Minggu, 11 Mei 2014

Dua Pelajaran dari Kisah Budi dan Perahunya

Bayangkan ada sebuah perahu kayu sederhana di pantai, tertambat indah disana. Perahu itu bergoyang-goyang mengikuti deburan ombak yang silih berganti datang dan pergi. Kilauan warna perahu sederhana itu semakin terlihat menarik kala senja datang menjelang, berkilauan terkena sinar matahari senja yang menyejukkan.
Perahu kayu sederhana itumemang terawat dengan baik. Budi, lelaki berusia tiga puluhan yang memilikinya, adalah lelaki yang tekun, rajin, dan cinta sekali dengan harta satu-satunya itu. Ia merawat perahu itu layaknya seorang suami merawat istrinya penuh cinta, atau layaknya seorang ayah menjaga anaknya. Budi akan segera memperbaiki ketika ada sedikit saja yang tidak beres pada perahunya. Ia akan segera memperbaharui catnya jika sedikit saja terlihat kusam.
Berpuluh-puluh tahun sudah Budi memesrai perahu kayu miliknya. Tapi, tetap saja perahu sederhana itu terlihat menarik dan menyenangkan bagi siapa saja yang kebetulan melihatnya. Sudah berkali-kali ditawar turis yang kebetulan lewat dengan harga yang menggiurkan, Budi urung melepaskannya.

Lalu, sekarang coba bayangkan jika kapal tersebut diabaikan begitu saja. Anggap saja Budi jatuh sakit, kritis yang menahun. Atau tubuhnya tua dan renta. Ia sudah tidak bisa melakukan apa-apa. Alih-alih merawat dan menjaga perahunya, menjaga diri sendiri saja Budi sudah tidak kuasa.
Maka, tidak perlu waktu lama, akibat pengaruh sinar matahari dan hujan yang silih berganti datang, juga karena angin, pasir, dan badai yang sesekali menjelang, perahu kayu Budi menjadi rapuh, lapuk, dan akhirnya terbuang percuma. Menjadi rongsokan yang tidak laku dijual mahal.
Teman, satu-satunya perbedaan dalam dua skenario tadi adalah, pada kasus pertama, Budi masih sehat wal afiat, masih muda dan bertenaga, ia menjaga dan merawat perahu kayunya dengan penuh cinta. Maka selama apapun matahari dan hujan menyapa, angin, pasir, dan badai menerjang, perahunya tetap saja menarik dan menyenangkan siapa saja yang memandangnya.
Sedangkan pada kasus kedua, Budi sudah tidak lagi muda, tenaganya juga sudah tiada. Jangankan mengurusi perahu kayunya, dirinya sendiri saja sudah tak terjaga. Maka perahu kayunya menjadi rapuh, kusam, dan rusak.
Perbedaan mendasarnya adalah ada pada campur tangan pihak luar, sehingga perahu bisa bertahan tetap baik dan terjaga. Campur tangan Budi.
Dari dua skenario sederhana ini, kita belajar:
Pertama, di alam ini pasti ada campur tangan sesuatu yang luar biasa cerdas dan hebat, hingga alam yang begitu kompleks ini bisa berjalan sedemikian rupa tanpa pernah melenceng dari keseimbangan yang indah. Berjuta-juta tahun lamanya, tidak pernah ada tambrakan antar planet. Tidak pernah ada anomali. Maka salah ketika ada orang yang mengatakan bahwa alam ini bekerja sendiri tanpa ada yang mengaturnya.
Ingat hukum termodinamika kedua, tentang entropi (ketidakteraturan)? Ia berkata, “semua sistem di alam ini menuju ke arah kehancuran, penguraian, dan kerapuhan apabila ditinggalkan begitu saja dalam kondisi alamiah”. Maka alam yang begitu sempurna ini, yang sudah bertahan berjuta tahun dalam keseimbangan yang sempurna, tidak mungkin tiada yang mengaturnya. Mustahil. Pasti ada Allah disana!
Kedua, kita dapat mengambil pelajaran bahwa waktu itu merusak jika tidak digunakan dengan bijak dan benar. Kasus pertama, waktu tidak mampu merusak perahu karena Budi mengisinya dengan hal-hal yang baik, merawat perahunya. Sedangkan pada kasus kedua, ketika Budi tidak merawat kapalnya lagi, waktu merusaknya. Hidup kita juga demikian, jika kita tidak memanfaatkannya dengan hal-hal baik yang maka hanya akan menjadi penyesalan nanti. Saat orang lain melesat, pergi meninggalkan kita jauh di belakang, kita hanya bisa meratapi nasib penuh penyesalan.
Maka, sebelum semua itu terjadi, isilah waktumu sekarang dengan hal-hal yang anda sukai, menarik, dan bermanfaat.
Demikian.

Ketika Saya Hampir Menyerah, Jodoh itu Datang

Syaiha | trainer nasional | cacat | penulis | novelis | teacher | suami romantis | syaiful hadi | blogger | internet marketing | guru hebat | inspirator | http://syaiha.com


Kesalahan fatal saya pada kisah ini adalah tidak mengingat dan tidak mencatat kapan kejadian ini berlangsung. Ya, saya benar-benar lupa kapan pastinya. Tapi jelas, ini terjadi tahun 2014, beberapa bulan yang lalu.
Siang itu, ketika mentari sedang petantang-petenteng di langit biru nan luas, saya justru sedang duduk santai di dalam ruangan berpendingin, asik berselancar di dunia maya. Membaca beberapa artikel, menulis, dan bersosial media.
Tiba-tiba, seorang sahabat yang sudah lama tak bersua, juga jarang menyapa, mengirimiku pesan di jendela facebook. Katanya: “Syaiha, lagi dimana? Lama nggak ada kabarnya nih?”
Sebenarnya, dalam hati saya menggerutu, “Lama nggak ada kabar darimana? Padahal, hampir setiap hari saya selalu mengupdate kegiatan dan kabar saya di blog pribadi dan blog keroyokan ini. Dia saja yang jelas sekali tidak pernah memperhatikan setiap tulisan saya yang lalu lalang”

