang gak kira kira menabung kebaikan untuk menerangi alam kubur nanti, anggap saja sekarang kita hidup dalam kegelapan, ini susah itu susah dulu tak mengapa, gak bisa berbuat yang enak enak atau gak bisa gelap gelapan dengan si dia tak mengapa, karena yang enak dan gelap mopdel gini banyak dosanya bukan? :) tak mengapa disini gelap dulu, yang penting gak gelap di alam kubur, karena gelap disini kan gak abadi kan? tapi gelap di dalam lipatan tanah, akan lama sekali, lama sekali dalam gelap, saya sih gak mau kubur saya pekat, PLN mati aja udah sesak begini maka terbayang gak gelap di alam kubur :( nauzubillahimindhalik.

Rabu, 19 Februari 2014

3 KISAH YANG MENGGETARKAN HATI ...

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Orang-orang shaleh akan meninggal,orang-orang zhalim juga akan meninggal. Para Mujahid akan meninggal, orang yang enggan berjihad pun akan meninggal. Bila kita nanti pada Hari Penghisaban ingin dibangkitkan dalam kondisi ketaatan, taatlah kepada Allah di dunia ini.


Jika kaki kita tergelincir dalam lubang kemaksiatan, marilah kita segera untuk bertaubat. Sehingga tatkala malaikat maut mendatangi kita, kita dalam kondisi taat, dan dia mencabut nyawa kita dalam kondisi kita sedang dalam ketaatan kepada Allah.

Berikut ini beberapa kisah kematian yang mampu menggetarkan hati dan kita bisa mengambil manfaatnya ...

1. Kisah Wafatnya Seorang Mu'alaf Amerika ...

Seorang pemuda Amerika masuk menemui saudara-saudara kita kaum muslimin di sebuah masjid setelah shalat subuh,tepatnya sebuah masjid di New York kota Brooklyn.Pemuda itu berkata : "Saya ingin masuk Islam ".Mereka bertanya : "Siapakah anda?"Ia menjawab : "Jangan kalian tanyakan siapa saya, tunjukkan saja kepada saya."

Ia pun mandi lalu melafalkan suatu kalimat syahadat.Mereka mendapatkan pengajaran shalat, ia pun shalat dengan kekhusyukan yang jarang dijumpai.Jamaah masjid seluruhnya merasakan kekhusyukan dan tangisan pemuda ini. Mereka takjub dengan kondisinya.

Suatu hari,seorang muslim yang cerdas dari Mesir bercakap-cakap dengan pemuda itu. Ia bertanya : 'Saudaraku, Wallahi, ceritakanlah kisah hidupmu!"

Ia berkisah : "Demi Allah, saya tumbuh sebagai orang Nasrani. Hati saya begitu tertaut kepada Isa Al-Masih a.s. Akan tetapi, ketika saya melihat kondisi masyarakat, saya dapati mereka begitu jauh dari akhlak Al-Masih."

"Saya pun mengkaji Islam dan membaca banyak tentangnya. Kemudian Allah menerangi hati saya untuk memeluk Islam. Akan tetapi, di malam hari sebelum saya menemui kalian, saya tertidur setelah merenung dan mencari kebenaran.

Saya bermimpi bertemu dengan Al-Masih. Dia mengarahkan telunjuknya kepada saya dan berkata : "Jadilah pengikut Muhammad" saya pun keluar untuk mencari masjid. Allah membimbing saya untuk menuju masjid ini. Saya masuk menemui anda semua."

Setelah pembicaraan singkat ini, mu'adzin mengumandangkan adzan Isya', pemuda inipun mendirikan shalat Isya' bersama para jamaah yang lain.

Setelah sujud untuk raka'at pertama, lalu imam bangkit untuk raka'at berikutnya. Tetapi saudara kita ini tetap dalam posisi sujudnya. Lalu orang yang disampingnya menyenggol tubuhnya, namun ia terjatuh, mereka mendapati ruhnya kembali ke hadirat Allah !. Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar!

2.Kisah Wafatnya Seorang Muslimah Swiss. ..

Seorang muslimah saudari kita, yang berasal dari Swiss, ia kembali bersama suaminya setelah melakukan perjalanan haji, dengan mengendarai kapal Salim Espress.Seluruh penumpang berteriak bahwa kapal akan tenggelam.

Suaminya berteriak : "Ayo keluarlah!" Muslimah ini menjawab : "Demi Allah, saya tidak akan keluar kecuali setelah mengenakan hijab dengan sempurna. Jikapun saya mati, saya akan bertemu Allah dalam keadaan taat." Ia pun mengenakan pakaiannya dan keluar bersama suaminya.

Ketika semua penumpang benar-benar telah tenggelam, muslimah ini memegang erat tangan suaminya, ia berseru : "Saya mohon agar kamu bersumpah, apakah kamu ridha dengan saya?" Suaminyapun menangis.

Ia bertanya lagi : "Apakah kamu ridha dengan saya?" Suaminyapun menangis melihat isterinya hampir tenggelam.Akan tetapi, muslimah tersebut berkata : "Saya ingin mendengarnya darimu.' suaminya berkata : " Demi Allah, aku ridha terhadapmu. "

Muslimah yang bertakwa dan masih berusia muda itu menangis. Ia berkata : "Saya bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah."

Ia terus saja melafalkan syahadat sampai tenggelam. Suaminya menangis, ia berkata : "Saya memohon kepada Allah semoga Dia mengumpulkan kami kembali di akhirat di Surga negeri kenikmatan."

3. Kisah Wafatnya Sang Muadzin ...

Ada lagi seorang laki-laki yang telah hidup selama empat puluh tahun sebagai muadzin, ia hanya mengharap ridha allah dari adzannya ini.Sebelum meninggal, ia tertimpa sakit keras hingga mengharuskannya berbaring di tempat tidur.Suaranya hilang, ia tidak bisa pergi ke masjid untuk mengumandangkan adzan.

Ketika sakitnya semakin parah, ia menangis dan bergumam : "Wahai Rabb, aku telah mengumandangkan adzan untukMu selama empat puluh tahun, aku tidak mengharapkan balasan kecuali dari Engkau, tetapi aku terhalangi untuk mengumandangkan adzan di akhir hidupku."

Anak-anaknya dengan bersumpah mengisahkan, bahwa ketika waktu adzan tiba, ia berdiri di atas temat tidurnya, menghadap kiblat dan menyerukan adzan.

Tatkala sampai di akhir kalimat Laa ilaaha illallaah ia jatuh tersungkur di atas tempat tidur.Anak-anaknya segera menghampiri, tetapi mereka mendapati bahwa ruhnya telah pergi menghadap Rabbnya.

Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada penghujungnya.

Demikian tadi sahabat tentang 3 kisah hikmah dan semoga kisah hikmah ini bisa berguna dan bermanfaat ..

SIAPA SUAMI WANITA DI SURGA?

“Jika sampai waktunya, ketika jantung saya berhenti berdetak… Saya siap dan tidak takut meninggalkan dimensi saat ini, karena saya akan kembali bertemu Ainun. Insya Allah…” (BJ. Habibie)

Sebuah ungkapan cinta suci, sebuah pernyataan cinta sejati yang abadi. Apapun kata orang, Bapak Habibie selalu membuat kagum saya…


Namun, ada pertanyaan: "Apa iya, seseorang yang sudah menikah di dunia akan kembali bertemu istri atau suaminya kelak di akhirat?"

Untuk menjawab pertanyaan ini, Allah subhanahu wa ta’ala telah menjawabnya. Dia berfirman:

“Dan barangsiapa mengerjakan amal yang shalih, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam Surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab.” (QS. Al-Mu’min: 40)

“(yaitu) Surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang shalih dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya…” (QS. Ar-Ra’d: 23).

Demikianlah orang-orang mukmin hidup di Surga bersama dengan pasangannya. Dan seluruh penduduk Surga akan hidup bersama suami atau istri mereka, dan tidak ada satu pun yang membujang (tidak menikah). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Dan di dalam Surga tidak ada orang yang membujang (tidak menikah).” (Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 5062).

Sungguh sangat beruntung bagi laki-laki shaleh yang dikehendaki Allah subhanahu wa ta’ala menjadi penghuni surga. Bagi mereka disediakan bidadari-bidadari yang belum disentuh oleh siapapun. Bidadari-bidadari yang tidak terbayangkan kecantikannya. Dan – dengan izin Allah - ia pun akan bertemu kembali dengan isterinya yang shalihah di dunia. Subhanallah…

Lalu ada pertanyaan, “Jika laki-laki di Surga mendapatkan bidadari, lalu apakah yang didapatkan oleh wanita?”. “Apakah ada bidadara Surga?”

Lebih jauh lagi, “Benarkah seorang istri akan berjumpa lagi dengan suaminya di dunia? Bagaimana jika seorang wanita menikah lagi setelah suami pertamanya meninggal dunia, apakah wanita itu kelak di akhirat akan menjadi istri bagi suaminya yang terakhir?”

Keadaan wanita di dunia ada enam:
1. Meninggal sebelum menikah.
2. Ditalak suami pertama, dan tidak menikah lagi sampai meninggal.
3. Menikah dengan lelaki yang bukan ahli surga. Misalnya, suaminya murtad atau melakukan kesyirikan.
4. Meninggal lebih dahulu sebelum suaminya.
5. Ditinggal mati suaminya, dan tidak menikah lagi sampai meninggal.
6. Ditalak atau ditinggal mati suaminya, kemudian menikah dengan lelaki lain.

Untuk menjelaskan keadaan-keadaan diatas, saya kutip penjelasan yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah.

1. Apabila wanita tersebut meninggal sebelum menikah,maka di surga kelak Allah subhanahu wa ta’ala akan menikahkan wanita tersebut dengan dengan seorang laki dari penduduk bumi berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

Dari Muhammad berkata: “Apakah mereka saling berbangga atau saling mengingatkan: kaum laki di surga lebih banyak atau wanita? Maka Abu Hurairah berkata: Bukankah Abul Qasim shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kelompok pertama yang masuk surga menyerupai bentuk bulan purnama, kemudian yang berikutnya secerah cahaya bintang di langit, setiap orang di sana memiliki dua orang istri, di mana dia dapat melihat sumsum mereka dari balik dagingnya. Dan di surga tidak ada bujangan” (HR Muslim No. 5062)

Syaikh Utsaimin berkata: “Apabila wanita tersebut belum pernah menikah di dunia maka Allah akan menikahkannya dengan laki-laki yang disukainya di surga. Karena kenikmatan di surga tidak hanya terbatas untuk kaum laki saja, namun juga untuk kaum laki dan wanita, di mana yang termasuk kenikmatan: adalah menikah.

2. Kondisi nomor satu di atas juga berlaku bagi wanita yang meninggal namun bercerai.

3. Kondisi nomor satu di atas berlaku pula bagi wanita yang suaminya bukan termasuk penghuni surga.

Syaikh Utsaimin berkata: “Apabila wanita tersebut termasuk ahli surga dan belum menikah, atau suaminya bukan termasuk ahli surga, maka apabila dia masuk surga maka di surga ada kaum laki-laki yang belum menikah sebelumnya, maka dia menikah dengan salah satu wanita tersebut.

4. Adapun wanita yang meninggal setelah menikah –dia termasuk ahli surga– maka dia menikah dengan mantan suaminya di dunia.

5. Adapun wanita yang suaminya meninggal lalu dia tidak menikah lagi setelah itu sampai dia meninggal maka wanita itu menjadi istrinya di surga.

6. Adapun wanita yang suaminya meninggal lalu dia menikah lagi sesudahnya maka wanita tadi menjadi istri bagi suaminya yang terakhir meskipun wanita tadi sudah berkali-kali menikah, maka sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

Dari Maimun bin Mihran berkata: Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu melamar istri Abu Darda’, namun dia tidak menerimanya dan berkata: Aku mendengar Abu Darda’ berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Wanita bersama suaminya yang terakhir,” dia berkata: dan aku tidak ingin pengganti untuk Abu Darda’ (Hadits shahih dikeluarkan oleh Abu Ali Al-Harrani Al-Qusyairi dalam Tarikhul Riqqah (2/39/3) Silsilah Al-hadits Ash-Shahihah karangan Syaikh Albani 3/25).

Juga berdasarkan perkataan Hudzaifah radhiyallahu anhu kepada istrinya:

Dari Hudzaifah radhiyallahu anhu berkata kepada istrinya: “Jika kamu ingin menjadi istriku di surga maka jangan menikah lagi sesudahku: karena wanita di surga bersama suaminya yang terakhir di dunia oleh karena itu Allah mengharamkan kepada istri-istri Nabi untuk menikah lagi sesudahnya karena mereka adalah istri-istri Beliau di surga,” (dikeluarkan oleh Al Baihaqi dalam Sunannya (7/69-70)).

Sebagian mungkin berkata: bahwa dalam doa jenazah kita mengucapkan: "Dan gantilah untuknya suami yang lebih baik dari suaminya."

Tapi apabila dia menikah, bagaimana kita mendoakannya sedangkan kita tahu bahwa suaminya di dunia adalah suaminya di surga dan apabila dia belum menikah maka di mana suaminya?