Tapi, tetap saja dengan senang hati saya membalas chat darinya, “Alhamdulillah kabar saya baik. Kamu bagaimana?”
Beberapa detik kemudian, dia membalas lagi, “Alhamdulillah saya juga baik”
Saya manggut-manggut membaca pesan darinya, lalu menunda membalasnya. Siang itu, saya memang sedang ada jadwal posting tulisan di blog pribadi dan di Kompasiana. “Nanti deh balas chatnya, setelah posting tulisan ini kelar”batinku.
Setelahnya, saya sibuk dengan beberapa fitur untuk memposting tulisan di blog. Memasukkan gambar, mengedit beberapa kata yang tidak sesuai, memperbaiki tanda baca yang tidak tepat, dan membaca ulang, khawatir ada kalimat yang tidak enak dinikmati. Hingga beberapa menit kemudian, postingan saya selesai dan saya kembali ke laman facebook saya. Sudah ada beberapa pesan darinya yang masuk dan belum saya baca.
“Maaf..” katanya dalam chat itu, “Syaiha udah menikah belum ya?”
Glek!!
Saya menelan ludah membaca pesan itu. Waktu itu saya memang belum menikah. Dan pertanyaan sudah menikah atau belum, adalah pertanyaan menyesakkan untuk orang yang sudah cukup umurnya namun masih menyendiri saja. Istilah kerennya: Jones, Jomblo ngenes!
Sama hal nya dengan pertanyaan: “Sudah lulus belum?” atau “Kapan mau lulus kuliah?”. Pertanyaan sejenis ini, jika ditujukan kepada mahasiswa tingkat empat dan belum juga ada tanda-tanda kapan akan selesai studinya, maka sama saja meletakkan batu besar di kepalanya. Menyakitkan.
Pesan dari sahabat saya berlanjut, “Atau, maaf, sebenarnya Syaiha ada keinginan menikah nggak ya?”
Lagi, saya menelan ludah sendiri membaca pesan dari sahabat saya ini. Andai ia ada di samping saya kala itu, mungkin sudah saya jitak tuh kepalanya! Sayang, ia jauh dan entah ada dimana.
Saya menyaksikan jendela chatnya di facebook, masih hijau, pertanda ia masih online. Saatnya membalas pesan itu.
Setelah menghela napas sejenak, saya mengetikkan beberapa kalimat kepadanya, “Tentu ada dong keinginan menikah! Masa nggak ada..” kataku, “Cuma, memang, jodoh itu benar-benar rahasia Allah” Setelah menekan enter, saya diam sejenak.
Lalu melanjutkan, “Di luar sana, ada orang-orang yang sudah ingin sekali menikah, segala daya ia kerjakan untuk menjemput jodohnya, tapi jika Allah bilang belum, ya belum lah yang akan terjadi. Entah kapan ia akan menikah”
“Sebaliknya, ada juga sebagian orang yang enggan menikah. Ingin menunda hingga beberapa lama, tapi jika Allah bilang ia akan menikah segera, maka tunggu saja beberapa saat lagi. Jodohnya akan datang dan mereka menikah”
“Dan saya, adalah orang yang pertama. Sudah berkeinginan menikah sejak usia 25 tahun. Tapi hingga sekarang, saat usia saya menginjak 27 tahun, jodoh itu masih saja tidak jelas siapa. Setidak jelas matahari ketika tertutup awan hitam yang bergulung-gulung tebal”
Ia lalu membalas pesan saya, “Oh.. Syukurlah kalau memang ada keinginan menikah. Saya doakan semoga jodohnya Syaiha segera datang”
Dan percakapan itupun selesai.
*****
Kejadian yang sama pernah terjadi beberapa bulan sebelum kejadian diatas. Dan lagi, saya lupa mencatat kapan ia berlangsung. Hari apa dan tanggal berapa, saya lupa.
Waktu itu saya sedang liburan di Bengkulu, di kampung saya. Setelah sekian lama berada di pedalaman Kalimantan, rasanya mengasikkan menghabiskan waktu bersama ibu dan kakak-kakak saya. Belum lagi, beberapa keponakan yang masih menggemaskan selalu bertanya ini dan itu tentang pengalaman saya di Kalimantan. Mereka antusias setiap kali saya bercerita bahwa di pedalaman Kalimantan itu sekolahnya selalu banjir setiap hari, tapi anak-anaknya semangat berangkat ke sekolah.
Salwa, salah satu keponakan saya yang masih duduk di kelas dua Sekolah Dasar malah berkali-kali menyela, “Paman, emang nggak ngeri ya kalau banjir? Kalau nanti ada ular gimana?”
“Kalau mereka hanyut gimana?”
“Emang kulitnya nggak gatel-gatel, Man?”
Saya tersenyum menyaksikan polahnya yang selalu ingin tahu ini. Pertanda ia adalah anak cerdas dan membanggakan. Dan sebagai pamannya, saya mengerti harus menjawab apa dan bagaimana. Momen itu saya gunakan untuk menanamkan karakter-karakter baik kepada semua keponakan saya. Betapapun tidak mengenakkannya kondisi kita, kita harus senantiasa bersemangat menuntut ilmu dan berbuat kebaikan.
Saya paham, mereka mungkin belum mengerti maksud kalimat saya itu. Tapi, lima atau sepuluh tahun lagi, ketika pemahaman yang baik sudah mulai bertunas dalam diri mereka, mereka akan mengerti setiap kalimat yang pernah saya ucapkan ini. Dan semoga karakter-karakter baik yang saya harapkan itu bisa tumbuh di sanubari mereka. Subur dan menghiasi setiap tindak tanduknya.
Siang itu, saat saya sedang bersantai di rumah, ponsel saya berdering. Sebuah panggilan masuk dari sebuah nomor yang tidak saya kenali. Saya menempelkan ponsel saya ke pipi kiri, menekan gambar telpon berwarna hijau. Menanti sebuah suara menyapa.
Terdengar suara lelaki di seberang sana, “Assalamu’alaikum, Syaiha” katanya.
Setelah mengernyitkan dahi karena tidak tahu siapa yang menelpon, saya menjawab, “Wa’alaikumsalam..”
“Hei.. Ini Ucok..” ujarnya lagi, dan saya mengernyitkan dahi lagi, ekspresi masih belum mengenali “Ucok yang mana??”. Di Bogor saya punya sahabat yang bernama Ucok. Di Kalimantan juga ada beberapa teman yang dipanggil dengan nama itu. Dan ini, Ucok yang mana?
“Ah, kau pasti lupa ya?” katanya, “Ucok, kawan kau waktu SMP dulu. Ayo lah, masa orang sepintar kau mudah kali lupanya?”
Sambil menepok jidat, saya menjawab, “Aih, kau rupanya, Ucok yang suka bolos sekolah itu kan? Yang selalu kena hukuman karena lupa mengerjakan PR?” kataku bersemangat setelah ingat sahabat lama saya ini. “Harusnya kau mengaku saja, kau tentu saja tidak lupa mengerjakan PR, kau hanya malas dan tidak bisa kan?” kataku terbahak.
“Ah, payah kali kau. Masa cuma yang jelek-jelek aja yang kau ingat? Awak kan juga atlet volley sekolah bro. Kalau nggak ada aku, nggak mungkin sekolah kita dulu bisa juara satu lomba volley sekecamatan!” kini gantian Ucok yang tertawa tergelak.
Dan percakapan dua sahabat yang sudah lama tak berjumpa pun mengalir deras. Seperti aliran air dari atas genting ketika hujan lebat melanda. Banyak dan tumpah seketika. Hingga pada titik tertentu ia berkata, “Awak udah punya anak dua bro. Kau kapan nikahnya? Jangan belajar terus lah yang dipikirin! Inget usia loh..”
Gleek... ludah itu pun tertelan dengan sendirinya.
“Doakan saja lah ya, Cok” kataku pelan.
“Pasti.. Aku pasti doakan kau”
*****
Orang-orang mungkin tidak pernah tahu, atau memang tidak mau tahu, bahwa orang seperti saya, urusan menikah itu tidak pernah mudah. Ya, orang dengan kekurangan fisik seperti saya, yang kaki kanannya lebih kecil dari kaki kirinya, menemukan jodoh itu seperti mencari jarum di tumbukan jerami yang menggunung. Ketika ada sedikit kilauan yang dikira jarum, saya pasti dekati, tapi ternyata bukan. Berkali-kali begitu.
Sebelumnya, saya pernah beberapa kali mencoba hendak menikah dengan jalan yang saya yakini, tidak dengan pacaran. Saya mendatangi seorang ulama dan meminta kepadanya untuk dicarikan seorang perempuan yang sekiranya sudah siap menikah dan mau menerima saya. Tapi, hingga nyaris setahun, ulama itu tidak juga menemukan. Ia menyerah dan memutuskan tidak bisa membantu.
Hingga ada beberapa sahabat yang mengenalkan saya kepada beberapa perempuan yang sudah siap menikah dan memang sedang mencari pendamping juga. tapi, seperti yang saya bilang, pernikahan itu tidak pernah terwujud karena satu hal, mereka tidak siap memiliki suami yang cacat.
“Maaf Syaiha, teman saya itu belum bisa menerima kamu”
“Orang tuanya nggak mau nerima kamu, Syaiha”
“Keluarganya, kakak-kakaknya, paman dan bibinya, tidak bisa menerima kamu, Syaiha”
Dan masih banyak lagi kalimat penolakan yang berdatangan. Saya telan saja semuanya mentah-mentah. Hingga pada titik ketika saya hampir menyerah, bantuan Tuhan itu datang. Sungguh, Tuhan mungkin hanya ingin saya berikhtiar semaksimal mungkin untuk menjemput jodoh saya.
Hingga ketika saya berada pada titik jenuh dan hendak menyerah, jodoh saya itu Tuhan kirimkan, agar saya menjadi sadar sesadar-sadarnya bahwa ia tidak boleh disia-siakan, ia harus dijaga hingga akhir hayat. 
Ah, terimakasih Tuhan. Jodoh yang kau kirimkan ini adalah seorang bidadari yang hebat. 
 
 
 
 SyaiHa adalah penyandang Disability, kaki kanannya terkena polio sejak usianya satu tahun. Dengan keterbatasannya sekarang, ia ingin berbagi semangat, inspirasi, dan harapan. Termasuk dengan semua tulisannya yang ada di blog ini. Maka mohon, jika tulisannya bagus, boleh disebarkan sesuka hati. Salam.

Cermin Diri

Dikisahkan, ada seorang pria yang sedang mengalami masalah bertubi-tubi. Rumah tangganya tidak harmonis. Bersamaan dengan itu, dia pun terkena perampingan karyawan di perusahaannya sehingga dia harus berhenti bekerja. 


Pada waktu yang senggang, dia berpikir dan mengevaluasi diri. Apa yang salah dengan hidupku? Mengapa aku gagal terus? Bagaimana caranya untuk merubah kegagalan dengan kesuksesan? 


Dimulailah pencarian jawaban atas pertanyaannya dengan pergi ke toko buku dan membeli buku-buku yang dianggapnya mampu memberi jawaban. Setelah beberapa buku habis di baca, dia merasa tidak puas dan tidak pula menemukan jawabannya. Tiba-tiba timbul inspirasi di pikirannya, kenapa aku tidak menanyakan langsung saja ke penulis buku-buku itu? Pasti akan lebih berhasil bila aku bisa mendapatkan petunjuk langsung dari si penulis. Maka ditemuilah si penulis buku. Setelah menceritakan semua kegagalan yang dialaminya, dia berkata, “Tuan penulis, tolong ajarkan kepada saya, rumus dan cara yang bisa membuat saya sukses”. Si penulis pun menjawab, “Kalau anda membaca buku saya dengan teliti, dan menjalankan dengannyata , tentu akan ditemukan cara-cara menuju sukses” ”Saya sudah membaca habis, bahkan hafal isi buku anda, tetapi tetap saja belum menemukan rumus sukses. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk bertanya langsung”. 