Jawabannya: Sebagaimana dikatakan Syaikh Utsaimin rahimahullah: Jika dia belum pernah menikah maka yang dimaksud yang lebih baik dari suaminya adalah suami yang telah ditentukan untuknya jika dia masih hidup, adapun jika dia pernah menikah maka yang dimaksudkan yang lebih baik dari suaminya yakni lebih baik dalam sifatnya di dunia karena pergantian adalah dengan mengganti zatnya sebagaimana jika kita menukar seekor kambing dengan unta misalnya, begitu juga dengan menggantikan sifatnya sebagaimana seandainya saya berkata kepada anda (semoga Allah mengganti kekufuran orang ini dengan keimanan), begitu pula seperti dalam firman Allah Ta’ala:

"(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa" (Qs. Ibrahim 48).

Maksudnya buminya tetap bumi yang sama, akan tetapi dibentangkan dan langit pun tetap langit yang sama akan tetapi dibelah. Wallahu a’lam…

“Jika suamiku di surga adalah suami terakhirku di dunia, bagaimana jika aku menikah lagi namun aku ingin bersama dengan suamiku yang pertama karena aku sangat mencintainya..?”

Untuk menjawab pertanyaan ini, berikut penjelasannya..

Syaikh Muhammad Ali Firkaus hafizhahullah, beliau ditanya oleh seorang wanita: “Setelah masa iddah-ku selesai disebabkan karena suamiku meninggal, ada beberapa orang yang datang melamarku, dan aku enggan menikah agar aku menjadi istri bagi suami pertamaku yang telah meninggal, yang ketika aku bersamanya kami memiliki 3 orang anak.

Alasanku dalam hal ini adalah sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam:

"Seorang wanita itu bersama suami terakhirnya."

Dan telah dipraktekkan pula oleh Ummu Darda' radhiallahu 'anha, apakah aku berdosa jika aku menolak untuk menerima pinangan orang yang telah diridhai agama dan akhlaknya?

Beliau menjawab:

Seorang wanita jika berada dibawah bimbingan seorang suami yang saleh lalu suaminya meninggal, dan si istri terus berstatus sebagai janda setelahnya dan tidak menikah, Allah akan mengumpulkan keduanya di dalam surga, dan jika dia memiliki beberapa suami di dunia, maka dia di dalam surga bersama suami terakhirnya jika mereka sama dalam akhlak dan kesalehannya, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa aalihi wasallam :

"Seorang wanita bersama suami terakhirnya."

(Dikeluarkan Ath-Thabrani dalam "Al-mu'jam Al-Ausath" (3/275), dari hadits Abu Darda' radhiallahu anhu. Hadits ini dishahihkan Al-Albani dalam silsilah Ash-shahihah (3/275))

Seorang wanita jika mengkhawatirkan atas dirinya fitnah atau dia tidak punya kemampuan untuk sendirian dalam mengurusi dirinya dan keperluan anak-anaknya baik dari sisi nafkahnya, dan juga pendidikannya, maka jika ada seorang lelaki yang datang melamarnya yang telah diridhai agama serta akhlaknya, dan lelaki ini punya kemampuan untuk memenuhi berbagai kebutuhannya serta nafkah untuk anak-anaknya, maka tidak sepantasnya wanita tersebut menolaknya, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam:

"Jika ada orang yang datang kepadamu lelaki yang telah engkau senangi agama dan akhlaknya maka nikahkanlah dia."

(HR.Tirmidzi no. 1108, Baihaqi no. 13863; dari hadits Abu Hatim Al-Muzani radhiallahu ‘anhu, dihasankan Al-Albani dalam Al-Irwaa' (6/266).)

Dan juga mengamalkan kaedah ushul fiqh yang berbunyi:

"Menolak kerusakan lebih didahulukan daripada mendatangkan maslahat."

Jika suami pertama itu setara dengan suami pertamanya yang telah meninggal dalam hal akhlak dan kesalehannya,maka dia (wanita tersebut) bersama yang paling terakhir dari keduanya, namun jika tidak setara maka dia memilih yang paling baik kesalehan dan akhlaknya. Telah datang riwayat yang semakna dengan ini yang kedudukannya lemah dan mungkar dari hadits Ummu Salamah radhiallahu anha, dimana Dia bertanya kepada Nabi Shallallahu alaihi wa aalihi wasallam tentang seorang wanita yang menikah dengan dua lelaki, tiga dan empat, lalu wanita tersebut meninggal, dan mereka (para suaminya) masuk surga bersamanya, siapakah yang menjadi suaminya? Jawab Rasul Shallallahu alaihi wa aalihi wasallam:

"Wahai Ummu Salamah,dia akan diberi pilihan sehingga dia memilih yang paling baik diantara mereka." (HR. ath- Thabrani)

Lengkapnya hadits ini sebagai berikut:

Suatu hari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam (tentang bidadari di surga), “Ya Rasulullah, jelaskan kepadaku huurun ‘iin?” (Terdapat dalam QS. Ad-Dukhan: 54, Ath-Thur: 20, dan Al-Waqi’ah: 22)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Huurun sangat jelas putih dan hitam serta bulat matanya. Bahkan bulu matanya bagai sayap burung”

Bertanya Ummu Salamah, “Fihinna khairaatun hisaan?” (Terdapat dalam QS. Ar-Rahman: 70)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Baik akhlak dan budi pekertinya dan cantik wajahnya”

Bertanya Ummu Salamah, “Ka annahunna baidhum-maknuunun?” (Terdapat dalam QS. As-Shaaffat: 49)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Halus kulitnya bagaikan putih telur yang ada di dalam telur”

Bertanya Ummu Salamah, “Uruban atraaba?” (Terdapat dalam QS. Al-Waqi’ah: 37)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Mereka yang mati di dunia telah tua Bangka dan ompong, kisut keriput, akan diciptakan Allah menjadi gadis cantik yang sangat disayang dan semua sebaya usianya”.

Bertanya Ummu Salamah, “Ya Rasulullah, wanita di dunia lebih afdhal ataukah bidadari?”

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Wanita di dunia lebih afdhal daripada bidadari, klebihannya yang diluar daripada yag di dalam”

Bertanya Ummu Salamah, “Mengapa demikian?”

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Karena shalat, puasa dan ibadah mereka kepada Allah azza wa jalla. Allah memberi mereka kecantikan dari nur di wajahnya dan badannya bagaikan sutera halus, putih kulit bebrbaju hijau, perhiasannya kuning berhias permata, sisirnya dari emas sambil bernyanyi, ‘Kamilah yang kekal, tidak akan mati selamanya, kami yang rela tidak akan membenci selamanya, bahagialah orang yang mendapatkan kami, dan kami untuknya’”.

Bertanya Ummu Salamah, “Ya Rasulullah, seorang wanita yang kawin dua, tiga, empat kali kemudian ia mati dan masuk surga, ia bersama yang mana?”

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Ia diberi hak memilih, kemudian ia memeilih diantara akhlak dan budi pekertinya. Dan berkata, ‘Inilah yang terbaik akhlaknya, maka kawinkanlah aku dengannya’. Wahai Ummu Salamah, baik budi dan akhlak itu telah memborong keuntungan dunia dan akhirat”

(HR. Thabrani, Lihat Tafsir Ibnu Katsir, jilid VIII. Hadits ini DHA’IF, dikeluarkan Thabrani dalam Al-Mu'jam Al-Kabir (23/367), dan dalam Al-Ausath (3/279), dari hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha. Berkata Al-Haitsami dalam "Majma' az-Zawaaid" (7/255): "Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dan padanya terdapat seseorang bernama Sulaiman bin Abi Karimah. Dia dilemahkan oleh Abu Hatim dan Ibnu Adi." Juga dilemahkan Syaikh Al-Albani dalam "Dha'if at-Targhib wat-Tarhib" (2/254) . Demikian pula dari hadits Ummu Habibah radhiallahu anha dikeluarkan Ath-Thbarani dalam "Al-Kabir" (23/222), Abd bin Humaid dalam musnadnya (1/365). Berkata Al-Haitsami dalam majma' az-zawaaid (8/52) : "Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan Al-Bazzar secara ringkas, padanya terdapat Ubaid bin Ishaq dan dia seorang yang matruk (ditinggal haditsnya), sedangkan Abu Hatim meridhainya, dan dia perawi paling buruk keadaannya.")

Hanya saja, mungkin dijadikan sebagai dalil dari keumuman firman Allah subhanahu wa ta’ala:

"Di dalamnya (surga) apa saja yang disenangi oleh jiwa." (QS.Az-Zukhruf: 71)

Maka dia diberi pilihan sehingga dia pun memilih yang dia sukai akhlak dan kesalehannya, sebagaimana faedah yang juga dipetik dari firman-Nya:

"Mereka bersama dengan istri-istri mereka dibawah naungan (surga)." (QS.Yasin: 56)

Dimana seorang wanita bersama dengan yang paling mendekatinya dalam hal agama, akhlak, watak, disebabkan pernikahan yang melahirkan perasaan cinta dan kasih sayang, saling akrab dan saling mencintai, berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir." (QS. Ruum:21)

Demikian pula seorang wanita yang masih hidup sendiri dan meninggal dalam keadaan belum sempat menikah, maka dia diberi pilihan sehingga dia memilih siapa yang dia sukai yang lebih mirip dengannya dalam hal tabiat dan akhlak, lalu Allah subhanahu wa ta’ala mewujudkan apa yang menjadi permintaannya, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam:

"Tidak ada bujangan di dalam surga." (HR. Muslim, dan Ahmad dari hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu)

Wallahu’alam… Dan ilmu ada disisi Allah. Allah subhanahu wa ta’ala Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. Apapun ketetapan dari Allah subhanahu wa ta’ala adalah sebaik-baik ketetapan dari-Nya. Dan tidaklah kita patut mempertanyakannya…

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Demikianlah sedikit penjelasan mengenai keadaan wanita di surga kelak. Semoga hal ini dapat menjadi motifasi kita untuk meningkatkan keta’atan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bersemangat dalam ber-amar ma’ruf nahi mungkar, bersegera dalam bertaubat, berbuat baik dan beramal shalih, dan senantiasa istiqamah dan berada pada jalur fastabiqul khairat… Aamiin…

Mohon maaf bila kurang berkenan, kebenaran adalah mutlak milik Allah subhanahu wa ta’ala…

Alhamdulillah.. Shalawat dan salam atas Nabi kita Muhammad, keluarganya, para sahabatnya, dan saudara-saudaranya hingga hari kiamat.

Wallahu’alam bishshawwab
Billahi Taufiq wal Hidayah

Semoga Bermanfaat..

Selasa, 11 Februari 2014

Disni aku ingin bertahan

Aku disini.

Berjuang untuk bertahan.
Angin.. kadang dingin dan menusuk. Tapi jika aku memikul lebih banyak beban. Kakiku mungkin tak akan kuat lagi menahan.
Aku membangun dan meniti perasaan yang dalam dan jalannya rumit sekali.
Awalnya aku sudah capek sekali. Jatuh cinta sakit, jatuh cinta sakit, jatuh cinta sakit, dan itu berkali-kali. Sudahlah, sudah ah.
Aku tak mau menuruti kata-kata kuno “Obat sakit hati adalah jatuh cinta lagi”. Bohong! Jelas hanya akan membuka peluang untuk sakit lagi, sakit lagi, sakit lagi.


Seseorang membuatku sadar, bahwa aku punya payung yang sangat istimewa. Seseorang membuatku sering mendatangi dan berlindung di payung ini. Seseorang menyadarkanku betapa pentingnya payung yang aku punyai ini. Seseorang menjawab ketakutanku, pada deras yang menyakitkan, dengan payung ini. Aku mulai menyukai payung ini. Aku merasa bagian terpenting dari payung ini. Aku bahagia. Aku jatuh cinta, pada orang yang membuatku merasa memiliki payung ini.

Lama, dan aku pernah merasa sangat dekat, ketika kita masih berada dalam satu payung. Milikku, dan milikmu. Aku menganggapnya seperti itu, karna ingatlah, aku sedang jatuh cinta. Berkali-kali, dan kuharap ini yang terakhir. Aku capek sakit lagi, sakit lagi, dan terbebani dengan perasaan sebesar ini. Perasaan titipan Tuhan yang ku coba resapi, ku coba selami, tapi sulit untuk menentukan titik kejelasan. Aku takut tak terbalas lagi. Aku takut tak bisa mencintai dengan benar.

Aku. Wanita bodoh ini, jatuh cinta pada lelaki yang menjaga prinsip, dirinya untuk tidak memikirkan hal-hal aneh dan mengerikan sepertiku.

Bercerita..

Dulu, sakit hati pertamaku, dengan lelaki yang tampan, digemari banyak perempuan. Tapi sangat konyol. Saat itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Lelaki itu memilih menjauhiku karna aku menjauhinya lebih dulu. Aku tidak mengerti banyak tentang cinta. Aku menyukainya. Tapi aku menjauhinya. Dia malah lebih menjauhi. Dan itu sakit sekali. Tapi, aku sadar setelah bertemu dengan orang lain di bangku sekolah menengah, bahwa ternyata ini bukan cinta.

Dulu, sakit hati keduaku, dengan lelaki yang hebat, tampan, kuat dan kaya raya. Sungguh, bukan materi yang membuatku jatuh cinta kepadanya. Jatuh cinta begitu saja.
Cinta pertama masa sekolah. Sangat berat. Aku, membenturkan diri pada kenyataan bahwa aku tidak pantas untuknya, aku terlalu miskin. Dan benar saja. Aku pikir perasaanku terbalas. Ah ternyata. Sebulan, dua bulan, setahun, dua tahun, tiga tahun, lima tahun, aku menunggunya. Tapi untuk sekedar bertanya kabarnya saja, aku ditolak! Dia menemukan wanitanya.