Si penulis berpikir sejenak dan berkata, “Baiklah, saya akan ketemukan kamu dengan seseorang. Biar dia yang memberitahu kamu bagaimana cara sukses dalam hidup ini”. Dengan gembira si pria bertanya, “Dimana orang itu bisa saya temui?” Si penulis mengajak pria itu ke sebuah kamar, “Dia ada di dalam kamar ini”. Maka Pria itu pun mengetuk pintu dan segera masuk ke dalam kamar. Namun dia heran karena tidak ada seorangpun di dalam kamar tsb, yang ada hanya sebuah cermin besar. Lalu si Penulis berkata, “Lihatlah ke cermin itu. Orang yang ada di cermin itu adalah sang penolong yang kamu cari untuk menunjukkan bagaimana caranya meraih sukses. Sesungguhnya hanya kamu yang bisa menolong dirimu sendiri, tanpa kamu berani memulai dari dirimu sendiri untuk berusaha dan berjuang maka kamu tidak akan meraih sukses!” 
Seketika itu juga si pemuda tersadar, “Terima kasih pak penulis. Saya akan berusaha lebih tekun dan mengandalkan diri sendiri untuk mempraktekkan teori yang telah saya dapat dan pelajari!

Hidup adalah rangkaian aktivitas yang kita lakukan setiap hari, kalau perasaan malas, tidak disiplin, bimbang, ragu2 dan lain sebagainya menguasai diri kita , tentu nasib buruklah yang kita dapat.

Sukses bukanlah teori, sebagai manusia yang telah di karuniai segenap kelebihan-kelebihan olah Tuhan, kita harus berani mengembangkan diri dan mengandalkan diri sendiri untuk berpikir, bergerak dan berjuang .
Kalau mental kemandirian telah kita miliki, dan tidak cengeng dalam menghadapi kesulitan hidup, berani belajar dalam setiap tindakan yang kita ambil . maka pasti nasib kita akan berubah dan meraih sukses yang membanggakan!


Jumat, 09 Mei 2014

Kisah : Hakekat berjilbab



Kisah ini saya dapat dari sahabatku yang bekerja di salah satu perusahaan asing. Disini saya kutipkan kisah nyata seorang gadis yang menginjak remaja atau kerennya jaman sekarang (ABG) yang sebelumnya tidak karuan tingkah lakunya, namun setelah sadar akan kekeliruannya dan sudah mengerti “Hikmah Memakai Jilbab” Allah Ta’ala memanggilnya. Kisah nyata ini dari kawan saya bekerja. Kisah nyata ini semoga berguna bagi yang membacanya, terutama kaum Hawa, juga bagi yang punya istri, yang punya anak perempuan, adik perempuan, saudara perempuan, kakak perempuan, yang masih punya Ibu, yang punya keponakan perempuan.


Sahabatku menceritakan..
Ini cerita tentang adikku Nur Annisa, gadis yang baru beranjak dewasa namun rada bengal dan tomboy. Pada saat umur adikku menginjak 17 tahun, perkembangan dari tingkah lakunya rada mengkhawatirkan ibuku, banyak teman cowoknya yang datang kerumah dan itu tidak mengenakkan ibuku sebagai seorang guru ngaji.

Untuk mengantisipasi hal itu ibuku menyuruh adikku memakai jilbab, namun selalu ditolaknya hingga timbul pertengkaran pertengkaran kecil diantara mereka. Pernah satu kali adikku berkata dengan suara yang rada keras: “Mama coba lihat deh, tetangga sebelah anaknya pakai jilbab namun kelakuannya ngga beda beda ama kita kita, malah teman-teman Ani yang disekolah pake jilbab dibawa om-om, sering jalan jalan, masih mending Ani, walaupun begini-gini ani nggak pernah ma kaya gituan”, bila sudah seperti itu ibuku hanya mengelus dada, kadangkala di akhir malam kulihat ibuku menangis, lirih terdengar doanya: “Ya Allah, kenalkan Ani dengan hukum Engkau ya Allah “.

Pada satu hari didekat rumahku, ada tetangga baru yang baru pindah. Satu keluarga dimana mempunyai enam anak yang masih kecil-kecil. Suaminya bernama Abu Khoiri (entah nama aslinya siapa) aku kenal dengannya waktu di masjid.

Setelah beberapa lama mereka pindah timbul desas desus mengenai istri dari Abu Khoiri yang tidak pernah keluar rumah, hingga dijuluki si buta, bisu dan tuli. Hal ini terdengar pula oleh Adikku, dan dia bertanya sama aku: “Kak, memang yang baru pindah itu istrinya buta, bisu dan tuli?“ ..hus aku jawab sambil lalu” kalau kamu mau tau datangin aja langsung kerumahnya”.

Eehhh tuuh, anak benar-benar datang kerumah tetangga baru. Sekembalinya dari rumah tetanggaku, kulihat perubahan yang drastis pada wajahnya, wajahnya yang biasa cerah nggak pernah muram atau lesu mejadi pucat pasi, entah apa yang terjadi.

Namun tidak kusangka selang dua hari kemudian dia meminta pada ibuku untuk dibuatkan Jilbab, yang panjang, lagi rok panjang, lengan panjang. Aku sendiri jadi bingung, aku tambah bingung campur syukur kepada Allah karena kulihat perubahan yang ajaib. Yah kubilang ajaib karena dia berubah total, tidak banyak lagi anak cowok yang datang kerumah atau teman-teman wanitanya untuk sekedar bicara yang nggak karuan, kulihat dia banyak merenung, banyak baca-baca majalah Islam yang biasanya dia suka beli majalah anak muda kaya Gadis atau Femina ganti jadi majalah-majalah Islam, dan kulihat ibadahnya pun melebihi aku, tak ketinggalan tahajudnya, baca Qur’annya, sholat sunat nya, dan yang lebih menakjubkan lagi, bila teman ku datang dia menundukkan pandangan. Segala puji bagi Engkau ya Allah jerit hatiku.

Tidak berapa lama aku dapat panggilan kerja di kalimantan, kerja di satu perusahaan asing (PMA). Dua bulan aku bekerja disana aku dapat kabar bahwa adikku sakit keras hingga ibuku memanggilku untuk pulang ke rumah (rumahku di Madiun). Di pesawat tak henti hentinya aku berdoa kepada Allah agar Adikku di beri kesembuhan, namun aku hanya berusaha, ketika aku tiba di rumah, didepan pintu sudah banyak orang, tak dapat kutahan aku lari masuk kedalam rumah, kulihat ibuku menangis, aku langsung menghampiri dan memeluk ibuku, sambil tersendat-sendat ibuku bilang sama aku: “Dhi, adikkmu bisa ucapkan dua kalimat Syahadah diakhir hidupnya“. Tak dapat kutahan air mata ini.

Setelah selesai acara penguburan dan lainnya, iseng aku masuk kamar adikku dan kulihat Diary diatas mejanya, diary yang selalu dia tulis, Diary tempat dia menghabiskan waktunya sebelum tidur kala kulihat sewaktu adikku-rahimahullah masih hidup, kemudian kubuka selembar demi selembar, hingga tertuju pada satu halaman yang menguak misteri dan pertanyaan yang selalu timbul di hatiku. Perubahan yang terjadi ketika adikku baru pulang dari rumah Abu Khoiri, disitu kulihat tanya jawab antara adikku dan istri dari tetanggaku, isinya seperti ini :

Tanya jawab ( kulihat dilembaran itu banyak bekas tetesan airmata ):

Annisa : Aku berguman (wajah wanita ini cerah dan bersinar layaknya bidadari), ibu, wajah ibu sangat muda dan cantik.

Istri tetanggaku : Alhamdulillah, sesungguhnya kecantikan itu datang dari lubuk hati.

Annisa : Tapi ibu kan udah punya anak enam, tapi masih kelihatan cantik.

Istri tetanggaku : Subhanallah, sesungguhnya keindahan itu milik Allah dan bila Allah berkehendak, siapakah yang bisa menolaknya.

Annisa : Ibu, selama ini aku selalu disuruh memakai jilbab oleh ibuku, namun aku selalu menolak karena aku pikir nggak masalah aku nggak pakai jilbab asal aku tidak macam-macam dan kulihat banyak wanita memakai jilbab namun kelakuannya melebihi kami yang tidak memakai jilbab, hingga aku nggak pernah mau untuk pakai jilbab, menurut ibu bagaimana?

Istri tetanggaku : Duhai Annisa, sesungguhnya Allah menjadikan seluruh tubuh wanita ini perhiasan dari ujung rambut hingga ujung kaki, segala sesuatu dari tubuh kita yang terlihat oleh bukan muhrim kita semuanya akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah Ta’ala diakhirat nanti, jilbab adalah hijab untuk wanita.

Annisa : Tapi yang kulihat banyak wanita yang memakai jilbab yang kelakuannya nggak enak, nggak karuan.

Istri Tetanggaku : Jilbab hanyalah kain, namun hakekat atau arti dari jilbab itu sendiri yang harus kita pahami.

Annisa : Apa itu hakekat jilbab ?

Istri Tetanggaku : Hakekat jilbab adalah hijab lahir batin. Hijab mata kamu dari memandang lelaki yang bukan mahram kamu. Hijab lidah kamu dari berghibah (ghosib) dan kesia-siaan, usahakan selalu berdzikir kepada Allah . Hijab telinga kamu dari mendengar perkara yang mengundang mudharat baik untuk dirimu maupun masyarakat. Hijab hidungmu dari mencium-cium segala yang berbau busuk. Hijab tangan-tangan kamu dari berbuat yang tidak senonoh. Hijab kaki kamu dari melangkah menuju maksiat.

Hijab pikiran kamu dari berpikir yang mengundang syetan untuk memperdayai nafsu kamu. Hijab hati kamu dari sesuatu selain Allah , bila kamu sudah bisa maka jilbab yang kamu pakai akan menyinari hati kamu, itulah hakekat jilbab.

Annisa : Ibu aku jadi jelas sekarang dari arti jilbab, mudah-mudahan aku bisa pakai jilbab, namun bagaimana aku bisa melaksanakan semuanya.

Istri tetanggaku : Duhai Anisa bila kamu memakai jilbab itulah karunia dan rahmat yang datang dari Allah yang Maha Pemberi Rahmat, yang Maha Penyayang, bila kamu mensyukuri rahmat itu kamu akan diberi kekuatan untuk melaksanakan amalan-amalan jilbab hingga mencapai kesempurnaan yang diinginkan Allah.

Duhai Anisa, ingatlah akan satu hari dimana seluruh manusia akan dibangkitkan dari kuburnya. Ketika ditiup terompet yang kedua kali, pada saat roh-roh manusia seperti anai-anai yang bertebaran dan dikumpulkan dalam satu padang yang tiada batas, yang tanahnya dari logam yang panas, tidak ada rumput maupun tumbuhan.

Ketika tujuh matahari didekatkan di atas kepala kita namun keadaan gelap gulita. Ketika seluruh Nabi ketakutan. Ketika ibu tidak memperdulikan anaknya, anak tidak memperdulikan ibunya, sanak saudara tidak kenal satu sama lain lagi, kadang satu sama lain bisa menjadi musuh, satu kebaikan lebih berharga dari segala sesuatu yang ada dialam ini.