Dulu, sakit hati ke-tigaku, dengan lelaki yang bersahabat denganku lama sekali. Kehadirannya seperti penyembuh dan malaikat saat itu. Melayangkan hatiku tinggi di udara. Aku berharap banyak padanya.
Aku masih sakit hati saat itu, dan dia menawarkan cinta. Aku menerimanya dan membuka diri. Tapi sial, dia adalah lelaki yang gila wanita. Aku berhenti setelah tau. Aku benci cinta.

Dulu, sakit hati ke-empatku, dengan lelaki yang letak rumahnya tak jauh denganku. Aku merasakan kehadirannya ketika berada di samping bahkan di belakangku. Secara tidak sengaja kami sering bertemu. Aku pikir ini takdir yang indah. Aku pikir dia akan beda dengan yang lain. Aku memendam perasaan ini dalam. Berharap dia menggalinya dan tidak akan pernah menyerah denganku. Tapi dia, memilih untuk memendam perasaannya juga. Kemudian menghilang seperti ditarik UFO ke dunia lain.

Dulu, sakit hati ke-limaku, dengan lelaki yang ku pikir pandai, berpengaruh, memegang teguh agama dan memiliki masa depan yang jelas. Aku mengagumi, kemudian jatuh cinta pada lelaki itu.
Haha! Tapi parahnya, dia memilih wanita lain. Wanita yang bisa dia permainkan semaunya. Lelaki yang terlihat emas dari luar, ternyata dari dalam dipenuhi tahi. Aku menyaksikan dia tidur dengan wanita lain. Dan aku bersyukur untuk sakit hati yang satu ini! Aku jatuh cinta pada lelaki yang mengerikan!


Ya, memang sakit hati lagi.
Ku ambil hikmah-Nya. Ku rasakan nikmat-Nya. Dan aku mencoba lagi.
Segala rasa perih dihati, coba resapi, coba hayati.

Sampai ketika aku memiliki sebuah payung. Payung yang sering aku tinggalkan. Aku hampir tidak pernah berada di dalamnya. Aku hampit tidak pernah memegang erat bahkan menggunakannya.
Seseorang menyadarkanku, betapa bermaknanya payung ini bagiku, baginya juga. Kita sama-sama menjadi bagian. Aku pikir masing-masing tidak akan lepas. Akan selalu saling mengisi. Dalam satu payung. Aku pikir dia nyaman berada di sini.
Ini pergantian musim.
Penghujan.
Dan semua orang selalu ribut. Ribut mengeluh, menyerah, berputus asa. Sedangkan dalam deras, aku selalu memohon  pada Sang Pemberi, “Semoga dia tetap berada di payung ini, semoga kami akan dilindungi dari hujan deras akhir tahun ini. Semoga dia tepat dan Yang Terakhir!”.
Aku lelah berharap. Dia tidak mungkin menunjukkan perasaannya. Ini persoalan prinsip. Dia pergi dari payung ini. Mungkin memilih payung lain. Yang lebih kuat, yang lebih indah, yang lebih besar, yang lebih sesuai dengannya. Payung yang dia pegang sendiri, mungkin karena didalamnya ada keistimewaan, dan ternyata itu bukan aku. Sudah ku duga akan seperti ini lagi.
Payungku sudah peyok. Berlubang dan lusuh. Dia akan terus kebasahan jika tetap berada di dalam payung ini. Silahkan pergi, silaaaahkaaaaaaaaan!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
 I will survive, I won’t surrender,
Aku akan bertahan sendiri.

Dia pergi memilih wanita lain

Seorang wanita muda harus menerima kenyataan pahit dalam perjalanan hidupnya. Lelaki yang disayanginya, yang telah menjadi tunangannya, yang beberapa bulan ke depan telah ditetapkan tanggal pernikahannya, ternyata ia pergi begitu saja meninggalkan dirinya hanya demi mengejar wanita lain.


Hebatnya wanita ini tidak bersedih, tidak menangis, tidak meratap-ratap, tidak kecewa, tidak sakit hati, tidak dendan dan tidak bertindak yang aneh-aneh. Akan tetapi ia tulus ikhlas membiarkan lelaki tunangannya itu pergi.

Maka ketika seorang sahabat baiknya datang bertanya :

"Kenapa engkau tidak bersedih hati dan engkau biarkan dia pergi begitu saja untuk mengejar wanita lain?’’

Maka wanita muda itu menjawab :

"Mengapa aku harus bersedih hati? Aku hanya kehilangan seorang yang tidak pernah
mencintai diriku dengan tulus. Yang pantas bersedih hati itu adalah dia yang telah kehilangan orang yang benar-benar mencintainya. Mungkin Allah punya rencana lain untukku. Mungkin Dia sudah menentukan jodohku dengan orang yang akan lebih
menyayangi aku dengan tulus. Lagi pula untuk apa memaksa seseorang yang sudah tidak mau menyayangiku? Dan kalupun dia memang tercipta untukku, aku yakin dia akan kembali kepadaku. Sungguh Allah itu Maha Adil lagi Maha Mengetahui yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya."

SubhanAllah

Kamis, 23 Januari 2014

Mulai percaya dari surah AL Fatihah...