Ketika manusia berbaris dengan barisan yang panjang dan masing masing hanya memperdulikan nasib dirinya, dan pada saat itu ada yang berkeringat karena rasa takut yang luar biasa hingga menenggelamkan dirinya, dan rupa-rupa bentuk manusia bermacam-macam tergantung dari amalannya, ada yang melihat ketika hidupnya namun buta ketika dibangkitkan, ada yang berbentuk seperti hewan, ada yang berbentuk seperti syetan, semuanya menangis, menangis karena hari itu Allah murka, belum pernah Allah murka sebelum dan sesudah hari itu, hingga ribuan tahun manusia didiamkan Allah dipadang mahsyar yang panas membara hingga Timbangan Mizan digelar itulah hari Yaumul Hisab.

Duhai Annisa, bila kita tidak berusaha untuk beramal dihari ini, entah dengan apa nanti kita menjawab bila kita di sidang oleh Yang Maha Perkasa, Yang Maha Besar, Yang Maha Kuat, Yang Maha Agung, Allah. Di Yaumul Hisab nanti! Di Hari Perhitungan nanti!!

Sampai disini aku baca diary nya karena kulihat, berhenti dan banyak tetesan airmata yang jatuh dari pelupuk matanya, Subhanallah, kubalik lembar berikutnya dan kulihat tulisan, kemudian kulihat tulisan kecil di bawahnya: buta, tuli dan bisu, wanita yang tidak pernah melihat lelaki selain muhrimnya, wanita yang tidak pernah mau mendengar perkara yang dapat mengundang murka Allah Ta’ala, wanita yang tidak pernah berbicara ghibah, ghosib dan segala sesuatu yang mengundang dosa dan sia-sia tak tahan airmata ini pun jatuh membasahi diary.

Itulah yang dapat saya baca dari diarynya, semoga Allah menerima Adikku di sisinya, Amin, Subhanallah.




Bapak-Bapak, Ibu-ibu, Saudara-Saudaraku, adik-adikku dan Anak-anakku yang dimuliakan oleh Allah. Khususnya kaum hawa. Saya mengharap kisah nyata ini bisa menjadi iktibar, menjadi pelajaran bagi kita, bagi putri-putri kita semua. Semoga meresap dihati yang membacanya dan semoga Allah Ta’ala senantiasa memberi petunjuk, memberi Rahmat, hidayah bagi yang membaca dan menghayatinya.

Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan iman kita untuk menjalankan (memenuhi) segala perintah-Nya dan menjauhi segala apa-apa yang dilarang-Nya, dan mendapat derajat takwa yang tinggi, selamat didunia sampai di akhirat nanti, mendapat pertolongan dan syafa’at di hari yaumul hisab dan mendapat surga yang tinggi, amien. Wallaahu a’lam bish shawab, billaahi taufik wal hidayah. Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakatuh

UANG Jajan Untuk Pengemis…


pengemisSeorang ayah ingin mengajarkan kepada anaknya sejak dini yang baru duduk dikelas 3 SD untuk mengatur uang jajannya. Sang anak diberi uang Rp 30.000 perminggu (termasuk ongkos ojek). Biasanya uang tersebut diberikan sang ayah sehari sebelum anaknya masuk sekolah.

Pada minggu pagi mereka berdua hendak jalan-jalan ke kota untuk menikmati liburan. Sebelum berangkat, tak lupa sang ayah memberikan uang jajan mingguan anaknya dengan tiga lembar uang Rp 10.000. Dan uang tersebut disimpan rapi dalam saku celananya.

Ditengah keasikan sang ayah dan anaknya menikmati hari libur mereka, tiba-tiba keduanya dikejutkan dengan kedatangan seorang kakek pengemis yangg telah tua renta sambil memelas.
Tak tega melihat sang kakek tua memelas, sang anak dengan sigap langsung mengeluarkan 3 lembar uang 10.000,- dari saku celana dan diberikan seluruhnya.
Kontan saja kakek pengemis ini terlihat sangat senang seraya mengucapkan rasa syukur dan terimakasih yang tak terkira kepada sang anak dan ayahnya ini.
Setelah si kakek tua berlalu, kemudian sang ayah bertanya;
“Sayang, kenapa kamu berikan semua uangmu untuk kakek itu? Bukankah satu lembar saja sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya hingga nanti malam?”
“Ayah..kalau kakek tua itu ikhlas menerima yang sedikit maka aku ikhlas untuk memberikan yang lebih besar!” Jawab anaknya dengan wajah tersenyum..
“DEG!!!” Hati sang ayah langsung tersentak kaget mendengar jawaban tersebut.
“Nah, terus uang jajanmu untuk seminggu ke depan bagaimana?” Tanya sang ayah mencoba menguji.
“Kan aku masih punya ayah dan Ibu! Tidak seperti kakek tua itu yang mungkin hanya hidup sebatangkara di dunia ini.” Balas anaknya.
“Kenapa kamu begitu yakin kalo ayah dan Ibu akan mengganti uang jajanmu? Ayah nggak janji loh?” Kembali sang ayah mengujinya.
“Kalo ayah merasa bahwa aku adalah amanah dari Allah yang dititipkan kepada ayah dan Ibu, maka aku sangat yakin ayah dan Ibu tak akan membiarkan aku kelaparan seperti kakek tua itu..” Jawab sang anak mantap.
Seakan sang ayah tak percaya dengan jawaban dari putranya hingga ia kehabisan kata-kata. Ia tak menyangka jawaban seperti itu keluar dari seorang bocah kelas 3 SD. Ia seperti sedang berhadapan dengan seorang ulama besar dan ia tak bernilai apa-apa ketika berada dihadapannya.
Lalu ia berjongkok dan memegang kedua pundak anaknya..
“Sayang…ayah dan Ibu janji akan selalu menjaga dan merawatmu hingga Allah tetapkan batas umur ini. Ayah sangat sayang padamu..” Sambil kedua matanya berkaca-kaca seolah tak kuat menahan haru..
Sambil memegang kedua pipi ayahnya, sang anak membalas,
“Ayah tak perlu berkata seperti itu. Sejak dulu aku sudah tahu bahwa ayah dan Ibu sangat mencintai dan menyayangiku. Kelak jika aku sudah dewasa aku akan selalu menjaga ayah dan Ibu, dan aku tidak akan membiarkan ayah dan Ibu hidup dijalan seperti kakek tua itu…”
Dan airmata sang ayahpun tak terbendung mendengar jawaban tulus dari anaknya. Dipeluklah tubuh mungil itu dengan sangat erat. Dan kedua larut dalam haru dan kasih sayang.
Anak ibarat kertas putih yang kita bisa tulis apa saja.
Mari kita berdo’a agar anak keturunan kita menjadi anak yg Soleh/solehah. Peduli pada sesama, dan ikhlas berbagi. Dan sesungguhnya itu bisa kita mulai dari diri kita dulu… Pedulilah pada sesama, ikhlaslah berbagi…. InsyaAllah anak kita pun akan demikian…. InsyaAllah..
Beritahukan info page Lautan Cinta penuh Berkah ini, kepada temanmu dgn klik ”share/bagikan” artikel ini, insya Allah kebaikan terus tersampaikan