Selama ini aku sudah bisa mengislamkan 60 orang non-Muslim, termasuk orang Amerika, tapi istriku sendiri belum masuk Islam. Aku anggap ini suatu ujian yang diberikan Allah kepadaku.
AKU bernama Kwee Se Kay, dilahirkan di Purwakarta tanggal 24 April 1952. Aku dilahirkan dari buah perkawinan dari ayahku yang bernama Kwee Cang Lang dan ibuku Sow Fe Ing.
Orangtuaku bekerja sebagai wira usaha, dari situlah aku mulai belajar mencari uang, sampai sekarang usaha foto copy dan alat-alat tulis tersebut aku lanjutkan, usaha tersebut sudah cukup untuk membiayai keluarga.
Kalau orangtua saat itu masih memeluk agama Kong Hu Chu, aku juga masih memeluk agama orangtuaku, dan aku juga pernah masuk agama kristen namun hanya sebentar. Dari 13 bersaudara aku adalah anak yang ke-9, dan hanya aku saja yang masuk Islam.
Walaupun kedua orangtuaku tidak menyetujui dan tidak memberikan respon, berkat keyakinanku akhirnya aku mengikrarkan diri mengucapkan dua kalimah syahadat, aku resmi memeluk agama Islam pada tahun 1985 di al-Hidayah Purwakarta di bawah bimbingan Bapak Maksum Effendi BA, Bapak Komar Nuryaman, dan Bapak Mukhtar. Beliau-beliau ini juga yang merupakan pembimbingku dalam menekuni ajaran Islam. Kini aku telah berganti nama menjadi Budi Mulia Sugiarto.
Sebenarnya, aku mulai tertarik terhadap agama Islam, pada waktu aku di hadapkan pada suatu permasalahan besar yaitu aku harus berhadapan dengan seseorang yang aku anggap masalah ini akan mengorbankan perasaan dan keberanianku, di sini aku mencoba memecahkan masalah dengan membaca surah al-Fatihah sebelum aku melangkah dari rumah, dan alhamdulillah masalah ini dapat diselesaikan dengan baik, aku tidak menyangka bahwa dengan membacakan surat al-Fatihah saja orang yang aku hadapi akan berbalik takut padaku. Dari sini aku mulai berpikir, dengan membacakan surat al-Fatihah saja masalahku ini dapat terselesaikan dengan baik, sedangkan saat itu aku belum menjadi seorang muslim, begitu manjur, apalagi kalau aku sudah menjadi seorang muslim mungkin akan lebih manjur lagi. Kejadian ini berkisar sekitar tahun 1981.
Misi terhadap Keluarga
Misiku terhadap keluarga adalah untuk dapat mengislamkan keluarga, kebetulan pada saat ini, istriku belum menjadi seorang Muslim. Tapi alhamdulillah berkat hidayah dari Allah, ketika aku berdo’a di Multajam Mekkah di situ ada kejadian aneh yaitu waktu aku meminta kepada Allah ada yang mengucapkan qobul-qobul sampai tiga kali dan setelah aku lihat kesekelilingku orang yang mengucapkan qobul tadi tidak ada, aku berharap yang menyebutkan qobul tadi adalah malikat. Dan mudah-mudahan dengan do’a tadi istriku bisa masuk Islam, setelah aku pulang ke Indonesia istriku ingin masuk Islam, insya Allah tahun depan kami akan bersama-sama berangkat ke Makkah dan aku minta doa dari pembaca sekalian mudah-mudahan kami bisa berangkat ke tanah suci sekaligus mengislamkan istriku.
Aku menganggap hal ini merupakan cobaan dari Allah, karena dengan hal ini merasa tersendat. Aku teringat dalam surat al-Ankabut ayat 2: “Apakah manusia cukup (begitu saja) mengatakan, kami telah beriman, sedangkan mereka tidak di uji”. Maksudku di sini, selama ini aku sudah bisa mengislamkan nonmuslim sebanyak 60 orang termasuk orang Amerika yang bekerja di Indosap yang bernama Job Martin salah satunya, tapi istriku sendiri belum menjadi seorang muslim. Aku anggap ini suatu ujian yang diberikan Allah kepadaku.
Pernah terjadi dialog ketika aku mengadakan pengajian ibu-ibu, ada seorang ibu bertanya kepadaku, “Saya akui, dakwah yang bapak uraikan sudah mantap, tapi kenapa istri bapak sendiri belum masuk Islam?” Aku menjawab, Allah berfirman dalam surat al-Qosas ayat 56 yang berbunyi, “Sesungguhnya engkau Muhammad, tidak akan memberikan petunjuk pada orang-orang yang engkau cintai, kecuali aku (Allah) yang bisa memberikan petunjuk kepada orang yang aku kehendaki”. Karena taufik dan hidayah itu datang dari Allah. Jadi dalam hal ini bukannya aku tidak bisa mengislamkan istriku, mungkin taufik dan hidayah belum turun dari Allah, jangan kita mahkluk Allah yang biasa, Nabi Muhammad pun tidak bisa mengislamkan pamannya sendiri. Jadi, di sini jelas sekali bahwa manusia tidak berbuat apa-apa kecuali ada taufik dan hidayah dari Allah.
Kalau dalam keluarga alhamdulillah sudah dikaruniai dua orang anak dan kedua-duanya juga sudah masuk Islam. Yang satu sudah masuk sekolah di SMPN I Purwakarta bernama William Permana, dan yang satu lagi bernama Lena Karela sekolah di SD Yosudarso Purwakarta, dan nama istriku Leni Herawati.
Konsep Hidup
Konsep hidup dalam keluargaku adalah harus hidup bagaikan lebah yang dapat memberikan sari pati madu yang manis kepada setiap orang, dan dapat memberikan contoh yang baik. Sehingga orang bisa mencontoh kelakuan baik kita. Dan sekarang aku sangat bersyukur sekali kepada Allah bahwasanya sampai saat ini aku dapat memberikan suri tauladan yang baik kepada masyarakat. Sehingga orang yang non muslim pun ada yang mengikuti konsep hidupku termasuk orang Amerika yang sudah aku sebutkan di atas. Karena Allah berfirman dalam surah An-Nashr yang berbunyi, “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji tuhanmu dan mohon ampun kepadanya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima Taubat”. Maka disinilah kita perlu ketahui bahwa Islam itu sesunguhnya adalah demi kepentingan seluruh umat dan memberikan kehidupan yang lebih baik dan hal ini juga sudah dicontohkan oleh Nabi kita Muhammad Saw, yaitu memberikan suri teladan yang baik, aku sebagai Muslim harus mempunyai pandangan ke sana.
Setelah aku masuk Islam, tiga tahun kemudian aku disuruh menjadi imam dan khotib shalat Jumat dan Idul Fitri, sampai sekarang pun insya Allah aku masih melakukan dakwah. Juga yang sangat aku syukuri aku bisa membina umat karena seperti dikatakan Nabi kita, “Sampaikanlah kepadaku walaupun satu ayat”. Dan Allah mengatakan bahwa jihad fisabilillah itu harus dibarengi dengan harta, ini juga sudah aku lakukan walaupun sedikit dakwah yang dilakukan hanya di Purwakarta saja, di kota lain pun aku pernah seperti di Brebes, Bandung, dan kota lainnya. Seperti dituturkan pada Iman R (Sumber http://www.swaramuslim.com/)

Senin, 13 Januari 2014

TAK ADA ANAK YANG TERLAHIR HARAM


Bismillahir-Rahmaanir-Rahim. ... Pelajaran hidup kali ini diceritakan seorang teman melalui email, sedikit saya ubah agar bisa menjadi pesan yang penuh makna untuk kita semua.

Siapapun yang mengenal diriku pasti menyebutku adalah wanita yang sempurna. Dibesarkan di lingkungan keluarga yang berkecukupan, dikelilingi orang-orang yang mencintaiku, memiliki segudang prestasi, mendapatkan pekerjaan yang bagus dan sahabat-sahabatku berlimpah.

Sejak kecil aku selalu merasa dicintai dan hidupku benar-benar lengkap sempurna setelah aku mendapatkan jodoh suami yang begitu baik dan mencintai diriku.

Aku terlahir menjadi seseorang yang ceria, pribadi yang menyenangkan dan periang. Aku suka sekali tertawa dan menghibur orang-orang di sekelilingku.

Sesekali bersikap manja, itupun hanya pada keluarga dan suamiku. Aku benar-benar bahagia lahir dan batin. Tak pernah sekalipun aku berhenti bersyukur untuk semua yang diberikan Allah padaku.

Sampai suatu ketika di hari ulangtahunku yang ke-28, aku mendapat sebuah kado. Kado itu bukanlah hadiah berupa benda. Kado itu adalah ucapan selamat yang dibarengi dengan tersingkapnya sebuah rahasia keluarga. Rahasia lama yang dipendam kedua orangtuaku dalam-dalam di hati mereka.

Di tengah pesta Barbeque yang diadakan di rumahku, bertepatan dengan hari ulangtahun sekaligus ulangtahun pernikahanku yang ke-4, aku mendapat telepon itu. Ketika itu si penelepon langsung mengucapkan “Selamat Ulang Tahun, Fitriani! Sudah saatnya kamu tahu kalau kamu adalah anak haram Ayahmu, anak hasil selingkuhannya.” Dan telepon langsung ditutup.

Aku tertawa dan berpikir ini pasti orang iseng atau salah satu temanku yang ingin mengerjai. Tanpa mengambil hati apapun kata si penelepon, aku kembali menikmati pesta. Bercanda, bergembira dan melepas rindu dengan orang-orang yang kusayangi, Ibu, Ayah, ketiga adikku, suami, dan bayi mungilku.

Itu adalah salah satu ulang tahun terindah dalam hidupku. Aku bahkan bernyanyi bersama Ayah, berjoget gembira bersama adik-adikku dan pesta itu berakhir dengan permainan air memakai selang taman, kami semua saling membalas menyiram setelah mereka membuatku basah dengan seember air.

Pesta sudah usai ketika aku membersihkan dapur bersama Ibu. Awalnya kami hanya sekedar membicarakan berita-berita terbaru seputar keluarga, film terbaru untuk kami tonton bersama sampai kemudian tanpa sengaja aku menceritakan soal si penelepon.

Aku sedang mencuci piring dan saat aku setengah bercerita, Ibu menjatuhkan seluruh piring kotor yang akan dibawanya padaku ke lantai. Ibu berdiri di tengah dapur, tubuhnya gemetar dan wajahnya pucat pasi. Saat itu hatiku bisa merasakan ada yang salah. Tapi sungguh, aku sendiri takut mendengar kebenarannya.

Keceriaan yang sepanjang hari mewarnai rumahku, hilang dalam sekejap. Ibu terus menangis dalam pelukan Ayah tanpa kuketahui sebabnya. Semua anggota keluarga bertanya ada apa. Tapi aku tak sanggup berucap. Lalu menjelang tengah malam, terungkaplah semua rahasia itu di hadapan suami dan ketiga adik-adikku.

Aku, adalah anak Ayah dari seorang perempuan lain. Ibuku bukan Ibu yang sekarang sedang menangis pilu di hadapanku. Perempuan itu lebih muda sepuluh tahun lebih muda dari Ibu dan dia meninggal dunia saat melahirkan aku.

Tujuh hari setelah kelahiranku, Ayah baru tahu soal keberadaanku dan ia mengambilku dari Rumah Sakit setelah tak seorangpun dari keluarga perempuan itu mau mengurusku.

Seperti ditusuk ribuan jarum dalam jantungku, seperti dihujani airmata darah, seperti dilempari ratusan batu, aku jatuh pingsan saat mendengarnya. Kenyataan yang tak pernah bisa kubayangkan. Meskipun terbangun dalam pelukan Ibu, aku tahu aku bukanlah aku yang sama lagi.

Entah bagaimana aku harus mengembalikan kebahagiaanku lagi. Aku menangis, menyesali diri dan mengulang kembali semua ingatanku sedari aku kecil dulu. Sungguh tak mudah mengingat kasih sayang yang kuterima selama ini. Setiap ulang tahunku, Ibu selalu merayakannya dengan gembira.

Perempuan itu selalu menyiapkan sendiri semua pesta itu bahkan ketika remaja berkali-kali Ibu memberiku kejutan Pesta Ulang Tahun meski saat itu aku sudah tak lagi begitu menginginkannya.

Bagaimana Ibu bisa terlihat begitu bahagia di setiap foto-foto yang terabadikan di album foto keluarga?sementara aku tahu sebagai istri takkan mudah bagi siapapun untuk menerima kehadiran seorang anak haram sepertiku.

Anak haram, cap baru yang kini terpaksa kuterima itu benar-benar melukai hatiku. Aku tak tahu harus bagaimana agar darah yang mengalir dalam tubuhku bisa terkuras habis. Aku membenci kenyataan itu, aku benci aku tak terlahir dari rahim perempuan seperti Ibu yang kukenal selama ini.

Ibu yang memperlakukanku bagai seorang putri yang hidup di dunia impian setiap anak. Bahkan kini setelah semua yang terungkap, aku merasakan kasih sayang Ibu bukanlah kasih sayang biasa. Ibu adalah seorang malaikat.

Ketika kecil, Ibu selalu bilang aku adalah anak yang sering sekali sakit dan rapuh secara fisik. Ibu hafal semua obatku, ia mengingat semua yang harus ia lakukan agar aku tetap sehat. Aku ingat saat Ibu memberi sederet peringatan ketika aku sekolah pertama kali.

“Fitri tak boleh jajan es, Fitri tak boleh main berpanas-panas di halaman sekolah, bekal makanannya dihabiskan dan kalau Fitri takut atau apa, Ibu ada di luar menunggu.” Saat itu Ibu menungguiku sampai sekolah usai, dengan rela berpanas-panas di luar kelas hanya agar memastikan aku menikmati sekolah.

Menjelang remaja, saat aku mulai menunjukkan prestasiku. Ibu selalu setia mendampingiku dalam setiap acara atau lomba yang kuikuti. Ibu di sana memberiku support, memacu semangat dan selalu membantuku.

Bahkan walaupun saat itu adik-adik juga sudah ada, Ibu masih menyempatkan diri mengurus keperluanku. Terus terang, aku berusaha keras mencapai prestasiku selama ini bukan karena keinginanku sendiri tapi karena aku ingin membuat Ibu bangga. Semakin sering Ibu mengatakan ia bangga padaku, semakin ingin aku mempersembahkan banyak prestasi untuknya.

Ibu mendampingiku saat aku menikah. Ibu memelukku dengan kuat saat aku menangis berpamitan padanya. Ia begitu terharu saat aku mencium kakinya, berterima kasih untuk semua kasih sayang yang ia berikan padaku.

Sepanjang hidupku, aku merasakan kesempurnaan Ibu sebagai orangtuaku. Kesempurnaan itu ia tunjukkan lagi saat kembali mendampingiku melahirkan bayiku. Berbagai ilmu dan pengetahuan menjadi orangtua yang ia ketahui, ia tularkan padaku dalam masa-masa persiapan itu.