Cinta sejati Seorang Anak

Di hari terakhir sebelum lebaran, aku bergegas pergi ke Supermarket untuk membeli beberapa hadiah yang belum sempat terbeli pada waktu sebelumnya, aku langkahkan kakiku menuju ke bagian mainan anak, sembari memcari-cari mainan dibagian itu, aku melihat seorang anak laki kecil sekitar 5 tahunan, merapatkan sebuah boneka kedadanya sendiri.

Dia terus menyentuh rambut boneka itu dengan.. tatapan yang sedih.
Aku jadi bertanya-tanya untuk siapakah boneka itu.
Kemudian si anak lelaki kecil itu memandang kepada seorang wanita tua yang berdiri disebelahnya: “Nek, nenek yakin kalau aku nggak punya cukup uang?”
Wanita tua itu menjawab: “Kamu kan sudah tahu bahwa kamu nggak punya cukup uang untuk membeli boneka ini, sayang.”
Kemudian si nenek memintanya untuk diam disitu selama 5 menit sementara dia pergi berkeliling. Si nenek meninggalkannya dengan bergegas.
Si anak lelaki kecil tetap memegang boneka itu dalam tangannya.
Akhirnya, aku mulai berjalan menuju kearahnya dan aku enanyakannya kepada siapa boneka itu akan diberikan?
“Boneka inilah yang sangat diidamkan oleh adik perempuan saya dan dia sangat menginginkannya pada lebaran sekarang ini. Dia sangat yakin bahwa saya akan membawakan boneka ini untuknya.”
Tapi kemudian dia menjawabku dengan sangat sedih.
“Tidak.. Aku tidak mungkin membawakan boneka ini ketempat dia berada sekarang. Saya harus memberikannya kepada Ibu saya sehingga ibu dapat memberikannya ketika Ibu pergi ketempatnya.”
Matanya terlihat sangat sedih.. ketika dia mengatakan kalimat itu. “Adik saya telah pergi menghadap Tuhan. Ayah berkata bahwa Ibu juga akan pergi menemui Tuhan segera, jadi saya pikir tentunya Ibu bisa membawakan boneka ini untuk diberikan kepada adik saya.”
Anak kecil itu memandang saya dan mengatakan: “Saya sudah pesankan ke Ayah untuk mengatakan ke Ibu jangan pergi dulu. Saya bilang tolong tunggu saya sampai saya pulang dari supermarket.”
Selanjutnya anak itu memperlihat selembar foto dirinya yang lucu dimana dia sedang tertawa. Dia kemudian berkata kepadaku: “Saya juga pengin Ibu membawa serta foto ini bersamanya, supaya Ibu tidak lupa denganku.”
“Aku sangat mencintai Ibuku.. padahal aku berharap Ibu tidak seharusnya meninggalkanku tapi.. Ayah berkata bahwa Ibu harus pergi untuk menemani adik perempuan saya.”
Kemudian.. ia memandangi boneka itu lagi dengan sedih dan mengusap rambutnya perlahan.
Aku cepat mengambil dompetku dan mengeluarkan beberapa lembar uang dan berkata kepada anak itu: “Bolehkah aku hitung uangmu, mungkin kamu punya cukup uang?”
“Baik…” katanya lirih. “Saya berharap ada cukup uangnya.”
Aku sisipkan uangku kedalam uangnya tanpa sepengetahuannya dan kami mulai menghitungnya. Ternyata uangnya cukup untuk boneka itu bahkan lebih.
Anak laki itu berkata: “Terima kasih Tuhan atas pemberian uang ini.”
Kemudian dia memandangku dan menambahkan: “Kemarin, sebelum tidur saya memohon kepada Tuhan agar saya memiliki cukup uang untuk membelikan boneka ini, agar supaya Ibu dapat membawakannya untuk adikku. Ternyata Tuhan mendengarkanku.”
“Saya juga berharap memiliki cukup uang agar dapat membeli sekuntum mawar putih untuk Ibuku, tapi saya nggak berani meminta terlalu banyak kepada Tuhan. Tapi ternyata Tuhan memberiku uang cukup untuk membeli boneka ini dan juga mawar putih.”
Aku selesaikan belanjaan saya dengan sebuah perasaan yang amat sangat berbeda dengan ketika saya memulainya. Beberapa menit kemudian, wanita tua itu telah kembali dan aku pergi dengan trolley-ku.
Aku nggak bisa menghilangkan bayangan anak laki-laki itu dari ingatanku.
Kemudian, aku ingat kepada sebuah artikel dari sebuah koran lokal 2 hari yang lalu, yang mengatakan bahwa seorang mabuk yang mengemudikan sebuah truk menabrak sebuah mobil yang sedang dikendari oleh seorang wanita muda dengan anak perempuannya yang masih kecil.
Si anak perempuan meninggal seketika, dan ibunya masih hidup tetapi dalam keadaan kritis. Keluarganya harus mengambil keputusan apakah harus mencabut kabel dari mesin yang membantunya bertahan hidup, sebab wanita muda itu sudah tidak mungkin lagi lepas dari keadaan koma.
Apakah mereka keluarga dari anak laki-laki kecil itu?
Dua hari setelah pertemuanku dengan dengan anak laki-laki itu, aku baca disurat kabar bahwa wanita muda itu telah meninggal dunia.
Aku segera bergegas dan pergi kesebuah pemakaman dimana wanita muda itu dimakamkan, disana aku menemukan setangkai mawar putih yang indah dengan selembar foto anak lelaki itu dan boneka diletakkan diatas makamnya.
Saya meninggalkan tempat itu.. sambil menangis, dan merasakan hidup saya telah berubah untuk selama-lamanya.
Cinta.. yang dimiliki oleh bocah lelaki itu kepada Ibu dan adiknya tercinta, tetap melekat hingga hari itu, sungguh tidak terbayangkan.
Hanya dalam bilangan detik, seorang yang sedang mabuk telah mengambil semuanya itu darinya.

Sabtu, 26 April 2014

Remaslah Tanganku dan Akan Kukatakan Aku Sayang Kamu

Ingatkah ketika masih kecil kamu jatuh dan terluka? Ingatkah apa yang dilakukan ibumu untuk meringankan rasa sakit?
Ibuku, selalu menggendongku, membawaku ke tempat tidurnya, mendudukkan diriku, lalu mencium “aduh”-ku. Lalu ia duduk di tempat tidur di sampingku, meraih tanganku dan berkata, “Kalau sakit, remas saja tangan Ibu. Nanti akan kukatakan Aku sayang kamu. 
Sering aku meremas tangannya, dan setiap kali, tak pernah luput, aku mendengar kata-kata, “Mary, Ibu sayang kamu.”
Kadang-kadang aku pura-pura sakit hanya supaya aku memperoleh ritual itu darinya. Waktu aku lebih besar, ritual itu berubah, tapi ia selalu menemukan cara untuk meringankan rasa sakit dan meningkatkan rasa senang yang ku rasakan dalam berbagai bagian hidupku.
  
Pada hari-hari sulit di SMU, ia akan menawarkan sebatang cokelat almond Hershey kesukaannya saat aku pulang. Semasa usiaku 20-an, Ibu sering menelepon untuk menawarkan piknik makan siang spontan di taman untuk sekadar merayakan hari cerah dan hangat.
Kartu ucapan terima kasih yang ditulisnya sendiri tiba di kotak pos setiap kali ia dan ayahku berkunjung ke rumahku, mengingatkanku betapa istimewanya aku baginya.
Tapi ritual yang paling berkesan adalah genggamannya pada tanganku saat aku masih kecil dan berkata, “Kalau sakit, remaslah tangan Ibu dan akan kukatakan aku sayang kamu.”
Suatu pagi, saat aku berusia akhir 30-an, setelah orang tuaku berkunjung pada malam sebelumnya, ayahku meneleponku di kantor. Ia selalu berwibawa dan jernih saat memberi nasehat, tapi aku mendengar rasa bingung dan panik dalam suaranya.
“Mary, ibumu sakit dan aku tak tahu harus berbuat apa. Cepatlah datang kemari.”
Perjalanan mobil 10 menit ke rumah orang tuaku diiringi oleh rasa takut, bertanya-tanya apa yang terjadi pada ibuku. Saat aku tiba, Ayah sedang mondar-mandir di dapur sementara Ibu berbaring di tempat tidur. Matanya terpejam dan tangannya berada di atas perut. Aku memanggilnya, mencoba menjaga agar suaraku setenang mungkin.
“Bu, aku sudah datang.”
“Mary?”
“Iya, Bu.”
“Mary, kaukah itu?”
“Iya, Bu, ini aku.”
Aku tak siap untuk pertanyaan berikutnya, dan saat aku mendengarnya, aku membeku, tak tahu harus berkata apa.
“Mary, apakah Ibu akan mati?”
Air mata menggenang dalam diriku saat aku memandang ibuku tercinta terbaring di situ tak berdaya. Pikiranku melayang, sampai pertanyaan itu terlintas dalam benakku: ‘Jika keadaannya terbalik, apa yang akan dikatakan Ibu padaku?’
Aku berdiam sejenak yang terasa seperti jutaan tahun, menunggu kata-kata itu tiba di bibirku.
“Bu, aku tak tahu apakah Ibu akan mati, tapi kalau memang perlu, tak apa-apa. Aku menyayangimu.”
Ia berseru, “Mary, rasanya sakit sekali.”
Lagi-lagi, aku bingung hendak berkata apa. Aku duduk di sampingnya di tempat tidur, meraih tangannya dan mendengar diriku berkata, “Bu, kalau Ibu sakit, remaslah tanganku, nanti akan kukatakan, aku sayang padamu.”
Ia meremas tanganku.
“Bu, aku sayang padamu.”
Banyak remasan tangan dan kata “aku sayang padamu” yang terlontar antara aku dan ibuku selama dua tahun berikutnya, sampai ia meninggal akibat kanker indung telur.
Kita tak pernah tahu kapan ajal kita tiba, tapi aku tahu bahwa pada saat itu, bersama siapa pun, aku akan menawarkan ritual kasih ibuku yang manis setiap kali, “Kalau sakit, remaslah tanganku, dan akan kukatakan, aku sayang padamu.”
Salah satu cara untuk mengungkapkan rasa kasih sayang pada orang yang anda cintai adalah dengan memegang dan meremas tangannya dengan lembut. Tindakan itu kadangkala mengandung makna dan arti yang teramat dalam yang hanya dapat dipahami antara anda dan orang yang anda cintai………….