Kini, di tengah kebahagiaan itu datanglah kenyataan menyakitkan ini. Bagaimana aku bisa melihat Ayah tanpa merasa marah? Bagaimana aku bisa melihat Ibu tanpa merasa tidak bersalah karena kehadiranku berarti Ibu mengingat pengkhianatan Ayah? Bagaimana aku bisa melihat ketiga adikku tanpa merasa tidak enak karena membagi kasih Ibu padaku?

Bagaimana aku bisa melihat suamiku tanpa merasa takut ia akan mengkhianatiku seperti Ayah? Bagaimana aku bisa melihat bayiku tanpa merasa tidak pantas menjadi Ibunya? Bagaimana aku bisa kembali pada kehidupanku sebelumnya?

Dan aku memilih mengurung diri, menangisi kehadiranku, menyesali semua yang telah Allah berikan padaku. Tidak adil setelah mengetahui semua ini aku masih berharap menjadi bagian dari keluarga besarku.

Aku tak seharusnya berada di tengah mereka. Aku seharusnya menyingkir, karena hidupku yang sesungguhnya bukanlah yang aku nikmati selama ini. Menghindari Ibu, Ayah dan ketiga adikku adalah satu-satunya jalan menyingkir dari mereka.

Tapi aku salah. Secara bergantian mereka berusaha keras berbicara padaku. Meski kukunci pintu kamar, tapi suamiku membantu mereka. Tanpa perduli aku bertambah marah, ia menyuruh mereka semua menemuiku satu persatu.

Malaikat yang kupanggil Ibu itu mengatakan, “Sejak pertama Ibu menggendongmu, tak ada satu haripun Ibu menyesali kehadiranmu. Tak ada satu haripun ibu menyesali keputusan Ibu membesarkanmu. Tak ada satu haripun Ibu merasa kau adalah anak orang lain.

Ibulah yang memberimu nama Fitri, yang berarti suci karena Ibu selalu menganggap setiap anak selalu terlahir suci. Jangan pernah merasa bersalah, karena setiap kali Ibu melihatmu, Ibu melihat kaulah salah satu tempat ibu berharap surga.”

Dan Ayah bilang, “Ayah minta maaf karena telah melakukan dosa itu. Tapi seandainya saat itu diberitahu, Ayah akan tetap mempertahankanmu. Ayah akan mengurus Ibu kandungmu, Ayah akan berusaha keras menjaga kalian semua.

Buat Ayah, Ibu kandungmu adalah perempuan baik yang memberi hadiah cinta terbaik untuk Ayah dan Ibu yang sekarang adalah perempuan baik yang merawat cinta itu dengan ikhlas. Ayah menyayangi mereka semua dan Ayah sungguh-sungguh minta maaf padamu, nak.”

Ketiga adikku tak bisa berkata apa-apa. Mereka hanya memelukku dan menangis bersamaku. Tapi ketika tangis itu mereda, salah satu adik laki-lakiku berbisik dalam suara gemetar.

“Buat kami, kak Fitri adalah kakak kami dulu dan selamanya. Kakak terbaik yang pernah kami punya. Kakak sudah melakukan banyak hal dan kami takkan bisa melupakannya dengan satu kenyataan saja.

Kakak selalu bersama kami dalam berbagai suka dan duka, saling membantu dan saling menjaga selama bertahun-tahun, kami takkan pernah lupa itu. Buat kami yang terpenting adalah perasaan kakak. Tetap jadilah kakak kami yang dulu, kak. Kakak yang sok tahu, yang suka iseng tapi selalu mencintai kami apa adanya dan selalu menjadi tempat kami mengadu setiap kali kami sedang susah.”

Dan yang terakhir berusaha mengeluarkanku dari jurang keputusasaan adalah suamiku. “Tak ada seorangpun di dunia ini bisa memilih orangtua mereka, itu adalah takdir. Kematian Ibu kandungmu, rumah tangga Ayah dan Ibu tirimu, pertemuan kita, semua adalah takdir. Kita tak bisa menentang kehendakNya.

Tapi itu bukanlah hal terpenting. Yang penting itu bagaimana kau membuat pilihan dalam hidupmu sendiri. Hiduplah seperti sebelum kau mengetahui semua ini, sayang. Karena menurut kami, saya dan seluruh orang yang mencintaimu, itulah bagian terbaik dari dirimu.

Jadikanlah semua ini, rahasia ini sebagai pelajaranmu di masa mendatang. Cobaan dan ujian itu adalah pelajaran dari Allah agar kita menjadi manusia yang lebih bijaksana bukan justru menjadi terpuruk dan menjadi orang yang putus asa.”

Dengan ragu kutatap wajahnya yang tersenyum tulus padaku. “Lalu kalau anak kita bertanya soal rahasia itu, aku harus bilang apa?”

Kekasih hatiku itu memeluk dengan hangat. “Katakan bahwa kau memiliki dua orang Ibu. satu yang memberimu kehidupan, satu lagi yang menjagamu dalam kehidupan. Katakan bahwa tak ada seorang anakpun di dunia ini seberuntung dirimu, dan kau ingin anak kita … tidak, tidak, anak-anak kita nanti … merasakan semua yang kau rasakan itu meskipun punya satu Ibu,” ucapnya lembut sembari mengelus rambutku.

“Dan buat saya, mencintaimu bukan hanya cara untuk menunjukkan arti dirimu untuk saya. Tapi untuk menunjukkan pada Ibu, betapa saya sangat menghormati dan menghargai Ibu untuk semua pengorbanan dan kerja kerasnya mendidik seorang ibu dan seorang istri selama ini.

Saya semakin mencintaimu dan ingin terus menunjukkan betapa beruntungnya saya memiliki seorang istri yang begitu dicintai keluarganya tanpa memperdulikan asal usulnya.”

Kehangatan itu mengobati hatiku perlahan-lahan. Meski masih teramat sulit menerima, aku mencoba memahami posisi Ayah dan mempercayai semua kasih sayang yang pernah diberi Ibu untukku semuanya berasal dari hatinya.

Aku tahu aku perlu waktu, sama seperti seluruh keluargaku saat menerima berita itu. Perasaan dibohongi selama bertahun-tahun masih sering melanda dan mengundang kesedihan itu datang lagi. Tapi itu tak lagi penting. Mengenang masa lalu hanya akan menambah luka hati, membuat masa depan yang indah itu adalah tujuan hidupku yang baru.

Tak ada yang membuatku lebih berterimakasih ketika orang-orang yang kusayangi, keluarga besarku yang tak pernah sedikitpun mengubah cara mereka memperlakukan diriku.

Karena cinta dan kasih sayang itu berarti menerima kelebihan sekaligus kekurangan sebagai bagian dari diri seseorang. Tak ada manusia sempurna dan Allah telah mengingatkan aku dengan ujiannya kali ini.

Wallahu a'lam bishshawab, ..
... Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci ...

.... Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma Wabihamdika Asyhadu Allailaaha Illa Anta Astaghfiruka Wa atuubu Ilaik ....